Saturday, January 26, 2013

Redenominasi rupiah


Sebetulnya rencana redenominasi rupiah ini tidak datang mendadak. Tapi sudah direncanakan jauh sebelumnya. Tahun 2008, teman saya yang bekerja di BI pernah menyampaikan kepada saya prihal rencana BI untuk redenominasi rupiah. Namun rencana itu tidak diwacanakan kepublik. Baru kinilah redenominasi itu disampaikan kepada public. Apa yang dimaksud dengan redenominasi itu? Dari istilahnya saja dapat dimengerti bahwa itu hanya merubah angka uang namun tidak mengurangi nilainya. Untuk redenominasi rupiah ,pemerintah menghilangkan tiga nol dibelakang. Contoh Rp. 100,000 menjadi Rp. 100,  Rp. 10.000 menjadi RP. 10. Sebetulnya kalau kita makan direstoran asing seperti restoran Jepang, pada menu tidak lagi mencantumkan harga dengan nol berderet tapi disingkat dengan menghilangkan tiga nol dibelakang. Jadi benarlah bahwa alasan redenominasi hanyalah bertujuan mensederhanakan penyebutan nilai uang dan sekaligus menekan biaya fund  provider seperti system pencatatan, pelaporan yang berbasis IT. Maklum di era sekarang uang tidak selalu dalam bentuk kertas/coin. Ada juga yang berbentuk data yang didistribusikan  dan dipertukarkan lewat  system IT.

Tapi ada yang menjadi tanda tanya public, apakah benar bahwa redenominasi itu bertujuan untuk menyederhanakan sebutan nominal uang atau hanya sekedar menghilangkan angka nol dan efisiensi distribusi.? Kalau melihat sejarah redenominasi diberbagai Negara yang pernah mengalaminya maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan redenominasi mata uang dipicu oleh inflasi ( hyper inflasi) yang sulit diatasi. Benarkah Indonesia berada pada posisi yang tak bisa mengatasi inflasi sehingga perlu redenominasi? Pertanyaan ini sulit dijawab oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo bahwa nilai tukar dollar AS terhadap rupiah saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah dinilai terlalu rendah. Mengapa nilai rupiah tidak ada korelasi significant dengan data fundamental ekonomi Indonesia? Harap diketahui bahwa nilai uang pada era sekarang tidak hanya ditentukan oleh data makro ekonomi tapi banyak variable lain yang ikut menentukan nilai uang itu. Hukum pasar sangat kejam. Dari system pasar itulah kondisi rupiah terus melemah dan melemah, Tentu berdampak pada kenaikan harga kebutuhan yang sebagian besar di import.

Ya benar. Semua pemain pasar uag tahu pasti bahwa ada beberapa variable yang diluar control pemerintah yang ikut menentukan nilai uang. Dari tahun ketahun BI dan Pemerintah lelah dan kehilangan kepintaran untuk membuat rupiah perkasa di pasar uang. Setiap point kejatuhan rupiah terhadap dollar akan berdampak kepada kenaikan harga barang dan belanja pemerintah. Inflasi akan terkerek keatas. Mungkinkah dalam kelelahan itu maka terpikirkan untuk me redenominasi rupiah. Waktu kemarin ketemu dengan banker asing di Hotel Marriot, dia mengatakan bahwa kalaulah alasannya demi efisiensi ditribusi uang dan pencatatan transaksi digital nontunai maka redenominasi terlalu mahal ongkosnya. Akan lebih murah bila merubah material uang dan memperbesar database ( memory) computer. Tapi mengapa ini terlalu dipaksakan? Tanya saya. Menurutnya ini bagian dari siasat pemerintah untuk mempengaruhi salah satu variable yang menentukan nilai uang dipasar. Jadi seperti memberikan dampak psikologi atas nilai.

