Wednesday, August 22, 2018

Memahami APBN.


APBN itu adalah produk DPR bersama sama dengan pemerintah dan merupakan representasi kehendak rakyat. Jadi APBN Itu ya milik rakyat. Seyogianya kita sebagai rakyat harus pahami bagaimana APBN itu disusun. Apakah disusun seperti pedagang kelontongan?. Hanya melihat sisi penerimaan dan pengeluaran? tidak. APBN itu merukan rencana anggaran Pendapatan dan Belanja negara. Yang namanya rencana harus didasarkan pada tiga hal: Pertama, tujuannya apa ? Era Jokowi tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi kesenjangan ekonomi, mengurangi pengangguran. Gimana caranya? ya melalui pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kedua, gimana strateginya ? menciptakan efisiensi anggaran agar lebih efektif dengan kebijakan pro pertumbuhan produksi. Ketiga, arah nya atau orientasinya apa? ya produksi melalui kegiatan ekspansi.

Dengan dasar arah, strategi dan orientasi itulah perencanaan disusun. Tentu menyusunnya tidak semaunya. Artinya tidak bisa langsung sediakan anggaran  untuk orang miskin agar tidak ada lagi orang miskin. Atau sediakan anggaran sekian untuk subsidi agar harga murah. Tidak bisa begitu.  Itu pedagang kelontongan namanya. APBN itu dibuat berdasarkan data yang berkesinambungan. Contoh APBN 2016 dibuat berdasarkan data 2015. Kan engga bisa langsung pengeluaran dikurangi begitu saja atau penerimaan dinaikan begitu saja tanpa perhitungan dan standar kepatuhan hukum yang ada. Kalau ingin ditingkatkan penerimaan maka harus ada kebijakan yang menyertai dan ini harus melalui UU kalau tidak ada UU nya. Kalau sudah ada UU nya namun belum ada Peraturannya maka harus dibuat aturannya. Jadi engga mudah kan.

Di perusahaan maupun negara bahkan rumah tangga, perencanan dibuat pada intinya bagaimana bisa menjamin cash flow. Urat nadi badan itu adalah darah. Cash flow adalah darah. Kalau darah berhenti mengalir maka kita pasti mati. Makanya APBN Itu berhubungan erat dengan cash flow.  Tidak bisa seenaknya menambah utang demi program populis. Karena disamping akan membebani cash flow berupa angsuran dan bunga dimasa depan juga belum tentu ada investor atau lender mau kasih utang kalau perencanaan utang tidak tepat. Utang itu adalah alternatif terakhir kalau semua solusi menutupi desifit sudah dilakukan seperti mengurangi belanja rutin. Mengapa ? UU mensyaratkan maksimum defisit adalah 3% dari PDB. Cukup engga cukup ya itu harus dipatuhi.

Sekarang bagaimana susunan APBN itu ? Dulu ketika Orla dan Orba Dari tahun 1970 sampai tahun 2000, kita mengenal APBN dengan format T Account. Rakyat tidak perlu tahu banyak soal APBN. Ini urusan Negara. Yang penting negara punya resource berupa SDA untuk menjadi undertaker kebutuhan social Rakyat. Kebutuhan pangan, papan, dan sandang adalah tanggung jawab negara dan karena itu pemimpin dipilih. Tahun 2000 format itu dirubah menjadi I account. Ini standard Government Finance Statistic. Ia sudah menjadi standard dunia , yang bisa di ukur dan dianalisa oleh siapapun. Jadi lebih transfarance.

Jadi sejak APBN mengikuti format I Account maka dia sudah menjelma seperti Neraca Perusahaan yang mudah dibaca oleh publik. Pemerintah tidak bisa lagi sesukanya menentukan pos APBN. Ada tiga pos APBN. Pertama adalah Penerimaan negara. Sumber penerimaan adalah  pajak, Pendapatan Bukan Pajak, hibah. Kedua adalah pos belanja negara. Pada Pos ini terdapat pos belanja seperti anggaran Kementrian dan dana transfer ke daerah dan  termasuk bayar utang dan bunga. Kalau selisih penerimaan negara lebih kecil dari belanja negara maka disebut defisit. Kalau penerimaan negara di kurangi belanja negara tidak termask bayar utang dan bunga hasilnya defisit maka disebut defisit primer. Kondisi defisit atau surplus inilah dasar negara mengelola cash flow. Bagaimana caranya ?

