Saturday, March 13, 2021

Feodalisme racun peradaban.

 


Memahami Politik dalam literasi.

Saya perhatikan argumen tentang Politik. Selalu tidak ada titik temu. Itu bukan kedua belah pihak tidak memahami argumen masing masing. Tetapi kurangnya pemahaman tentang literasi politk. Mereka berada di menara yang berbeda dengan sudut pandang yang juga berbeda. Padahal yang menjadi focus apapun politik tetap satu. Apa ? DUIT atau HEPENG. Yang menolak itu, saya pastikan dia hipokrit. Mengapa ? Pada dahulu kala, tidak ada kekuasan dalam arti teratur. Yang ada adalah ketua suku.  Karena sumber daya semakin terbatas dan orang ingin terus memuaskan dirinya. Perluasan wilayah tak bisa dihindari.


Orang pintar, perkasa jago kelahi tega membunuh, berkumpul menjadi gerombolan penakluk atas wilayah lain. Setelah penaklukan tercapai, kerajaan terbentuk. Untuk mengekalkan kekuasaan, komunitas orang pintar dan kesatria mendapat jatah tanah dan wilayah dari raja. Mereka disebut  kaum bangsawan. Mereka memperkerjakan orang lemah dilahannya untuk berproduksi. Hasilnya sebagian diserahkan kepada raja sebagai upeti. Maka lahirlah budaya feodal. Budaya feodal itu lahir pada abad ke 9. Belakangan para raja juga menjadikan kaum agamawan sebagai perekat emosi rakyat dengan raja. 


Dari budaya feodal inilah lahirlah politik kolonialisme. Orang Barat terutama, pergi ke seluruh dunia. Menjadi penakluk. Memperluas wilayah sebagai sumber daya mencapai kemakmuran. Setiap mereka datang kesatu wilayah. Ternyata di wilayah itu sudah  terbentuk tatanan budaya feodal. Melalui politik kolonialsme, mereka menaklukan raja dan menjadikan raja sebagai proxy lewat budaya foedalisme. 


Sehingga, kaum bangsawan disembah rakyat jelata, dan pada waktu bersamaan mereka menyembah raja. Sementara raja menghamba kepada penguasa kolonial. Diantara mereka saling sepakat untuk saling melindungi dari kemarahan rakyat. Politik sampai dengan abad ke 17, politik berputar putar sekitar kaum bangsawan, raja dan kolonial. Rebutan sumber daya. Rakyat hanya jadi korban saja. Abad ke 17 budaya feodal itu diperkuat oleh inggris dalam bentuk sistem Feodalisme. Lebih modern dalam bentuk hak akan property dan wilayah atau konsesi dari penguasa kepada kaum bangsawan.


Lama lama orang mulai merasakan bahwa sistem feodalisme itu dianggap berongkos mahal. Karena menjadi cetral penguasa sumberdaya. Perlu ada efisiensi.  Dipenghujung abad ke 18 lahirlah  paham kebangsaan ( nasionalisme) sebagai cara menerapkan sistem kapitalisme dalam mengelola sumberdaya. Nasionalisme itu bangkit awalnya pada Revolusi Amerika dan Perancis. Kemudian bernyebar ke Amerika Latin. Abad ke 19 menyebar ke Eropa Tengah, selanjut di Eropa Timur dan Tenggara. Berkembang di Asia dan Afrika pada awal abad ke-20. Itu menjadi kebangkitan paham nasionalisme.


Pada abad ke 19 bapak pendiri bangsa terjebak dalam arus perubahan zaman, khususnya paham kebangsaan. Indonesia harus merdeka agar sumber daya Indonesia tidak dikuasai asing. Tapi mereka lupa bahwa paham kebangsaan adalah feodalisme yang bermetamorfosa. Mengapa ? Nasioalisme perlu kapitalisme agar sumber daya menjadi open source. Maka lahirlah paham sosialis. Yang mengkoreksi paham kapitalisme. Namun masih juga dianggap tidak seratus persen lepas dari feodalisme. 


