Tuesday, June 21, 2022

Fake growth

 




Kemarin saya diskusi dengan teman “ Indonesia hebat ya. Banyak negara sedang menuju resesi. Tapi Indonesia selamat dan aman. Karena inflasi kita rendah dibandingkan negara lain. Gimana pendapat kamu “ Katanya.


“ Inflasi itu sangat berbahaya kalau peredaran uang ( M2) lebih banyak di sektor moneter dan di pompa untuk konsumsi. Tetapi kalau uang beredar lebih banyak untuk investasi real dan produksi, itu bagus, Karena bisa jadi candu untuk berkompetisi dan terus berproduksi.


Contoh, anda berproduksi 1000 unit. Kalau inflasi katakanlah 6%/ tahun, itu tidak membuat anda stress kalau 30% dari produksi itu tidak terjual dan jadi stok. Karena tidak akan rugi. Waktu penyimpanan terbayar oleh inflasi. Orang juga males nempatkan uangnya di bank. Karena lama lama uang disimpan akan habis valuenya. Orang lebih suka pegang barang daripada uang. Sehingga ekonomi bergairah dan peluang meluas bagi semua. “Kata saya ala pedagang sempak.


“ Gimana caranya inflasi itu bisa jadi candu? “


“ Pertama, distribusi barang dan jasa harus efisien. Tata niaga harus mendukung kelancaran distribusi, diantaranya aturan mengenai logistik yang cepat dan murah dan ketersediaan infrastruktur ekonomi. Dua, distribusi modal harus inklusif. Sehingga bukan hanya bisa diakses oleh mereka yang qualified sebagai debitur bank tapi juga kepada yang tidak bankable. Artinya beragam sumber daya modal tersedia bagi semua golongan dan kelas.


Tiga, proses perizinan harus cepat dan murah bagi semua. Tidak ada lagi proses berbelit belit dengan beragam izin yang tidak jelas. Empat, upaya pemberantasan korupsi efektif, dan membuat kepastian hukum dan bisnis proses. Sehingga peluang berlaku bagi semua.


“ Artinya Jokowi sudah benar. “ Kata teman.


“ Nah di era Jokowi ini hal yang luar biasa adalah inflasi sangat rendah. Inflasi rendah itu bagus kalau memang fundamental ekonomi kita sustainable. Artinya uang terdisistrbusi luas namun investasi juga besar. Jadi ada korelasinya antara pertumbuhan dan investasi real. Tapi faktanya inflasi itu bisa rendah karena intervensi pemerintah yang berlebihan untuk menjaga inflasi. Ongkosnya mahal sekali. HItung aja berapa dana ekspansi sosial di APBN. Padahal kalaulah inflasi rendah ya engga perlu ada intervensi sosial yang berlebihan. “ Kata saya.


“ Ah kamu ngeles aja. Sok pinter” kata teman.


“ Ya memang saya bodoh. Engga sarjana. Tapi pemerintah sadar inflasi rendah itu fake. Makanya perlu ada pengalihan lewat subsidi.”


“ Yang benar kamu. Makin ngawur aja kamu. Lama kayak kadrun kamu.”


“ Engga percaya? Pertama. Berdasarkan logistic performance index (LPI) 2020 yang dirilis Bank Dunia, Indonesia ada di peringkat 46, sedangkan Malaysia 41, Vietnam 39, Thailand 32, dan Singapura peringkat 7. Kedua, distribusi modal terhdap PDB masih dibawah 50%. Artinya memang tidak niat membagikan modal kepada semua orang. Hanya kepada segelintir orang saja.


Ketiga. Bank Dunia mencatat tahun 2020, Doing Business Indonesia skor menjadi 67,96. Namun peringkatnya flat di urutan ke-73. Kalah dengan India (dari peringkat 63 ke 77), Jamaika (dari 75 ke 71), Uzbekistan (dari 76 ke 69), dan Oman (dari 78 ke 68). Empat, skor Doing business ini berkorelasinya tingginya Index ICP di skor 38 dan ranking 96 dunia. Indonesia disamakan dengan negara korup lainnya seperti , Argentina, Brazil, Turki, Serbia dan Lesotho.”


Berdasarkan data tersebut diatas paham ya. Kalau inflasi selama ini memang fake, yang bisa kapan saja meledak. Sekali meledak, itu akan cepat sekali naik tanpa bisa dibendung. Akan menjebol struktur ekonomi yang rapuh dan menyapu semua mereka yang berpenghasilan tetap, dan bokek. “


“ Duh solusinya gimana ?


