Wednesday, April 7, 2021

Aswaja dan Radikalisme

 



Banyak orang memahami bahwa teroris itu adalah islam sebagai sebuah agama, yang tentu termasuk ajarannya.  Sebetulnya pemahaman ini bagi orang awam yang tercemar politik identitas.  Islam sebagai sebuah agama memang terdiri dari 72 golongan. Masing masing golongan merasa paling benar. Namun perbedaan ini tidak menjadi kebencian. Justru melahirkan rahmat. Baru menjadi konplik ketika masuk ranah politik.  Jadi politik identitas  islam adalah melawan takdir dari keberagaman golongan dalam islam. Pasti paradox hasilnya. Pasti gagal.


Aswaja

Di Indonesia sebetulnya hanya ada satu golongan yaitu Aswaja atau  ahlulsunnah waljamaah. 85% umat islam di Indonesia beraliran aswaja. Apa itu Aswaja? Aswaja berpedoman pada rumusan akidah Imam Abul Hasan Al-Asyari, dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Syekh As-Safarayni Al-Hanbaly dalam Al-Lawami’ menambahkan Al-Atsariyah sebagai bagian dari keluarga besar Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu para pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Secara harfiah, penganut tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kesepakatan para ulama. Watak moderasi  atau washatiyah yang dimiliki oleh faham ini,  baik dalam sistem keyakinan (aqidah), syari’ah maupun praktik akhlak/tasawuf sesuai dengan corak kebudayaan masyarakat Indonesia.


Namun Muhammadiyah, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Al Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, meski jelas-jelas menganut faham Aswaja tidak pernah disebut sebagai kaum ASWAJA.. Itu karena pemahaman dan pengamalan Islam lebih menekankan kepada kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah, menolak taklid kepada ulama, pemurnian aqidah, dan pengamalan tasawuf tanpa tarekat. Sementara itu, NU sebagai pendukung ASWAJA, menambah praktik ibadah dengan taqlid kepada ulama, mengamalkan apa yang disebut dengan fadha’il al-a’mal, dan tarekat.


Aswaja secara aqidah melarang melakukan kekerasan dalam beragama. Tidak menjadikan islam dalam sistem politik. Apapun bentuk negara tidak dipermasalahkan. Aswaja berfocus membangun islam nilai dalam sistem pemerintahan dan masyarakat lewat program pendidikan dan ibadah salih. Namun dalam Aswaja kadang individunya berpolitik. Maka munculah gerakan tarbiyah , HTI, dan lainnya. Tarbiyah membangun gerakan politik identitas melalui gerakan kampus kaum terpelajar, yang akhirnya mendirikan PKS. Berbeda dengan HTI. Tarbiyah tidak ada agenda khilafah. Tetapi islam nilai. Sementara HTI berfocus kepada membangun pemikiran keharusan mendirikan khilafah dan menolak mendirikan partai dan tidak mengakui sistem demokrasi. Menolak jalan kekerasan mencapai tujuan.


Salafi dan Wahabi.

Kemudian munculah golongan Salafi dan wahabi. Apa itu Salafi dan Wahabi? Mazhab Salafi (manhaj Salaf) atau Salafisme berasal dari pertengahan hingga akhir abad ke-19, sebagai gerakan intelektual di Universitas al-Azhar, dipimpin oleh Muhammad Abduh (1849-1905), Jamal al-Din al-Afghani (1839-1897) dan Rashid Rida (1865-1935). Al-Afghani adalah seorang aktivis politik, sedangkan Abduh, seorang guru, mengusahakan reformasi sosial bertahap (sebagai bagian dari dakwah), khususnya melalui pendidikan. Nama Salafi berasal dari as-salaf as-saliheen (salafush shaleh), ‘pendahulu yang saleh’ dari komunitas Muslim awal, meskipun beberapa Salafi memperluas Salaf untuk memasukkan para ulama yang faqih di generasi selanjutnya.


Ideologi Salafisme dan Wahhabisme dibangun di atas teks agama yang didefinisikan secara sempit. Secara metodologis, mereka literalis dan puritan dalam pendekatan mereka terhadap teologi dan hukum Islam. Dalam hal yurisprudensi, Salafi dan Wahabi menganut mazhab dan aturan Hanbali. Namun, banyak dari mereka mengklaim tidak ada afiliasi khusus untuk mazhab tertentu. Sebagai gantinya, mereka mengklaim mengikuti pendapat yang lebih kuat di antara salaf berdasarkan Alquran dan Sunnah (praktik-ptaktik yang dicontohkan Nabi Muhammad).


Untuk menjaga kemurnian Islam, Salafi dan Wahhabi berupaya untuk agitasi terhadap praktik sesat seperti berdoa kepada makam, memuliakan ‘tempat suci’ dan ‘orang suci’. Hal-hal itu diklasifikasikan sebagai syirik, kufur, riddah (murtad), dan bid’ah. Mereka dengan kuat menolak kepercayaan dan praktik apa pun yang tidak diperintahkan oleh Alquran dan Sunnah Nabi. Misalnya, Salafi dan Wahhabi mengklaim bahwa praktik sufi seperti tawassul (perantaraan antara manusia dan Tuhan) yang telah terjadi selama berabad-abad sejak periode murni Islam, mengancam tauhid (monoteisme atau kepercayaan akan keesaan Tuhan).