Namun mencapai tujuan sosialis  komunis tidak bisa dengan cara biasa. Harus lewat revolusi. Otomatis terjadilah benturan antara kaum sosialis komunis dan Nasionalis. Setelah perang dunia kedua. Terjadi perang dingin antara USSR ( plus China) vs AS ( Plus Eropa Barat). Terjadi perebutan pengaruh antara Komunis dan Kapitalisme. Perang dingin memungkinkan juga diterapkan cara kolonialisme. Namun dengan cara baru, atau neocolonialism. Lewat bantuan modal dan hutang. Di Indonesia sejarah membuktikan kaum sosialis komunis kalah. Yang menang kapitalisme.


Ketika kaum Sosialis kalah 1948 mereka berganti baju menjadi gerakan berorientasi agama, yaitu islam. Negara Islam Indonesia di proklamirkan tahun 1949. Islam diseret dalam narasi perang berdasarkan Al Quran melawan pemerintahan yang sah. Sebetulnya itu adalah perang pemikiran sosialisme dan Kapitalisme.  Akhirnya tahun 1965 komunis kalah telak. Gerakan islampun langsung dibonsai. Nasionalis menang. Yang jadi masalah adalah baik sosialisme maupun kapitalisme lahir dari paham nasionalisme, yang merupakan kelanjutan paham feodalisme. Hanya bedanya, sosialis komunis tujuanya adalah kekuasaan para kamerad ( para teman atau kelompok ), Sementara kapitalisme, betujuan kepada kekuasaan pasar atau pemodal. Sama sama predator. Ujung ujungnya ya cuan.


Sampai disini paham ya. Mengapa China perlu revolusi kebudayaan. Mengapa kaum feodal harus dimusnahkan. Artinya yang jadi musuh itu bukan kapitalisme, atau komunisme atau nasionalisme atau agama, tetapi mental feodal. Jadi paham ya kalau Jokowi mendengungkan revolusi mental. Itu sama saja mengubah paradigma feodal menjadi masyarakat egaliter. Istana tidak  lagi sakral. Baju presiden  baju orang kebanyakan. Kalau ingin berubah, maka ubahlah mindset feodal anda. Istri cukup satu. Jangan ada selir. Itu aja dulu dilatih. Kalau itu bisa, yang lain akan mudah diubah...


Dialektika Kartusuwiryo

Kartusuwiryo tidak pernah nyantri. Dia tidak ahli hadith dan tafsir Al Quran. Pendidikanya lebih banyak di sekolah sekular Belanda. Usia 8 tahun dia masuk sekolah  Inlandsche School der Tweede Klasse. Setelah itu dia masuk Europeesche Lagere School di Bojonegoro. Sekolah ini hanya bagi bumiputera yang punya kecerdasan tinggi. Nah dia baru belajar agama dari tokoh Muhammadiyah, Notodiharjo. Sejak itu dia mengenal pemikiran islam modern dan terinspirasi hebat. Setelah lulus Europeesche Lagere School pada tahun 1923 dia melanjutan pendidikan Nederlands Indische Artsen School, sekolah kedokteran di Surabaya.


Pada masa sekolah kedokteran itu dia ngekos di Rumah HOS Thjokroaminoto bersama Soekarno dan Muso. Mereka bertiga ini adalah pemuda cerdas. Ketika Kh Ahmad Dahlan dan Kh. Hashim Ashari berkunjung ke rumah Tjokroaminoto, mereka rajin menyimak diskusi ketiga tokoh hebat itu. Setelah itu diatara mereka terjadi diskusi inten. Kadang berdebat mengasah argumen. Tjokroaminoto hanya memperhatikan mereka dan membiarkan pemikiran mereka berkembang. Soekarno tetap dengan pendirianya yaitu Nasionalis. Namun Kartosuwiryo awalnya lebih tertarik dengan pemikiran Muso, sosialis kiri  ( komunis ). Dia tidak begitu yakin tentang Islam. Dia merasa inferior dihadapan Soekarno kalau berdebat teologi dan syariat islam. 