“ Solusinya engga sulit. Kalau inflasi harus naik, ya udah. Tapi harus diikuti dengan perbaikan empat hal itu. Marilah focus kepada empat hal itu saja. Perbaiki dan kerjalah yang focus, engga usah mikir Pemilu 2024. Saya tahu Jokowi itu berniat baik, tetapi dia engga bisa kerja sendirian. Perlu pendamping dan pembantu yang juga berniat baik dan mau kerja.” kata saya tersenyum.


Dia keliatan bengong dan bingun mau tanya apa lagi. “ Engga usah bingung. Lah pendapat pedagang sempak lue dengar. Focus aja dengan diri masing masing. Engga usah sibuk dengan politik. Kalau ada orang kritik, itu bagus. Artinya mereka sayang kepada Jokowi dan ingin indonesia lebih baik untuk generasi berikutnya.” Kata saya


***

“ Emang salah ya uda subsidi itu ? Tanya Yuni.


“ Subsidi itu sama dengan pisau bermata dua. Kalau dilakukan dengan benar, itu cara smart memacu pertumbuhan dan kemakmuran. Kalau engga, bisa merusak sistem dan menciptakan sarana korupsi”


“ Maksudnya ?


“ Kalau subsidi itu diberikan kepada industri hulu,  itu bagus untuk menciptakan daya saing kepada industri hilir. Contoh pemerintah memberikan subsidi dalam bentuk tarif kepada industri baja, Nikel, CPO, kimia dll . Nah itu bisa melahirkan peluang bagi industri Hilir. Investor domestik dan luar negeri akan antusias berinvestasi di hilir. Karena efisien dan tentu mudah bersaing. Jadi walau di hulu pemerintah engga dapat pajak tetapi di hilir dapat pajak banyak dan tentu menyerap angkatan kerja luas.”


“ Terus..”


“ Tetapi kalau subsidi kepada harga pasar, nah ini bahaya. Karena engga jelas targetnya. Kan kalau harga disubsidi bisa saja orang yang tidak tepat menerima subsidi. Contoh subsidi BBM, kan sulit kendalikan apakah yang menerima subsidi itu orang yang sesuai target. Kalaupun diatur, nah aturan itu bisa jadi sumber korupsi. Umumnya pemerintah lebih suka subsidi lewat intervensi harga. Karena gampang dikorup. Semua kebagian, dan hebatnya dapat citra politik bagus di hadapan  rakyat . Tetapi jelas tidak mendidik dan distorsi terhadap hukum pasar. 


“ Jadi seharusnya gimana untuk contoh seperti BBM itu.”


“ Seharusnya pemerintah memberikan subsidi lewat skema investasi agar Pertamina atau NOC bisa bangun kilang, bunker dan tiingkatkan lifting migas. Nah dengan adanya subsidi di upstream, trade off nya pemerintah bisa buat tata Niaga untuk menstabilkan harga. “


“ Gimana kalau terjadi gejolak harga diluar batas rasional?


“ Biarkan saja. Itu kan hukum pasar. Engga bisa dilawan. Yang harus dilakukan adalah meningkat anggaran Sosial di APBN dalam bentuk subsidi langsung kepada masyarkat miskin yang terdampak akibat kenaikan harga itu. Ya karena apbn tentu ada program yang terukur untuk salurkan subsidi itu. Seperti PSO subsidi ongkos angkutan umum, BLT, dll.” Kata saya.


“ Kan sederhana masalahnya. Ada teorinya semua itu. Kenapa sulit diterapkan dalam kebijakan publik?


“ Kamu tahu, semua kebijakan itu dibuat oleh orang terpelajar, bahkan kebijakan korup pun ada pembenarannya lewat kajian akademis. Sehingga korupsi sulit diberantas karena sudah korup sejak dalam pikiran,  ya mind corruption. Itulah mental feodal. “ kata saya


***


Saya sering ditanya oleh teman teman. Apa dasar berinvestasi di luar negeri ? Alasannya ? Pertama? Uang tidak berasal dari warisan. Tetapi uang berasal dari pinjaman dan venture. Artinya harus jelas menguntungkan. Kedua, berinvestasi di Indonesia itu tidak efisien dari segi uang maupun waktu. Ketiga, karena alasan pertama dan kedua itu, menjadikan Indonesia bukan skala prioritas berinvestasi. 

