Friday, October 30, 2009

Kita bisa !

Kalau Tiongkok bisa, kitapun Bisa. Itulah ungkapan motivasi president kepada kita semua. Bahwa ”kita bisa ” untuk memacu investor menanamkan dananya dibumi pertiwi. Tiap negara punya cara sendiri untuk menarik investor tapi lebih daripada itu keunggulan suatu negara ditentukan bukan oleh sumber daya alamnya tapi oleh kemampuan negara menciptakan system dimana terjadinya keseimbangan antar pelaku ekonomi dan akhirnya keadilan bagi siapa saja. Kita bisa dan pasti bisa. Karena sedari awal ketika negara ini didirikan , platform untuk unggul dalam putaran waktu sudah ditetapkan tapi karena waktu pula kita tersilaukan oleh pemikiran dari barat dan akhirnya kita "tak pernah bisa "

Hampir semua investor asing yang menanamkan dananya di China diberbagai bidang, Industri bila ditanya alasannya berinvestasi di China maka jawabannya selalu sama ” Bahan baku yang murah dan cepat didapat serta SDM yang tersedia dan murah untuk semua level. ” Yang jadi pertanyaan adalah kalau semua didapat dengan murah mengapa mereka tidak menjual mahal seperti harga barang yang sama diproduksi di AS. ? Hal ini bagi penganut paham kapitalisme dimana berkorban semurah murahnya dan menjual setinggi tinggi nya maka akan bingung atau terasa aneh. Tapi begitulah sebuah system yang dicreate oleh Pemerintah China membuat produsen harus menjual murah barangnya demi memanjakan konsumen. Atau mereka akan tesingkir oleh kompetisi terbuka.

Apakah yang membuat ekonomi pasar dapat berkeja efektif di China? Ternyata kuncinya adalah keadilan distribusi modal.. Dimana negara menjamin distribusi modal secara efektif bagi siapa saja. Distribusi modal itu tidak melulu dalam bentuk uang atau kredit bank tapi bisa juga dalam bentuk barang dan jasa. Industri hulu sebagai bahan baku industri disubsidi oleh negara. Begitupula Infrastruktur business sebagai pendukung kelancaran barang dan jasa juga di subsidi oleh negara. Pusat riset dan pendidikan di subsidi agar dapat menghasilkan SDM yang berkualitas. Negara sangat berkuasa untuk mengendalikan dengan ketat agar memungkinkan siapapun ( termasuk asing ) dapat menikmatinya secara adil Dengan kondisi ini maka investor asing yang menanamkan dananya di China terpaksa harus menyesuaikan harga produksinya untuk dilempar kepasar. Atau pengusaha lain akan menggilasnya.

Secara presentase tidak ada pengurangan laba atas system ini tapi justru memanjakan konsumen mendapatkan barang dengan harga murah.Negarapun mendulang pajak tak terbilang oleh produksi yang melimpah dan konsumi yang meningkat. Semua pihak yang terlibat dalam proses produksi berorientasi kepada kepentingan konsumen tanpa mengurangi kualitas sama sekali. Itulah yang disebut dengan ekonomi pasar yang berkeadilan.Produsen untung dan konsumen senang Bila konsumen dibela maka buruh yang juga konsumen akan mendapat imbal hasil yang lebih baik. Atau index pendapatan dan pengeluarannya selalu positip. Mereka dapat menabung untuk keperluan jaminan sosialnya. Dari data , terbukti walau upah yang diterima oleh buruh china jauh lebih kecil dibandingkan buruh di AS, Eropa, Jepang, Korea namun index kesejahteraan buruh China jauh lebih tinggi. Di China ,tidak ada standarisasi harga seperti MC Donald. Hebatnya mekanisme pasar juga membuat flexible harga sesuai dengan Pendatan kotor wilayah di china. Semakin tinggi semakin mahal, semakin rendah semakin murah.Benar benar adil.