Ya secara psikologis pemerintah lebih leluasa mempermainkan nilai uang dipasar. Karena perubahan point kenaikan atau kejatuhan mata uang tidak begitu nampak oleh orang awam. Pengusaha  juga bisa leluasa mempermainkan harga. Bila beras harganya tadi Rp. 10.000/Kg atau setelah redenominasi menjadi Rp.10. Lambat atau cepat harga akan terkerek menjadi Rp. 15 dan kemudian mungkin menjadi Rp. 20. Itu tidak akan besar dampak psikologinya dibandingkan harga beras Rp. 10.000 naik menjadi Rp. 20,000. Kemudian pemerintah juga tidak merasa gamang bilang harus menerbitkan Bond sebesar Rp. 5 miliar daripada menerbitkan bond senilai Rp. 50 triliun (tanpa redenominasi). Makanya berkaca dari pengalaman Negara yang melakukan redenominasi, selalu dampak psikologis sulit dikendalikan yang sehingga harga melambung dan mengarah kepada hiperinflasi. Ini harus diperhitungkan oleh pemerintah. Jangan sampai nasipnya sama dengan Rusia, Argentina, Zimbabwe, Korea Utara dan Brazil tercatat sebagai negara-negara yang gagal dalam melakukan redenominasi. Mungkin BI meniru seperti yang diterapkan oleh Turki dalam redenominasi mata uang, yang dikenal sangat berhasil.

Sebagaimana Turki, BI akan melakukan redenominasi mata uang ini secara bertahap dan terprogram. Yang paling penting adalah timing nya harus tepat. Kapan tepatnya? Ya pada saat terjadi puncak kombinasi sukses memangkas inflasi dan besarnya cadangan devisa akibat export serta berkembang pesatnya sector riel. Disamping saat itu kesadaran masyarakat sudah tinggi bahwa redenominasi bukan senering ( pemotongan uang) tapi hanya menyederhanakan bilangan tanpa menjatuhkan nilai. Ini butuh waktu tidak sebentar. Ada proses yang panjang. Setidaknya program ini harus kita dukung bila ini (jujur) sebagai salah satu cara mensiasati nilai uang yang terus melemah akibat ulah pasar yang culas.

Friday, January 18, 2013

Mengapa Jakarta Banjir


Dulu zaman Kolonial, Belanda membuat kebijakan perubahan tata ruang wilayah Bogor dan Puncak, yang tadinya sebagai wilayah perkebunan karet  dirubah menjadi wilayah perkebunan teh.  Dampak dari perubahan tata ruang ini akan mengakibatkan debit air dari wilayah Bogor dan Puncak ke daerah hilir Jakarta akan bertambah besar. Karena tanaman teh tidak seperti tanaman Karet yang lebih baik dalam meresap air hujan. Dampak itu diketahui dengan pasti oleh penguasa colonial ketika itu. Apalagi terbukti setelah perubahan tata ruang itu Batavia ( Jakarta) mengalami banjir hebat. Itu sebabnya ketika kebijakan itu diterapkan Pemerintah Kolonial Belanda juga menyiapkan segala sesuatunya untuk mengantisipasi dampak dari perubahan tata ruang itu. Maka dibangunlah Banjir Kanal Barat yang berjarak 17,3 KM dari Pintu Air Manggarai hingga ke Muara Angke. Konsep Banjir Kanal Barat ini datang dari Prof Van Breen yang pada tahun 1920 diangkat sebagai Ketua Team Penyusun Rencana Pencegahan Banjir. Saat itu luas Jakarta ( Batavia ) hanyalah 2500 Ha. Konsep ini sederhana saja yaitu mengendalikan aliran air sejak dari hulu sungai dan mengatur volumenya masuk ke Jakarta. Dari saluran kolektor  dipinggiran selatan kota , air dialirkan melalui tepi barat kota. Saluran kolektor inilah yang disebut dengan Banjir Kanal Barat. Sampai kini sarana itu masih dipakai oleh DKI

Begitulah cara pemerintah Kolonial mengelola kota  dan sekaligus bertanggung jawab terhadap rakyat penduduk kota. Setiap kebijakan yang ada dipikirkan dampaknya. Bila dampaknya buruk maka diantisipasi. Jadi Analisa Dampak Lingkungan memang menjadi satu kesatuan terhadap prinsip kebijakan pemerintah colonial. Tapi setelah kita merdeka, pemerintah tidak lagi memikirkan dampak lingkungan terhadap kebijakannya. Kalau dulu Belanda merubah lahan tanaman karet menjadi tanaman teh hanyalah 10 % dari total luas wilayah Bogor dan puncak namun mereka pikirkan dampaknya terhadap peningkatan  debit air, kini 90 % lahan yang tersisa itu telah berubah fungsi menjadi Vila  dan kawasan real estate. Tidak ada kompensasi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi dampak dari perubahan tata ruang di wilayah bogor dan puncak itu. Maka bila akhirnya Jakarta selalu kebanjiran bila datang hujan maka itu tidak perlu terkejut. Ini adalah indikasi bahwa setelah berakhirnya era colonial maka berakhir pula pengelolaan pemerintahan yang modern. Yang ada adalah pemerintah ala kampong namun bergaya modern.

