Wednesday, April 7, 2021

Aswaja dan Radikalisme

 



Banyak orang memahami bahwa teroris itu adalah islam sebagai sebuah agama, yang tentu termasuk ajarannya.  Sebetulnya pemahaman ini bagi orang awam yang tercemar politik identitas.  Islam sebagai sebuah agama memang terdiri dari 72 golongan. Masing masing golongan merasa paling benar. Namun perbedaan ini tidak menjadi kebencian. Justru melahirkan rahmat. Baru menjadi konplik ketika masuk ranah politik.  Jadi politik identitas  islam adalah melawan takdir dari keberagaman golongan dalam islam. Pasti paradox hasilnya. Pasti gagal.


Aswaja

Di Indonesia sebetulnya hanya ada satu golongan yaitu Aswaja atau  ahlulsunnah waljamaah. 85% umat islam di Indonesia beraliran aswaja. Apa itu Aswaja? Aswaja berpedoman pada rumusan akidah Imam Abul Hasan Al-Asyari, dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Syekh As-Safarayni Al-Hanbaly dalam Al-Lawami’ menambahkan Al-Atsariyah sebagai bagian dari keluarga besar Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu para pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Secara harfiah, penganut tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kesepakatan para ulama. Watak moderasi  atau washatiyah yang dimiliki oleh faham ini,  baik dalam sistem keyakinan (aqidah), syari’ah maupun praktik akhlak/tasawuf sesuai dengan corak kebudayaan masyarakat Indonesia.


Namun Muhammadiyah, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Al Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, meski jelas-jelas menganut faham Aswaja tidak pernah disebut sebagai kaum ASWAJA.. Itu karena pemahaman dan pengamalan Islam lebih menekankan kepada kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah, menolak taklid kepada ulama, pemurnian aqidah, dan pengamalan tasawuf tanpa tarekat. Sementara itu, NU sebagai pendukung ASWAJA, menambah praktik ibadah dengan taqlid kepada ulama, mengamalkan apa yang disebut dengan fadha’il al-a’mal, dan tarekat.


Aswaja secara aqidah melarang melakukan kekerasan dalam beragama. Tidak menjadikan islam dalam sistem politik. Apapun bentuk negara tidak dipermasalahkan. Aswaja berfocus membangun islam nilai dalam sistem pemerintahan dan masyarakat lewat program pendidikan dan ibadah salih. Namun dalam Aswaja kadang individunya berpolitik. Maka munculah gerakan tarbiyah , HTI, dan lainnya. Tarbiyah membangun gerakan politik identitas melalui gerakan kampus kaum terpelajar, yang akhirnya mendirikan PKS. Berbeda dengan HTI. Tarbiyah tidak ada agenda khilafah. Tetapi islam nilai. Sementara HTI berfocus kepada membangun pemikiran keharusan mendirikan khilafah dan menolak mendirikan partai dan tidak mengakui sistem demokrasi. Menolak jalan kekerasan mencapai tujuan.


Salafi dan Wahabi.

Kemudian munculah golongan Salafi dan wahabi. Apa itu Salafi dan Wahabi? Mazhab Salafi (manhaj Salaf) atau Salafisme berasal dari pertengahan hingga akhir abad ke-19, sebagai gerakan intelektual di Universitas al-Azhar, dipimpin oleh Muhammad Abduh (1849-1905), Jamal al-Din al-Afghani (1839-1897) dan Rashid Rida (1865-1935). Al-Afghani adalah seorang aktivis politik, sedangkan Abduh, seorang guru, mengusahakan reformasi sosial bertahap (sebagai bagian dari dakwah), khususnya melalui pendidikan. Nama Salafi berasal dari as-salaf as-saliheen (salafush shaleh), ‘pendahulu yang saleh’ dari komunitas Muslim awal, meskipun beberapa Salafi memperluas Salaf untuk memasukkan para ulama yang faqih di generasi selanjutnya.


