Monday, May 17, 2021

Tragedi Poso.

 




Pada 24 Desember 1998, saat bulan puasa Ramadhan, seorang warga keturunan dalam keadaan mabuk masuk ke dalam masjid. Dia membacok salah satu warga yang ada di dalam masjid itu. Situasi ini dianggap polisi sederhana saja.  Di hadapi seperti kasus pidana pada umumnya. Padahal kasus ini berpotensi konflik horisontal. Karena menyangkut SARA. Seharusnya Polisi antisipasi juga melalui perdamaian antara tokoh agama setempat.  Keterlambatan antisipasi itu berdampak luas. Saling serang antar kampung. Saling bakar rumah penduduk dan tempat ibadah. Mayat bergelimpangan dimana mana dan mengapung di sungai.


Selanjutnya Umat krisiten membentuk laskar Kristen. Islam juga sama. Kemudian dari luar Poso berdatangan bala bantuan kepada penduduk islam. Tokoh hero bermunculan dari kedua laskar. Dari laskar islam muncul Santoso. Dari kristen dianggap pahlawan adalah Tibo. Dalam situasi ini, lagi lagi pemerintah lambat bersikap. Seharusnya segera diberlakukan darurat sipil atau militer.   Sehingga polisi jadi bulan bulan kedua laskar dari dua agama ini. Banyak polisi yang gugur. Dampaknya, kalau tadinya sebatas kerusuhan SARA, selanjutnya sudah bercampur politik. Apalagi menjelang Pilkada.


Atas inisiatif pendeta A. Tobondo mengajukan perdamaian. Usulan ini langsung dieksekusi oleh JK. Pada Desember 2001 diadakan Deklarasi Damai Malino 1. Pasca-kerusuhan di wilayah Poso mereda, Polri mendirikan Komando Lapangan Operasi yang digelar dengan berbagai sandi operasi. Misalnya, Operasi Sadar Maleo pada 2000 silam. Kemudian, pada April 2004 TNI/Polri juga memobilisasi kekuatan melalui Operasi Sintuwu Maroso. Selesai? Belum.


Yang jadi masalah adalah kehadiran Santoso yang bagaikan pahlawan itu menarik minat Abu Bakar Ba’asyir, dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Santoso direkrut bergabung dalam JAT. Santoso juga merekrut dan membina cukup banyak kader militan  di Poso. Ini bukan lagi soal konflik agama. Tetapi sudah masuk wahana Politik. Tekad JAT mendirikan khilafah islam. Terbukti targetnya bukan hanya orang kristen, tetapi juga aparat keamanan Indonesia. Lagi lagi SBY tidak bertindak cepat mengantisipasi. Masih dihadapi secara biasa.


Sementara tahun 2010, Santoso dan para pengikutnya menggelar pelatihan militer di dua tempat di wilayah Poso. Saat itulah berdiri Mujahidin Indonesia Timur.. Santoso menjadi pemimpin tertinggi (amir) MIT pada 2012. Di tahun yang sama, kelompok pimpinan Daeng Koro yang datang dari Makassar bergabung dengan gerakan Santoso di Poso. Daeng Koro, Jadi selain Santoso, Daeng Koro juga punya andil besar di MIT. Keadaan tetap tidak disikapi serius oleh pemerintah.


Barulah di era Jokowi, upaya pemberatasan jaringan MTI dilaksanakan secara serius. Jokowi melibatkan TNI guna memback up Densus 88  memburu gerombolan MTI. Berkat bantuan Drone dari AS, TNI dan POLRI mengetahui persembunyian Santoso dkk. Tanggal 3 April 2015, Daeng Koro tewas dalam bentrokan senjata melawan pasukan Detasemen Khusus (Densus) 88, sedangkan Santoso dan beberapa militan MIT lainnya berhasil kabur untuk menyelamatkan diri. 


Namun pada 18 juli 2016, Santoso berhasil ditembak mati dalam operasi penyergapan oleh TNI dan Densus 88 . Tak berapa lama kaki tangan Santoso, Muhammad Basri pun ikut diringkus lantas menyerahkan diri. Pucuk pimpinan organisasi terorisme tersebut kemudian beralih kepada Ali Ahmad alias Ali Kalora.  Aparat memperkirakan selama ini Ali Kalora bersembunyi di hutan-hutan di kawasan antara Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong. Sampai hari ini dia belum tertangkap. Satgas TNI-Polri yang tergabung dalam Operasi Madago Raya tahap dua, masih melakukan pengejaran. Sementara minggu lalu terjadi lagi aksi teror menewaskan 4 warga. 


Saturday, May 15, 2021

Hak israel dan etnis Yahudi dalam sejarah


 



Saya berkunjung ke Swiss dan pada kesempatan itu saya mengajak Rachel makan malam. Dia wanita Yahudi dan mitra saya dalam bisnis asset management di Zurich. Hal yang saya hindari adalah berbicara politik dengan Rachel. Maklum masalah Israel menduduki Palestina sudah menjadi masalah umat islam sedunia.  Apalagi dia tahu bahwa saya muslim. Tentu sangat sensitip membahas soal politik. Dia penganut agama yang taat.  Begitu juga saya. “ Saya senang bermitra dengan kamu. Walau kita berbeda agama dan budaya, tidak menghalangi kita saling berbagi dan saling menguatkan visi dalam bisnis. Terbukti selama 5 tahun usaha berkembang baik. “ katanya.


“ Saya juga senang bemitra dengan kamu, golongan yang menguasai 2/3 asset global. “ Kata saya berusaha membuat dia nyaman dan meyakinkan dia bahwa saya tidak ragu untuk terus bermitra dengannya. “ Bro, andaikan tidak ada diskriminasi atas etnis kami, tentu tidak mungkin kami masuk dalam dunia perbankan dan financial. Karena dulu hanya itu satu satunya boleh kami lakukan. Sementara bidang industri dan manufaktur tidak boleh. Bahkan berdagang di Eropa dan Rusia, kami dibatasi. Proses sejarah, yang mungkin saja takdir menjadikan kami mengontrol perputaran uang dunia sampai sekarang” Katanya berusaha merendah.


“ Kamu engga perlu terlalu sungkan dengan saya. Apalagi dikaitkan dengan kami etnis Yahudi. Biasa saja. Persahabatan kita diuji dengan waktu. Selama ini kita saling menjaga. Dan lagi, saya tidak tahu pasti sejarah asal muasal etnis Yahudi. Nilai nilai apocalipso Yahudi atas Palestina tidak ada pada diri kami. Yang saya tahu,   pada tahun 740 M moyang kami bermigrasi ke Kojar, wilayah Kokaz di Rusia selatan. Kami memeluk ajaran Taurat. Hanya sebatas itu pemahaman kami soal asal usul. Kemudian, tersebar ke seluruh dunia..” Kata Rachel. Saya meminum Wine seraya memperhatikan wajahnya. Rachel memang cantik dalam usia mature. 


“ Yahudi itu juga adalah israel. Bicara Israel dia era sekarang pasti berujung rasis terhadap etnis Yahudi. Jadi maklumi saja. “ Kata saya berusaha dia nyaman.


“ Yang saya tahu nama Israel itu sendiri adalah gelar yang diberikan kepada Yakub bin Ishak bin Ibrahim. Jadi kalau kita berbicara tentang israel maka itu juga kita biraca tentang keturunan Nabi Ibrahim, yang juga dikenal sebagai bapak agama samawi atau percaya kepada 1 Tuhan.  Lah Yahudi itu sebutan kepada penduduk kerajaan Yehuda yang ditaklukkan oleh Babilonia. Padahal kan tidak semua penduduk Yehuda itu orang Israel. Banyak juga suku lain. Israel itu terkait hanya dengan keturunan Yakub. Dan kalau kini jadi nama negara, itu hanya karena politik zionis.” Kata Rachel.