Benarkah alasan saya itu ? 


Mari kita lihat indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR). ICOR adalah suatu rasio antara investasi dengan pertumbuhan output, yang berfungsi untuk menunjukkan efisiensi investasi di suatu negara. Semakin tinggi ICOR di suatu negara, maka semakin tidak efisien perekonomian di negara tersebut. Indonesia  level ICOR 6,24 pada 2022. Bandingkan dengan Malaysia yaitu 5,4, kemudian India (5), Filipina (4,1), dan Vietnam (3,7). Apa penyebabnya? Korupsi. 


Engga percaya ? Mari kita lihat data rasio investasi terhadap PDB.  Saat sekang rasio investasi terhadap PDB adalah 32%. Sejak era Jokowi rasio nya setiap tahun berkisar 30-42%.  Jadi soal investasi kita mengalahkan semua negara ASEAN. Saingan kita hanya China saja. Bahkan Eropa dan AS kalah jauh dengan kita. Tetapi mengapa begitu besarnya investasi namun tidak berdampak kepada kemakmuran secara luas ? Karena korupsi. Diperkirakan 30% Dana investasi itu di korup dengan berbagai modus yang sulit tersentuh hukum. 


Apa artinya ?  Yang kita bangun hanya proyek phisik yang bersifat rente. Bukan investasi  yang mendorong eskpor, mendorong tumbuhnya hilirisasi SDA, membawa teknologi yang bisa diimplementasikan dan ditransfer ke dalam negeri, dan memerhatikan lingkungan yang menjamin sustainable growth.


Masih engga percaya ? Mari kita lihat minat bank dalam negeri untuk mengukur sejauh peluang bisnis yang layak itu di Indonesia ? Saat sekarang rasio credit perbankan terhadap PDB hanya 35%. Rasio pasar modal terhadap PDB 50,76 %. Uang beredar terhadap PDB 45%. Apa artinya? Dalam negeri saja ogah Investasi apalagi asing. Bandingkan negara lain, seperti china, India dan Singapore. Itu rata rata diatas 100% PDB.


Memang saat sekarang kita termasuk aman dari resesi. Itu karena kita tahan dengan beragam subsidi. Tetapi ada batasnya pertahanan itu. Mulai akhir kwartal 1 sudah mulai merangkak naik inflasi dan udah engga bisa ditahan lagi. Kerena faktor rendahnya kualitas pembangunan, walau  krisis belum terasa , namun sekali kena mungkin kita negara yang sulit mengatasinya. Beda dengan negara lain. Saya tidak melihat menteri ekonomi Jokowi berpikir  bagaimana memperbaiki kualitas pembangunan. Karana sekarang mereka sibuk cari Cuan untuk pemilu 2024.


Monday, June 13, 2022

Visi membangun.

 





Amerika itu katanya cerdas. Benarkah? mari kita lihat skenario ekonominya. Tahukah  anda, bahwa anda tidak akan menemukan pabrik Apple di AS. iPhone memang dirancang di Cupertino, California, namun smartphone itu diproduksi di Foxconn di Taiwan, Vietnam dan India namun yang terbesar di Shenzhen, China, memperkerjakan lebih 3 juta orang. Pasar terbesar Apple ada di Amerika serikat. Tahukah anda?, Apple menghabiskan dana ratusan juta dollar untuk riset namun yang menikmati nilai tambah real dalam bentuk angkatan kerja dan  tekhnologi adalah China, India, Vietnam.


Ribuan supply chain apple lahir dan tekhnologi hape berkembang secara mandiri di CHina, India dan Vietnam. Lantas AS dapat apa? high value. Bukan real dalam bentuk bertambahnya angkatan kerja tetapi meningkatnya saham Apple  di bursa. Marcap Apple di bursa USD 2,2 Trilion. Itu dua kali dari PDB Indonesia. 5 kali dari PDB Singapore. Tiap hari orang AS onani kepit saham Apple. Tapi bingung karena harga kebutuhan hari hari meningkat. Sementara saham semakin tidak likuid. Yang berkembang adalah skema kredit dengan jaminan saham. AKhirnya saham habis karena utang dan barang terus melambung.