Kebetulan saat itu banyak tokoh Sharikat Islam yang masuk Komunis. Kalau Soekarno menikahi putri Tjokroaminoto, Oetari. Sementara Kartusuwiryo menjadi seketaris pribadi Tjokro yang ketika itu Ketua Syarikat Islam ( SI). Dia juga pemimpin redaksi Koran Harian Fadjar Asia. Tulisannya lebih banyak mengeritik bangsawan Jawa termasuk Sultan yang berkerjasama dengan Belanda. Dia kecam habis feodalisme itu. Dia provokasi kaum buruh berontak. Dia mengejek kaum nasionalis yang memilih jalan kooperatif dengan Belanda. Karenanya dia semakin terhormat dan disegani oleh teman seperjuanganya. 


Ketika Sjarikat Islam menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia ( PSII), dia terpilih sebagai Sekjen. Kemudian dia berbeda pendapat dengan PSII yang memilih kerjasama dengan Belanda. Ia kemudian keluar dari PSII dan mendirikan Komite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII). Dengan demikian dia menjadi rival bagi gerakan sosialis kiri dan Nasionalis. Menjadi lawan dari sahabatnya sendiri, yaitu Muso yang komunis dan Soekarno yang Nasionalis. Di sisi lain dia mengikrarkan diri memberontak dengan pemerintah Kolonial Belanda. 


Karena kesibukannya dalam politik, tahun 1927, Kartosoewirjo dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen School. Dia semakin radikal.  Pada masa perang kemerdekaan 1945-1949, Kartosoewirjo  menolak semua kesepakatan yang dibuat antara Belanda dan Indonesia. Baginya tidak ada kemerdekaan setengah setengah. Harus merdeka penuh dari Sabang sampai Marauke. Tampa syarat Karenanya dia menolak perjanjian Renville yang mengharuskan prajurit Siliwangi yang ada di Jawa Barat hijrah ke Yogyakarta.  Muso juga sama dengan Kartosuwiryo. Muso  bersama PKI memberontak di Madiun. Dia dihukum mati atas perintah Soekarno. 


Tanggal 7 agustus 1949 dia memprolamirkan Negara Islam Indonesia. Setelah KMB ( Komprensi Meja Bundar) ditanda tangani dibawah PBB yang memberikan pengakuan kedaulatan Indonesia dengan syarat, yaitu Indonesia Serikat. Kartosuwiryo memilih memberontak dan melakukan perang grilya melawan Pemerintahan dibawah Soekarno Hatta. Tercatat yang bergabung dengan NII adalah  Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh. Ketika terjadi pemberontakan PRRI/PERMESTA, Kartosuwiryo dan pasukannya ikut bergabung melawan Soekarno. 


Akhirnya setelah melalui perburuan panjang oleh TNI pada 4 Juni 1962, Kartosoewirjo berhasil ditangkap. Ia dihukum mati pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta. Soekarno menangis. Karena bagaimanapun ia adalah sahabat seperjuangan Soekarno. Mereka sama sama mencintai Indonesia. Hanya saja, mereka berbeda cara mencapai kemerdekaan. Soekarno lebih memilih jalan kooperatif. Sementara Kartosoewirjo memilih jalan non kooperatif dengan asing.  