Itulah strategy China untuk menjamin pasar manja dan pada gilirannya publik yang di untungkan. Sebetulnya kita telah menerapkan itu ketika Era Soeharto Dimana BUMN sebagai alat negara untuk menjamin distribusi bahan baku dan uang bagi siapa saja. Tidak ada diskriminasi atau pengotakan yang miskin dapat dan yang kaya tidak. Namanya system maka harus mampu melahirkan dampak berganda dan berspektrum luas untuk memperkokoh fundamental ekonomi rakyat secara keseluruhan. Secara strategy sudah benar tapi yang kurang adalah pelaksanaannya yang tak terkendali akibat KKN hingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi Yang harus diperbaiki adalah SOP-nya bukan merubah strategy dengan menjual BUMN kepada Asing. Di China ketika reformasi Deng, SOP dirubah dengan penekanan anti korupsi dan cost and reward .

Seharunya Era setelah kejatuhan Soeharto , pemerintah melakukan reformasi BUMN lewat perbaikan SOP dan penajaman target sesuai dengan grand strategy nasional untuk kepentingan rakyat luas. Menjual BUMN ( industri strategis ) dan mem privatisasi layanan Publik adalah pemikiran tak visioner ( oportunis ). Tidak ada istilah terlambat. Tak ada salahnya kembali kepada hakikat UUD 45 pasal 33 secara murni dan melaksanakan law enforcement secara adil agar ”kita bisa” meniru China atau bisa lebih baik dari Chinauntuk menuju lompatan jauh kedepan.

Thursday, October 22, 2009

Siti Fadilah Supari

Siti Fadilah Supari. Itulah namanya. Dia seorang wanita dan berkarir sebagai dokter setelah menamatkan Fakultas Kedokteran UI.. Sebelum menjadi menteri Ia dikenal luas sebagai periset spesialis Jantung /penyakit jantung. Pernah bertugas sebagai Kepala Pendataan dan Penelitian (Pusdalit) Rumah Sakit Jantung, Harapan Kita.. Peraih S3 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Jakarta, 1996. Yang menarik tentang Siti Fadilah Supari adalah naluri keibuanya lebih dominant dibanding naluri politisi dalam menghadapi semua masalah yang berkaitan dengan beban tugasnya sebagai menteri. Ketika pertama kali dilantik, dia sudah langsung berkata kepada publik tentang rencana kerjanya untuk menjadikan Rumah Sakit dan kesehatan bukan sebagai komoditas komersial tapi misi sosial. Untuk itu dia bertekad hati untuk membangun sistem pelayanan rumah sakit yang murah.

Dia tidak pernah berpikir jauh bila akibat dari tekadnya akan menghadapi perang terbuka dengan kekuatan globalisasi , TNC dibidang industri pharmasi. Mereka menguasai pengaruh hampir disemua lembaga multilateral. Karena ini menyangkut businss triliunan dollar. Tekad menjadikan Rumah sakit dan kesehatan sebagai misi sosial itu terus dijalankannya tanpa peduli dengan segala tekanan. Ketika upayanya menghadapi tantangan dari system kekuasaan didalam maupun diluar negeri, naluri keibuaannya makin bangkit untuk melawan dibatas akal sehatnya. Lembaga Multilateral seperti WHO , dikritik kerasnya sebagai sumber reproduksi virus H5N1 untuk menguntungkan sindikat industri pharmasi kelas dunia. Tidak sampai pada kritis tapi berlanjut dalam perundingan tingkat global hingga terjadi reformasi ditubuh WHO. Ini luar biasa. Dia sudah menjadi negosiator yang andal. Diplomat yang ulung

