Tuesday, March 29, 2011

Komunitas?

Di china, mereka gemar sekali berkelompok dan bergotong royong menyelesaikan masalahnya. Tak penting siapa yang akan mengkoordinirnya , bagi mereka yang penting ada orang yang mau memimpin kelompok itu. Orang china itu dalam ring terkecil mereka mengorganisir dirinya lewat system arisan. Antar kelompok arisan ini mereka membentuk perkumpulan berdasarkan bidang profesi ( antar petani kol, antar petani beras , antar pengrajin dan lain lain ). Dari perkumpulan berdasarkan bidang profesi ini mereka membentuk lagi perkumpulan berdasarkan kecamatan. Dari kecamatan membentuk perkumpulan kabupaten. Begitu seterusnya. Tapi susunan perkumpulan ini tidak terstruktur sebagaimana design pemerintah seperti dikita dalam sistem INKUD denga KUD. Di China sistem itu tumbuh alamiah ( budaya). Makanya strukturnya seperti jaring laba laba. Peneliti barat mengatakan ini sistem ring to ring. Dari satu lingkaran kelingkaran berikutnya dalam ikatan yang kokoh atau seperti sarang lebah, dimana diantar lingkaran itu ada palka. Dalam hal palka ini berisi para cerdik pandai yang menjadi penghubung antar ring dengan ring itu.

Ketika pemerintah memberikan kebijakan agar rakyat boleh berkelompok membangun kawasan perumahan. Maka segera kekuatan ring to ring itu bergerak cepat. Para mentor dari kalangan kampus dan tokoh masyarakat tampil menjadi pencerah atas program pemerintah itu. Para ketua arisan, ketua kelompok, ketua wilayah memasarkan Kupon kepemilikan rumah kepada anggotanya masing masing. Hasil penjualan kupon itu tidak dipakai untuk membangun rumah. Tapi dananya di pool dan ditempatkan sebagai jaminan di bank untuk mereka mendapatkan fasilitas pinjaman dari bank. Di China bunga bank sangat murah. Untuk kegiatan ini bunga bank tidak lebih 1,5% per tahun. Bank bukan hanya memberikan kredit juga membantu struktur pendanaan lewat turn key project. Setelah project selesai dibangun maka kupon itu di tukar dalam bentuk obligasi bagi hasil ( revenue Bond ). Revenue Bond ini diperjual belikan sebagai alat investasi oleh perkumpulan tingkat propinsi dan pusat. Disini nampak dana orang kaya dikota mengalir ketingkat bawah secara sistematis tanpa dipaksa.

Hasil penjualan Revenue Bond itulah dijadikan alat pelunasan hutang kepada Bank. Nilai revenue bond akan terus meningkat dipasar seiring peningkatan nilai kawasan itu. Atau sama saja seperti kita pegang sertifikat rumah dalam nilai pecahan kecil. Kalau harga rumah naik maka revenue bond juga akan naik nilainya. Hampir semua sarana dan prasarana didalam kawasan dibangun dengan konsep seperti itu. Contoh., Kelompok industri pengolahan pangan ( Makanan kaleng, kripik, dan lain lain ) , ingin membangun zona industri. Maka kelompok arisan petani akan otomatis menjadi pembeli revenue bond itu karena mereka tahu bahwa kawasan industri itu akan digunakan oleh perusahaan yang akan menjadi pembeli produk pertanian mereka. Antar kelompok arisan itu juga punya hubungan vertikal dan horisontal dengan berbagai kelompok arisan lainnya , yang berbeda beda wilayah, bidang profesi , bidang kegiatannya. Inilah sebagai financial resource. Dari mereka untuk mereka.

