Sunday, March 28, 2010

Reformasi ?

Demi reformasi Birokrasi department keuangan telah mengeluarkana dana tambahan anggaran sebesar Rp 4,3 triliun per tahun untuk memberi tunjangan tambahan bagi karyawannya. Dengan dana sebesar ini, maka para pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Depkeu menerima tunjangan antara Rp 1,33 juta hingga Rp 46,95 juta. Tapi hasilnya , pegawai golongan III A bisa punya uang sebesar Rp. 25 miliar dan sejumlah apartement mewah. Mantan Dirjennya yang sekarang jadi ketua BPK, dapat hibah dana puluhan miliaran, Keliatannya reformasi yang dilakukan tidak bergerak kepada hal yang baik , malah semakin brengsek. Walau telah sepuluh tahun reformasi politik berlaku, namun reformasi birokrasi jalan ditempat.

Berganti president , reformasi birokrasi tak dilaksanakan dengan serius. Kalaupun dilaksanakan tak lebih hanyalah lipstick. Reformasi birokrasi selalu dikaitkan dengan tambahan gaji dan tunjangan. Hanya itu. Hasilnya bahkan lebih buruk disbanding sebelum ada reformasi. Ini disebabkan karena tidak ada redefinisi konkret terhadap birokrasi yang teraktualkan lewat restruktur lembaga dan revitalisasi dan requalifikasi pegawai negeri, melepas birokrasi dan BUMN dari kepentingan politik, dan memutuskan mata rantai jaringan kolusif antara politisi, birokrat, dan pebisnis. Memperluas pemberlakuan system IT ( E-Government ) pada layanan pemerintah untuk menjamin terjadinya effisiensi dan keterbukaan. Sebuah reformasi adalah sebuah rasionalisasi untuk menuju tata kelola yang sehat lahir batin

China
ketika mengawali reformasi(1982) membentuk Administrative Reform Commission, Presidential Administrative Renovation Commission, The Presidential Committee on Government Innvovation and Decentralization. Para mereka yang duduk dalam team tersebut adalah orang-orang yang dikenal luas integritasnya untuk bangsa dan Negara.. Mereka memiliki kewenangan yang besar untuk menentukan agenda setting reformasi, melaksanakannya, dan mengawasi jalannya perubahan. Berwenang untuk melikuidasi satu atau beberapa kementrian atau badan pemerintah, memangkas pegawai negeri dan merubah proses pengangkatan seseorang dalam jabatan birokrasi. Hasilnya adalah 40% lembaga Negara di tutup. Memberhentikan 30,000 kader partai yang berada di Lembaga Negara yang tidak produktif. Memberhentikan sebagian besar PNS yang tidak qualified dan perluasan E-Government ,meningkatkan gaji PNS secara bertahap serta ancaman hukuman mati bagi yang korup.

Di China, karena orang yang ditugaskan melakukan reformasi ini adalah orang yang tidak terkait dengan jabatan birokrasi dan politik. Mereka mendapat mandat penuh dari President maka tentu tidak ada rasa sungkan atau sikap ragu atau takut dengan akibat dari proses reformasi birokrasi itu. President mengambil resiko politik atas tugas team reformasi itu agar mampu memberikan tekanan sampai pada tahap implemetasi , maka sebetulnya “ Revolusi telah terjadi” tanpa harus bau amis darah.

Di Indonesia sangat aneh. Reformasi birokrasi diserahkan kepada Menteri dan pejabat yang masih berkuasa. Kalaupun ada team pendukung maka itu hanya sebagai team asistensi. Bagaimana mungkin mereka bisa memperbaiki system birokrasi kalau kepentingan politik masih kental. Bukan rahasia lagi bahwa birokrasi berhubungan dengan politik kekuasaan yang penuh dengan kolusi untuk kepentingan pundi partai.
Ada cerita , ada kesepakatan tersembunyi yang membudaya bahwa birokrasi harus menghidupi politisi agar birokrat tetap hidup. Ini mutual simbiosis. Lihatlah kasus pemilihan deputi gubernur BI, Kasus Century dan lain lain.

