Sunday, December 26, 2010

Ekonomi sekular

Tahun 2010 sudah diujung dan sebentar lagi akan memasuki tahun 2011. Bank Indonesia memprediksi ada tiga ancaman ekonomi nasional. Pertama, risiko dari ketidakseimbangan ekonomi global di mana melambatnya ekonomi negara maju dan moderasi akselerasi emerging market yang dapat menyebabkan menurunnya permintaan eksternal terhadap ekspor emerging market, termasuk Indonesia. Kedua, derasnya aliran modal asing (capital inflow) dan isu perang kurs, di mana kebijakan quantitative easing tahap kedua dari AS akan mengakibatkan berlanjutnya aliran capital inflow yang deras dan tekanan apresiasi nilai tukar emerging market, termasuk rupiah. Sementara risiko ketiga, kuatnya permintaan domestik dan tekanan inflasi. Walau menurut analis keadaan crisis global sudah mengarah stabil namun pertumbuhan ekonomi global ditahun mendatang tidak akan lebih 4,4% seiring terus berlanjutnya konsolidasi fiskal. Pertumbuhan sebesar 4,4% sebagian besar atau 60% bersumber dari emerging market.

Ada yang sulit ditebak tentang masa depan perekonomian global atau lebih kepada rasa takut membayangkan yang akan terjadi. Yaitu ancaman ekonomi AS dan China sebagai akibat dari pengaruh crisis global. Suka tidak suka kedua negara ini telah menjadi magnit dan juga lokomotive ekonomi dunia setelah jepang terjerembab. Tidak ada satupun kebijakan harga dan investasi global yang tidak memperhatikan kedua negara ini. Bila dua negera ini flue maka dunia akan demam. Kini kedua negara ini sedang dalam posisi seperti anjing dan kucing. Bermusuhan tapi tak pernah serius untuk bertikai namun membuat stress penonton. Amerika yang kapitalis yang meradang akibat moneter dan China yang sosialis yang mulai meradang oleh kelebihan produksi. Kedua negara diambang tarikan black hole untuk the lost decade.

Karena sebagaimana diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi China dipicu oleh sektor property , Industri dan pertanian. Sektor property sudah sampai pada tingkat bubble yang sangat mengkawatirkan. Diperkiran nilai bubblenya lebih besar dibandingkan dengan tingkat bubble property di AS yang berakibat terjadinya crisis mortgage. Hanya bedanya di AS sektor property dibiayai sebagian besar oleh pasar uang ( wall street ) tapi di China sebagian besar dibiayai oleh sektor perbankan yang notabene dimiliki oleh Negara. Hasil stress test yang dilakukan bank central China terhadap kredit Property dengan penurunan harga sampai 60% benar benar membuat collapse sebagian besar perbankan di China. Itulah sebabnya China kemarin sebelum natal sudah melakukan tindakan radikal dengan menaikkan suku bunga perbankan sebagai cara mengendalikan inflasi. Ini akan berimplikasi negative terhadap perluasan investasi dan harga komoditi global.

AS telah masuk fase yang sangat berhaya bagi perekonomian global dengan kebijakan Quantitative easing (QE) nya. Pengaruh dari kebijakan QE ini adalah semakin melemahnya mata uang dollar di pasar uang dan semakin menguatkan kurs negara emerging market. Disamping itu terjadi arus hot money kepasar global khusus di negara emerging market sebagai akibat dari QE. Keadaan ini akan semakin membuat panasnya kondisi negara emerging market dalam mengendalikan inflasi. Ditambah lagi tekanan dari Rusia . China serta negara OPEC untuk mengurangi cadangan devisanya dalam mata uang dollar akan semakin memperparah kurs dollar. Belum lagi perang mata uang yang picu oleh ketegangan antara China dan AS yang diperkirakan ditahun mendatang belum akan ada titik temunya ditengah bayang bayang ancaman China untuk tidak akan membeli surat utang AS. Apa jadinya bila negara lain juga tidak mau lagi beli surat hutang AS. ?

