Monday, September 14, 2009

Berbuat untuk wiraswasta




Berita Kompas hari ini menyebutkan bahwa ada 900,000 sarjana yang menganggur. Memang hampir sebagian besar para orang tua yang menyekolahkan anaknya , mengharapkan agar kelak anaknya dapat menjadi pegawai. Yang pegawai negeri diharapkan jadi pejabat. Yang pegawai swasta diharapkan kelak jadi manager atau direktur. Seakan dunia bekerja adalah dunia yang menjanjikan masa depan cemerlang. Mungkin karena sebagian besar kelompok menengah di Indonesia yang berhasil menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi berlatar belakang pegawai. Para orang tua hanya mengenal dunia “ Work and Reward “ yang serba pasti. Bayangan kehidupan wiraswata yang serba tidak pasti bukanlah tempat aman dan harus dihindari kecuali kesempatan kerja sudah tidak ada lagi. Ini bawaan yang salah dari generasa yang salah.

Para wiraswasta diabad modern ini bukan lagi penyedia kebutuhan pasar tapi mereka pencipta kemakmuran dan perubahan. Sikap mental wiraswasta yang tangguh menghadapi kompetisi, kreatifitas yang tinggi serta kemampuan mengikuti perubahan adalah asset bangsa yang tak terhingga untuk menggiring jutaan rakyat masuk kekelompok menengah. Untuk kemakmuran Indonesia , tidak dibutuhakn 10 juta wirawasta tangguh. Cukup enam juta wirawasta tangguh dengan bekal pendidikan yang cukup , sudah mampu menggiring jutaan rakyat keperingkat menengah. Cobalah hitung,bila 6 juta pengusaha ( 3 persen dari jumlahn penduduk ) professional itu dapat menarik angkatan kerja sebesar 5 orang per satu unit usaha maka jumlah angkatan kerja yang dapat ditampung sebesar 30 juta orang. Andai masing masing pekerja itu mempunyai tanggungan 3 orang maka jumlah yang dapat hidup dari kehadiran wiraswata unggul itu menjadi 90 juta orang atau sama dengan separuh penduduk Indonesia. Pengusaha dengan jumlah karyawan sebanyak 5 orang bukanlah perusahaan besar tapi perusahaan tergolong menengah kecil. Artinya untuk menciptakan kemakmuran kita tidak butuh konglomerat , kita hanya butuh 4 juta pengusaha professional berskala kecil tapi tangguh.

Tentu bukan masalah besar bila ada kemauan besar untuk merubah budaya jongos menjadi juragan Masalahnya sekarang adalah budaya untuk memilih cara aman dan mudah adalah keseharian kita. Budaya berani menghadapi ketidak pastian dan bertarung dalam kompetisi meraih peluang sesuatu yang langka. Mungkin karena ratusan tahun terjajah dan biasa diperintah hingga sangat sulit untuk merubahnya. Padahal dengan system demokratisasi anggaran melalui mekanisme deficit sudah sangat jelas menegaskan bahwa peran pemerintah/negara tidak lagi sebagai undertaker /provider untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat. Pemerintah dalam konteks demokratisasi hanyalah sebagai regulator dan motivator untuk terbentuknya kemakmuran ditengah masyarakat.

Ketika pertumbuhan ekonomi melambat dan angkatan kerja terus meninggkat maka kumpulan para sarjana itu bukannya menjadi asset bangsa melainkan jadi beban negara yang minus kontribusinya. Mereka terpaksa masuk daftar pengangguran dan menjadi masalah social bagi Negara. Maka kitapun marah kepada pemerintah karena gagal menyediakan lapangan kerja untuk para putra kita yang lulus universitas. Seakan pemerintah kita tempatkan sebagai provider untuk ticket meraih masa depan. Padahal pemerintah sendiri adalah bagian yang terpasung dari kehadiran rakyat yang selalu meminta. Dimanapun , negara itu tidak pernah akan besar bila rakyat tidak mampu menjadi pahlawan, baik bagi dirinya sendiri maupun pahlawan bagi bangsanya. Itu hanya dimungkinkan dapat ditempuh melalui wiraswasta.