Sebagai Ibu, dia berjuang layaknya Cut Nyak Dien yang tahu betul siapa dalang kemunduran bangsanya. Dalam setiap kesempatan dia berkata lantang kepada siapapun tentang kejahatan sistematis industri pharmasi yang berlindung dibalik Lembaga Multilateral. Dalam satu forum dia pernah berkata bahwa Amerika paling takut dengan kaum muslimin tapi kita takut duluan. Putri Kiai ini menggunakan kesempatannya mengemban amanah bangsa tidak hanya sebatas jabatannya sebagai menteri kesehatan tapi lebih daripada itu dia tampil sebagai negarawan yang melawan segala hegemoni asing untuk menganeksasi bangsanya. Baginya globalisasi adalah bentuk lain dari penjajahan cara baru. Dimana hegemoni negara kuat menindas negara yang lemah

Dalam satu forum pada acara peluncunran bukunya yang berjudul “Saatnya Dunia Berubah; Tangan Tuhan di Balik Flu Burung”. Dia berkata dengan lantang “Tatanan globalisasi yang seperti sekarang ini adalah globalisasi yang hegemonik. Globalisasi negara kuat menindas negara yang tidak kuat. Ini tidak sehat untuk dunia. Maka solusinya harus adil, harus transparan dan harus setara.”Diapun menambahkan penjajahan berbentuk globalisasi ini sudah masuk secara total dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi negeri kita. Hal ini tidak bisa dilepas dari ideologi kapitalistik. Oleh karenanya perlawanan harus dilakukan secara ideologis pula. Dan umat Islam punya senjata yang luar biasa. “Sebetulnya ideologi Islam yang paling lengkap,” katanya dengan tegas.

Sebagai sebuah perjuangan yang panjang. Dia telah melewatinya dengan gagah berani. Dia tidak peduli karena sikapnya dia tidak populer diantara teman temannya, juga atasannya.. Dia tidak peduli bila pada akhirnya dia harus tersingkir dari arena. Tak ada kekalahan bagi petarung seperti dia. Tidak ada. Namanya akan abadi bagi pejuang keadilan dalam tatanan global. Lagi , seorang srikandi , seoran Cut Nyak Din tersungkur ditanahnya sendiri oleh kekuatan asing.

Monday, October 19, 2009

Pemimpin

Setiap pria ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Itu kata Allah. Artinya pria memang didesign untuk memikul tanggung jawab besar sebagai bagian dari fungsi rahmatan lilalamin. Walau jenis pemimpin itu berbagai ragam namun minimal pringkat pemimpin harus dicapai oleh setiap pria yaitu pemimpin rumah tangga. Rasul mengatakan bahwa ”bukan termasuk kaumku bagi yang tidak menikah”. Ini sebagai ujud sunattullah bagi siapa saja yang bersahadat kepada Allah dan Rasul. Dalam pada itu Rasul menempatkan seseorang itu dalam wahana terlatih untuk menjadi pemimpin apa saja. Maka rumah tangga adalah ajang pelatihan itu. Karakter kepemimpinan harus dimiliki oleh setiap pria untuk pantas disebut sebagai kepala keluarga.

Sifat sabar, jujur, tekun , kerja keras, pengasih penyayang, cerdas dan rendah hati serta berbagai sifat mulia lainnya haruslah dimiliki oleh setiap pria yang berumah tangga. Setiap pelanggaran salah satu sifat ini maka akan menghadapi aksi yang tidak nyaman dari istri atau anak anaknya. Kadang sikap tidak nyaman itu membuat rumah seperti neraka dan kerinduan tak lagi melekat untuk bertegur sapa dalam canda. Banyak rumah tangga hancur dalam silang sengketa yang tak jelas siapa salah atau benar. Namun begitulah harga dari kepemimpinan yang tidak qualified. Tapi bagi yang berhasil mengikuti sunah rasul untuk menjadi pemimpin yang baik dirumah tangga maka hasilnya rumah akan menjadi sorga dunia. Allah memberikan sertificate ” Sakinah Ma wadah wa rahman”

