Monday, September 26, 2011

Berkeluh kesah

Sejak kejatuhan Lehman Brothers tahun 2007 yang memicu krisis global sampai kini terus berlangsung bahkan semakin parah. AS yang obligasinya selalu dikenal dengan No Risk kini oleh S&P diturunkan peringkatnya menjadi AAA. Kemudian index ekonomi AS terus memburuk dengan ditandai turunnya indeks industry dengan banyak rontoknya perusahaan dan meningkatnya angka pengangguran. Ini tidak bisa diselesaikan dengan cepat dan butuh waktu panjang. Selama proses ini, negara didunia yang selama ini menjadi satelit AS untuk menerima luberan pertumbuhan ekonomi AS pasti akan menerima dampaknya. Benarlah, Eropa yang dikenal sebagai mitra strategis AS terkena imbas dengan diawali krisis hutang Yunani yang gagal bayar. Kemudian merambat ke Italia, Spanyol, Portugal. Likuiditas pasar uang mengering akibat semakin tergerusnya kepercayaan dunia khususnya ASIA terhadap surat hutang Eropa.Hampir semua lembaga keuangan kelas dunia maupun multilateral semakin pesimis dengan situasi ekonomi di Eropa.

BIla tahun 2007 awal krisis terjadi, para ekonom mempunyai ruang untuk melakukan recovery dengan menurunkan suku bunga namun hasilnya nothing, bahkan semakin sulit. Kini ruang untuk bergerak lincah diatas krisis semakin sempit. Suku bunga sudah sangat rendah. Pertemuan G20 yang dulu dirancang mengatasi krisis 2008, kini harus kembali duduk satu meja mengatasi krisis ini. Lantas apalagi solusi yang akan diambil ? Karena keseimbangan ekonomi global semakin goyah. Efek dana private akan bergerak deras kenegara berkembang yang semakin menyulitkan Eropa dan AS keluar dari krisis. Disisi lain Negara berkembang akan mengalami gangguan ekonomi makro akibat suplai uang yang deras , yang cepat datang , cepat pula pergi. Intinya adalah kesulitan liquiditas menjadi hantu bagi Negara yang hidup bertumpu dari hutang ini.

Ketika bertemu dengan teman dari Eropa dan AS dalam salah satu rapat bisnis, kami sempat membicarakan soal krisis yang sedang melanda AS dan Zona Eropa itu. Teman ini semakin pesimis dengan keadaan negaranya masing masing. Nampak mereka kehilangan kepintaran sebagaimana selama ini menjadi kebanggaannya untuk mengatakan ASIA bodoh. Mereka bertanya kepada saya, bagaimana dengan Indonesia. Saya jawab dengan enteng bahwa Indonesia tidak pernah krisis. Yang krisis itu adalah pemerintah. Mereka nampak bingung dengan ungkapan saya itu. Namun dengan enteng pula saya katakan bahwa kami rakyat sejak merdeka sampai kini tidak merasakan kehadiran pemerintah didalam kehidupan kami. Kami baru menyadari Negara itu ada ketika mau Pemilu atau ngurus Izin atau perlu Passport.

Coba perhatikan kata saya, ketika tahun 1998 saat krisis ekonomi ASIA , kami Negara yang terpukul paling keras. Ketika itu, rasio utang terhadap PDB bahkan sudah mendekati 100 persen, tak beda dengan situasi Eropa dan Amerika Serikat saat ini. Ditambah lagi ketika itu , kami juga sedang menghadapi krisis politik dengan jatuhnya Soeharto. Ditengah situasi itu, kamipun terkena benca alam Tsunami dengan korban diatas 300,000 jiwa. Bayangkanlah bila ini terjadi di Eropa atau AS, krisis ekonomi datang, krisis politik juga mendera, bencana alam terburuk menimpa. Saya yakin Negara kalian akan hancur. Kata saya dengan santai. Mereka bengong. Mungkin mereka baru menyadari bahwa pernah ada prahara lebih berat dibandingkan mereka kini. Lantas bagaimana negara anda bisa keluar dari situasi terburuk itu ? Kata mereka dengan antusias ingin mengetahui lebih jauh.