Mengapa AS begitu bodohnya? itulah buah reformasi sistem pendidikan di AS sejak tahun 1980an. Create value, create money dan lets money working for you. Kedengarannya keren. Tetapi itulah kutukan pengetahuan tanpa kebijakan. Apa itu? rakus. Pengetahuan dikembangkan untuk memuaskan rakus. Dan karena rakus itu berhubungan dengan rasa, maka hasilnya hanya ilusi saja. Itulah yang terjadi pada fenomena Apple.


Nah sebagian besar kaum terpelajar yang jadi boss BUMN, pejabat tinggi negara, Menteri dan penasehat presiden adalah mereka alumni dari AS. Makanya, lihatlah outputnya kini ? 


Kita hanya Sibuk onani lewat bursa, lewat rente bank digital dan unicorn, konsumen. Sementara server data clound buatan China atau Korea, Gateway dan satelit punya softbank ( sprint) dan banwidth satelit punya Tesla ( starlink), Fiberoptic lintas benua pakai Hong Kong Wire Cable. Barang modal semua impor dan linked product masih juga impor. Kita bangga aja sebagai penikmat penyedia barang, jasa dan tekhnologi. Sejak tahun 1980an sampai kini, zaman berganti tetapi tidak terjadi perubahan paradigma ekonomi. Tidak ada transformasi ekonomi. Masih bergantung kepada komoditi utama (SDA).


Dari empat capres, Anies, Ganjar, Prabowo, Sandi, Eric, yang tidak alumni AS hanya Ganjar. Apakah dia punya visi besar mengubah mindset bangsa pencundang ini? Yang jelas sekarang creator value for nothing beberapa orang ada di jajaran kabinet dan Jokowi percaya mereka, Itulah visi Jokowi, visi kita juga tentunya


Islamofobia

 


Pergaulan  saya lebih banyak dengan orang non Muslim. Pernah satu waktu saya business trip ke Puer lewat jalur darat dari Kunming. Dalam kendaraan saya bersama empat teman, yang semuanya orang China. Pada saat itu bulan ramadhan. Saya tetap puasa.  “ Maaf, B. Kami harus makan depan kamu. Engga ada masalah kan? Kata teman saya.


“ Silahkan. Engga ada masalah. “ Kata saya tersenyum tanpa ada beban apapun. Saya minta izin untuk melakukan sholat Lohor. Pegawai restoran dengan ramah antar saya ke kamarnya.


Walau di China melakukan program kontraterorisme terhadap umat islam Uyghur, umat islam dari suku Hui biasa saja. Bahkan suku Hui tidak pernah membahas soal kebijakan pemerintah itu. Termasuk non muslim China “ Itu masalah penegakan hukum, bukan personal. Biarian aja pemerintah lakukan tugasnya. Ngapain kita bahas” Kata mereka ketika saya tanya sikap mereka.  Zaman Soeharto, walau rezimnya memburu tokoh islam yang agitasi terhadap pemerintah, namun tidak berdampak kepada umat Islam secara personal. Hubungan antar umat berbeda agama baik baik saja.


Munculnya islamopobia itu karena Kampanye kontraterorisme yang dilakukan oleh AS sesuai UU Patriot Act. Singapore dan Malaysia dengan UU Internal Security Act (ISA). Indonesia juga dengan lahirnya UU anti teror. Sebenarnya masalah teroris itu masalah pemerintah, udah ranah hukum. Bukan publik. Namun Kampanye antiteror itu masuk dalam ruang publik pembahasannya. Sama seperti wabah Korona. Semua orang membahasnya. Entah ngerti atau tidak, semua bicara seakan dia sangat ahli dan sangat penduli dengan ancaman teroris. Media massa dan sosial media juga diuntungkan dari kampanye ini. Karena orang semakin kepoan.


Dampaknya? Kebencian dan rasa takut tersebar luas. Apalagi konten sosial media sudah sangat brutal. Antar golongan saling serang dan perang narasi, dan hasilnya semakin mewabah islamofobia. Bulan lalu, Council on American-Islamic Relations (CAIR) melaporkan peningkatan 9% jumlah pengaduan hak-hak sipil yang diterimanya dari Muslim di Amerika Serikat sejak 2020. Kekawatiran islamofobia ini meluas, makanya tanggal 15 Maret  2022 Sidang Umum PBB mengeluarkan resolusi memerangi Islamobofia. Tanggal 15 Maret diperingati sebagai hari international memerangi Islamofobia. Indonesia termasuk negara yang meratifikasi itu.