Cobalah perhatikan, dulu zaman colonial 40% wilayah Jakarta dipertahankan sebagai wilayah resapan air dan rawa rawa. Disamping itu Jakarta dipagari oleh SITU. Semua tahu bahwa SITU  ( waduk ) adalah cara untuk mengatasi banjir dihilir akibat tekanan debit air dari hulu. Belanda membangun SITU dulu sebanyak 200an. Kini tersisa hanya 48 SITU itupun yang berfungsi hanya 5 saja, yaitu Waduk Situ Lembang di Menteng (Jakarta Pusat), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Makam Pahlawan (TMP) Kali­bata, Cibubur dan di Ragunan. Yang lainnya mengalami pendangkalan hebat dan rusak parah. Kemana sisanya? Banyak SITU  di Jakarta telah diuruk dan berubah fungsi jadi Mall dan kawasan mewah seperti di Pluit , waduk Melati yang diuruk jadi Thamrin CIty dan lain lain. Daerah-daerah yang sebetulnya berfungsi sebagai daerah resapan air, kini kondisinya semakin menyempit, bahkan sudah banyak yang hilang atau telah berubah fungsi menjadi Pantai Indah Kapuk, Pantai Mutiara, Muara Karang, Ancol dll.  Akibat tata ruang yang dirancang bertujuan korup tanpa memperhatikan dampak lingkungan maka jangan salahkan alam dan kondisi letak DKI yang dibawah permukaan laut bila setiap musim hujan banjir melanda dan menimbulkan kerugian.Ini harga kobodohan dari pemerintahan yang dipimpin oleh orang orang bodoh dan tolol lagi korup.

Seharusnya dari dulu ada koordinasi efektif antar instansi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Keuangan sebagai pemegang dana, Kementerian PU dan kepala daerah di wilayah Jabodetabek untuk membangun kembali SITU sebanyak yang efektif mengedalikan arus air dan menambah wilayah resapan air sampai sedikitnya 30% dari total wilayah Jakarta. Mungkinkah?  Memang kendala utama adalah pembebasan lahan untuk membuat Situ dan resapan air. Maklum setiap jengkal tanah di Jakarta sudah ada yang punya. Namun jika Pemprov DKI dan pemerintah pusat punya visi kuat, masalah pembebasan lahan bukan masalah besar. Masalah dana bukan masalah karena Pemrov DKI bisa menerapkan tarip tambahan atas Pajak Bumi Bangun berupa retribusi project banjir. Atau meningkatkan pajak minuman keras dan rokok bagi penduduknya dan lain sebagainya. Namun berkali kali ganti Gubernur , DKI tetap tidak bisa dikelola dengan cara cara modern. Ketika banjir wajah modern Jakarta yang ditandai dengan Gedung jangkung dan pemukiman mewah  kembali menampak wajah aslinya yaitu kampungan.

Alasan terbodoh penyebab banjir yaitu menyalahkan alam. Jangan salahkan alam. Alam selalu benar karena ini sunatullah. Yang salah adalah manusia yang tak pandai mengelola alam. Banjir besar yang terjadi saat ini tentu mengakibatkan kerugian negara triliunan rupiah. Jumlah kerugian tersebut tentu tidak sebanding dengan nilai investasi pemerintah jika mau serius menata lingkungan Jakarta yang protective terhadap bencana banjir. Ya, kita berharap di Era JOKOWI –AHOK Jakarta dapat dikelola dengan cara cara modern dan bermoral. Sudah saatnya penduduk Jakarta mau menggeser tempat tinggalnya 100 meter dari aliran sungai. Jangan adalagi pemukiman dipinggir kali. Jangan!. Perluas  Kanal  Banjir barat dan timur, tanggul banjir, normalisasi sungai, interkoneksi, sistem drainase perkotaan, sistem polder (waduk dengan pompa), pintu air pasang, dan pintu air pengatur. Sediakan resapan air sampai 30%. Jakarta tidak akan dibilang kampungan tanpa MRT, atau monoral tapi Jakarta akan kampungan bila hujan besar kota banjir dan kubangan dimana mana. 