Mereka percaya bahwa bid’ah dihasilkan dari adopsi budaya lokal oleh misionaris Islam dalam upaya mereka untuk menarik mualaf baru. Namun, perpaduan antara Islam dan adat ini secara signifikan membantu proses konversi ke Islam dengan membuatnya dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas. Secara ideologis, Salafisme lebih luas dari Wahhabisme. Pemikiran Salafi telah ada selama ratusan tahun dan telah menyebar ke seluruh dunia Muslim dan sekitarnya. Wahabisme baru ada sejak pertengahan abad ke-18. Meskipun benar bahwa Wahhabisme adalah Salafisme, itu hanya salah satu dari banyak orientasi Salafisme. Salafi dan Wahhabi bukanlah dua sisi dari mata uang yang sama.


Yang jadi masalah adalah Salafi merasa yang paling benar. Kehadiran mereka sebagai koreksi atas adanya penyimpangan ajaran islam seperti awal Islam diperkenalkan. Mengapa ? Kaum Salafi berpendapat bahwa kaum Muslim terdahulu telah memahami dan mempraktikkan Islam dengan benar, tetapi pemahaman yang benar tentang Islam perlahan-lahan luntur, sama seperti kaum para Nabi sebelumnya (termasuk Musa dan Isa) telah tersesat dan semakin luntur ajarannya. Salafi adalah solusi untuk merestorasi pemahaman islam dan seperti bangkitnya era pencerahan seperti di Eropa yang melahirkan kemajuan tekhnologi dan kehidupan sosial yang lebih baik. Mereka yakin, mereka sendiri adalah pewaris Zaman Keemasan Islam yang dipandu secara ilahi yang telah mengikuti ajaran Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.


Dalam hal formasi masing-masing, ajaran Wahabi dan Salafi cukup berbeda. Wahabisme adalah Islam murni yang menolak pengaruh modern, sementara Salafisme berusaha merekonsiliasi Islam dengan modernisme. Kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa keduanya menolak praktik-praktik Islam tradisional (yang bercampur dengan budaya lokal yang dianggap tak sesuai ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad), dan mendukung penafsiran langsung dan fundamental dari ajaran Islam yang murni. Meskipun begitu, dukungan Raja Faisal dari Arab Saudi atas pan-Islamisme Salafi menghasilkan penyerbukan silang antara ajaran ibn Abd al-Wahhab tentang tauhid, syirik dan bid’ah serta interpretasi Salafi tentang hadits (ucapan dan perilaku Nabi Muhammad).


Beberapa Salafi menominasikan ibn Abd al-Wahhab sebagai salah satu salaf (secara retrospektif memasukkan Wahabisme ke dalam Mazhab Salafi), dan Muwahid mulai menyebut diri mereka Salafi. Saat ini, ada banyak kelompok Salafi yang memproklamirkan diri, masing-masing menuduh yang lain menyimpang dari Salafisme yang ‘benar’. Mereka menuduh akar ideologis al-Qaeda kepada Sayyid Qutb dan pendiri Ikhwanul Muslimin Hassan al-Banna meracuni Salafisme. Padahal fakta sejarah, akar dari Salafisme adalah Ikhwani dan Qutbist-nya. Misalnya, kritik utama Abu Mu’aadh as-Salafee terhadap Qutb dan Hassan al-Banna adalah bahwa mereka mengklaim Islam mengajarkan toleransi terhadap umat Yahudi. Sementara itu, non-Muslim dan Muslim arus utama sama-sama menggunakan label ‘Salafi Wahabi’ untuk merendahkan kaum Salafi dan bahkan kelompok yang sama sekali tidak terkait seperti Taliban.


Asal muasal teroris dan radikalisme

Namanya Dzul Khuwaishirah, seorang Muslim penduduk Najed. Suku Bani Tamim. Dia  lahir ketika islam masih dibawah kepemimpinan Rasul. Dalam piikiranya, keberadaan Islam tidak ada bedanya dengan agama sebelumnya. Hanya dijadikan cara untuk berperang dan mendapatkan harta rampasan. Karenanya dia tidak sepenuhnya percaya kepada Rasul. Namun percaya agama yang dibawa Rasul adalah cara mudah untuk kaya dan berkuasa.  Awal dia masuk Islam, Rasul tidak beprasangka buruk terhadap Dzul Khuwaishirah. Dia dianggap sama seperti umat islam awal. Yang berusaha mendapatkan pencerahan atas kehadiran Islam.


Pada suatu waktu. Seusai perang Hunain. Pasukan islam mencapai kemenangan. Saat itu juga Rasul membagikan harta rampasan kepada pasukannya. Yang diutamakan Rasul adalah para mualaf. Tujuan Rasul tentu untuk menarik hati mereka terhadap Islam. Sementara pasukan yang sudah lama memeluk Islam tidak diutamakan. Alasan Rasul, orang yang sudah tertanam keimanannya terhadap Islam, tidak lagi berperang karena harta rampasan. Tetapi karena ingin mendapatkan ridho Allah.


Tetapi sikap Rasul ini ditentang oleh Dzul Khuwaishirah. Dia protes. “ Wahai Rasulullah, engkau harus berlaku adil”. Katanya yang disampaikan dihadapan para sahabat Rasul lainnya. Saat itu Umar Bin Khatap sempat emosi. Karena merasa Dzul Khuwaishirah meragukan kerasulan Nabi Muhammad.

 “ Izinkan saya memanggal kepalanya. “ kata Umar. 

“ Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur'an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target “ Kata Rasul menenangkan Umar.