Sistem jaring laba laba itu sangat kuat menghalangi kekuatan luar yang ingin mengontrol mereka. Sangat sulit ritel modern yang kuat modal bisa menembus ini. Ini bisa terjadi karena antar orang berilmu dengan orang awam bergandengan tangan , antar orang kaya dan miskin saling bergandengan tangan, antara industri dan pemasok bergandengan tangan, antara dunia usaha dan perbankan bergandengan tangan. Antara semuanya terhubung dalam ikatan saling mengikat diri secara rumit namun fleksibel. Tidak ada UU atau Peraturan pemerintah untuk menghasilkan design seperti ini. Dia ada karena budaya China yang suka bergotong royong , hidup hemat, bekerja keras, setia dengan teman, menghargai orang yang lebih tua, menghormati orang berilmu dan cinta kepada mereka yang lemah. Dari komunitas seperti inilah , konsep apapun yang sesuai dengan akar budaya mereka , akan diterima dan dilaksanakan secara otomatis. Pemerintah China, paham betul bagaimana mengelola komunitas diatas 1 miliar itu tanpa terjebak dengan konsep dari dunia barat , dengan segala konsep nilai nilai demokrasi. Buktinya hanya butuh 30 tahun, china sudah menjadi kekuatan nomor dua didunia.

Seharusnya Indonesia lebih hebat dari china soal membangun komunitas. Karena Agama dan budaya kita mengajarkan soal kebersamaan. Sholat, kita di sunnahkan ( juga diwajibkan ) berjamaah. Andai dari kekuatan jamaah antar kelurahan bisa menjadi ring terkecil untuk menjadi ring tingkat kecamatan dan terus sampai kepusat. Dari kegiatan mesjid ini sebetulnya banyak hal dapat digalang kekuatan bukan hanya sholat. Sudah seharusnya mesjid tidak hanya dipakai sebagai ajang melaksanakan ritual sholat tapi juga ajang berkumpul membahas masalah keseharian, cara mengorganisir diri disegala bidang, khususnya upaya kemandirian. Jangan lagi berharap dari uluran tangan pemerintah untuk makmur. Jangan ! Kemajuan china bukanlah karena pemerintahnya cerdas tapi rakyatnya yang cerdas !

Thursday, March 24, 2011

Harga Minyak ?

Kalau harga minyak naik siapakah yang untung ? Negara ? tidak. ! yang pasti untung adalah corporasi yang bergerakan dibidang exploitasi minyak. Nah dibalik corporasi kelas dunia ini ada private fund yang menjadi pemegang saham dan sekaligus pengendali harga saham dibursa dan juga harga minya dibursa. Demikian kata seorang fund manager kepada saya ketika dinner kemarin. Ditengah kapitalis yang melilit dunia sekarang adalah tolol bila masih ada pemerintah berpikir menjadi undertaker harga minyak sesuai dengan daya beli masyarakat. Ini zaman dimana negara mengurus semua sudah lewat. Ini zaman dimana pemilik dan pengedali private fund sebagai penguasa dunia. Mereka mengatur kemana arah bandul kebijakan politik dunia dan sekaligus creator dibalik berbagai crisis didunia untuk memaksa negara negara didunia mendukung exit strategy mereka menguasai dunia.

Kenaikan harga minyak dunia yang merupakan hasil koreksi kurs mata uang dollar, akan terus berlanjut seiring semakin limbungnya ekonomi AS. Seiring semakin menciutnya produksi nasional AS. Apakah ini juga skenario global dari pemain private fund. Tanya saya. Biang persoalan adalah krisis di AS berujung kepada kebijakan Quantitative Easing ( QE) yang memungkinkan AS mencetak uang lewat sistem. Ini berakibat kepada inflasi gigatic terhadap Kurs mata uang AS. Walau secara makro AS bisa sedikit menahan kenaikan harga kebutuhan masyarakatnya , itupun berhasil sebagian besar karena indusri china masih bisa memasok dengan harga murah.Tapi minyak yang dikelola oleh TNC kapitalis dengan resouce fund dari sistem kapitalis tidak bisa didikte dengan kebijakan apapun untuk ditekan harganya.