Saya yakin dalam benak Kartosoewirjo sangat paham terjadinya perbedaan pandangan dalam islam. Ada yang ingin mendorong modernisasi Islam lewat membentuk negara Islam, ada yang menolak negara Islam terbentuk, ada yang mendukung sekulerisme. Dia hanya inginkan Indonesia merdeka dalam arti sesungguhnya. Apapun bentuknya. Faktanya kini Indonesia belum bisa lepas dari neocolonialisme. Belum bisa lepas dari jebakan bantuan asing dan hutang. Feodalisme terus mengakar, dalam bentuk birokrasi yang korup, dan partai yang elitis, primodialisme agama. Makanya sampai kini kita tidak bisa mandiri dalam arti sesungguhnya.


Dialektika Musso.

Orang memanggilnya Muso atau Musso. Itu nama diambil dari  Paul Mussotte tapi nama pemberian orang tuanya adalah Muso Manowar  atau Munawar Muso. Ia lahir dari keluarga bangsawan di Kediri, Jawa Timur  pada tahun 1897. Ayahnya, Mas Martoredjo adalah pegawai bank di Kecamatan Wates. Ibunya mengelola kebun kelapa dan kebun mangga. Keluarganya merupakan penganut islam yang taat. Sedari kecil Musso rajin mengaji di mushala di desanya. Namun juga keluarga modern. 


Usia 16 tahun, ia dikirim oleh orang tuanya sekolah ke Batavia untuk belajar di sekolah Guru. Di Batavia Musso menjadi anak didik pertama G. A. J. Hazeu  yang adalah penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan bumiputra. Hazeu sendiri mengangkat Alimin sebagai anak. Di sekolah ini Musso juga berguru pada seorang reformis politik etis, D. Van Hinloopen Labberton. Saat di Batavia inilah dia mendapat pemahaman tentang sosialis. Dari Batavia, Musso melanjutkan sekolah di Surabaya.


Di Surabaya ia tinggal di rumah HOS Cokromanoto di Jalan Peneleh VII, Surabaya. Pada saat itu di rumah Tjokroaminoto sudah ada 30 orang pemuda ngekos. Diantanya adalah Kartusuwiryo dan Soekarno. Periode 1915 – 1920 Soekarno, Kartosuwiryp, Musso terjalin hubungan emosional persahabatan.  Soekarno belajar banyak hal dari Musso yang lebih tua 4 tahun darinya. Musso piawai menjabarkan visi politik dan tujuannya. Baik dari segi paham nasionalisme, sosialisme.


“Penjajahan ini membuat kita menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa” Itu kata Musso yang menjadi inspirasi Soekarno untuk masuk ke dunia politik. Mereka tinggal di rumah tokoh pergerakan Islam, Tjokroaminoto. Tentu pemaham pengetahuan soal islam dan politik sangat luas. Apalagi Pak Tjokroaminoto sering kedatangan tamu tokoh hebat seperti Kh Ahmad Dahlan, KH Hashim Ashari. Mereka menjadi pendengar yang baik dalam setiap diskusi antar tokoh hebat tersebut. Kadang mereka berdiskusi, namun Soekarno lebih banyak mendengar soal Islam dari Musso. Maklum Musso besar dari keluarga Santri.


Muso saat itu selain sekolah, ia sudah bekerja sebagai kasir di Kantor Pos Besar Kebonrojo. Ia juga aktivis Sarekat Islam pimpinan Tjokroaminoto. Di rumah Tjokroaminoto pula Musso bertemu dengan Henk Sneevliet – tokoh yang kemudian mendirikan ISDV, organisasi berhaluan Marxisme. Alimin, Semaun, Darsono, Mas Marco Kartodikromo dan Haji Misbach menjadi kader Sneevliet. Musso pun jadi aktifis di ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda).  Melalui Musso dan Alimin pula Sneevliet memasukkan gagasan sosialis ke dalam Sarekat Islam dan membangun blok merah. Pada saat itu banyak tokoh islam yang terpengaruh dan menjadi anggota komunis.