Di China sekarang tercatat jumlah wiraswata mencapai 80 juta orang. Sebagian besar mereka tergolong usaha kecil menengah. Sejumlah mereka tersebut rata rata menampung 10 orang tenaga kerja per unit usaha atau secara total sumbangan pengusaha menengah kecil tersebut terhadap penyedia lapangan kerja sebesar 800 juta. Artinya mereka mampu menampung seluruh angkatan kerja di china. Hampir 1 milliar penduduk china masuk dalam kelompok menengah dengan penghasilan USD 24,000 per tahun. Jumlah ini akan terus bertambah dengan semakin gencarnya kampanye pemerintah untuk melawan kehadiran pengusaha asing di china agar rakyat china dapat menjadi tuan dinegerinya sendiri disegala bidang. Tapi lihatlah daftar orang terkaya didunia. Dari 100 orang terkaya didunia tidak ada satupun berasal dari China namun peringkat pertama didunia jumlah populasi kelompok menengah adalah china.

Padahal kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dan letak yang strategis diapit oleh dua benua serta berhadapan langsung dengan pacifik yang merupakan zona paling pesat pertumbuhan ekonominya adalah potensi yang tiada habisnya untuk unggul memanfaatkan peluang usaha disegala bidang. Tapi, kita tidak pernah melihat potensi kita kecuali terus berharap kemudahan dapat datang tanpa harus mengambil resiko


Friday, September 4, 2009

Bantuan atau jebakan ?

“ Kamu yang berbuat , aku bertanggung jawab..on nasip oh nasip, beginilah jadinya..”Ini sepenggal lagu dangdut Rhoma Irama. Penggalan lagu ini yang kini dirasakan China. Setelah melalui 4 kali putara perundingan G20, akhirnya setuju untuk memberikan bantuan dana kepada IMF dalam rangka mengatasi crisis global. Bantuan ini diberikan China melalui pembelian 32 miliar SDR (Special Drawing Rights) atau setara dengan USD 50 miliar. Inilah kali pertama dalam sejarah dimana IMF harus berhutang mendapat dana membantu anggotanya. Amerika yang bikin ulah crisis global tapi China yang harus membantu. Hebat , kan.

Hampir semua negara yagn terkena dampak dari crisis global mendapatkan kucuran bantuan berupa SDR tersebut. Indonesia memperoleh SDR 1,74 miliar atau setara 2,7 miliar dollar AS. SDR (Special Drawing Rights) adalah sebuah kepemilikan aset IMF berdasarkan pada sekeranjang mata uang internasional - dollar AS, yen, euro, dan pound - yang dihitung setiap hari dan para anggotanya dapat mengkonversi ke mata uang lainnya. Dengan demikian maka semakin kukuhlah internationalisasi mata uang. Padahak Global financial crisis karena efek dari internationalisasi mata uang. Tapi ini tidak dilihat sebagai dasar melahirkan sebuah solusi. Justru memperbesar cakupan dan keharusan bagi seluruh negara mengikuti internationalisasi mata uang ini.

Sebagai contoh devisa dollar kita mencapai record tertinggi sepanjang sejarah tapi rupiah masih tetap lemah dan tidak ada pengaruh significant dipasar. Lantas apa arti fundamental ekonomi yang begitu hebat kalau kenyataanya tidak ada pengaruh terhadap kekuatan kurs ? Keadaan ini merupakan pola berpikir tentang stabilitas ekonomi namun lebih memikirkan stabilitas negara pemodal. Betapa tidak? Semua menyadari bahwa kebijakan yang paling berperan dalam menentukan stabilitas kurs adalah kebijakan moneter bukan kebijakan fiskal. Contoh , kebijakan fiskal yang mengurangi subsidi , justru membuat rupiah terdepresiasi akibat inflation effect. Akibatnya harga barang impor menjadi relative lebih murah dibandingkan dengan barang domestik. Tentu hal ini akan terjadi dorongan ( free market effect ) import untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Rupiah akan semakin tertekan untuk membayar barang import tersebut.

Skenario program bantuan akibat crisis lewat SDR hanyalah kesepakatan antara China yang deplasi dan Barat yang inflasi. China membutukan pasar international untuk kelebihan produksi dan dunia butuh dana untuk membelinya. Keadaan ini akan semakin meminggirkan daya saing dalam negeri terhadap asing , terutama bagi negara diluar NIC. Harusnya ini disadari oleh pemerintah kita untuk keluar dari internatisionalisasi mata uang agar stabilitas mata uang tidak masuk dalam grey area yang mudah di permainkan oleh pasar. Karena Internasionalisasi rupiah ini dapat mengurangi kemampuan otoritas moneter dalam mengendalikan uang yang beredar, misalnya pemilikan rupiah oleh non residen selain digunakan untuk transaksi kegiatan ekonomi bisa pula digunakan untuk transaksi spekulatif yang bisa memberikan tekanan pada nilai rupiah yang pada gilirannya berpengaruh pada variabilitas nilai tukar rupiah.

Dibeberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan China, Chili, Venezuela, Argentina, Brazil berupaya membatasi internasionalisasi mata uang domestiknya. Diataranya melalui 1) Ketentuan yang membatasi jumlah mata uang domestik yang dapat di bawa ke luar negeri, 2) Ketentuan membatasi atau melarang pemberian “kredit” dalam mata uang domestik baik dari residen kepada non residen. 3) Ketentuan yang mengatur sumber penggunaan dana rekening mata uang domestik milik non residen 4) ketentuan yang mewajibkan penerimaan ekspor dalam valas dan pembayaran impor dalam valas, 4) ketentuan yang mengatur keterlibatan non residen dalam transaksi modal dalam negeri dan 5) Ketentuan yang membatasi transaksi mata uang domestik di luar negeri.

Hal-hal tersebut mendesak dilakukan dalam bentuk UU agar jangan sampai kita baru menyadari setelah seluruh kekuatan daya saing kita sudah hancur karena semua industri dan petani tak mampu lagi berproduksi karena kalah bersaing dengan barang import. Kalau sampai ini terjadi maka chaos economic akan lebih parah dibandingkan tahun 1998. Kalau crisis 1998 melahirkan reformasi maka ini akan melahirkan revolusi perang kelas antara komunitas pedagang ( berjuis/kapitalis ) yang semakin kaya dengan buruh , tani yang kehilangan akses berpoduksi karena kalah bersaing.

Tuesday, September 1, 2009

Kasus Bank Century

Mirror itu artinya cermin. Bila anda berdiri didepan cermin maka wajah dan tampilan anda akan percis sama dengan yang ada cirmin itu. Dalam teknology photo digital cermin itu dapat dipantulkan oleh cahaya ketempat lain , yang tak ada bedanya dengan tamplilan anda didepan cermin. Begitu hebatnya perkembangan tekhnology. Dalam dunia keuangan ada istilah yang dikenal terbatas oleh kalangan fund manager, yaitu mirror asset. Mengapa terbatas? Karena transaksi ini sebetulnya penuh rekayasa dan dipergunakan untuk tujuan yang sophisticated. Tak ada bedanya dengan transaksi Hedge Fund.Tapi namanya hedger sebaik apapun dia , keadaan akan cepat merubahnya menjadi spekulan bila keadaan pasar memungkinkan. Begitupula dengan Mirror asset.

Mirror asset itu adalah tools dalam financial engineering. Dia dipergunakan sebagai credit enhancement. Dari namanya tahulah kita bahwa enhancement itu berarti pembesaran /peningkatan. Seperti balon yang ciut , kemudian ditiup menjadi besar dan ringan untuk dibawa terbang kemanapun. Anda punya kemampuan untuk melaksanakan business tapi terbatas kemampuan financial. Tak ada bank yang mau kasih pinjam untuk mimpi anda tanpa ada jaminan yang cukup. Setidaknya anda herus punya tract record yang qualified serta asset sebagai jaminan. Bagaimana bila jaminan tidak ada , tract record tidak ada. ? Sementara anda yakin sekali bahwa apabila project itu jalan, akan menguntungkan sekali.

Bank tidak ada waktu mendengar keyakinan anda itu. Apalagi mempercayai mimpi anda itu. Pada saat inilah anda dapat masuk ke financial engineering. Professional consultant dibidang Financial akan memberikan solution untuk itu. Maka tools seperti Credit Enhancement itu dapat dipakai. Pihak Asset Manager ( Investment Banker ), venture business akan mendalami exit strategy anda dengan teliti. Bila mereka yakin, maka mereka akan sediakan credit enhancement untuk atas nama anda. Semuanya adalah financial instrument yang liquid berating AAA. Dengan anda memiliki asset dalam bentuk cash back tersebut maka tidak sulit bagi anda untuk melakukan fund raising melalui penerbitan obligasi ( Bond ) atau penarikan loan dari bank. Semua itu diatur oleh team professional yang tahu betul dengan semua aspek untuk memenuhi compliance tersebut.