Harap dicatat seluruh resource minyak di Timur Tengah, termasuk di Indonesia sebagian besar di kontrol 7 big player ”private Fund ”melalui TNC mereka dibidang perminyakan. Belum lagi bila AS berhasil mencengkramkan tangannya di Afganistan maka resource minyak raksasa di Asia Tengah dapat dialirkan menggunakan pipa untuk menuju laut lepas lewat pelabuhan di Pakistan. Krisis pangan sengaja di create oleh sebagian besar group TNC dibidang pangan dibawah pengendali Private Fund untuk semakin menyulitkan dunia dalam upaya peningkatan produksi agro for fuel energy ( bio fuel ). Krisis radiasi nuklir akibat gempa dan tsunami dijadikan propaganda luas untuk menghentikan upaya perluasan penggunaan energy nuklir sebagai sumber energi alternative. Singkatnya ada agenda yang terencana dan sistematis untuk membuat seluruh dunia tergantung dengan energi fosil ini. Para pemain private fund sadar bahwa energi fosil tak akan bertahan lama tapi ini bukan soal masa depan , ini soal cara efektif mengontrol dunia dalam satu agenda new world order era

Ungkapan teman ini mengingatkan saya di tahun 2007 bulan Agustus ketika dentang kematian Lehman brother bergaung kencang di Wallstreet dengan delisting nya Lehman di board market, seorang Fund Manager di New York mengirim email kesaya berisi pesan. ”US have largest oil deposit Gull Island in Prudhoe Bay and ANWR (Arctic National Wildlife Refuge) in Alaska, the Bakken Formation in the Dakotas and the Rocky Mountain shale oil. Below the Rocky Mountains are two trillion barrels of oil. Can you imaging ,what happen our future. Everything are ready to exploration but now , wait ! Data kepemilikan dibalik penguasaan resource minyak ini ada dibawah 7 pemain dana private kelas dunia,yang juga sebagai pengendali the FED.

Saya sempat terkejut dengan email Fund Manager itu. Apalagi dilampirkan peta wilayah minyak dan summary second opinion dari Consultant Ahli perminyakan kelas dunia. Saya rasa informasi ini adalah top confidential namun juga tak sulit untuk dianalisa oleh orang awam pada saat itu tentang ada apa dibalik ganjang ganjing pasar uang dunia. Setelah itu proses penyehatan Keuangan Global dari 2007 terus berlanjut mengarah kepada semakin melemahnya mata uang dollar termasuk Euro. Seharusnya team ekonomi Indonesia menyadari ini semua sedari awal ketika krisis terjadi, agar dapat membuat perencanaan pembangunan yang menghindarkan Indonesia terjebak dalam agenda besar para pemain private fund ini. Sudah seharusnya angka angka APBN disusun dengan memperhatikan geopolitik dan geostrategis agar Indonesia tidak masuk dalam cengkraman neocolonialism.

Tapi apa hendak dikata, justru pemerintah berencana untuk menghapus subsidi BBM melalui PP. Team Dewan Energi Nasional sedang bekerja giat untuk menyusun PP itu. Walau dilatar belakangi dengan konsep hebat tentang program renewal energy namun tetap saja ini pengakuan akan hak private fund group untuk menimba laba tak terbilang melalui Natural Resource Oil , dan akhirnya menguasai dunia sesuai agenda besar mereka, dimana semua penduduk planet bumi ini harus menghamba dan tergantung pada kekuatan the Private Fund group akan pemenuhan energi untuk berproduksi, juga berkonsumsi. Akhirnya kita ingin bertanya" siapakah sebetulnya tuan dari pemerintah sekarang ini ? rakyat atau private fund group ? Biarlah waktu nanti akan menjawabnya...Kita hanya bisa berdoa kepada Allah untuk masa depan yang lebih baik ,karena hanya itu yang dapat kita lakukan ditengah ketidak berdayaan kita melawan sistem culas ini.

Wednesday, March 16, 2011

Bencana di Jepang

Kehebatan tekhnologi Jepang hanya bisa mendeteksi Tsunami 20 menit sebelum terjadi. Maka tidak ada waktu untuk penduduk menghindar. Gempa yang disertai Tsunami di Jepang kali ini lebih besar dari yang terjadi di Aceh beberapa tahun yang lalu, bahkan pengaruhnya ke West Coast USA yang menyebabkan kerusakan walaupun tidak besar. Menurut Alhi gempa, bencana ini terbesar dari gempa gempa sebelumnya yang terjadi di Jepang. Gempa yang sangat dahsyat ini telah meluluh lantakan pusat industri dan tenaga listrik ( PLTN) yang sangat pital bagi pertumbuhan ekonomi jepang. Soal kerugian materi mungkin dapat diatasi oleh jepang. Namun menyediakan kembali infrastruktur ekonomi yang hancur itu tidak bisa sebentar. Tentu butuh waktu lama. Selama proses pembangunan itu , ekonomi akan melambat dan melempar banyak orang kehilangan pekerjaan. Apalagi sejak tahun 2009 jepang sedang mengalami krisis ekonomi dan sudah masuk pada spiral ciris.

