Monday, March 22, 2021

PADRI Korban HOAX Wahabi


 

Saat itu tokoh agama di Minangkabau kawatir akan perkembangan adat orang minang yang semakin jauh dari ajaran islam.  Sabung ayam, minum miras, pelacuran sudah menjadi hal permissive. Tersebutlah yang risau itu adalah ulama besar seperti Tuanku Nan Renceh. Dia murid dari Tuanku Nan Tuo yang bermahzab Safiie. Kerisauan itu dijawab dengan bijak oleh Tuanku Nan Tuo.  Hidayah itu hak Allah yang akan memberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Tugas ulama hanya mengingatkan kebenaran dengan bahasa hikmah. Itu saja. 


Namun bagi Tuanku Nan Renceh jawaban gurunya Tuanku Nan Tuo itu tidak memuaskannya. Kekawatirannya kemudian didengar oleh tiga orang haji yang baru pulang dari Makkah berlajar tentang Wahabi. Tiga haji itu adalah Haji Miskin dari Pandai Sikek Padang Panjang, Haji Piobang dari Piobang Payakumbuh, dan Haji Sumanik dari Sumanik Batusangkar. Ketika Tuanku Nan Renceh menghadap Haji Miskin, dengan cepat dia berubah haluan. Dari penganut Mahzab Safie, dia berubah jadi wahabisme.


Setelah itu Tuanku Nan Renceh jadi hulubalang Haji Miskin. Merekalah yang menyebar luaskan wahabi melalui majelis ta’lim, mengadakan fatwa tentang persoalan-persoalan yang ada disekitar masyarakat, dan sebagainya dengan semboyan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mengembalikan kemurnian ajaran islam, memerangi segala bid’ah dan khurafat, serta melarang taklid kepada ulama-ulama madzhab. Banyak ulama hebat terpengaruh dengan paham wahabi. Tanpa ada yang berusaha tabayun ke Makkah untuk mengetahui tentang Wahabi. 


Termasuk Muhammad Syahab seorang ulama dan tokoh masyarakat di Minangkabau terpengaruh. Belakang oleh Tuanku Nan Rennceh dan Haji Miskin dia diberi gelar Tuanku Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol mau saja mengikuti perintah tiga orang haji itu untuk menolak adat Minangkabau yang matriarkat. Jihad pun dimaklumkan terhadap lapisan sosial yang matriarkal, rumah-rumah gadang dibumihanguskan dan para pemimpin adat dibunuh.  Pada 1815, dengan pura-pura mengundang berunding, kaum Padri membinasakan keluarga kerajaan Pagaruyung di dekat Batusangkar.


Setelah kaum wahabi berhasil memporakporandakan kerajaan pagaruyung dan kaum adat. Barulah pada 1821 kekuasaan kolonial Belanda masuk ke kancah sengketa. Butuh waktu 27 tahun perang itu. Setelah kerusakan terjadi dimana mana dan nyawa tercabut begitu saja.  Apa yang diidamkan kaum padri tetap tidak diterima oleh adat. Saat itulah Imam Bonjol termenung. Apakah salah yang dia perjuangkan ini. Benarkah ajaran Wahabi itu. Benarkah kebenaran islam adalah pemurnian tanpa perlu ada tafsir? Benarkah islam membolehkan membenci dan membunuh kepada orang yang tidak sepaham ?Apakah semua yang diajarkan haji Miskin itu adalah benar?  


Akhirnya Tuanku Imam Bonjol, mengirim empat utusan ke Mekkah.  Empat orang dipilih agar kesaksian mereka dibenarkan secara syariat islam. Pada 1832 utusan itu kembali dengan kabar: ajaran yang dibawa Haji Miskin dinyatakan tak sahih. Mahal sekali ongkos akibat HOAX.  Segera Tuanku Imam Bonjol mengajukan perdamain dengan kaum adat. Tercepailah kesepakatan. Adat basandi syara. Syara basandi kitabullah. Selesai.

Andaikan Imam Bonjol dari awal tabayun ke makkah sebelum menerima begitu saja ajaran Haji Miskin, mungkin tidak perlu ada kehancuran. Imam Bonjol dan kaum padri harus membunuh kaum adat dan membakar rumah gadang hanya karena terprovokasi hoaz kaum wahabi.  Akankah kini kita akan ulang lagi? Padahal ada internet untuk tabayun, mendapatkan informasi lintas benua terupdate..


Referensi:

-Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy,  studi  1784-1847.

-Memorie van Toeankoe Imam" (De Stuers 1850, Vol. II:221-40,243-51).

-Jeffrey Hadler “  Muslims and Matriarchs, (NUS Press, 2009)



No comments:

Kita mendukung orang baik.

  Saya punya visi membangun kawasan industri ASEAN  di China. Visi itu saya sampaikan kepada Direktur business development Holding. Ada tiga...