Ideologi Salafisme dan Wahhabisme dibangun di atas teks agama yang didefinisikan secara sempit. Secara metodologis, mereka literalis dan puritan dalam pendekatan mereka terhadap teologi dan hukum Islam. Dalam hal yurisprudensi, Salafi dan Wahabi menganut mazhab dan aturan Hanbali. Namun, banyak dari mereka mengklaim tidak ada afiliasi khusus untuk mazhab tertentu. Sebagai gantinya, mereka mengklaim mengikuti pendapat yang lebih kuat di antara salaf berdasarkan Alquran dan Sunnah (praktik-ptaktik yang dicontohkan Nabi Muhammad).


Untuk menjaga kemurnian Islam, Salafi dan Wahhabi berupaya untuk agitasi terhadap praktik sesat seperti berdoa kepada makam, memuliakan ‘tempat suci’ dan ‘orang suci’. Hal-hal itu diklasifikasikan sebagai syirik, kufur, riddah (murtad), dan bid’ah. Mereka dengan kuat menolak kepercayaan dan praktik apa pun yang tidak diperintahkan oleh Alquran dan Sunnah Nabi. Misalnya, Salafi dan Wahhabi mengklaim bahwa praktik sufi seperti tawassul (perantaraan antara manusia dan Tuhan) yang telah terjadi selama berabad-abad sejak periode murni Islam, mengancam tauhid (monoteisme atau kepercayaan akan keesaan Tuhan).


Mereka percaya bahwa bid’ah dihasilkan dari adopsi budaya lokal oleh misionaris Islam dalam upaya mereka untuk menarik mualaf baru. Namun, perpaduan antara Islam dan adat ini secara signifikan membantu proses konversi ke Islam dengan membuatnya dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas. Secara ideologis, Salafisme lebih luas dari Wahhabisme. Pemikiran Salafi telah ada selama ratusan tahun dan telah menyebar ke seluruh dunia Muslim dan sekitarnya. Wahabisme baru ada sejak pertengahan abad ke-18. Meskipun benar bahwa Wahhabisme adalah Salafisme, itu hanya salah satu dari banyak orientasi Salafisme. Salafi dan Wahhabi bukanlah dua sisi dari mata uang yang sama.


Yang jadi masalah adalah Salafi merasa yang paling benar. Kehadiran mereka sebagai koreksi atas adanya penyimpangan ajaran islam seperti awal Islam diperkenalkan. Mengapa ? Kaum Salafi berpendapat bahwa kaum Muslim terdahulu telah memahami dan mempraktikkan Islam dengan benar, tetapi pemahaman yang benar tentang Islam perlahan-lahan luntur, sama seperti kaum para Nabi sebelumnya (termasuk Musa dan Isa) telah tersesat dan semakin luntur ajarannya. Salafi adalah solusi untuk merestorasi pemahaman islam dan seperti bangkitnya era pencerahan seperti di Eropa yang melahirkan kemajuan tekhnologi dan kehidupan sosial yang lebih baik. Mereka yakin, mereka sendiri adalah pewaris Zaman Keemasan Islam yang dipandu secara ilahi yang telah mengikuti ajaran Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.


Dalam hal formasi masing-masing, ajaran Wahabi dan Salafi cukup berbeda. Wahabisme adalah Islam murni yang menolak pengaruh modern, sementara Salafisme berusaha merekonsiliasi Islam dengan modernisme. Kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa keduanya menolak praktik-praktik Islam tradisional (yang bercampur dengan budaya lokal yang dianggap tak sesuai ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad), dan mendukung penafsiran langsung dan fundamental dari ajaran Islam yang murni. Meskipun begitu, dukungan Raja Faisal dari Arab Saudi atas pan-Islamisme Salafi menghasilkan penyerbukan silang antara ajaran ibn Abd al-Wahhab tentang tauhid, syirik dan bid’ah serta interpretasi Salafi tentang hadits (ucapan dan perilaku Nabi Muhammad).