Perhatikan, penerimaan hutang tidak masuk dalam pos penerimaan negara dan tidak masuk dalam pos belanja negara. Tapi masuk dalam pos Pembiayaan anggaran. Ini pos anggaran ketiga dalam APBN. Didalam pos ini , solusi negara mengatasi difisit anggaran akan nampak transparan. Seperti penjualan obligasi/SBN, righ issue saham BUMN, pinjaman proyek, penjadwalan hutang atas cicilan hutang dan bunga. Semakin besar difisit semakin besar pos pembiayaan anggaran. Nah karena ini berhubungan dengan kreditu atau investor maka performan anggaran negara harus layak. Yang diperhatikan oleh investor/kreditur adalah sisi penerimaan negara. GImana pemerintah bisa mendongkrak pajak? Maklum 90% sumber penerimaan negara adalah pajak. 

Karenanya posisi dunia usaha ( Swasta/BUMN) sangat penting untuk menjadi sumber penerimaan negara. Artinya benar benar kekuatan negara didapat dari service fee atas legitimate yang diberikan kepada dunia usaha untuk mendapatkan laba sebesar mungkin di bumi pertiwi ini. Investor atau kreditur akan melihat kebijakan negara dalam soal bisnis. Makanya indikator Easy doing of Business dan logistic index sangat diperhatikan. Dan ini tercermin dalam paket deregulasi ekonomi yang dikeluarkan pemerintah. Termasuk indikator CPI ( corruption perception index) diperhatikan agar memastikan utang tidak dikorup. Real Effective Exchange Rate (REER) juga diperhatikan untuk mengetahui orientasi kebijakan kurs mata uang benar  benar mendukung produksi.

Atas dasar pertimbangan data indek yang ada tersebutlah maka investor atau kreditur mau membeli surat utang negara dalam rangka menutupi defisit anggaran. Kalau indikator tersebut semua negatif maka tidak mungkin surat utang dibeli oleh investor atau kreditur. Mana anda investor bego. Apalagi utang itu adalah utang fiskal , yang jelas bukan utang negara dalam bentuk sovereign guarantee. Utang itu dijamin oleh proyek itu sendiri yang sumber pembayarannya dari penerimaan negara. Semakin tinggi utang semakin besar penambahan asset negara. Karena utang tidak dipakai untuk konsumsi seperti subsidi BBM era SBY.

Dengan demikian utang bukanlah hal yang dikawatirkan. Tetapi suatu bukti bahwa kepercayaan luar kepada pemerintah tinggi. Rating surat utang kita oleh tiga lembaga international pemeringkat efek berkatagori investment grade.  Kepercayaan ini bukan karena politik seperti Turki dapat bantuan dari Qatar atau China tetapi business as usual. Kalau engga feasible ya engga dapat duit. Kalau pemerintah tidak profesional dan reputable, ya mana mungkin SBN laku dipasar.

Friday, August 17, 2018

Menilai personal pasangan Capres.



Apa yang terjadi seandainya bukan Jokowi yang presiden kelak.? Tanya nitizen. Sebelum saya jawab pertanyaan tersebut. Maka mari kita liat karakter dari masing masing calon presiden. Saya menilai karakter ini tidak berdasarkan kepada perasaan suka tidak suka,  tetapi berdasarkan rekam jejak mereka sebagai pengusaha. Rekam jejak ini bukan berdasarkan rumor tetapi sudah menjadi rahasia umum. Artinya sudah dibicarakan di media massa termasuk media digital. Tentu didasarkan persepsi saya sebagai pengusaha. Jadi sudut pandang saya  lebih kepada praktis, bukan teori. Baik saya jelaskan sebagai berikut.

Jokowi.
Setamat kuliah , Jokowi hanya sebentar jadi Pegawai. Itupun dia magang di BUMN. Setelah itu dia terjun dalam dunia bisnis. Usaha yang dirintisnya tidak jauh dari pengetahuan yang dipelajari di Kampus, yaitu kehutanan. Tidak jauh dari pengalaman usaha keluarga dari Ayahnya yang memang punya skill tukang kayu. Dalam memulai usaha, Jokowi dapat modal dari bank. Itu dengan menggadaikan harta keluarga. Dari sana dia merintis usaha sebagai pengusaha kreatif dibidang perkayuan. Tentu, karena latar belakangnya adalah sarjana, maka usahanya itu ditopang dengan cara cara terpelajar pula. Seperti, bagaimana cara mendapatkan mitra untuk pengadaan bahan baku dan pembeli. Dia juga belajar bagaimana memasarkan dengan cara cara modern. Bagaimana membangun image atas merek. Bagaimana mendesign produk agar punya nilai tambah dan bisa bersaing.