“ Saya tidak tahu. Apa benar orang Yahudi punya ambisi mendirikan negara israel dan menguasai Yarusalem? Maaf kalau pertanyaan saya kurang berkenan.” kata saya. Rachel tersenyum seraya mengibaskan tangannya. Sebagai tanda dia minta saya tidak terlalu sungkan. “ Engga apa apa. Itu pertanyaan bagus. Karena pertanyaan itulah membuat orang punya persepsi negatif terhadap etnis Yahudi. Sebetulnya terjadinya negara isral dan kemudian pemukiman Yahudi di Palestina itu. Yang saya tahu, kami tidak pernah ada keinginan kembali ke Palestina. Yang ingin agar kami kembali ke Palestina adalah politisi Eropa , Rusia dan AS. "


" Oh karena dipaksa? Gimana ceritanya? Tanya saya penasaran. Ini menarik. Karena sesuatu yang jarang saya dengar sebagai sebuah pengakuan yang jujur.


" Pasca Perang Salib dan bangkitnya dominasi Islam di seluruh Timur Tengah oleh Khilafah Abbuyid dan Mamluk, telah muncul suatu kekuatan baru yang berpusat di Istambul sehingga pada tahun 1517 Yerusalem jatuh ke tangan Khilafah Ottoman yang berkuasa di seluruh Timur Tengah. Di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Alqanuni, limapuluh tahun pertama kepemimpinan Ottoman adalah masa kemakmuran di Yerusalem.


Namun setelah Sultan Sulaiman Alqanuni wafat, penerusnya tidak bisa mempertahankan kemakmuran. Justru terjadi politik rasis terhadap etnis Yahudi. Sejak saat itu terjadi eksodus orang Yahudi  ke Suria, Libanon dan Mesir. Lambat laun keadaan Ekonomi   menurun drastis. Akhirnya Yarusalem jadi kota yang sepi dan sunyi.   Rakyat hanya segelintir dan sangat miskin. Itu berlangsung 400 tahun selama kekuasaan Ottoman di Palestina. Selama 400 tahun orang Yahudi tadinya eksodus ke Mesir, Suriah, Libanon kemudian tersebar ke seluruh dunia. Mereka inilah yang orang Eropa sebut etnis Semit, yang artinya imigran Arab. Dan lucunya semua Yahud disebut etnis semit. 


Padahal tidak semua. Namun perlakuan diskriminasi sama saja. Kemudian Elite Politik Eropa dan Rusia yang paling banyak komunitas Yahudi berniat untuk memindahkan mereka ke tempat lain. Rencana awal memindahkan ke Afrika atau Argentina. Tetapi akhirnya gagal. Gagalnya karena masalah biaya. Semetara diskriminasi politik kepada etnis Yahudi semakin keras. Setelah itu barulah muncul nama Palestina sebagai tempat relokasi etnis Yahudi.” Kata Rachel tersenyum.


“  Mengapa ke Palestina? 


“ Kan sudah saya ceritakan diawal, wilayah palestina itu kekurangan penduduk. Tempatnya relatif subur. Jadi kamu pahamkan. Tidak ada ambisi etnis Yahudi mau kembali ke Palestina. Tapi mereka dipaksa oleh kekuatan politik di Eropa dan Rusia. Kalaulah tidak ada politik diskriminasi, ngapain kami ke Palestina. Toh kami sudah nyaman tinggal di Eropa dan Rusia. Secara ekonomi, saat itu kami sudah mapan. Bukan sampah masyarakat. “ Rachel sampai pada kesimpulan yang sederhana. Namun masuk akal. Saya bisa membayangkan betapa buruk nasip orang asing tinggal di negeri orang setelah sekian keturunan tetap saja dianggap asing dan didiskrimasi. Tidak ada agama yang membenarkan itu.


“ Karenanya” lanjut Rachel.” Memidahkan orang Yahudi yang tersebar dibeberapa negara itu ke Palestina tidak mudah. Harus ada usaha luar biasa. Perlu gerakan politik besar. Pada tahun 1895  Zionist Movement dipopulerkan di Vienna oleh Theodore Hertzl yang kemudian tahun 1896 ia menulis buku  berjudul “Der Judenstaat” atau “The Jewish State”. Buku itu menjadi inspirasi bagi orang Yahudi. Ya sebetunya itu hanya bisnis yang dibungkus politik. Sebuah konsep politik untuk mendorong orang Yahudi untuk mau pindah ke Palestina tanpa dipaksa dan kalau bisa mereka bayar tanah yang mereka tempati di Palestina. Maka antara politik dan bisnis bercampur sudah. 


Pada awalnya tahun 1896 gerakan zeonis memohon kepada Sultan Abdul Hamid II untuk memberikan tanah di Palestina dengan imbalan bantuan keuangan kepada sultan. Tapi ditolak oleh Sultan. Nah kegagalan ini jadi bahan provokasi oleh gerakan zeonis, seakan penolakan Sultan karena kebencian umat islam kepada Yahudi. Ini memicu persatuan bagi seluruh etnis Yahudi dimana saja berada. Dari kelas petani, buruh sampai pengusaha bersatu. Ini bukan lagi sekedar gerakan politik tetapi sudah menjadi gerakan agama atas dasar keimanan. Kuat sekali. Tentu kalau sudah bicara agama, bisnis mendatangkan uang lebih mudah. Orang kaya Yahudi mudah dipengaruhi agar menyumbang gerakan ini. “ kata Rachel.


“ Dan saat itulah gerakan Zeonisme melakukan aksi teror terhadap kekuasaan Sulta Hamid II agar tujuan politik menguasai wilayah Palestina berhasil. Tapi tidak pernah berhasil aksi itu, ya kan? Kata saya. Rachel tersenyum. “ Aksi teror yang dilakukan oleh Jihadis islam sekarang, dulu juga pernah dilakukan oleh gerakan Zeonis. Ok lanjut” Lanjut saya.


“ Ok. Sejak perempatan terakhir abad ke-19 kekuasaan Dinasti Turki Ottoman semakin meredup. Itu memberikan peluang besar bagi masuknya orang- orang Yahudi di kawasan Palestina dalam jumlah besar. Mereka masuk tidak dengan pasukan dan senjata. Mereka masuk membawa uang. Para bangsawan Turki yang ada di Palestina menjual tanah kepada pendatang Yahudi. Mereka semakin kaya. Sementara Rakyat juga melepas tanah itu untuk dijual. Itu karena mereka sangat miskin. 


Nah mari berandai andai, andaikan Sultan memang berkuasa dengan tujuan kemakmuran, tentu tidak ada kemiskinan dan tidak ada tanah yang dijual untuk hidup rakyatnya. Kalau para bangsawan itu loyal kepada Sultan, tentu mereka tidak akan menjual tanah itu kepada Yahudi. Tentu sejarah akan berbeda. Namun itulah yang terjadi. Elite politik Zeonis tentu dapat untung besar dalam bisnis relokasi ini. Orang kecil hanya diperalat untuk kepentingan para elite.


