Thursday, September 25, 2008

Islam dan Koperasi

Hatta adalah bapak koperasi. Seorang penggas lahirnya alat perjuangan rakyat untuk kemerdekaan dibidang ekonomi. Tujuannya adalah kemakmuran untuk kebersamaan. Latar belakang Hatta yang sangat kental agamais nya namun nasionalis sejati maka Koperasi sebagai konsep adalah jalan tengah untuk mendekatkan kepada syariat Islam yang sesungguhnya. Karena Islam tidak bisa menerima konsep kapitalisme namun juga menolak sosialisme. Inilah dasar mengapa semua pendiri negara ketika itu berbulat hati untuk menjadi koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Koperasi dari segi bidang usahanya ada yang hanya menjalankan satu bidang usaha saja, misalnya bidang konsumsi, bidang kiedit atau bidang produksi. Ini disebut koperasi berusaha tunggal (single purpose). Ada pula koperasi yang meluaskan usahanya dalam berbagai bidang, disebut koperasi serba usaha (multipurpose), misalnya pembelian dan penjualan.

Hakikat koperasi adalah gotong royong dan kebersamaan untuk mencapai kemakmuran bersama. Artinya konsep koperasi adalah kerjasama untuk keselarasan. Dimana terlihat dari segi permodalan bahwa modal awal koperasi didapat dari para anggota. Disini azasnya adalah one man one vote. Tidak ada istilah besarnya modal yang dimiliki anggota akan menganeksasi anggota lainnya yang lebih rendah. Juga, Permodalan itu bukanlah satu satunya ukuran dalam pembagian sisa hasil usaha. Modal dalam koperasi diberi bunga (mudharabah) terbatas sesuai kesepakatan anggota dan pembagian sisa hasil usaha dibagikan sesuai prestasi dari masing masing anggota. Tentu ini dimaksudkan agar merangsang orang untuk berkompetisi dalam konteks kerjasama , persaudaraan. Jadi jelaslah bahwa koperasi adalah perkumpulan orang dan bukan modal .

Lantas bagaimana Koperasi dalam perspektif islam ? Sebagaimana diketahui koperasi (
cooperation ) adalah pemikiran yang berasal dari barat. Namun hakikat koperasi inlane dengan ajaran islam bahwa mengizinkan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan kepentingan masyarakat untuk memperoleh kemakmuran bersama melalui prinsip ishtishlah atau al-maslahah. Ini berarti bahwa ekonomi Islam harus memberi prioritas pada kesejahteraan dan kepentingan rakyat banyak .Walau sebetulnya koperasi dalam Al-Quran dan hadis tidak disebut, dan tidak pula dilakukan orang pada zaman Nabi. Namun karena koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat dalam kebersamaan dan alat demokrasi ekonom nasional maka prinsip ishtishlah dipenuhi dalam koperasi.

Demikian juga halnya, jika dilihat dari prinsip istihsan (metode preferensi) baik secara makro maupun mikro. Pada tingkat makro berarti mempertimbangkan koperasi sebagai sistem ekonomi yang lebih dekat dengan Islam dibanding kapitalisme dan sosialisme. Pada tingkat mikro berarti dengan melihat terpenuhi prinsip hubungan sosial secara saling menyukai yang dicerninkan pada prinsip keanggotaan terbuka dan sukarela, prinsip mementingkan pelayanan anggota dan prinsip solidaritas.

Dengan pendekatan kaidah ishtishlah dan istihsan di atas, ada kecenderungan dibolehkannya kegiatan koperasi. Juga telah disebutkan banyak segi-segi falsafah, etis dan manajerial yang menunjukkan keselarasan, kesesuaiandan kebaikan koperasi dalam pandangan Islam. Secara keseluruhan hal ini telah memberi jalan ke arah istimbath hukum terhadap koperasi. Hasil istimbath ini tidak sampai kepada wajib, juga tidak sampai kepada haram. Hanya saja sebagai catatan bahwa untuk koperasi sinpan pinjam seharusnya menggantinya dengan mudharabah atau mengharamkan bunga ( riba ) dan bagaimanapun esensinya haruslah didasarkan pada keadilan tanpa menzalimi.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa system koperasi di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam justru menjadi second class dibanding system Perseroan yang kapitalis ? jawabannya tentu beragam. Namun yang pasti system koperasi sengaja dikerdilkan oleh penguasa karena dikawatirkan gerakan koperasi akan membuat rakyat sebagai komunitas gotong royong menjadi kuat dan sehingga mempunyai bargain position dihadapan pemerintah yang korup dan menghamba kepada system capitalism. Terbukti di amendemennya UUD 45 pasal 33 dan hilangnya kata ”sakral” koperasi sebagai bentuk operasional ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi. Nasip koperasi adalah nasip rakyat Indonesia yang selalu dijauhi oleh penguasa agar tetap bodoh dan terbelakang untuk terus dijajah. Zaman Soeharto dan reformasi sama saja

Kalau rakyat ingin bangkit maka saatnya menjadikan gerakan koperasi sebagai cara membangun komunitas ring to ring sehngga menjadi ring yang tak bisa ditembus oleh kekuatan dari luar yang hendak menganeksasi resource nasional. Namun bagaimanapun hakikat islam yang mengutamakan akhlak mulia haruslah menjadi landasan dalam berkoperasi sebagai mana firman Allah “ Dan sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh; dan amat sedikitlah mereka itu (Q. S. 38: 24)
Wallahu alam.