Anda mungkin menganggap usaha kreatif menghasilkan furniture itu recehan. Benar, kalau di bandingkan dengan industri kimia. Tetapi anda harus tahu bahwa sebagian besar laba yang didapat dari penjualan furnitur itu berasal dari creative design. Labanya bukan satu digit atau dua digit secara persentase tetapi tiga digit. Bahkan bisa 4 kali lipa dari modal. Jadi ini bisnis low profile but high profit. Namun tanpa ketekunan dan passion yang tinggi tidak mungkin bisa unggul dalam persaingan. Tidak mungkin bisa berkembang. Produknya masuk ke pasar international. Tanpa Jokowi punya bakat untuk bisa bersaing dan berkembang tidak mungkin dia bisa bermitra dengan konsumen international. Bahkan dia punya outlet di luar negeri untuk produk furnitur bermerek JKW.

Saya yakin ketika Jokowi diangkat sebagai pengurus ASMINDO ( Asosiasi Permbelan dan Kerajinan Tangan Indonesia ) bukan karena dia kaya raya. Tetapi sikap konsistensi dan reputasinya dikenal baik oleh pengusaha sejenis. Kalau anda jadi ketua KADIN atau HIPMI, itu lebih karena faktor politik. Karena anggotanya berbagai jenis usaha. Tetapi untuk asosiasi, itu lebih kepada reputasi anda sebagai pengusaha dilikungan usaha sejenis. Tentu mereka lebih tahu siapa anda. Kalau anda tukang ngemplang utang dan suka tipu sana tipu sini, pasti tidak akan dipilih sebagai pengurus Asosiasi. Masuknya Jokowi ke politik, itu juga karena dorongan dari teman temannya di ASMINDO. Mereka inginkan Jokowi memperbaiki Solo. Sampai kini usahanya tetap jalan dan  dikelola oleh keluarganya. Tidak ada yang bangkrut. Karir politiknya berkembang karena lebih kepada sikap mentalnya dalam bisnis juga diterapkan dalam dunia politik.

Prabowo dan Sandi.
Prabowo menjadi perwira rising star karena dia adalah menantu dari Pak Harto. Bukan rahasia umum bila begitu banyak keistimewaan diberikan Pak Harto agar karir PS cepat naik dan selamat dari proses kompetisi dengan sesama perwira seangkatan dengan dia. Jadi harap maklum bila karir militernya berakhir setelah mertuanya tidak lagi jadi RI-1. PS jadi pengusaha juga tidak dari bawah sepeti Jokowi. Tetapi karena fasilitas pemerintah Megawati yang memberikan dia kemudahan pengambil alihan asset melalui BPPN, yaitu KIANI. Walau dia tidak punya pengalaman hebat sebagai pengusaha, namun adiknya, Hashim , yang pengusaha mengawalnya dengan baik. 

Apakah asset BPPN yang diambil alih itu berkembang menjadi asset berkelas dunia seperti cita cita Pak Harto ketika memberikan fasilitas lahan untuk Hutan Tanaman Industri dan pinjaman melalui dana reboisasi kepada pendiri KIani ( Bob Hasan). Tidak. Kiani ditangan PS malah bangkrut dan akhirnya diambil alih oleh konsorsium kreditur. Bahkan proses pengambil alihan itu membuat dirut bank Mandiri masuk penjara. Lolosnya PS dari kasus KIANI lebih karena campur tangan politik.  Setelah itu, PS masuk ke bisnis tambang batubara dan nikel. Itupun lebih sebagai pemilik saham goodwill atau rente. Karena fasilitas konsesi bisnis yang dia dapat dari pengaruh politiknya di era SBY.