Pada 1917 di Garut,  Sosrokardono mendirikan Sarekat Islam seksi B atau Afdeling-B yang revolusioner. Mereka sangat militan menebarkan paham marxisme. Akibatnya tahun 1920 Musso sempat ditangkap oleh Belanda. Di penjara Musso mendapatkan political lesson tentang komunisme dari Alimin. Tahun 1923 Musso bebas dari Penjara. Van Hinloopen Labberton menawarinya pekerjaan sebagai asisten mengajar di Jepang. Namun, Jepang menolak. Kemungkinan Jepang tahu Musso sebagai kelompok radikal dan pernah di penjara.  Gagal ke Jepang, Musso mendirikan Partai Komunis cabang Batavia. Tak berselang, Semaun juga mendirikan Perserikatan Komunis Hindia yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia. Musso dan Alimin kemudian bergabung dengan PKI Semaun. 


Pada Desember 1925, PKI merencanakan pemberontakan terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Sayangnya rencana tersebut diketahui dan pemerintah Hindia Belanda menangkap para pemimpin partai pada Januari 1926. Musso berhasil melarikan diri ke Singapura. Ia dan beberapa tokoh lain seperti Sardjono, Mohammad Sanusi dan Alimin kemudian merencanakan revolusi. Mereka mengajak Tan Malaka, namun nama terakhir menolak gagasan tersebut. Peristiwa ini juga menandai perbedaan haluan yang mulai terjadi antara PKI dan Tan Malaka.


Dari Singapura, Musso dan Alimin berangkat ke Moscow untuk meminta dukungan bagi aksi revolusi di Indonesia. Di Moscow, Musso meminta dukungan Communist International (Comintern) untuk melakukan revolusi. Namun, permintaan tersebut ditolak karena Belanda dinilai masih terlalu kuat di Nusantara. Musso dan Alimin kemudian belajar di Lenin School selama beberapa tahun. Pada tahun 1928, Musso ikut dalam Kongres ke-6 Comintern yang dipimpin oleh the one and only, Joseph Stalin. Musso kemudian menjadi anggota komite eksekutif Comintern. Pada tahun 1929, Musso menikah dengan seorang perempuan Rusia. Dari pernikahan tersebut lahir dua orang anak.


Kemudian, pada tahun 1935, Musso kembali ke Surabaya untuk mengkonsolidasikan PKI. Ia bahkan mampu mengajak sosok seperti Amir Sjarifudin dan Tan Ling Djie untuk bergabung. Ia meminta mereka untuk menginfiltrasi organisasi-organisasi nasional. Namun, lagi-lagi usaha ini diketahui oleh pemerintah Hindia Belanda. Para anggotanya ditangkap dan dibuang ke Boven Digul. Sementara Musso berhasil melarikan diri kembali ke Moscow. Tahun 1948, Musso bisa kembali ke tanah Air berkat bantuan Soeripno, konsul Indonesia di Praha. Dalam perjalanannya ia singgah di Belgia, Prancis dan Belanda untuk bertemu dengan para pemimpin komunis di sana. Dalam perjalanan ini Musso juga menggagaskan apa yang ia sebut sebagai New Road alias Jalan Baru.


Sekembali dari luar negeri. Berkat bantuan Soeripno, Musso bisa bertemu lagi dengan Soekarno yang sudah jadi presiden Indonesia. Pertemuan sahabat lama yang mengharukan. Sukarno minta supaya Musso membantu memperkuat negara dan melancarkan revolusi. Musso menjawab: “Itu memang kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen! (Saya datang di sini untuk menciptakan ketertiban).” Ketertiban yang dimaksud adalah meluruskan revolusi. Bahwa revolusi yang terjadi di Indonesia terlihat seperti Revolusi kaum Feodal. Itu hanya melanjutkan penjajahan kepada rakyat jelata. Atau istilahnya Revolusi Borjuis dan bukannya Revolusi Proleter murni. 