Sepanjang tools ini dipergunakan dengan professional, tidak akan menimbulkan masalah. Contohnya pihak Asset Manager dan Consultant mengawal ketat proses terlaksananya exit strategy itu dari awal sampai akhir.Sehingga tidak ada satupun pihak yang dirugikan. Artinya anda harus punya commitment untuk keluar dari mirror asset dengan cepat sebelum jatuh tempo financial intrument itu.Caranya adalah menggunakan exit strategy seperti refinancing melalui perbankan atau pelepasan saham ke publik/ penawaran tertutup untuk membayar kewajiban financial anda.. Sehingga tidak ada satupun pihak yang dirugikan. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa mirror asset dalam bentuk credit enhancement hanyalah tools untuk memenuhi compliance risk management bukan sebagai loan undertaking.

Namanya tools , tentu ibarat pisau bermata dua. Bisa untuk tujuan baik bisapula tujuan buruk ( kriminal). Seperti dalam kasus bank century, keadaannya tidak jauh berbeda. Bank century menerbitkan obligasi dengan menggunakan mirror asset tersebut sebagai collateral. Hasil penjualan obligasi tersebut di transfer keluar negeri. Itulah sebabnya BI meminta agar obligasi ( surat berharga ) tersebut dialihkan ke luar negeri dengan jaminan cash tunai bank century di Dresdner bank Swiss. Tapi ternyata , Cash itu tidak bisa dikuasai untuk melunasi obligasi yang jatuh tempo. Ya , jelas saja karna cash itu hanya mirror asset ( illegible ) bukan real asset. Sehingga dikatagorikan Obligasi itu bermasalah ( fake). Model mirror asset ini beragam dan derivativenya luas sekali. Seperti dipakai untuk menerbitkan LC/SBLC/BG/MTN/CD/bank Account/CDS, yang kesemua endingnya pay later or never karena illegible.

Itulah sebabnya BI dan DepKeu tak mampu mendeteksi masalah bank century dengan cepat dan akurat. Akibatnya kebobolan dana talangan sampai Rp 6,7 triliun. Karena mirror asset bukanlah hal yang sederhana. Sangat sophisticated. Dia ada tapi tiada karena semua contract non disclosure. Terlaksana karena sebuah konpirasi apik antara asset manager, Clearing house, Lawyer, Investor. Semua sudah terjadi. Yang harus dikejar oleh BPK dan KPK adalah kemana uang hasil penjualan obligasi itu ditransfer ? Apa underlying transfer dana itu ? siapa yang nerima ? Siapa nasabah yang harus mendapat talangan sebesar itu oleh LPS. Bagaimana contrak nya ?( bukan tidak mungkin nasabah ini mendapatkan yield super tinggi, hingga tak pantas ditalangi).

Bank Century ?

Kita mengenal uang sebagai ujud lembaran kertas atau koin. Uang itu kita kenal dan akrab dengan keseharian kita untuk melakukan aktifitas pertukaran barang dan jasa. Dengan uang maka semua ada nilai untuk dibeli ,dijual dan di nominalkan. Lantas bagaimanakah uang itu diciptakan dan darimana asalnya ? Dahulu kala uang itu dibuat dari emas dan perak. Berapa nilai uang itu , ya tergantung dari beratnya koin emas atau tembaga. Artinya uang berhubungan langsung dengan nilai materi yang melekat padanya.Tapi dia era modern , ketika populasi manusia semakin bertambah, kebutuhan semakin luas, perpindahan penduduk, barang dan jasa semakin cepat. Maka uang tak bisa lagi sepenuhnya ditentukan dengan materi yang ada ( intrisik ). Uang sudah bergeser menjadi ”sebuah nilai ” yang tak bisa lepas dari "politik globalisasi."

Uang dan politik adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Suka tidak suka inilah kenyataanya diera kapitalisme dan system keuangan yang super liberal. Dari segi monetery system kita menyatu dengan system keuangan global. Disinilah nilai uang diukur untuk kita percaya sebagai alat tukar. Cadang devisa negara dalam berbagai mata uang tak lagi terkait langsung dengan jumlah rupiah yang beredar. Cadangan devisa hanya dipakai untuk transaksi atau belanja yang mengharuskan tunai atau cash advance bermata uang asing. Sementara hampir 90% transaksi lintas negara ( cross border ) yang dilakukan dunia usaha tidak berupa cash advance tapi commitment.. Commitment ini dalam bentuk isnstrument yang dilegimite oleh kesepakatan multilateral baik dalam kuridor WTO maupun BIS dan lainnya.

