Friday, December 26, 2008

Undercover economist

“Undercover economist “ itulah nama buku yang ditulis oleh Tim Harford. Buku ini tidak begitu tebal. Jadi saya hanya butuh 2 jam membacanya. Selama membaca saya tidak pernah mengerutkan kening karena semua ditulis dalam bahasa popular dan mudah dipahami. Yang menarik adalah buku ini berusaha menyingkap secara vulgar tentang ekonomi dibalik banyak kebijakan yang dikeluarkan oleh negara, lembaga multilateral ,para ahli dibidang ekonomi. Ekonomi yang selama ini kita pahami sebagai salah satu ilmu social yang bertujuan menciptakan kemakmuran manusia ternyata banyak hal yang justru melahirkan kontrakdif , bahkan contra productive bagi tujuan kemakmuran. Buku ini membuka aib pelaku ekonomi sebagai binatang yang memeras demi laba dan harga. Semua tahu tentag harga tinggi tapi value is nothing.

Saya tak ingin mengurai lebih jauh tentang buku ini. Baiknya saya cerita tentang explorasi keseharian saya. Saya datang ke Mall bersama keluarga hanya karena untuk menemani sibungsu nonton filem Pada waktu mau nonton, biasanya anak anak ingin membeli makanan kecil untuk dikunyah selama di biskop. Juga salama menanti pintu dibuka ,saya menyempatkan diri untuk minum coffee di café yang khusus disediakan. Juga tersedia smooking room. Sungguh nyaman sekali. Tapi , harap dicatat bahwa harga makanan dan minuman ringan yang tersedia di biskop itu harganya 5 kali lebih mahal dibanding tempat lain. Atau mungkin 10 kali lebih mahal dibanding tempat dipinggir jalan. Coffee yang saya minum di café itu harganya sama dengan minuman di hotel berbintang.. Orang tidak punya pilihan kecuali harus membeli.

Setelah nonton usai , kita berkeliling disekitar Mall untuk melihat barang dagangan yang terdapat dietalage. Semuanya nampak menarik penampilannya. Berbagai merek terkenal dipajang. Wajah penjaja yang ramah serta ruangan yang serba terang dengan design interior mewah melengkapi suasana outlet itu. Orang datang ,melihat dan membeli tanpa boleh menawar. Karena harga sudah dibadrol. Harganya , anda jangan berpikir membayar karena kebutuhan karena pasti tidak rasional. Kecuali kalau anda membayar harga itu untuk sesuatu prestige, lengkap dengan tas belanjaan dengan logo outlet itu.Tapi untuk itu anda harus membayar 100 kali lipat dari harga untuk jenis barang yang sama , kebutuhan yang sama ditoko tradisional.

Semua arena Mall menjadi lahan business. Dari tempat parker sampai keseluruh lantai yang ada di Mall itu, termasuk ruang pamer produk. Setiap jenggal ruang Mall itu dihitung dengan teliti berapa cost membangun dan memeliharanya kemudian ditentukan dengan teliti berapa cost of fundnya , juga biaya gaji para eksekutive serta pegawai yang terlibat. Dari itulah harga jualnya terbentuk. Termasuk barang dagangan yang ditempatkan didalam Mall itu. Para ekonom menyebut ini sebagai nilai tambah dari tekhnology dan image. Tapi sebetulnya adalah penipuan cara kapitalis. Value of nothing karena mendongkrak harga dengan image atau ilusi.

Karena pemodal melihat komunitas menengah atas negeri ini tidak jauh bedanya dengan komunitas menengah di luar negeri.Maka treatment nya pun tak jauh beda , yaitu memanfaatkan budaya materialistis dan life style orang modern. Orang mengejar harga sebagai lambang status, Itulah yang dimakanai oleh para developer ketika merancang bangunan Mall bersama sama dengan ahli designer, contractor , produsen bahan bangunan. . Kemudian rencana itu dipaparkan kepada para banker untuk diterima. Uang orang kaya yang ada dibank akan mendapatkan manfaat bila diinvestasikan kedalam business ini. Karena pasarnya juga adalah para deposan bank itu sendiri. Dari sini kita melihat bahwa uang berputar dari kantong kiri ke kantong kanan. Tidak pernah terlempar keluar atau kejalanan untuk dinikmati oleh orang miskin atau memberikan pengaruh berganda bagi petani, nelayan ataupun buruh.

Komunitas Mall menyatu dengan komunitas lainnya seperti Bandara , hotel berbintang , rumah sakit international ,sekolah international, Lapangan Golf , Real estate, Lantai bursa, Town House, play group dan café , Hotel berbintang, Show Roon Mobil mewah, Tempat hiburan. Zona ini secara tidak langsung telah membangun satu komunitas tersendiri yang lepas dari komunitas bangsa indonesia yang mayoritas tidak punya akses kepada barang / jasa berkualitas. Didalam mall itu kita merasa berada di negara yang Income Percapitanya diatas USD 25,000 pertahun. Kita seperti berada di Causeway Bay Hong kong atau di Orchard Singapore. Kita tidak melihat ratusan juta wajah muram disini.

Lewat program privatisasi langsung maupun terselubung, komunitas ini sudah mulai merampas ranah public Layanan public semakin banyak di privatisasi atau dimaterialistiskan. . Agar layanan bagi komunitas ini semakin meluas menampung economic bubble.. Semua itu menjadi ring to ring sebagai satu komunitas yang menyatu., mempesona. Daya beli komunitas itu mengangkat indek konsumsi nasional dan indek ekonomi macro, menggairahkan pasar modal Para ekonom dengan enaknya mengatakan daya beli meningkat ,ekonomi begairah, masa depan cerah, arah kebijakan sudah benar.

Tapi sebetulnya hanyalah membentuk harga tanpa nilai (value of nothing). Sebuah komunitas yang renta dan menjadi biang ketidak adilan dimana mana. Akhirnya krisis Global menyadarkan semua pihak bahwa tak ada economist untuk prosperity bagi semua melainkan menciptakan kelas dan memperlebar gap…Yang menyedihkan ini semua akibat oleh regulasi dari rezim yang menjadikan demokrasi sebagai jalan menuju kemakmuran bagi semua. Dimanakah nilai demokrasi yang kita idamkan itu ? dimanakah peace , freedom, equality itu ???

Thursday, December 18, 2008

Saatnya...


Catatan akhir tahun..



Keterpurukan bangsa kita terjadi ketika masuknya kolonialisme dengan system kapitalisme dan materialisme. Para sultan dan Radja dinina bobokan oleh berbagai kemudahan oleh para colonial dengan upeti dan suap. Sehingga membuat mereka berjarak dengan rakyatnya. Para Raja atau Sultan seakan menutup mata membiarkan rakyatnya dijadikan kuli murah. Tak terbilang kekayaan alam negeri ini dikurasi dan hasilnya dikirim ke keluar negeri. Sementara rakyat hidup dalam gelimang penderitaan dan tekanan ditengah pesta dansa para bangsawan raja.

Kini setelah berabad abad berlalu, terdengar suara “ Kita tidak bisa melepaskan diri dari globalisasi” . Begitu keyakinan para petinggi kalau bicara didepan public. Dengan bahasa tegas kita dapat memaknainya bahwa kita tidak lagi merdeka dalam arti sesungguhnya. System dunia sudah terbentuk sedemikian rupa hingga kita sudah on trap dengan system tersebut. Tapi pejabat public dengan tangkas menolak kalau dibilang kita didikte oleh asing. Kita merdeka! Benarkah ? mengapa setiap kebijakan terhadap APBN kita tidak pernah bisa melepaskan diri dari recomendasi organisasi international.

Mengapa kita selalu berusaha untuk menjalin sinergi dengan jepang untuk arus export dan import ? Karena GNP jepang adalah USD 4,5 Triliun sedangkan kita hanya USD 350 billion atau GNP kita hanya 8% dari GNP Jepang. Jadi alasan kuat untuk memanfaatkan jepang sebagai mitra. Mengapa kita begitu saja percaya dengan rekomendasi USAID ? karena GNP AS yang mencapai USD 14 Trilion maka GNP kita hanyalah 2,5%. Artinya kita butuh AS untuk menjamin financial resource. Mengapa kita begitu getol mendekati China ? Karena. GNP China yang USD 3 trillion maka GNP kita hanya 12 %. Dengan demikian ada alasan untuk mendapatkan alternative resource bantuan. Mengapa kita begitu tidak tegas terhadap Eropa, ? Karena Europe dengan GNP USD 15 trilion maka GNP kita hanya 2,3 %.

Data tersebut berbicara dengan alasan yang significant. Memang dari segi ekonomi berdasarkan data data makro maka we are nothing dibandingkan negara seperti China, Jepang, Eropa , US. Tak ada alasan lain kecuali pejabat public hanya percaya dengan kekuatan ekonomi negara lain untuk mengatasi pembangunan nasional. Bertahun tahun berlalu sejak era orde baru dan reformasi. Dari President ke president berikutnya , silih beganti, namun platform tetap sama bahwa bantuan asing adalah mutlak. Ketergantungan adalah No Alternative To Objection ( NATO) untuk menjaga kesinambungan pembangunan tapi sebetulnya menjaga kesinambungan rezim.

Ketika global crisis terjadi , kita terkena imbasnya. Maka pejabat public berkata “ kita hanya terbawa banjir bandang dari AS.” Artinya kalau AS krisis maka kitapun harus ikut krisis. Namun ketika AS dan negara maju lainnya berjaya kita tetap saja sulit dengan lilitan hutang yang mencekik.. Sementara ketika krisis terjadi , semua negara maju seperti Eropa, China, Jepang, AS, dengan mudahnya melepas dana untuk mem bail out pasar dan melancarkan program stimulus dengan jumlah yang luar biasa besarnya. Bahkan AS, untuk bail out sector keuangan saja nilainya diatas USD 700 billion atau dua kali dari GNP kita. China melepas dana sebesar USD 342 billion untuk program stimulus atau sama dengan GNP kita. Sementara kita untuk program stimulus sebesar Rp. 120 triliun atau setara dengan USD 10 billion , kita harus mengotak atik ABPN dengan mengorbankan subsidi sektoral serta memohon dengan merendahkan bahu agar mendapatkan pinjaman dari asing…

Kita belum begitu pulih dari akibat krisis 1998 , kini kita dihadapkan keadaan didepan yang semakin sulit. Tahun tahun kedepan memang mengerikan . Akan banyak Perusahaan Sekuritas yang menjerit karena redemption reksadana. Akan banyak debitur yang gagal bayar bunga dan cicilan karena pangsa pasar menciut akibat semakin banyaknya OKB yang bangkrut. Akan banyak PHK karena pabrik kesulitan pasar dan permodalan.

Dengan keadaan ini, apakah kita masih percaya dengan asing ? Mengapa kita lupakan bahwa negeri ini dari awalnya sebelum era kolonialisme sudah lebih dulu berjaya dan menjadi bangsa yang besar. Candi Borobudur sebagai salah satu bangunan keajaiban dunia adalah bukti bahwa bangsa ini mempunyai budaya tinggi didunia. Kejayaan Majapahit sampai ke Campa dan lainnya adalah bukti kita bangsa besar. Harusnya keadaan sulit sekarang ini menyadarkan para elite untuk merubah paradigmanya. Saatnya kembali kepada budaya dan agama untuk mengangkat batang terendam. Menjadi bangsa yang besar dari kekuatan
sendiri. Lapar demi kehormatan adalah lebih baik daripada kenyang tergadaikan...

Monday, December 15, 2008

Air


70% planet bumi ini diliputi oleh air tapi 97%nya adalah air laut yang tidak bisa diminum. Juga tidak bisa digunakan untuk irigasi atau industri. Dari sejumlah itu hanya tersedia 3% sumberdaya air dan hanya 1% yang siap diminun. Sebagaimana emas atau minyak, dengan kelangkaan resource yang ada , maka tak pelak lagi Air adalah lahan business yang menggiurkan.. Apalagi mineral water kemasan, kalau dihitung hitung harganya lebih mahal dari harga crude oil atau CPO. Sebagaimana emas atau minyak, dengan kelangkaan resource yang ada , maka tak pelak lagi Air adalah lahan business diadab ini...

Indonesia menyadari bahwa pengadaan Air adalah tanggung jawab Negara. Karenanya pengelolaannya haruslah oleh Negara lewat PDAM.. Karenanya tariff harus disesuaikan dengan kemampuan rakyat untuk membayarnya. Inilah penyebab sebagian besar PDAM sebagai pengelola Air Minum mengalami kerugian dan tak mampu membayar hutannya. Pemerintah melihat bahwa hal ini disebabkan oleh management PDAM yang tidak professional. Buruknya management PDAM tidak lepas dari sikap pemerintah sendiri , yang memang tidak serius memberikan layanan terbaik terhadap barang public ini.. Dari cara pemilihan direksi, system gaji, SDM, infrastruktur, permodalan dan lain sebagainya dibiarkan apa adanya. Semua tercermin dari layanan dari PDAM kepada public yang juga apa adanya. Mungkin karena PDAM tujuannya social maka dikelolapun secara amatir. Inilah yang salah kaprah. Padahal layanan terbaik kepada konsumen ( rakyat) juga adalah intangible earning bagi pemerintah sebagai bagian dari Public Service Obligation ( PSO).. Bukan hanya laba dalam bentuk uang.