Sementara negara emerging market akan mengalami peningkatan permintaan akan barang dengan pasokan yang terbatas. Belum lagi akibat ancaman iklim global yang akan mengganggu produksi pangan. Ini akan memicu kenaikan harga pada level tertinggi. Supply minyak akan menurun akibat semakin mahalnya sumber dana untuk pemboran minya lepas pantai. Sementara permintaan logam akan tinggi sekali karena adanya mega project China membangun rel kereta. Ini akan mengakibatkan harga minyak dan baja akan meningkat dipasar global. Dari semakin tingginya permintaan akan komoditas strategis termasuk pangan dan melemahnya daya dukung produksi akibat kurs yang tidak stabil serta semakin ketatnya likuiditas , akan membuat situasi ekonomi berjalan ditempat. Yang pasti apapun yang buruk terjadi pada China dan AS akan berdampak sangat buruk bagi negara emerging market. Dan apa yang terjadi bila ditahun mendatang ekonomi China ambruk untuk menyusul AS yang sudah lebih dulu terpuruk. Mungkin saja, ya kan.?

Hari ini dan kedepan kita menyaksikan bagaimana ekonomi sekular sibuk mengatasi masalahnya sendiri. Sementara isu mengenai global warming, kemiskinan, masalah palestina, afganistan ditanggapi sambil lalu. Ternyata masalah kantong lebih utama ketimbang masalah sosial dan lingkungan. Sebuah peradaban yang sibuk menggali kuburannya sendiri. Kalau sudah begini, keliatannya kapitalisme dan sosialisme tidak akan berumur lebih dari 100 tahun. Apalagi mencapai 600 tahun seperti era kejayaan khilafah Islam.

Wednesday, December 22, 2010

Tim Nasional

Putra saya nampak sibuk untuk mendapatkan ticket pertandingan sepakbola. Di stadion Senayan, saya lihat di televisi para penggemar sepakbola dengan sabar mengantri untuk mendapatkan ticket pertandingan. Yang tidak kebagian ticket, tetap senang menonton lewat tayangan telivisi layar lebar di halaman stadion. Atribut pakaian dan aksesoris yang mereka gunakan melambangkan kebanggaan terhadap TimNas yang berlaga dibawah logo Garuda. SBY dan para jajaran pajabat tinggi tak ketinggalan hadir memberikan dukungan kepada TimNas. Suara gegap gempita membahana di Senayan ketika TimNas berhasil mencetak Gol kegawang lawan. Sepak Bola mempersatukan kita. Membangkitkan nasionalisme kita. Demikian yang dapat kita simpulkan dari kejuaraan FAA Suzuki 2010.

Pada tahun 1974 , Rinus Michels yang dikenal sebagai pelatih Tim Belanda pernarh berkata ” Football Is war ” Sepak bola adalah perang. Padat tahun 1969, Emosi nasionalisme pada sepak bola pernah sampai menimbulkan complik milter antara Honduras dan El Salvador. Walau berkali kali kita diingatkan bahwa ajang kompetisi dunia olah raga adalah wahana menciptakan persaudaran dunia untuk perdamaian namun sulit didapatkan pembenaran bila kenyataanya olahraga merepliksikan nostalgia perang. Semua ongkos untuk tampil lebih hebat dan unggul dalam pertarungan dunia dilapangan hijau tidak lagi diperhitungkan karena Football is war. Ini masalah kepentingan nasional dan tidak ada yang lebih bernilai kecuali menjadi pemenang.

Kita sering mendengar orang Malaysia menyebut bangsa Indonesia itu dengan sebutan Indon atau babu. Karena penduduk second class di malaysia adalah para babu dari Indoensia. Kita juga berkali kali marah kepada Malaysia karena ulahnya melecehkan batas teritorial Indonesia. Darah nasionalime kita menggelegak ketika Malaysia dengan semaunya meng claim lagu daerah, masakan, pakaian lewat Paten International. Kita tidak bisa berbuat banyak untuk melawan Malaysia, Perang senjata adalah tidak mungkin. Makanya ketika Tim Nas kita berhasil mengalahkan TimNas Malaysia 5-1, rasanya semua kekesalan dan perasaan dilecehkan oleh Malaysia selama ini terbayar tunai. Diajang pertarungan sepak bola , di ajang Football is war, kita berhasil membuktikan bahwa bangsa kita lebih baik dibandingkan Malaysia.

Dibalik banyak catatan keributan antar supporter pertandingan liga nasional yang menggambarkan kebanggaan suku, dibalik banyak peristiwa perang antara golongan masyarakat, antar suku, antar ormas agama, di stadion Senayan semua lebur menjadi satu ” Merah Putih”. Semua bicara tentang tim Garuda yang melambangkan keaneka ragaman an suku namun satu yaitu Indonesia. Kita boleh bertikai antara kita tapi bila berhadapan dengan dunia luar kita cepat sekali merapatkan barisan untuk satu tujuan, membela tanah air tercinta. Semangat nasionalisme ini ternyata tidak pernah padam. Ya, Olah raga sepak bola memang ampuh membangkitkan darah patriotisme dan semangat cinta bangsa. Ampuh untuk kita sejenak melupakan mega scandal yang membuat bangsa ini tidak pernah memenangkan pertempuran sejati untuk dihormati di mata International sebagai negara bersih dari korupsi.