Monday, January 14, 2013

Partai Demokrat ?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah organisasi besar karena kehebatan pengaruh atau kharisma dari pemimpinnya. Lihatlah Microsoft besar karena Bill Gate dan Apple karena Steve Jobs. Samsung mengalahkan  Nokia dan Blackberry karena dipimpin oleh Lee Kun Hee sang visioner legendaries. Partai Komunis di China besar karena dipimpin oleh Mao Tse Tung.  Partai Demokrat besar karena SBY. Tapi yang harus dicatat bahwa Microsoft adalah microsoft. Apple adalah apple. Samsung adalah Samsung. Komunis adalah komunis. Sementara Partai Demokrat adalah SBY.  Partai atau organisasi yang berdiri tanpa berani melepaskan diri dari pigur dibaliknya maka sebetulnya organisasi itu diisi oleh manusia kardus yang tak punya value kecuali pemimpinnya.  Ini sangat renta untuk jangka panjang.  SBY menyadari akan hal itu, apalagi dia punya obsesi membangun demokrasi di indonesia. Menjadikan PD adalah dirinya adalah pendidikan yang salah untuk kehidupan demokrasi. Namun untuk merubahnya juga tidak bisa terburu buru. Butuh waktu sampai saatnya tepat SBY naik gunung. Karenanya pada puncak Kongress PD yang menempatkan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum adalah lagi lagi sukses SBY dalam restruktur PD menjadi Partai professional. Idiologi yang dipilih oleh SBY sudah tepat yaitu Nasional religius. Makanya tidak aneh bila sebagian besar elite Partai Demokrat adalah aktifis Islam yang memang merasa sejuk dibawah nasionalis religius.

Ketika Anas terpilih, agendanya tak lain menjalankan strategi SBY yaitu menjadikan PD sebagai partai perjuangan untuk mewujudkan masyarakat bangsa yang religius. Tak ubahnya dengan pancasila dengan Ketuhanan sebagai sila pertama. Untuk itu jargon pertama kali yang diusung oleh PD setelah kongress itu adalah” say no to Corruption “. Ya hanya masyarakat yang beragama yang membenci korupsi dan hanya orang yang berakhlak yang  tidak mau melakukan korupsi. Antara idiologi, propaganda seakan seiring sejalan. Disamping itu PD dikomandani oleh mantan Ketua Umum HMI dan jajaran pengurus lainnya merupakan aktifis islam berkelas nasional. Mereka secara sistematis melakukan konsolidasi keseluruh daerah, menanamkan visi partai, menjalin network kemana saja yang sejalan dengan idiologi. Semua on tract dengan dukungan unlimited resource sebagai partai pemenang pemilu. Keliatannya semua nampak sempurna. Namun upaya itu tersandung ditengah jalan karena kasus korupsi yang menyeret Nazaruddin ( bendahara PD) sebagai tersangka dan akhirnya terpidana. Anas dan beberapa Elite PD disangkutkan oleh Nazaruddin dengan suara nyanyiannya di Pengadilan. Prahara datang, citra terganggu, upaya konsolidasi menjadi kacau.  SBY hanya diam sambil menyaksikan itu semua terjadi. Apakah ini diluar skenario SBY? Bila ya, itu terlalu beresiko karena dampaknya menjatuhkan elektabilitas PD ketitik terendah. Jadi apa ?

Sebetulnya apa yang menimpa PD adalah bagian tak terpisahkan dinamika perpolitikan di Indonesia yang di isi dengan permainan yang serba culas. Kesantunan hanya ada dalam retorika namun dalam tindakan itu tak ubahnya seperti Singa yang sangat taktis menjatuhkan lawan atau seperti ular yang diam namun memagut kecil untuk mematikan. Masuknya pendatang baru dalam PD dengan mekanisme Kongress  yang sangat ketat , sangat demokratis telah dijadikan cara bagi lawan politik PD untuk menyediakan perangkap mematikan, yaitu Uang. Ini fatal mistake. Seorang Nazaruddin sebagai project taker masuk dalam kubu Anas sebagai cash provider untuk menjadikan Anas sebagai KETUM. Apakah Anas masuk karena Nazaruddin atau Nazaruddin masuk karena Anas, itu tidak penting. Yang pasti DPP baru duduk diatas bomb waktu. Terbuktilah, ketika Nazarudidin tersangkut pidana , Nazaruddin tidak berlaku seperti kader Partai Komunis yang siap mati demi partai. Yang tak mungkin sepatah kata keluar  untuk  menjatuhkan nama pimpinan partai atau pengurus, walau dia tahu pasti pemimpinnya salah. Nazaruddin layaknya soldier dari kekuatan lain yang dikirim kedalam PD untuk menghancurkan PD.  Tak ada sedikitpun rasa bersalahnya  karena ulahnya PD jatuh citranya sebagai partai religius.