Yang mengkawatirkan bagi semua pihak adalah meledaknya PLTN pertama, PLTN ke dua dan PLTN ketiga, sekarang PLTN keempat yang mengalami masalah besar karena sistim pendinginnya tidak dapat berfungsi, dan telah dikeluarkan perintah untuk pengosongan area sampai radius 20 km dari pusat PLTN tersebut. Kalau tidak terkendali, maka terulang kembalilah kejadian Chernobil di Rusia dan yang paling berbahaya adalah sebaran radioaktive yang ikut terbawa hujan dan bisa jatuh di mana-mana seperti Philiphine, Sulawesi Utara, Korea, Taiwan dan daratan China, sampai ke USA. Inilah harga dari kehendak untuk merekayasa atom untuk mendapatkan energi yang murah. Bencana di jepang namun negara lain mencekam akibat dampat radiasi itu.

Badai Krisis mortgage AS telah membuat ekonomi Jepang oleng dan gempa yang diiringi Tsunami semakin membuat jepang terjerembab. Semua boleh bilang bahwa Jepang Negara kuat mengatasi masalah. Tapi yang jadi masalah adalah generasi muda jepang tidak terlatih menghadapi badai ekonomi dan bencana super itu. Generasi yang tahan banting telah mencapai uzur dengan melahirkan generasi yang manja dengan berbagai fasilitas kemakmuran yang ada. Dari informasi yang saya terima bahwa Toyota, Nissan, Mitsubishi dan beberapa industri otomotive lainnya dalam waktu dekat ini akan stop produksi akibat kesulitan pasokan bahan komponen sebagai akibat dari krisis energy , yang sekarang di Tokyo sudah giliran pemadaman listrik seperti di Indonesia. Kalau demikian halnya, dalam waktu dekat ini akan ada lanjutan industri industri turunan lainnya yang akan ikut terseret akibat effek domino.

Belum tahu juga akan kemungkinan terjadinya lanjutan dari terhentinya industri di sektor lainnya sebagai dampak dari krisis energy tersebut, dan apa pula dampaknya bagi industri di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia yang punya ketergantungan terhadap bahan baku dari industri di jepang tersebut. Perusahaan Jepang di seluruh dunia, berbondong-bondong berkontribusi untuk membangun kembali Jepang. Saya dengar kabar bahwa Jepang akan menjual non startegic asset mereka, termasuk yang berada di Indonesia, antara lain asset aset property seperti gedung gedung , perkantoran, perumahan perumahan staf mereka, Gedung perkantoran & hotel milik Jepang di Jakarta antara lain Summit Mas, Mid Plaza, Wisma Nusantara dan Nikko Hotel. Profesor Masatoshi HONDA (Analis Politik, National Graduate Institute for Policy Studies) berkata “ Saya yakin Jepang dapat pulih. Mungkin membutuhkan waktu. Mungkin waktu tiga tahun, lima tahun, mungkin 10 tahun. Tapi itu mungkin kesempatan bagi Jepang untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri kita.

Nah bagaimana dengan Indonesia ? Jepang adalah mitra dagang strategis bagi Indonesia sejak zaman Soeharto. Investasi Jepang di Indonesia masih menempati posisi tertinggi dibandingkan negara lain. Dengan adanya bencana Alam ini, sudah dapat ditebak akan berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi , khususnya penyediaan dana untuk insfrastruktur. Yang mungkin rencana bantuan Jepang untuk project MRT jakarta akan mengalami penundaan. Apalagi project lain yang masih dalam tahap pembicaraan , akan terkubur Sudah saatnya pemerintah tidak lagi bergantung dengan negara lain untuk terealisasinya project pembangunan. Sudah saatnya BUMN sebagai leading untuk penyediaan dana Sudah saatnya pula pemerintah mengalihkan output industri untuk pasar dalam negeri dengan mendorong peningkatan penghasilan bagi masyarat. Ada banyak strategi untuk itu. Yang pasti tekad kemandirian sudah saat dilakukan dan tidak hanya sebatas retorika.