Untuk mendapat certificate tertinggi dari Allah berupa ”Keluarga Sakinah Ma wadah Wa rahman ”itu ternyata tidak harus seorang professor atau doktor atau ekonom atau insinyur. Orang biasa saja dan pendidikan terendah pun bisa mendapatkan certificate itu dan menikmati curahan nikmat dunia tak tertandingi. Lantas apa kunci dari kekuatan kepemimpinan itu. ? Jawabannya adalah Ikhlas ! Apapun yang suami lakukan dirumah dan diluar rumah semata mata beribadah kepada Allah untuk mengemban amanah dari Allah sebagai kepala keluarga. Begitulah indahnya Islam mengajar proses lahirnya kepemimpinan dalam masyarakat. Dimulai dari keluarga dan berkembang sampai kepada tetangga, rukun tetangga, rukun warga , lurah , kecamatan, kabupaten , provinsi dan akhirnyua sampai di tingkat nasional.

Kepemimpinan itu adalah proses yang tidak datang dadakan. Dia lahir dari tengah masyarakat dan teruji dari tingkat rumah tangga sampai kepada masyarakat luas. Karena yang dihadapi adalah manusia dan alam. Yang tidak hanya dapat diselesaikan dengan hitungan angka statistik dan probability analisis untuk mengambil keputusan. Tapi suatu analisa yang berasal dari nurani terdalam tentang cinta dan kasih sayang. Maka Allah lah yang akan mengajarkan manusia untuk melewati batas akal melihat masa depan membangun visi. Hingga dia mampu berkata untuk sepatah kata yang meyakinkan orang lain percaya dan mengikuti sebagai sebuah inspirasi untuk lahirnya aspirasi kolektif. Dia bisa tampil keras seperti Umar BIn Khatap namun dapat juga lembut bagaikan Ali bin Abithalip, namun dia seorang demokrat sejati seperti Abubakar Sidik dan ekonom yang handal seperti Ustman.

Karena “Kepemimpinan” selalu berkaitan dengan kualitas-kualitas tinggi dalam moral dan karakter. Kualitas-kualitas, seperti visionary, empowering, authentic, resonant, heroic, transformational, dan puluhan ciri lain. Hal itu adalah hasil tempaan yang lama dan penuh jerih payah melalui keterlibatan penuh dedikasi di dalam komunitas yang melahirkan nature kepemimpinan itu. Maka, kepemimpinan juga dilekatkan dengan ide-ide dan perbuatan-perbuatan besar dan cinta besar yang membawa perubahan, sekalipun harus lama bertekun, bergerak melawan arus, dan berkorban untuk itu. Tapi di era sekarang , pemimpin dipilih karena pengaruh corong Iklan di TV/Media massa dan panggung. Maka calon anggota kabinet yang dipilihpun tak lagi melihat qualifikasi yang diidealkan untuk seorang pemimpin. Yang dikenal hanyalah istilah professional dan partisan layaknya mengelola Transnational Corporation. No money , no deal. No bargain position, no share.

Thursday, October 8, 2009

Bodoh dan Malas

Kemarin saya bertemu dengan teman dari Singapore. Teman ini sedang melakukan proses pengambil alihan perusahaan tambang di Indonesia. Investornya dari China lewat Asset Management di Hong Kong. Yang membuat saya tertarik dan akhirnya termenung adalah kehebatan warga singapore melihat peluang. Ketika era broker komoditi tak lagi dapat diandalkan karena semakin terbukanya informasi barang dan jasa untuk diaccess langsung oleh pembeli / penjual maka mereka beralih kepada broker jual beli perusahaan. Business ini bukanlah hal yang mudah saat sekarang. Karena membutuhkan ketajaman penciuman peluang , penguasaan geostrategis business, Networking yang berhubungan dengan tekhnology, market, financial. Yang menarik lagi adalah mereka kaum muda yang professional.