Dari bisnis semacam itulah dia mendapaktan uang tidak sedikit untuk membiayai gaya hidupnya sebagai pengusaha maupun sebagai politisi. Kalaupun dia duduk sebagai ketua HKTI, maka itu bukan karena kepedulian dan reputasinya membela petani dan nelayan. Tetapi lebih kepada permainan politik. Terbukti hanya satu periode , posisinya sebagai ketua HTKI dijatuhkan lewat Munas. Karena memang miskin prestasi. Namun apakah PS menerima begitu saja? tidak. Dia malah mengajukan gugatan atas hasil MUNAS itu,  yang akhirnya kalah di pengadilan. Mengapa? Memang untuk bisa jadi ketua asosiasi semacan HKTI harus punya trust tinggi dihadapan anggota. Kalau trust habis, maka habis juga posisi.

Sandi, dia mengawali karirnya sebagai pengusaha dan akhirnya berkembang karena kedekatannya dengan keluarga William Suryajaya. Berteman dengan orang kaya sekelas Sandi tentu tidak sulit menjadi kaya. Apalagi dia memang cerdas. Namun kecerdasannya itu tidak membuat reputasi dia sebagai pengusaha tinggi. Di hadapan keluarga William Suryajaya dia masuk katagori Bad news. Ada catatan kecil dari sepak terjang Sandi sebagai pengusaha. Yaitu ketika dia mendirikan perusahaan Asuransi. Bisnis asuransi itu lebih karena Trust dan fasilitasn negara. Resiko yang ada pasti di back up oleh penjamin resiko lain ( reinsurance ). Jadi benar benar aman. Nyatanya Perusahaan asuransi yang didirikan oleh Sandi itu dihentikan operasionalnya oleh otoritas  dan terpaksa dijual kepada pihak lain atas persetujuan OJK. Dalam dunia bisnis tidak ada bisnis asuransi yang bisa bangkrut. Kecuali di rampok oleh pengurusnya sendiri. Mengapa ? karena asuransi itu menawarkan janji, bukan barang. Kuncinya ada pada trust pemegang saham. Kalau trust jatuh maka semua jadi default.

***
Nah kembali kepada pertanyaan awal. Bagaimana kalau bukan Jokowi yang jadi presiden? Siapapun yang jadi presiden maka dia hanya akan menjadi pelaksana UU. Kalau melanggar UU maka pasti akan berhadapan dengan kekuatan di DPR. Bisa di jatuhkan secara konstitusi. Artinya sistem yang ada tidak akan berubah karena seorang presiden. Lantas dimana bedanya ? karena Jokowi maupun PS, Sandi punya latar belakang pengusaha. Maka gaya kepemimpinannya tidak jauh berbeda. Orientasinya laba. Hanya perbedaannya terletak pada metodelogi dan niat saja. 

Kalau Jokowi lebih menghargai proses bisnis berdarkan standar moral pada umumnya. Dia membangun kepercayaan investor bukan melalui pencitraan tetapi pemenuhan standard compliance. Memperbaiki kualitas, menjaga kepercayaan. Makanya dia berusaha memperbaki performance APBN lewat efisiensi dan peningkatan perluasan objeck pajak. Memperbaiki regulasi agar investor lebih nyaman melakukan aktifitas bisnis. Menghapus bisnsi rente agar ekonomi efisien.Artinya dia focus kepada pelayanan dengan prinsip keadilan agar orang nyaman. Kalau karena itu dia mendapatkan kepercayaan dari investor dengan meningkatnya arus investasi pembiayaan diluar APBN maka itu bukan karena ngemis. Tetapi business as usual. Disamping itu orang semua tahu bahwa JKW itu nothing to lose. Tidak ada benturan kepentingan pribadi.

Kalau PS dan Sandi , berkaca dari rekam jejaknya maka dia lebih memilih cara yang too good to be true. Lebih mengandalkan loophole hukum untuk create business dan create solution. Bukan untuk kepentingan orang lain tetapi lebih untuk kepentingan dirinya sendiri. Itu bisa dilihat dari kasus KIANI pada PS dan Perusahaan Asuransi pada Sandi. Anda bisa bayangkan kalau  mereka jadi Pemimpin di negeri ini. Proses pembangunan ala Jokowi yang berspektrum jangka panjang, perubahan kearah lebih baik secara gradual yang melelahkan, tentu tidak akan mereka lalui. Itu bukan gaya mereka. Bisa liat contoh DKI ditangan Gerindra dimana Sandi sebagai wagub. Nampak sekali mereka tidak tertarik proses kemandirian diluar APBD terjadi seperti era Ahok. Mereka hanya focus kepada APBD. Selebihnya mereka sibuk membangun kemitraan dengan pihak lain untuk mereka sendiri dan tak lupa terus membangun citra lewat retorika minus kinerja sehebat Ahok.

