Sunday, March 29, 2009

Putin dan Rusia

Ketika perang dingin usai dengan ditandai runtuhnya tembok Berlin. UniSoviet bubar dan Rusia menjadi sebuah negara sendiri. System politik berganti menjadi demokrasi. Namun tidak ada kemajuan berarti. Dari segi politik maupun ekonomi terus menurun. Bahkan ketika itu , banyak militer tak menerima gaji sama sekali. Puncaknya adalah ketika diera President Boris Yeltsin, keadaan ekonomi Rusia semakin parah. Mata uang Rubel ikut jatuh akibat keadaan ekonomi yang tidak menentu. Apalagi ketika IMF ikut campur membantu keadaan Rusia, keadaan semakin tak jelas. Banyak BUMN yang di privatisasi namun hasil yang dijanjikan oleh IMF dan Barat tentang perlu demokrasi sebagai sebuah system untuk menciptakan kemakmuran , malah tak ada hasilnya. Bahkan rusia semakin mundur.

Kemudian , Vladimir Putin , Mantan Kepala Dinas Keamanan Nasional (FSB) –dulu bernama KGB. 1999 tampil sebagai President Sementara untuk menggantikan President Boris Yeltsin, yang kemudian ditahun 2000 dia resmi menjadi president Rusia melalui pemilihan Umum. Nah disinilah yang harus kita lihat seorang Putin untuk naik menjadi president terpilih secara mutlak. Apa programnya ?

Program yang ditawarkannya kepada rakyat adalah redistribusi pendapatan. Program ini bertumpu kepada kekuatan negara untuk terjadinya keadilan bagi semua golongan masyarakat. Program ini mendapatkan sambutan luar biasa dari rakyat dan rakyat tidak peduli soal kekerasan yang pernah dibuat oleh KGB di masa lalu. Bagi mereka , hidup soal pilihan dan ternyata keadilan dan kemakmuran lebih dipilih oleh rakyat dari pada kebebasan yang banya ditawarkan selama ini, terbukti membuat rakyat tak lagi memiliki akses kepada keadilan ekonomi kecuali bagi kapitalis.

Ada empat program yang dijalankan oleh Putin ketika dia berkuasa.

Yang pertama adalah seluruh perusahaan negara yang sudah diprivatisasi dikembalikan seperti awalnya sebagai perusahaan negara. Menangkap para oligarki ekonomi yang selama ini loyalis Barat/AS, seperti Roman Abramovich, pemilik Chelsea, Mikhail Khodorkovsky dan lainnya. Seluruh kekayaan dan pendapatan negara akan digunakan seluas luasnya untuk didistribusikan lewat program pengentasan kemiskinan.

Kedua, Menghapus privatisasi layanan public seperti kesehatan , pendidikan. Pemerintah digaris depan memacu investasi diproyek ini. Banyak sekolah dan Hospital dibangun untuk terjaminnya pendidikan dan kesehatan gratis. Program kesehatan Ibu dan ANak menjadi program nasional dengan anggaran raksasa melebihi anggaran pendidikan. Berbagai program yang selama ini diharamkan oleh penyokong neoliberal maka di Era Putin adalah halal. Rakyat harus mendapatkan akses kepada seluruh layanan publik. Bila mereka tidak mampu maka negaralah yang harus menyediakannya. Terlalu tidak bijak membiarkan rakyat yang lemah sendirian berhadapan dengan hukum kapitalis. Tekanan pihak Barat/AS dengan mengusung program privatisasi dan demokratisasi dengan berbagai dalih , dijawab tuntas olehn Putin. NO.!

Ketiga, membangun sector perumahan untuk golongan berpendapatan rendah. Ada tiga jenis project yaitu perbaikan lingkungan perumahan dan renovasi. Kedua penyediaan sewa rumah dengan subsidi pemerintah. Ketiga , penyediaan kepemilikan rumah dengan subsidi pemerintah. Untuk proyek ini pemerintah active langsung membangun project Peran swasta diharapkan namun pemerintah lebih dominant terjadinya perluasa investasi ini. Upaya yang jenius namun sederhana adalah menigkatkan nilai dana pensiun bagi pegawai sehingga tingkat pegawai terendahpun mampu memiliki rumah sendiri.