Namun dibalik kecintaan akan lambang negara yang diusung oleh TimNas, kita lupa akan satu hal, bahwa naturalisasi pemain sebagai bagian dari globalisasi kita terima dengan tangan terbuka. Kita tidak peduli darah asal atau suku dari pemain itu. Tidak penting wajahnya mirip dengan orang merah yang pernah menjajah kita. Passport RI sudah melegitimasi orang untuk diakui sebagai bangsa Indonesia. Kita cukup senang sebagai penonton dan penggembira dari sebuah jargon nasionalisme. Setelah itu , didunia lain , diarena lain , kita pun harus menerima dengan tangan terbuka bila perusahaan Asing bertaburan menguras hasil bumi kita karena pada NPWP nya terdapat nama Republi Indonesia. Kita cukuplah sebagai penonton dan sedikit berbangga masuk "Liga" negara yang tergabung dalam G20 dengan GNP terbesar nomor 17 di dunia walau sebagian besar GNP itu berasal dari orang asing yang dilegitimasi oleh RI.

Thursday, December 16, 2010

Feodalisme

Kebanyakan orang China menilai kemajuan negaranya didasarkan dua pandangan, seperti kata mereka ” andaikan tidak ada revolusi kebudayaan di China, mungkin China tidak akan sebesar sekarang.”, tapi ada juga yang berkata , andai tidak ada revolusi Deng, China tidak akan mencapai kemajuan seperti sekarang ini”. Dua pandangan ini saling mendukung. Revolusi kebudayaan China era Mao, berhasil berbuat yang tak mungkin diselesaikan dengan akal sehat. Reformasi ekonomi Deng, berhasil berbuat yang mungkin diselesaikan dengan akal sehat. Tanpa upaya Mao, tanpa upaya yang tidak sesuai dengan akal sehat, Deng tidak mungkin mampu membangun china dengan akal sehat. Inilah yang sulit dipahami oleh orang luar ketika belajar atas kemajuan China sekarang, seperti yang dilakukan oleh Komite Ekonomi Nasional yang berkunjung ke China baru baru ini.

Ketika revolusi kebudayaan, Mao melakukan restruktur mindset bangsa China. Melalui propaganda sistematis, revolusi kebudayaan mendorong rakyat untuk membersihkan segala pemnyakit kebudayaan China, Penyakit itu diantaranya adalah feodalisme. Suatu paham yang memperbodoh yang bodoh dan menjajah yang lemah. Program kerja paksa dalam rangka brainwashing terhadap mereka yang bermental feodal, sepeti intelektual, orang kaya. Para pejabat yang hidup senang dengan kekuasaan tak luput dari program brainwashing ini. Dengan cara inilah, Mao berhasil menjadikan mayoritas rakyat china melek hurup dan angka. Membangun insfratruktur ekonomi rakyat yang berbasis pada pertanian. Melakuan landreform secara nasional dengan marampas tanah milik para tuan tanah dan membagikannya kepada rakyat. Pada waktu bersamaan rakyat dipaksa untuk bekerja keras memacu produksi dan memberikan pemasukan kepada negara. Memang korban nyawa melayang tak terbilang.

Selama Revolusi kebudayaan, orang luar bilang china dalam kegegelapan..padahal senyatanya justru china sedang membangun obor raksasa yang tak kunjung padam. Ketika mereka membuka diri,dunia terkejut. China terang benderang, tak ada satupun yang tak nampak, tak ada satupun yang tak tersentuh program pembangunan. Deng melanjutkan sesuatu yang dipersiapkan oleh Mao dengan baik. Deng memang mewarisi segala infrastruktur ekonomi yang dibangun era Mao tapi yang lebih besar manfaatnya bagi kemajuan china adalah lahirnya masyarakat baru China dari puing puing kebobrokan China lama. Deng mewarisi China baru untuk bangkit menghadapi dunia baru. Peradaban baru yang sesuai dengan akar budaya china yang cinta kebersamaan dan gotong royong, kerja keras dan loyal kepada pemimpin serta orang yang lebih tua.