Kita ingin bertanya , apakah yang dimaksud dengan professional adalah mengelola PDAM layaknya business komersial lainnya? USAID termasuk lembaga yang sangat bersemangat untuk merekomendasikan agar Air sebagai suatu komoditi yang harus dikelola secara business murni. Anggaran subsidi pengadaan Air harus dihapuskan dalam APBN. Kalau tidak maka Negara tak layak menerima pinjaman kepada asing. Padahal dibanyak Negara masih menganggap bahwa Air adalah barang public yang harus dilindungi oleh Negara. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab social Negara terhadap kebutuhan esensi manusia. Termasuk Indonesia , dimana UU mengamanahkan bahwa Tanah , Air harus dikuasai Negara untuk kepentingan rakyat banyak.

Program penyehatan dan revitalisasi PDAM yang dilakukan oleh pemerintah dengan menghapus hutang PDAM serta memberikan kewenangan kepada PEMDA untuk menjamin hutang PDAM kepada pihak lain, sudah merupakan indikasi bahwa Air sudah menjadi komoditas. Sama seperti minyak dan lainnya. PDAM harus mampu mendatangkan kontribusi bagi Negara dalam bentuk LABA. Walau tidak ada aturan yang mengatakan privatisasi namun structure PDAM dengan kebijakan ini sudah mengarah kepada privatisasi. Harus dikelola secara professional dan business oriented.

Satu lagi bukti bahwa dinegeri ini secara berlahan lahan, system sudah mengarah kepada neoliberal dimana Negara berusaha untuk menghapus barang public dalam APBN dan menggantinya sebagai resource baru mendatang pemasukan. Negara sudah layaknya Corporate yang hanya berhitung cost and revenue. Nothing to free. Dengan situasi ini , maka rakyat miskin yang tak mampu membayar maka jangan berharap untuk mendapatkan Air Minum yang sehat. Layanan terbaik hanya untuk mereka yang mampu membayar.

Thursday, December 11, 2008

Inflasi dan korupsi

Seorang buruh yang bergaji Rp.1.200.000 kebingungan karena gajinya tak bisa lagi cukup untuk hidup sebulan. Karena uang kontrakan rumah per bulannya memenggal setengah gajinya. Dulu ketika gajinya masih rp. 600.000, uang kontrakan hanya memakan seperempat gajinya. Tapi kini dengan kenaikan gaji dua kali lipat justru uang kontrakan naik empat kalilipat. Begitupula dengan kebutuhan pokok sehari hari, semua naik diatas kenaikan gajinya. Keadaan ini membuat orang menyalahkan harga yang naik. Sebetulnya bukan harga yang naik tapi nilai uang semakin turun. Lihatlah ketika harga minyak mentah mencapai diatas USD 100 , BBM naik. Tapi ketika harga minyak mentah turun sampai lebih dari setengahnya ( diatas 50%) , BBM hanya turun rp. 500 rupiah atau tidak lebih 10%.

Apa artinya itu ? Tidak usah menggunakan teori ekonomi canggih untuk menganalisa keadaan tersebut. Itu adalah perampokan negara kepada rakyat lewat inflasi. Nilai uang turun drastis walau berbagai mata uang utama mengalami pelemahan namun kita lebih lemah lagi. Bahkan semakin terpuruk ketitik irrasional untuk tidak lagi dipercaya sebagai alat pembayaran oleh dalam maupun luar negeri. Penurunan nilai uang ini, telah memenggal penghasilan tetap para buruh , karyawan . Telah memotong hasil kerja keras para petani , nelayan, dan UKM yang mengandalkan pasar dalam negeri. Para rakyat tidak memahami mengapa mereka harus berkorban untuk sesuatu hal yang bukan salah mereka. Sementara pemerintah terus berlaku seperti sinterkelas membagi bagikan uang kepada rakyat miskin lewat berbagai program.. Ini bukanlah gratis. Ini adalah menebar sebagian hasil perampokan diam diam secara system untuk ditebarkan sedikit kepada rakyat yang bodoh.

Sebetulnya tidak perlu ada kerja berlaku seperti social dihadapan rakyat. Cukuplah stop korup. Inflasi adalah korupsi yang dilakukan oleh negara kepada rakyatnya yang diilaksanakan secara systematis lewat konspirasi para elite birokrat dan parlemen. Pembodohan dan pengaburan informasi diciptakan untuk memberikan harapan bahwa pengorbanan adalah perlu untuk masa depan yang lebih baik. Rakyat tak berdaya dan elite bebas bicara tentang masa depan sementara hari kini mereka menikmati kekuasan dengan merampok uang rakyat lewat inflasi.

Pemberatansan korupsi hanya menjangkau kejahatan materi dan bukan kejahatan system. Padahal kejahatan systematis berupa inflasi jauh lebih dahsyat daya korbannya. Meliputi hampir seluruh rakyat yang kaya maupun yang miskin. Orang tua sampai anak bayi. Konglomerat sampai pedagang kaki lima. Karena inflasi negara semakin terpuruk dengan jeratan hutang luar negeri yang semakin besar jumlahnya yang harus dibayar. Karena inflasi mengakibatkan ketidak pastian usaha. Karena inflasi orang kaya ragu untuk berinvestasi. Karena inflasi orang kaya semakin rakus dengan menanamkan uang dalam deposito berbunga tinggi dan malas masuk kesektor riel. Karena inflasi etos kerja buruh dan pekerja semakin drop. Begitu panjang efek dari kegagalan pemerintah mengelola moneter dan fiscal.

Kini dan kedepan, kita akan melihat bagaimana kebijakan acrobat dilaksanakan untuk mengatasi krisis global. Yang pasti hasilnya tak akan jauh dengan semakin dalamnya inflasi lewat harga yang melambung walau pasar semakin menciut , daya beli semakin rendah. Kumpulan komunitas pekerja yang bingung kehilangan pekerjaan dan juga yang bingung membelanjakan upah yang terpenggal oleh majikan, akan menambah angka kemiskinan baru.. Sebuah kejahatan teaktualkan secara vulgar sebagai bentuk penjajahan sistematis dari yang berkuasa kepada yang lemah…

Monday, December 1, 2008

Kekuatan yang lemah

Krisis itu tentu mendatangkan kecemasan. Cemas tentang masa depan. Tentang hari hari kedepan yang menakutkan. Yang terasa dan menjadi bahasa yang menakutkan bagi segelintir orang. Tapi tidak bagi kebanyakan orang yang sudah akrab dengan hari kini dan kemarin yang menyesakkan. Maka masadepan pun tak lagi dipikirkan dan krisis pun tak lagi punya makna untuk dipahami oleh mareka yang miskin ilmu dan harta. Demontrasi, antri minyak, antri sembako , bingung bayar kontrakan, bingung bayar uang sekolah anak dan kebingungan didepan rumah sakit karena uang tidak ada. Semua itu adalah keseharian mereka. Mereka akrab lahir batin dengan situasi ini. Hingga ketika para menteri dan DPR serta orang pintar bicara tentang krisis , mereka pasti tidak akan mengerti. Andai besok mereka harus kehilangan pekerjaan atau usaha mereka mengais uang dijalanan semakin sulit maka itupun bagi mereka adalah biasa.

Krisis ini dipahami betul oleh orang kaya yang takut miskin. Mereka yang kaya karena malas namun “creative “. Yang pengusaha tak pernah berpikir untuk mengembangkan derivative hasil sumber daya alam menjadi nilai tambah industri. Bisanya hanya keruk sumber daya alam ( tambang dan perkebunan ) dan jual apa adanya untuk dapatkan uang berlimpah. Yang penguasa tak pernah berpikir untuk mendorong kemandirian negara lewat kebijakan lintas sektoral yang melelahkan tapi lebih suka pinjam uang keluar negeri lewat penerbitan global bond atau mengemis grand program international untuk menutupi difisit anggaran. Dari dua kelompok elite pengusaha dan penguasa inilah bursa menjadi ramai untuk memuaskan sikap rakus mendulang uang dan uang. Kemudian bursa jatuh dan mereka semua ikut jatuh. Antara percaya atau tidak , mereka menyaksikan saham saham yang selama ini memanjakan mereka dari kerja tanpa keringat dan otak , kini terjun bebas. Harta yang ditumpuk bertahun tahun akhirnya menyusut dalam hitungan hari. Impian tentang masa depan cerah , berakhir sudah...

Ditengah ketakutan inilah. Elite pengusaha dan penguasa duduk bersama. Membahas tentang nasip masa depan bangsa. Dibicarakan ditingkat local maupun global. Semua prihatin akan ancaman akibat krisis. Yang terdengar dibalik rundingan itu adalah mengatasi saham yang jatuh dan moneter yang morat marit. Mengatasi perusahaan yang terancam bangkrut. Tak ada terdengar tentang sikap gaya hidup para elite itu sebagai penyebad krisis dan sekaligus sebagai solusi. Tak ada !. Tak ada terdengar agar para elite itu mengurangi biaya hidupnya dengan hanya cukup satu kendaraan , satu rumah, satu kekasih, sekolah anak cukup didalam negeri dan mengurangi biaya nongkrong di hotel berbintang untuk berbisik bisik. Juga mengurangi biaya ceremony untuk mendapatkan penghormatan dan pujian. Singkatnya , perlu satu revolusi budaya para elite untuk stop hidup rakus dengan segala symbol materialistis dan hedonism...

Tapi revolusi budaya itu tidak kita dengar sama sekali. Kecuali yang kita dengar adalah aturan yang dikeluarkan oleh para penguasa untuk memberikan kebebasan bagi pengusaha menurunkan upah para buruh agar terhindar dari kebangkrutan.Tidak ada aturan untuk menyetop anggaran para direksi perusahaan yang kadang untuk menghibur birokrat dan politisi di café dalam semalam bisa menghabiskan lebih dari upah satu orang buruh selama 1 tahun. Atau jalan jalan keluar negeri bersama WIL dengan anggaran lebih dari upah seribu buruh sebulan. Tentu tidak ada aturan itu. Karena antara pengusaha dan penguasa adalah elite yang hidup dalam mutual symbiosis. Antar mereka terjalin kepahaman untuk saling melindungi.

Suatu krisis terjadi maka itu sama saja satu upaya semakin memperlebar jurang kelas. Antara elite pengusaha dan penguasa disatu sisi dan rakyat lemah dilemahkan disisi lain. Jarak itu semakin hari semakin jauh dan jauh. Hingga teriakan lapar , airmata para janda yang dicerai suami yang stress kehilangan pekerjaan, ,suara anak yang meradang maut akibat kurang gizi dan lain sebagainya , tak akan terdengar lagi oleh para elite itu...Namun satu hal yang terlupakan oleh para elite itu bahwa Allah Swt sangat dekat dengan orang-orang yang lemah atau dilemahkan, yang dalam istilah al-Qur'an disebut dhu'afa dan mustadh'afin. Kedua golongan ini, di balik kelemahannya ternyata menyimpan kekuatan yang luar biasa. Allah berfirman:“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang2 yang mewarisi.”(QS al-Qashash: 5). Oleh karenanya, jangan coba-coba mempermainkan dengan menganggap enteng dan memandang mata sebelah kepada mereka yang lemah. Saatnya akan datang balasan setimpal...

Monday, November 24, 2008

Krisis Ekonomi Jepang.

Pada tanggal 14 november jepang mengumumkan bahwa mereka sudah masuk dalam lubang resesi. Hal ini diindikasikan oleh dua kwartal pertumbuhan ekonomi mengalami negative. 0,% antara April dan Juni. Juni dan September 0,1% Jepang, yang menyumbang 7% output dunia. Kaoru Yosano, Menteri kebijakan fiskal, berkata " Penurunan ekonomi akan terus berlanjut saat ini sebagai akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Kami harus mengingatkan bahwa kondisi ekonomi dapat lebih buruk lagi seperti AS dan Eropa sebagai akibat dari krisis keuangan, apabila sikaf kawatir berlebihan yang akan membuat nilai saham jatuh dan pasar valuta asing semakin kacau.

Nikkei 225 indeks saham telah turun 40% sejak awal tahun dan telah kehilangan seperempat dari nilai selama bulan ini. Perusahan jepang kehilangan dana sangat besar ketika yen terjadi koreksi. Padahal mereka berkeyakinan bahwa yen lebih stabil ketika terjadi bencana krisis dan nilainya lebih kuat dibandingkan dollar AS. JPMorgan Chase ekonom Masamichi Adachi berkata, " It's only going to get worse. Japan may be entering its deepest recession in a decade as the global financial crisis cools demand."." Padahal sejak tahun 2001 jepang tidak pernah mengalami krisis. Ekonomi terus tumbuh meroket meninggalkan negara negara lainnnya.