Untuk unjuk kekuatan, Musso menggelar rapat raksasa di Yogya. Di sini dia melontarkan pentingnya kabinet presidensial diganti jadi kabinet front persatuan. Musso juga menyerukan kerjasama internasional, terutama dengan Uni Soviet, untuk mematahkan blokade Belanda. Dan untuk menyebarkan gagasannya, sejak awal September 1948, Musso bersama sejumlah pemimpin PKI bersafari ke daerah-daerah di Jawa, yaitu Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo. Di tengah safarinya itulah meletus “peristiwa” Madiun.


Tapi Hatta sebagai Perdana Menteri, tidak tertarik dengan gagasan Musso itu. Bagi Hatta, untuk mencapai Indonesia merdeka seluruhnya, butuh goodwill internasional dengan membuka perundingan. Hatta tak tertarik oleh konflik internasional antara Amerika dan Rusia. Hatta merasa posisinya diperlemah oleh gerakan Musso. Menghadapi tekana Musso, Hatta melakukan rasionalisasi Tentara. Memisahkan mana rakyat, dan mana tentara. PKI menolak. Karena pasukan PKI sebagian besar adalah rakyat. Hubungan semakin memanas. Menurut PKI, Hatta pula yang memulai provokasi dengan pembunuhan terhadap Kolonel Soetarto  Komandan Div Senopat pro PKI. Perintah pembunuhan itu diberikan Hatta kepada Divisi Siliwangi, yang hijrah dari Jawa Barat dan bermarkas di Solo.


Pasca tewasnya Soetarto, culik-menculik terjadi. Senopati menuding Siliwangi menculik dan membunuh dua tokoh PKI Solo dan enam perwiranya. Jalan damai tak dapat ditempuh, dan konfrontasi pun tak terelakkan lagi. Sementara itu, permusuhan FDR dengan Gerakan Revolusi Rakyat (GRR)-Tan Malaka juga memuncak ketika pemimpin sayap militer GRR, Barisan Banteng, dr Muwardi dibunuh dan jenazahnya tak ditemukan. GRR menuding FDR sebagai pelakunya. Ketegangan di Solo menjalar ke Madiun. 


Soemarsono, komandan pasukan Brigade 29 yang pro-PKI, menerima laporan bahwa Siliwangi akan melucuti pasukan FDR di Madiun dan menangkap para pemimpinnya. Pada 18 September 1948, dengan kekuatan 1.500 orang pasukan, Soemarsono mendahului melucuti dan menawan sekitar 350 prajurit Siliwangi dan Brigade Mobil CPM (Corps Polisi Militer). Aksi ini diikuti dengan penjarahan, kepanikan penduduk, penangkapan sewenang-wenang, dan tembak-menembak. Madiun sepenuhnya dikuasai FDR dan dijadikan sebagai Pemerintahan Front Nasional.


Pemerintah dan militer mengambil tindakan tegas: pemberontakan harus ditumpas. Hatta menegaskan, “Het is nu een zaak van leven of dood. Er op of er onder” (Sekarang soalnya hidup atau mati. Menang atau kalah). Setelah mempreteli FDR di Yogya, pasukan Siliwangi dengan mudah menumpas kekuatan di Madiun. Pada 29 September, sehari sebelum Siliwangi merebut Madiun, sepasukan berkekuatan tiga batalyon bersama tiga ribu orang dan para pemimpin PKI melarikan diri dari Madiun. Musso tewas dalam baku tembak dan sebelas pemimpin puncak PKI lainnya dieksekusi mati.