Strategi pembangunan China sekarang tidak ada yang istimewa. Hampir semua universtitas mempelajari itu. Seperti cara china menerapkan strategi pembangunan sesuai pontesi wilayah, Indonesia pernah menerapkannya ketika era Soeharo, yang dikenal dengan program pengembangan potensi wilayah. Pembangun Zona khusus ala China, Indonesia pernah terapkan seperti Batam. Penguatan sektor pertanian dan informal yang didukung industri besar ala china, dulu era Soeharto pernah ada yang disebut dengan kemitraan strategis antara UKM dengan BUMN /Usaha besar lewat dukungan permodalan, pemasaran dan tekhnologi. Penggalangan produksi dalam negeri berorientasi eksport dan pasar dalam negeri ala china, dulu era Soeharto sudah ada denga dibentuknya kementrian khusus produk dalam negeri dan Badan Pengembangan Ekport National

Apa yang diperbuat China dalam membangun adalah ilmu nyata dan bisa dipelajari dengan mudah. Tapi mengapa China dapat melakukan itu semua dengan sempurna. Sementara negara lain nampak tidak begitu berhasil dan ada juga yang terseok seok langkahnya. Jawabnya adalah China mampu melakukan sesuatu yang paling sulit di ikuti oleh negara lain. Apa itu?. Revolusi kebudayaan!. Suatu tindakan revolusioner membakar budaya feodal, materialisme, menjadi budaya kebersamaan, gotong royong untuk tujuan bersama , dengan prinsip masyarakat tanpa kelas dan penguasaan negara untuk kepentingan luas rakyat. Selama revolusi kebudayaan, terjadi transformasi dari elite penguasa menjadi elite pelayan rakyat. Dari rakyat yang nrimo menjadi rakyat yang agresip ber produksi. Singkatnya revolusi kebudayaan adalah hjrah bangsa china dari kegegelapan budaya yang menjerat kemajuan menjadi budaya emansipasif , egaliter dan responsip. Tentu diawali oleh para pemimpinnya.

Untuk menjadikan itu semua, Mao harus ikhlas disebut orang tidak waras. Dan memang pada akhirnya merubah budaya brengsek yang terlanjur permissive mejadi benar sesuai hukum moral , diperlukan pemimpin yang kuat dan siap dibilang tidak waras karena melakukan cara cara tidak sesuai dengan akal sehat menurut perspektif intelektual feodal. Ya, kita merindukan pemimpin yang tidak hanya bicara aspek tekhnis membangun tapi juga pemimpin yang tahu bagaimana melakukan hijrah nasional dari bangsa yang nrimo, korup, malas, follower, menjadi bangsa kreatif, amanah, berakhlak , berilmu, dan bertakwa kepada Allah. Untuk itu tidak penting harus kehilangan citra atau dicap gila oleh mayoritas yang terlanjur brengsek.

Saturday, December 11, 2010

Wikileaks

Alangkah beruntungnya penguasa yang rakyatnya tidak berpikir “ Itu ungkapan Hitler yang terkenal. Sebagai analogi agar rakyat barada didalam tenda besar bersama sama para badut dan orang aneh dalam sebuah pertunjukan sirkus. Semua tahu bahwa sirkus hanyalah sebuah pertunjukan dari kebohongan yang terlatih. Membuat kagum sebuah pertunjukan. Tak lebih. Orang ramai yang menonton malas berpikir tentang kebohongan itu. Bahkan dalam era modern saat ini, sebuah filem akan laku besar bila proses pembuatan filem itu di sebar luaskan lewat media. Bagaimana trick kamera bekerja, bagaiman visual efect dibuat. Bagaimana tekhnologi digital bekerja menggabungkan semua itu menjadi sebuah tontotan yang menarik. Menjadikan kebohongan menjadi bahan komersial untuk orang membayar. Begitupula dengan rahasia sulap yang dibuka kepada publik menjadi tontonan yang menarik tanpa menghilangkan niat orang untuk terus menonton sulap.