Tuesday, September 23, 2008

Kapitalis VS Koperasi

Kalau dulu penganut pasar bebas begitu percaya dan bangganya dengan system liberalisasi pasar uang. Mereka menentukan arah pergerakan likuiditas. Mereka menari diatas berbagai produk investasi dan melakukan aksi acrobat. Tidak ada kekuatan atoritas mampu menghadang kegiatan ini.Bahkan system ini dianggap cara canggih mendorong arus modal bergerak untuk meningkatkan resource permodalan bagi sector riel dan sekaligus menggairahkan pasar modal untuk meningkatkan nilai ekuitas emiten. Tapi kini ,setelah kejatuhan Wallstreet dengan tumbangnya Lehman Brother dan limbungnya Merrill Lynch, Morgan Stanley, dan Goldman Sachs, kembali semua disadarkan bahwa system kapitalisme memakan AS sendiri. Satu pilihan yang dibanggakan dan menyakitkan tentunya.

Otoritas Moneter AS melakukan upaya restore market dengan memberikan confidence kepada public terhadap pasar uang AS melalui bailout dan mendorong proses merger terjadi. Sebatas ini adalah benar walau bertentangan dengan semangat sytem kapitalis (free entry free fall) yang menginginkan semakin kecilnya peran negara. Bagaimanapun peristiwa ini akan tetap menjadikan system kapitalisme sebagai bentuk yang sudah final dan harus diselamatkan dengan cara membatasi kepentingan pribadi pemilik modal dan memberikan hak lebih besar kepada otoritas moneter untuk mengontrol sytem kapitalisme , khususnya pasar. Jadi tidak ada lagi istilah free entry free fall. Era free market , free capital usai sudah.

Itulah sebabnya setelah upaya pemerintah melakukan restore market maka diikuti pula tindakan larangan oleh Badan Pengawas Pasar Modal AS SEC ) untuk transaksi naked short selling terhadap 799 saham perusahaan finansial. Kebijakan ini juga diikuti oleh otoritas pasar modal Inggris, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya yang melarang aktivitas short selling atas seluruh saham yang tercatat di bursa mereka. Akibatnya para Manager Hedge fund kehilangan akses untuk memanfaatkan sentiment negative dari situasi pasar yang bearish untuk mendapatkan laba. Ini dikawatirkan mereka akan menjadikan emerging market Asia yang belum dilarang short selling sebagai lahan baru bagi mereka untuk tindakan spekulasi

Apabila koreksi dan pembatasan ini terus dilakukan maka akan menimbulkan keraguan dikalangan investor, khususnya pemilik Hidden Fund. Mereka akan bertindak hati hati sekali untuk melakukan pilihan investasi. Maka yang terjadi berikutnya adalah kelangkaan likuiditas dipasar regulated. Karena para investor akan tiarap sambil menunggu keadaan stabil. Yang jadi pertanyaan adalah apakah mereka para investor yang sudah terbiasa dengan cara culas dan bebas ini dapat diatur dengan kekuataan regulasi ? Padahal mereka adalah penentu likuidnya pasar modal dan financial. Mereka berada dibalik largest transaksi hedge fund. Bila pihak otoritas tetap bertahan dengan caranya untuk membatasi pasar maka akan terjadi koreksi alamiah harga saham dan financial instrument pada titik normal. Maka siap siap saja para investor retail menerima ketugian secara kolektive akibat system dulu yang culas.

Bila benar terjadi koreksi harga pada batas wajar atau fundamental price tentu itulah yang seharusnya ideal bagi suatu system pasar yang beradab. Artinya kenaikan harga tidak lagi ditentukan oleh unsur spekulasi tapi lebih ditentukan oleh prestasi emiten meningkatkan value perusahaannya. Inilah keadilan sejati. Kalau sudah begini maka mekanisme investasi cara perseroan melepas saham atau melepas obligasi dibursa tidak begitu menarik lagi. Akankah ini disadari oleh masyarakat untuk kembali kepada hakikat kegiatan ekonomi yang berlandaskan kepada semangat kebersamaan atau gotong royong.