Hitunglah berapa perputaran uang secara nasional untuk yang bergerak kedalam maupun keluar Indonesia dalam setahun. Anda akan terkejut. Jumlahnya diatas cadangan devisa negara kita. Bahkan melebihi SUN yang kita terbitkan. Atau melebihi dari jumlah pajak yang terkumpul. Perusahaan ( Swasta/BUMN/Koperasi ) melakukan pinjaman luar negeri. bermata uang asing. Disatu sisi mereka mendapatkan penghasilan dalam mata uang rupiah. Bagaimana menjamin keseimbangan kurs antar mata uang agar transaksi ini tidak merugikan. Pertanyaan berikut, apabila pinjaman itu gagal siapakah yang akan menjamin uang itu kembali. Juga beragam i kegiatan investasi yang berhadapan dengan resiko perbedaan kurs itu. Pertanyaan ini akan panjang sekali bila kita melihat melalui kacamata uang secara normal.

Tapi dalam system moneter ini sudah diantisipasi.Yaitu melalui instrument CDS dan berbagai instrument derivative yang mendukung proses perputaran uang. Instrument ini tidak melihat devisa negara sebagai kekuatan mata uang. Tidak melihat besar negara sebagai dasar uang. Tapi melihat dari sisi ”kepercayaan International ” ( trust ). Trust ini adalah energy ( power) dari uang itu sendiri untuk terus berputar mengorbit melintasi dunia untuk sebagai alat tukar. Sementara system moneter adalah software untuk memungkinkan uang terkendali sesuai program yang diinginkan. Didalam software itu terdapat fiture seperti CDS dan berbagai produk derivative keuangan. Besar /kecilnya atau kuat / lemahnya trust ( energ) dapat dilihat dari tingkat premium Collateral Default Swap (CDS) yang dibayar.

CDS itu biasanya meliat tingkat rating ( trust ) obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Semakin murah CDS semakin tinggi tingkat ”trust” dan tentu semakin tinggi energy yang berputar. Arus investasi akan masuk deras. Nah, Apa jadinya bila CDS tingkat premiumnya semakin tinggi ? tentu ongkos transaksi semakin mahal dan resiko semakin terbuka lebar. Uang akan mengalir keluar ketempat yang energynya besar. Pada saat inilah commitment uang menjadi hancur. Bila hancur maka mata uang yang kita pegang lepas dari orbit. Uang akan terjun bebas tak terkendali hingga harga harga barang sehari hari akan melambung tinggi tentu akan a membuat rakyat miskin semakin miskin.Yang kaya jatuh miskin.

Begitulah system moneter yang republik ini adobsi sebagai bagian dari kesediaan untuk tunduk dengan kesepakatan international. Uang tak lagi sebagai lambang legitimate negara dan kekuasaan negara tapi uang sebagai lambang kepercayaan , bukan hanya dipercaya oleh rakyatnya tapi juga oleh rakyat diseluruh dunia. Bila kita percaya tapi dunia tidak percaya maka kita hancur. Bila dunia percaya tapi rakyat tidak percaya, masih engga ada masalah. Itulah dasar pemikiran sesungguhnya dibalik bail out bank century. Menjaga rating (trust) negara tetap tinggi dan mengamankan uang yang kita pegang. Karena ketika bail out dilakukan premium CDS sudah mencapai 1200 bps dan ini sudah dipinggir jurang kejatuhan total. Memang menyedihkan.

Semoga kita bijak karena kita bagian dari system yang sehingga memasung kita untuk terlalu tolol berkata kita ”merdeka”. Tidak ada lagi kemerdekaan yang seperti didengungkan oleh pendiri negara ini. Tidak ada. Terimalah ini sebagai sebuah pilihan dan bersiasatlah untuk kebaikan kita semua. Caranya jangan hancurkan kepercayaan atas pemerintah. . Ongkosnya mahal sekali...Mari bersama sama kita perbaiki system kita agar kita bisa berdaulat dalam arti sesungguhnya. Caranya..Kembalilah kepada Alquran dan hadith karena disitulah cara tepat dan lugas untuk menjadi insan kamil.

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...