Proses pemidahan penduduk tidak berlangsung efektif. Karena Palestina masih dikuasai Ottoman. Maka perlu langkah besar. Gerakan Zeonist mendapat angin segar dengan adanya dukungan dari Ratu Inggris. Inggris berencana merebut wilayah Kesultanan Turki Ottoman yang ada di Timur Tengah. Inggris menandatangani Perjanjian Balfour yang isinya memberikan hak kepada Yahudi internasional untuk mendirikan negara zionis di Palestina jika Turki Ottoman sudah dikalahkan. Syaratnya?  kaum zionis harus bisa membujuk Amerika Serikat membantu Sekutu melawan kubu Jerman di Perang Dunia I dan memberikan pembiayaan perang.


Tahun 1918, Palestina jatuh. Jendral Allenby merebut Palestina dari Khilafah Turki Ottoman. Setahun kemudian, secara resmi mandat atas Palestina diberikan kepada Inggris oleh LBB.  Antara tahun 1920-an hingga 1940-an, jumlah orang Yahudi yang datang ke wilayah itu bertambah. Banyak di antara mereka adalah orang Yahudi yang menyelamatkan diri dari persekusi Eropa dan mencari tanah air sesudah Holokaus Perang Dunia Kedua. Disini elite Zeonis betambah kaya karena mereka yang datang itu engga gratis. Harus bayar. Tapi setelah itu Inggris tidak menepati janjinya mendirikan negara Palestina kepada gerakan zeonis." 


“ Mengapa ? Saya berkerut kening.


“ Masalahnya orang Arab hanya tahu "Deklarasi Balfour”yang ditandatangani pada 2 November 1917 itu tidak ada kaitannya memberikan wilayah untuk berdirinya negara Israel bagi Yahudi. Itu hanya relokasi etnis Yahudi ke palestina. Apalagi legitimasi deal ini dimasukkan ke dalam Perjanjian Damai Sevres pada 10 Agustus 1920 antara Ottoman Turki dan sekutu. Intinya Palestina tetap di bawah kekuasaan inggris. Ya kaum Yahudi jadi pecundang kerakusan elitenya. Sementara akibat relokasi Yahudi ke Palestina itu menimbulkan kekerasan antara Yahudi dan Arab, dan aksi menentang kekuasaan Inggris, juga meningkat. Kerusuhan meluas.


Sebagai solusi agat tidak ada chaos, pada tahun 1947, PBB memutuskan wilayah Palestina dibagi menjadi dua negara terpisah bagi bangsa Yahudi dan bangsa Arab Palestina. Adapun Yerusalem ditetapkan sebagai kota internasional. Pengaturan itu diterima oleh kalangan pemimpin Yahudi tetapi ditolak oleh bangsa Arab dan kemudian tidak pernah diterapkan. Karena tidak bisa menyelesaikan masalah, pada 1948 Inggris angkat kaki dan para pemuka Yahudi mendeklarasikan pembentukan negara Israel. Yang pertama-tama mengakui Israel adalah AS. Dasar AS mendukung karena deklarasi Deklarasi Balfour.


Tentu berdirinya negara Israel memancing kemarahan orang Arab. Pada 1948 Perang Arab Israel I meletus. Rencana Liga Arab menyingkirkan negara Israel, gagal. Tapi Mesir, Jordania, dan Syria masing-masing menduduki sebagian wilayah Palestina seperti Gaza, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan. Kegagalan pada tahun 1948 mendekatkan negara-negara Arab dan meningkatkan rasa solidaritas dengan dunia muslim. Mereka  tidak ingin menerima hasil tersebut dan bersumpah untuk balas dendam. Dan karena tidak bersedia menerima kekalahan terhadap negara kecil Yahudi, Barat menjadi kambing hitam. Lahirlah sebuah legenda yang sampai saat ini mencekoki kelompok radikal dan para populis. Israel adalah pos sementara Barat yang anti Arab dan anti Islam di kawasan itu. Seperti yang dulu terjadi saat perang salib.

Diperburuk lagi karena adanya perang dingin antara AS dan USSR. Mesir, Suriah dan Irak bermitra dengan Moskow. Dan hal ini semakin mempererat jalinan hubungan antara Israel dengan Amerika Serikat serta di kalangan negara Arab yang konservatif. Pada Juni 1967 ketika Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser tanpa mengindahkan peringatan Israel, tetap menutup kawasan perairan di sekitar Tiran. Dan dengan demikian memberi alasan bagi Israel untuk menyerang. Perang terjadi. Mesir dibantu oleh ordania dan Suriah.


Hanya dalam waktu enam hari, Israel menguasai seluruh Tanjung Sinai, Jalur Gaza, Tepi Barat Yordan serta dataran tinggi Golan. Sejak itu Israel menguasai seluruh kawasan Palestina dan pihak Israel berharap datangnya isyarat dari Amman atau Kairo, yang menawarkan perdamaian sebagai timbal balik kawasan yang dikuasai tersebut. Sinyal yang tidak pernah berbunyi. Bahkan di Khartum, Liga Arab memutuskan tidak mengakui, tidak mengadakan perundingan dan tidak berdamai dengan Israel.


Dalam perang tahun 1973, Suriah dan Mesir berhasil memukul Israel. Tapi tidak ada pihak yang betul-betul menang. Tahun 1974 keluar resolusi PBB No. 194 tentang two state solution. Ini mengubah sikap Presiden Mesir Anwar Sadat untuk membuka inisiatif perdamaian. Yang akhirnya ditandatangani di Camp David , AS tahun 1979. Perdamaian itu dapat dukungan dunia Arab, namun ditolak Palestina. Baru tahun 1993 Israel dan PLO menetapkan agenda perdamaian yang meliputi penarikan Israel dari kawasan yang dikuasainya dan pembentukan negara Palestina. Solusi perdamaian dikenal apa yang disebut dengan Two State Solution.  Dua negara, Israel dan Palesina diakui berdaulat, berdiri berdampingan secara damai. 


Faksi Fatah bersedia menerima keputusan Two state solution  yang ditetapkan PBB. Namun dari PLO, faksi HAMAS menolak. Sementara penolakan di pihak Israel datang dari Partai Likud di bawah Benjamin Netanjahu, yang menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tanah air. Perdana Menteri Jitzhak Rabin yang menandatangani perjanjian itu di Oslo terbunuh. Anwar Sadar juga terbunuh. Sesudah Netanjahu terpilih sebagai perdana menteri, Israel dan Hamas semakin sering melakukan sabotase kesepakatan Oslo. Dari krisis politik dalam negeri Israel semakin besar ketidakpuasan atas penyelesaian Palestina. Terutama mayoritas rakyat israel tidak ingin terus ada konflik.


Tahun 2000 muncul pemberontakan Al Aqsa Intifada kedua yang menghancurkan hampir semua hal-hal positif yang lahir di kawasan Palestina sejak perjanjian Oslo. Dari kawasan otonomi kembali menjadi daerah kekuasaan Israel, dan di bawah Perdana Menteri Ariel Sharon Israel mulai memisahkan diri dengan tembok dan pagar pembatas. Tahun 2003 Two state solution diperbarui PBB. Agar semua pihak focus kepada perdamaian.


Tahun 2006 kelompok Islam Hamas memenangkan pemilu. Mereka menolak Israel dan perundingan Oslo. Palestina kembali mengalami isolasi terutama oleh Barat. Israel menemukan dalih untuk tidak memberi persetujuan. Terutama di kawasan yang dibersihkan Israel Jalur Gaza, semakin sering berlangsung perang terbuka. “Kata Rachel.


“ Di tengah perebutan geostrategis di Timur Tengah antara AS, Rusia, China. Siapa yang pro salah satu pihak diantara tiga negara besar itu, pasti  aman dari segala rekayasa politik yang akan menimbulkan ketidak stabilan dalam negeri. Setidaknya tirulah Iran yang pro Rusia dan China, walau diembargo AS tetap aja aman karena dimanjakan bandar. Jual roket ke Hamas." Kata saya. Rachel tersenyum. Kami seruput kopi. Di luar udara samakin dingin. 