Cara cara kapitalitas dengan sytem perseroan terbatas ternyata hanyalah menguntungkan kelompok pemodal dan menghilangkan hak control bagi minoritas. Dan selalu minoritas atau investor retail yang akan jadi korban. System yang solid dan berkesinambungan serta berdampak langsung bagi masyarakat luas adalah sytem koperasi. System ini mengatisipasi semua unsur spekulasi dan aneksasi. Karena system ini mengutamakan kebersamaan sektoral bagi anggotanya untuk memakmurkan dirinya tanpa ada unsur suara mayoritas berkuasa. Kalaupun raising fund dilaksanakan tentu bertujuan spread ownership. Karena nilai yield didasarkan pada nilai penyertaan namun hak suara tetaplah one man one vote.

Ternyata tak selamanya yang baik bagi AS juga baik bagi kita. Padahal system perekonomian kita sudah didesign dari awal dalam bentuk koperasi tapi kita lupakan itu karena tercemari oleh ekonom yang lulusan AS. Akankah kita dapat disadarkan untuk kembali mengalihkan strategy pengembangan ekonomi kepada system koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Karena cara kapitalis sudah terbukti , membuat negara penggagas kapitalis menjadi pecundang dihadapan spekulan.

Saturday, September 20, 2008

Krismon AS ?

Kejatuhan pasar uang AS adalah ulah dari system kapitalisme. Dimanapun negara yang loyal dengan kapitalisme akan tumbang seperti itu. Modus operandinya adalah salalu sama. Diawali oleh tingginya liquiditas, terjadinya bubble asset. Kemudian konsumsi meningkat tajam. Spekulasi meningkat. Ibarat karet. Semakin kencang ditarik maka semakin keras pula arus baliknya kalau dilepas. Indonesia mengalaminya ketika krisis 1998. Kini juga diraksakan oleh AS, dan gejala krisi ini sudah dirasakan beberapa tahun lalu. Tapi bagaimana mungkin ini terjadi di AS yang diakui sebagai terminal kekuatan modal dunia. Inikah akhir dari imperium AS ? Kalau bicara tentang akhir dari imperium AS maka dapat dikatakan terlalu premature. Yang pasti memang kini AS limbung karena berhadapan dengan crisis credit. Ini akan memakan waktu cukup lama bagi AS untuk melakukan recovery.

Tapi kalau bicara imperium modal , jawabanya adalah tidak. Sejarah keberadaan system financial AS tidak bisa dilepaskan dari
keberadaan the Fed sendiri. Segelintir orang telah menempatkan AS sebagai landasan bagi tumbuh sumburnya kekuatan modal untuk menguasai semua sendi kehidupan. Menjadikan manusia di planet bumi ini untuk menghamba bagi kekuatan mata uang. Dalam sejarahnya the Fed berperan penting menciptakan krisis keuangan global dan mendulang hasil dari krisis itu sendiri. The fed sendiri mempunya system dua kamar untuk pasar uangnnya. Satu registered dan satu lagi non registered. Atau yang non registered ini disebut dengan 144 A Sec. Yang non registered ini digerakan oleh DTCC di NY dan clearstream di Luxemborg dan Euroclear di London.

The fed system ini mempunyai kapitalisasi sangat raksasa. Lebih besar dari GNP AS maupun GNP British. Seperti halnya dalam kasus subpreme. Kerugian subpreme mencapai lebih USD 14 triliun atau hanya 3% dari total Asset the fe system --yang berjumlah lebih dari USD 300 tiliun. Tapi public tidak pernah tahu bagaimana kerugian itu terbentuk. Karena subpreme liquidtasnya digerakan oleh pasar CDOs. Siapakah pemegang CDOs itu dan siapakah investornya ? yang pasti berdasarkan 144 A SEC pembelinya adalah asing atau bukan investor local di AS. Mereka adalah qualified institutional purchasers ( QIPs). Dalam prakteknya transaksi dalam 144 A atau disebut dengan private placement adalah non disclosure. Public tidak akan pernah tahu. Benarkah ada kerugian sebesar itu ?

Apabila kerugian subpreme sebesar itu , lantas berapakah kerugian preme sendiri ? Mengapa AS hanya mem bailout untuk subpreme saja ? Kalau dipaksakan maka dari manakah dana diperoleh ? Apakah dari pajak ? Kalau pajak maka ini akan memukul perekonomian AS. Padahal sector real AS sedang kedodoran melawan kekuatan ekspansi pasar dari China, India, Korea, Jepang. Jalan keluar yang akan ditempuh adalah dengan memperkuat keberadaan system 144 A untuk semakin memudahkan AS melakukan raising fund lewat penerbitan TBill yang di SWAP dengan global Bond dari holding financial Corporation yang tergabung dalam 144 A. Dan membatas ruang gerak market yang registered. Maka jelaslah , kerugian ini akan di tutupi dari system yang tidak transfanrance atau lebih tepatnya printed money dengan cara yang culas.