Sebetulnya target lawan politik PD bukanlah Anas tapi SBY. Maka seharusnya SBY bertindak cepat.  Ini sebetulnya perang yang orang lain ciptakan untuk dirinya. Tapi SBY terlalu lambat bersikap. Sementara Anas bersama DPP punya agenda tersendiri untuk jangka panjang PD, yaitu menjadikan PD tumbuh tanpa SBY.  PD harus dikembangkan sebagai Partai perjuangan yang nasionalis religius sebagaimana agenda yang ditetapkan awalnya oleh SBY. Jadi ada upaya creative destruction Anas bersama kawan kawannya untuk menghilangkan SBY dari demokrat. Ini bisa dilihat dari pernyataan Anas atas jatuhnya  elektabilitas PD, dimana dia menyalahkan pemerintah SBY sebagai penyebab. Sebetulnya ini upaya smart untuk  menjadikan PD sebagai sebuah "lembaga". Tapi timing nya tidak tepat. Karena bagaimanapun saat sekarang PD masih butuh citra SBY untuk unggul dalam putaran waktu, juga, upaya creative destruction atas SBY  tidak efektif karena Anas sang ketum menjadi salah satu penyebab citra Partai jatuh. Andai Anas tidak tersangkut korupsi ,maka dijamin 100% upaya creative destruction atas SBY akan berhasil dengan baik dan bukan tidak mungkin mengantarkan Anas sebagai capres di 2014. Ingat bahwa Anas mewakili orang muda, Anas mantan Aktifis islam yang merupakan mayoritas di Indonesia, Anas berada di Partai pemenang Pemilu. Semua itu lengkap untuk menjadikan Anas sebagai President 2014.

Lantas bagiamana masa depan PD ?  Dalam keadaan kapal yang hampir karam, maka sang kaptain harus ambil alih kemudi. SBY harus tampil didepan menyelesaikan masalah dan sekaligus berhadapan langsung dengan lawan politik. Caranya ambil alih kepemimpinan DPP dan segera bentuk DPP baru lewat KLB dengan menunjuk pihak yang sejalan dengan idiologi partai nasionalis religius. Anas harus diamankan dari sangkaan korupsi. Kawal ketat dengan resource yang ada. Kalau terbukti salah, ya PD harus ikhlas tapi bila tidak terbukti maka kembalikan Anas secara terhormat dilingkungan PD. Yang cocok pengganti Anas sebagai Ketum  adalah Mahfud MD atau Dahlan iskan, atau tokoh nasional lainnya. Yang penting KETUM itu harus dikenal bersih dan punya integritas tinggi.  Apabila ini dilakukan oleh SBY maka dia akan bisa membalik keadaan begitu cepatnya. PD akan segera naik citranya sebagai Partai yang berkomitment membersihkan korupsi , termasuk bila harus mengusir setengah gerbong kader yang tidak punya integritas. Ini akan menjadi true reminding bagi rakyat untuk jangka panjang bahwa PD adalah partai anti korupsi, dan mereka memilih karena itu, bukan karena SBY. Maka tujuan atau agenda sby menjadikan PD sebagai partai professional dan modern akan terjelma. Setelah 2014 SBY dapat pensiun dengan damai sambil bermain dengan cucu tercintanya...

Wednesday, January 9, 2013

Migas dan Politik

Apabila rezim Bashar Al Asaad di suriah jatuh dan digantikan oleh kelonpok oposisi, apa yang akan terjadi ? Tanya saya. Sentimen soal Sunni dan Syiah itu hanyalah omong kosong. Perjuangan tegaknya syariah islam, itu juga omong kosong. Itu semua hanya alat propaganda politik untuk  dukungan kepada pro demokrasi menjatuhkan Bashar. Yang pasti bahwa bIla Bashar jatuh maka kebijakan politik Suriah terhadap LIbanon juga akan berubah. Begitupula kebijakan terhadap Palestina juga akan berubah. Perubahan ini pasti menguntungkan AS dan Israel. Mengapa ? Semua tahu bahwa letak geographis Suriah  dengan Turki di sebelah utara, Irak di Timur, Laut Tengah di barat dan Yordania di selatan, ini sangat strategis untuk jalur lintas perdagangannya minyak. China dan Rusia tidak ingin karena perubahan itu hegemoninya hilang di wilayah ini. Apabila Bashar jatuh maka control China dan Rusia terhadap Suriah dan kemudian Libanon  akan hilang. Tentu apapun akan dipertaruhkan oleh China dan Rusia melindungi Bashar. Harap maklum bahwa Rusia dan China adalah termasuk konsumen MIGAS terbesar didunia setelah AS. Jadi sebenarnya ini soal minyak, Ini menyangkuat resource oil and gas yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, demikian tutur teman saya yang pernah terlibat dalam pembiayaan  project migas di Arab.