Apa penyebab kegagalan pemberontakan PKI di Madiun itu? Sikap Musso yang tempramental. Tidak sabaran. Kata katanya sangat kasar kepada Soekarno-Hatta. Sehingga dia tidak mendapat simpati dari rakyat. Ketika Soekarno berpidato “ Pilih Soekarno atau Musso”. Rakyat mendukung Soekarno. Karena Soekarno tidak pernah menghujat Musso. Dia dengan bijak mengajak rakyat berpikir rasional. Ketika rakyat terutama tokoh agama memilih Soekarno. Musso justru menghujat tokoh agama. Dan ketika Madiun dikuasai PKI, Musso perintahkan membunuh para tokoh agama. Islam jadi korban. Padahal pertikaian antara Soekarno dan Musso tidak prinsip. Keduanya punya cinta besar untuk Indonesia. Mereka hanya berbeda jalan mencapai kemerdekaan dalam arti sesungguhnya. Soekarno memilih jalan revolusi kaum terpelajar. Musso, inginkan revolusi rakyat jelata.


Dialektika Maozedong.

Waktu merintis pendirian pabrik filter knalpot kendaraan di Hunan, China, saya sempatkan mampir ke museum Maozedong. Saya sempat lama di rumahnya yang sangat bersahaja. Saya juga berkunjung ke sekolahnya di Dongshan,  Shaoshan, Changsha. Mao lahir pada 26 desember 1893. Walau dia dibesarkan dengan tradisi Konfusianisme namun dia tidak begitu tertarik dengan tradisi klasik itu. Mao cepat sekali dewasa. itu sebabnya usia 13 tahun, dia dinikahkan dengan  Luo Yixiu gadis berusia 17 tahun. Saat itu Mao tidak bisa menolak. Perkawinan berakhir dengan kematian Luo Yixiu. Kelak dia menjadi penentang tradisi kawin paksa di China. 


Dari remaja Mao, sudah gemar membaca buku. Dia gandrung dengan novel Romance of the Three Kingdoms maupun Water Margin. Buku sejarah George Washington, dan Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte. Tulisan Zheng Guanying yang memberikan pencerahan politik menentang sistem monarki menuju masyarakat egaliter. Dia juga terinspirasi Wang Tai Yu, ulama besar China abad 17. Dia lahap habis buku" Chinese Gleams of Sufi Light". Kelak dalam Revolusi kebudayaan, Mao inginkan islam seperti tulisan Wang Tai Yu. Bagaimana Agama bisa melahirkan semangat kemandirian di tengah masyarakat. Dia tutup semua masjid, klenteng. Dia anggap itu simbol feodalisme. Semua tokoh agama di kirim kamp kerja paksa.


Tahun 1911, Revolusi Xinhua meletus. Kaum revolusioner bergerak serentak menjatuhkan monarki. Mao ikut arus gelombang Revolusi. Dia keluar dari sekolahnya untuk bergabung dalam tentra Revolusi di bawah jargon Kuomintang (Partai Nasional), yang dipimpin Sun Yat-sen. Kuomintang menggulingkan monarki di 1912, dan mendirikan Republik China. Setelah itu dia mengundurkan diri dari ketentraan revolusi. Mao kembai ke masyarakat. Dia pernah masuk akademi polisi. Tapi gagal. Sekolah tekhik. Gagal. Kemudian dia masuk sekolah Guru seraya bekerja di perpustakaan. Saat bekerja di perpustakaan itu dia manfaatkan belajar secara otodidak tentang politik dan ekonomi, apa saja.


Kali pertama Mao mengenal sosialisme dari tulisan Jiang Kanghu di koran ( kliping koran ini masih ada di Museum Mao). Petugas meseum menyebut bahwa Jiang Kanghu adalah binaan dari Ong Soong Lee, yang saya tahu itu adalah nama lain dari Tan Malaka  yang pernah mengajar d Xiamen. Setelah lulus, Mao hijrah ke Beijing. Bekerja di perpusatakaan di Universitas Beijing. Saat itu, dia mendengar adanya Revolusi Bolshevik di Rusia yang kemudian berujung pendirian Uni Soviet.  Pada 1921, Cheng Duxiu dan Li Dazhao mendirikan Partai Komunis China di Shanghai, dan Mao masuk di dalamnya melalui cabang Changsha. 