Beberapa Salafi menominasikan ibn Abd al-Wahhab sebagai salah satu salaf (secara retrospektif memasukkan Wahabisme ke dalam Mazhab Salafi), dan Muwahid mulai menyebut diri mereka Salafi. Saat ini, ada banyak kelompok Salafi yang memproklamirkan diri, masing-masing menuduh yang lain menyimpang dari Salafisme yang ‘benar’. Mereka menuduh akar ideologis al-Qaeda kepada Sayyid Qutb dan pendiri Ikhwanul Muslimin Hassan al-Banna meracuni Salafisme. Padahal fakta sejarah, akar dari Salafisme adalah Ikhwani dan Qutbist-nya. Misalnya, kritik utama Abu Mu’aadh as-Salafee terhadap Qutb dan Hassan al-Banna adalah bahwa mereka mengklaim Islam mengajarkan toleransi terhadap umat Yahudi. Sementara itu, non-Muslim dan Muslim arus utama sama-sama menggunakan label ‘Salafi Wahabi’ untuk merendahkan kaum Salafi dan bahkan kelompok yang sama sekali tidak terkait seperti Taliban.


Asal muasal teroris dan radikalisme

Namanya Dzul Khuwaishirah, seorang Muslim penduduk Najed. Suku Bani Tamim. Dia  lahir ketika islam masih dibawah kepemimpinan Rasul. Dalam piikiranya, keberadaan Islam tidak ada bedanya dengan agama sebelumnya. Hanya dijadikan cara untuk berperang dan mendapatkan harta rampasan. Karenanya dia tidak sepenuhnya percaya kepada Rasul. Namun percaya agama yang dibawa Rasul adalah cara mudah untuk kaya dan berkuasa.  Awal dia masuk Islam, Rasul tidak beprasangka buruk terhadap Dzul Khuwaishirah. Dia dianggap sama seperti umat islam awal. Yang berusaha mendapatkan pencerahan atas kehadiran Islam.


Pada suatu waktu. Seusai perang Hunain. Pasukan islam mencapai kemenangan. Saat itu juga Rasul membagikan harta rampasan kepada pasukannya. Yang diutamakan Rasul adalah para mualaf. Tujuan Rasul tentu untuk menarik hati mereka terhadap Islam. Sementara pasukan yang sudah lama memeluk Islam tidak diutamakan. Alasan Rasul, orang yang sudah tertanam keimanannya terhadap Islam, tidak lagi berperang karena harta rampasan. Tetapi karena ingin mendapatkan ridho Allah.


Tetapi sikap Rasul ini ditentang oleh Dzul Khuwaishirah. Dia protes. “ Wahai Rasulullah, engkau harus berlaku adil”. Katanya yang disampaikan dihadapan para sahabat Rasul lainnya. Saat itu Umar Bin Khatap sempat emosi. Karena merasa Dzul Khuwaishirah meragukan kerasulan Nabi Muhammad.

 “ Izinkan saya memanggal kepalanya. “ kata Umar. 

“ Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur'an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target “ Kata Rasul menenangkan Umar.


Rasul berkata kepada Dzul Khuwaishirah “ Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil” Demikian cara Rasul meyakinkan Dzul Khuwaishirah untuk tidak ragu atas integritasnya. Tapi  bagi Dzul Khuwaishirah tetap saja dia tidak percaya atas sikap Rasul itu. Dia merasa lebih baik dan benar dibandingkan Rasul. 


Nah, oleh Nabi seorang Dzul Khuwaishirah dibiarkan terus hidup dengan sikap angkuhnya. Lambat laun sikap Dzul Khuwaishirah ini menular kepada umat islam lain.  Terutama kaum muda. Tetapi yang bisa dipengaruhinya adalah mereka yang punya motive harta dan tahta saja dalam berislam.  Yang ikhlas, tidak terpengaruh. Berikutnya mereka membentuk kelompok sendiri yang disebut kaum khawarij. Mereka mulai mengembangkan ajaran islam menurut versi mereka, yang tujuanya adalah politik kekuasaan. 