Kemudian ketika saya bertemu dengan teman yang terlibat dalam business fund provider untuk minyak, sedikit tersibak pengetahuan saya soal konplik suriah ini. Dia bertanya, tahukah anda apa itu Basin Levant? itu adalah wilayah yang berada di Estern Mediteranian yang mencakup pesisir Israel, Suriah, Lebanon, Ciprus dan Palestina, mengandung sekitar 122 trilun kaki kubik gas dengan deposit minyak 1,7 miliar barel. Atas dasar itulah maka Pemerintah Israel bersama AS telah punya agenda jangka panjang untuk  membangun terminal terapung gas alam cair yang dilengkapi system pertahanan udara dan dukungan angkatan laut. Tapi rencana itu tidak semudah membalik telapak tangan. Karena berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, Palestina, Lebanon dan Suriah semua berhak untuk mengeksplorasi dan menyuling minyak dan gas di zona masing-masing. Tanpa izin dari salah satu Negara itu maka agenda Israel akan kandas secara hokum. Itu sebabnya dengan memanfaatkan Arab spring , Israel bersama AS melalui Task Force Center ( USCENTCOMdi Qatar dan Bahrain melakukan operasi intelligent yang didukung oleh Mossad dan CIA untuk menjatuhkan Bashar al-assad dan menggantikannya dengan rezim yang akan menjadi boneka AS seperti Negara teluk lainnya.

Sudah lebih 22 bulan konflik suriah tak kunjung selesai dan Bashar tetap bertahan. Mengapa ? Menurutnya yang membuat keadaan Suriah berlarut larut karena operasi menjatuhkan Bashar al-assad tidak dilakukan secara langsung seperti menjatuhkan Sadam dan Khadafi tapi melalui “ perantara “ dibawah kendali operasi intelligent. Mengapa tidak langsung ? karena pihak China dan Rusia tidak mau lagi diajak beraliansi di PBB untuk melegitimasi serangan langsung. Maklum sebelumnya China dan Rusia dibohongi oleh AS dan Barat ketika menjatuhkan Sadam dan Khadapi. Bagi bagi tidak adil. AS dan Barat mendapatkan lebih, sementara China dan Rusia mendapatkan sedikit. Karenanya AS dan Israel menggunakan jalur swasta untuk membiayai operasi intelligent menjatuhkan Bashar. Menurutnya ada sebuah perusahaan bernama XE Service LL mendapatkan dana dari perusahaan offshore company yang merupakan holding company dari berbagai perusahaan minyak yang beroperasi di Timur Tengah. Dana inilah yang dipakai untuk melatih tentara bayaran, mengirim senjata, biaya propaganda, dan lain sebagainya. Ini operasi intelligent yang rumit karena melibatkan network AS /Israel dari Turki, Irak, Afganishtan, Yordan, Arab Saudi, Qatar dll.

Mengapa operasi ini tidak efektif ? tanya saya. Secara keseluruhan efektif namun menjadi rusak karena tentara bayaran menggunakan seragam resmi tentara Bashar untuk melakukan penculikan, terror dan pembunuhan kepada rakyat sipil. Awalnya ini berhasil efektif menjatuhkan citra tentara sekaligus Pemerintahan Bashar dimata internatioanl. Namun berkat operasi kontra intelligent yang dilakukan iran dan Suriah berhasil menangkap ratusan tentara bayaran dan sebagian lainnya terbunuh dalam operasi penggerebekan. Dari merekalah terungkap pengakuan tentang operasi Xe untuk menjatuhkan rezim Bashar. Sebetulnya ini sudah lebih dulu diketahui oleh Jurnalis Barat seperti CNN namun dengan tertangkapnya pemberontak itu semakin memperkuat indikasi bahwa AS ada dibalik pemberontakan dan teror. Pada tanggal 21 Juni 2012, Wakil Presiden dari Partai Buruh Turki, Bulent Aslanoglu, mengatakan kepada PBB bahwa ia memiliki bukti bahwa sekitar enam ribu orang asing dari bangsa Arab, Afghanistan dan Turki yang berbeda, telah direkrut oleh Badan Pusat Intelijen AS ( CIA) untuk melakukan tindakan teroris di Suriah. Akibatnya Kongres AS marah besar namun bukti keterlibatan AS memang tidak ada.