" Mengapa tidak berdamai saja. Toh PBB sudah ada Two-state solution. Itukan bagus. Israel diakui sebagai negara berdaulat oleh seluruh negara di dunia termasuk OKI dan Palestina menjadi negara berdaulat. Masing masing orang berhak memilih mau jadi warga negara apa. Yang penting hidup damai berdampingan. " Kata saya.


“ Walau saya tidak pernah percaya HAMAS, namun saya tidak akan membenci umat Islam. Apapun golongannya. Mengapa? Saya paham bahwa terhambatnya kemerdekaan Palestina, sesuai resolusi PBB tentang Two - state Solution  ditentang oleh Partai Likud di Israel dan Hamas di Palestina.  Keduanya baik Partai Likud maupun HAMAS memperebutkan kota Yarusalem sebagai ibukota. Keduanya saling tidak mengakui eksitensi masing masing. Keduanya memsabotase kesepakatan Oslo dan Resolusi PBB. Mengapa ? karena politik kepentingan para elite. Dan itu bisnis dibungkus Politik identitas. Di israel, partai Likud hidupnya jualan agama guna menarik donasi dari etnis yahudi di seluruh dunia. Anda tahu kan. 2/3 aset dunia dikuasai etnis Yahudi. Jadi 2% saja mereka sumbang, itu partai engga akan pernah kalah pemilu di israel dan pasti para elitenya kaya raya.

Di pihak Palestina, faksi Hamas perlu narasi perjuangan merebut kota Suci Yarusalem dan mengenyahkan Israel. Ini efektif sekali sebagai kemasan menarik donasi dari umat islam sedunia. Di Timur tengah itu banyak orang kaya Arab yang gampang emosinya terpancing membantu perjuangan merebut kota Yarusalem. Belum lagi dari negara islam lainnya. Mereka militan sekali cari sumbangan membatu HAMAS. Jangankan uang, nyawapun mereka siap korbankan kalau diminta. Yang kaya ya elite Hamas.


Yang bikin rumit dan sulitnya jalan mencapai kemerdekaan bagi rakyat Palestina adalah para broker donasi ikut terlibat terus mengompori seperti sales MLM. Masalah kecil diperbesar dan dianalisa yang ujungnya perlu donasi lagi. Saya pernah bertemu dengan Fund Manager Filantropi untuk Israel dengan alasan membantu kemanusiaan di Gaza.  Uang mengalir lewat Qatar, namun singgah di rekening elite Likud, kemudian berbagi dengan elite Hamas. Mengapa ? agar drama terus berjalan dan donasi selalu ada underlying. Ya para broker jadi kaya raya juga.


Engga percaya? Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina, bersama dengan Pusat Penelitian Perdamaian Tami Steinmetz di Universitas Tel Aviv,  melakukan survey. 1. Dua negara berdampingaa secara damai. 2. Satu negara dengan hak yang sama setiap warga ( palestina dan Israel ). 3.  Satu negara tanpa hak yang sama untuk Palestina, atau pengusiran atau "transfer" populasi minoritas dari Israel atau Palestina yang lebih besar. Apa hasilnya? 43% rakyat kedua belah pihak memilih dua negara  berdampingan secara damai. Itu artinya mayoritas rakyat kedua negara ogah ribut dan inginkan perdamaian.  Nah kita, kamu muslim dan saya, Yahudi, walau berbeda tetaplah bersatu dalam kemanusiaan. Jangan kita bermusuhan karena ulah provokasi elite yang rakus dan gila itu. " Kami mengakhiri pembicaraan itu dalam dinginnya Swiss.

Thursday, May 13, 2021

Harga dan nilai KPK

 





KPK lahir dari rahim reformasi. Dengan adanya KPK kita berdamai dengan masalalu dan berharap di masa depan tidak lagi terjadi KKN. Kita juga berdamai dengan lembaga seperti Jaksa, Polisi yang kita anggap gagal mengawal negara dari tindak korupsi selama era Soeharto. Walau KPK hanya semacam lembaga Adhoc namun semua harapan untuk menciptakan sistem pemerintahan yang bersih itu ditempatkan di pundak KPK. Singkat kata, KPK adalah semacam endorsement terhadap era reformasi  yang pasti berbeda dengan Era Soeharto. Kita sepakat melihat masa depan dengan harapan baru.


Dengan harapan yang begitu besar, sehebat apapun KPK sebagai sebuah sistem pemberantasan korupsi, namun tetap saja sukses KPK tergantung kepada petugasnya.  Kalau standar petugasnya itu sama dengan Polisi dan Jaksa, lantas untuk apa KPK diadakan?. Bukankah itu sama dengan pemborosan anggaran. Artinya ketergantungan pemberantasan korupsi bukan kepada lembaga atau sistemnya tetapi kepada petugasnya. Dalam hal ini, petugas KPK harus berbeda dari petugas penegak hukum lainnya. 


Saya sempat bertanya sama teman di China soal perang melawan Korupsi. “ Kalau ingin korupsi diberantas, pastikan petugasnya dipilih oleh mereka yang dapat mandat langsung dari wakil rakyat yang idiologinya kuat dan semangat kebangsaannya teruji. Artinya mereka memang mendedikasikan hidupnya untuk rakyat atas dasar idiologi kebangsaan. Karena musuhnya adalah pejabat pemerintah maupun politisi yang mungkin saja dipilih lebih karena skill dan soal idiologi kurang diperhatikan. Yang kadang harus menetapkan hukuman mati kepada pelaku korupsi” Katanya.


Dia katakan bahwa di China, perang terhadap korupsi satu kesatuan perang membela idiologi komunis. Apabila gagal membrantas korupsi maka itu sama saja menghancurkan idiologi komunis dan PKC bisa bubar. Itu sebabnya  kalau Indonesia mempunyai KPK, China memiliki Central Commission for Discipline and Inspection ( CCDI ). Kalau KPK anggota komisioner di pilih oleh DPR dan Presiden dan diajukan ke DPR untuk dapat pengesahan.  Tentu dengan sistem seperti ini, sulit menjamin independensi KPK.  Pasti ada politik kepentingan bermain. 


Sementara di China Aggota CCDI dipilih oleh Kongres Nasional ( DPR/MPR). Sebagai catatan, Anggota Kongres Nasional itu  anggota PKC hanya 1/3 saja, 2/3 dipilih langsung oleh rakyat. Anggota CCDI menjabat untuk masa jabatan lima tahun. Kemudian anggota terplih bersidang menunjuk Sekretaris, wakil sekretaris, sekretaris jenderal dan Komisioner.  Sekretaris CCDI merangkap sebagai Aggota Komite Tetap Polit biro PKC, yang membuktikan kebijakan CCDI adalah juga kebijakan PKC yang tidak bisa dibantah. Jadi terlihat jelas political will China terhadap pemberantasan korupsi. Tidak ada peran pemerintah ada di CCDI. CCDI diawasi langsung oleh mereka yang terpilih dalam kongres nasional  ( DPR/MPR).