Akibat krisis global, pertumbuhan ekonomi Singapore sekarang memang melambat. Bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia. Tapi keadaan ini tidak berpengaruh besar bagi kelompok menengah Singapore. Mereka terlibat aktif memanfaatkan peluang business di hampir seluruh negara. Para Fund Manager raksasa senang berhubungan dengan pengusaha broker singapore dalam program pengambil alihan perusahaan ( Take Over /TO) di Indonesia karena analisa yang akurat dan penguasaan exit strategy ( paper work ) yang hampir 0,001 persen tingkat error nya. Itulah kelebihan mereka. Samahalnya di tahun 70 an sampai 1998 , importir dari manca negara lebih suka beli komoditas dari Singapore walau mereka tahu komoditas itu berasal dari Indonesia atau Malaysia.

Lantas mengapa pelaku TO itu dapat mendulang sukses? Mengapa itu tidak mampu dikerjakan oleh pelaku dari Indonesia sendiri ? Jawabannya sederhana yaitu access financial resource. Sama seperti dulu mengapa Singapore menguasai perdagangan komoditas asal indonesia. Ya karena penguasaan mereka terhadap Access market. Eksportir indonesia kaya raya karena dukungan perbankan dalam negeri dan broker singapore. Tapi yang lebih untung adalah pengusaha singapore sebagai broker. Sementara perbankan singapore mendapatkan luberan dana dari Indonesia dengan murah untuk ditabung atau deposito. Begitupula halnya dengan program TO. Perbankan kita yang berdarah darah membiayai pembangunan project namun akhirnya di ambil alih oleh Asing lewat broker TO singapore. Dan biasanya dana dari hasil penjualan itu dititipkan ke perbankan singapore. Tetap saja dalam kondisi apapun singapore berjaya.

Hampir sebagian besar perusahaan strategis di Indonesia yang masuk bursa tak lepas awalnya dari keterlibatan pelaku broker TO Singapore. Ciri khas mereka selalu sama. Enhancement company melalu financial engineering, , kemudian refinancing lewat Obligasi atau perbankan dan terakhir lepas saham di bursa (IPO). Ditahap terakhir inilah mereka mendulang yield tak terbilang. Jangan berharap perusahaan dibawah program TO ini kelak peduli dengan CSR ( Corporate Social Responsibility ) secara significant. Itu hanya lipstick dan hanya ada dalam brosur perusahaan untuk meningkat company image. Tak lebih.

Jadi kalau banyak perusahaan tambang yang strategis masuk bursa maka itulah ujud dari cerita lama berulang. Singapore selalu pandai memanfaatkan kebodohan dan kelemahan Pengusaha Indonesia yang selalu ingin hidup senang tanpa kerja keras namun culas. Dan yang lebih lagi adalah pengusaha indonesia tidak mau tahu soal nasionalisme atau cinta tanah Air. Bagi mereka money is the real god. Makanya betul kata teman saya “ Singapore tidak akan pernah miskin selagi tetangganya ‘bodoh ,malas dan culas “.

Friday, October 2, 2009

China dan kemajuan

Tanggal 1 oktober, hari nasional China diperingati dengan sangat meriah. Puncak acara itu diadakan di Lapangan Merah. Parade militer dengan menampilkan keunggulan China dalam menguasai tekhnologi perang dan barisan militer professional , tak ada kesan lagi bahwa negeri ini pernah dijajah oleh Asing dan pernah hancur karena perang dunia kedua. Pada abad sekarang, China dapat menunjukan kepada dunia bahwa mereka memang pantas dihormati dan disegani. Putaran G20 untuk menyelesaikan masalah akibat financial global crisis hanya bisa dilakukan dengan keterlibatan china secara penuh. Kalau dulu timur tidak dipandang sebelah mata namun kini kekuatan dunia terpusat dua poros, Beijing –Washington.