Engga tanggung tanggung caranya. Yaitu mereka berdalil atau mengutip ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, tapi itu semua dipergunakan untuk menyesatkan, atau bahkan untuk mengkafirkan orang-orang yang berada di luar kelompok mereka. Sehingga persatuan umat islam jadi lemah. Kelak setelah Nabi mangkat. Kaum Kawarij masuk kelompok ektrimis oleh pemerintaha amirul mukminin. Mereka melawah khalifah lewat aksi teror.  Ponakan Nabi dan juga menantu Nabi, Ali Bin Abihalib ketika jadi Khalifah, dibunuh oleh Abdullah bin Muljam, teroris dari kawarij. 


Ketika dieksekusi akibat perbuatannya, di dahi Ibnu Muljam, terlihat hitam sebab banyak sujud. Pelaku teror umumnya orang lugu beragama, bodoh dan miskin. Mereka hanya dimanfaatkan oleh mastermind kawarij untuk mencapai agenda politiknya. Jadi bibit teroris atas nama islam itu justru lahir ketika  Nabi masih hidup. Sampai kini, kaum Kawarij itu terus berkembang dimanfaatkan oleh politisi untuk berkuasa, dengan cara apapun. 


Ciri ciri mereka? suka berdalil. Merasa paling benar. Suka mengkafirkan orang berbeda. Jidat hitam. Berjanggut dan celana cingkrang. Pemimpinnya hidup mewah dan pengikutnya disuruh miskin. Dunia tidak penting. Akhirat yang utama. Sorga menanti bagi yang mati sahid. Sorga selalu diimajinasikan dengan pesta sex  ( sex orgy) bersama 72 bidadari yang selalu perawan


Provokasi radikalisme

Sebetulnya baik Aswaja maupun Salafii tidak ada istilah radikal. Mereka toleran. Mereka keduanya mengharamkan melawan pemerintah. Mengharamkan kekerasan. Dalam arti mengkudeta dan  membunuh. Hanya saja, kemudian munculah gerakan dari ustad atau ulama yang berkreasi menggabungkan Aswaja dengan salafi plus Wahabi. Mereka melakukan dakwah dan membentuk ormas, mengemas narasi islam yang bertujuan politik. Caranya menjadikan Aswaja dan Salafi-Wahabi sebagai referensi. Mereka pilih ajaran yang ada pada Aswaja dan Salafi- Wahabi yang cocok untuk agenda politik mereka.


Perhatikan bagaimana orang berproses jadi radikal. Misal. Udin belajar Salafi yang diterapkan oleh kaum wahabi. Dunia tidak penting. Akhirat yang utama. Semua yang diajarkan Aswaja yang berkaitan dengan islam lokal adalah bida'h. Untuk mencapai ridho Allah haruslah hidup sesuai dengan Al Quran dan Hadith secara murni. Tapi bagaimana caranya? Udin tidak diajarkan. Udin dilarang melakukan kekerasan. Apalagi melawan pemerintah. Kemudian setelah paham. Udin masuk Aswaja, yaitu melalui HTI. Nah di HTI diajarkan bagaimana keharusan mendirikan khilafah yang sesuai dengan Al Quran dan Hadith. Tetapi, lagi lagi HTI melarang melakukan aksi kekerasan untuk mendirikan khilafah.  Kemudian, Udin masuk FPI atau Jamaah Ansharut Tauhid atau lainnya seperti Mujahideen Indonesia Timur. Nah digerakan ini, wahabi dan aswaja dikemas jadi sebuah narasi jihad.  Misal, untuk memperkuat aqidah agar Islam diterapkan secara murni, maka perlu mendirikan khilafah. Bagaimana caranya? perangi mereka yang membela dan mempertahankan sistem thogut. Maka munculah narasi Jihad. Mati sahid dalam aksi teroris.


Jadi yang termasuk kadrun itu adalah mereka yang bukan aswaja dan juga bukan salafi. Tapi gabungan dari dua golongan plus Wahabi. Sesat. Bukan ajaran Islam sebenarnya. Tingkat radikalismenya tergantung ormasnya. Kalau digerakan oleh intelijen asing, mereka lebih militan. Tapi kalau digerakan murni agama, hanya rame di sosmed aja.

Bapak modernisasi Turki..