Dari krisis ini apa yang sebetulnya terjadi ? Tidak lebih adalah cara cara kekuatan hidden fund yang tergabung dalam the fed system untuk semakin membuat bangsa AS menjadi tak berdaya terhadap elite penguasa mata uang AS. Bangsa AS haruslah tetap menghamba untuk patuh terhadap kehendak strategis dari kekuatan
hidden fund raksasa ini. Sikap pemerintah AS untuk me reform system pasar uang adalah sinyal jelas untuk semakin memperbesar access 144 A mengontrol ekonomi AS. AS tidak lagi sebagai satu satunya terminal dari kekuatan hidden fund ini. Kekuatan akan terdistribusi kenegara lain, seperti halnya China dan Dubai serta Hong Kong. Dari krisis ini kita disadarkan bahwa setiap krisis terjadi karena memang di create untuk tujuan strategis dari kekuatan modal. Makanya, kita tidak bisa berharap banyak untuk terciptanya keadilan system moneter global bagi kesejahteraan dan perdamian yang universal.

Tuesday, September 9, 2008

Subpreme case

Setelah menanti lebih dari setahun akhirnya ( walau terlambat ) pemerintah AS melalui US Treasury terpaksa untuk melakukan bailout atas kerugian dari Fannie Mae and Freddie Mac. Langkah ini dilakukan guna menghentikan krisis kepercayaan yang melanda Fannie and Freddie akibat kerugian sebesar USD14,9 triliun atau setara dengan 140 kali jumlah APBN-RI tahun 2008 atau dua pertiga jumlah APBN AS yang berjumlah USD 19 Triliun. Jumlah yang sangat fantatis bila dibandingkan total hutang dunia ketiga yang tidak lebih dari USD 1 triliun tapi tak pernah kunjung mendapatkan bailout. Selama krisis ini telah mengakibatkan 11 bank local di AS ditutup , dimana yang terakhir adalah Silver State Bank yang bermarkas di Nevada. Pengaruh dipasar sangat significant atas rencana bailout ini, dimana Dollar menguat terhadap berbagai mata uang utama dunia, juga pasar modal kembali bergairah.

Kasus subpreme ini sebetulnya terjadi karena ulah system pasar uang AS yang malas memompa kredit kesektor riel dan lebih suka membiayai sector konsumsi. Variasi produk pinjaman yang ditujukan kepada konsumen kredit perumahan ( subpreme) yang tingkat creditworthy nya rendah telah mengabaikan prinsip perbankan yang sehat, demi mendapatkan yield tinggi. Pemberi pinjaman subreme ini biasanya adalah makelar ( Mortgage company) yang didukung oleh perbankan. Pihak perbankan akan merestruktur surat hutang tersebut untuk mendapatkan refinancing kredit di wall street melalui Bank bank investasi seperti Goldman Sachs (GS.N), Lehman Brothers (LEH.N), dan Stanley (MS.N), HSBC . Kemudian , bank investasi ini menjual kredit tersebut sebagai sekuritas berbasis hipotek dan kewajiban hutang yang dijamin (collateralized debt obligations, CDOs ). CDOs merupakan campuran antara surat hutang (bond) dan sekuritas berbasis hipotek dan juga pinjaman kredit perumahan.

Penerbitan CDO harus mendapatkan dukungan dari lembaga Pemberi nilai kredit (credit rating agency) yang bertugas menentukan kualitas dari CDOs. Agar mendapatkan nilai ( rating ) yang lebih baik, biasanya CDOs di pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil nominalnya. CDOs inilah yang akan dijual melalui global Money market. Pembeli utama ( investor ) CDOs adalah lembaga keuangan ( bank, perusahaan asuransi, dana pension ) di Singapore, Hong Kong, India, Eropa, Australia. Para investor sangat menyukai CDO karena yield bisa sampai setinggi 20 % dan jauh diatas surat hutang (bond) padaumumnya dengan nilai kredit (credit rating) yang sama.