Jepan adalah kekuatan ekonomi kedua didunia. Sebagian pengamat ekonomi mengatakan bahwa Asia Tenggara akan menjadi penyelamat ekonomi dunia. Walau fakta sebaliknya. Ada juga yang mengatakan bahwa dampak krisis di Jepang tidak akan berpengaruh besar bagi pereknomian global karena sumbangannya hanyalah 13% PDB Global. Ini jelas tidak masuk akal. Para ekonom seakan buta melihat kenyataan dan selalu salah memprediksi masa depan yang akan kita hadapi.

Sumbangan jepang lebih dari 60% nilai barang dan jasa yang yang dihasilkan di Asia. Ini sama saja dengan 10 kali dari produksi Korea dan 20 kali lebih dari Indonesia dan merupakan satu dari delapan negara Industri maju dunia. Jadi krisis ekonomi di Jepang akan mempercepat proses menuju depresi global. Yomiuri Shimbun, menulis "Is the Japanese economy destined to share the fate of the Titanic?...unless some effective measures are taken, Japan...could even trigger worldwide economic chaos." Bila jepang masuk dalam deplasi spiral maka ekonomi Asia akan tumbang. Tidak banyak berharap jepang akan mampu mengatasi krisis ,sedangkan AS saja tak mampu menjaga keselamatan ekonomi mereka.

Karena krisis dijepang sudah sangat dalam dan semua itu berakar dari regulasi yang melekat dengan system kapitalisme. Dimana upah yang diterima dari para pekerja lebih rendah dari nilai barang yang mereka hasilkan. Disamping barang yang dihasilkan mempunyai keterbatasan untuk menyerap Karena para pekerja tak mampu lagi membeli barang yang berlimpah.. Kelebihan barang harus diexport Namun pasar negara lain juga punya masalah yang sama. Inilah akibat dari system kapitalisme yang mengejar laba tanpa memperhatikan kepentingan yang lain. Inilah apa yang disebut oleh system kapitalis yaitu Debt Deplation, dimana hutang menahan pengeluaran kosumen dan investasi Gabungan hutang, ketidak amanan kerja dan generalisasi ketidak pastian berlangsung dalam dilemma klasik dari pemikiran Keynes dimana pemerintah harus menurunkan suku bunga agar pasar bergairah. Nyatanya pengalaman ketika depresi hebat tahun 30an ternyata suku bunga rendah sampai 0,5% tak menghasilkan minat public untuk berhutang membeli kebutuhannya

Jepang adalah sebuah model , seperti banyak negara lainnya yang percaya system kapitalisme klasik yang bangga dengan kesuksesan pertumbuhan ekonominya.. Tentu mereka percaya bahwa akan selalu ada solution . Persainga pasar, kepemilikan pribadi dan lainnya harus dipetahankan dalam kuridor globalisasi system.. Jepan dan negara maju lainnya merasa dapat sendirian puas dengan kehebatannya dibidang tekhnologi, tapi persaingan mengabaikan kemanusiaan dan sumberdaya alam. Kapitalisme hanya memberikan pertumbuhan 1 sampai dengan 3 % pada saat booming. Perencanaan nasional maupun international dalam mengatasi krisis dapat saja memberikan hasil tapi itu hanya berharap sebuah keajaiban, walau sebetulnya rencana itu tidak seutuhnya dari kapitalisme system. Yang pasti solusi mengatasi krisis ini tidak ditangan para banker, pemegang saham, politisi tapi ditangan rakyat , para buruh dan tani, nelayan.

Dari masa kemasa kerisis terus terjadi dan terjadi. Menimbulkan kesedihan yang begitu luas akibat system kapitalisme. Jhone Gray, mantan Penasehat Thatcher menulis dalam bukunya False Dawn, mengatkan bahwa “ If Japan's policymakers yield to the demands of the Washington consensus, Japan will join all those western societies in which mass unemployment, epidemic crime and the collapse of social cohesion are problems without solutions’ Anehnya, Indonesia yang tak sekuat jepang , masih percaya dengan konsesus Washinton…

Saturday, November 15, 2008

PBB...?

Bilderberg adalah nama sebuah Hotel di Belanda. Tidak ada yang istimewa. Namun nama ini menjadi sangat familiar bagi banyak kalangan. Dari nama ini muncul istilah konpirasi. Ada juga muncul istilah screet society ( masyarakat Rahasia). Apa sebab? Di tahun 1952 diadakan pertemuan para elite dibidang keuangan , Industri, Media , Politik di hotel Bilderberg. Para undangan berdatangan dari Amerika dan Eropa yang berjumlah 130 orang. Mereka mempunyai kesadaran yang sama untuk menjalin hubungan lebih dekat dalam mengatasi masalah setelah perang dunia kedua, khususnya masalah sikap anti AS.. Selanjutnya pertemuan ini dilakukan terus secara regular setiap empat tahun. Kantor secretariatnya ada di Leiden dan di Amsterdam. Pada tahun 2007 dari tanggal 31 Mei sampai dengan 3 june pertemuan di gelar di Rick Carlton Hotel , Istanbul , Turkey. Kemudian di tahun 2008 ini diadakan pada bulan Juni di AS, tepatnya di Hotel Marriott, Chantilly, Virginia..

Berbagai pihak menganggap Bilderberg adalah kumpulan segelintir (elite) yang mempunyai rencana besar namun sangat rahasia. Terbukti, walau setiap pertemuannya melibatkan para TOP executive dari berbagai kalangan dan dalam jumlah besar namun tak ada satupun media massa dapat mengakses pertemuan itu.Bahkan kapan dan dimana acara itu digelar tak ada yang tahu.Publik baru mengetahuinya setelah acara selesai digelar. Yang menarik bahwa dibentuknya Dewan Trilateral oled David Rockefeller tahun 1972 tak lebih adalah untuk mengimplementasikan agenda Bilderberg, khususnya untuk mengontrol kekuasaan politik di AS. Pada pertemuan dibulan Juni 2008, Barack Obama dan Hillary Clinton termasuk ikut dalam pertemuan itu, bersama sama team penasehat dan juga sahabat dekat Obama di Senat Komite Hubungan Luar negeri , yaitu Joseph Biden ( democrat).dan Senator Richard Lugar ( republic ) ikut dalam pertemuan itu.

Yang menjadi pertanyaan dan akhirnya menjadi bahan spekulasi terhadap agenda dari Bilderberg adalah sebagian besar anggotanya adalah para elite dilembaga Keuangan, termasuk pimpinan Bank Central , Worldbank, IMF dan juga para politisi yang berada dijantung kekuasaan di AS dan Eropa. Sebagian dari mereka terlibat dalam berbagai skandal yang untouchable.. Bahkan terjadinya berbagai krisis ekonomi dan komplik di seluruh dunia tak bisa dilepaskan dari pengaruh kelompok Bilderberg. Program World Bank,IMF , UN dan lainnya , hampir sebagian besar berasal dari konsep yang datang dari kelompok ini. Mereka bergerak dengan sangat sistematis dan terstruktur, berspectrum luas. Maklum saja karena hampir semua anggota dari Bilderberg para billionare dibidang keuangan dan persenjataan, media massa yang mempunyai dana tak terbatas untuk melancarkan programnya.

Ada agenda yang sejak tahun 1992 sudah dicanangkan oleh Bilderberg yaitu mengontrol perbahan dunia yang mereka inginkan melalui PBB. Cara yang ditempuh mereka adalah memperbesar dukungan pendanaan yang berasal dari AS untuk kegiatan PBB. Tentu dana ini didapat dari para pembayar pajak di AS. Pihak yang gencar mensponsori ini adalah Barack Obama dengan proposalnya kepada Dewan Hubungan Luar Negeri di Senat yang berjudul “Global Poverty Act. Diharapkan apabila proposal ini disetujui maka sampai dengan tahun 2021 AS berkomitmen untuk memberikan pendanaan tambahan bagi PBB yang mencapai USD 845 billion atau 0,7% dari GNP AS.. Dari luar nampak proposal ini sangat mulia yaitu untuk terciptanya dukungan konkrit terhadap masalah kemiskinan diberbagai negara miskin atau istilahnya Global Millennium Development Goal. Tapi menjadi lain ketika usulan tersebut disertakan dengan kondisi seperti membatasi pembelian senjata bagi negera tertentu, pembentukan Pengadilan criminal international ( ICC ). Nyatanya ICC sejak berdiri tahun 2002 di Den Haag sebagai pengadilan kejahatan perang , hanya menyelidiki kejahatan di Uganda, Republik Demokratik Kongo dan Republik Afrika Tengah dan Sudan. Belum ada di Israel. Walaupun ada jargon untuk mendorong undang undang Pemanasan Global dan memperkenalkan “keaneka ragaman hayati “ namun tak ada protocol yang konkrit kearah implementasi.

Yang pasti, semakin besar dukungan pendanaan AS terhadap PBB maka semakin besar pula pengaruh elite Politik AS ( yang juga anggota Bilderberg) untuk mengatur dunia. Keadilan akan semakin jauh diharapkan apalagi concern yang mengemuka dalam pertemuan Bilderberg tahun 2008 adalah masalah Rusia, Islam, Iran, Irak, Palestina.Afganistan, Pakistan, Sudan. Tidak ada pembahasan bagaimana mengatasi krisis ekonomi global. Padahal yang hadir dalam pertemuan itu adalah bandit yang menciptakan crisis supreme dan bebebarap gembong yang membuat Lehman Brother bankrupt , juga beberapa petinggi yang banknya terlibat kasus CDOs, CDS...

Friday, November 14, 2008

G20...?

Akhir minggu ini pertemuan G 20 digelar di Washington, setelah sebelumnya diadakan pertemuan Tingkat Pejabat tinggi dibidang ekonomi di Sao Paulo, Brazil. Pertemuan ini bertujuan untuk mencari solusi mengatasi krisis global. Pertemuan kali ini memang sangat penting. Setidaknya menentukan arah dan corak pengelolaan sytem financial global dimasa depan. Maklum saja hampir sebagian besar negara dunia sudah menerima secara penuh system liberalisasi pasar sebagai satu idiologi kapitalisme. Akankah kapitalisme dipertahankan atau dikoreksi ? Dalam kapitalisme sendiri ada dua paham yang bertolak belakang satu sama lain. Yaitu kapitalisme anglo saxon, yang membiarkan pasar bergerak bebas untuk menentukan keseimbangan. Yang satunya lagi adalah Kapitalisme cara Eropa ,yang menginginkan intervensi negara menjaga pasar. Perdebatan sengit antar dua kubu ini tak dapat dielakan.

Negara maju menginginkan agar dunia menerima proposal untuk memberikan dukungan likuiditas perbankan dalam rangka meningkatkan kepercayaan pasar akibat krisis. Namun sebagian negara berkembang khususnya kelompok Amerkan Latin tidak menginginkan bail out kepada lembaga keuangan namun mengutamakan kebijakan untuk mendukung sector riel melalui ekspansi fiscal. Hal ini senada dengan sikap dari US Treasury tapi segera dibantah oleh team Ekonomi Obama. AS tetap di garis depan untuk mempertahan system pasar bebas ,khususnya sector keuangan. Keliatannya dualisme sikap tak bisa dielakan. Hingga memastikan pertemuan G20 dalam bayang bayang no action. Hanya sebatas jargon.

Ditambah lagi , ada desakan dari negara berkembang , Rusia, China, India serta Amerika Latin ,agar dibentuknya Lembaga Baru yang menggantikan peran IMF. Karena kebijakan IMF yang memaksa negara anggota untuk menerima pasar bebas ternyata justru mengakibat krisis. Ini sebagai satu bentuk reformasi financial global secara menyeluruh agar ekonomi dunia tidak hanya diatur oleh G7. Sudah saatnya negara berkembang dilibatkan dalam mengatur keuangan global. Itulah sebabnya G20, yang merupakan gabungan dari G7 negara industri maju dan G13 negara berkembang diharapkan menjadi satu kelompok yang menyatu untuk menyelesaikan masalah financial global. Namun , pertemuan Sao Paulo tidak melahirkan kesepakatan yang suptansial. Kecuali hanya memberikan rekomendasi yang serba mengambang. Dan kemungkinan pasti akan kandas dalam petemuan tingkat tinggi G20 di Washington. Apalagi tekad untuk menggusur IMF.