Rasul berkata kepada Dzul Khuwaishirah “ Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil” Demikian cara Rasul meyakinkan Dzul Khuwaishirah untuk tidak ragu atas integritasnya. Tapi  bagi Dzul Khuwaishirah tetap saja dia tidak percaya atas sikap Rasul itu. Dia merasa lebih baik dan benar dibandingkan Rasul. 


Nah, oleh Nabi seorang Dzul Khuwaishirah dibiarkan terus hidup dengan sikap angkuhnya. Lambat laun sikap Dzul Khuwaishirah ini menular kepada umat islam lain.  Terutama kaum muda. Tetapi yang bisa dipengaruhinya adalah mereka yang punya motive harta dan tahta saja dalam berislam.  Yang ikhlas, tidak terpengaruh. Berikutnya mereka membentuk kelompok sendiri yang disebut kaum khawarij. Mereka mulai mengembangkan ajaran islam menurut versi mereka, yang tujuanya adalah politik kekuasaan. 


Engga tanggung tanggung caranya. Yaitu mereka berdalil atau mengutip ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, tapi itu semua dipergunakan untuk menyesatkan, atau bahkan untuk mengkafirkan orang-orang yang berada di luar kelompok mereka. Sehingga persatuan umat islam jadi lemah. Kelak setelah Nabi mangkat. Kaum Kawarij masuk kelompok ektrimis oleh pemerintaha amirul mukminin. Mereka melawah khalifah lewat aksi teror.  Ponakan Nabi dan juga menantu Nabi, Ali Bin Abihalib ketika jadi Khalifah, dibunuh oleh Abdullah bin Muljam, teroris dari kawarij. 


Ketika dieksekusi akibat perbuatannya, di dahi Ibnu Muljam, terlihat hitam sebab banyak sujud. Pelaku teror umumnya orang lugu beragama, bodoh dan miskin. Mereka hanya dimanfaatkan oleh mastermind kawarij untuk mencapai agenda politiknya. Jadi bibit teroris atas nama islam itu justru lahir ketika  Nabi masih hidup. Sampai kini, kaum Kawarij itu terus berkembang dimanfaatkan oleh politisi untuk berkuasa, dengan cara apapun. 


Ciri ciri mereka? suka berdalil. Merasa paling benar. Suka mengkafirkan orang berbeda. Jidat hitam. Berjanggut dan celana cingkrang. Pemimpinnya hidup mewah dan pengikutnya disuruh miskin. Dunia tidak penting. Akhirat yang utama. Sorga menanti bagi yang mati sahid. Sorga selalu diimajinasikan dengan pesta sex  ( sex orgy) bersama 72 bidadari yang selalu perawan


Provokasi radikalisme

Sebetulnya baik Aswaja maupun Salafii tidak ada istilah radikal. Mereka toleran. Mereka keduanya mengharamkan melawan pemerintah. Mengharamkan kekerasan. Dalam arti mengkudeta dan  membunuh. Hanya saja, kemudian munculah gerakan dari ustad atau ulama yang berkreasi menggabungkan Aswaja dengan salafi plus Wahabi. Mereka melakukan dakwah dan membentuk ormas, mengemas narasi islam yang bertujuan politik. Caranya menjadikan Aswaja dan Salafi-Wahabi sebagai referensi. Mereka pilih ajaran yang ada pada Aswaja dan Salafi- Wahabi yang cocok untuk agenda politik mereka.


Perhatikan bagaimana orang berproses jadi radikal. Misal. Udin belajar Salafi yang diterapkan oleh kaum wahabi. Dunia tidak penting. Akhirat yang utama. Semua yang diajarkan Aswaja yang berkaitan dengan islam lokal adalah bida'h. Untuk mencapai ridho Allah haruslah hidup sesuai dengan Al Quran dan Hadith secara murni. Tapi bagaimana caranya? Udin tidak diajarkan. Udin dilarang melakukan kekerasan. Apalagi melawan pemerintah. Kemudian setelah paham. Udin masuk Aswaja, yaitu melalui HTI. Nah di HTI diajarkan bagaimana keharusan mendirikan khilafah yang sesuai dengan Al Quran dan Hadith. Tetapi, lagi lagi HTI melarang melakukan aksi kekerasan untuk mendirikan khilafah.  Kemudian, Udin masuk FPI atau Jamaah Ansharut Tauhid atau lainnya seperti Mujahideen Indonesia Timur. Nah digerakan ini, wahabi dan aswaja dikemas jadi sebuah narasi jihad.  Misal, untuk memperkuat aqidah agar Islam diterapkan secara murni, maka perlu mendirikan khilafah. Bagaimana caranya? perangi mereka yang membela dan mempertahankan sistem thogut. Maka munculah narasi Jihad. Mati sahid dalam aksi teroris.


Jadi yang termasuk kadrun itu adalah mereka yang bukan aswaja dan juga bukan salafi. Tapi gabungan dari dua golongan plus Wahabi. Sesat. Bukan ajaran Islam sebenarnya. Tingkat radikalismenya tergantung ormasnya. Kalau digerakan oleh intelijen asing, mereka lebih militan. Tapi kalau digerakan murni agama, hanya rame di sosmed aja.

Bapak modernisasi Turki..