Makanya kalau semua partai bersepakat untuk menghapus politik identitas, itu sudah jadi komitmen international. “ Kamu hindari mulai sekarang  bahas soal issue yang berkaitan dengan islam di ranah publik, terutama sosial media. Soal rendang daging babi, aparat cepat bertindak dengan menangkap pelakunya, tidak perlu lagi dibahas. Itu sudah masuk ranah hukum. “ Kata teman. 


Besok kalau ada influencer yang masuk bui karena delik ITE, jangan kaget. Pemerintah sudah berkomitmen memerangi islamofobia, setidaknya mari kita lupakan saja issue apa saja tentang islam. Biarkan itu jadi ranah hukum. Ada ribuan personel Densus 88. Ada ribuan personel TNI dan BIN, yang mengawal kita. Percayakan saja kepada pemerintah. Nanti lama lama, issue soal islam itu akan hapus, dan politik identitas engga laku. Ya sama seperti Korona. Sejak orang engga lagi kepoan, korona juga hilang sendiri. Setidaknya rasa takut dan paranoid hilang dalam diri kita, dan kita baik baik saja.


Tuesday, June 7, 2022

Capres 2024?


Ada beberapa teman DDB minta saya endorsed siapa calon Capres. Saya belum bisa confirmed. Mengapa ? Dengar ini alasan babo. Tentu alasan bukan dibuat. Tetapi Babo harus patuh dengan aturan main dan hukum yang mengatur Pemilu, termasuk menilai kinerja calon.


Pertama. Yang berhap menentukan seseorang itu bisa jadi capres adalah Partai. Walau masyarakat menghendaki sia A, dan survey membuktikan itu, itu sah saja sebagai hak demokrasi. Tetap saja tidak menghilangkan hak partai menentukan. Hak rakyat akan ditunaikan ketika Pemilu, bukan sebelum pemilu. Jadi ribut ribut sebelum ada penentuan capres secara resmi, itu buang waktu. 


Kedua, calon yang diangkat oleh lembaga survery, seperti Prabowo, Ganjar. Anies, Ridwan Kamil. Sandi, Risma, Kofifah, Eric dll. Babo engga melihat prestasi mereka fenonemal untuk qualified jadi capres. Mengapa ? Prabowo sejak era reformasi,  tidak ada satupun prestasi yang fenomenal dan dirasakan oleh rakyat. Dia hanya sibuk beriklan dan besarkan partainya saja. Anies diberi kesempatan jadi otoritas DKI, tetapi selama 5 tahun tidak satupun prestasi fenomenal. Cuma retorika aja. 


Ganjar dan Emil, Kofifah juga sama. Dalam UU desentralisasi, otonomi itu ada pada tingkat 2. Nah posisi Gubernur ( selain DKI)  itu hanya kepanjangan kekuasaan dari pusat. Tugasnya hanya sebagai koordinator atas otonomi di daerah tingkat dua. Jadi sulit menilai prestasinya. Karena hak otonomi dalam kebijakan publik di daerah ada pada bupati atau walikota. Prestasi walikota dan Bupati tidak terkait dengan Gebernur.


Soal Erik, Sandi, Airlangga.  Mereka itu pengusaha. Tidak ada prestasi fenomenal mereka terhadap rakyat. Yang jelas prestasi hebat mereka hanya untuk mereka saja dan itu membuat mereka tambah tajir. Sebagai pejabat publik, mereka juga tidak mencatat prestasi hebat kecuali hebat beriklan  untuk diri mereka saja.  


Puan juga belum ada prestasi hebat kecuali dia elit partai PDIP. Sukses PDIP itu berkat kerja kolektif semua kader. Dia tidak punya track record sebagai pengusaha atau kepala daerah. Puan sama saja dengan AHY. Keduanya besar berkat keluarga saja. 


Ketiga. Tahun 2018, saya tahu. Setelah Jokowi menang pilpres 2019, akan ada gerakan intelijent dari kekuatan proxy asing. Sangat canggih. Mereka menggunakan sosial media seperti dulu Trump menang di pilpres di AS. Saya dengar ada team hebat yang mempelajari data cloud secara algoritme soal minat dan emosi rakyat,  untuk kemudian digunakan untuk membentuk persepsi  seseorang pantas jadi presiden dan pada waktu bersamaan membenturkan kekuatan persatuan bangsa dan membonsai partai. 