Tugas pokok KPK secara UU, sama dengan CCDI yaitu lebih berat kepada pengawasan dan pencegahan,  sekaligus perbaikan  sistem birokrasi agar terhindar dari praktek korupsi. Sementara tugas penindakan porsinya lebih sedikit daripada tugas pengawasan. Ini sesuai dengan standard United Nations Convention Against Corruption (UNCAC). Yang jadi masalah di KPK kita , tugas pengawasan itu dalam prakteknya lebih sedikit daripada tugas penindakan. Itu sebabnya sejak KPK berdiri, 17 tahun lalu sampai kini  Indeks Persepsi Korupsi (CPI) tahun 2020 yang dirilis Transparency International (TI) Indonesia menunjukkan lebih dari dua pertiga negara berada di bawah skor 50 , dengan skor rata-rata global 43.  Sangat rendah prestasi untuk kerja 17 tahun. Praktis tidak berubah secara significant sejak awal KPK berdiri.


Di China, CCDI berperan besar melakukan reformasi Birokrasi. Terlaksananya perluasan eGovernment dalam sistem administrasi pemeritahan juga menjangkau kepada sistem lalulintas transaksi publik.  Di China ada pembatasan transaksi yang dibolehkan secara cash. Selebihnya harus secara digital sehingga pemerintah bisa mengawasi semua  rekening ASN/militer di bank maupun non bank. Sistem IT juga semakin canggih, dari awalnya sistem PIN, kini sudah ke face identification melalui pemasangan CCTV disetiap sudut kota. Terakhir semua sistem pembayaran , perpindahan asset, transaksi sudah menggunakan sistem blockchain yang dikontrol oleh negara. 


Misal data produksi pertanian bisa diketahui secara real time disetiap wilayah. Sehingga efektifitas anggaran subsidi dalam rangka meningkatkan produksi dapat diketahui oleh CCDI dengan cepat. Kalau ada indikasi penyimpangan bisa cepat diantisipasi sebelum terjadi meluas. Memang proses reformasi birokrasi terus berlangsung dan selalu di update agar tidak ada celah untuk korupsi. Ongkos membangun sistem birokrasi dengan standard Good governance tidak kecil. Namun ongkos yang keluar jauh lebih kecil dibandingkan potensi korupsi kalau sistem pengawasan secara modern tidak ada.


Dikita, KPK selama 15 tahun beroperasi, menurut Politisi PDIP Masinton Pasaribu menghabiskan anggaran sebesar Rp. 15 triliun, sementara uang negara yang diselamatkan hanya Rp. 3,4 triliun. Memang ada laporan KPK soal prestasi pengawasan dan pencegahan. Diberitakan Kompas,com (17/10/2019), sejak berdiri pada Desember 2002 lalu, Total uang yang diselamatkan KPK, atau potensi kerugian negara yang tidak jadi hilang karena korupsi sejak 2004 hingga 2018 mencapai Rp 161,1 triliun. Itu hanya data. Apakah benar? kita tidak tahu pasti. Faktanya Index korupsi tidak berubah secara significant. Bagaimana prestasi OTT KPK? itu lebih banyak kepada suap. Padahal suap itu tidak ada kaitanya dengan uang negara. 


***

KPK melakukan test wawasan kebangsaan ( TWK) kepada petugas KPK. Test itu sebagai  asesmen seseorang layak atau tidak jadi ASN. Makanya test tersebut sangat penting sebagai syarat menjadi seorang ASN. Itu sebagai dampak  atas perubahan status pegawai KPK sesuai Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang KPK. Memang TWK itu tidak diatur dalam UU No. 19/2019 tentang KPK, namun  keberadaan TWK itu diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2014. Jadi kalau mau jadi ASN ya harus melewati TWK. Engga mau, ya jangan jadi  ASN.


Yang dipermasalahkan oleh publik terutama kalangan anti pemerintah menganggap TWK itu sangat politis. Mengapa dalam test itu katanya disebut ada pertanyaan-berkaitan dengan pandangan pegawai KPK terhadap program pemerintah. Bahkan ada pertanyaan yang menyinggung FPI yang telah resmi dilarang pemerintah pada akhir 2020, hingga pertanyaan terkait pemimpin FPI Rizieq Shihab. Ya memang kalau berkaitan dengan Wawasan kebangsaan pastilah politik. Saat anda jadi ASN, saat itu anda bekerja sesuai agenda politik pemerintah. Ya pemerintah yang berkuasa. Jadi kalau ada yang bilang test itu sengaja menyingkirkan orang yang dianggap hebat, ya ukuran ASN bukan hanya hebat tetapi juga loyal kepada UU dan UUD 45. Hebat tapi anti idiologi negara ya sorry saja. Silahkan cari kerjaan lain.


Pihak yang tidak menerima  TWK, mengajukan gugatan kepada MK.  Tidak ada masalah. Itu hak mereka. Hasilnya? MK menolak gugatan itu. Ya pastilah ditolak. Mengapa ? Tidak ada relevansinya mempersoalkan status pegawai AS dengan pengawasan ASN oleh KASN dan pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Pengawas karena keduanya saling melengkapi.  Mau lapor kemana lagi? Ke Mahkamah International? Monggo. Ini negara berdaulat dan setiap ASN harus patuh kepada pemerintah. Apapun program pemeritah harus dukung. Rakyat juga harus dukung. Engga suka? Diam! Kalau tak bisa diam.? Minggat aja dari NKRI. Toh era globalisasi orang tidak paksa harus tinggal di negaranya. Yang penting dimanapun berada, bayar pajak, salah ya masuk penjara.


***


Kembali kepada pembahasan awal bagaimana seharusnya KPK yang kita harapkan? Kita tidak butuh lembaga. Udah terlalu banyak lembaga. Kita butuh petugas yang punya mental bela negara. Orang yang idealis dengan passion kebangsaan tinggi. Kebangsaan yang tinggi itu juga bagian dari nilai nilai agama yang melekat kepada seseorang. Apa jadinya kalau petugas KPK itu dalam dirinya tidak punya nilai nilai kebangsaan yang bersumber kepada idiologi negara? Jelas passionnya diragukan, apalagi nilai agamanya. Jelas lebih baik kita kembalikan tugas pemberantasan korupsi kepada kejaksaan dan Polri. Tipikor diperkuat saja. KPK bubarkan.


Saya tidak berprasangka buruk kepada 75 orang petugas KPK yang gagal TWK. Namun sebagai prasyarat untuk lembaga super body seperti KPK seharusnya para petugas yang gagal TWK itu sebaiknya cari kerjaan lain saja. Kalian memang orang hebat tapi tidak tepat untuk jadi petugas KPK. Ingat, rakyat mau menjatuhkan Soeharto karena muak dengan para koruptor. 

Sunday, May 2, 2021

Rekonsiliasi Politik.

 

Rekonsiliasi Politik.


Zaman Soekarno pernah ada koalisi tiga idiologi, yaitu Nasionalis, Komunis dan Agama. Di singkat, NASAKOM. Barisan nasional ini dibentuk Soekarno berdasarkan hasil Pemilu 1955. Fakta politik di Indonesia hanya tiga idiologi itu yang diterima oleh rakyat.  Soekarno sadar bahwa dia penyambung lidah rakyat. Dia tidak bisa mengingkari eksitensi ketiga idiologi itu. 


Namun Soekarno juga sadar bahwa tiga kekuatan itu tidak bisa ditempatkan dalam sistem demokrasi liberal. Tetapi harus demokrasi terpimpin. Itulah sebabnya, berkat dukungan tiga kekuatan itu, Soekarno bubarkan legislatif hasil pemilu dan kembali kepada UUD 45 yang dianggap lebih cocok dengan Pancasila.