Di tahun 1923, Sun Yat-sen memulai kebijakan untuk menjalin kerja sama dengan komunis yang mulai berkembang pesat. Mao  menghormati  Sun Yat-sen  karena memimpin barisan nasional dengan pemikiran modern. Namun setelah Sun meninggal tahun 12 maret 1925, digantikan oleh Chiang Kai-shek. Mao memutuskan bersebarangan. Karena Chiang Kai-shek bermental feodal seperti tradisi klasik China. Chiang Kai-shek dengan dukungan asing membersihkan semua gerakan Komunis. Mao meradang. September 1927, Mao memimpin pasukan petani melawan Kuomintang. Kalah total. Dia dan pasukanya mereka melarikan diri ke Provinsi Jiangxi. 


Di Jiangxi, Mao membentuk gerilyawan yang militan. 14 Oktober 1934, Pasukan Merah berkekuatan 85.000 orang 15.000 kader partai melakukan Long March untuk menghindari kejaran pasukan Kuomintang. Selama 12 bulan, mereka bergerilya menuju Yanan yang berada di kawasan utara China. Lebih separuh pengikutnya meninggal dalam longmarch itu. Namun dalam perjalanan itu Mao berhasil menarik perhatian rakyat. Dia gunakan kesempatan berorasi  disetiap desa yang dia singgahi. Akibatnya pemikiran sosialis anti kelas berkembang cepat di China. Relawan komunis terus berkembang  menambah kekuatan Mao.


Kekaisaran Jepang menginvasi China yang memaksa Chiang Kai-shek mengungsi ke Nanking. Pasukan Kuomintang yang kehilangan sejumlah kawasan utama membuat. Kuomintang membujuk Mao bergabung melawan Jepang. Mao diangkat sebagai pemimpin militer. Sikap Jepang yang dianggap brutal membuat banyak orang bergabung dengan Pasukan Merah. Di Agustus 1940, Mao memerintahkan Serangan Ratusan Resimen di mana 400.000 pasukan menyerang Jepang di lima provinsi secara simultan. Serangan itu terbukti sukses dengan 20.000 tentara Jepang terbunuh.


Namun setelah Jepang kalah dalam perang dunia kedua. Kuomintang mendapat bantuan dari AS, menghabisi Komunis  bersama Mao dan pasukannya. 21 Januari 1949, tentara Kuomintang menderita kekalahan besar menghadapi pasukan Mao, dan memaksa Chiang beserta pengikutnya pindah ke Formosa (Taiwan). 


Pada 1 Oktober 1949, Mao mengumumkan berdirinya Republik Rakyat China. Mao mengorganisir reformasi tanah, baik melalui cara persuasi maupun paksaan. Dia mempromosikan status perempuan, menggandakan populasi warga terdidik, meningkatkan minat literasi, dan mengembangkan layanan kesehatan. Namun lagi lagi pembelaannya kepada kaum miskin mendapat tantangan dari kaum feodal. Sehingga apapun program pro rakyat miskin dibajak oleh kaum feodal. Program Lompatan Besar ke Depan"  gagal total. 


Mao membuat keputusan berani dengan mengizinkan istrinya, jiang Qing menggerakan revolusi kebudayaan. Kaum terdidik dan bermental feodal dia kirim ke kamp kerja paksa. Bagi Mao mereka adalah krikil dalam sepatu. 25 juta orang mati selama revolusi kebudayaan. China lama jadi debu. Setelah revolusi kebudayaan berakhir,  Deng tampil memimpin, China baru. Kini China menjadi kekuatan ekonomi dunia. Itu bukan karena China hebat dalam komunisme. Tapi karena chiisa mengubur feodalisme dan memotong satu generasi mereka yang terpapar feodal.

No comments:

Aswaja dan Radikalisme

  Banyak orang memahami bahwa teroris itu adalah islam sebagai sebuah agama, yang tentu termasuk ajarannya.  Sebetulnya pemahaman ini bagi o...