Keempat adalah melakukan bantuan social secara tidak langsung kepada rakyat lewat subsidi layanan social seperti transportasi, listrik, telephone dan lainnya. Bagi yang tak memiki sama sekali akses untuk layanan social maka pemerintah memberikan langsug dana tunai kepada mereka. 3,7% penduduk mendapatkan bantuan langsung dalam bentuk makanan dari pemerintah. 7% mendapatkan bantuan langsung dalam bentuk program peningkatan ekonomi.

Hasil dari empat program tersebut telah membuat ekonomi Rusia bangkit dari keterpurukan. Eksport lebih tinggi daripada import. Jumlah orang miskin turun drastic, Jumlah pengangguran turun dan lapangan pekerjaan terus bertambah. arus investasi asing terus meningkat walau ditengah kecaman miring soal sikap Putin yang diktator. Tapi investor lebih nyaman dibawah pemimpin yang keras daripada pemimpin yang lemah , banyak berpikir dan lambat bertindak. Selama era Putin, Total hutang luar negeri 47,5 milliar dollar atau tinggal sepertiga dari total hutang ditahun 1999. Cadangan devisa Rusia ditahun 1999 sebesar USD 12 milliar dan ditahun 2006 telah mencapai USD 315 miliar. Ketiga terbesar didunia setelah China.

Empat program tersebut. ketiga dan keempat semua bisa dibuat dengan lebih baik oleh Indonesia. Hampir semua caleg kita bicara tentang program tersebut dan ahli sekali menyampaikannnya dihadapan public. Tapi semua itu tidak realistis. Betapa tidak ? dari mana dananya ? Tidak ada satupun pemain politik formal yang berani melakukan tindakan seperti Putin ketika Kampanye. “ kembalikan kekayaan rakyat dan bagikan kepada rakyat, melalui program nasionalisasi. Tidak ada.! Bagi Putin sangat sederhana “ Negara hanya bisa menyelesaikan masalah apabila ada dana. Dan itu hanya mungkin bila negara menguasai sendiri sumber daya alamnya.

Pemain politik kita terlalu percaya tentang sebuah proses yang digariskan oleh system demokrasi dan akhirnya birokrasi, Bahwa semua harus procedural. Nah menjalankan program yang petama dan kedua ( nasionalisasi sumber daya alam dan menghapus privatisasi layanan public ) akan menghadapi UU yang sudah disyahkan oleh rezim terdahulu. . Tentu “tidak mudah merubahnya begitu saja…” Beda dengan Putin “ Itu mudah !” semua UU yang ada dibakar dan dibuang ke tong sampah. Politisi yang berani bicara dihabisi. Wartawan yang berkoar dihabisi. Tidak ada waktu untuk melayani orang yang hanya bicara. Tidak ada. Semua yang berbeda dengan tujuan Putin , harus mati.

Salahkah Putin ? UNDP memuji keberhasilan putin meningkatkan indek pembangunan manusia. Dunia mengakui bahwa Putin adalah president terbaik didunia. Dan yang lebih penting rakyat memuji Putin dan rakyat merasa pilihan mereka adalah benar. Bahwa kemakmuran lebih penting daripada hakikat kebebasan yang ditawarkan oleh system demokrasi…

Putin bukan hanya berhasil dengan tugasnya selama memimpin tapi juga berhasil menempatkan Dmitry Medvedev sebagai calon pengganti yang tentu sesuai dengan arah kebijakannya untuk kejayaan Rusia.

Bagaimana dengan kita ?

Thursday, March 12, 2009

Kemandirian Indonesia

Siapa yang paling merasakan akibat terjadi krisis global dewasa ini ? Pertanyaan ini sulit kita dapatkan dikota kota besar. Apalagi bila sedang berada di Mall atau di Jalan Sudirman, Jakarta. Karena masih banyak mobil mewah lalu lalang dan Mall yang buka dengan lampu penerangan yang berlebihan, seakan memperlihatkan semua akan baik baik saja. Tapi , mungkin ada jawaban yang menyentakan saya ketika bulan lalu bertemu dengan kerabat keluarga dari daerah sumatera pada acara perkawinan. “ Kami tidak tahu sampai berapa lama usaha kami dapat bertahan di daerah. Usaha semakin lesu dan setiap hari makan modal” Demikian katanya. Kerabat saya ini di daerah berdagang pakaian jadi, juga mempunyai usaha sampingan sebagai jasa angkut untuk komoditis pertanian.