Lagi lagi saya katakan dengan santai bahwa yang krisis itu pemerintah bukan rakyat. Kami rakyat tidak peduli soal krisis itu. Akibatnya para elite politik bisa berdamai satu sama lain untuk mengambil kebijakan yang cepat melalui penyelamatan perbankan dan dunia usaha sekaligus. Pemerintah atas dasar keputusan politisi menanggung semua hutang perbankan dan swasta itu dan selanjutnya akan menjadi beban rakyat selama lamanya lewat APBN. Apakah itu semuanya ditanggung ? bagaimana dengan mereka yang menjarah perbankan ? Tanya mereka beruntun. Kembali saya jawab dengan tersenyum. Ada yang diadili dan tak banyak yang dipenjara. Apa peduli kami. Mereka geleng geleng kepala. Mengapa rakyat Indonesia tidak marah ? Tanya mereka bingung. Apa peduli kami? Jawab saya singkat. Namun lihatlah hasilnya kini, dunia usaha bangkit, perbankan tumbuh dengan percaya diri, kelompok menengah tumbuh cepat. APBN meningkat ratusan persen dibandingkan sebelum krisis, rasio hutang tinggal 20%.

Apakah dengan situasi sekarang ini rakyat Indonesia mendapatkan kemakmuran? Tanya mereka. Apa peduli kami soal kemakmuran. Jawab saya santai. Dengan data yang saya berikan itu sudah cukup bukti bahwa rakyat Indonesia makmur. Kata mereka. Tapi saya jawab lagi dengan santai. Siapa yang peduli dengan angka statistic itu. Jadi apa yang rakyat Indonesia pedulikan? Kami juga tidak tahu apa yang kami pedulikan. Kami hanya berpikir hari ini dan bersyukur bahwa kami masih bisa bernafas menghirup udara pemberian Allah dan manikmati sinar matahari , yang keduanya gratis dari Allah.Soal makan ,sedikit disyukuri banyak berbagi. Itu saja. Bagaimana soal masa depan ? Tanya mereka dengan cepat. Saya jawab itulah masalah anda sebenarnya.Anda selalu memikirkan yang belum terjadi sementara hari ini anda hidup berkeluh kesah dan lupa mensyukuri. Padahal masih banyak rakyat diplanet bumi ini yang mati kelapran, sakit tak terobati, rumah hancur terkena bencana. Jadi stop berkeluh kesah. Yang pasti dimasa depan semua orang pasti mati.

Bagiamana agar hidup tidak berkeluh kesah seperti rakyat Indonesia yang dengan santai berkata Who care? . Tanya mereka. Kini saatnya anda belajar dengan rakyat Indonesia yang mayoritas beragama islam sebagai pondasi negara Indonesia yang membuat para elite terbodoh, terlambat berbuat, terkorup tetap bisa memimpin. Jawab saya santai. Lantas apa jadinya bila pemimpin anda itu orang hebat , jujur, amanah? kamilah penguasa dunia ini untuk lahirnya rahmat bagi semua. Jawab saya dengan tersenyum. Mereka bengong. Saya miris...

Saturday, September 17, 2011

Demokrasi dan TNC

Penggagas serangan Militer ke Libia untuk menjatuhkan Muammar Gaddafi adalah Francis yang juga anggota NATO. Sebagaimana alasan klise yang sudah sudah dari arogansi NATO untuk menggunakan kekuatan militer menjatuhkan penguasa yang tak disukai adalah soal Kemanusiaan. Juga sebagai mana biasanya ketika penguasa dijatuhkan , mereka tampil ba' pahlawan untuk menjadi mentor proses transisi kekuasaan. Namun sebetulnya tak lain adalah memastikan deal dengan kelompok local (pro NATO) berjalan sesuai dengan rencana. Apa itu ? menagih commitment yang sudah disepakati, soal persentase bagi hasil yang akan didapat. Maklum saja serangan militer itu tidak gratis. Ongkosnya mahal dan semuanya harus dibayar dalam bentuk minyak yang merupakan kekayaan utama Libia. Hampir 95% pendapatan eksport Libia berasal dari minyak yang menyumbang 80% dari PDB nasional.