 


Di pagi hari, ibuku mendandaniku dengan pakaian putih dan kalung leher bersulam emas; sorban melingkar di kepala. Aku dijemput seorang hoja beserta ulama lain. Mereka melangkah ke jalan dalam semacam prosesi ke sekolah. Di sekolah yang bertaut dengan sebuah masjid itu, doa bersama pun dibacakan. Lalu sang guru membimbingku masuk ke sebuah ruang. Di sana sebuah Quran sudah siap terbuka.” Demikian kira kira suasana hati Mustafa yangd diungkapkan dalam buku Atatürk: The Rebirth of a Nation, Patrick Kinross.


Mustafa produk pertentangan tradisional dan modern. Ayahnya , Ali Riza ingin dia tidak sekolah agama. Tetapi sekolah modern. Ibunya,  Zubaidah merasa punya anak tunggal, inginkan Mustafa tumbuh dalam tuntunan narasi islam. Harus hafal Quran, kelak bisa jadi ulama penerus Nabi. Mustafa disekolahkan di Fatimah Mullah Kadin, pendidikan Islam yang terkemuka di Kota Salonika itu. Menjadi murid disekolah itu agaknya sesuatu yang istimewa. IBunya bangga. Ayahnya malah kawatir. Benarlah. Mustafa dikeluarkan dari sekolah. Hanya karena dia membangkang disuruh duduk bersila di lantai. Ia benci dipaksa membaca dan menulis huruf Arab. 


Ayahnya menang. Mustafa dipindahkan ke sekolah umum yang diasuh Shemsi Effendi di Salonika. Salonika memang kota kosmpolitan. Tempat semua etnis dan agama berbaur. Maklum Salonika adalah kota pelabuhan dan perdagangan di Macedonia. Di kota itu ada konsulat Inggris, Prancis, Jerman, Austria, Italia, Portugal. Banyak orang berjalan ditempat umum dengan pakain barat. 


Pada abad 19 revolusi industri mulai masuk ke Turki. Kereta Api tenaga uap dibangun. Mustafa sebagaimana rakyat Turki lainnya menganggap itu sebagai sebuah keajaiban. Tanpa terasa, tanpa dengung Fatwa ulama, tekhnologi gerak menyihir rakyat. Saat itu perubahan mindset dimulai. Tidak disadari oleh khalifah. Yang masih percaya Agama tak tertandingi oleh apapun. Usia kanak dan remaja Mustafa telah mengubah mindsetnya tentang agama. Dia ingin memberontak. Seperti dulu waktu dia sekolah Dasar. Walau resiko ditendang. Kedewasaan membuatnya bijak. Melawan, harus cerdas. Diapun masuk akademi militer.





Terbukti dia memang berbakat menjadi perwira. Pertempuran tentara Turki yang dipimpinnya melawan pasukan Inggris dan sekutunya di jazirah Gallipoli di tahun 1915 adalah sejarah kemenangan Turki yang tak terlupakan. Karena itu dia semakin dipercaya oleh Khalifah. Dia gelisah. Tafsir tentang Islam masa itu dikaitkan dengan Islam para sultan yang hidup antara seraglio yang penuh perempuan simpanan dan medan perang yang penuh dengan bangkai. Kemajuan sains dan perubahan zaman membuat dinasti Turki seperti wanita tua, gendut dan lambat, namun tetap ingin dianggap cantik dan menarik hanya karena gaun mahal.


Apa yang salah dari Khilafah Turki Usmani? Kekuasan itu menjadi pakaian kesombongan dan keangkuhan dihadapan sang waktu. Pada satu kesempatan saya bertemu dengan Azra. Sahabat saya di Turki. “ Berkat sain, perubahan terus terjadi. Membuat agama dimaknai dengan rendah hati. Sistem demokrasi, menjamin tidak ada satupun penguasa bisa bebas semaunya. Tidak ada orang yang bisa berkata dia mewakili Nabi, bahkan Tuhan sekalipun.  Ukuran orang bukan lagi karena statusnya ulama atau ustad atau profesor, tetapi sejauh mana dia bisa berbuat banyak bagi orang lain. 