Di Era Soeharto, kita tidak punya basis idiologi yang jelas. Maklum kekuatan Orde baru dipegang oleh Golkar yang merupakan antitesis dari ketiga idiologi yang ada di Indonesia itu. Mengapa ?  Golkar itu awalnya didirikan oleh TNI-ABRI, yang menentang adanya paham idiologi yang ada ( nasionalis, komunis dan agama). Pada era Soekarno, TNI-ABRI berpolitik lewat Sekber Golkar. Dan di era Soeharto, TNI-ABRI menjadikan Golkar sebagai kendaraan untuk berkuasa. Payungnya adalah Pancasila. Pancasila sesuai dengan persepsi Soeharto. Gerakan nasionalisme dan agama di bonsai sesuai dengan prinsip Pancasilanya Soeharto.  Komunis di bubarkan.


Di Era reformasi, Golkar mendirikan Partai Golkar. Namun sejak TNI-ABRI keluar dari Golkar dengan tersingkirkan Edi Sudrajat dalam Munas Golkar tahun 1999, Golkar tidak berubah. Masih dengan platform kekuasaan orde baru. Kemudian TNI melalui operasi intelijen mendukung berdirinya PKB, PAN, dan PKS. Tujuannya membuat keseimbangan terhadap Golkar. Namun era SBY, koalisi partai islam ( PPP,PKB, PKS, PAN ) dan partai  pragmatis  ( Golkar, PD dll ) berkuasa. Prinsip nasionalism diabaikan. Saat itulah TNI mendukung bangkitnya PDIP sebagai penyeimbang. Mengakiri kekuasaan SBY, PDIP jadi pemenang pemilu. Jokowi berkuasa.


Era Pertama Jokowi berkuasa, ada upaya membenturkan Nasionalis dan Islam. Siapa yang punya ulah? Siapa lagi kalau bukan elite Ex order baru. Sampai dengan sekarang, provokasi konflik antara nasionalis dan islam sengaja didengungkan terus. Kalau ini tidak ada upaya rekonsiliasi secara struktural maka negara ini akan menjadi negara gagal politik. PDIP berusaha mengurangi polarisasi politik agar semua orientasinya kepada Pancasila dan NKRI. Tentu tidak lepas dari upaya intelijen negara. 


Kalau nanti Pemilu 2024 masih ada polarisasi seperti Pemilu 2019, maka situasinya akan tidak sehat terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.  Anggap sajalah Pemilu 2014 dan 2019 adalah bencana yang melahirkan cebong dan kadrun. Sudah seharusnya itu dihapus dan kembali kepada politik akal sehat. Ditangkapnya Munarman dan diancam MRS dengan dakwaan 10 tahun penjara adalah proses menuju rekonsiliasi politik ditingkat elite. Nanti Pemilu jangan ada lagi politik identitas. Cukuplah pancasila. Silahkan bersaing lewat program saja.


Tuesday, April 27, 2021

PDIP dan PKS.

 





Sejak saya masuk dalam bisnis portfolio asset, saya terbiasa menggunakan data riset. Data risetpun harus bersumber dari lembaga yang punya reputasi. Reputasipun bukan sekedar nama besar tapi ada survey yang membuktikan bahwa lembaga tersebut punyat trust dengan skor diatas 95%. Mengapa? dunia portfolio itu penuh dengan rumor dan bisik bisik. Semua yang dekat maupun jauh, sama saja. Tidak bisa dipercaya 100%. Bahkan bukti chart trend market yang bombamdis tidak boleh memancing kita membuat keputusan mengikuti trend pasar, kecuali itu ada data riset mendukung. Jadi karena itu saya tidak pernah didikte oleh pasar.  Selalu aman dari predator dibalik program too good to be true.


Sejak diperkenalkan adanya metode survey dalam menilai tingkat elektabilitas partai maupun partisipan, dan dibolehkan oleh UU untuk  melibatkan lembaga survey melakukan quick count PEMILU.  Maka lembaga survey benar benar bukan hanya sekedar pemantau tetapi juga jadi alat demokrasi bagi rakyat dalam menyikapi fenomena politik dan bersikap karena itu. Bagi partai pun, hasil survey dijadikan dasar mereka membuat kebijakan dan keputusan politik. Jadi dengan adanya metode suvery berdasarkan prinsip akademis yang ketat, pemilu tak ubahnya dengan bursa. Orang bego beli karena rumor, orang cerdas beli karena data. Sampai di sini paham ya.


Nah, saya ingin menganalisa keberadaan PKS dalam pemilu 2024.  Saya menggunakan data survey. Bukan berdasarkan katanya katanya. Lembaga Survey yang saya pilih adalah Kompas. Mengapa ? Tingkat kepercayaan survei 95 persen dengan margin of error 2,83 persen. Jadi cukup ya sebagai sumber data. Baik lanjut ya.


Berdasarkan data survey elektabilitas partai pada januari 2021, yang diumumkan bulan februari,  hasilnya adalah PKS berada pada posisi 4 besar, setelah PDIP, Gerindra, PKB.   Bagaimana pemilih berdasarkan segmentasi. Kita lihat minat pemiliih muda yang merupakan mayoritas pemilih dan kritis.  Berdasarkan Survey bulan maret 2021 dari Lembaga Indikator Indonesia, PKS masuk empat besar, setelah Geridra, PDIP, Golkar. Semetara , Nasdem, PPP, PAN, PSI, dan lainnya jauh tertinggal.


Berdasarkan data tersebut diatas, wajar saja kalau PDIP undang DPP PKS ke markasnya. Untuk diskusi.  Karena berdasarkan data, PKS adalah partai yang masuk 4 besar. Jauh lebih besar dari Golkar atau  Nasdem atau Demokrat, bahkan partai lainya. PKS hanya selisih 0,2 % dari PKB. Artinya PKB yang didukung NU elektabilitasnya hanya berselisih dibawah 1% dengan PKS. Wajarlah kalau PDIP sebagai partai pemenang pemilu lebih utamakan bicara dengan PKS  yang masuk 4 besar. Partai lain? engga penting amat sih.


***

Sejak era SBY, PKS dan PDIP ditingkat elitenya tidak pernah duduk satu meja. Kecuali akar rumputnya. Pertemuan mereka hari ini (27/4/2021), memang luar dari biasa. Ini kali pertama. Apa agendanya kalau dua partai bertemu? Soal pemilu tentunya. Mungkin anda mengira bahwa PKS akan mengusung Anies ? No. Anies tidak pernah jadi kader PKS. Ingat,  dia diusung Gerindra dalam Pilkada DKI. PKS tidak mungkin lagi berkoaliasi dengan Gerindra dalam Pemilu 2024. Anies tidak mungkin dicalonkan Gerindra. Anies kemungkinan dicalonkan koalisi partai NASDEM dan Golkar bersama Demokrat. Namun tanpa PKS, koalisi itu tidak punya buldozer di garis depan. Bisa saja, PDIP dekati PKS agar engga ikut koaliasi mereka dan amankan pilihan PDIP.

Wednesday, April 7, 2021

Aswaja dan Radikalisme

 



Banyak orang memahami bahwa teroris itu adalah islam sebagai sebuah agama, yang tentu termasuk ajarannya.  Sebetulnya pemahaman ini bagi orang awam yang tercemar politik identitas.  Islam sebagai sebuah agama memang terdiri dari 72 golongan. Masing masing golongan merasa paling benar. Namun perbedaan ini tidak menjadi kebencian. Justru melahirkan rahmat. Baru menjadi konplik ketika masuk ranah politik.  Jadi politik identitas  islam adalah melawan takdir dari keberagaman golongan dalam islam. Pasti paradox hasilnya. Pasti gagal.