Henry Louis Meneken pernah berkata bahwa sebuah kampanye politik nasional lebih baik daripada pertunjukan sirkus manapun yang pernah ada. Bagaimana kebohongan dibangun ditebar kepada orang ramai untuk dipercaya dan diakui sebagai kebenaran. Tapi belakangan , ini tidak cukup. Sistem demokrasi dan seni propaganda berlaku seperti iklan Rokok, yang mengingatkan orang untuk tidak merokok. Yang membiarkan informasi mengalir deras tentang bahaya merokok. Tapi pada waktu bersamaan pemerintah tetap mengizinkan pabrik rokok berdiri dan mendulang pajak dari para perokok. Sebuah cara yang smart untuk mendapatkan manfaat dari publik yang membeli dari kebohongan dan kebenaran yang dijejalkan, dan mereka memang malas berpikir. Akhirnya kita kehilangan rasa untuk mencari tahu . Seni propaganda telah melemahkan jiwa dan daya kritis kita, dikeseharian kita untuk berpijak pada sisi kebenaran sejati.

Ketika pemerintah bicara anti korupsi tapi pada waktu bersamaan berita kebobrokan hukum terus disebar luaskan. Bagaimanna PNS golongan 3A menjadi kaya raya karena suap. Bagaimana polisi dan jaksa serta hakim menerima sua dari itu semua. Lembaga purity sebagai alat gerakan anti korupsi juga tak lepas dijadikan pesakitan dan dilemahkan. Lembaga HAM yang dibanggakan sebagai alat demokrasi , juga ditertawakan lewat kasus Munir yang tak tuntas. Kapitalisme yang menakutkan diberitakan tiada henti lewat kebobrokan usaha penambangan hingga membuat prahara bagi penduduk Jawa timur soal Lumpur Lapindo, soal Freeport yang menyengsarakan rakyat papua. Dari semua propaganda idealisme nilai dan kebobrokan itu , kita sampai pada satu titik dimana kita tidak lagi berpikir soal mana yang benar dan mana yang salah. Kita malas berpikir. Hilang daya kritis dan tentu hilang pula daya berontak.

Hillary Clinton ketika terpilih sebagai Menlu, penah berkata dengan konsep cemerlangnya untuk membuat kebijakan hard power menjadi smart power. Kalau dulu citra AS sebagai polisi dunia dengan hard powernya namun kini era Obama citra harus dibangun lewat cara cara yang smart. Apa yang menjadi mitos tentang kebohongan AS tak ada salahnya untuk membiarkan orang ramai mendapatkan fakta. Membiarkan orang ramai mengetahui kebenaran. Wikileaks yang membuka file super rahasia dari brangkas rahasia AS kepada publik, tak lain hanyalah cara smart AS untuk orang malas berpikir lagi tentang kebohongan. Menjadikan kebohongan suatu yang permisif sepeti layaknya pelacuran. Sesuatu yang permisif adalah buah karya gemilang dari sebuah seni propaganda untuk masyarakat yang malas berpikir dan malas berpihak kepada kebenaran.

Kini cara wikileaks juga dipakai oleh kita lewat Indoleaks. Setelah kita mengetahui semua kebohongan. Puas membaca segala informasi yang ada, kita hanya menjadi seperti perokok yang membaca segala fakta tentang bahaya merokok tapi tak bisa berhenti membeli rokok. Dalam kontek politik kita berada didalam tenda besar, yang kita terjebak pada satu adegan ” kita telah merdeka ”. Orang miskin tetap miskin, yang kaya bertambah kaya. Itulah yang terjadi dan setiap kita menonton itu dan puas. Dalam Matrix Revolution itu dikenal seperti “ anda membuat pilihan kemudian memberi pembenaran atas pilihan anda tersebut”. Ya sebuah pilihan karena smart revolution yang menjadikan kebohongan sebuah kebenaran.

Wednesday, December 1, 2010

Yogyakarta?

Apa kelebihan demokrasi langsung ? Itulah pertanyaan teman saya dari Amerika ketika bertemu ditempat sauna.. Dia bekerja sebagai fund manager di Hong Kong. Saya tak ingin menjawab. Karena saya tahu teman ini sudah tahu jawabannya. Money can buy it” Itulah jawabannya sambil tersenyum. Dia melanjutkan, minoritas marah ketika Yesus harus disalip tapi penguasa Roma ketika itu tidak bisa lari dari kehendak mayoritas rakyat yang ingin Yesus di Salip. Andaikan dulu Roma tidak menganut demokrasi mungkin Yesus tidak harus disalip. Itulah sepenggal kisah dari bobroknya sistem demokrasi. Katanya. Yunani sebagai pencetus awal sistem demokrasi yang bernama Republik hanyalah kota kecil. Dia baru menjadi negara besar ketika Ceisar berkuasa. Itupun hanya mungkin ketika Ceisar menggilas habis sistem demokrasi menjadi Kekaisaran.