Di China proses reformasi sampai kini terus berlangsung. Setiap tahun di evaluasi dengan memberikan dukungan politik semakin besar kepada team reformasi. Undang Undang tentang pengawasan reformasi semakin diperkuat dan diperluas. Semua itu dapat terjadi karena pemimpinnya punya visi. Tidak takut dengan segala akibat politik dari program reformasi. Tidak takut citranya jatuh dihadapan lawan maupun kawan. Tidak takut bila harus tersingkir dari jabatannya. Ini pertarungan cerdas dan amanah di era modern bagi siapa saja pemimpin yang ingin melakukan revolusi dalam damai. Agar 'cita cita adil dan makmur terjadi disini" Semoga...

Thursday, March 18, 2010

Super Power ?

Ada harimau yang dikenal sebagai raja hutan. Teriakannya menakutkan. Seringainya mengerikan. Dia berjalan yang lain terpukau dan segan. Dia kesal yang lain mati ketakutan. Dia marah yang lain mati. Tapi kini sang Harimau itu berjalan dengan pincang.Seringainya tak lagi menakutkan. Teriakannya hanya sebatas tenggorokan. Harimau ini lemah , terengah engah setiap bergerak. Dia hanya jadi tontonan kumpulan komunitas yang cinta damai. Namun, bagaimanapun taringnya tetap menakutkan , setidaknya orang yang teramat lemah untuk melawannya. Harimau itu adalah Amerika Serikat. Yang suka dipanggil Uncle Sam. Yang menyebut dirinya sebagai polisi dunia. Pencipta perdamaian dan pengekpor paham demokrasi,

Amerika adalah negeri yang tak hentinya bertarung didunia. Usai perang dunia kedua , AS tampil digaris depan membangun dunia lebih baik lewat program recontruksi paska perang. Miliaran dollar berterbangan ke luar negeri untuk membangun kembali Jepang yang hancur karena Bomb. Membangun jerman yang luluh lantak di hantam bom sekutu. Membangun kembali London akibat bombarder jerman. Membrigade Korea Selatan dan Taiwan dari pengaruh komunis China. Berkorban untuk perang Vietnam. Membelanjakan tidak sedikit anggaran untuk membela Israel. Mengirim pasukan , intelligent, dan senjata untuk menguasai Afganistan. Menyerang Irak dan menjatuhkan Sadam. Mengusik Iran. Menciptakan ketegangan di Asia Tengah. Membangun image anti terror terhadap Islam. Dan masih banyak lagi kegiatan international AS. Semuanya membutuhkan dana tak terbilang.

Tapi tahukah anda bahwa semua itu tak lain bertujuan untuk membela kepentingan EKONOMI dalam negerinya yang RAKUS. Walau jargon demokrasi yang bersuara tentang equality, peach , freedom di dengungkan oleh AS namun sesusungguhnya tidak ada equality , peach, freedom bagi Negara lain selagi mengganggu kepentingan ekonomi AS.. Ibarat Harimau, AS adalah predator terhebat diplanet bumi. Tak terbilang darah membanjiri bumi demi membela geopolitiknya. Selama beberapa decade AS memang berhasil menjadi Super power dan bisa berbuat apa saja untuk dibenarkan oleh lembaga PBB. Menjadi pengatur dalam setiap perubahan global dibindang Ekonomi, social dan budaya. Tapi sehebat hebatnya AS , sehebat hebatnya para elitenya membangun hegemoni disegala bidang, pada akhirnya mereka tidak bisa melawan dirinya sendiri.

Kekuatan yang dibangun bertahun tahun dengan segala daya dan darah , pada akhirnya semua rontok. Tak ada Negara lain yang mencuri uang di AS, Tidak ada Negara lain yang meng invasi AS. Tidak ada perang sesungguhnya dilakukan di dalam negeri AS. Tapi akibat krisis ekonomi Global telah membuat dalam negeri AS sama seperti korban akibat perang besar. Yang kaya jatuh bangkrut. Yang kelompok menengah jatuh miskin. Yang miskin menjadi pengangguran. Bank bank yang dibanggakan sebagai mesin likuiditas terbaik di planet bumi ini, ternyata jadi beban dan akhirnya jadi bangkai. Industri besar yang dibanggakan , kini sebagian besar dijual ke luar negeri. Negara yang menjadi pengatur devisa dunia ,kini menjadi Negara yang mengemis hutang kepada China. California yang dikenal sebagai tempat universitas terbaik didunia , kini bangkrut dan tak mampu lagi membayar gaji pegawai