Agama adalah perbuatan. Ukurannya kinerja, bukan retorika. Dan pasti tidak menumpang makan dari narasi agama dan donasi umat. “ kata Azra. Saya tersenyum. Azra adalah buah dari karya seorang Mustafa Kamal Ataturk, bapak Turki modern. Azra lulusan Cambridge University. Walau dia muslimah, dia tidak merasa sungkan tanpa jilbab dan burka dihadapan saya. Rambutnya yang hitam dan kulit wajahnya yang halus, matanya yang indah, bibir yang exciting, memang indah dipandang. Saya merasa jadi pria itu memang berkah. Walau tampa selir.

Perjalanan waktu.

 





Suatu saat Albert Einstein mampir di sebuah bengkel untuk perbaiki kendaraannya. Monternya anak muda.


“ Nak, kalau kamu bisa berangkat ke masa depan. Katakanlah 100 tahun. Sampai dimasa depan,  kamu masih muda seperti sekarang. Apakah kamu tertarik? Tanya Albert Einstein menguji kercerdasan anak muda itu.


“ Bodoh kalau saya mau “ Kata anak muda itu sambil terus kerja memperbaiki mobil.


“ Kenapa ?


“ Yang paling berharga dari kehidupan adalah waktu. Dari waktu itu, saya bisa merasakan susah senang. Sakit dan sehat. Tertawa dan menangis. Bisa menua bersama dengan istri saya. Mengapa saya harus buang 100 tahun yang berharga itu. Tidak perlu jadi orang pintar untuk tahu tawaran itu adalah kebodohan.”


Albert Einstein tersenyum. “ Kamu lebih pintar dari saya. Karena kepintaran spiritual tidak bisa dikalahkan dengan akal. Bahkan oleh seorang profesor sekalipun. “ 


Satu saat seorang Sufi sedang berjalan di tengah pasar. Dia duduk di pojok pasar. “ Sufi, apakah ada jalan cepat ke sorga? Kata anak muda.


“ Jangan mudah marah. “ Kata sufi.


“ Apalagi ?


“ Jangan berharap dengan janji manusia. “


“ Apalagi”


“ Jangan berguru dan berteman dengan mereka yang menjanjikan sorga kepadamu. Karena dia sedang mengubah dirinya menjadi Tuhanmu. Sorga itu hak prerogatif Allah. Tidak ada manusia yang bisa menjamin dia masuk sorga apalagi menjamin orang lain. Jangan kau ganti Tuhanmu karena apapun. Di dunia ini apapun ada gantinya.Tetapi Tuhan tidak tergantikan.”


“ Bagaimana cara menjaga agama dari orang kafir? apakah dengan berjihad?


“ Yang paling kafir itu adalah nafsumu. Perangilah itu sepanjang usiamu. Soal agama itu urusan Tuhanmu. Dia lah yang akan menjaganya sampai hari kiamat. Jangan kamu berjihad membela agama pada waktu bersamaan kamu kudeta kekuasaan Allah. Itu artinya kamu berTuhankan Nafsumu. Sirik.”  Kata Sufi.


Anak muda itu berlalu dan dia pulang ke rumah. Sekeras apapun sikap istrinya. Dia tidak pernah terpancing marah. Dia ingat nasehat sufi. Lambat laun perubahan sikapnya membuat istrinya melunak. Kehidupan rumah tangga jadi seperti sorga. Benar kata sufi. Di dunia saja dia sudah rasakan Sorga. Agamapun lebih  kepada mendekatkan diri kepada Tuhan. Memperkaya spiritual. Diapun lupa akan janji sorga Tuhan. “ Dimanapun aku ditempatkan tak penting. Cukuplah antara aku dan Tuhan saja. “ Perjalanan waktu itu indah asalkan kita tidak mudah marah. Bersabar dan ikhlas. Apapun yang terjadi, tetap baik bagi kitaa.


Aswaja dan Radikalisme

  Banyak orang memahami bahwa teroris itu adalah islam sebagai sebuah agama, yang tentu termasuk ajarannya.  Sebetulnya pemahaman ini bagi o...