Tidak semua negara berkembang bersikap militan untuk memperjuangkan system keuangan global yang berkeadialan. Sebagian dari mereka justru menggunakan kesempatan krisis ini untuk meloby negara maju untuk mendapatkan pinjaman lunak dan menggunakan alasan demi kesinambungan demokratisasi yang sedang belangsung dinegaranya. Demi memperahankan penguasaan sumber daya alam oleh pihak asing. Demi menggerakan ekonomi nasional agar tetap menjadi konsumen. Demi hutang tetap terbayar. Mereka tidak peduli untuk memperjuangkan system apalagi merubah system ekonomi negaranya. Walau mereka sadar system kapitalisme dan kebebasan pasar telah menelan korban tak terbilang. Namun mereka tetap berkata, “ beri kemi pinjaman lunak agar demokratisasi dan kapitalisme tetap menjadi system politik kami.”

Para loyalis system kapitalisme sadar bahwa pengaruh krisis global ini akan membangkitkan paham neososialisme yang akan menjungkir balikan structure kapitalisme. Nasionalisasi penguasaan sumber daya alam akan terjadi dengan sendirinya. Pemimpin baru untuk itu akan tampil dengan sendirinya, yang tentu akan menjadi blok kekuatan untuk melawan system kapitalisme..Pertemuan G20 di Washinton tak lebih adalah loby para penghamba paham kapitalsime untuk menjilat kepada G7 agar mendapatkan pinjaman lunak karena bayang bayang revolusi terhadap kapitalasime yang menakutkan didepan mata…

Sunday, November 9, 2008

Sang president ?

Obama telah menujuk Team Ekonominya yang terdiri dari Robert Rubin, mantan menteri keuangan dan Direktur Dewan Ekonomi Nasional; Profesor Larry Summers, mantan Rektor Harvard University, ekonom Bank Dunia, serta mantan menteri keuangan pada periode kedua pemerintahan Bill Clinton; Eric Schmidt, CEO dan Pemimpin Google; Paul Volcker, mantan Gubernur Bank Sentral AS pada masa Presiden Carter dan Reagan; Laura Tyson, mantan penasihat ekonomi Bill Clinton; serta Jamie Dimon, CEO dan pemimpin JP Morgan Chase. Dari sekian team ekonominya itu , Paul Volcker termasuk yang perlu disoroti sebagai dasar mengetahui siapa sebetulnya Obama dan siapa pendukung suksesnya dia terpilih sebagai president

Karirnya, Paul Volcker seorang democrat yang pernah diserahi tugas sebagai Ketua Federal Reserve pada bulan Agustus 1979 oleh Presiden Jimmy Carter dan kemudian diangkat lagi pada tahun 1983 oleh Presiden Ronald Reagan. Di era Volcker's , FED memberikan sumbangan luar biasa untuk mengakiri krisis Stagflation AS 1970-an dengan membatasi pertumbuhan pasokan uang, mengabaikan kebijakan sebelumnya dari target suku bunga. Perubahan kebijakan yang dibuatnya telah memberikan sumbangan yang significant terhadap resesi ekonomi AS sebagaimana dialami ditahun 1980an dengan tingkat pengangguran tertinggi sejak era great depression dan Volckers , Fed menghadapi protes luar biasa dari public karena efek dari tingginya suku bunga pada sektor konstruksi dan pertanian, menurunkan pertumbuhan sector riel. Kebijakan ini memang berhasil menarik uang beredar dan memanjakan para orang kaya menikmati suku bunga FED yang pernah mencapai diatas 7%. Memang inflasi berhasil ditekan dari 13,5% pada tahun 1981 , menjadi 3,2% ditahun 1983.

Sejak Oktober 2006, saat ini Volckers adalah Ketua Dewan Trustees dari badan penasehat Ekonomi Washington yang sangat berpengaruh, Kelompok Tiga puluh, dan merupakan anggota dari Komisi Trilateral. Dia telah lama berhubungan erat dengan keluarga Rockefeller, tidak hanya dengan posisi di Chase Bank dan Komisi Trilateral, tetapi juga melalui keanggotaan dari Komite Trust Rockefeller Group, Inc (RGI), yang bergabung pada tahun 1987. Pernah memimpin The Rockefeller Center yang merupakan kelompok dari sejumlah anggota klan Rockefeller . Dia saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Trustees dari International House di Manhattan, NY.

Apakah Trilateral itu ? Adalah kelompok kekuatan dari tiga group yaitu AS, Eropa dan Jepang ( asia). Merupakan NGO yang dIdirikan oleh David Rockefeller pada bulan juli 1973. Awal tahun 1972 , Rockefeller mengadakan pertemuan yang pertama kalinya dan dilaksanakan di kompleks Pocantico's Rockefeller di New York Hudson Valley. Perrtemuan ini dihadiri oleh sekitar 250 orang yang dipilih secara hati-hati oleh Rockefeller dan mewakili para elite keuangan dan industri. Salah satu yang diudang adalah Alan Greenspan and Paul Volcker. Mereka dipilih sebagai komite untuk terbentuknya Trilateral. Trilateral , pada awalnya keangotaan Trilateral di Asia hanya Jepang. Namun dalam perkembangan berikutnya keanggotaan ini meluas sampai keseluruh dunia. Mereka adalah para elite politik yang dekat dengan kekuasaan, yang terdiri dari para professor Universitas, LSM, Pengamat dan banyak lagi. Tahun 2000, indonesia mulai masuk dalam lingkaran group Trilateral ini bersama dengan singapore, Philipina. Hanya Tiongkok dan Rusia yang belum tersentuh oleh Group ini.

Kritik dari kalangan conservative mengatakan bahwa "Komisi Trilateral merupakan sebuah konspirasi untuk menguasai Pemerintah AS dalam rangka menciptakan sebuah tatanan dunia baru. Mike Thompson, Ketua Florida Konservatif Union, berkata: "Ia meletakkan penekanan pada saling ketergantungan, yang merupakan suatu eufemisme untuk satu-pemerintahan dunia.". Selanjutnya , masyarakat percaya bahwa Komisi Trilateral didedikasikan untuk pembentukan satu pemerintah dunia. Pada tahun 1980, Holly Sklar merilis sebuah buku berjudul Trilateralism: the Trilateral Commission and Elite Planning for World Management ( Komisi trilateral dan elite merencanakan untuk menguasai dunia. Komplik dan crisis tidak bisa dilepaskan dari rekayasa kelompok ini, dengan tujuan melemahkan posisi pemerintah dihadapan publik dan akhirnya berkiblat kepada kelompok ini untuk mendapatkan rescue.

Sen. Barry Goldwater menulis dalam bukunya With No Apologies: "Dalam pandangan saya, Komisi Trilateral merupakan perwujudan dari keterampilan, koordinasi untuk meraih kontrol dan mengkonsolidasikan empat pusat kekuasaan: politik, moneter, intelektual, dan keagamaan. Tak ada satupun lembaga multilateral seperti WTO, IMF, WorldBank, UN yang tak tersentuh oleh pengaruh dari elite Trilateral. Karena yang menjadi niat dari Trilateralists adalah pembentukan suatu kekuatan ekonomi dunia yang superior dihadapan kekuatan politik pemerintahan dinegara yang terlibat, termasuk AS. Amin Novak dalam bukunya issue of Atlantic, "meskipun perhatian utama komisi adalah ekonomi, yang Trilateralists pinpointed adalah tujuan politik : untuk mendapatkan kontrol dari presiden Amerika ... Untuk kesekian kalinya di abad ini, sekelompok orang terdidik, pengusaha, dan pejabat pemerintah berencana untuk membentuk sebuah emporium penguasa dunia.

Dari konteks terpilihnya Obama sebagai president adalah karena semua public AS dan dunia mengetahui bahwa Bush adalah anggota Trilateral dan Mac Cain indentik dengan Bush. Keterpurukan ekonomi di AS dianggap sebagai biang kesalahan dari Bush dan Partai republic yang loyak dengan Tilaterals . Namun setelah terpilih sebagai president, Obama menempatkan para elite Trilateral sebagai anggota team ekonominya. Hal ini sama ketika terpilihnya Jimmy Carter sebagai president yang menunjuk 26 mantan anggota Komisi Trilateral untuk menduduki posisi senior di pemerintahannnya. Jimmy Carter sendiri adalah mantan anggota Trilateral. Dalam pemilu 1980, Carter dan dua lawan utama, John B. Anderson dan George HW Bush, juga anggota, dan ini dijadikan issue dalam kampanye politik oleh Ronald Regent. Pendukung Ronald Reagan menyatakan bahwa Regan bukan anggota Trilateral, tetapi setelah dia dipilih sebagai calon Republik ia memilih Bush sebagai wakilnya dan menunjuk beberapa anggota Trilateral di Kabinet dan posisi penting di gedung Putih.

Bagi para elite Trilateral, siapapun president , tidak penting. Yang penting president tersebut loyal terhadap visi perjuangan mereka untuk membentuk tatanan dunia baru yang menghamba kepada kekuatan dan cara mereka untuk mengatur masa depan yang mereka inginkan. Jadi ,siapa Obama maka lihat siapa dibelakangnya dan apalagi Kepala Staff Gedung putih yang ditunjuknya adalah Rahm Israel Emanuel yang merupakan Pelobi ulung untuk kepentingan Israel. Dikenal sebagai jalur keras pro - Israel. Pesta demokrasi di AS adalah pegelaran pentas termahal dan terbohong didunia. Tapi , dunia dan public AS terjebak dengan politik ala Holliwood , dimana orang berduyun datang ke bioskop karena pemeran utama filem dan tidak peduli bila cerita filem itu hanya sebuah ilusi tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan. Tokoh diciptakan lewat publikasi untuk orang percaya dan memilih…

Saturday, November 8, 2008

Elite AS

Dua minggu lalu saya berkunjung ke Eropa Timur. Pada kesempatan itu sahabat saya- wanita keturunan libanon- mengatur pertemuan untuk makan malam bersama Ketua Parlemen yang membidangi Perekonomian. Dalam percakapan selama makan malam itu saya terkesan analisa senator ini yang mengatakan sesuatu dengan diawali satu pertanyaan kepada saya “ Apakah business nomor satu didunia ini ? Saya jawab “ Minyak!” Dia tersenyum mendengar jawaban saya. sambil minum wine, dia berkata “ salah! Yang benar adalah senjata.!. saya terkejut. Belum hilang keterkejutan saya, dia melanjutkan “ Satu buah pesawat tempur sama dengan 2 juta barrel minyak atau sama dengan 7500 kendaraan atau sama dengan 200,000 jas Armany atau 200,000 motor cycle atau sama dengan 40,000 Ton CPO atau sama dengan 400,000 ton beras atau sama dengan APBN Timor Leste…dan lebih daripada itu adalah tidak ada yang bisa tahu berapa harga pokok dari pesawat tempur itu. Orang membeli karena politik untuk tetap berkuasa. “

Jadi andaikan banyak industri dan manufacture di AS yang diambil alih oleh China dan Jepang atau banyak industri yang tutup karena kalah bersaing dengan barang import dari China, Elite AS tidak akan peduli. Bagi mereka yang menganut system kapitalis, aspek sosial industri menampung angkatan kerja masal adalah pemborosan. Industri yang menghasilkan produk masal tidak perlu dipertahankan apabila harganya lebih mahal dari import. Ini berlaku hukum Alam bahwa yang lemah dimakan yang kuat. Laba menjadi tujuan dengan pengorbanan sekecil mungkin.

Pengangguran yang terjadi di AS , rontoknya harga property, collepsnya bank terkemuka tidak ada hubungannya dengan kekuatan strategy politik yang diinginkan oleh elite AS. Krisis diciptakan untuk terjadinya market adjustment walau akibatnya menelan korban masyarakat bawah tak terbilang.Sama dengan ratusan juta petani dan buruh di belahan dunia lain. Mereka tidak pernah diperhitungkan. Krisis global yang diawali dari AS adalah bagian dari kehendak pengusaha dan elite politik melampiaskan sifat rakusnya untuk menguasai dunia dan akhirnya memaksa orang berkeja keras mengorbankan segala resource untuk membayar. Perang dunia pertama maupun kedua, diawali oleh karena adanya krisis ekonomi dan akhirnya menghidupkan indusri senjata AS dari depresi. Setiap krisis ekonomi , akan melahirkan krisis politik dan instabilitas dunia. Dari sinilah industri senjata bermain untuk meningkatkan produksi mereka dan mendulang hasil dari kekacauan.

Selama ini para industriawan senjata yang menguasai sendi politik disemua elite partai merampas uang pajak rakyat AS untuk membiayai perang di Irak, Afganistan dan belahan dunia lainnya. Di luar lingkaran industriawan senjata , ada juga kelompok yang mendapatkan manfaat dari kebijakan politik luar negeri AS. Mereka itu terdiri dari para kontraktor, supplier dan consultant. Ketika AS berhasil menganeksasi negara yang dijadikan targetnya maka para pengusaha AS dari group lain akan mendapatkan manfaat. Para consultant yang dekat dengan elite politik partai menjadi broker bagi perusahaan transnational untuk menguasai sumber daya alam negara tersebut. Konspirasi elite politik dan pengusaha terjalin dengan erat untuk merampas didalam negeri maupun diluar negeri.