Sebelum pecahnya konflik, Libya mengekspor sekitar 1,3-1.400.000 barel per hari dari total produksi sekitar 1,79 juta barel per hari, dimana sekitar 280.000 barel per hari dikonsumsi dalam negeri. Tapi analis percaya bahwa dengan rekonstruksi Libya bisa segera mengekspor 1,6 juta barel per hari minyak berkualitas tinggi, minyak mentah ringan. Libya memiliki cadangan terbukti minyak terbesar di Afrika dengan 42 miliar barel minyak dan lebih dari 1,3 triliun meter kubik gas alam. Tentu ini membuat penguasa dari Beijing sampai ke Eropa dan AS meneteskan air liur untuk ambil bagian. Apalagi peluang masih terbuka lebar karena baru 25% resource minyak Libia yang di exploitasi

Dengan sumber daya minyak yang begitu besar, kini para petinggi National Transitional Council (NTC) Libia sibuk memenuhi komitmen bagi bagi hasil itu. Francis yang merupakan penyumbang terbesar dukungan militer kepada pembrontak akan mendapatkan jatah 35 % dari total produksi minyak Libia. Francis mendapat hak exclusive mengontrol pasar sebesar itu. Sementara Negara lain seperti Inggeris , AS akan mendapatkan jatah sesuai dengan contribusinya. Sumber daya minyak dijadikan bancakan oleh mereka. Yang pasti , hengkangnya Muammar Gaddafi dan menangnya oposisi telah membuat operator minyak yang ada di Libia yang sebagian besar TNC bisa bernafas lega untuk membuat para pemegang saham di wall street dan Eropa tidak lagi stress. Satu lagi kisah menyedihkan dari konspirasi kapitalisme yang akhirnya bermuara pada satu hal yaitu penguasaan resource bagi kepentingan laba dan pasar.

Sebetulnya apa yang terjadi dengan Libia, juga tak beda dengan yang di Irak. Yang dikuasai melalui kekuatan militer bagi penguasa yang tidak loyal. Sementara dalam bentuk lain penguasaan terus juga terjadi terhadap Negara lain. Tidak menggunakan kekuatan militer tapi melalui sytem demokrasi, para elite politik ditekan secara smart power ( uang dan kekuasaan ) untuk mengeluarkan produk UU yang memungkinkan TNC menguasai sumber daya alam. Hal seperti ini dapat dilihat di Nigeria, termasuk juga Indonesia. Bagi Negara yang tak mengenal demokrasi seperti Arab Saudi dan Emirat Arab serta Negara kaya minyak lainnya , selagi penguasanya loyal kepada kepentingan TNC maka penguasa itu tetap didukung untuk terus berkuasa dibawa bendera otokratis yang anti demokrasi.

Jadi demokrasi atau otokrat , bagi TNC itu tida penting. Yang penting bagaimana rezim berkuasa itu dapat comfortable menjadi budak mereka. Mungkin karena di Indonesia tidak ada lagi figure nasional sebagai orang kuat untuk mengawal kehendak TNC dalam menguasai SDA maka system demokrasi adalah tepat untuk Indonesia. Lewat system ini, budaya korup dibangun agar orang berlomba lomba mengeruk harta haram dan selanjutnya menggunakan harta itu untuk tampil berkuasa. Setelah berkuasa mereka akan tersandera oleh budaya korup untuk terus korup , untuk mempertahankan kekuasaan yang memang tidak gratis.