Aswaja

Di Indonesia sebetulnya hanya ada satu golongan yaitu Aswaja atau  ahlulsunnah waljamaah. 85% umat islam di Indonesia beraliran aswaja. Apa itu Aswaja? Aswaja berpedoman pada rumusan akidah Imam Abul Hasan Al-Asyari, dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Syekh As-Safarayni Al-Hanbaly dalam Al-Lawami’ menambahkan Al-Atsariyah sebagai bagian dari keluarga besar Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu para pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Secara harfiah, penganut tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kesepakatan para ulama. Watak moderasi  atau washatiyah yang dimiliki oleh faham ini,  baik dalam sistem keyakinan (aqidah), syari’ah maupun praktik akhlak/tasawuf sesuai dengan corak kebudayaan masyarakat Indonesia.


Namun Muhammadiyah, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Al Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, meski jelas-jelas menganut faham Aswaja tidak pernah disebut sebagai kaum ASWAJA.. Itu karena pemahaman dan pengamalan Islam lebih menekankan kepada kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah, menolak taklid kepada ulama, pemurnian aqidah, dan pengamalan tasawuf tanpa tarekat. Sementara itu, NU sebagai pendukung ASWAJA, menambah praktik ibadah dengan taqlid kepada ulama, mengamalkan apa yang disebut dengan fadha’il al-a’mal, dan tarekat.


Aswaja secara aqidah melarang melakukan kekerasan dalam beragama. Tidak menjadikan islam dalam sistem politik. Apapun bentuk negara tidak dipermasalahkan. Aswaja berfocus membangun islam nilai dalam sistem pemerintahan dan masyarakat lewat program pendidikan dan ibadah salih. Namun dalam Aswaja kadang individunya berpolitik. Maka munculah gerakan tarbiyah , HTI, dan lainnya. Tarbiyah membangun gerakan politik identitas melalui gerakan kampus kaum terpelajar, yang akhirnya mendirikan PKS. Berbeda dengan HTI. Tarbiyah tidak ada agenda khilafah. Tetapi islam nilai. Sementara HTI berfocus kepada membangun pemikiran keharusan mendirikan khilafah dan menolak mendirikan partai dan tidak mengakui sistem demokrasi. Menolak jalan kekerasan mencapai tujuan.


Salafi dan Wahabi.

Kemudian munculah golongan Salafi dan wahabi. Apa itu Salafi dan Wahabi? Mazhab Salafi (manhaj Salaf) atau Salafisme berasal dari pertengahan hingga akhir abad ke-19, sebagai gerakan intelektual di Universitas al-Azhar, dipimpin oleh Muhammad Abduh (1849-1905), Jamal al-Din al-Afghani (1839-1897) dan Rashid Rida (1865-1935). Al-Afghani adalah seorang aktivis politik, sedangkan Abduh, seorang guru, mengusahakan reformasi sosial bertahap (sebagai bagian dari dakwah), khususnya melalui pendidikan. Nama Salafi berasal dari as-salaf as-saliheen (salafush shaleh), ‘pendahulu yang saleh’ dari komunitas Muslim awal, meskipun beberapa Salafi memperluas Salaf untuk memasukkan para ulama yang faqih di generasi selanjutnya.


Ideologi Salafisme dan Wahhabisme dibangun di atas teks agama yang didefinisikan secara sempit. Secara metodologis, mereka literalis dan puritan dalam pendekatan mereka terhadap teologi dan hukum Islam. Dalam hal yurisprudensi, Salafi dan Wahabi menganut mazhab dan aturan Hanbali. Namun, banyak dari mereka mengklaim tidak ada afiliasi khusus untuk mazhab tertentu. Sebagai gantinya, mereka mengklaim mengikuti pendapat yang lebih kuat di antara salaf berdasarkan Alquran dan Sunnah (praktik-ptaktik yang dicontohkan Nabi Muhammad).


Untuk menjaga kemurnian Islam, Salafi dan Wahhabi berupaya untuk agitasi terhadap praktik sesat seperti berdoa kepada makam, memuliakan ‘tempat suci’ dan ‘orang suci’. Hal-hal itu diklasifikasikan sebagai syirik, kufur, riddah (murtad), dan bid’ah. Mereka dengan kuat menolak kepercayaan dan praktik apa pun yang tidak diperintahkan oleh Alquran dan Sunnah Nabi. Misalnya, Salafi dan Wahhabi mengklaim bahwa praktik sufi seperti tawassul (perantaraan antara manusia dan Tuhan) yang telah terjadi selama berabad-abad sejak periode murni Islam, mengancam tauhid (monoteisme atau kepercayaan akan keesaan Tuhan).


Mereka percaya bahwa bid’ah dihasilkan dari adopsi budaya lokal oleh misionaris Islam dalam upaya mereka untuk menarik mualaf baru. Namun, perpaduan antara Islam dan adat ini secara signifikan membantu proses konversi ke Islam dengan membuatnya dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas. Secara ideologis, Salafisme lebih luas dari Wahhabisme. Pemikiran Salafi telah ada selama ratusan tahun dan telah menyebar ke seluruh dunia Muslim dan sekitarnya. Wahabisme baru ada sejak pertengahan abad ke-18. Meskipun benar bahwa Wahhabisme adalah Salafisme, itu hanya salah satu dari banyak orientasi Salafisme. Salafi dan Wahhabi bukanlah dua sisi dari mata uang yang sama.


Yang jadi masalah adalah Salafi merasa yang paling benar. Kehadiran mereka sebagai koreksi atas adanya penyimpangan ajaran islam seperti awal Islam diperkenalkan. Mengapa ? Kaum Salafi berpendapat bahwa kaum Muslim terdahulu telah memahami dan mempraktikkan Islam dengan benar, tetapi pemahaman yang benar tentang Islam perlahan-lahan luntur, sama seperti kaum para Nabi sebelumnya (termasuk Musa dan Isa) telah tersesat dan semakin luntur ajarannya. Salafi adalah solusi untuk merestorasi pemahaman islam dan seperti bangkitnya era pencerahan seperti di Eropa yang melahirkan kemajuan tekhnologi dan kehidupan sosial yang lebih baik. Mereka yakin, mereka sendiri adalah pewaris Zaman Keemasan Islam yang dipandu secara ilahi yang telah mengikuti ajaran Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.


Dalam hal formasi masing-masing, ajaran Wahabi dan Salafi cukup berbeda. Wahabisme adalah Islam murni yang menolak pengaruh modern, sementara Salafisme berusaha merekonsiliasi Islam dengan modernisme. Kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa keduanya menolak praktik-praktik Islam tradisional (yang bercampur dengan budaya lokal yang dianggap tak sesuai ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad), dan mendukung penafsiran langsung dan fundamental dari ajaran Islam yang murni. Meskipun begitu, dukungan Raja Faisal dari Arab Saudi atas pan-Islamisme Salafi menghasilkan penyerbukan silang antara ajaran ibn Abd al-Wahhab tentang tauhid, syirik dan bid’ah serta interpretasi Salafi tentang hadits (ucapan dan perilaku Nabi Muhammad).


Beberapa Salafi menominasikan ibn Abd al-Wahhab sebagai salah satu salaf (secara retrospektif memasukkan Wahabisme ke dalam Mazhab Salafi), dan Muwahid mulai menyebut diri mereka Salafi. Saat ini, ada banyak kelompok Salafi yang memproklamirkan diri, masing-masing menuduh yang lain menyimpang dari Salafisme yang ‘benar’. Mereka menuduh akar ideologis al-Qaeda kepada Sayyid Qutb dan pendiri Ikhwanul Muslimin Hassan al-Banna meracuni Salafisme. Padahal fakta sejarah, akar dari Salafisme adalah Ikhwani dan Qutbist-nya. Misalnya, kritik utama Abu Mu’aadh as-Salafee terhadap Qutb dan Hassan al-Banna adalah bahwa mereka mengklaim Islam mengajarkan toleransi terhadap umat Yahudi. Sementara itu, non-Muslim dan Muslim arus utama sama-sama menggunakan label ‘Salafi Wahabi’ untuk merendahkan kaum Salafi dan bahkan kelompok yang sama sekali tidak terkait seperti Taliban.