China adalah negara yang berhasil membangun negerinya tanpa dikendalikan oleh AS ,seperti Jepang dan Korea. Negeri ini bangkit karena akar budaya yang menanamkan percaya diri yang tinggi atas nilai nilai budaya sebagai sebuah komunitas yang unggul dalam peradaban dunia. Namun ada hal yang menarik bahwa China gemar meniru yang baik dari negara /bangsa lain dan menerapkannya sesuai dengan budayanya sendiri. Bukan meniru buta dan bangga akan itu seperti layaknya negara yang menjadi American Follower. Bagi China , apapun yang baik untuk rakyat walau berasal dari negera lain maka itu harus dipelajari. Setelah dipelajari maka harus dikembangkan dengan membuang yang buruk dan meningkatkan yang baik.

Demikianlah ketika china meniru kapitalis tapi hanya mengambil sisi yang baik dari kapitalis dan membuang yang buruk. Seperti Capitalis memberikan hak pemodal untuk meningkatkan value resourcenya. Ini diterima oleh China. Tapi tujuan capitalis untuk mempermainkan pasar dan membunuh pesaing lewat modal, dibuang oleh Pemerintah lewat perlindungan penuh kepada yang tak mampu bersaing. Negara digaris depan mencipatakan keadilan pendistribusian modal lewat pendirian bank yang semuanya milik pemerintah. Pemerintah menciptakan keadilan mendistribusikan produk hulu dengan memberikan hak monopoli kepada BUMN menguasai business hulu. Agar business hilir dapat berkembang, terutama bagi dunia usaha kecil. Privatisasi layanan public dilakukan dengan hati hati dan hanya dilaksanakan dalam satu komunitas yang tingkat penghasilannya sudah diatas rata rata.

Yang jadi pertanyaan oleh kalangan akademis adalah bagaimana China bisa menggerakan rakyatnya dalam jumlah 3 kali penduduk AS atau 5 kali penduduk Indonesia untuk tampil unggul dalam persaingan global dan menjadi mesin pertumbuhan yang efektif. Kebanyakan negara, jumlah penduduk sebagai kendala meng eskalasi pertumbuhan ekonomi. Tapi bagi China jumlah penduduk sebagai peluang dan sekaligus keunggulan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Kemajuan China disegala bidang, hampir dipastikan karena keterlibatan aktif masyarakat dan dukungan pemerintah yang solid lewat partai komunis. Apakah yang membuat hingga rakyat china dapat menjadi mesin ekonomi yang efektif ?

Ternyata jawabannya adalah strategy pembangunan sumber daya manusia yang tepat. Sejak kemerdekaannya, para pemimpin china punya konsep yang jelas untuk membangun SDM. Dan ini berlanjut secara berkesinambungan dari satu president ke president berikutnya. Beda dengan kita yang ganti president, ganti strategy. China strategy tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah taktik pengembangan SDM yang harus disesuaikan dengan situasi kondisi zaman.Mari kita lihat cara china membangun SDM rakyatnya dari satu president ke president berikutnya.

Era Mao ( 1966 ) ketiika revolusi kebudayaan, Mao berhasil menggiring lebih dari separuh rakyat China menamatkan SLA. Program ini termasuk salah satu dalam agenda revolusi Mao. Pada Era Mao , kualitas tidak begitu diperhatikan. Yang diutamakan adalah menjaring sebanyak mungkin rakyat bisa melek hurup dan melek berhitung. Revolusi Kebudayaan, jumlah siswa masuk sekolah dasar meningkat separuh darti sebelumnya, sekolah menengah pertama naik empat kali lipat, dan sekolah menengah meningkat 14 kali lipat. Kebanyakan yang sekarang jadi elite China berasal dari program pendidikan era Mao. Program ini hampir tidak mungkin diterapkan tanpa revolusi. Dan Mao berhasil untuk itu. Revolusi kebudayaan berhasil menghancurkan paham feodal yang menghambat pendidikan.