Pada era sekarang, Negara modern tidak lagi terlibat dalam jargon politik untuk menganeksasi Negara lain. Tidak!. Kini semua berbicara soal kepentingan hegemoni bisnis bagi TNC dalam menguasai sumber daya alam serta pasar. Para penguasa secara tidak langsung menjadi agent TNC untuk berkerja dan bertindak atas nama kepentingan TNC. Bagamana membungkus posisi agent itu agar dihadapan rakyat terkesan anggun ? System demokrasi punya cara hebat untuk membuat kebijakan yang serba procedural menjadi produk hukum yang legitimate atas nama rakyat. Juga data statistic akan mengemasnya sebagai dasar bahwa pemerintah bekerja untuk rakyat. Semua hanya tipu dan tipu kepada rakyat bodoh. Sadarlah.

Tuesday, September 13, 2011

Xi Jinping

Siapakah Xi Jinping (56)?. Mungkin kita semua tahu bagaimana suksesnya Olimpiade Beijing tahun 2008. Bahkan sepanjang sejarah Olimpiade sampai kini belum ada Negara didunia yang mampu melakukan persiapan dan penyelenggaran Olimpiade sebaik China. Dibalik suksesnya Olimpiade yang spektakuler itu yang mengantarkan China sebagai juara umum, ada tokoh kunci . dialah Xi Jinping yang dikenal sebagai pribadi rendah hati. Kini dia menjabat sebagai Wakil President China , juga menjadi anggota tetap Kelompok 9 (Zhongnanhai) Biro Politik Partai Komunis. Diperkirakan tahun depan dia akan menggantikan HU Jintao sebagai President China, negara dengan populasi terbesar didunia dan kekuatan ekonomi nomor dua didunia. Suksesnya meniti tangga karir sampai kepuncak tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Sebagai putra dari Xi Zhongxun, pahlawan revolusioner Komunis dan mantan wakil perdana menteri, Jinping Xi tetap rendah hati dalam meniti karirnya. Betapa tidak, dalam usia 16 tahun Ia dikirim oleh ayahnya ke sebuah desa pegunungan terpencil di provinsi barat laut Shaanxi. Ia menghabiskan enam tahun di sana, memotong jerami, menuai gandum dan menggembalakan ternak di siang hari, dan membaca buku di temaram cahaya lampu minyak tanah dan tidur diartas kasur yang berkutu. Didesa itu dia terpilih sebagai sekretaris Cabang Partai . Dia berhasil meningkatkan moral rakyat desa untuk antusias bekerja keras. Keberhasilannya di desa memungkinkan dia mendapat rekomendasi untuk masuk universitas Qinghua. Setelah lulus dari Teknik Kimia Universitas Qinghua pada tahun 1979, ia menjadi sekretaris Geng Biao, wakil perdana menteri dan menteri pertahanan nasional.Tapi tiga tahun kemudian, dia memutuskan untuk meniggalkan kenyamanan hidup di Beijing dan kembali ke akar rumput untuk mengembangkan diri.

Dalam dua dekade berikutnya, Xi diawali karirnya sebagai wakil sekretaris Komite Partai di Zhengding di Provinsi Hebei, dan selanjutnya memperoleh pengalaman kerja lebih banyak di daerah pesisir pantai, termasuk Fujian dan provinsi Zhejiang dan Kota Shanghai. Tentu pejabat di Fuzhou ibu kota Fujian masih ingat akan gaya kepempimpina Xi di tahun 1990a ketika dia menjabat sebagai sekretaris Komite Partai di kota itu. Xi menekankan istilah “lakukan Sekarang”. Xi berusaha merubah budaya local yang suka bertele tele mengambil keputusan dan bermusyawarah menjadi budaya yang mampu merespons dengan cepat atas permasalahan yang timbul dengan kerjas keras dan efisien. Selama 17 tahun dia berkerja di Fujian, budaya responsip itu telah menjadi bagian dari kota itu untuk mampu bersaing dalam putaran waktu dengan provinsi lainnya. Dia meniti karir dari Waki Wali Kota Xiamen pertengah tahun 80an dan kemudian menjabat Gubernur diawal tahun 2000an. Selama masa jabatannya, Xi mendedikasikan dirinya untuk membangun layanan public yang cepat dan murah , melestarikan lingkungan dan mempromosikan kerjasama dengan Taiwan.