AS kini benar benar menjadi macan lelah dan layu. Yang tersisa hanyalah seringainya yang masih menakutkan. Inilah yang dijadikan modal bagi AS untuk bermain cerdas ( Smart power ) didunia international. Sambil menjaga hegemoninya dinegara yang masih takut seringainya dan terus memperbaiki diri. Amerika sadar bahwa pada akhirnya keseimbangan ( Equality ) harus menjadi nilai dalam setiap kebijakannya agar peach and freedom terjadi, utamanya dinegaranya sendiri. Bukankah peach and freedom itu adalah bersumber dari sebuah nilai : Tidak RAKUS. Semoga krisis ini memberikan pelajaran termahal bagi AS bahwa manusia itu lemah dan tidak super power karena yang lebih hebat dari itu semua yaitu ALLAH

Thursday, March 11, 2010

Masa depan kita

Keadaan hari kini , kita dihadapankan oleh masa depan yang buruk. . Pada tahun 2020, diperkirakan populasi dunia akan mencapai 8 miliar dan enam setengah miliar dari itu akan tinggal di negara berkembang. Mayoritas dari mereka akan terpinggirkan dan berjejal didaerah perkumuhan di 20 kota terbesar didunia yang memiliki populasi lebih dari 10 juta. Kota kota ini akan diisi oleh pengangguran, kejahatan , kenakalan, penyakit seperti Karachi, lagos, New Delhi, Dhaka, Nairobi, Jakarta dan lain lain. Ini benar benar mengerikan apalagi angka kemiskinan di Indonesia terus meningkat walau angka statistik menyimpulkan berbeda. Tapi kenyataannya sistem telah membawa kita kepada suatu masa depan yang mengertikan.

Lima dari negara didunia ini menguasi hampir 60% GNP dunia. Sementara pendapatan individu mereka meningkat 20% setiap tahunnya, yang diikuti oleh jatuhnya pendapatan negara miskin sebesar 50%. Tahukah anda, pendapatan gabungan dari 300 Individu didunia ini sama dengan pendapatan 2,7 miliar orang yang mewakili 45 % populasi dunia. Dalam satu laporan riset ekonomi menyebutkan bahwa 20 tahun yang lalu CEO bergaji rata-rata 40 kali lebih banyak daripada pekerja pabrik. Tahun lalu 400 kali lebih banyak dan sekarang naik ke kelipatan 500. Inilah satu pakta bahwa dunia menuju kepada penjajahan secara sistematis. Hanya diperuntukan bagi orang yang punya akses kepada modal dan kekuasaan untuk menindas yang lemah.

Pada tahun 2000 negara berkembang membayar hutang kepada kreditor lebih dari $ 100 miliar dolar. Dari tahun 1992 hingga 2000, pembayaran utang negara miskin naik 14-19% dari total pendapatannya. Sampai sekarang diperkirakan telah mencapai 30% dari pendapatannya digunakan untuk membayar hutang. Data menunjukan bahwa Tingkat hutang Nasional ( Nasional Debt ) terhadap PDB ( produksi domestik bruto /GDP) ) Amerika serikat , 90,8 % atau dari 100% PDB nya , 90,8 % adalah hutang. Begitu pula jepang National Debt nya 192% dari PDB. Singapore , National debt nya 160,10 % dari PDB nya. Malaysia , National Debt nya 47,8 % dari PDBnya. Thailand 49.40 % dari PDB nya. Tapi negara negara tersebut mengontrol suku bunga obligasi selalu lebih rendah dari Pertumbuhan ekonominya.Mereka menikmati hutang dan mengendalikan hutang untuk memacu kemakmuran. Sementara Indonesia hanya 29,80 % hutang national terhadap PDB tapi suku bunga obligasi diatas pertumbuhan ekonomi.