Kalau itu terjadi, NKRI jadi ancaman. Dan itulah yang diharapkan kelompok fundamentalis. Makanya mereka sekarang diam dan menonton saja. Tidak ada gerakan terorganisir. Tapi mereka siap masuk di tikungan atau jadi burung pemakan bangkai saja. Makanya saya maklum mengapa ada wacana Pemilu ditunda. Karena dalam situasi ekonomi yang rentan sekarang, tidak kuat pemerintah menghadapi badai politik yang ditimbulkan oleh perang asimetris. Tapi semua ribut. Makanya saya  bisa maklum bila Bu Mega, diam saja soal capres. Tetapi publik ribut. 


Perang asimetris sudah dimulai. Kembali kepada kita. Percaya kepada elite atau proxy ?  Dan saya yakin TNI dan BIN pasti sudah tahu soal perang asimetris yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa ini. Jadi kalau ada keputusan politik yang anomali di tahun ini atau tahun depan, tetaplah percaya kepada elite dan konstitusi. Seburuk buruknya orang tua, itu takdir kita. Jauh lebih baik daripada proxy asing. Paham ya sayang


Monday, June 6, 2022

Megawati yang saya kenal.

 





Andaikan bukan Megawti yang jadi ketua umum PDIP, saya yakin paska kemenangan PDIP pada Pemilu tahun 1999 dan Megawati kalah dalam pemilihan Presiden di Parlemen, mungkin kita sudah perang saudara. Karena selama rezeim Soeharto tidak sedikit kader PDIP dikarungi dan hilang tanpa pusara. Dan rakyat pemilih PDIP melihat dengan mata kepala mereka dipecundangi oleh koalisi partai Islam di Parlemen. Semua tahu bahwa Megawati itu putri biologis dan idiologis Soekarno dan elite islam punya dendam terhadap rezim Soekarno.


Megawati setelah usai pemilihan Presdien di parlemen, dengan penuh keibuan dia bicara di podium “ Anak anakku, dengar ibu kalian. Pulanglah ke rumah kalian masing masing dengan tenang. Mari kita bangun negeri ini” Semua kader PDIP yang tadinya siap bergerak membela ibunya. Mereka patuh walau dengan berat hati. 


Saat itu Pilpres tahun 1999, saya sedang di Hotel HIlton bersama teman teman. “ Benarlah, dia putri ayahnya. Saat genting itu dia menunjukan visi Soekarno. Di tidak takut dengan lawan politiknya. Dia bertarung secara konstitusi dengan militan. Tetapi kecintaannya kepada negeri ini membuat dia tegar dan kalahkan dirinya sendiri. Politik memang mengejar kekuasaan, tetapi keutuhan negeri ini adalah segala galanya bagi Megawati. Negeri ini besar karena ada orang berjiwa besar seperti dia.


Tahun 2004 kalau anda berada tidak jauh dari Megawati saat itu, anda akan tahu dia juga ditelingkung oleh lawan politiknya. Yang dia sedihkan orang yang sangat dia percaya dan sangat dekat dengan dia memanfaatkan situasi itu. SBY menang dalam Pilpres 2004. Kembali mengingatkan kadernya untuk diam dan berdamai dengan kenyataan. Setelah itu PDIP menghadapi badai dari internal kadernya. “ Kapal PDI-P bahkan nyaris karam, dan bendera partai sudah miring.” Kata Megawati mengingat masa sulitnya menakhodai Kapal besar PDIP. Tetapi dia tegar dan berhasil melewati masa oposisi selama 10 tahun dan akhirnya 2014 dia menang.


Kemarin istri saya bertanya “ Pah kenapa Uni Puan sampai datang dan selfi lagi dengan Pak Anies “ Itu karena dia lihat video kearaban  Puan dan Anies pada event Formula E.


“ Mah, dalam diri Puan itu ada darah bundo kandung. Neneknya orang minang. Bundo kanduang itu tetaplah bundo kanduang yang mengutamakan keutuhan keluarga. Seberat apapun beban yang ditanggungnya, namun dia akan menjadi perekat semua. Dan dalam darahnya ada Bung Besar Soekarno yang terbukti dalam sejarah mengorbankan hidupnya untuk negeri ini. 


Masalah Anies sudah jadi sumber masalah terjadinya polarisasi di antara anak anak bangsa. Padahal itu hanya politik. Kita semua bersaudara. Puan, secara simbolik mempertunjukan kepada kita semua bahwa sudahilah pertikaian emosional karena politik. Sudahi dendam politik. Mari kita berpolik dengan akal sehat. Utamakan kinerja, bukan retorika. Kalah menang itu biasa. Keutuhan kita sebagai bangsa adalah segala galanya. Paham ya sayang.” Kata saya. Oma tersenyum.