Tahun 2002 posisinya sebagai Sekretaris Komite Partai tingkat provinsi Zhenjiang. Dia mendapatkan tugas yang pelik karena ketika itu Zhejiang tumbuh begitu pesat namun juga menimbulkan masalah social yang tidak kecil. Dikawatirkan dalam jangka panjang pertumbuhan Zhenjiang akan stuck. Setelah melakukan penelitian yang seksama, Xi memerintahkan otoritas local merestruktur Zhenjiang secara keseluruhan (kebayang engga dikita bila Jakarta atau Bandung atau Surabaya di restruktur ). Ini pekerjaan yang sulit dan beresiko karena sebagian besar industry di Zhenjiang sudah berskala International dan perkembangan zona industry yang pesat serta di jejali pemukiman padat perkotaan. Tapi berkat kecerdasannya dan sikapnya yang rendah hati mampu meyakinkan semua pihak untuk mendukung keputusannya dan terbukti berhasil menjadikan Zhenjiang mampu menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan.

Ketika Xi diterjukan ke Shanghai sebagai sekretaris Komite Partai, dia harus menyelesaikan krisis politik yang dipicu oleh skandal keuangan dana pensium terburuk di China. Maklum saja, hampir semua kader partai yang menduduki pos di Shanghai adalah orang pilihan yang terbaik diantara yagn terbaik di China. Namun , Xi mampu mengelola komplik itu dengan sempurna dan membersihkan elite partai yang terlibat dalam skandal termasuk menjatuhkan ketua Partai Kota. Dia menekankan kepada semua elite politik di Shanghai juga kepada pejabat local untuk lebih keras kepada diri sendiri kalau ingin pengabdian kepada rakyat akan berbuah baik. Setelah tujuh bulan bekerja keras, Xi berhasil mempertahankan stabilitas tidak hanya di Shanghai tetapi juga memoles citra ternoda dengan membawa angin segar pembaharuan. Sekarang shanghai menjadi kota lebih terbuka,harmonis dan dinamis. Dengan prestasi itu tahun 2008 mengantarkan suami Peng Liyuan itu ke Beijing untuk duduk dalam anggota 9 komite tetap Partai Komunis,

Demikianlah bagaimana China melahirkan pemimpin berkelas dunia namun ditempa oleh pengabdian dan pendidikan lokal. Mereka tumbuh dan berkembang dari tantangan tugas di daerah dan wilayah, bukan di Pusat kekuasaan yang bergelimang kemewahan. Setiap phase para kader Partai menunjukan pengabdian terbaiknya dan setiap waktu pula secara system mereka akan dinilai. Ada yang tersingkir karena korup , culas, adapula yang stuck karena lambat dan malas , ada juga melesat bagaikan roket karena cerdas dengan daya responsip tinggi. Hanya yang terbaik yang berhak duduk dipiramida puncak kepemimpinan di China. Dan yang lebih penting dari itu semua adalah dedikasi tinggi memegang amanah kekuasaan untuk yang terbaik bagi china kini dan besok.

Apa yang terjadi di China tidak mungkin terjadi di Indonesia yang menerapkan system demokrasi langsung. Kepemimpinan di Indonesia lahir lewat pencitraan dan bukan prestasi yang berakar dari proses panjang pengabdian ditengah masyarakat. Maka jangan kaget bila pemimpin kita sibuk membangun citra diatas budaya korup dan dusta dihadapan rakyat.