Asal muasal teroris dan radikalisme

Namanya Dzul Khuwaishirah, seorang Muslim penduduk Najed. Suku Bani Tamim. Dia  lahir ketika islam masih dibawah kepemimpinan Rasul. Dalam piikiranya, keberadaan Islam tidak ada bedanya dengan agama sebelumnya. Hanya dijadikan cara untuk berperang dan mendapatkan harta rampasan. Karenanya dia tidak sepenuhnya percaya kepada Rasul. Namun percaya agama yang dibawa Rasul adalah cara mudah untuk kaya dan berkuasa.  Awal dia masuk Islam, Rasul tidak beprasangka buruk terhadap Dzul Khuwaishirah. Dia dianggap sama seperti umat islam awal. Yang berusaha mendapatkan pencerahan atas kehadiran Islam.


Pada suatu waktu. Seusai perang Hunain. Pasukan islam mencapai kemenangan. Saat itu juga Rasul membagikan harta rampasan kepada pasukannya. Yang diutamakan Rasul adalah para mualaf. Tujuan Rasul tentu untuk menarik hati mereka terhadap Islam. Sementara pasukan yang sudah lama memeluk Islam tidak diutamakan. Alasan Rasul, orang yang sudah tertanam keimanannya terhadap Islam, tidak lagi berperang karena harta rampasan. Tetapi karena ingin mendapatkan ridho Allah.


Tetapi sikap Rasul ini ditentang oleh Dzul Khuwaishirah. Dia protes. “ Wahai Rasulullah, engkau harus berlaku adil”. Katanya yang disampaikan dihadapan para sahabat Rasul lainnya. Saat itu Umar Bin Khatap sempat emosi. Karena merasa Dzul Khuwaishirah meragukan kerasulan Nabi Muhammad.

 “ Izinkan saya memanggal kepalanya. “ kata Umar. 

“ Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur'an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target “ Kata Rasul menenangkan Umar.


Rasul berkata kepada Dzul Khuwaishirah “ Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil” Demikian cara Rasul meyakinkan Dzul Khuwaishirah untuk tidak ragu atas integritasnya. Tapi  bagi Dzul Khuwaishirah tetap saja dia tidak percaya atas sikap Rasul itu. Dia merasa lebih baik dan benar dibandingkan Rasul. 


Nah, oleh Nabi seorang Dzul Khuwaishirah dibiarkan terus hidup dengan sikap angkuhnya. Lambat laun sikap Dzul Khuwaishirah ini menular kepada umat islam lain.  Terutama kaum muda. Tetapi yang bisa dipengaruhinya adalah mereka yang punya motive harta dan tahta saja dalam berislam.  Yang ikhlas, tidak terpengaruh. Berikutnya mereka membentuk kelompok sendiri yang disebut kaum khawarij. Mereka mulai mengembangkan ajaran islam menurut versi mereka, yang tujuanya adalah politik kekuasaan. 


Engga tanggung tanggung caranya. Yaitu mereka berdalil atau mengutip ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, tapi itu semua dipergunakan untuk menyesatkan, atau bahkan untuk mengkafirkan orang-orang yang berada di luar kelompok mereka. Sehingga persatuan umat islam jadi lemah. Kelak setelah Nabi mangkat. Kaum Kawarij masuk kelompok ektrimis oleh pemerintaha amirul mukminin. Mereka melawah khalifah lewat aksi teror.  Ponakan Nabi dan juga menantu Nabi, Ali Bin Abihalib ketika jadi Khalifah, dibunuh oleh Abdullah bin Muljam, teroris dari kawarij. 


Ketika dieksekusi akibat perbuatannya, di dahi Ibnu Muljam, terlihat hitam sebab banyak sujud. Pelaku teror umumnya orang lugu beragama, bodoh dan miskin. Mereka hanya dimanfaatkan oleh mastermind kawarij untuk mencapai agenda politiknya. Jadi bibit teroris atas nama islam itu justru lahir ketika  Nabi masih hidup. Sampai kini, kaum Kawarij itu terus berkembang dimanfaatkan oleh politisi untuk berkuasa, dengan cara apapun. 


Ciri ciri mereka? suka berdalil. Merasa paling benar. Suka mengkafirkan orang berbeda. Jidat hitam. Berjanggut dan celana cingkrang. Pemimpinnya hidup mewah dan pengikutnya disuruh miskin. Dunia tidak penting. Akhirat yang utama. Sorga menanti bagi yang mati sahid. Sorga selalu diimajinasikan dengan pesta sex  ( sex orgy) bersama 72 bidadari yang selalu perawan


Provokasi radikalisme

Sebetulnya baik Aswaja maupun Salafii tidak ada istilah radikal. Mereka toleran. Mereka keduanya mengharamkan melawan pemerintah. Mengharamkan kekerasan. Dalam arti mengkudeta dan  membunuh. Hanya saja, kemudian munculah gerakan dari ustad atau ulama yang berkreasi menggabungkan Aswaja dengan salafi plus Wahabi. Mereka melakukan dakwah dan membentuk ormas, mengemas narasi islam yang bertujuan politik. Caranya menjadikan Aswaja dan Salafi-Wahabi sebagai referensi. Mereka pilih ajaran yang ada pada Aswaja dan Salafi- Wahabi yang cocok untuk agenda politik mereka.


Perhatikan bagaimana orang berproses jadi radikal. Misal. Udin belajar Salafi yang diterapkan oleh kaum wahabi. Dunia tidak penting. Akhirat yang utama. Semua yang diajarkan Aswaja yang berkaitan dengan islam lokal adalah bida'h. Untuk mencapai ridho Allah haruslah hidup sesuai dengan Al Quran dan Hadith secara murni. Tapi bagaimana caranya? Udin tidak diajarkan. Udin dilarang melakukan kekerasan. Apalagi melawan pemerintah. Kemudian setelah paham. Udin masuk Aswaja, yaitu melalui HTI. Nah di HTI diajarkan bagaimana keharusan mendirikan khilafah yang sesuai dengan Al Quran dan Hadith. Tetapi, lagi lagi HTI melarang melakukan aksi kekerasan untuk mendirikan khilafah.  Kemudian, Udin masuk FPI atau Jamaah Ansharut Tauhid atau lainnya seperti Mujahideen Indonesia Timur. Nah digerakan ini, wahabi dan aswaja dikemas jadi sebuah narasi jihad.  Misal, untuk memperkuat aqidah agar Islam diterapkan secara murni, maka perlu mendirikan khilafah. Bagaimana caranya? perangi mereka yang membela dan mempertahankan sistem thogut. Maka munculah narasi Jihad. Mati sahid dalam aksi teroris.


Jadi yang termasuk kadrun itu adalah mereka yang bukan aswaja dan juga bukan salafi. Tapi gabungan dari dua golongan plus Wahabi. Sesat. Bukan ajaran Islam sebenarnya. Tingkat radikalismenya tergantung ormasnya. Kalau digerakan oleh intelijen asing, mereka lebih militan. Tapi kalau digerakan murni agama, hanya rame di sosmed aja.

Tragedi Poso.

  Pada 24 Desember 1998, saat bulan puasa Ramadhan, seorang warga keturunan dalam keadaan mabuk masuk ke dalam masjid. Dia membacok salah sa...