“ Apa mungkin Anies akan berpasangan dengan Puan? Tanya oma. 


“ Megawati itu jangankan menerima Anies, dikalahkan secara tidak fair dan ditelingkung saja dia terima demi NKRI. Bahkan dia siap tidak populer di hadapan golongan Islam demi membela Ahok. Ahok dikalahkan. Dia diam. Dan ketika Ahok keluar dari penjara, dia terima jadi kader. Bagi mega kalah menang itu biasa saja. Demi NKRI resiko apapun dia akan terima. Nah semua kader PDIP paham visi kebangsaan seperti itu. temasuk Jokowi, Ganjar dan lainnya. Jadi sebaiknya tunggu aja keputusan Megawati. Sekarang engga usah spekulasi”

“ Oh gitu ya pah. Kadang kita rakyat biasa engga paham itu. Mudah sekali terprovokasi. Ya udah lah.” Kata oma. 

Tuesday, May 31, 2022

Perubahan dan ilusi



Ada anak muda datang ke saya membawa proposal bisnis tentang tekhnology IT yang berbasis komunitas. Saya pelototi bisnis plan nya. Saya perhatikan stuktur cost nya. 40% biaya SDM, 30% biaya sewa jaringan dan gateway. 30% lagi biaya promosi. Saya membayangkan gimana risk management nya. Ibarat di dalam roller coaster. Bergerak dengan kecepatan tinggi. Engga ada exit kalau gagal. Harus percaya saja dengan tekhnologi. Sedikit saja ada kesalahan, habis. Apalagi value dan market nya tergantung kepada promosi.


“ kamu tahu rumput laut ? Tanya saya.


“ Ya tahu lah. Ada apa?


“ Harga rumput laut jenis lemiti sekitar Rp 100.000 per kg. Kalau sudah diolah jadi vegicaps sekilo harganya Rp 1.500.000.” Kata saya.


“ Gila ya ada ya bisnis segede itu nilai tambahnya? 


“ Di Indonesia itu banyak banget rumput laut. Kenapa engga focus ke sana aja daripada bakar duit dengan investasi cuman janji value yang belum pasti. Dan lagi itu lebih sesuai dengan kita yang kaya sumber daya bahari” kata saya.


“ Tapi gimana bikin vegicaps itu? 


“ Ya cari tahulah tekhnologinya. Yang pasti ada tekhnologinya. Kan sudah diproduksi untuk kebutuhan industri pharmasi”


“ Kamu tahu. Dulu ketika ada revolusi industri. Ditemukan mesin uap dan terus  berkembang dalam berbagai jenis mesin penggerak. Industri tumbuh. Mengubah tanah jadi tembikar. Mengubah minyak  bumi jadi plastik. Dengan ditemukannya plastik terjadi perubahan besar di semua industri. Begitu juga lainnya. Nah dengan terjadinya perubahan itu, ada barang yang dihasilkan, lapangan kerja tercipta, efisiensi dan efektifitas berproduksi terbangun. Peradaban bergerak maju. Kemakmuran Eropa dan AS, karana itu.


Tapi tahun 90an muncul bisnis dotcom. Orang tidak lagi berinovasi produksi tetapi focus kepada value ilusi. Dampaknya kemana mana. Apalagi sumber dana dari bursa. Akibatnya terjadi bubble value ilusi harga saham. Dan apa yang didapat kemudian? Kebangkrutan bursa. Itu terjadi berulang kali. Merontokkan sepertiga pertumbuhan ekonomi AS yang didapat dari puluhan tahun kerja dalam inovasi tekhnologi produksi. Yang justru mendapatkan manfaat adalah China yang menyerap Tekhnlogi  untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Mereka tidak ikutan terjebak bisnis ilusi tetapi focus kepada produksi,


Yang saya sedihkan. Banyak kini kaum  milenial terpelajar terperangkap dalam bisnis ilusi. Mereka bangga dengan digitalisasi.Padahal mereka adalah sumber daya terbatas yang negara punya. Ini kerugian besar bagi negara. Sementara sumber daya alam kita dikuasai asing dengan menyisakan kerusakan lingkungan. Dan kita tetap jadi konsumen produk luar negeri. 90% bahan baku pharmasi kita masih impor. Padahal kita punya bahan baku kapsul high grade. “ kata saya mencerahkan. Moga dia paham.