Saya dapat memaklumi keadaan kerabat saya ini. Dia bukanlah orang yang perpendidikan tinggi. Selama ini dia dapat bertahan hidup dan menyekolahkan anaknya ke Yogja karena usahanya didaerah cukup memungkinkan dia membayar kebutuhan hidupnya. Dia tidak mengerti mengapa semakin tahun bukannya semakin maju malah semakin mundur. Saya katakana bahwa itu semua akibat krisis global. Lantas dia jawab lagi , apa urusannnya dengan kita di dalam negeri. Sulit untuk menjelaskannya tapi saya hanya sempat tersenyum dan berdoa semoga hari esok akan lebih baik, terutama bagi pengusaha kecil dengan modal terbatas dan pengetahuan kurang.

Memang sejak terjadi gelombang krisis yang dipicu oleh kasus kredit perumahan di AS, keadaan pereknomian seakan berhenti sejenak dan akhirnya terjun kebawah. . Akibatnya melemahnya permintaan komoditas pertanian ini harga bergerak turun. Perbandingan harga sejumlah komoditas pada Januari 2008 dan Desember 2008 (berdasarkan data FAO 2009): beras Thailand jenis A1 super (medium) turun 15% dari US$ 365/ton menjadi US$ 310/ton, harga jagung turun 28% dari US$ 204/ton menjadi US$ 147/ton, harga kacang kedelai turun 30% dari US$ 541/ton menjadi US$ 378/ton. Demikian juga harga komoditas ekspor perkebunan seperti CPO sudah turun 54% dari US$ 1.059/ton pada Januari 2008 menjadi US$ 488/ton pada November 2008, harga kopi turun 35% dari US$ 2.300/ton pada Januari 2008 menjadi US$ 1.500/ton pada Desember 2008. Harga karet kering (crumb rubber) turun 33% dari Rp 23.700/kg pada September 2008 menjadi Rp 16.000/kg pada November 2008, dan sebagainya.

Harga TBS ( Tanda Buah Segar ) sawit sekarang ditangan petani hanya Rp. 400 yang sebelumnya mencapai Rp. 1800. Bulan lagi produk pertanian seperti karet, jagung, kopi dan lainnya. Keadaan harga ini telah memanggal penghasilan petani sampai rata rata 50%.Padahal sebelumnya walau harga cukup baik namun belum memenuhi kelayakan standar penghasilan dibandingkan dengan usaha lainnya. Kini semua sudah terjadi dan kita menyaksikan komunitas petani yang kebingungan. Ditambah lagi sector usaha lain yang bertumpu dari kemampuan produksi petani untuk berkosumsi juga terkena imbas sebagai akibat multiplier effect . Jatuhnya harga produk pertanian tidak berpengaruh terhadap harga barang jadi yang dihasilkan dari bahan baku pertanian. Minum kopi di starbuch , harganya tetap. Minyak goreng kalaupun harganya turun masih jauh relative dibangingkan harga CPO. Begitupula dengan produk turunan dari CPO , seperti kosmetik/sabun dan lain, tidak ada yang turun.

Apapun yang menimpa petani sekarang tidak bisa disalahkan kepada akibat global crisis semata . Keadaan ini hanya membuktikan betapa rentanya pereknomian nasional yang hanyan bertumpu kepada bahan baku untuk mendapatkan devisa dollar. Ini merupakan kebijakan nasional yang mengarahkan kepada ketergantungan terhadap pasar eksport terhadap hasil pertanian maupun tambang. Inilah sebagai grand design dari globalisasi yang menempatkan negara pemilik sumber daya alam agar menjual seluruh bahan bakunya keluar negeri dan kemudian mengimpor barang jadi untuk kebutuhan dalam negeri dengan nilai tambah super tinggi. Kalau ada kelebihan devisa atau surplus maka harus digunakan untuk membayar hutang luar negeri. System yang menjebak dengan dampak pemiskinan dan ketergantungan secara systematis.

Kalaupun sekarang pemerintah mulai menggerakan produksi dalam negeri namun tidak nampak kebijakan nasional yang berskala jangka panjang .Krisis saat ini dapat dijadikan langkah revolusi membangun semangat kemandirian yang dimotori oleh negara. Keadaan yang kritis membutuhkan langkah besar dan berani , dimana peran negara harus tampil didepan menyelesaikan masalah. Diantaranya adalah pembentukan BUMN untuk membangun Product derivative ( Produksi turunan ) dari hasil pertanian. Apabila ini dilakukan dengan sungguh sungguh maka tidak sedikit angkatan kerja dapat terserap. Nasip petanipun akan tertolong karena pasarnya tersedia didalam negeri dengan harga yang pantas.Juga yang lebih penting adalah sudah saatnya kita menciptakan perluasan nilai dari produk pertanian kita.