Saturday, March 5, 2011

Muamar Khadapi

Namanya Muamar khadapi. Orang mengenalnya dengan sebutan Collonel. Memang pangkat terakhirnya yang membawanya kepuncak kekuasaan di Libia adalah Kolonel. Tahun 2009 Khadapi berbicara keras dihadapan Kongres setelah membubarkan cabinet. Dia berkata “ Is there anyone rich who is loved in Libya? None! Everyone hates them,” Itulah ungkapan kegeraman Khadapi atas perilaku pemerintah yang korup dan tak mampu mengangkat 1,5 juta Rakyat Libia yang masih tertinggal. Keliatannya Khadapi bosan dengan langkah konsepsual mengangkat rakyat yang tertinggal dari derap pembangunan akibat petro dollar negerinya. Dia butuh yang praktis. Yang praktis itu adalah memberikan Bantuan Langsung Tunai kepada mereka yang miskin. Satu juta rakyat miskin Libia akan menerima USD 22.900 per tahun atau sama dengan Rp. 170 juta atau sama dengan Rp. 14, 5 juta per bulan! Dan yang setengah juta rakyat libia lainnya akan menerimanya setengahnya atau Rp. 7,5 juta per bulan.

Cara praktis ini ditentang habis oleh elite politik Libia. Karena akan menelan ongkos mahal dan menekan anggaran nasional. Khadapi tidak peduli. Dia harus mengambil keputusan. Benarlah. Memang mahal sekali ongkos redistribusi penghasilan ini. Maka dapat ditebak ujungnya yaitu Khadapi mulai mengungkit ungkit kotrak revenue sharing pengolahan ladang minyak oleh pihak asing.. Khadapi minta agar kontrak revenue sharing itu direvisi untuk lebih besar, lebih adil bagi rakyat Libia. Tak pelak lagi, hampir semua perusahaan raksasa yang mengolah ladang minyak di Libia merasa terganggu kenyamanannya, dan hampir sebagian besar mereka telah melepas sahamnya dibursa London dan New York. Ini adalah mimpi buruk bagi mereka. Khadapi tidak peduli dengan semua itu. Dia tetap dengan tekadnya seperti news yang saya baca pada The african Finance Jurnal tahun 2009 “ Libyans, this is your moment in history. Your country, your oil and the government are in your hands. This is a chance at complete freedom. Why would you let this opportunity pass you by”

Sebetulnya ide pendistribusian yang adil atas ladang minyak Libia kepada rakyat sudah dicanangkan Khadapi sejak 30 tahun lalu. Tapi tekanan international yang begitu hebat secara langsung maupun tidak langsung melalui smart approach kepada orang orang terdekat sang kolonel ini telah membuat Khadapi menerima kompromi untuk mengikuti konsep distribusi hasil secara konseptual.Tapi yang konsepsual , yang sistematis menurut mereka , sampai 30 tahun tidak ada hasil yang konkrit. Justru Libia menghasilkan banyak orang kaya dan super kaya. Sementara yang msikin tetap miskin. Para elite politik Libia telah menjadi broker hebat untuk asing menguasai sumber daya minyak Libia. Mereka kaya raya dan bercengkrama dengan investor migas kelas dunia dipusat pusat keuangan internatioanal. untuk memperkaya diri dari hasil minyak. Khadapi dikondisikan untuk benci dan lunak dengan pihak Barat/ AS karena ulah elite politiknya ini. Selama hampir 40 tahun , Bila Khadapi mulai mengungkit kontrak minyak, maka para elite ini memprovokasi ancaman dari Barat. Begitulah seterusnya.