Era Deng ( 1978 ) , Reformasi Deng dijalankan secara systematis. Pendidikan dijadikan prioritas utama. Pendidikan diarahkan untuk menguasai iptek dan menciptakan sytem pendidikan yang berbasis caracter building. Kualitas gurupun ditingkatkan. Reformasi pendidikan era Deng memang banyak yang memberhentikan guru yang tak berkualitas namun menarik guru yang berkualitas dengan standard gaji professional. Hal ini disadari oleh Deng ,bahwa reformasi ekonomi ( Ekonomi terbuka ) tidak akan berhasil membuat China sebagai tuan dinegerinya sendiri bila tidak menguasai iptek. Deng berhasil membangun basis reformasi ekonomi ya pro kapitalis dengan basis pendidikan SDM yang kuat.

Era Jiang Zemin ( 2000) , pendidikan diarahkan lebih kepada efektifitas metode belajar dan mengajar. Tidak ada lagi pemaksaan orientasi pendidikan yang terkomando lewat hapalan atau paket. Era ini, adalah pendidikan diarahkan kepada menciptakan pendidikan yang tepat sesuai umur dengan memasukan dimensi memanusiakan manusia. Proses ini merupakan taktik untuk melahirkan masyarakat yang creative dan mampu bekerja sama dengan siapapun untuk menghasilkan yang terbaik hingga mampu pula bersaing di segala bidang dikancah international. Program ini bukan hanya keputusan president tapi merupakan hasil musyawarah kolektif dari seluruh pemimpin china kala itu.

Era Hu Jintao (2003) hingga sekarang meneruskan konsep pendidikan dari president sebelumnya namun meningkatkan mutu pendidikan luar sekolah kejuruan dibidang industri dan management. Tujuanya agar pendidikan formal maupun informal dapat berdiri sejajar untuk berbuat bagi kemajuan China. Tidak ada lagi diskriminasi dan kesempatan diperluas bagi siapa saja. Memperhatikan cara china membangun negaranya, utamanya sektor pendidikan, kita patut merenungkan kata kata Jhon Adam ( president ke dua AS)’ Aku ingin berjuang keras untuk rakyat agar kelak anak anakku bisa belajar matematika, dan cucuku kelak dapat belajar science , cicitku dapat belajar filsafat dan seni. ”

Pendidikan itu memang harus disesuaikan dengan sosial ekonomi suatu negara dan zamannya. Kita tidak bisa membayangkan betapa beratnya tantangan Mao ketika harus membunuh jutaan kelompok feodal yang selalu menginginkan rakyat bodoh. Kita tidak tahu bagaimana beratnya beban anggaran yang harus dipikul Deng ketika awal reformasi. Dia harus menanggung anggaran pendidikan yang besar. Karena itu dia harus menutup hampir semua pusat riset tekhnologi militer dan memangkas anggaran pertahanan walau situasi masih diliput perang dingin. Tapi para pemimpin China, telah berbuat dengan keyakinannya untuk masa depan negaranya. Kini rakyat China dapat tersenyum dan berterimakasih kepada pemimpinnya. Itu terlihat jelas dalam parade hari nasional china di lapangan merah. Ribuan anak sekolah mengusung photo berukuran raksasa president yang terdahulu maupun yang kini berkuasa. Bagaimana dengan kita ?

Kebutuhan listrik

Era sekarang segala galanya diukur oleh indeks prestasi. Mahasiswa bangga bila IP nya tinggi. Apalagi dapat menyelesaikan studynya dalam waktu yang sangat singkat. Tak penting bagaimana meraihnya. Bila kenyataan begitu banyak mahasiswa selesai kuliah menjadi beban. Bukannya memberikan contribusi positip bagi masyarakat. Ilmu sebagai fundamental membangun tak nanpak kecuali semuanya tertuang dalam IP. Semakin tinggi IP nya semakin baik sarjana itu. Prestasi diatas kertas sudah menjadi budaya untuk menentukan kelas seseorang. Sebuah realitas hidup dalam cermin bukan realitas. Negara yang dikelola oleh Sarjana seperti itu, juga mengandalkan IP dalam bentuk angka ekonomi growth. Prestasi gemilang untuk dijual dan dihormati agar tetap terpilih dan dihormati.