Ketika Credit crisis yang melanda AS, kita tidak menemukan daftar perusahaan yang tergabung dalam group konspirasi itu hancur atau dilikuidasi seperti
AAI CorporationBAE Systems Inc.,Boeing,Carlyle Group,Colt's Manufacturing Company,General Atomics,General Electric GEAE),GeneralDynamics,HoneywellLockheed-Martin,Northrop Grumman Corporation, Raytheon Corporation, United Technologies ,Pratt and Whitney, Sikorsky Aircraft Corporation). Berdasarkan data research pada tahun 2006 , total belanja dunia akan persenjataan mencapai USD 1,158 Triliun. Ini tidak termasuk belanja untuk training, spar part dan lain lain, yang jumlahnya bisa dua kalipat. 50% lebih pangsa pasar itu dikuasai oleh industriawan asal AS.

Industri senjata memang mengasyikan, karena tidak membutuhkan tenaga kerja berlebih, dan tidak perlu transfarance. Soal promosi , tugas negara dan politisi untuk menciptakan market requirement. Begitupula business turunan dari senjata yang dekat dengan politik berkaitan dengan konsesi business dinegara negara yang butuh senjata. Jumlahnya tak terbilang. Bahkan hampir sebagian besar potensi negara tersebut praktis dikuasai oleh mereka. Dari semua inilah elite AS menikmati kemakmuran dan menguasai dunia.

Ketika akan usai makan malam , saya sempat bertanya satu hal kepada senator ini “ Where is their money ? dia jawab dengan singkat..” You know very well, where ? Dia tersenyum. Sahabat saya Tanya wanita cantik keturunan Libanon , wajahnya memerah tersenyum kearah saya.. Ketika dalam perjalanan pulang ,saya sempat termenung dan Tanya berkata kepada saya “ Obama akan terpilih sebagai orang kulit hitam pertama tinggal di White House, namun dia tampil untuk sebuah euphoria dan harapan. Sebuah pengalihan jenius untuk memaafkan keculasan dari konspirasi elite penguasa untuk terus berkuasa dalam bentuk dan cara lain..

Wednesday, November 5, 2008

Cara China

Dunia international khususnya pihak Barat ( inggeris ) dan AS menuding China tidak serius mengatasi akibat krisis global saat ini. Padahal negara ini termasuk raksasa ekonomi dunia bersama dengan India. Setidaknya dengan melepas sebagian cadangan devisanya untuk pasar uang global tentu akan berdampak positip bagi likuiditas pasar uang global. Sebetulnya China bukannya tidak bereaksi cepat tapi lebih wait and see. Karena China harus memperhatikan kebijakan AS dan Eropa dalam mengatasi dampak crisis ini. Bagaimanapun krisis ini terjadi akibat ulah kesalahan pengelolaan pasar uang dan modal dari pihak Barat dan AS yang sehingga membiarkan pasar bergerak tanpa terkendali.

Disadari bahwa mesin pertumbuhan ekonomi china selama ini didukung oleh dua sector yaitu property dan Export. Dua sector ini terkena dampak langsung. Pasar export akan menyusut akibat melemahnya daya serap pasar utama seperti AS. Property juga akan mengalami penururan permintaan akibat likuiditas perbankan untuk kredit perumahan berkurang. Sambil menunggu kebijakan konkrit dari pihak AS dan Eropa dalam mengatasi akibat krisis global ini, China telah melakukan tindakan cepat untuk mengamankan perekonomian nasionalnya. Yaitu dengan melakukan langkah kebijakan berskala nasional diantaranya adalah :

Memperkuat UKM
Usaha Kecil dan Menengah , diperkuat melalui dukungan kemudahan pendanaan dan kepemilikan.. Khususnya sector pertanian, pemerintah china telah melakukan land reform dengan mengeluarkan kebijakan dimana petani boleh memiliki lahan sendiri. Ini kebijakan yang sangat fenomental dibawah rezim komuniss. Dimana sebelumnya hak kepemilikan akan lahan dikuasai oleh negara. Dengan land reform ini maka petani dapat memanfaatkan hartanya untuk berkembang. Disamping sebelumnya pajak hasil pertanian sudah dihapus. Guna mendukung kekuatan petani meningkatkan akses permodalannya maka Beijing pun telah melakukan restructurisasi
Agriculture bank of china, sebesar USD 19 Billion yang diperkirakan menelan biaya sebesar USD 100 billion. Dimana NPL sector pertanian di ambil alih pemerintah. Diharapkan bank ini akan lebih modern dan flexibale untuk mendukung pertumbuhan sector pertanian.

Mempertahankan pertumbuhan.
Guna mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang terhadang krisis global, maka china mensupplai dana lewat APBN nya untuk membangun infrastruktur agar memungkinkan angkatan kerja terserap dan industri dalam negeri tertolong. Khususnya industri tekhnologi tinggi dan baja. Untuk itu Beijing menyetujui dilaksanakannya Project berskala raksa pembangunan rail way sebesar USD 292 billion atau Rp. 2920 triliun! Disamping itu, pihak Beijingpun mendorong setiap provinsi untuk memacu pembangunan infsrastruktur. Untuk mengamankan daya beli bagi masyarakat kecil ( yang belum punya rumah ) maka kebijakan yang diambil oleh Beijing adalah menurunkan pajak pembelian property sebesar hampir 30% atau turun 1% dari 3-4 %. Menurunkan bunga bank. Menurunkan ketentuan mengenai uang muka pembelian rumah dari 30% menjadi 20%.

Dari dua langkah besar tersebut diatas maka diharapkan laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri sebesar 9% tetap terjaga dan inflasi dapat ditekan. Industri dalam negeri tidak akan mengalami penurunan produksi yang significant karena daya beli pasar domestic semakin tinggi akibat suplai dana negara lewat pembangunan infrastructure ekonomi dan kebijakan kredit kepemilikan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.. Yang pasti pasar domestic tetap tumbuh untuk menggantikan pasar eksport yang menyusut.

Apa yang dapat kita pelajari dari cara china menghadapi krisis global ? Bahwa ketika terjadi krisis maka diantara berbagai pilihan kebijakan, yang dipilih adalah komunitas terbanyak untuk dibela lebih dulu. Karena komunitas ini hampir tidak mungkin mampu bertahan tanpa bantuan penuh dari negara. Itulah sebabnya china, yang petama kali diamankan adalah masyarakat kecil utamanya adalah petani dan buruh yang berpenghasilan rendah. Kedua, adalah mengamankan industri hulu ( baja ) dan industri tekhnologi tinggi. Maklum saja bahwa kedua industi ini sangat pital atau strategis bagi kekuatan industri nasional. Dan tanggung jawab negara lah untuk mengamankannya, sementara yang lainnya dibiarkan dewasa menghadapi krisis global.

Sementara kita , Krisis sudah disadari sebagai sesuatu yang serius sebagai mana is not as usual. Kita mengetahui persoalan dan tahu bagaimana mengatasinya. Tapi semua itu baru sebatas jargon politik dan teori, belum sampai kepada implemtasi. Yang cepat dilakukan oleh pemerintah adalah mengatasi index pasar modal yang jatuh dan mengamankan rupiah yang melemah. Caranya adalah melepas dana cadangan pembangunan Infrastrukture untuk mem buy back saham BUMN dan menaikkan suku bunga. Sangat jauh dari jargon politik dan teori dalam rangka recovery akibat krisis, untuk melindungi mayoritas penduduk

Sunday, November 2, 2008

Voting

Voting asal kata dari bahasa inggeris ( Vote) yang artinya adalah memilih. Kata ini biasa saja dipakai dalam keseharian. Sama dengan kata kata lainnya. Namun menjadi lain bila menjadi kosa kata dalam politik. Voting sudah menjadi aturan baku dari satu paham demokrasi. Dari sebuah Voting kekuasaan berbicara. Suara terbanyak adalah pemenang. Tidak jauh beda dengan lembaga perseroaan yang diisi oleh pedagang. Pemegang saham mayoritas yang berhak mengatur. Antara dunia politik dan dunia dagang memang tak jauh bedanya bila soal kepentingan..Apapun sarat dengan muatan kepentingan barang dagangan untuk mencapai laba. Bahkan hampir semua lembaga multilateral maupun PBB menggunakan aturan voting untuk melegitimasi keputusan.

Karena sifatnya "yang banyak yang berkuasa " maka jangan tanya soal hakikat dari kebenaran, kebaikan dan keadilan. Voting mengabaikan akan hal itu. Walau yang minoritas menyampaikan usulan yang tentang kebenaran namun tak akan bernilai bila mayoritas mengatakan tidak benar. Orang baik ditengah mayoritas orang gila , akan dicap lebih gila daripada orang gila. Setiap hasil voting pasti ada yang kalah dan yang menang. Ada yang kecewa dan ada yang ketawa. Kehidupan kelembagaan terhormat memang di design layaknya medan pertempuran. Yang kuat memakan yang lemah. Tak ada nuasa hikmat dari pelaku untuk menghasilkan kebijaksanaan.

Para pendiri negara ini ketika menyusun konsep dasar negara. Sadar betul bahwa kesatuan bangsa ini harus tegak diatas kekuatan moral yang universal. Bhineka Tunggal Ika bukanlah istilah mudah untuk dipahami apabila tidak didasarkan oleh keyakinan bersama tentang asas moral yang universal.. Bagaimana perberdaan ( plurarisme) dapat diakui untuk menjalin persatuan ( tunggal) ? caranya , pendiri negara menempatkan ruh kekuasaan kedalam sila ke empat “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam permusyawaratan/Perwakilan”. Bahwa negara ini adalah negara kerakyatan. Bukan negara kekuasaan. Bukan pula negara partai. Ini Negara kerakyatan !. Para wakil disebut pemimpin. Mereka ini adalah orang orang yang terpilih akan hikmatnya untuk lahirnya kebijaksanaan berdasarkan musyawarah.

Kita bertanya mengapa ada kalimat “ Hikmat Kebijaksanaan “. Dua suku kata tanpa ada “dan” sebagai penghubung.? Yang tersirat dibalik “hikmat kebijaksanaan” itu adalah sesuatu yang sacral. Antara hikmat dan kebijaksanaan tak berjarak satu sama lin. Kait mengkait. Menyatu. . Mengapa ? Baiknya kita lihat arti kata dari Hikmat itu sendiri.

Hikmat atau hikmah dalam islam berarti banyak hal penafsirannya. Seperti dalam Alquran dikatakan: ud’u ila sabili rabbika bil hikmati wal mau-idhatil hasanah, wajadilhum billati hiya ahsan. Ajaklah orang-orang ke jalan Tuhanmu dengan hikmah. Para ulama memberi tafsiran yang berbeda-beda tentang apa itu hikmah. Pada tingkat yang sederhana, hikmah adalah ilmu pengetahuan. Tapi pada tingkat selanjutnya, ilmu pengetahuan tidak hanya pada aspek yang rasional, pengetahuan-pengetahuan akal, tapi juga pengetahuan batin. Jadi agama harus memadukan antara dua hal itu; pengetahuan rasional yang mumpuni dan pengetahuan spiritual yang tinggi. Singkatnya makna hikmat itu kepintaran mencapai hasil, menyusun rencana yang benar untuk memperoleh hasil yang dikehendaki. Tempat kedudukannya ialah hati ( nurani/basirah), pusat keputusan moral dan intelektual.

Dari pemahaman itu maka tahulah kita bahwa hikmat itu adalah pola berpikir dan bersikap yang benar sesuai dengan tuntunan agama dan budaya yang diyakini. Ini mengandung makna terdalam tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan. Akibatnya tentu akan menghasilkan output tak jauh dari “bijaksana”. Bila dilakukan secara kolektive lewat musyawarah maka dia akan bernama kebijaksanaan. Makanya dalam istilah demokrasi pancasila tidak mengenal budaya atau aturan voting. Karena semua yang duduk sebagai pemimpin adalah orang orang yang hikmat ( pasti amanah ). Bukan pedagang. Kebenaran , kebaikan, keadilan adalah pemenang. Bukan yang mayoritas.

Kini setelah reformasi dan di amandemen nya UUD 45 maka kekuatan Pancasila sebagai pemersatu dari pluralisme menjadi luntur. Hikmat kebijaksanaan digantikan kepentingan mayoritas. Makanya tidak aneh bila Politik Parlemen kita menjadi seperti bursa saham. Birokrat kita seperti broker. Penegak hukum kita seperti arranger. Semuanya harus ada fee dan laba yang harus didapat. Ujung ujungnya ya duit alias UUD. Maka jangan pernah berharap akan lahirkan kebijakan untuk menjawab masalah kebenaran, kebaikan dan keadilan.