 


Di pagi hari, ibuku mendandaniku dengan pakaian putih dan kalung leher bersulam emas; sorban melingkar di kepala. Aku dijemput seorang hoja beserta ulama lain. Mereka melangkah ke jalan dalam semacam prosesi ke sekolah. Di sekolah yang bertaut dengan sebuah masjid itu, doa bersama pun dibacakan. Lalu sang guru membimbingku masuk ke sebuah ruang. Di sana sebuah Quran sudah siap terbuka.” Demikian kira kira suasana hati Mustafa yangd diungkapkan dalam buku Atatürk: The Rebirth of a Nation, Patrick Kinross.


Mustafa produk pertentangan tradisional dan modern. Ayahnya , Ali Riza ingin dia tidak sekolah agama. Tetapi sekolah modern. Ibunya,  Zubaidah merasa punya anak tunggal, inginkan Mustafa tumbuh dalam tuntunan narasi islam. Harus hafal Quran, kelak bisa jadi ulama penerus Nabi. Mustafa disekolahkan di Fatimah Mullah Kadin, pendidikan Islam yang terkemuka di Kota Salonika itu. Menjadi murid disekolah itu agaknya sesuatu yang istimewa. IBunya bangga. Ayahnya malah kawatir. Benarlah. Mustafa dikeluarkan dari sekolah. Hanya karena dia membangkang disuruh duduk bersila di lantai. Ia benci dipaksa membaca dan menulis huruf Arab. 


Ayahnya menang. Mustafa dipindahkan ke sekolah umum yang diasuh Shemsi Effendi di Salonika. Salonika memang kota kosmpolitan. Tempat semua etnis dan agama berbaur. Maklum Salonika adalah kota pelabuhan dan perdagangan di Macedonia. Di kota itu ada konsulat Inggris, Prancis, Jerman, Austria, Italia, Portugal. Banyak orang berjalan ditempat umum dengan pakain barat. 


Pada abad 19 revolusi industri mulai masuk ke Turki. Kereta Api tenaga uap dibangun. Mustafa sebagaimana rakyat Turki lainnya menganggap itu sebagai sebuah keajaiban. Tanpa terasa, tanpa dengung Fatwa ulama, tekhnologi gerak menyihir rakyat. Saat itu perubahan mindset dimulai. Tidak disadari oleh khalifah. Yang masih percaya Agama tak tertandingi oleh apapun. Usia kanak dan remaja Mustafa telah mengubah mindsetnya tentang agama. Dia ingin memberontak. Seperti dulu waktu dia sekolah Dasar. Walau resiko ditendang. Kedewasaan membuatnya bijak. Melawan, harus cerdas. Diapun masuk akademi militer.





Terbukti dia memang berbakat menjadi perwira. Pertempuran tentara Turki yang dipimpinnya melawan pasukan Inggris dan sekutunya di jazirah Gallipoli di tahun 1915 adalah sejarah kemenangan Turki yang tak terlupakan. Karena itu dia semakin dipercaya oleh Khalifah. Dia gelisah. Tafsir tentang Islam masa itu dikaitkan dengan Islam para sultan yang hidup antara seraglio yang penuh perempuan simpanan dan medan perang yang penuh dengan bangkai. Kemajuan sains dan perubahan zaman membuat dinasti Turki seperti wanita tua, gendut dan lambat, namun tetap ingin dianggap cantik dan menarik hanya karena gaun mahal.


Apa yang salah dari Khilafah Turki Usmani? Kekuasan itu menjadi pakaian kesombongan dan keangkuhan dihadapan sang waktu. Pada satu kesempatan saya bertemu dengan Azra. Sahabat saya di Turki. “ Berkat sain, perubahan terus terjadi. Membuat agama dimaknai dengan rendah hati. Sistem demokrasi, menjamin tidak ada satupun penguasa bisa bebas semaunya. Tidak ada orang yang bisa berkata dia mewakili Nabi, bahkan Tuhan sekalipun.  Ukuran orang bukan lagi karena statusnya ulama atau ustad atau profesor, tetapi sejauh mana dia bisa berbuat banyak bagi orang lain. 


Agama adalah perbuatan. Ukurannya kinerja, bukan retorika. Dan pasti tidak menumpang makan dari narasi agama dan donasi umat. “ kata Azra. Saya tersenyum. Azra adalah buah dari karya seorang Mustafa Kamal Ataturk, bapak Turki modern. Azra lulusan Cambridge University. Walau dia muslimah, dia tidak merasa sungkan tanpa jilbab dan burka dihadapan saya. Rambutnya yang hitam dan kulit wajahnya yang halus, matanya yang indah, bibir yang exciting, memang indah dipandang. Saya merasa jadi pria itu memang berkah. Walau tampa selir.

Perjalanan waktu.

 





Suatu saat Albert Einstein mampir di sebuah bengkel untuk perbaiki kendaraannya. Monternya anak muda.


“ Nak, kalau kamu bisa berangkat ke masa depan. Katakanlah 100 tahun. Sampai dimasa depan,  kamu masih muda seperti sekarang. Apakah kamu tertarik? Tanya Albert Einstein menguji kercerdasan anak muda itu.


“ Bodoh kalau saya mau “ Kata anak muda itu sambil terus kerja memperbaiki mobil.


“ Kenapa ?


“ Yang paling berharga dari kehidupan adalah waktu. Dari waktu itu, saya bisa merasakan susah senang. Sakit dan sehat. Tertawa dan menangis. Bisa menua bersama dengan istri saya. Mengapa saya harus buang 100 tahun yang berharga itu. Tidak perlu jadi orang pintar untuk tahu tawaran itu adalah kebodohan.”