Ditengah kebanggaan negara memacu pertumbuhan ekonomi nasional, ditengah kebanggaan menjadi negara yang tergabung dalam G20, ditengah kebangagaan negara paling demokrasi, ditengah kebanggaan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di ASEAN yang dilanda krisis global, kini diseluruh wilayah harus merasakan pemadaman listrik bergilir. Sebuah realitas bahwa pembangunan selama ini tak lebih hanya berbicara diatas kertas. Pejabat tampil plamboyan digedung megah namun miskin visi. Diera globalisasi dan kompetisi kebutuhan listrik adalah harga mati yang harus dibela sampai mati oleh rezim manapun. Tapi dinegeri kita itu tak nampak.

Padahal disadari oleh semua pihak bahwa selain sektor industri, berbagai kegiatan dalam kehidupan kita pun tidak lepas dari perlunya ketersediaan tenaga listrik. Kegiatan rumah tangga, pendidikan,ekonomi,serta kegiatan yang lain yang menunjang kehidupan kita sehari-hari sangat tergantung pada listrik. Jika ketersediaan tenaga listrik berkurang, berbagai kegiatan sehari-hari tidak akan berjalan optimal. Konsekuensinya, target pertumbuhan ekonomi 6% dan pertumbuhan industri di atas 5% tampaknya sulit tercapai. Tapi dengarlah para pemimpin kita dengan gagahnya berkata ” Kalau Tiongkok atau Malaysia bisa kitapun bisa ”

Kondis kelistrikan di Indonesia sangat buruk. Indonesia berada pada urutan ke-11 dari 12 negara sekawasan. Rasio elektrifikasi saat ini sekitar 64,3% dan rasio desa berlistrik sebesar 91.9%. Artinya lebih dari 60 tahun Indonesia merdeka masih ada 34 % wilayah Indonesia tidak berlistrik. Walau rencana kelistrikan adalah tercapainya rasio elektrifikasi 67,2% pada 2010,dan 93% pada 2025. Keliatannya sulit dicapai. Masalahnya kini, kemampuan PLN dalam mengimbangi konsumsi listrik yang ada masih minim. Hal ini disebabkan oleh ketidak mampuan financial capability PLN untuk membeli energy. Juga sumber pendanaan untuk membangun Power Plant baru semakin sulit dan mahal. Kendala ini diketahui tapi tak pernah diselesaikan kecuali asik mengumbah janji “akan diselesaikan tahun sekian…”

Masalah kebutuhan dana investasi untuk negeri ini bukan hanya listrik tapi begitu banyak infrastructure yang dilanda krisis dan semua itu hanya soal waktu akan meledak sebagai bukti pemerintah memang tidak qualified mengelola sumber daya dalam negeri untuk kepentingan rakyat banyak. Indonesia membutuhkan dana sebesar Rp. 2000 triliun selama lima tahun agar meraih pertumbuhan ekonomi 7%. Itu artinya setiap hari dibutuhkan lebih dari Rp. 1 triliun. Akankan ini dapat dicapai oleh pemerintah yang doyan bicara dan komplik internal antar elite. Apalagi president yang terlalu banyak berpikir dan telat bertindak.

Bila RA Kartini menulis buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, barangkali sudah saatnya kita menulis drama ekonomi Indonesia dengan judul “Habis BBM Terbitlah Krisis Listrik”. Tanpa upaya serius menyelesaikan krisis listrik dengan cerdas dan tidak kontra-pertumbuhan, drama deindustrialisasi babak berikutnya akan berlanjut.

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...