Saturday, November 1, 2008

Pajak dan Harga

Rakyat itu adalah mereka yang bayar pajak. Selebihnya adalah sampah. Demikian ungkapan mantan Gubernur DKI dulu ketika sedang gencar gencarnya membangun Jakarta. Bang Ali memeng terkesan pemimpin yang keras dan tak ada basa basi. Dia melontarkan apapun yang menjadi hakikat kekuasaan. Apalagi latar belakangnya sebagai militer." Negara memang menempatkan orang untuk berkuasa dan menentukan harga untuk membayar dan dibayar. Itulah yang terjadi dari masa kemasa. Harga direkayasa untuk dipercaya oleh public. Dari kegiatan perniagaan terjadi proses perputaran uang. Ber gerak dari pemerintah yang mencetak dan melesat ketengah public , dan kemudian kembali kenegara dalam bentuk pajak. Rakyat dan semua organ didalam negara berputar dalam system yang direkayasa untuk mempercayai proses ini. Agar kekuasaan tetap berjalan dan negera tetap exist.

Didalam harga terkandung dua makna yaitu jerih payah dan laba sebagai reward Dari itulah harga dipahami oleh penyedia barang atau jasa untuk menjualnya kepada konsumen. Reward itu bukan hal yang final karena masih harus dikurangi untuk hak negara sebagai penyedia jasa kepada rakyat. Maklum saja negarapun butuh biaya untuk menjalankan proses pemerintahan. Dan pajak dibenarkan untuk dipungut. Namun belakangan pemerintah tidak cukup hanya menerima pajak dari laba tapi juga bergerak lebih jauh lagi yaitu meminta pula dari harga jual. Namanya pajak penjualan. Konsumenpun dibebani pajak. Belum usai sampai disini. Pemerintahpun merasa belum cukup maka nilai tambah dari barangpun harus pula dipajaki. Namanya Pajak Pertambahan Nilai. Inipun belum cukup. Barang yang diproduksi berkatagori mewahpun dipajaki. Gabungan dari semua itulah akhirnya harga tidak lagi mencermin reward tapi lebih daripada pemerasan untuk berjalannya sebuah system yang bernama negara.

Bukan hanya pajak yang bersifat langsung maunpun tidak langsung diterapkan. Creativitas meningkatkan nilai dari harga terus berkembang. Pemeritah Daerah maupun Pusat tidak pernah kehilangan akal untuk terbentuknya harga baru dengan metode pajak bermacam macam. Ada pajak tontonan,. pajak jalan khusus. pajak penerangan jalan, pajak kebersihan pasar. pajak hasil tambang, pajak hasil pertanian. Pajak irigasi. Pajak cukai dan bea. Hebatnya semua itu dibebankan pada akhirnya kepada rakyat. Bila ini belum cukup maka pemerintahpun bebas merampas uang mereka yang tak terjangkau akses pajak melalui inflasi. . Disisi lain, Para saudagar dan produsen barang maupun jasa juga tak berhenti untuk mengeruk uang dari konsumen. Nilai tambah bersifat mayapun dicreate lewat iklan di media massa. Branded image dibangun, corporate image dibentuk, design etalage dipercantik, packaging dibuat menarik,pelayan dibuat senyum dan cantik. Hingga yang terjadi adalah harga benar benar tidak mencerminkan keadilan tentang proses jerih payah tapi juga pemerasan secara tersembunyi dengan menetapkan harga irrational.

Pemeritah tidak melihat irrational harga sebagai pemerasan. Karena selagi pajak ini dan itu tetap mengalir kedalam kas negara maka semuanya syah saja. Namanya mekanisme pasar bebas. Harga bebas bergerak setinggi tingginya dan tentu semakin tinggi pula negara mendapatkan pajak. Namun kemesraan antara pemerintah dan produsen itu menjadi retak ketika harga barang china membanjir pasar AS. Hampir sebagian besar industri besar AS yang biasa memenuhi etalage supermarket rontok dimakan produksi china. Konsumen tak lagi peduli dengan nasionalisme. Yang murah mendapatkan tempat dihati konsumen. The Fed dalam risetnya mengumunkan bahwa lebih USD 1 trilion per tahun dana konsumen AS dihemat akibat membajirnya produksi china yang murah. Sebuah fakta terbuka bahwa selama ini pemerintah dan produsen AS telah berkonpirasi merampok Publik sebesar USD 1 triliun.

Diranah pasar uang dan pasar modalpun , kedok keculasan pengusaha dan penguasa terbongkar sudah. Harga saham yang tinggi dan nilai asset keuangan yang menggelembung ternyata hanyalah pemainan pasar yang tidak ada kaitannya dengan nilai instrinsik asset itu sendiri. Tak terbilang jatuhnya nilai asset yang berputar dipasar uang dam pasar modal. Namun ketika kelompok orang kaya yang rakus menderita akibat jatuhnya nilai asset di bursa maka duniapun panic. Tidak sepanik ketika melihat orang miskin antri minyak atau menerima BLT atau mati kelaparan akibat kemiskinan. . Hari ini kita menyaksikan sebuah tatanan dunia baru yang sakit. Menciptakan komunitas minoritas yang culas dan memeras lewat harga dipasar. Kepanikan menghadapi krisis global sekarang ini bukanlah kepanikan untuk memikirkan orang miskin tapi lebih kepada bagaimana menyelamatkan orang kaya yang takut miskin…Karena lewat orang kaya konsumerisme , saudagar dan produsen lah cash mengalir deras kedalam kantong pemerintah untuk bergeraknya roda kekuasaan dan memanjakan rezim.

Wednesday, October 29, 2008

Borok

Pada tahun 1998 , Indover terlilit masalah kredit macet namun BI memberikan program penyelamatan melalui penempatan dana dalam bentuk Deposito sebesar USD 800 juta. Tahun 1999, kembali Bank ini membukukan kerugian sebesar US$ 272,1 juta. Dan menurut laporan dari BI ditahun 2000, bank ini mencatatkan keuntungan 4,2 juta euro. Tahun 2001, keuntungannya membengkak jadi 18,9 juta euro. Angka itu menyusut menjadi 11,9 juta euro pada 2002. Tapi ditahun 2003, Indover BV, melakukan write off sebesar 385,27 Juta US dollar.. Dengan cara mengalihkan ke Indo Plus BV yang telah efektif per tanggal 23 November 2003. Masalah ini tidak pernah dibuka oleh DPR menjadi pansus atau oleh pihak aparat hukum. Ditambah lagi dalam setiap laporan tahunan BI ,tidak pernah mencantumkan Indover dalam neracanya padahal sebagai anak perusahaan maka indover harus tertuang dalam neraca konsolidasi BI.

Hebatnya berkali kali bank Indover yang berada di Belanda ini terkena masalah selalu ditutupi dan diselamatkan. Sesuai dengan amanat UU dimana divestasi harus dilakukan oleh BI paling lambat tahun 2009 rampung tapi berkali berkali negosiasi untuk pelepasan Indover tidak pernah berhasil dicapai. Bahkan sampai melibatkan Bank Mandiri, BNI sebagai calon pembeli dan akhirnya sebagai lender untuk menyehatkan bank ini. Dan sampai pada akhirnya keluar keputusan dari De Nederlandsche Bank atau bank sentral Belanda untuk membekukan bank ini. Pemerintah Belanda bertanggung jawab untuk menanggung dana deposan retail tapi tidak untuk deposan corporate. Bagaimana dengan nasip deposito BI, BNI dan Bank Mandiri serta lainnya???

Dari sejarahnya Indover memang sarat dengan kolusi kepentingan. Gagalnya perundingan divestasi indover lebih dikarenakan adanya borok besar yang tak bisa ditutupi oleh calon pembeli. Yang dapat dipastikan adalah semua calon pembeli tidak ingin BI menarik depositonya dari bank itu sebelum bank itu sehat terutama akibat dari adanya write off sebesar USD 385,27 juta. Ditambah lagi ada “pejabat “ BI yang menggunakan Indover sebagai vehicle dalam transaksi forfeiting. Fakta sampai di bekukannya Indover oleh authoritas Belanda lebih disebabkan oleh kredit antar bank. Hampir 60% dana indover disalurkan pada kredit ini dan sisanya kepada retail. Dengan terjadinya global crisis maka semua commitment hancur.

Dari kasus Indover ini kita dapat melihat satu fakta lagi bahwa pejabat otoritas dibidang moneter memang tidak qualified. Yang sebelumnya sudah terbongkar skandal suap Dana Pensiunan BI untuk menyelesaikan RUU perbankan dan Kasus skandal anggota dewan komisi IX soal pemilihan calon deputi gubernur bank centeral. Dibidang Bendahara Negara ( Depkeu) tak jauh bedanya. Bayangkan, dulu begitu bangganya cerita tetang ketangguhan ekonomi Indonesia untuk menarik kepercayaan investor institusi membeli global bond kita dipasar uang international. Tapi nyatanya kini terbukti ditengah krisis global, hanya negeri ini yang mempunyai nilai yield tinggi (20%) dan harga terendah ( 50 %). Misalnya saja, Bond Malaysia bertenor sepuluh tahun, dihargai 101 dengan yield sebesar 4,11%. Sementara bond Singapura ditransaksikan 109 dengan yield yang diberikan hanya 2,9%. Filipina, harga bond-nya 92,79 dengan yield 8,9%. Ini membuktikan managemen keuangan negara kita memang amburadul. Itulah penilaian pasar.

Situasi rupiah yang semakin melemah dan kini BI disarankan untuk mengontrol devisa terbatas. Lantas bagaimana dengan UU BI mengenai transfer dana tanpa underlying yang sudah disyahkan oleh DPR ? dan situasi pasar modal yang belum bergairah walau sebagian pasar modal regional sudah bangkit , apakah dibenarkan oleh UU perbendaharaan negara untuk mem buy back saham yang jatuh ? Bila harga minyak tinggi maka APBN difisit tanpa pengurangan subsidi tapi ketika harga minyak jatuh BBM belum tentu akan turun. Negara lain berlomba menurunkan suku bunga untuk mengatasi krisis , BI malah menaikkan suku bunga. Pinjaman multilateral dan bilateral yang sudah diharamkan oleh UU kini kembali dilirik untuk dikejar tapi pintu sudah terlanjur tertutup karena likuiditas mongering dipasar uang global. Banyak lagi kebijakan masala lalu diera reformasi didesign tidak dengan perencanaan matang dan sarat dengan kepentingan situasional dan tidak spectrum jauh kedepan.

Jadi bila selama ini Pejabat otoritas dibidang fiscal dan monter bicara tentang fundamental ekonomi yang stabil maka itu tak lebih hanyalah ilusi. Sekedar berharap agar pasar bereaksi positip seperti sebelumnya hingga pemerintah mendapatkan sumber untuk menjaga cash flow nya. Tapi hukum pasar yang selama ini dijadikan pijakan untuk meningkatkan rating pemerintah dihadapan public maka kini hukum pasar pula yang bekerja menjatuhkan rating pemerintah. Suatu pembelajaran bahwa management illusi itu tidak pernah membumi. Kecurangan demi kecurangan pada akhirnya akan terungkap juga. Yang sangat menyedihkan adalah ketidak becusan pengelolaan moneter dan fiscal negara kita justru terjadi ditengah independesi BI dan Depkeu ( UU Perbendaharaan negara ), dimana hak pengawas berada langsung dibawah DPR. Lantas , apakah aparat Hukum berani menindak kejahatan systematis ini yang melibatkan legislative dan executive ?

Sunday, October 19, 2008

Harta

Dahulu kala harta adalah sebidang tanah dan kumpulan ternak. Dari harta itu orang hidup dan menghidupi dirinya untuk berkembang dari generasi kegenerasi. Namun belakangan karena manusia semakin bertambah dan kebutuhan semakin meningkat maka kompetisi terbentuk. Harta tidak lagi diartikan ujud phisiknya. Tapi harta telah berubah menjadi selembar document sebagai bukti legitimasi dari penguasa. Selembar dokumen itu berkembang menjadi derivative asset bila dilampirkan dengan seperangkat izin ini dan itu. Kemudian digabungkan dengan yang namanya project feasibility maka jadilah sebuah akses meraih uang. Bukan dijual tanpi digadaikan. Uang itu berputar untuk kegiatan ekonomi dan menghasilkan laba untuk kemudian digunakan membeli harta lagi.Ini disebut dengan nilai reproduksi capital atau project derivative value

Bila laba semakin banyak , tentu harta semakin meningkat. Kumpulan dokumen harta ini dan itu , menjadi saham ( stock ) dalam lembaran dokumen bernama “perseroan”. Akses terbuka lebar untuk meningkatkan nilai harta itu. Penguasa semakin memberikan akses kepada harta itu untuk berkembang tak ternilai melalui pasar modal , bila harta itu memperoleh akses legitimasi dari agent pemerintah seperti underwriting, notaris, akuntan , lembaga pemeringkat efek. Dari legitimasi ini maka harta menjadi lembaran kertas yang bertebaran dilantai bursa dan menjadi alat spekulasi. Hartapun semakin tidak jelas nilainya. Kadang naik , kadang jatuh. Tapi tanah dan bangunan tetap tidak pindah dari tempatnya.