Kesimpulan.
Memilih presiden itu jangan berharap akan juga bisa mengganti sistem yang ada. Apalagi di DPR tidak ada satupun partai yang menguasai korsi diatas 50%. Jadi janji akan menghapus kemiskinan dengan segera, menurunkan harga seketika, meningkat ekonomi diatas 7% ditengah krisis global saat sekarang, tak lain hanyalah retorika fiksi. Sistem yang ada akan memastikan proses itu berjalan sesuai dengan UU. Tidak ada yang too good to be true. Nah untuk bisa melewati sistem itu diperlukan kreatifitas yang smart. Bagaimana bisa berjalan diatas sistem yang ada, ditengah keterbatasan APBN dan kompetisi global yang tidak bisa dihindari tanpa terjebak dengan kenyamanan status sebagai penguasa?. Kreatifitas tentu semua calon punya. Hanya niat baik itu yang sulit. 

Jokowi sudah membuktikan niat baik itu ada pada dia. Rekam jejaknya membuktikan itu. Dia tidak korupsi dan keluarganya tidak terlibat dalam pemerintahannya. Standar moralnya tinggi tanpa ada rekam jejak kasus hukum perdata terhadap dirinya. Jokowi bukan pemimpin partai. Bukan pendiri partai. Kalau sampai partai mencalonkan dia itu lebih karena reputasi dan trust secara personal yang tinggi terhadapnya. Bagaimana dengan PS dan Sandi?. PS jadi pemimpin partai bukan karena reputasi trust tetapi karena memang dia pendiri dan pemilik partai itu sendiri. Rekam jejaknya secara personal jelas kalah jauh kelasnya dibandingkan Jokowi kecuali hartanya. Nah, apa jadinya kalau bukan Jokowi yang jadi presiden? silahkan nilai sendiri.

Thursday, August 16, 2018

Badai itu datang dari Turki


Erdogan memang sebagai politisi termasuk smart. Tetapi culas secara ekonomi. Secara ekonomi dia tidak paham mengelola geopolitik dan geostrategis untuk kepentingan domestik. Proses kajatuhan ekonomi Turkey itu sudah berlangsung sejak 2016. Dukungan elite politik Turki yang selama ini setia kepada Erdogan nampak melemah dan memilih menjadi oposisi diam karena sikap rezim Erdogan yang terkesan diktator, mengabaikan hak hak demokrasi, terutama terjadi ketegangan antara pemerintah dengan kelompok kurdi. Juga dampak buruk dari kebijakan rekonsiliasi dengan Israel. Isyu kerjasama bisnis Israel dan Turki untuk memasok gas lewat jalur pipa gas sepanjang 550 KM menuju kota pelabuhan Mersin, Turki itu terletak di Selatan negara tersebut dan di pesisir pantai Timur Laut Mediterania. Rencana ini juga belum nampak kemajuan berarti. Gas masih tergantung dengan Rusia.

Ketidakstabilan politik dalam negeri ini juga datang di saat ekonomi Turki sedang memburuk. Pertumbuhan ekonomi melambat, korupsi merajalela dan investasi asing mengering. Belum lagi sangsi Rusia telah menyulitkan Turki karena 55% gas alam di suplai oleh Rusia. Berdampak penerimaan devisa menurun drastis. Karena 20% penerimaan sector pariwisata berasal dari Rusia. Sebagian besar jasa kontraktor Turki mendapatkan pekerjaan proyek APBN Rusia yang bernilai miliaran dollar. Pembeli utama produk pertanian Turki adalah Rusia.

Erdogan butuh perbaikan ekonomi Turki sebagai alat melanggengkan kekuasaanya. Karena kalau ekonomi terus turun maka rakyat yang tadi di belakang dia akan berbalik menjatuhkannya. dan di sini Rusia dapat memainkan peran yang sangat penting untuk menyelamatkan Erdogan. Erdogan menyadari bahwa campur tangan Rusia di Syria mendukung rezim Assad jauh lebih efektif secara politik dan rencana Turki menjatuhkan Presiden Bashar al-Assad praktis gagal. Erdogan mungkin juga ingin menemukan cara untuk menenangkan situasi di Syria dan mengurangi risiko ketidakstabilan Suriah mengarah ke Turki. Dan ini perlu Rusia membantunya.