Anak muda itu terdiam. Sepertinya sedang mikir“ sebenarnya kita itu berdiri dan tidur diatas uang ya. Engga seharusnya kita miskin. Hanya kurang bersukur dalam arti nyata. Banyak berdoa tapi miskin Effort. Cenderung tergoda dengan yang mudah tapi tinggi hayalan. “ katanya kemudian. Saya senyum aja.


Tuesday, May 24, 2022

Real power itu adalah Partai

 


“ Kita sebagai rakyat dalam sistem politik hanya disodori daftar menu saja. Setelah kita pilih menu, yang masak tetap aja partai. Ya kita harus terima enak atau tidak enak menu itu. Kok rasa camcay beda. Kok rendang rasanya engga pedas. Engga bisa protes. Terima saja. “ Kata saya kepada istri ketika dia bertanya menjelang tidur. Itu cara sederhana saya menjelaskan mengapa kok Jokowi tidak seperti harapan kita. Kenapa niat baik Jokowi mudah sekali dijegal dalam prakteknya.


Sistem kekuasaan kita itu berfocus kepada kekuasaan partai. Engga percaya? hak memilih calon legislatif itu ada pada partai. Sehebat apapun anda, kalau partai tidak masukan anda dalam daftar caleg, ya tinggal mimpi doang. Hak menentukan siapa yang layak jadi kepala daerah dan gubernur, ada pada Partai. Artinya, nasip ada jadi pemimpin kelas daerah ditentukan partai. Begitu juga siapa yang layak jadi presiden, ya hanya partai yang menentukan dia pantas atau tidak dicalonkan.


Ya tentu ada standar normatif yang ditetapkan partai siapa yang layak diusung atau tidak. Namun standar normatif itu dikalahkan oleh politik uang. Walau anda tidak jelas kompetensinya sebagai orang yang hikmat bijaksana sesuai nafas sila ke 4, namun kalau anda bawa duit ya anda sudah pasti dicalonkan. Bahkan walau anda bukan kader partai dari akar rumput, itu akan mudah saja dicalonkan partai asalkan ada uang. Juga bukan rumor bila antar partai berburu publik pigur diluar kader partai untuk dicalonkan.


Engga percaya? setiap kebijakan presiden harus patuh kepada UU dan UUD. Siapa yang buat UU/UUD itu? ya partai. Perhatikan. Sebelum RUU itu masuk pembahasan komisi di DPR/D dan  rapat paripurna, harus lebih dulu lolos Bamus ( Badan Musyawarah). Bamus ini badan tetap di DPR, yang sangat berkuasa menentukan aturan main dan agenda DPR. Siapa anggota Bamus ini? ya semua wakil dari partai yang dapat suara dalam caleg. Share mereka dalam Bamus ini ditentukan dari suara perolehan mereka.


Bamus ini sangat elitis karena anggotanya punya kontak langsung dengan pimpinan partai. Setiap hari mereka hotline dengan boss partai. Mereka harus jalankan arahan boss. Kalau ada anggota yang nolak, ya bisa di PAW kan. Penyebabnya bisa macam macam, Partai punya instrument dan sumber daya untuk singkirkan mereka. Kok bisa ? lah itu  mereka yang ada di KPK, BPK, bahkan jaksa agung pasti terhubung dengan partai. Kalau engga, mana bisa mereka terpilih oleh presiden dan DPR. Pastilah mereka patuh kepada partai.


Selama ini publik terfocuskan kepada pigur capres. Padahal walau akhirnya pigur itu terpilih sebagai presiden, tetap saja tidak efektif melaksanakan misinya sesuai dengan agendanya yang dia jual pada waktu kampanye. Mengapa ? walau kita menganut sistem presidentialisme namun distribusi kekuasaan dalam trias politika, membonsai itu. Tetap saja yang berkuasa sebenarnya adalah Partai. Dan gimana kalau partai bersenggama dengan pengusaha? Ya selesai dah urusannya. Apalagi faktanya tidak ada partai yang menguasai suara mayoritas di DPR. Kartu para partai itu ya di cak oleh pengusaha. Outputnya ya kepentingan pengusaha.


Fake growth

  Kemarin saya diskusi dengan teman “ Indonesia hebat ya. Banyak negara sedang menuju resesi. Tapi Indonesia selamat dan aman. Karena inflas...