Thursday, September 8, 2011

pemerintahan yang efektif

Dua puluh tahun yang lalu ketika tembok Berlin runtuh orang mengatakan end of history untuk komunis. Artinya titik akhir evolusi idiologi ( Komunis ) umat manusia dan universialisasi demokrasi cara Barat. Tapi kini terbukti itu semua salah. Justru system demokrasi secara pasti membawa kepada kehancuran secara systematis. Ketika krisis global tahun 2008 terjadi, tahun 2009 semua Negara melakukan program stimulus ekonomi untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Nyatanya China yang komunis lebih efektif dalam menerapkan kebijakan tersebut dengan melakukan ekspansi anggaran terbesar didunia melalui pembangunan insfrastruktur. Sementara Negara lain seperti AS dan Eropa yang pemimpinnya terpilih secara demokratis jauh lebih lambat mengatasi krisis. Bahkan terkesan program stimulus terkesan tidak efektif mengatasi dampak krisis.

Itulah sebabnya ketika tahun 2009 kunjungan presiden China Hu Jintao terkesan setengah keras menegur Washington untuk keluar dari system liberal agar dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan banyak bertele tele di parlemen. Maklum saja, China punya kepentingan untuk mendidik AS bagaimana mengelola pemerintahan dengan baik karena China merupakan kreditur terbesar AS. Barat dan AS dapat belajar dari china bagaimana dalam tiga decade mampu mengangkat lebih dari setengah miliar rakyat masuk dalam kelompok menengah dan memperkecil kesenjangan social. Sementara AS dan Barat , ketika krisis justru kelompok menengahnya jatuh kekelompok bawah dan kelompok bawah jatuh manjadi dibawah garis kemiskinan.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana China mampu mengelola ekonomi Negara yang juga mengikuti cara kapitalisme namun berhasil dibandingkan AS dan Barat yang justru gagal dan terpuruk ? jawabannya sederhana , yaitu terletak kepada otoritaris politik yang begitu besar ditangan Partai Komunis. China adalah Negara yang tidak mengenal pemilu dan tidak mengenal system demokrasi pemilihan pemimpin. Kepemimpinan disetiap jenjang dipilih berdasarkan musyawarah elite partai komunis. Para elite ini benar benar elite. Mereka adalah orang yang sangat segelintir sebagai pemain kunci dalam setiap keputusan politik beskala nasional. Setiap keputusan elite politik di pusat diterjemahkan dengan baik oleh para kader dibawah untuk diterapkan secara sistematis. Mungkin system rekrutmen yang solid, pembinaan yang berkesinambungan, serta pengawasan yang ketat membuat setiap keputusan politik menjadi efektif.

Disamping itu karena system politik yang tunggal maka ongkos politik di China sangat murah. Para pemimpin yang terpilih tak dipusingkan dengan program pencitraan sebagaimana system demokrasi. Mereka lebih focus melaksanakan program kerja Partai. Walau para pemimpin itu tidak dipilih oleh rakyat namun platform partai sangat responsip dengan tuntutan rakyat. Maka bila pemimpin melaksanakan program partai itu sama saja dia sudah melaksanakan tuntutan rakyat. Ada yang unik di china bahwa setiap pemimpin terpilih tidak pernah merubah kebijakan dari pemimpin sebelumnya. Bagi china , setiap pemimpin terpilih sebagai proses berkelanjutan dari pemimpin sebelumnya. Mereka yang terpilih melaksanakan visi misi partai dengan agenda sesuai era kepemimpinannya. Jadi pemimpin di China bertugas lebih kepada proses membangun system yang kadang hasilnya tidak bisa dirasakan dalam era kepempinannya. Dan mereka tidak mempersoalkan soal itu. Karena mereka memang tidak butuh citra kecuali pengabdian.

Yang jelas dengan kekuasaan partai yang sanga besar di China ,digunakan untuk tujuan positip termasuk membuat keputusan sulit yang berhubungan dengan platform komunis yang anti pasar bebas menjadi pengelola pasar bebas, Komunis yang anti kritik menjadi komunis yang ahli menjadikan kritik sebagai alat pemicu para kader partai bekerja efektif dan efiisien. Komunis yang anti kapitalisme menjadi komunis yang piawai mengendalikan kapitalisme untuk membuat rakyat mampu berproduksi dan berkompetisi. Komunis yang anti pengaruh asing menjadi komunis yang piawai memilih pengaruh positip asing bagi kemajuan china. Komunis yang lambat dan boros, menjadi komunis yang cepat dan efisien. Mungkin kita mendengar bagaimana Pemimpin china dengan tangan besi memaksa penduduk meninggalkan tanah mereka demi pembanguan waduk tapi kita tidak pernah mendengar kekuatan perusahaan swasta menggunakan tangan pemerintah untuk merubah UU agar bisa menganeksasi tanah rakyat dan menguasai SDA.