Albert Einstein tersenyum. “ Kamu lebih pintar dari saya. Karena kepintaran spiritual tidak bisa dikalahkan dengan akal. Bahkan oleh seorang profesor sekalipun. “ 


Satu saat seorang Sufi sedang berjalan di tengah pasar. Dia duduk di pojok pasar. “ Sufi, apakah ada jalan cepat ke sorga? Kata anak muda.


“ Jangan mudah marah. “ Kata sufi.


“ Apalagi ?


“ Jangan berharap dengan janji manusia. “


“ Apalagi”


“ Jangan berguru dan berteman dengan mereka yang menjanjikan sorga kepadamu. Karena dia sedang mengubah dirinya menjadi Tuhanmu. Sorga itu hak prerogatif Allah. Tidak ada manusia yang bisa menjamin dia masuk sorga apalagi menjamin orang lain. Jangan kau ganti Tuhanmu karena apapun. Di dunia ini apapun ada gantinya.Tetapi Tuhan tidak tergantikan.”


“ Bagaimana cara menjaga agama dari orang kafir? apakah dengan berjihad?


“ Yang paling kafir itu adalah nafsumu. Perangilah itu sepanjang usiamu. Soal agama itu urusan Tuhanmu. Dia lah yang akan menjaganya sampai hari kiamat. Jangan kamu berjihad membela agama pada waktu bersamaan kamu kudeta kekuasaan Allah. Itu artinya kamu berTuhankan Nafsumu. Sirik.”  Kata Sufi.


Anak muda itu berlalu dan dia pulang ke rumah. Sekeras apapun sikap istrinya. Dia tidak pernah terpancing marah. Dia ingat nasehat sufi. Lambat laun perubahan sikapnya membuat istrinya melunak. Kehidupan rumah tangga jadi seperti sorga. Benar kata sufi. Di dunia saja dia sudah rasakan Sorga. Agamapun lebih  kepada mendekatkan diri kepada Tuhan. Memperkaya spiritual. Diapun lupa akan janji sorga Tuhan. “ Dimanapun aku ditempatkan tak penting. Cukuplah antara aku dan Tuhan saja. “ Perjalanan waktu itu indah asalkan kita tidak mudah marah. Bersabar dan ikhlas. Apapun yang terjadi, tetap baik bagi kitaa.


Tuesday, March 30, 2021

Fenomena PKS

 




Tahun 80an ada tokoh Masyumi yang sangat tidak disukai oleh rezim Soeharto. Dia adalah Muhamad Natsir, mantan Perdana Menteri era Soekarno. Pada tahun 1967, dia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Kemudian di era Soehato, DDII mendirikan Lembaga Mujahid Dakwah yang dipimpin oleh Dosen ITB Ahli Fisika bernama Imaduddin Abdulrahim. Dari Masjid Salman ITB lah asal muasal gerakan agama di kampus yang kemudian melahirkan Lembaga Dakwah Kampus disetiap universitas. Perkembangan yang pesat ini juga karena peran Soeharto yang terus menekan gerakan islam sehingga mendorong lahirnya gerakan kaum terpelajar dari kampus. Sementara pada waktu bersamaan HMI lebih memilih bergandengan dengan rezim Soeharto.


Selema era Soeharto. LDI sengaja menjauh dari segala aksi turun ke jalan menentang Soeharto. Jadi tidak ada mahasiswa LDI yang masuk bui atau diculik oleh rezim Soeharto. Mereka lebih focus melakukan program pendidikan kepemimpinan dan dakwah kepada mahasiswa. Namun tahun 1998 setelah gerakan pro demokrasi Megawati mendapat angin dari rakyat untuk menjatuhkan Soeharto, LDI ambil peluang ditikungan dengan mendirikan KAMMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Selanjutnya KAMMI menggerakan semua kadernya di kampus untuk turun kejalan menuntut reformasi dan jatuhkan Soeharto. Setelah Soeharto jatuh, bulan Juli 1998, para elite KAMMI mendirikan PK atau partai keadilan.


Tapi pada Pemilu 1999, PK hanya dapat suara 1,36% atau 7 kursi di DPR. Maklum ketika itu, rakyat Indonesia sedang euforia kepada PDIP yang dianggap berjasa dan digaris depan menjatuhkan rezim Soeharto. Kekalahan ini menimbulkan faksi di dalam PK. Sehingga elite KAMMI yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin berhasil memegang posisi pimpinan, dan mengganti PK menjadi PKS. Tentu dengan platform baru, beda dengan awal didirikan yang condong kepada Masyumi. PKS mengukuhkan diri sebagai partai kader. Pada Pemilu 2004 PKS berhasil meraup suara 7.34% dari total perolehan suara nasional. Pada Pemilu tahun 2009 PKS menempati urutan ke empat partai besar.


Namun pada Pemilu 2014 suara PKS turun jadi 6,79%.  Yang menggerus suara PKS adalah karena PKS menyatakan sebagai partai terbuka pada tahun 2008. Kekuatan akar rumput yang merupakan ormas menentang keras, termasuk HTI yang aktif menggembosi suara PKS. Turunnya suara PKS tahun 2014,  berdampak pada tergusurnya gerbong faksi yang beraliansi ke IM, yang diaggap gagal mesosialisasikan PKS sebagai partai terbuka.   Kepemimpinan Anis Matta, PKS kembali solid dan focus mengkukuhkan diri sebagai partai terbuka dan terus dipertahankan  oleh penggantinya. Pileg 2019, PKS berhasil menaikan perolehan suaranya jadi 8,21%. 