Kita berharap kedepan, tidak ada lagi ekpor karet mentah tapi sudah dalam bentuk ban atau produk derivative lainnya yang berbahan baku karet. Tidak ada lagi eksport CPO tapi sudah dalam bentuk biodiesel atau produk derivative lainnya untuk kebutuhan industri kosmetika, sabun dan lain sebagai. Kita tidak lagi mengekspor gula tapi sudah menjual etanol dan produk derivative lainnya. Kita tidak lagi mengeksport kopi mentah tapi sudah menjualnya dalam bentuk kopi instant dengan merek kita sendiri. Kita berharap produk pertanian seperti cabe, pisang, jeruk, dan jahe dan lain lain akan memenuhi rak rak supermarket dalam dan luar negeri dalam bentuk powder, pasta, juice. Semuanya dihasilkan dan diproduksi didalam negeri. Mungkinkah….

Thursday, March 5, 2009

Rumah Sakit?

Dulu kala ada tempat dimana ketidak berdayaan ada. Tak ada satupun orang yang ingin datang ketempat ini dengan suka rela. Namun tempat ini pulalah orang mengenal hakikat dirinya yang lemah. Berharap ada keajaiban dari keberadaan tempat ini. Berharap Tuhan bersamanya. Bagi pengelola tempat ini , semua orang diperlakukan sebagai first class. Dilayani dengan keramahan dan senyum. Itu sebabnya nama tempat ini adalah Hospital yang merupakan padanan kata dari keramahan atau hospitality. Kata hospitality sendiri berasal dari hospes ( Latin) yang berarti adalah tuan rumah. Karena dulu umumnya pemilik Tempat keramahan ini adalah para orang suci yang hidup dari membantu orang lain karena sakit. Orang menyebut dirinya adalah hospes dan tempat dia merawat yang sakit disebut hospital yang penuh dengan hospitality ( keramahan )

Orang bijak berkata bahwa bahasa menentukan karakter budaya bangsa. Di belahan negara maju seperti di Eropa dan As, para medis dan seluruh lini management Hospital dipaksa untuk memahami system keramahan ini. Mereka melekat dengan kata dari hospital untuk hospitality. Bila kita menyebut tempat perawatan orang sakit adalah Rumah Sakit maka yang dipahami adalah rumah penampungan orang sakit. Manusia dianggap benda mati. Makanya tak aneh bila tak tampak disini ada pelayanan keramahan seperti tempat orang suci mengabdikan hidupnya untuk mengurus orang lain. Mungkin terlalu berharap ada ketulusan dari paramedis disini. Kelas terbentuk dalam system pelayanan. Semuanya berbicara soal uang dan tariff.

Di Indonesia , entah mengapa tempat merawat orang sakit disebut sebagai “ Rumah Sakit”. Dari dua suku kata yang teridiri dari “ Rumah “ dan “ Sakit”, orang mengartikan bahwa ini adalah tempat orang sakit. Tapi bagi pelayanan kesehatan yang murah meriah penuh subsidi dizaman Soeharto ,tempat ini disebut Puskesmas. Tidak ada kata tentang Rumah Sakit. Kalau kemudian orang mengartikan bahwa puskesmas itu adalah Rumah Sakit berukuran kecil dan tak layak disebut sebagai Rumah Sakit, maka disebutlah itu sebagai Klinik. Tapi Aisyiah, dari dulu sejak zaman Soeharto mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak ( BKIA). Ini sejenis yang namanya klinik tapi Aisiyah menyebutnya Balai. Dalam bahasa Indonesia , Balai itu sendiri berarti adalah lembaga yang lebih bertujuan social, yang membedakan dengan lembaga profit.

Bukankah hakikat penyakit sebetulnya karena manusia sedang dicoba oleh Allah untuk sabar dan ikhlas. Cobaan itu tidak hanya kepada sisakit tapi juga kepada yang sehat. Dua pihak harus mempunyai sifat sabar dan ikhlas. Lantas apa jadinya bila orang sakit tertekan batinnya karena system yang tak lagi ada keikhlasan. Seharusnya ada satu perubahan system yang lebih kepada pelayanan dan keramahan bagi si sakit. Terlepas dia kaya atau miskin. Keramahan tersebut bukan hanya senyuman tapi lebih daripada itu adalah menempatkan posisi sisakit pihak yang membutuhkan pertolongan lahir batin. Dengan pelayanan penuh dedikasi dan tulus bagaikan orang suci maka sebetulnya sudah memberikan efek sembuh 90% kepada sisakit. Selebihnya adalah upaya medis untuk membuat sisakit sembuh sempurna.