Jadi apa yang menyebabkan masalah Suriah tidak pernah selesai sampai kini karena kepentingan asing begitu besarnya untuk mengontrol Suriah. Amerika punya agenda. China bersama Rusia punya agenda. Pergolakan di Suriah adalah repliksi perang antara Rusia ( bersama China ) dan AS ( bersama Barat) dengan agenda yang sama yaitu, bisnis minyak dan gas. Ini semua menyangkut dana triliunan dollar yang dipertaruhkan. Keberadaan Israel bersama Liga Arab dan Iran bersama rezim Bashar hanyalah pion dari dua group raksasa dalam perebutan konsesi minyak. Lantas dimana Rakyat suriah? Tidak ada!. Makanya saatnya persatuan umat islam tampil untuk menyelesaikan masalah ini dengan jujur untuk kepentingan rakyat Suriah. Tidak ada LIga Arab, tidak ada Iran, tidak ada AS, tidak ada China, tidak ada Rusia, tidak ada Sunni, tIdak ada syiah. Yang ada hanya rakyat suriah dan Islam, seperti Mesir menjatuhkan Mubarak.  BIsakah ?  Ini adalah fitnah akhir zaman bagi umat islam…

Saturday, January 5, 2013

Cepat naik cepat jatuh...


Tadi sore amprokan bertemu dengan teman di LIPPO Karawaci Mall. Dia warga Negara Jepang. Dia datang ke Mall bersama keluarganya dan saya juga bersama keluarga. Mungkin karena melihat kami begitu asiknya berbicara , istri saya dan juga istrinya memilih untuk pergi berbelanja dan membiarkan kami asik berdua. Kami memilih tempat disalah satu cafĂ© yang banyak terdapat di mall tersebut. Yang menarik dari pembicaraan ini adalah ketika dia mengatakan bahwa keadaan ekonomi dunia tahun 2013 ini tidak akan lebih baik ketimbang tahun sebelumnya. Upaya perbaikan ekonomi yang dilakukan oleh AS dan Eropa, jepang telah memakan ongkos triliunan dollar AS sejak tahun 2008 namun hasilnya tidak mengindikasikasi harapan yang jelas bahkan semakin buruk. Tahun lalu 15 Bank terkemuka didunia  seperti HSBC, UBS, Barclay ,Chase JP Morgan, Citicorp , ratingnya di downgrade oleh lembaga Rating international- Moodys. Dan ini sebagai bukti bahwa dana triliunan dollar yang dipompa oleh the FED ke dalam system perbankan lewat program QE tidak berhasil. Sektor riel tetap stuck dan walau aturan pasar uang dibatasi ketat namun selalu ada celah bagi perbankan untuk bermain dipasar spekulasi. Itu sebabnya ada indikasi bahwa the FED akan menghentikan program QE pada tahun 2013  bulan desember. 

Saya tidak mau membahas lebih lanjut tentang keadaan ekonomi AS yang semua tahu sedang menuju lubang yang dalam. Sulit diatasi dengan cepat dan harus memakan korban banyak untuk bisa bangkit kembali.  Yang jadi pertanyaan saya adalah bagaimana mungkin AS yang dikenal dalam sejarah sebagai bangsa yang palng sukses mengelola pertumbuhan ekonomi, Negara yang mempunya SDA yang lengkap dan banyak, Negara yang paling stabil politiknya dan Negara yang paling tinggi tingkat  middle class nya, tapi kenapa begitu mudah terperosok jatuh.  Apa yang salah? Teman ini tersenyum. Menurutnya bahwa kejatuhan ekonomi AS bukanlah terjadi begitu saja tapi melalui proses yang panjang setidaknya diawali sejak era Ronald Reagan. Saya dan teman ini termasuk usia generasi awal di AS yang membuat ekonomi AS berproses jatuh. Usia sebelum saya adalah generasi yang membangun fondasi ekonomi AS di era revolusi mesin uap dan revolusi kereta api serta  meluasnya penggunaan listrik dan mesin pembakaran. Tahun 80an mulai muncul revolusi IT dengan munculnya business dot.com dengan menyerap dana berlebih di era suku bunga tiggi era Reagan. Saat itulah budaya berhutang semakin meluas dan beragam modelnya.

