Monday, December 4, 2017

UANG...?



Bagaimana mendapatkan uang mudah tanpa resiko dengan menyuruh orang berkerja untuk anda dan mengambil resikonya. Mungkinkah ide itu bisa diterima ? Tentu ada ! karena apapun itu ide akan selalu ada yang percaya. Tergentung sejauh mana anda gigih memperjuangkan ide tersebut untuk orang percaya. Bumi itu datar, itu contoh ide yang secara sains sangat terbelakang tapi karena terus menerus disampaikan kepada orang banyak, akhirnya dia diterima sebagai ide yang dipercaya. Walau itu oleh komunitas tertutup tergolong botol. Baiknya saya mau dongeng dulu aja biar mudah di pahami modusnya. Ada seorang bernama A yang jago bisnis model. Dia punya ide menciptakan komunitas jual beli dalam satu platform. Agar platfform ini dapat menjangkau orang banyak dimana saja berada maka dia menggunakan IT system. Melalui IT system itulah dia memasukan aturan yang di create sendiri. Apa aturannya ? Semua yang tergabung dalam komunitasnya percaya ( beriman ) terhadap alat transaksi. Alat ini bisa berupa apa saja. Untuk menjaga kepercayaan itu dia menjamin likuiditas pasar dan keadilan transaksi melalui Clearing secara database.

Nah karena dia bukan negara yang berhak menentukan aturan sendiri maka dia menjadikan bisnis itu secara legal sebagai system pembayaran dari anggota untuk anggota ( peer to peer). Jadi dia membungkus dirinya sebagai payment gateway provider sebagaimana yang lazim. Lantas apa bedanya sehingga dia menarik ? Dia menawarkan system yang sangat secure dimana tidak ada satupun pihak bisa tahu siapa yang melakukan transaksi. Proteksi ini dimungkinkan setiap transaksi pengiriman uang menggunakan mekanisme jual beli secara tertutup. Dengan demikian bisnis model yang dia create tidak melanggar hukum. Dan pasti disukai oleh orang kaya yang ingin kerahasiaan harta terjaga. Agar orang banyak percaya atas ide ini maka dia membentuk komunitas kecil yang sebetulnya itu komunitas yang dia create dengan ongkos untuk menjebak orang percaya dengan idenya. Maklum pasar akan bereaksi dengan sukses story bukan hanya dengan iklan. Benarlah. Komunitas kecil itu merasakan nikmat menggunakan alat pembayarannya sebagai cara yang cepat dan aman, yaitu dengan cara jual beli dan system nya sebagai mediasi. Dari sukses story ini orang ramai ingin bergabung. Nah saat itulah dia masuk dengan ide sebenarnya. Apa itu? Menjual alat pembayaran itu secara terbatas untuk member terbatas saja. Katakanlah untuk 1 juta member saja dengan harga 1 unit Rp 1.

Karena peminat banyak dan terus bertambah otomatis alat pembayaran itu semakin berkurang dan akhirnya habis. Sementara permintaan terus bertambah. Dia menyediakan ruang market place agar terjadi transaksi jual beli alat pembayaran itu. Hukum pasar berlaku apabila permintaan tinggi supply terbatas maka harga akan naik. Maka jadilah alat pembayarannya itu sebagai komoditas. Kesimpulannya dia berhasil menciptakan komoditas tanpa barang real kecuali ide imajiner yang dibenamkan kedelam IT system agar menjadi ruang tertutup orang berinteraksi. Lantas dimana dia untung? Ohooo disinilah kecerdasannya yaitu menambah alat pembayaran kedalam komunitas ketika harga sedang tinggi. Dia dapat uang tunai real sementara komunitasnya dapat uang bohongan. Anggotanya tidak menyadari seni menarik uang tunai ini karana semua angggotanya hanya focus kepercayaannya dalam bentuk alat pembayaran itu. Jadi dia bisa dapat uang tanpa resiko dan orang lain mengambil resiko terhadap idenya itu. Dia menciptakan cash machine dengan cara mudah. Semakin tinggi transaksi semakin tinggi dia mendapatkan uang dan semakin besar resiko ditangan orang lain.

Apa yang saya sampaikan ini memang dongeng tapi itulah yang terjadi dalam skema BITCOIN yang booming dan akhirnya terbukti fraud. Cara yang lebih sederhana sama dengan alat pembayaran coin emas cara membayar menggunakan system yang katanya syariah. Ujungnya nipu juga. Nasehat babo, ikuti aturan negara dan percayalah kepada Tuhan. Mengapa? Aturan negara adalah konsesus yang terbuka dan kepada Tuhan kita berserah diri.

***

Total transaksi derivatif global tahun 2013 berdasarkan data dari BIS, berdasarkan nilai kontrak mencapai USD 693 Trilion. Sebagian besar transaksi itu dilakukan secara over-the-counter(OTC). Nilai kontrak itu sama saja dengan 10 kali dari GNP seluruh negara di dunia. Pertanyaannya, bukankah kontrak itu menyebut uang. Uang apa? mengapa lebih besar dari GNP dunia. Saya tidak akan menjelaskan detail secara teknis tentang derivative atau OTC. Saya akan membahas dari segi philosophy uang menurut perspektif saya. Jadi ini tidak ada dasar teori yang saya jadikan pijakan. Ini pendapat bebas saya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman hidup.