Jadi secara system , pasar financial AS memang di design sangat liquid dan menjangkau pasar uang diseluh dunia yang menjadikan dollar AS sebagai cadangan devisa. Namun system yang liquid menimbulkan over confident seakan unlimted financial resource sehingga mengabaikan asas moral dan kepatutan serta hukum dasar ekonomi tentang supply and demand. Korban akibat subpreme ini dialami oleh Lehman sebesar USD2,8 miliar, Barclays melaporkan pada 15 Mei lalu telah kehilangan 1 miliar asetnya di kuartal pertama, dan Menurut IMF, perbankan global mengalami kerugian yaitu sekitar US$440 miliar-US$510 miliar. Jika digabungkan dengan produk derivatif lainnya yang diterbitkan di AS terkait dengan real estat komersial, pasar kredit konsumer, dan korporasi, maka kerugiannya berakumulasi hingga mencapai US$945 miliar ( bandingkan dengan kasus BLBI sebesar USD 100 Miliar )

Apa yang bisa dipetik pelajaran dari kasus subpreme ini ? Pertama, maraknya dorongan investor untuk menjadikan sector financial market sebagai resource mendapatkan yield dan mengurangi peran sector produksi ( riel ) yang beresiko. Kedua , kelalaian otoritas moneter sehingga terjadi insentif distortif instrumen investasi yang tidak dibarengi akuntabilitas. Ketiga, otoritas moneter tidak melihat situasi pasar sebagai suatu ancaman bila tidak terjadi keseimbagan , artinya bank-bank sentral harus lebih tegas menghadapi terjadinya moral hazard di pasar. Kempat, Seharusnya alokasi risiko (seperti dalam transaksi derivatif) tidak boleh diartikan sebagai eliminasi risiko atau risiko menjadi nol. karena model matematis yang kompleks seperti dipakai dalam transaksi derivatif pun bisa gagal atau menipu. Kelima, pentingnya penilaian terhadap risiko yang sebenarnya dari sekuritas. Dan yang terakhir adalah pentingnya analisa terhadap sejarah/track record kredit para debitor atau asas bisnis perbankan yang sehat ( risk management complient)

Tapi apakah AS dan system kapitalis dapat menerima kasus subpreme ini sebagai suatu kenyataan yang harus dikoreksi ? Keliatannya anggapan yang menyebutkan bahwa tidak ada kapitalisme tanpa kerugian atau tidak ada agama tanpa pendosa, akan sulit mengharapkan koreksi itu kearah pasar uang global yang berkeadilan dan berorientasi kepada dukungan sector riel bagi pembangunan negara negara miskin. Yang pasti bailout ini akan menggairahkan pasar uang kembali karena pemerintah AS perlu menerbitkan T-bill dalam jumlah besar untuk membayar bail out ini. Akhirnya kondisi likuiditas global untuk sector riel akan semakin sulit dan orang kaya akan mendapatkan peluang lagi memupuk kekayaan lewat system moneter yang culas

Thursday, September 4, 2008

HIzbullah

Dalam perjuangan menegakan keadilan sebagaimana misi syariat islam, maka ada baiknya kita belajar dari gerakan Hizbullah. Gerakan ini awalnya didirikan di Iran oleh Ruhullah Al Musawi Khomaini pada tahun 1979. Kemudian di tahun 1982 gerakan ini berhasil menjadi icon kekuatan baru umat islam. Dari segi militer , Hisbullah, ternyata mampu mengusir zionisme dari Bumi Libanon ditahun 2000. Kemudian di tahun 2006 membuat Israel kecapean dan akhirnya terima kalah melalui gencatan senjata oleh PBB. Di Irak, Hizbullah telah membuat AS kehilangan integritas didalam maupun diluar negeri. Pergerakan perlawanan dari sayap syiah Iraq terhadap pasukan AS tidak bisa dilepaskan dari peran Hizbullah.

Perang 33 hari di Libanon telah menunjukkan banyak hal. Pertama, citra militer Israel sebagai kekuatan paling besar dan tak terkalahkan di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya runtuh oleh perlawanan heroik milisi Hizbullah. Kedua,proyek “Timur Tengah Raya” Amerika di kawasan ini semakin sulit menyentuh bumi kalau tidak bisa dibilang gagal. Ketiga, terjadi pergeseran aliansi politik dengan setidaknya dua kekuatan besar: Hizbullah-Hamas-Suriah dan Iran di satu pihak dan Yordania-Saudi Arabia dan Mesir di pihak lain. Singkatnya, yang pertama kontra Amerika dan yang kedua pro Amerika.

Dari segi financial para lawan Hizbullah terkejut. Ketika gencatan sejata dicapai, Amerika mendapat peluang untuk mengambil hati rakyat Lebanon dengan isu rekonstruksi. Namun apa yang terjadi?. Segera setelah gencatan senjata, Hassan Nasrullah tampil di layar kaca dan mengumumkan bahwa : pertama, seluruh keluarga yang mengalami kerugian oleh sebab perang (diperkirakan antara 15-25 ribu keluarga) akan mendapat dana 12.000 Dolar Amerika per keluarga untuk bisa sewa rumah selama setahun. Kedua, Hizbullah akan membangun kembali rumah-rumah yang hancur sesegera mungkin yang diperkirakan berjumlah 15.000 rumah dengan perkiraan anggaran 30.000 Dolar Amerika per rumah. Bisa dibayangkan betapa besar kekuatan dana Hizbullah.