Keadaan tersebut sudah sampai pada situasi ”jebakan ( trap) hutang yang parah dan akan berujung pada krisis hutang, di mana yield obligasi lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan ekonomi nominal. . Negara tidak bisa hidup dalam perangkap ini lama lama tanpa mengambil langkah-langkah ekonomi radikal. Tanpa pertumbuhan mendadak, pemerintah perlu menjalankan surplus primer untuk keluar dari jebakan. Ini akan semakin bertambah ditahun tahun mendatang dan merupakan ancaman pasti terhadap gagalnya negara mengatasi anggaran sosialnya. Departemen Kuangan melaporkan bahwa puncak pembayaran hutang akan terjadi pada tahun 2012 atau 2014. Pada waktu itu pergantian kekuasan akan terjadi. Akan ada pertarungan keras memperebutkan kekuasaan oleh para elite politik.

Kemanakah langkah akan kita ayun setelah 2014 ?. Apakah kita tetap berkiblat pada sistem yang lama ataukah kita perlu berubah. Perubahan apa sebetulnya yang diperlukan oleh kita sebagai bangsa ? Apakah perubahan sistem atau perubahan budaya atau akhlak ? Menurut saya yang perlu dilakukan perubahan radikal adalah soal Akhlak. Kita harus menerimana kenyataan bahwa semua hal yang buruk dimasa lalu terimalah sebagai pelajaran dari Allah karena kita gagal mengendalikan nafsu. Kedepan kita harus cerdas menggunakan akal dan jiwa untuk mengendalikan nafsu. Dari sinilah budaya kebersamaan digali dan kemandirian dibangun untuk lahirnya komunitas baru , dalam sebuah sistem yang mengutamakan kebersamaan , keharmonian antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang pintar dengan yang bodoh, antara yang berkuasa dengan rakyat. Inilah komunitas rahmatan lilalamin.

Tuesday, March 9, 2010

Tan Malaka

Tan Malaka, Putra Minang Kabau. Dilahirkan di Desa Pandang Gadang, Sumatera Barat pada bulan juni 1897. Nama lengkapnya adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka. Namanya seakan tenggelam dalam sejarah Republik ini. Kalah hebat dengan Hatta, Sjahrir, Soekarno. Tapi tahukah anda bahwa Tan Malaka adalah orang pertama yang menyampaikan gagasan Republik Indonesia. Pada tahun 1925 dia menulis ” Naar de Republiek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia ). Tulisan ini melahirkan inspirasi bagi Muhammad Hatta yang menulis pada tahun 1928 ,berjudul ”Indonesia Vrije (Indonesia merdeka). Kemudian tahun 1933 Soekarno membuat tulisan ” menuju Indoensia Merdeka”

Sejarah mencatat tentang perlawanan Rakyat terhadap Jepang ketika paska kemerdekaan Indonesia,yang ketika itu para elite politik Indonesia masih ragu untuk berhadapan dengan Jepang. Namun Tan Malaka, bergerak dari bawah tanah menggiring massa dalam rapat akbar di lapangan Ikada untuk menyatakan perlawanan kepada jepang. Sejak peristiwa tu perlawanan terhadap jepang terjadi secara kolosal. Ada sebagian orang menuduh Tan Malaka sebagai Komunis tapi sebetulnya dia bukanlah Komunis seperti ajaran Stalin. Dia berbeda dengan Stalin. Dia Perantau, putra minang yang terdidik dalam keislaman.Hapal Al Quran. Membumikan adat minang dalam bersikap dan agama dalam bertindak. Alur dan Patut atau logika dan kepatutan adalah pola berpikirnya yang dikenal dengan MADILOG ( Materialisme, dialektika, logika ). Artinya logika dan dialektika bergantung pada materialisme, sebaliknya materialisme bersangkut paut dengan dialektika dan logika.