PKS berpartisipasi di 230 pada Pilkada seretak tahun 2020. PKS menang di 120 daerah. Dalam Pilkada serentak juga berkoalisi dengan beberapa partai, termasuk dengan PDIP. Bahkan PKS juga mendukung calon kepala daerah yang kristen, seperti di Simalungun dan lainnya. Sejak PKS menjadi partai terbuka, saya seperti membayangkan dulu Soekarno pernah menerapkan ide NASAKOM ( Nasionalis, Agama, dan Komunis), yaitu sebuah ide menggabungkan  semua barisan nasional dalam satu gerbong. Namun akhirnya gagal. Karena kelompok islam dan Komunis ogah dipimpin oleh Nasionalis. 


Menurut saya yang paling berjasa mereformasi PKS dari partai berbasis dakwah dan tertutup menjadi partai terbuka adalah Anis Matta, dan itu tentu berkat dukungan ahli dari Soeripto mantan Petinggi BIN. Entah mengapa sejak keluar dari PKS, malah Anis Matta bersama Fahri Hamzah justru membuat partai sendiri yaitu Partai Gelombang Rakyat (Gelora). 


Charta Politika melakukan survei terkait elektabilitas partai. Hasilnya?  PKS masuk lima besar partai atau urutan keempat, menggeser Golkar dan Nasdem. Dalam survey tidak ada peningkatan suara PKS secara significant. Namun karena partai lain melemah, PKS naik kelas. Dari hasil survey ini, tentu jadi peringatan bagi partai Golkar , Nasdem dan PD. Intrik politik untuk menggembosi citra PKS kemungkinan ada saja lewat kasus hukum kadernya. Nanti kita liat saja. Politik itu dinamis

Monday, March 22, 2021

Arek Suroboyo sahid demi merah putih.

 





Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) atau Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran mendarat di Tanjung Priok. Kedatangan mereka bertujuan untuk mengurusi sisa-sisa prajurit Jepang, juga tentara Belanda yang ditawan, usai kekalahan Dai Nippon dalam Perang Asia Timur Raya. Setelah ada kesepakatan dengan Soekarno,  tanggal 18 September 1945, Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) yang dibawah komando Inggris Jenderal Mallaby tiba di Surabaya. Pada saat itu ikut serta juga tentara Belanda yang dipimpin W.V.Ch Ploegman Palang Merah Internasional (Intercross).


Sebetulnya tidak ada masalah. Kedatangan mereka sudah diketahui oleh pemimpin TKR di Surabaya. Yang jadi masalah kemudian adalah Belanda sengaja memprovokasi rakyat Surabaya dengan mengibarkan bendera Belanda di hotel tempat mereka menginap. Pada atap hotel Yamato ( sekarang, Hotel Majapahit) berkibar bendara Biru, Merah, putih. Padahal seantero Surabaya berkibar bendera Merah Putih sebagai euforia diproklamirkan kemerdekaan RI. Rakyat Surabaya marah. Mereka datang berdemo di depan hotel. Keadaan memanas. 


Sudirman, residen Surabaya datang menengahi. Minta agar Belanda menurunkan bendera tersebut. Namun dijawab oleh Ploegman dengan todongan senjata kepada Sudirman. Saat itu Sudirman didampingi oleh dua pengawal. Salah satu pengawalnya, Sidik menerjang Ploegman. Terjadi gelut. Senjata berhasil direbut oleh Sidik setelah mencekik mati Ploegman. Kejadian itu di lobi hotel. Berlangsung cepat sekali. Namun salah satu prajurit Belanda melempar Belati kepada Sidik ketika hendak melarikan diri. Sidik tewas. Sudirman dilarikan oleh Hariyono keluar dari Hotel itu.


Di luar hotel , para pemuda naik keatas gedung Hotel. Merobek bendara Belanda warna biru agar hanya ada merah putih. Belanda merasa terhina. Karena benderanya dirobek robek. Keadaan ini membuat situasi tidak konduksif lagi. Suasana kota surabaya mencekam. Para santri mulai terprovokasi untuk meramaikan suasana. Mengusir belanda dari Surabaya. Saat itu TKR belum terorganisir rapi. Banyak laskar terutama santri yang juga punya senjata. Hanya mendengar komando dari kiyainya. Mengabaikan seruan Soekarno agar mematuhi gencantan senjata.


Hari hari berikutnya keadaan semakin tidak menentu. Gedung Internatio di surabaya yang dijaga oleh tentara Sekutu di bawah pimpinan Mayor K Venu dikepung oleh 500 TKR. Mallaby jenderal Inggris yang memimpin pasukan sekutu, didampingi Kapten H Shaw, Kapten RC Smith, dan Kapten TL Laughland bersama Biro penghubung Indonesia, Roeslan Abdulgani mendatangi gedung itu. Tujuannya agar pengepungan dihentikan.  Biro penghubung dari Indonesia berhasil meyakinkan pemuda untuk mundur. Mereka setuju mematuhi gencatan  senjata. Setelah itu Mellaby meninggalkan gedung itu.