Dari salah satu fund manager di Dubai yang saya temui menyebutkan bahwa diperkirakan dana gerakan Hizbullah lebih dari USD 100 billion dalam bentuk tunai ! belum termasuk asset yang tersebar dalam berbagai portofollio di Eropa dan AS. Dalam segi technology, hizbullah juga digaris depan dalam riset ruang angkasa bersama sama dengan China, juga dalam bidang riset nuklir di Iran. Dalam bidang pendidikan, Hizbullah menjadi penyokong utama seluruh pendidikan gratis di Libanon. Hizbullah menguasai jaringan satelit iridium dan Telstar melalui pengelabuan keluarga Abu Dhabi yang pro AS. Dengan menguasai business satellite ( secara tidak langsung ) maka tidak ada satupun perusahaan atau negara yang menolak kehadiran jaringan media tv cable yang di sponsory Hizzbullah seperti Televisi Al-Manar ( media resmi Hizbullah) Juga jaringan televisi Al-Jazeera Al-Alam yang berpihak penuh karena dukungan pendanaan Hizbullah

Melalui jaringan Private investment Company yang tersebar di Nassau, Caymand, Swiss, Isle of Man, Gibraltar , Mauritius , Dubai, mereka berhasil memotong jalur lintas dana para jutawan sunny asal Arab yang selama ini dimanfaatkan oleh para Fund Manager Wallstreet . Mereka juga terlibat active mendukung China dibalik pengambil-alihan Lembaga Keuangan papan atas di AS dan Eropa. Mereka juga tampil sebagai pemersatu kekuatan Asia tengah yang kaya minyak dengan bertindak sebagai investor jaringan pipa Gazprom ( rusia ). Juga menjadi pendukung secara financial kepada Venezuela dan Bolivia atas embargo Pasar Uang oleh AS dan Eropa.

Keahlian Fund Manager Hizbullah berhasil menggeser fund manager Yahudi dalam memanfaatkan over liquiditas China dan Arab dipasar uang . Mereka berhasil mengambil kesempatan ditengah ketepurukan sector financial di AS untuk aksi penyelamatan namun sebetulnya adalah pengambil alihan dan akhirnya menempatkan orang orang mereka di posisi kunci. Lambat tapi pasti , Laskar Allah yang gagah berani itu sudah berhasil menjebol benteng pertahanan Yahudi di bidang financial dan dijantung kekuatan dollar di AS. Mereka berhasil melewati kehebatan yahudi yang sudah berpengalaman ratusan tahun dibidang keuangan. Karena inipula loby yahudi ( Israel ) kehilangan akal dan pikiran untuk memaksa Washington menyerang iran.

Pertanyaannya adalah bagaimana Hizbullah bisa menjadi terkuat dan disegani oleh pihak musuh ( beda dengan Al Qaeda, yang jadi bulan bulanan ).? Jawabannya adalah karena Hizbullah di create dari awalnya melawan kekuatan musuh ( kekuatan kapitalis dan zeonis ). Mereka punya musuh yang jelas dan tahu pasti kemana dan bagaimana berbuat. Sehingga salah satu petinggi Mossad dan CIA pernah mengatakan " satu satunya organisasi perlawanan yang tak bisa ditembus adalah Hizbullah dan mungkin inilah satu satunya organisasi yang kekuatannya melebihi satu negara besar."

Salah seorang jurnalis asal AS sempat melakukan riset selama lebih lima tahun untuk mengetahui tentang HIzbullah. Hasilnya dia laporkan seperti ini " Tidak akan ada kekuatan didunia ini yang bisa menghancurkan Hizbullah. Lambat tapi pasti mereka akan dan telah menjadi sumber kekacauan bagi semua kekuatan didunia yang menolak kayakinan syariat islam. Mereka ada dimana mana dan setiap saat mareka cepat sekali berubah ujud dan bergerak cepat secara systematis layaknya koloni kanker.." Diakhir laporannya jurnalis ini menutup kalimat " cara menghilangkan gerakan hizbullah hanya satu " tegakkan keadilan dimuka bumi

Hizbullah membuktikan diri bisa melawan Israel (dan Amerika di belakangnya) di semua level: operasi militer, kecanggihan intelijen, payung politik, perang media, kekuatan uang, dukungan opini publik dan " sebagai basis dari semua itu adalah kekuatan ideologi syariat Islam" bagaimana dengan umat Islam di Indonesia ?
Memang sekarang kita tidak lagi menghadapi perang phisik atau militer tapi perang terhadap kekuatan system neocolonialism (oligarki kapitalisme ) . System neocolonialism berada dibalik ketidak adilan global , yang membuat dua pertiga planet bumi menghadapi ancaman serius akan kelaparan, penyakit dan kebodohan. Indonesia adalah termasuk korban terparah dari system neocolonialisme ini. Saatnya bangkit...