Pemikiran Tan Malaka amat berbeda dengan Marx atau Lenin karena ia menempatkan agama sebagai sesuatu yang un matter tetapi dengan jalan tak langsung MADILOG dapat menerangkan agama seperti obor listrik yang berdiri diluar dan tidak memasuki benda itu seluruhnya. Tan juga berpendapat masyarakat kita dari dulu ampai sekarang secara sosiologis maupun antropologis tak mungkin menjadi materialis seperti yang dialami barat yang otomatis marxisme adalah turunannya. Masyarakat Indonesia adala masyarakat yang selalu percaya akan adanaya kekuatan lain diluar dirinya yang menguasai alam serta isinya dan ini bersifat gaib. Hal itu ditunjukkan oleh Tan Malaka melalui berbagai kepercayaan, seperti animisme, dinamisme, dan agama Hindu, Budha, Kristen, Islam juga yang bermunculan dan dianut penduduk Nusantara. Selain itu, Tan Malaka juga menggaris bawahi bahwa penggunaan teori revolusi Marx hanyalah sebagai metode bukan sebagai dogma. Oleh karena itu, Marxisme bagi Tan Malaka harus dipahami dalam kerangka teoritis dan penerapannya amat tergantung pada kondisi masyarakat dimana ia tinggal. Ini dinyatakannya bahwa yang penting dari Marxisme adalah penerapan metode Marx berpikir, bukan menjalankan hasilnya cara berpikir.

Hubungannya dengan Partai Komunis lewat sahabatnya Sardjono-Alimin-Musso tidak bertahan lama. Ketika perbedaan strategi berjuang semakin melebar diantara mereka, Tan Malaka memilih untuk memisahkan diri dari PKI dan sahabatnya setelah meletus pemberontakan kaum buruh ditahun 1926 yang berhasil ditumpas habis oleh Belanda. Kemudian Paska Kemerdekaan, Tan Malaka bersama Kelompok Persatuan Perjuangan menyatakan diri berbeda pendapat ( oposisi ) dengan PM Sharir yang menerima perjanjian dengan Belanda. Tan Malaka menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet Sharir yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura. Maka terjadilah Peristiwa 3 Juli 1946 yang merupakan kudeta terhadap kepemimpinan PM Sahrir. Tan Malaka ditangkap tanpa diadili selama 2,5 tahun dan baru dilepaskan setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin,.

Tentang sosok Tan Malaka, maka ini pendapat Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….” Tan Malaka gugur (hilang) pada tahun 1949 atau tepatnya bulan februari atau tiga bulan setelah dia membentuk Partai Murba ( 7 November 1948). Konon menurut cerita dia ditembak mati oleh tentara republiknya sendiri yang dia bela sampai mati. Dua puluh empat tahun setelah dia resmi hilang, barulah Pemerintah memberikannya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional ( 28 maret 1963)

Tan Malaka adalah sekian dari tokoh legendaris bangsa ini. Tokoh yang berjuang dengan caranya. Akrab dengan kaum tertindas. Taat beragama. Pandai bersiasat namun tak pernah berkompromi dengan penjajah. Dia terlahir untuk menjadi petarung menegakan kalimat Allah untuk lahirnya keadilan di bumi pertiwi. Seumur hidupnya dihabiskan dalam pengorbanan dan derita tak terbilang untuk negeri yang dia cintai. Lantas apa yang bisa kita petik dari sosok Tan Malaka ? Keikhlasan berjuang dan berkorban untuk itu. Hakikat berjuang adalah demi tegaknya kemerdekaan politik dan ekonomi. Inilah yang harus kita teladani. Jangan sampai kemerdekaan melahirkan penjajahan baru ( neo-colonialism) dimana hak ekonomi rakyat tetap tertindas...

Monday, March 1, 2010

Dipersimpangan jalan

Yang menjadi Icon kejujuran dan profesionalitas bagi Partai Demokrat adalah Sri Mulyani dan Budiono, SBY. Tak ada satupun petinggi Partai Demokrat yang mengatakan Sri Mulyani dan Budiono salah. Bahkan menyebut namanya salah saja dalam Keputusan Akhir Pansus sangat tabu. Ruhut Sitompul sampai mengatakan “ Jangankan uang tak halal, uang halal saja mereka tidak mau kok” Para pengamat Politik dan Ekonom yang pro Partai Demokrat juga bersuara sama tentang kehebatan dan kejujuran sosok Budiono dan Sri Mulyani sebagai pejabat Negara. Keliatannya ada satu design politik untuk menempatkan orang professional lebih bernilai daripada Politisi maupun agamais ataupun budayawan dalam kancah kekuasaan di Indonesia.