Mobil baru bergerak sekitar 90 meter, sekelompok milisi menghadang. Mereka menodongkan pistol. Tak  lama kemudian datang seorang Pemuda bersenjata mendekati mobil dan menembak empat kali ke arah mereka. Tembakan meleset, tapi mereka berpura-pura mati. Menyangka musuhnya tewas, orang tersebut pergi. Aksi tersebut dihadapi oleh tentara inggris yang ada di gedung. Baku tembak terjadi. Pertempuran berakhir sekitar pukul 20.30. Keadaan tenang lagi. Kendaraan Mallaby siap melaju. Namun datang dua pemuda mencegat kendaraan. Sepertinya mereka ingin pastikan Mallaby masih hidup atau udah mati. 


Seorang di antaranya kemudian membuka pintu belakang pada sisi Mallaby. Terjadilah percakapan. Mallaby meminta agar dipanggilkan salah seorang anggota Biro Penghubung dari Indonesia. Kedua pemuda kemudian pergi. Salah seorang pemuda datang kembali ke pintu depan pada sisi Mallaby. Perbincangan kembali terjadi. Mendadak pemuda itu mengulurkan tangannya lewat jendela depan. Dengan darah dingin dia tembak Mallaby. Jenderal itu meregang nyawa.


Kematian Mallaby itu membuat Inggris marah dan mengirim 24.000 pasukan untuk menguasai Surabaya. Inggris mengeluarkan peringatan agar milisi Indonesia menyerahkan senjata pada 9 November. Namun tak dituruti, baru pada 10 November perang besar terjadi dan Inggris mulai mengebom Surabaya. Ribuan prajurit Inggris tewas. Dua jenderal inggris tewas. Sekitar 20.000 pihak Indonesia gugur.  Sebagian besar yang gugur adalah milisi yang merupakan para santri, yang menjemput sahid dengan gagah berani. Mereka gugur demi merah putih. Anehnya sekarang orang berani mati demi bendera ISIS/ Khilafah.

Tionghoa, Korban Revolusi




Di bawah hukum kolonial Belanda, orang Tionghoa  termasuk juga Arab dan India dikategorikan sebagai golongan ‘Timur Asing’ (Vreemde Oosterlingen). Mereka dipisahkan dengan golongan Eropa yang menempati posisi teratas dan bumiputera yang dikelompokkan pada strata terbawah. Pengkategorian ras tersebut berperan dalam menciptakan sekat-sekat di antara kelompok etnis di Indonesia. 


Paska Proklamasi Kemerdekaan. Revolusi meletus. Perang kelas terjadi begitu saja. Banyak laskar atau milisi atas nama rakyat memanfaatkan balas dendam kepada etnis Tionghoa, yang dianggap kelas menengah dan anak emas Belanda. Peristiwa kekerasan acap mewarnai perjuangan di berbagai tempat, terutama di Jawa dan Sumatra. Penculikan, penghilangan paksa, penembakan, perampokan, hingga pembunuhan terjadi hampir setiap harinya.  


Yang tragis adalah peritiwa pembantaian Etnis Tionghoa di Tangerang. Menurut laporan Star Weekly, 16 Juni 1946, sebanyak 40-50 perkampungan luluhlantak; 1.200 rumah rata dengan tanah; lebih dari 700 orang Tionghoa terbunuh, 200 korban di antaranya wanita dan anak-anak; 200 orang Tionghoa dinyatakan hilang; dan kerugian materi. Belum lagi ribuan pengungsi yang memutuskan meninggalkan Tangerang guna mencari tempat aman.


Setelah insiden Tangerang, meletus juga berbagai peristiwa anti-Tionghoa di Bagan Siapi-api, Palembang, Bekasi, Cilimus, Jember, Madiun, Malang, dan sebagainya. Genosida terhadap etnis Tionghoa terjadi meluas.  Berbagai peristiwa yang terjadi di pengujung 1945 dan awal 1946 menimbulkan kecemasan di kalangan warga Tionghoa. Tidak adanya jaminan perlindungan keamanan pada masa revolusi yang serba kacau itu mendorong mereka mengambil langkah sendiri untuk melindungi diri.


Tsiang Chia Tung kemudian mengusulkan kepada pihak Republik agar orang Tionghoa diperkenankan untuk membentuk organisasi pertahanan sendiri. Melalui Radio-Batavia, Tsiang menginformasikan kepada presiden Soekarno dan perdana menteri Amir Sjarifuddin mengenai rencana pembentukan Pao An Tui (PAT/Barisan Pertahanan Tionghoa) yang sepenuhnya akan dibiayai oleh penduduk Tionghoa. 28 Agustus 1947 PAT resmi berdiri. sesuai dengan Ordonansi No. 516 tanggal 12 September 1947. Kemunculan PAT membawa angin segar bagi masyarakat Tionghoa. Mereka berlomba-lomba memberikan bantuan seperti meja, peralatan masak, peralatan makan, ke barak militer PAT yang terletak di Mangga Besar 47, Jakarta.


Pada agresi militer Belanda tahun 1947, Simon Hendrik Spoor, panglima tertinggi tentara Belanda di Indonesia, melihat kemunculan PAT sebagai sinyalemen positif. Belanda pengaruhi pihak oportunis yang ada di PAT. Bahwa Republik Indonesia pasti gagal. Kekuasaan akan kembali ke Belanda. Bebarapa oportunis terpengaruh. Apalagi Belanda menyetujui untuk memberikan PAT seragam, senjata, dan pelatihan militer di Cimahi, Bandung.  