Akses harta untuk terus berkembang tidak hanya dilantai bursa. Tapi juga dipasar obligasi, Dokument Saham dijual sebagian dan sebagian lagi digadaikan dalam bentuk REPO maupun obligasi. Disamping itu akses permodalan conventional lewat bank terus digali agar harta terus berlipat lewat penguasaan kegiatan ekonomi dari hulu sampai kehilir. Dari pengertian ini, maka capital seperti yang disampaikan oleh
Hernado de soto dalam bukunya “The Mystery of Capital” mendapatkan pembenaran. Kapital dapat mereproduksi dirinya sendiri. Bahwa harta bukanlah ujudnya tapi apa yang tertulis. Dan lebih dalam lagi adalah harta merupakan gabungan phisiknya dan manfaat nilai tambahnya. Nilai tambah itu hanya mungkin dapat dicapai apabila dalam bentuk dokumen.

Ketidak adilan dibidang ekonomi dinegara berkembang dewasa ini , lebih disebabkan oleh akses “ legitimasi harta “itu. Hingga soal legitimasi ini membuat kegiatan ekonomi terbelah menjadi dua. Yaitu sector formal dan informal. Pemerintah dengan entengnya menggunakan istilah formal dan non formal. Anehnya, ini untuk membedakan rakyat miskin dan rakyat kaya. Atau orang pintar dengan orang bodoh. Perbedaan kelas ! padahal negara ini sudah merdeka. Idealnya semua orang harus sama dihadapan negara dan berhak mendapatkan status “formal “. Kenapa kepada asing kita bisa sebut “formal” sementara kepada rakyat sendiri disebut “informal” ?

Inilah akar masalah kenapa terjadi perbedaan antara negara kaya dan miskin. Di negara kaya, capital dapat mereproduki dirinya karena kemudahan akses birokrasi. Negara miskin, birokrasi menciptakan kelas secara otomatis. Karena budaya korup , maka orang miskin yang tak bisa menyuap akan kehilang akses legitimasi harta. Sementara yang bisa menyuap akan mendapatkan akses tak terbatas dibidang perekonomian. Itulah sebabnya dalam bukunya The Other Path, de Soto menyimpulkan bahwa kaum miskin dalam keadaan ’terkunci’ sehingga tetap berada di luar hukum. Segala jenis aset ekonomi mereka dalam berbagai bentuknya tidak dapat diubah menjadi kapital yang diperlukan untuk kegiatan ekonomi. Sangat menyedihkan sebagai bentuk penjajahan cara baru yang systematis.

Friday, October 10, 2008

Neoliberalisme...

Krisis keuangan di AS , setelah dana talangan disetujui maka selanjutnya kiris merembet kewilayah pasar modal. Rating saham GM terkoreksi tajam akibat menurunnya rating. Wallstreet terjengkang. Kemudian diikuti oleh Pasar modal di negara lain. Belum lagi diperkirakan akan menyusul gelombang berkutnya dengan lebih 100 bank di AS siap untuk masuk program penyehatan karena gagal bayar CDS. Di German , Bank West juga sudah koma dan terpaksa di nasionalisasi oleh pemerintah lewat program penyelamatan. Inggeris juga sudah melempar dana kepasar lebih Euro 50 billion untuk menjaga likuiditas. Selanjutnya, akibat dari dana talangan dan kolepsnya lembaga keuangan di AS, maka hypeinflasi akan mulai membayangi walau Fed dan G8 siap melakukan coordinasi memerangi inflasi lewat penurunan suku bunga namun tidak akan mampu menghadapi situasi yang ada.

Keadaan kedepan dunia dihadapkan oleh krisis keuangan yang panjang sampai terjadi market adjustment dan dalam waktu bersamaan krisis disektor riel sebagai akibat kelebihan suplai barang menjadi mimpi buruk bagi macan asia seperti India, China, Korea, Jepang, Taiwan. Belum lagi pengaruh akibat menurunnya nilai asset USD cadangan devisa negara negara didunia. Gabungan krisis moneter dan sector riel tak dapat terelakan akibat kebijakan sirkus dimasa lalu. Pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan keseimbangan dan ketergantungan antar negara diudnia pada akhirnya mendulang masalah dengan terdulasinya reputasi negara sebagai pengawal stabilitdas.

Keadaan semakin parah dimana setiap ada krisis selalu ada saja pihak yang ingin memancing di air keruh. Sepertinya bukan rahasia umum lagi bila ada rencana untuk program penyelamatan atau talangan maka perusahaan yang setengah sehat akan langsung menyatakan tidak sehat agar mendapatkan bantuan. Belum lagi bisnis turunannya yang juga ikutan bankrupt untuk menghindar dari kewajiban dengan pihak lain alias force majeur. Diluar itu, ada juga bermunculan petualang baru yang menggunakan sentiment negative keadaan untuk menarik untung lewat system yang dibenarkan oleh otoritas namun sebetulnya culas alias perampok terselubung. Seperti misalnya transaksi short selling ,Repo, Marking the close, Painting the tape, create price melalui akusisi, merger, dll. Wash Sales, Insider Trading

Imbas dari pelepasan portfollio saham besar besaran yang dipegang oleh investor dibursa akan menjatuhkan harga saham dan semakin mendorong derasnya laju penarikan dana dibank. Mata uang akan melemah dan likuiditas akan semakin mengetat . Sementara pemilik dana berlebih akan memadati rekening off balance sheet system pada Offshore Financial Center sambil menunggu timing yang tepat. Kapan saatnya mereka bergerak tak ada yang tahu namun selagi otoritas masuk dalam wilayah idealisme untuk mengawal pasar maka selama itupula pemodal spekulan besar akan berpaling. Pertarungan antara pihak pemuja liberalisme pasar dan pengendalian pasar, akan semakin mempersulit upaya menciptakan keseimbangan global.

Sebetulnya dalam menghadapi suatu krisis memang diperlukan ketenangan.Dalam tenang tanpa emosi orang akan dapat melihat akar masalah secara jernih. Apa masalahnya dan bagaimana mengatasinya ? Masalahnya sudah nampak dan hanya butuh kekuatan nurani untuk bersikap dalam tenang. Lepas dari semua tekanan kepentingan lain kecuali konsisten untuk mencapai tujuan ideal. Apakah ideal itu ? Focus kepada kepentingan mayoritas penduduk yang tak mempunyai akses kepada permodalan atau likuiditas perbankan. Caranya adalah Pertama , tidak usah dipikirkan masalah likuiditas mengetat. Tidak perlu ada intervensi menjaga likuiditas perbankan. Selama ini likuiditas banjir , tetap saja tak mengalir ke lingkungan mayoritas penduduk. Kedua, biarkan saham bursa rontok dan tidak perlu ada intervensi pemerintah. Bukankah selama ini para pemain merasa diuntungkan oleh system pasar modal yang ada. Kalau sekarang mereka masuk kubangan ya itu sudah hukumnya. Berani untung yang harus siap tersungkur. Free entry , free fall.!

Bagaimanapun lancarnya likuiditas perbankan dan hebatnya indek pasar modal , tetap tidak ada artinya bagi nelayan dan petani , UKM yang merupakan komunitas terbesar dingeri ini. Mengapa pemerintah harus berpusing dan beresah hati untuk membela segelintir orang. Soal rupiah anjlok, tidak usah dipikirkan. Karena toh rupiah kuatpun, petani dan nelayan serta kumpulan wajah muram digubuk reot tak mendapatkan maafaat apapun. Jadi apa yang tidak boleh diarkan ? Ya , saatnya berpaling kepada kekuatan mayoritas. Focus untuk membela kaum yang selama ini terabaikan karena berbagai regulasi yang propasar bebas ( neoliberal). Jangan ada lagi pembelaan dalam bentuk apapun kepada pemodal yang selalu ingin berlindung dari kerugian dan sombong ketika beruntung.

Saya teringat ketika satu hari terjadi dialogh dengan salah seorang professor di China, tentang “apakah Neoliberalisme itu?”. Sang professor tidak merespons cepat apa yang saya tanya. Tapi saya melihat ekspresi wajahnya yang murung. Matanya memerah menahan geram. Tapi akhirnya dibalik geramnya itu dia berkata “Neoliberalisme adalah teori yang paling brengsek dari ekonom tolol, kebodohan penguasa yang buta masalah sosial, , bencana besar manajemen politik melebihi bencana alam dan menciptakan perbudakan secara systematis dimana uang sebagai tuan diatas segala galanya."

Penyelesaian masalah krisis dinegeri kita harus melalui pendekatan moral budaya dan agama. Seperti ungkapan Robert Bala Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid "Agama selain bagai elang (águila) yang terbang dengan idealisme spiritual yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan pribadi, tetapi juga membumi bagai induk ayam (gallina) yang terlibat secara etis pragmatis dalam keseharian." Kalau proses ini dijalani, impian akan surga sudah akan terwujud kini dan di sini.

Tuesday, October 7, 2008

Yang tersirat...

Dalam rapat Kabinet yang dipimpin oleh President, keputusan diambil sebagai langkah strategis dan taktis untuk menyikapi krisis yang terjadi di AS. Ada sepuluh langkah yang diambil namun yang sangat menarik adalah sebagian besar langkah tersebut ditujukan untuk mengamankan likuiditas APBN. Maklum saja , APBN terancam oleh dipisit yang besar dan selama ini diamankan oleh utang luar negeri lewat penerbitan Global Bond. Disamping itu yang lebih tegas lagi adalah mengamankan posisi devisa. Karena dorongan belanja luar negeri yang didominasi bayar bunga dan hutang yang selama ini didapat dari hutang baru , akan menguras devisa. Belum lagi terjadinya redemption cadangan devisa akibat tingginya deficit anggaran AS.

Yang agak terkesan sangat ideal adalah optimalisasi APBN. Darimana sumber dana yang bisa digunakan untuk pembangunan insfrastruktur, ketersediaan listrik dan alokasi penanganan kemiskinan bila 70% APBN habis untuk belanja rutin. Darimana ? Ditambah lagi keterbatas resource APBN menutupi difisit. Seharusnya langkah ini diikuti oleh penjadwalan hutang luar negeri dan rasionalisasi penguasaan natural resource MIGAS. Agar alokasi anggaran tersebut dapat disalurkan lebih optimal untuk pendukung program sosial APBN dibidang pendidikan, kesehatan, perumahan, subsidi, insentif sektor pertanian dan perikanan. Tapi, OK lah, setidaknya ada kemauan dan mengetahui tujuannya walau tak jelas berbuat.

Apa yang bisa diperbuat oleh dunia usaha dalam negeri untuk diversifikasi pasar eksport akibat lesunya pasar AS ? Semua tahu sebelum krisis AS, pasar didominasi oleh Jepang, Korea, China , India, dan Taiwan. Bahkan mereka sudah mempunyai basis pasar yang kuat. Sebagian dari pemain dari negara tersebut bahkan sudah mempunyai kantor perwakilan untuk memasarkan produknya. Apakah kita terlatih untuk kerja efisien hingga mampu bersaing dengan negara negara yang sudah terlatih menghadapi persaingan dan mempunyai insfrastruktur pemasaran yang kuat. Harusnya yang dilakukan sekarang adalah lebih kepada panetrasi pasar dalam negeri.Saatnya pemerintah melakukan terobosan regulasi untuk melindungi dunia usaha dalam negeri. Lupakan soal WTO dan lain sebagainya. Amankan pasar dalam negeri melalui tarif import atas barang yang sudah diproduksi didalam negeri dan memberikan insentif tinggi kepada Industri yang menggunakan local content tinggi (Pertanian,perikanan, kehutangan , pertambangan). Seharusnya, langkah ini dilakukan sejak awal reformasi. Kini , walau terlambat timbulnya kesadaran namun setidaknya ada kemauan ,political will.

Langkah berikutnya yang diambil adalah BI dan lembaga perbankan diminta untuk membangun system agar kredit dapat mendorong sector riel. Hal ini akan sulit. Pada waktu likuiditas berlebih, sector riel tetap menjadi second class untuk diperhatikan, Karena otoritas moneter lebih focus kepada keamanan moneter dan fiscal. Dengan likuiditas ketat sekarang , apa yang bisa diperbuat oleh perbankan. Selagi pembatasan LLL, CAR masih menjadi acuan tingkat kesehatan bank maka selama itu pula sector riel tidak akan mendapatkan access pendanaan yang flexible. Cara lain yang mungkin adalah mempercepat revitalisasi venture capital dan pemberdayaan LKBB sebagai alternative sumber pendanaan. Saatnya UU Penanaman Modal di revisi agar insentif tersebut hanya dinikmati oleh pemain lokal. Jangan pernah percaya lagi sama asing. Sudah cukup kita selama ini hanya dibodohi. Tapi bagaimanapun, kesadaran akan pentingnya sector riel adalah langkah awal yang baik untuk lebif focus membangun fundamental ekonomi nasional.