Dalam konteks globalisasi , kini Rumah Sakit sudah menjadi bagian integral dari business raksasa industri pharmasi termasuk peralatan kedokteran. Dari business pharmasi ini melebar kepada business asuransi kesehatan. Semuanya menyatu dalam satu system untuk menciptakan laba lewat memeras. Dalam WTO semua komoditi dunia harus di disclose soal harga pokoknya tapi soal obat obatan yang sudah dipatenkan ( cara kapitalis ) maka harga pokok tidak boleh diketahui oleh siapapun. Maka jangan terkejut ketika AS dan Barat marah besar kepada China yang berhasil membuat obat sejenis Viagra seharga RMB 2 ,padahal Viagra buatan AS dan Barat seharga USD 5 atau 15 kali lebih mahal dari obat buatan china yang sejenis. Begitupula dalam hal peralatan kedokteran, dimana China bisa menjual dengan harga hanya 10% dari harga buatan AS dan Barat. China pun dituduh melakukan dumping harga.

Perusahaan asuransipun sudah menyatu sebagai promotor terjualnya obat bercertifikasi FDA. Karena bukan rahasia lagi bahwa hampir semua perusahaan asuransi local me-reasuransikan jasanya kepada perusahaan asuransi International. Hanya obat yang bersertifikasi FDA saja yang bisa dibayar oleh asuransil. Sementara obat obatan sejenis herbal tidak diakui sebagai pertanggungan asuransi. Disamping itu , teknik promosi dengan system komisi kepada dokter yang berhak mengeluarkan resep obat, juga berperan penting membuat dahsyatnya pertumbuhan industri pharmasi. Tak perduli betapa tidak terjangkaunya harga obat bagi orang miskin

Pemerintah atau siapapun yang peduli terhadap pelayanan kesehatan maka sudah seharusnya system yang menempatkan Rumah Sakit sebagai institusi kapitalis dirubah. Perubahan tersebut haruslah meliputi kemampuan bangsa untuk memproduksi sendiri obat dalam bentuk herbal atau lepas dari produksi obat yang sudah dipatenkan oleh pihak industri parmasi asing yang rakus... Herbal, disamping harganya murah, juga tidak punya efek sampingan. Juga tentu akan mempunyai multiplier effect terhadap kesejahteraan petani dan masyarakat untuk mendapatkan hasil dari apotik hidup ini. Mungkin hasilnya belum akan sehebat kata orang bila menggunakan obat modern. Tapi harus ada keyakinan untuk memulai , bahwa kemandirian adalah segala galanya dan bukankah nyawa ditangann Allah. Allah telah menyediakan alam semesta ini untuk manusia termasuk obat sebagai pelindung manusia dari penyakit.

Nama Rumah Sakit untuk orang sakit harus diganti menjadi Balai Kesehatan Umat, yang lebih bernuansa social. Standard Operating Procedure penanganan pasien pun harus diperbaiki agar tidak berkiblat kepada pihak Barat / AS. Kita butuh jaringan Balai Kesehatan ala pengobatan Indonesia yang berasal dari kekuatan budaya turun temurun bangsa sendiri. Kalau Balai Kesehatan ini dapat dibangun secara luas di Indonesia dengan perubahan system , maka solusi kesehatan lahir dan batin bagi siapa saja bukan lagi impian.

Tuesday, March 3, 2009

Forum Ekonomi Islam

Di negeri Belanda, tiga puluh akhli ekonomi terkemuka telah menandatangani penolakan keras terhadap sytem kapitalisme dengan pasar bebasnya. Ini diberitakan di Koran bergengsi. Kemudian hasil pemilu dari negara ex Unisoviet , Eropa Timur , menunjukan kemenngan partai sosialis. Bahkan di Eropa Barat, partai sayap kiri mendapatkan perolehan suara yang mencengangkan dalam Pemilu. Di Amerka Latin, gerak sosialisme semakin mendapatkan tempat , bahkan revolusi neososialisme menjadi fenomena baru bagi negara ketiga, dimana penguasaan resource negara untuk kesejahteraan rakyat diatas segala galanya. Ide ide sosialisme mulai bangkit kembali ketika rakyat sadar bahwa keadilan social semakin buruk sejak system kapitalisme diperkenalkan.