Dalam satu kesempatan saya pernah berdialogh dengan teman dalam satu forum Business di Luar negeri. Dia mengatakan bahwa “ Ada paradigma sekarang di banyak negara bahwa Politisi itu tak professional dan tak jujur. Yang pantas ditampilkan dipanggung politik adalah professional yang paham betul arah globalisasi dan neoliberal. Maklum saja konsep globalisasi dengan neoliberalnya sangat restriksi bagi pejabat politis yang paham betul dengan geostrategis dan geopolitik. Paradigma ini merupakan kampanye global dari pecinta Globalisasi dan Neoliberal untuk semakin meminggirkan peran politisi dalam kebijakan ekonomi yang pro local. “ Ungkapan ini menjadi catatan abadi dalam memori saya dalam melihat perkembangan politik global dan fenomena kekuasaan.

Siapapun yang berkagori professional , entah dia berlatar belakang militer, ekonom , tekhnologh akan diusung sebagai pembaharu dan akan mendapat award international dari Lembaga yang mengkampanyekan program globalisasi dan neoliberal. Majalah Time yang digaris depan penyokong Globalisasi dan Neoliberal juga senantiasa memuji muji langkah mereka. Hingga tak berlebihan ungkapan yang mengatakan peran Negara harus diperkecil dalam mengatur kehidupan social ekonomi , adalah suatu ungkapan tentang agar semakin kecilnya keterlibatan politisi , budayawan, agamawan dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Samahalnya peran BUMN harus sekecil mungkin karena BUMN tidak profesional dan jenderung korup. Makanya layanan publik harus di privatisasi. Swasta lebih baik dari BUMN.

Dalam kasus Bank Century ini, ada hal yang dipertaruhkan yaitu legitimasi sistematis dari konsep neoliberal dalam bidang liberalisasi sector keuangan. Kebijakan Bail out sebetulnya anti liberalisasi perbankan. Tapi menempatkan LPS sebagai pelaksana bail out dan sekaligus meyakinkan kepada Publik bahwa tidak ada uang Negara dirugikan adalah bentuk canggih untuk semakin menguatkan keberadaan program neoliberal. Dari satu sisi kebijakan itu menempatkan Negara mempunyai power untuk mengamankan system perbankan namun disisi lalin menempatkan kekuatan diluar struktur Negara berbuat melakukan recovery. Keberadaan LPS terus dipertahankan bahwa itu bukanlah bagian dari Negara dan ini deal murni dari sebuah system perbankan nasional. Dari ini semua, politisi semakin dibuat bingung dan tak berdaya dalam debat intelektual maupun hokum.

Saya tidak tahu apakah analisa saya diatas itu benar atau salah. Mungkin saya paranoid tapi saya merasa terlepas dari rasa bersalah itu karena ungkapan seorang teman analis keuangan Perusahaan Investasi asing , “ Seandainya tidak ada kebijakan bail out , Indonesia akan masuk dalam putaran spiral crisis yang dahsyat. Karena hampir semua pemain hedge fund akan menjadikan Indonesia sebagai killing field. Semua tahu bahwa ekonomi Indonesia tumbuh tanpa fundamental ekonomi yang kokoh. Tak sulit untuk menarik keuntungan dari situasi itu. Keadaan tersebut akan dijadikan alasan kuat bagi politisi yang anti neoliberal untuk menggilas semua regulisi yang pro pasar.” Jadi yang dikawatirkan bukanlah efek sistemik moneter tapi efek sistemik regulasi menyeluruh dari system neoliberal. Apalagi ketika peristiwa itu terjadi , pertarungan menduduki korsi kekuasaan antara mereka pro pasar dan anti pasar sedang memanas…

Bail out Century telah dilsaksanakan. Indonesia sukses keluar dari krisis moneter jilid dua. Pecinta Pasar bebas menjadi pemenang dan terus dipuja. Tapi pertarungan akan terus berlanjut…selama itu Indonesia berada diatas tungku. Inilah akibat dari di amandemennya UUD 45 , yang hanya akan terhenti bila lahirnya revolusi. Semoga ini disadari oleh semua kita agar lebih bijak dalam melihat masa depan untuk 200 juta lebih rakyat. Saatnya duduk satu meja , satu nafas dan kembalilah ke hakikat UUD 45 dengan menempatkan agama dan budaya dalam bersikap dan bertindak…

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...