Jadi apa penyebab jatuhnya ekonomi AS? tanya saya. Karena saya tahu teman ini periset hebat di perusahaan investasi di Hong Kong dan kini ditugaskan di Indonesia, tentu perspektifnya ingin saya ketahui. Menurutnya penyebab jatuhnya ekonomi AS adalah 1) Perubahan dan demograpis yang tidak menguntungkan (changing and unfavorable demographics).2) Meningkatnya biaya pendidikan dan buruknya kualitas sekolah menengah. (rising education costs and poor secondary school performance,)  3) Pertumbuhan ekonomi yang tidak melahirkan keseimbangan ( growing economic inequality). 4) Meningkatnya persaingan akibat globalisasi ( increased competition due to globalization) 5) Energi dan biaya lingkungan yang tinggi (energy and environmental costs and challenges,) 6) Tingginya tingkat konsumsi dan hutang pemerintah ( high levels of consumer and government debt.) Keenam penyebab itu bertumpu pada satu hal. Kata teman saya. Saya sempat terkejut. Apa satu hal itu? Budaya ! Jawabnya tegas. Ya merasa paling hebat dan ingin gampangan. Akibatnya siapapun merasa berhak bermimpi seperti apa yang dia mau. Budaya ini menjadi budaya individualis ,pragmatis, culas ,malas dan rakus. TIdak ada lagi budaya generasi pioneer bangsa AS yang mencintai proses berkembang secara alami lewat kerja keras. Yang ada adalah generasi cepat saji atau generasi instant .Tentu  hasilnya paradox

Bagaimana dengan Indonesia? Menteri keuangan mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi terbesar nomor dua didunia setelah China. Karena hanya Indonesia dan China yang masih mencatatkan pertumbuhan diatas 6%. Yang jadi masalah , menurutnya adalah indikasi tentang penyebab kejatuhan ekonomi seperti di AS sudah nampak di Indonesia. Benarkah ? tanya saya? Menurutnya AS ketika tahun 80an memang pertumbuhan ekonomi tinggi namun lebih dipicu oleh factor “permintaan” yang diciptakan pemerintah lewat kebijakan anggaran namun gagal memacu produkltifitas, dan pada waktu bersamaan kebijakan moneter membuat likuiditas banjir dan memacu orang untuk berkosumsi lewat berhutang. Sebagian besar barang konsumsi adalah import yang menekan neraca pembayaran. Ini adalah proses yang tanpa disadari membuat siapapun terlena .Yang pasti proses terjadi menuju kepada kejatuhan sistemik seperti di AS sekarang. Biasanya diawali krisis financial dan berlanjut menjadi krisis structural dan berujung pada krisis spiral,seperti jepang saat ini. 

Sudah saatnya pemerintah melakukan trobosan dengan merestruktur APBN agar semakin besar anggaran dialihkan perluasan investasi real dibidang infrastuktur ekonomi , perluasan akses permodalan bagi dunia usaha kecil dan menengah melalui revitalisasi venture capital,  revitalisasi Industri hulu dan memperkuat industry hulu didalam negeri agar menjadi trigger menciptakan industry hilir yang efisien. Karena Indonesia punya sumber daya Alam untuk menghasilkan down stream produk bagi kepentingan perluasan industry dan manufaktur. Dengan tumbuhnya industry down stream akan mendukung lahirnya supply chain yang kokoh untuk menjadikan indonesia sebagai pusat produksi kelas dunia. Tentu nilai tambah ekonomi nasional akan meningkat dan kesejahteraan akan semakin meluas. Semua itu belum terlambat untuk dimulai dari sekarang. jangan sampai pertumbuhan ekonomi tinggi itu justru membuat kita semakin terlena dan malas untuk berproduksi. Pertumbuhan tinggi tanpa melahirkan produksi real adalah racun bagi generasi yang akan datang. Generasi kini harus menanamkan budaya kerja keras kepada generasi mendatang dan tugas negara men design system agar semua orang terpacu untuk berproduksi.

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...