Monday, September 1, 2008

Apa yang tersisa...?

Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP) pada tahun 2007 menyebutkan bahwa produk pangan dunia dikuasai oleh Multinational Corporation berkelas dunia dari AS, Uni Eropa, Kanada, Australia, Selandia Baru. Seperti halnya Chargill beroperasi di 63 negara di dunia, termasuk Indonesia. Archer Daniels Midland berada di AS, Kanada, negara-negara Amerika Latin, Eropa, negara Pasifik, dan Afrika. Adapun Monsanto beroperasi di 61 negara, termasuk Indonesia. Sejumlah perusahaan raksasa MNCs ini menguasai industri hulu, seperti sarana produksi pertanian meliputi benih, pupuk, dan pestisida. Juga menguasai industri hilir pangan, seperti industri pengolahan, pengepakan, dan standardisasi.

Keperkasaan konglomerasi dibidang produk pangan ini dapat dilihat dari laporan South Center tahun 2005 menunjukkan bahwa 85-90 persen total produk pangan dunia dikontrol oleh lima industri raksasa MNCs. Sekitar 75 persen total perdagangan serealia, seperti beras dan gandum, malah hanya dikuasai Chargill dan Archer Daniels Midland .

Dari industri pengolahan hasil pertanian, lagi lagi hanya lima perusahaan penguasa industri pengolahan pangan dan perdagangan global di antaranya Nestle, Cargill, ADM, Unilever, dan Kraft Foods. Sepuluh besar perusahaan raksasa pengolahan dan perdagangan—termasuk lima lainnya seperti disebutkan di atas—menguasai total penjualan senilai 409 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.721,9 triliun. Bahkan, cengkeraman negara maju melalui perusahaan multinasional merasuk ke pasar ritel. Total penjualan sepuluh perusahaan ritel besar di dunia malah mencapai 1.091 miliar dollar AS. Lima di antara sepuluh ritel besar itu meliputi Carrefour, Wal-Mart, Metro Group, Tesco, dan Seven & 1.

Hasil penelitian International Food Policy Research Institute (IFPRI), bahwa sekitar 6,5 miliar konsumen pangan global dilayani oleh perusahaan MNCs. konsumen global itu tersebar di sejumlah benua, seperti Asia, Afrika, dan Amerika. Sarana produksi pertanian global, termasuk Indonesia, dipasok oleh sepuluh perusahaan besar dengan nilai penjualan mencapai 40 miliar dollar AS atau sekitar Rp 364 triliun. Lima perusahaan raksasa itu adalah Syngenta, Monsanto, Bayer Crop, BASF AG, dan Dow Agro. Sepuluh besar industri hulu agro-input termasuk lima yang disebutkan di atas menguasai pasar 450 juta usaha tani. Mereka umumnya petani kecil dengan kepemilikan lahan kurang dari dua hektar.

Berdasarkan laporan Agro Observer tahun 2006, dalam beberapa tahun terakhir, banyak produk agroindustri dan agro- pangan yang secara lokal sudah terkenal mereknya dijual ke perusahaan asing. Saham perusahaan lokal diakuisisi oleh perusahaan asing, seperti oleh Danone (Perancis), Unilever (Inggris), Nestle (Swiss), Coca Cola (AS), Hj Heinz (AS), Campbels (AS), Numico (Belanda), dan Philip Morris (AS). Sebagai gambaran, produk kecap, sirup, dan saus merek ABC sebagian besar sahamnya, sekitar 65 persen, dimiliki Hj Heinz (AS). Seluruh saham teh milik PT Sari Wangi dibeli oleh Unilever, juga kecap Cap Bango dan makanan ringan merek Taro. Begitu pula produk air minum kemasan merek Aqua dan Ades yang masing-masing sahamnya sebesar 74 persen dan 100 persen sudah dikuasai Danone (Perancis) dan Coca Cola (AS). Indofood, terjerat hutang obligasi dengan World Bank, tentu hanya soal waktu untuk di swap dengan saham kepada pihak asing. Sampoerna diambil alih oleh Philip Morris (AS).

Dulu negera dibarisan depan mengawal rakyat menghadapi kekuatan neo liberal melalui Trading house company ( Panca Niaga, Kerta Niaga, Dharma Niaga, Berdikari group, dan lain lain). Disektor keuangan kita punya Bank Plat Merah yang bekerja sesuai sektor pembangunan. Tapi kini setelah reformasi kita percaya bahwa monopoli tidak boleh ada karena distorsi pasar. Lantas bagaimana dengan kekuatan MNCs yang justru lebih monopolistic dan mareka justru berasal dari negara yang mengkampanyekan tentang liberalisasi dan anti monopoli ? Kita percaya dan menghamba maka kita memberikan akses kepada negara maju untuk mengontrol dunia lewat kebutuhan konsumsi dan technology serta modal. Mereka menciptakan monopoly secara system dan menjajah secara system. Kita tidak akan pernah menyadari selagi kita terlena menerima dan menjadi konsumen saja. Kini, apalagi yang tersisa dan kita banggakan ?