Belanda juga memanfaatkan segelintir elite PAT untuk melaksanakan berbagai operasi militer. Namun pada waktu bersamaan Belanda memprovokasi agar rakyat marah kepada Etnis Tionghoa atas ulah PAT. Tujuan Belanda adalah terjadinya bentrokan horisontal antar etnis. Sehingga Indonesia lemah. Kelak pada akhirnya Tentara Republik marah kepada PAT, dan milisi juga marah. Itu karena politik adudomba Belanda. Sementara rakyat Indonesia dari etnis Tionghoa tidak tahu menahu politik kebaradaan PAT yang digagas elit politik Tionghoa yang disponsori para saudagar kaya.


PADRI Korban HOAX Wahabi


 

Saat itu tokoh agama di Minangkabau kawatir akan perkembangan adat orang minang yang semakin jauh dari ajaran islam.  Sabung ayam, minum miras, pelacuran sudah menjadi hal permissive. Tersebutlah yang risau itu adalah ulama besar seperti Tuanku Nan Renceh. Dia murid dari Tuanku Nan Tuo yang bermahzab Safiie. Kerisauan itu dijawab dengan bijak oleh Tuanku Nan Tuo.  Hidayah itu hak Allah yang akan memberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Tugas ulama hanya mengingatkan kebenaran dengan bahasa hikmah. Itu saja. 


Namun bagi Tuanku Nan Renceh jawaban gurunya Tuanku Nan Tuo itu tidak memuaskannya. Kekawatirannya kemudian didengar oleh tiga orang haji yang baru pulang dari Makkah berlajar tentang Wahabi. Tiga haji itu adalah Haji Miskin dari Pandai Sikek Padang Panjang, Haji Piobang dari Piobang Payakumbuh, dan Haji Sumanik dari Sumanik Batusangkar. Ketika Tuanku Nan Renceh menghadap Haji Miskin, dengan cepat dia berubah haluan. Dari penganut Mahzab Safie, dia berubah jadi wahabisme.


Setelah itu Tuanku Nan Renceh jadi hulubalang Haji Miskin. Merekalah yang menyebar luaskan wahabi melalui majelis ta’lim, mengadakan fatwa tentang persoalan-persoalan yang ada disekitar masyarakat, dan sebagainya dengan semboyan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mengembalikan kemurnian ajaran islam, memerangi segala bid’ah dan khurafat, serta melarang taklid kepada ulama-ulama madzhab. Banyak ulama hebat terpengaruh dengan paham wahabi. Tanpa ada yang berusaha tabayun ke Makkah untuk mengetahui tentang Wahabi. 


Termasuk Muhammad Syahab seorang ulama dan tokoh masyarakat di Minangkabau terpengaruh. Belakang oleh Tuanku Nan Rennceh dan Haji Miskin dia diberi gelar Tuanku Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol mau saja mengikuti perintah tiga orang haji itu untuk menolak adat Minangkabau yang matriarkat. Jihad pun dimaklumkan terhadap lapisan sosial yang matriarkal, rumah-rumah gadang dibumihanguskan dan para pemimpin adat dibunuh.  Pada 1815, dengan pura-pura mengundang berunding, kaum Padri membinasakan keluarga kerajaan Pagaruyung di dekat Batusangkar.


Setelah kaum wahabi berhasil memporakporandakan kerajaan pagaruyung dan kaum adat. Barulah pada 1821 kekuasaan kolonial Belanda masuk ke kancah sengketa. Butuh waktu 27 tahun perang itu. Setelah kerusakan terjadi dimana mana dan nyawa tercabut begitu saja.  Apa yang diidamkan kaum padri tetap tidak diterima oleh adat. Saat itulah Imam Bonjol termenung. Apakah salah yang dia perjuangkan ini. Benarkah ajaran Wahabi itu. Benarkah kebenaran islam adalah pemurnian tanpa perlu ada tafsir? Benarkah islam membolehkan membenci dan membunuh kepada orang yang tidak sepaham ?Apakah semua yang diajarkan haji Miskin itu adalah benar?  


Akhirnya Tuanku Imam Bonjol, mengirim empat utusan ke Mekkah.  Empat orang dipilih agar kesaksian mereka dibenarkan secara syariat islam. Pada 1832 utusan itu kembali dengan kabar: ajaran yang dibawa Haji Miskin dinyatakan tak sahih. Mahal sekali ongkos akibat HOAX.  Segera Tuanku Imam Bonjol mengajukan perdamain dengan kaum adat. Tercepailah kesepakatan. Adat basandi syara. Syara basandi kitabullah. Selesai.

Andaikan Imam Bonjol dari awal tabayun ke makkah sebelum menerima begitu saja ajaran Haji Miskin, mungkin tidak perlu ada kehancuran. Imam Bonjol dan kaum padri harus membunuh kaum adat dan membakar rumah gadang hanya karena terprovokasi hoaz kaum wahabi.  Akankah kini kita akan ulang lagi? Padahal ada internet untuk tabayun, mendapatkan informasi lintas benua terupdate..


Referensi:

-Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy,  studi  1784-1847.

-Memorie van Toeankoe Imam" (De Stuers 1850, Vol. II:221-40,243-51).

-Jeffrey Hadler “  Muslims and Matriarchs, (NUS Press, 2009)



Aswaja dan Radikalisme

  Banyak orang memahami bahwa teroris itu adalah islam sebagai sebuah agama, yang tentu termasuk ajarannya.  Sebetulnya pemahaman ini bagi o...