Sejak tahun 2009 upaya gencar untuk me redistribusikan hasil minyak kepada Rakyat dicanangkan, sejak itu pula keadaan politik semakin memanas. Puncaknya bulan lalu paska kejatuhan Mubarak di Mesir , terjadi keributan di Libia. Keributan itu diawali dari Benghazi, yang merupakan wilayah yang diisi oleh mayoritas kelompok oposisi. Maklum saja wilayah ini tadinya adalah wilayah bekas Raja Idris yang dikudeta oleh Khadapi. Para elite yang dekat dengan Khadapi namun tidak seide dengan Khadapi soal meredistribusikan minyak kepada rakyat, berusaha untuk mengambil keuntungan dari situasi ini. Namun Polisi maupun militer berada dibelakang Khadapi. Beda dengan Mesir yang membuat Mubarak lemah karena militer tidak lagi seratus persen mendukung. Makanya upaya revolusi seperti di Mesir sulit terjadi di Libia. Dan seperti biasanya, karena ini agenda bisnis minyak bagi AS dan Barat, maka bila upaya pressure internal tidak efektif maka upaya militer dan politik embargo digunakan bagi Libia.

Demi alasan demokrasi dan HAM , pihak AS dan Barat lewat dewan keamanan PBB telah memberikan sangsi kepada Libia dalam bentuk embargo ekonomi. Aset keluarga Khadapi yang ada di Barat dan AS dibekukan. Sebagian kita mungkin larut dengan propaganda tentang kekejaman Khadapi dan kakayaan keluarganya. Tapi satu hal kita lupa berapa kekayaan yang dirampok oleh AS dan Barat atas ladang minyak Libia hingga membuat pundi wallstreet dan London melimpah tak terbilang. Ini tidak pernah dibuka oleh media massa Barat. Sebagaimana Libia, Indonesia juga sama , dalam soal minyak kita mendapat sedikit , Barat/AS mendapat banyak. Soal demokrasi, kalau AS memang pejuang demokrasi mengapa tidak aktif mendorong sistem demokratsisasi di negara ”boneka ”nya seperti Arab, Dubai, Emirat Arab yang jelas jelas monarkhi absolute ? Mengapa ? jawabnya sudah pasti ! ini bukan soal HAM , bukan soal Demokrasi. Tapi soal Minyak, soal Uang. !

Tuesday, March 1, 2011

Dana membangun

Sabtu minggu lalu saya berkunjung ke Pulau Bintan untuk menghadiri peresmian project wisata terpadu. Project dibangun oleh konsorsium yang terdiri dari local dan asing dengan dana investasi total mencapai Rp. 20 triliun selama jangka waktu 10 tahun. Namun investasi itu barulah rencana dengan segudang syarat yang harus dipenuhi oleh Pemerintah. Syarat utamanya tersedianya infrastruktur Bandara untuk pulau Bintan. Karna target market dari investasi wisata itu adalah asing ( Asean dan Jepang ) maka Bandara yang harus dibangunpun haruslah berkelas international. Dalam sambutan peresmian project itu, Presiden menyampaikan ulasan pentingnya investasi wisata untuk Bintan. Nampak oleh saya , Pak SBY sangat menguasai masalah soal Investasi. Dia berbicara tanpa teks dengan analitis yang jelas dan konkrit. Sebagai seorang pemimpin, saya dapat tegaskan bahwa SBY memang dibekali kecerdasan yang lebih. Dan tahu secara luas soal SWOT analisis negeri ini dalam menarik dana invstasi.