Pasar dan Petani

Mingu Lalu ( 29/8), Petani tebu di Jember , Jawa Timur membakar tanaman tebu siap tebang. Aksi ini sebagai bentuk protes karena rasa kecewa terhadap kebijakan impor gula yang diberikan pemerintah kepada industri makanan. Akibatnya stok gula nasional berlebih dan tentu harga juga jatuh. Inilah bukti hukum pasar bekerja. Globalisasi memakan anak negeri dan mengkerdilkan potensi rakyat untuk mendapatkan access kemakmuran. Keadaan ini tidak ada yang aneh dan tidak pula menjadi masalah besar bagi pemerintah yang percaya hukum pasar. Petani yang kecewa adalah petani yang gagal berkompetisi maka free entry , free fall.

Kebijakan pasar bebas mungkin yang paling active diterapkan di negeri ini. Padahal AS dan Eropa sumber kapitalis tetap melindungi kepentingan harga petani. Bahkan AS memberikan subsidi untuk melindungi petani dengan mendorong tumbuhnya industri pengolahan alternative untuk menjamin pasar petani. Sebagaimana tebu , seharusnya pemerintah memperluas jangkauan pasar tebu. Bukan hanya memikirkan kepentingan konsumen dengan memperbanyak supply melalui import gula. Di Brazil , tebu digunakan sebagai bahan energy alternative ( biofue) dan berhasil membantu petani tebu meningkatkan penghasilannya serta terhindar dari permainan harga para spekulan pasar.

Sebelumnya memang pemerintah menetapkan empat komoditas untuk pengembangan biofuel, yaitu kelapa sawit, tebu, jagung, dan jarak pagar. Pasar dunia tak terbatas akan biofuel ini. Terlebih Komisi Eropa menargetkan aturan wajib penggunaan bahan bakar biofuel 5,75% terhadap seluruh kendaraan minimal awal 2008. Ternyata peluang pasar ini hanya terfocus kepada kelapa sawit (crude palm oil/CPO) . Walau biofuel berbasis CPO harganya bersaing dengan pangan, apalagi melihat tren harga minyak goreng saat ini. Belum lagi tingginya bahan baku dan ongkos produksi sawit di Indonesia. Maklum saja , hampir semua konglomerat alias pemodal besar menanamkan uangnya disini dan pemerintah wajib melindungi produksi CPO sebagai terbesar nomor dua di dunia. Lain dengan petani tebu yang kelas teri harus menerima kenyataan dipinggirkan.

Padahal biofuel yang fluid seperti gasohol dan ethanol dari tebu lebih menjanjikan karena areal yang cocok ditanami tebu di Indonesia juga luas . Harusnya inilah dijadikan grand design pemerintah untuk strategy pengembangan komoditas tebu nasional. Thailand sudah menjadikan gula sebagai salah satu strategi besar pembangunannya. Kebutuhan gula Negari Gajah Putih itu 1,5 juta ton dengan kapasitas produksi lebih dari 7 juta ton per tahun dan harga pasar tebu tetap terjamin. Sementara tingkat produksi tebu nasional melebihi Thailand dan tentu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar biofule. Karena didukung oleh area tebu seluas 450 ribu hektare dan produksi 35 juta ton selain peningkatan rendemen 1 poin menjadi 9% atau gula sebesar 3,2 juta ton pertahun.

Yang pasti , pengembangan Industri biofule jauh lebih ideal menggunakan tebu daripada CPO. Karena biofule dari CPO mengurangi kebutuhan akan produk pangan ( minyak goring). Tapi penggunaan tebu sebagai bahan dasar biofuel tidak mempengaruhi kebutuhan akan pangan. Hal ini disebakan , bahan ethanol, yaitu molase, adalah produk sampingan dalam produksi penggilingan tebu.Bahan baku ethanol bukan gula, tapi molase, yaitu produk sampingan dari tebu. Dulu disebut limbah.

Anehnya, pengembangan industri tebu yang terintegrasi sampai kepada down stream penghasil biofuel belum dilaksanakan secara penuh , sementara pemerintah lewat Kepress Tata Niaga Gula Nasional malah membuat petani lemah berproduksi. Dan potensi untuk meraih peluang pada energy alternative ( biofule ) menjadi sia sia karena dorongan para petualang business dan pejabat yang hanya menginginkan keuntungan sesaat dengan mengorbankan potensi kemandirian rakyat mengolah tanahnya sendiri..

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...