Pemilu di AS yang mengakhiri masa jabatan Obama dengan Trumps sebagai pemenang tidak diantisipai oleh Erdogan dengan baik. Dia tidak menjaga diri dari perubahan kebijakan politik AS terhadap Turki yang tidak menyukai kebijakan Erdogan dalam membangun demokrasi di Turki. Ini jelas tidak menguntungkan partai Erdogan. Sikap kepada Rusia adalah posisi tawar yang strategis dengan AS. Namun, walaupun upaya untuk rekonsiliasi dengan Moskow telah di lakukan, Guncangan tabrakan "Brexit" mungkin sebagai pemicu Erdogan harus menemukan cara untuk melindungi diri terhadap dampak dari ketidakstabilan Eropa. Karenanya ia berharap peningkatan hubungan dengan Rusia dapat membantu dia keluar dari krisis domestik maupun regional. Bagi Rusia ,ini kesempatan untuk menggunakan bantuan Turki dalam upaya menstabilkan Suriah dan menemukan solusi kemenangan politik di Suriah pada khususnya dan Timur tengah pada umumnya.

Erdogan dengan percaya diri berhadapa dengan AS. ia membuat hubungan semakin memburuk dengan AS. Erdogan memenjarakan Andrew Brunson. Semua tahu bahwa Brunson adalah pendeta Amerika evangelis yang telah tinggal di Turki selama beberapa dekade. Dia ditangkap pada tahun 2016, di tengah upaya kudeta terhadap Erdogan. Erdogan mengklaim upaya kudeta itu diorganisir oleh seorang imam bernama Muhammed Fethullah Gulen, yang tinggal di pengasingan di AS. Brunson adalah salah satu dari banyak yang dituduh memiliki hubungan dengan gerakan Gulen. Kasusnya menekan Gedung Putih untuk melakukan sesuatu terhadap Turki. Jumat minggu lalu, Trump mengumungkan kenaikan tarif baja dan alumunium. Lira jatuh seketika sampai 18,5% pada hari jumat itu. Serangan berikutnya akan terus dilakukan AS sampai Erdogan jatuh!

Akibat serangan itu, Turki oleng. Bukan hanya itu, dengan jatuhnya Lira berdampak juga jatuhnya mata uang Rubel-Rusia ketitik terendah. Keadaan ini semakin sulit bagi Rusia untuk membantu Turki. Menyusul kemudian India dimana Rupee juga terpuruk. Rand mata uang Afrika selatan juga terjerembab. Bursa Asia semua jatuh. Karena investor lebih memilih menempatkan portfolio investasi ke kawasan haven seperti Swiss. Krisis lira juga merambah ke zona Eropa. Mengapa ? bank-bank Eropa terjebak kredit macet atau pinjaman kepada korporat Turki. Ini termasuk BBVA Spanyol, UniCredit Italia, dan BNP Paribas dari Prancis. Utang-utang itu sebagian besar dalam mata uang dolar dan euro, dan karenanya lebih sulit untuk membayar dengan lira yang melemah, sehingga saham di bank-bank ini semuanya turun. Kemungkinan surat utang mereka terancam gagal bayar.

China dan Turki.
China termasuk investor terbesar di Turki. Tentu mengalami kerugian paling besar atas terpuruknya ekonomi Turki. Namun solusi yang ditawarkan oleh China tidak disikapi serius. Mengapa ? karena sistem ekonomi china berbasis produksi. China menawarkan proposal agar Turki memperbaiki struktur ekonomi yang lebih berorientasi kepada produksi. Kalau karena itu berdampak buruk bagi dunia usaha, itu jauh lebih baik bagi jangka panjang Turki untuk mencapai kemandirian. Erdogan sepertinya lebih memilih menggedor pintu IMF untuk mendapatkan the last lending resource. Dan uang itu digunakan untuk memanjakan para pengusaha. AS sebagai pemegang saham terbesar di IMF tentu akan mempersulit negosiasi dengan IMF.