Yang sangat menarik dan membuat kita terharu adalah pernyatan President kepada semua pejabat untuk sadar bahwa masalah yang dihadapi tidak sederhana ( Remeh). Maklum saja sudah menjadi tabiat pejabat yang suka meremehkan persoalan. Begitu banyak masalah negara ini seperti kasus Lapindo ,banjirnya produk import dan jaringan waralaba asing dan lain sebagainya , yang kesemuannya mengancam kedaulantan rakyat mendapatkan akses keadilan ekonomi , namun dihadapi dengan remeh, Hal ini dipetegas lagi oleh imbauan president agar semua pihak tidak berpikir partisan dan mengutamakan kebersamaan untuk kepentingan nasional.

Apa yang tersurat dalam
10 langkah yang diambil president untuk mengantisispasi krisis yang terjadi di AS, sebetulnya kita lebih melihat apa yang tersirat. Inilah yang penting untuk diperhatikan. Sepuluh langkah tersebut menuntut adanya satu revolusi kebudayaan dari semua element masyarakat. Dulu insentif dan subsidi dilarang keras karena anti pasar bebas tapi kini mulai digunakan karena bapak kapitalis tak berdaya lagi untuk mengawasi pasar. Kini kita sadar , bahwa bangsa ini terlalu besar untuk terus bergantung dari kekuatan asing untuk mencapai kemakmuran. Sudah saatnya sikap budaya kebersamaan dan gotong royong dihidupkan kembali. Krisis di AS pelajaran berharga dan semoga menjadi titik balik bagi kebangkitan Indonesia yang harus percaya kepada kekuatan local untuk menjadi bangsa yang terhormat. Kita merindukan pejabat kita atau pemimpin kita berkata " Its time to say : goodbye neoliberalism " but we neve hear about it.

Thursday, October 2, 2008

Akses Petani

Dunia internet ada berkat berkah akal yang diberikan Allah kepada manusia. Karena internet maka tidak ada lagi yang namanya rahasia. Semua informasi terbang melayang didunia maya untuk diakses oleh siapapun. Dunia menjadi kecil. Ruang dan waktu tidak menghalangi orang untuk berinteraksi satu sama lain. Menguasai informasi maka menguasai dunia. Dunia apa saja ! Itulah sebabnya masyarakat yang melek informasi adalah masyarakat yang tak bisa dibodohi. Mereka tak bisa dijejali dengan janji palsu para politisi petualang. Mereka cerdas menyikapi setiap perkembangan dunia.

Apa jadinya bila petani yang merupakan kelompok mayoritas menguasai akses informasi ? Mari kita lihat yang terjadi di AS sebagai pusat kapitalisme dan pasar bebas. Di negeri ini , seperti di Californi dan di
North Dakota.. Di sini semua petani bergabung dalam Koperasi. Bersama pemerintah local dan Universitas mereka mendapatkan dukungan tekhnologi dan system pemasaran yang berkeadilan. Setiap hari petani dapat datang kekantor Koperasi untuk melihat perkembangan harga ( Up date ) dari setiap produk. Informasi disampaikan secara online melalui internet. Dengan demikian petanipun dapat meng access nya melalui PC dirumah. Bank Enxim AS bertindak sebagai lending resource untuk menjamin likuiditas petani melalui system stokis. Hingga tidak pernah ada kekuatan tengkulak berdasi atau bersendal jepit mampu mengakali harga petani.

Di
China juga sama. Para petani mendapatkan access internet gratis. Melalui pusat informasi pemerintah local yang berhasil memberikan kemudahan access internet melalui system handset telephone dan ditampilkan dalam bentuk suara. Dengan system ini memungkinkan petani yang tidak punya PC dapat mengakses internet. Apa yang terjadi ? petani china mampu mengorganisr jadwal tanamnya yang sesuai dengan kondisi harga pasar produk pertanian global. Akibatnya mereka terhindar dari kondisi harga pada waktu tanam yang tidak tepat. Juga berbagai informasi tekhnologi terkini yang disampaikan oleh beberapa lembaga research dapat mereka access. Sehingga proses produksi tidak pernah ketinggalan zaman dibanding negara lain. Soal likuidtas petani, juga tak kurang hebatnya pemerintah memberikan dukungan. Agriculture Bank of China bertindak sebagai lending resource bagi petani untuk menjaga likuiditasnya melalui system stokis yang terhubung dengan bursa international.

Di
Thailand, petani disana mendapatkan prioritas segala galanya dari pemerintah. Ketika BBM naik namun khusus petani tetap mendapatkan subsidi BBM. Bahkan sunbsidi negara sampai kepada pengadaaan alat berat dan kendaraan angkut. Semua petani di Thailand rata rata mempunyai mini truk ( LUV ) untuk mengangkut sendiri hasi produknya kepusat pusat Stokis yang dikelola koperasi.. Pemeritah Thailand juga berhasil menyediakan akses internet gratis bagi petani dengan meniru yang ada di China. Hingga petani yang tidak punya PC tetap dapat mengacess internet. Petani Thailand juga mendapatkan dukungan penuh dari Thai Farmers Bank sebagai lending resource. Dengan dukungan pemerintah yang optimal dan kemitraan penuh dengan universitas serta akses internet untuk meng up date harga setiap hari, maka kesejahteraan petani tercipta merata tanpa ada pihak manapun yang bisa memanfaatkan mereka.

Korea, Jepang , Malaysia dan
India sama dengan Thailand soal dukungan kepada petani. Dan akibatnya petani di negara tersebut, semuanya menjadi prime class dan terhormat. Yang lebih penting dari itu semua adalah keadilan dari penguasaan lahan. Di Malaysia , juga di Thailand dan China , AS, pengadaan tanah bagi petani didasarkan kepada kebutuhan standard biaya petani per tahun. Artinya lahan itu harus mampu menutupi biaya produksi, saving dan konsumsi. Fakta ketika berkali kali krisis terjadi melanda dunia yang mengakibatkan tumbangnya konglomerasi financial dan industri , maka yang tetap bertahan hanyalah sektor usaha yang berbasis pertanian.

Bagaimana dengan negeri tercinta kita ? Mari kita lihat faktanya. Akses lahan , permodalan, program revitalisasi, akses harga international dan technology , semuanya hanya dimiliki oleh para saudagar kaya di Kota. Sementara petani hanya bertindak sebagai buruh tani alias penggarap. Mereka menjadi kumpulan buruh termurah di planet bumi ini. Menjadi terjajah oleh bangsanya sendiri. Tidak jauh berbeda dengan Nelayan yang harus menjadi penonton ketika sumber laut mereka di gerus oleh Nelayan asing berbendera local. Dua komunitas yang terpinggirkan dari akses permodalan dan informasi. Mereka adalah korban dari buta tuli nya elite penguasa negeri yang mengagungkan almameter AS ,tapi tidak pernah memahami hakikat negara pengurus dan welfare state.

Kita tidak bisa terus berharap pada elite yang culas ini. Biarkan mereka berhadapan dengan kekuasaan Allah. Rakyat harus tampil menyelesaikan sendiri masalah nya.Untuk itu saatnya kembali kepada syariat berjuang melalui Masjid. Di Indonesia, keberadaan Masjid dan Mushola dapat dijadikan sebagai Kios Internet dan sekaligus pusat informasi yang berkaitan dengan harga, tekhnologi dan lain sebagainya. Ada kurang lebih 700.000 mesjid dan musholla di seluruh Indonesia dan sebagian besar berada di Daerah dan desa.

Sudah seharusnya fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah tapi juga sebagai tempat pusat informasi dan pengembangan social ekonomi masyarakat. Tapi soal hak atas tanah, memang menjadi dasar ketidak adilan bagi seluruh petani. Ini harus diperangi, maka kekuatan LSM Masjid harus terus menyadarkan masyarakat akan haknya dihadapan negara agar lahirnya pemimpin nasional yang mau melakukan reformasi tanah yang berkeadilan

Pendidikan

Departemen Pendidikan Nasional optimistis anggaran pendidikan yang naik secara signifikan pada 2009, tidak akan mengalami kebocoran angggaran. Sebaliknya, anggaran yang nilainya Rp224 triliun atau 20% dari RAPBN 2009, benar-benar akan digunakan untuk pemerataan akses pendidikan, peningkatan mutu pendidikan, dan kesejahteraan guru. Benarkah ? Ini hanyalah jargon politik dari Pemerintah yang pro pasar bebas. Kenaikan pada APBN hanyalah sekedar mengikuti yuridis formal anggaran yang ditetapkan oleh UUD. Kenaikan anggaran tersebut tidak menambah mata anggaran sesuai program kerja tapi mengalihkan ( tadinya terpisah dalam pos anggaran ) gaji PNS guru dan Dosen kemata anggaran pendidikan.

Tidak akan ada perubahan significant terhadap arah pendidikan nasional yang egaliter selagi UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dan UU BHP tidak di revisi. Memang semangat UU tersebut segabai reform system pendidikan yang lama. Karena pada 2003 bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP

Walau falsafah UU itu terkesan ideal namun dalam penjabaran pasalnya tetap saja menegaskan tentang privatisasi pendidikan. Artinya peran negara sekecil mungkin terlibat dalam pendidikan, Lembaga pendidikan menjadi lembaga otonom sebagai bentuk Badan Hukum Pendidikan. Maka yang sangat terasa semakin jauhnya egaliter pendidikan bagi kelompok miskin. Tidak ada lagi perbedaan PTN dan PTS. Semua berbicara tentang otonomi kampus untuk mengelola PT tapi sebetulnya mengurangi tanggung jawab negara dalam penyediaan anggaran pendidikan dan menyerahkan masalah itu kepada public.

Dari perspektif ini maka jelaslah akan sikap pemerintah yang tidak mempunyai visi untuk terbentuknya suatu system pendidikan bagi kepentinngan pembangunan nasional. Padahal tanggung jawab negara sudah jelas diatur dalam Pasal 31 UUD 1945 Ayat 1, "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan", dan Pasal 31 Ayat 2 yang berbunyi "Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya". Artinya pendidikan dasar harus diwajibkan dan tersedia secara cuma-cuma bagi semua orang. Ini berarti, pemerintah memiliki kewajiban penuh memikul seluruh beban biaya pendidikan.

Privatisasi pendidikan awalnya dikampanyekan oleh OECD pada satu konferensi international ditahun 1970. Ketika itu
OECD dalam papernya menggugat konsep egaliter pendidikan yang saat itu lebih dipahami hanya suatu pemberian hak yang sama bagi seluruh warga akan pendidikan. Peran pendidikan sebagai promotor perubahan sosial mulai dikritisi mengingat kenyataan, tidak mungkin mengubah masyarakat hanya lewat pendidikan. OECD mengkaitkan pendidikan dengan sector lain yang membutuhkan SDM bagi pertumbuhan ekonomi. Artinya ,saat itulah OECD berusaha merubah mindset dunia bahwa pendidikan adalah output untuk memenuhi lapangan kerja bagi kegiatan ekonomi.

Kemudian berlanjut dengan ditempatkannya pendidikan dalam kesepakatan WTO dan Indonesia di tahun 1995 meratifikasi semua ketentuan dalam WTO sebagaimana UU No, 7 tahun 1994. Maka jadilah pendidikan sebagai satu komoditi yang berbicara soal untung dan rugi. Ini semua tertuang dengan jelas dalam General Agreement on Trade in Services (GATS). dimana intervensi pemerintah dalam sector jasa pendidikan harus dihilangkan. Apabila system pendidikan sudah menjadi suatu lembaga Laba maka semua pengeluaran pendiddikan dilihat dari cost atau disebut dengan beban dari modal yang dikeluarkan. Karena itu sesuai dengan prinsip ekonomi, semua biaya harus dipangkas atau sedapat mungkin ditekan dan sekaligus meningkatkan penjualan (jasa) agar laba (modal )meningkat.

Inilah harga dari tunduknya negara pada kekuatan The Unholy Trinity (IMF,
Bank Dunia, dan WTO), di bawah tekanan ekspansi globalisasi. Semua itu terjadi terutama melalui proses marjinalisasi kekuasaan dan otoritas negara-negara. Maka tidak ada lagi hakikat pendidikan sebagai pemberdayaan manusia ke taraf insani melalui proses pendidikan meliputi transfer ilmu dan pengetahuan (transfer of science and knowledge), pembinaan moral dan pengembangan potensi pribadi (peserta didik), untuk tercapainya kemandirian (menempati harkat sebagai manusia yang sesungguhnya). Akankah pemerintah menyadari bahwa visi pendidikan adalah pembangunan karakter (character building) untuk unggul dalam persaingan global, bukannya mengikuti OECD dan WTO yang hanya melihat visi pendidikan sebagai intelektualitas dan komoditas saja. Kalau sudah begitu , anak nelayan ,etani, buruh miskin tidak bisa berharap banyak untuk mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik karena mereka bukan “ komsumen “ dalam pengertian itu.

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...