Bagi orang awam yang terbatas wawasan keuangannya, dia hanya mengenal satu kata money atau uang. Dia dapat uang dari gaji atau laba usaha dan kemudian dibelanjakan sesuai dengan pendapatannya, kalau ada lebih dia tabung. Dalam kasus ini uang dipaham seperti pisiknya. Tapi ada juga orang yang menyebut uang itu adalah arus terus menerus atau Currency. Perhatikan, dia tidak menyebut uang tapi arus.. ya sama dengan arus listrik. Kalau di analogikan, uang menjadi sumbu negatif dan aktifitas usaha adalah sumbu positip. Karena adanya sumbu positip dan negatif maka terjadilah current atau arus listrik yang bisa menimbulkan energy untuk bergeraknya roda ekonomi kedepan tanpa henti.

Rekening di bank atau perusahaan di sebut rekening arus ( Current account). Bagi mereka uang bukan lagi selembar kertas. Bukan hanya alat transaksi. Bukan. Tapi uang sebagai sarana menghubungkan satu sumber daya dengan sumber daya lain agar terus terjadi hubungan arus yang tiada henti. Contoh bagaimana menghubungkan sumberdaya manusia dengan sumber daya material, Sumber daya material dengan sumber daya uang. Sumber daya uang dengan sumber daya pasar, dan lain sebagainya. Selagi hubungan antar sumberdaya itu terus terjadi arus maka itulah uang sebenarnya. Itulah uang dalam perngertian kapitalis. Dimana sebetulnya uang itu secara phisik adalah omong kosong.

Jadi Uang itu hanya sarana pemicu distribusi capital untuk terjadi beragam aktifitas terbentuknya peradaban. Jadi bukan jumlah berapa banyak uang yang dikumpulkan tapi seberapa banyak aktifitas usaha yang bisa di kembangkan karena uang. Untuk menjaga momentum hubungan itu , uang tidak harus berupa uang kertas atau emas. Tapi bisa juga dalam bentuk lembaran obligasi atau Saham, dll ( sekarang sudah sampai M36). Dari beragam jenis uang itulah pasar terbentuk. Dari pasar yang diatur secara umum ( CH ) sampai yang diatur secara khusus seperti OTC. Jenis penerapannya bisa jangka pendek atau menengah atau jangka panjang. Penyelesaiannya bisa melalui opsi beli atau juat, bisa juga diserahkan nanti atau dibayar sekarang atau sebaliknya. Bukankah itu semua hutang? Benar. Tapi bukan hutang seperti persepsi anda yang hanya tahu uang berupa lembaran kertas atau logam mulia (coin).Bukan. Tapi itulah currency. Selagi arus atau current terus terjadi dengan ditandai aktifitas usaha tidak terhenti maka tidak ada hutang yang perlu dikawatirkan. Mengapa ? Karena current mempunya energy yang bisa dengan otomatis menciptakan nilai idealisme uang. Itulah miracle of capital. Akan terus begitu.

Jatuhnya Eropa dan AS ,Jepang karena Generasi yang sekarang tertipu dengan uang. Mereka gila berinvestasi dengan produk tanpa barang atau tanpa underlying. Mereka menciptakan money game. Laba tercipta tapi tidak ada pabrik terbangun yang menimbulkan pengaruh berganda terhadap perubahan peradaban. Akhirnya arus atau currency, lambat laun melemah karena sektor real sebagai sumbu positip semakin kehilangan daya tarik karena pertumbuhannya kalah cepat dengan tumbuhnya uang. Beda dengan China dimana keseimbangan antara sumbu positip dan negatif terus terjaga dengan baik sehingga melahirkan economic in balance. Berapapun hutang, itu bukan masalah. Arus terjadi karena barang , jasa dan uang terus menciptakan energy tiada henti.

Kalau uang di tangan anda tidak sampai terjadi arus berkesimbungan maka anda berperan menimbulkan paradox atas tujuan ideal dari sistem uang. Mengapa ? Karena anda akan menjadikan Uang sebagai Tuhan, menyimpan uang takut berbagi. Menyimpan uang takut ambil resiko bisnis. Hanya masalah waktu anda akan jadi orang paling miskin dan bego dunia. Uang itu akan menjauhkan anda dengan lingkungan anda dan pada waktu bersamaan membuat anda rakus berkosumsi lemah produksi, yang justru merusak jiwa dan phisik anda sendiri. Jadi memahami uang secara phisik saja tidak cukup. Apalagi menganggap sistem cara pembayaran dianggap mesin menciptakan uang baru, yang tak ada kaitannya dengan sektor real. Itu jelas Samakin terbelakang baik secara mental maupun spiritual.

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...