Fenomena sosialisme atau neososialisme belakangan ini tak lebih dari kelanjutan perang dingin. Ketika kapitalisme jatuh maka otomatis sosialisme bangkit untuk menggusur.Tapi sebetulnya dua system ini tak sesungguhnya sebuah idealisme yang bisa diterapkan. Terbukti dalam sejarah , kedua paham ini hanya melahirkan tiran. Sosialis pada akhirnya melahirkan tiran partai lewat elite politik. Paham kapitalise , melahirkan tiran pemodal lewat elite politik. Kedua duanya menjadi alat untuk berkuasa dan menguasai, yang menjadi tujuan adalah penguasaan sumber sumber ekonomi. Jadi dua duanya sama saja , karena rakyatlah yang menjadi korban. Negara hanya sebagai legitimator dan regulator untuk berjalannya system kekuasaan.

Dari perseteruan dua system ini, kita asik saja membahas berbagai tesis untuk menjinakan capitalism dan socialism. Padalah kedua system ini tak pernah bisa dijinakkan. Ia menciptakan kelas. Lantas dimanakah idealisme yang mungkin itu. Walau tak sepenuhnya ideal namun sebagai sebuah contoh yang terlupakan dengan berbagai dalih, itu adalah Iran. Inilah negara yang berusaha melakukan koreksi system demokrasi ala barat, dimana azas negara dipegang oleh pemuka agama yang dipilih berdasarkan keilmuan dan akhlak. Sementara kekuasaan menjalankan roda pemerintahan dipilih berdasarkan pemilu langsung oleh rakyat. Dua kamar kekuasaan ini dapat saling melengkapi dan menjaga keseimbangan untuk mencapai kesempurnaan dari kelemahan system demokrasi.

Iran tidak berbicara soal sosialis atau kapitalis. Tapi dia berbicara soal keadilan dan hak rakyat berdasarkan nafas Islam. Bagi rakyat yang memiliki kemampuan financial , Iran tidak sepenuhnya sosialisme ketika mendorong mereka untuk berkompetisi agar tercipta kreatifitas dan efisiensi. Namun menjadi sangat sosialis ketika memberikan akses kepada rakyat miskin menguasasi resource negara lewat berbagai kebijakan pro rakyat miskin. Perpaduan bagi mereka yang kuat dan yang lemah tercipta dalam keharmonian.Karena landasan idiologi negara bahwa semua harta dan kepintaran hanya diperuntukan kepada Allah, sebagai cara untuk beribadah semata. Itulah sebabnya pendidikan akhlak yang digerakan oleh para mullah berhasil memperkuat kebersamaan dilakalangan rakyat, tanpa rasa curiga satu sama lain atau tanpa iri mengiri. Hal ini sangat membantu pemerintah dalam melancarkan program kemandirian disegala bidang demi tegaknya amanah rakyat.

Dalam forum ekonomi islam sedunia (World Islamic Economic Forum) seharusnya para negara islam menjadikan Iran sebagai icon untuk tampil mandiri tanpa harus meniru system lain yang secular. Ide iran untuk membangun clearing center oil trading berbasiskan syariah ,harusnya didukung penuh agar tak lagi terjebak oleh perdagangan ilusi system kapitalis yang membuat bubble price. Disamping itu agenda untuk membangun clearing banking settlement untuk bank syariah dikalangan negara islam harus dijadikan issu utama , agar negara islam tidak lagi terjebak dengan aturan secular yang ditetapkan oleh Bank international for settlement. Dengan kekuatan resource yang dimiliki oleh negara islam didunia, hal ini tidaklah sulit. Apalagi dalam islam tidak dikenal exclusivity. Siapapun negara, apapun agamanya, boleh menggunakan system moneter islam asalkan tunduk dengan ketentuan syariah Islam.

Selagi Negara islam masih mengacu dengan Bank International for Settlement untuk system perbankannya maka bank syariah tak lebih hanyalah sebuah nama tanpa ruh islam yang mengharamkan system riba dan perdagangan ilusi pasar uang. Maka retorika yang mengemuka dalam forum tak lebih ajang kampanye untuk membujuk negara islam yang kaya agar melempar likuiditasnya kedalam pasar uang obligasi AS dan Eropa yang haus kucuran dana. Kalau ini yang terjadi maka negara islam sudah berperan menegakkan benang basah, membela kesalahan untuk masuk kedalam lubang masalah yang lebih besar dimasa depan.

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...