Lantas apakah dengan system otoriter itu para elite china lebih leluasa untuk korup ? oh tidak. Sebagaimana program jangka panjang partai yang salah satunya adalah memerangi korupsi maka jangan kaget bila dihitung antara 1 Oktober 2009 sampai dengan 30 April 2010 terdapat 211 hari, maka ada 14 orang koruptor (3.000 : 211) setiap hari yang telah ditangkap dan dihukum di Cina. Coba bandingkan dengan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Pada tahun 2009 tercatat Indonesia hanya berhasil memvonis bersalah sebanyak 154 orang koruptor atau 0,4 orang perhari (154:365), selebihnya dibebaskan sebanyak 224 orang. [7] Perbandingan jumlah koruptor dihukum antara Indonesia dan Cina adalah 1:35 atau setiap satu orang koruptor dihukum di Indonesia maka ada 35 koruptor di Cina yang sudah dihukum. Dan lagi di China , ancaman hukum bagi koruptor adalah hukuman mati, beda dengan di Indonesia yang dipenjarannya seperti kamar panthouse hotel berbintang.

Apa yang dapat ditarik pelajaran dari china ? ternyata kunci keberhasilan membangun peradaban tidaklah terletak pada kehebatan sains seperti AS dan Barat, tidak terletak pada jumlah SDA yang melimpah seperti Indonesia, tidak terletak kepada fanatisme dan romantisme agama tapi semua itu terletak kepada attitude pemimpin. Bila attitude pemimpin baik maka baik pulalah peradaban itu. Bila attitude pemimpin buruk maka buruk pulalah peradaban itu. Democracy in Indonesia (US/others) may have an inherent legitimacy that the Chinese system lacks, but it will not be much of a model to anyone if the government is divided against itself and cannot govern.

Saya tidak bisa membayangkan bila attitude pemimpin china yang didasarkan etika moral yang berakar pada norma Tao /Konghucu dapat begitu hebatnya, gimana kalau mereka mengikuti attitude sesuai tuntutan hadith dan Al quran sebagai penyempurna akhlak manusia akhir zaman.... Mungkinkah kita bisa belajar dari china untuk menjadi lebih baik dari china dengan menjadikan nilai nilai islam dalam membangun peradaban dan memilih pemimpin ? mungkinkah ?

Saturday, September 3, 2011

Islam Kaffah

Acap kita mendengar kata ”Akhlak”. Apa sih yang dimaksud dengan akhlak ? Lantas apa bedanya dengan Etika, Moral, Norma. Semua kata itu bernuansa kebaikan tak ubahnya dengan akhlak. Akhlak itu sendiri sebetulnya berasal dari bahasa Arab , khuluqun. Kata kata khuluqun itu sendiri berarti kejadian yang erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipa. Singkatnya pengertian akhlak adalah perbuatan baik yang disebabkan oleh adanya hubungan antara makhluk dengan khaliq untuk dasar berinteraksi dengan sesama mahkluk. Dalam keseharian kita akhlak dikenal dengan istilah budi pekerti. Budi merupakan kesadaran ( kejiwaan ) yang ada pada manusia yang didorong oleh pemikiran, rasio. Pekerti merupakan perpaduan dari hasil rasio dan hati yang termanifestasikan dalam bentuk tingkah laku.