Winston Churchill pernah berkata "Democracy is the worst form of government, except for all the other methods that have been tried ". Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling buruk kecuali untuk semua cara telah dicoba. Demokrasi" istilah lebih-atau-kurang identik dengan "Anarchy" atau "Aturan Mob," diyakini oleh banyak orang sebagai ide utopis yang tidak pernah bisa bekerja dalam praktik dan akan mengakibatkan keruntuhan masyarakat. Artinya, idealisme demokrasi terlalu ideal untuk sebuah teori kenegaraan. Sangking idealnya, dia bertele tele, jalan berliku liku untuk sampai pada satu konsesus, melelahkan , mahal dan pasti membosankan. Seharusnya demokrasi dimaknai dalam konteks teoritis belaka bagaimana masyarakat yang plural di kelola. Soal teknis dan metode tidak harus mengikuti idealisme demokrasi. Trias politica dapat diamini sebagai cara memisahkan kekuasaan. Namun pemilihan langsung pemimpin seperti AS , sebagai dogma ini bisa menyesatkan bila itu disebut sebagai hal yang ideal dari demokrasi.

Mungkin bagi AS pemilihan langsung Pemimpin ( Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati ) adalah cara yang tepat sesuai dengan budaya mereka. Karena semua tahu bangsa Amerika merupakan perpaduan dari banyak etnis dan lebih sembilan puluh persen mereka adalah pendatang atau bukan penduduk asli. Keterikatan budaya dan sosial mereka dengan tanah asal mereka tidak mudah hilang. Bila dipadukan dalam satu komunitas baru tentu bukanlah hal yang mudah. Walau para pendiri negara AS menyadari sistem demokrasi hal yang tak diinginkan mereka namun mereka tidak bisa menghindari keadaan latar belakang bangsa amerika ada. Makanya sistem demokrasi langsung sebagai pilihan yang tak seratus persen sesuai dengan kehendak hati. Dalam sejarah sistem ini memang melelahkan. Amerika membangun peradaban lebih dari 200 tahun dan sampai kini mereka tidak pernah tuntas dan puas dengan sistem yang mereka pakai.

Pada hakikatnya yang diperlukan dalam sistem kenegaraan adalah aturan yang kuat dan melekat dalam sistem itu yang mengedepankan hak rakyat bertumpu kepada rasa keadilan. Untuk menciptakan ini tidak bisa dengan teori yang bersifat universal sebagaimana sistem demokrasi yang diperkenalkan oleh pihak Barat/AS. Tidak bisa dengan cara cara voting untuk menentukan suara terbanyak yang menang. Tidak bisa dengan kekuatan militer untuk memaksakan kehendak. Karena yang dihadapi adalah masyarakat yang sebelum sistem negara ada mereka sudah lebih dulu hidup dengan budaya mereka. Budaya ini tidak tertulis tapi sudah menjadi kesepakatan umun untuk bagaimana mereka menyelesaikan masalah keseharian dalam rumah tangga, antat tetangga dan lingkungan yang lebih luas lagi. Sistem kepemimpinan pun terbentuk dikalangan masyarakat lewat interaksi budaya yang berpuncak kepada rasa hormat kepada mereka yang berbudi, berilmu dan berbedikasi.

Pemilihan langsung pemimpin lewat cara demokrasi plus budaya money can buy it maka yang terjadi adalah everyone can buy everything , termasuk kekuasaan. Akibatnya budaya yang dibangun oleh masyarakat berabad abad, yang bersendikan agama itu menjadi bahan tertawaan. Itulah mengapa ketika UUD 45 disusun tidak memberikan ruang kepada pemilihan secara langsung. Karena pendiri negara kita sadar dengan geopolitik dan geostrategis yang bertumpu pada kekuatan akar budaya dan agama untuk membuat bangsa ini kuat lahir batin. Padahal rakyat Yogyakarta sudah nyaman dengan sistem demokrasi yang ada lewat pemilihan pemimpin berdasarkan musyawarah mufakat anggota DPRD. Mereka nyaman dengan sistem yang akrab dengan budaya mereka. Mereka lebih demokratis dibandingkan daerah lain dengan lebih dulu menerapkan Procurement Online yang menjamin transfaransi. Apakah ini diperhatikan oleh Pemerintah ketika membuat RUU tentang pemerintahan DI Yogyakarta ?

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...