Upaya SBY untuk menarik investor private dalam bidang infastruktur memang tak kenal lelah. Awalnya dia berkuasa, dia memilih strategi dengan memperhatikan geopolitik ekonomi secara global. Makro ekonomi dijadikan strategi utama untuk diperkuat. Karena ketika awal dia berkuasa makro ekonomi Indonesia sangat lemah setelah berdarah darah menghadapi kasus BLBI dengan skema BPPN yang sarat korup. Mungkin inilah Presiden didunia yang bisa mendongkrak APBN tercepat didunia dan mengangkat GNP negara dari rating unqualified menjadi sejajar dengan negara maju dan tergabung dalam G20 diakhir periode pertama kekuasaanya. Secara ekonomi , makro yang kuat tentu akan memperbaiki rating Indonesia dipasar uang international dan tentu akan menjadi target arus dana global bagi kemajuan sektor riel yang bertumpu kepada kekuatan sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Tapi upaya kerja keras yang luar biasa itu, terhadang kepada penyediaan insfrastruktur ekonomi. Investor global memang tertarik akan kehebatan makro ekonomi Indonesia, politik yang stabil dibawah payung demokrasi. Namun , lagi lagi , dana private adalah raja diatas raja didunia kapitalis ini. Mereka bukan hanya butuh karpet merah untuk menyambut mereka tapi juga butuh senyuman ikhlas serta kemudahan untuk menanamkan modalnya yang pada akhirnya juga aman dari segala resiko akibat insfrastruktur yang carut marut. Inilah yang menjadi dilema oleh SBY. APBN yang begitu besar ternyata hanya menyediakan dana untuk infrastruktur sebesar 1,8 % dari GDP. Ini sangat kecil dibandingkan dengan negara Asean lainnya yang rata diatas 5%. Itulah sebabnya survey Global Competetiveness Report melaporkan kondisi infrastruktur keseluruhan berada pada peringkat 91 dari 134 negara yang disurvei.

Padahal kebutuhan dana insfrastruktur dari tahun 2011- 2014 tidak sedikit, yaitu Rp 1.429,34 triliun yang sebagian besar diharapkan datang dari sektor swasta. APBN tidak mungkin punya daya untuk menjelontorkan dana sebegitu besar karena harus menjaga posisi difisit anggaran. Janji pihak swasta untuk membangun infrastruktur dari tahun ketahun hanyalah pepesan kosong. Hal ini sempat dilontarkan oleh SBY pada pertemuan Asosiasi pekerja BUMN di Istana Bogor. Sumber dana kelembagaan untuk percepatan pembangunan insfrastruktur dilakukan dengan sistematis. Dibentuknya Perusahaan Penjaminan Insfrastruktur yang merupakan patungan antara pemerintah, World Bank dan ADB. Juga mengusulkan kepada DPR untuk merevisi undang undang Asuransi dan Dana Pensiun agar dana Lembaga ini dapat diperluas portofilonya untuk investasi langsung. Upaya inipun belum memperlihatkan pengaruh significant terhadap ketersediaan dana insfrastruktur.

Sekali lagi, kita melihat suatu fakta didepan mata, bahwa kehebatan SBY dengan strategynya menjadikan indonesia sorga bagi investor dengan menjaga makro ekonomi dan stabilitas politik , tidak otomatis membuat investor bersegera melempar dananya. Ingatlah berhadapan dengan dana adalah berhadapan dengan kapitalis alias predator. Sebaik apapun fasilitas yang disediakan negara untuk kenyamaan investor , mereka tidak pernah berpikir jangkan panjang. Apalagi ditengah dunia yang serba terbuka dan kesempatan yang begitu luas terbentang dilima benua, membuat investor begitu mudah datang melihat dan segera pergi ketempat lain. Sudah seharusnya pemerintah mengkaji ulang strategi menjaga makro dengan all at cost itu.

Ya, Setidaknya SBY sudah bekerja dengan sistem yang dimana dia telah melakukan terbaik yang bisa dia kerjakan. Tugas kita belajar dari itu semua untuk perbaikan yang lebih baik dengan kembali kepada akar kekuatan mandiri berdasarkan kapasitas yang mungkin bisa dikerjakan. Kemandirian itu tak lain adalah merekat seluruh jaringan masyarakat dalam satu barisan yang kuat. Perekat untuk itu adalah Agama. Amerika Latin berhasil menjadikan agama sebagai kekuatan menjadi something. Iran, juga berhasil menjadikan agama sebagai kekuatan menjadi something. Ya, Agama selain bagai elang (√°guila) yang terbang dengan idealisme spiritual yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan pribadi, tetapi juga membumi bagai induk ayam (gallina) yang terlibat secara etis dalam keseharian. Kalaulah Islam sebagai platform bernegara dan berbangsa, impian akan surga sudah akan terwujud kini dan di sini.

Mungkinkah ?

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...