Lantas apa bedanya dengan etika? Sebagian orang menganggap etika itu sendiri adalah akhlak. Memang keliatan sama karena keduanya berhubungan dengan tingkah laku manusia. Namun ada letak perbedaannya yang principil yaitu soal kebenaran. Kebenaran pada etika adalah kebenaran akal yang bersandar pada filsafat. Ini kebenaran yang bersifat subjective. Yang tentu kebenaran itu tidak selalu benar tergantung dengan tempat, situasi dan kondisi yang ada. Sementara akhlak, sumber kebenaran itu berasal dari Al Quran dan hadith. Ini bukan buah pikiran akal dan bukan pula tesis filsafat. Ini firman Allah. Ia menembus ruang dan waktu yang tak mungkin didebat.

Bagaimana dengan Moral ? Istilah moral senantiasa mengacu kepada baik buruknya perbuatan manusia sebagai manusia. Norma moral dijadikan sebagai tolak ukur untuk menetapkan betul salahnya sikap dan tindakan manusia. Nah,Kalau etika lebih bersifat teori sementara moral lebih bersifata praktis. Contoh , moral menyatakan ukuran , etika menjelaskan ukuran itu . Bila etika bersifat universal sementara moral bersifat lokal ( budaya ). Etika di AS belum tentu sama dengan moral di Indonesia. Dibelakang moral ada norma yang menjadi dasar berbuat. Norma itu menyangkut aturan , pedoman yang bersifat normative . Dengan norma ini diharapkan manusia bisa beriteraksi dengan tertip.

Etika, moral yang bersandar kepada norma tak lain adalah kebudayaan. Setiap bangsa didunia punya kebudayaan sesuai dengan geographisnya masing masing. Tak bisa dipisahkan manusia dengan lingkungannya Umumnya manusia belajar dari alam. Alam terkembang menjadi guru.. Ayat ayat Allah tersebar di alam semesta ini dan dari situlah manusia belajar membangun kebudayaan agar kehidupan menjadi tertip dan damai. Itu sebabnya ketika para wali menyiarkan agama islam di nusantara , tidak melakukan perombakan total tatanan moral, etika dan norma. Para wali hanya memperbaiki sesuai dengan al Quran dan hadith. Makanya warna islam di Indonesia berbeda dengan di Arab namun substansinya sama, sama sama kiblat ke mekkah , dengan berikrar dua kalimasahadat..

Hal tersebut dapat dimaklumi karena jarak era masing masing rasul itu sangat jauh atau ribuan tahun maka wajar saja bila ajaran agama tauhid itu telah bermetamorfosa menjadi budaya yang tersusun dalam bentuk etika moral dan norma namun terselewengkan oleh akal yang bersifat subjective. Nabi Muhammad SAW ditugaskan oleh Allah tak lain untuk memperbaiki Akhlak manusia. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Al-Bukhari dan Malik). Kesannya sangat jelas dalam misi Rasul itu yaitu untuk menyempurnakan Akhlak. Artinya sesuatu yang sudah ada akan dikoreksi sedemikian rupa agar baik dan sempurna. Bukan terkesan sebagai sebuah revolusi atau merombak total sehingga menjadi yang baru sama sekali. Itu juga berarti bahwa proses agama tauhid yang diturunkan Allah sejak Nabi Adam terus eksis dan sampai ke Muhammad itu disempurnakan.

Dalam konteks membangun peradaban yang diperlukan bukanlah Islam Arabian. Tapi islam nilai. Nilai nilai islam itulah yang utama. Dalam nilai islam itu bisa saja berangkat dari kebudayaan yang bersandar kepada etika, moral, norma namun disesuaikan dengan akhlak sebagai sumber kebenaran ilahiah. Inilah yang harus dipahami oleh umat islam agar cerdas beragama atau tidak terkesan eklusive. Jangan bersandar kepada hal yang tersurat saja tanpa memperhatikan yang tersirat dialam semesta ini. Islam kaffah adalah islam yang bersandar kepada yang tersurat maupun yang tersirat. Yang tersirat itu adalah pengetahuan yang diajarkan oleh Allah lewat kehidupan ini sejak bumi terbentang. Dari itulah kita tahu bahwa ilmu Allah itu teramat luas untuk kita mendapatkan hikmah.

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...