Belajar dari kasus Erdogan.
Apa yang terjadi pada Turki lebih karena ambisi Erdogan pribadi. Dia ingin menjadi khalifah dengan menyikat semua musuh politiknya agar dia dengan mudah menang pemilu. Memang berhasil. Tetapi semua itu tidak gratis. Erdogan keras kepada oposisi tetapi mengekor kepada konglomerat. Karenanya kebijakan yang dia tempuh bukanya pengetatan uang agar keseimbangan demand anda supply terjadi dan inflasi terjaga. Justru dia melonggarkan LTV kredit dan menurunkan suku bunga. Akibatnya inflasi melambung mencapai 15,9%. Mata uangpun jatuh secara otomatis. Nilai tukar mata uang Turki sudah anjlok 70 persen sejak awal tahun. Pada 1 Januari 2018, nilainya masih bertengger di angka 3,78 lira per dolar Amerika. Artinya, nilai mata uang sudah anjlok sekitar 69 persen atau mendekat 70 persen, lebih tinggi dari yang dikabarkan semula, yaitu 40 persen. Karena tidak didukung oleh fundamental ekonomi yang kokoh. Pada waktu bersamaan investor menilai kebijakan itu tak lebih seni mencetak uang secara tidak langsung. Merekapun hengkang.

Krisis Turki bukan lagi krisis ekonomi dan moneter tetapi juga krisis struktural. lebih luas lagi sudah sampai kepada krisis multidimensi. Masalahnya tidak lagi sederhana. Erdogan harus mau menyelesaikan masalah Turki secara politik. Dengan mengajak semua elite politik duduk bersama menyelesaikan masalah. Tetapi bukan itu yang dilakukan. Justru Erdogan semakin paranoid. Bahkan akan memburu ribuan akun sosmed yang mendiskriditkan Lira. Kecurigaan kepada oposisi semakin kencang. Semua karena konglomerat dibelakang Erdogan yang berjasa menjadikan dia sebagai diktator. Dan selalu solusi hanya retorika dengan menyalahkan Asing. Ya tak ubahnya dengan venezuela. Faktanya tidak ada perbaikan, malah semakin memburuk.

Indonesia dan Turki.
Indonesia jelas bukan Turki. Secara politik sistem negara sangat demokratis. Apalagi dibawah Jokowi dimana sistem demokrasi di kelola dengan baik. Perbedaan tidak sampai menimbulkan kudeta atau penangkapan masal terhadap oposisi.  Secara Ekonomi sangat jauh berbeda dengan Turki.  Bahwa sebagian besar utang luar negeri Turki dijamin oleh Pemerintah. Termasuk hutang swasta. Sementara Indonesia, utang korporat, perbankan, maupun negara secara keseluruhan merupakan public debt. Jadi tidak ada resiko terhadap cadangan devisa dan APBN. Semua kreditur tahu resiko itu. Jadi Pemerintah lebih mudah mengendalikan bila terjadi arus balik dana ke luar atau rush utang. Perbankan kita sehat. itu bisa dilihat CAR atau rasio kecukupan modal, NPL, yang terjaga. Sumber pendanaan tidak berasal dari negara tetapi dari perbankan sendiri. Sementara Turki , likuiditas dalam negeri sangat tergantung dari utang luar negeri. Ya kira kira sama ketika Era Soeharto di Indonesia. Makanya mudah sekali jatuh.

Walau current account defisit Indonesia mencapai 3% atas PDB,  namun tidak sebesar waktu taper tantrum the Fed tahun 2015. Waktu itupun Indonesia mampu keluar dari jebakan CAD. Jadi Indonesia udah pengalaman dan terlatih menghadapi faktor eksternal. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5% dan itu tidak ada hubungannya dengan CAD yang tinggi seperti Turki. Inflasi Indonesia 3,5 persen dan terkendali, sedangkan di Turki sudah di atas 15 persen. Memang pengaruh eksternal atas krisis Turki akan ada dampaknya terhadap Indonesia khususnya pasar modal namun tidak significant. Pada akhirnya investor akan kembali ke bursa kita. Karena tidak mungkin terus nongkrong di haven zone seperti Swiss dan Jepang.


Monday, August 13, 2018

Mengenal Sandi...

Sandi Uno adalah lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude. Sandi mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00. Sandi itu memang kaya. Saat akan mencalonkan diri sebagai Wagub DKI Jakarta, Sandiaga melaporkan harta kekayaannya pada 29 September 2016 sebesar Rp 3,8 triliun. Berdasarkan laporan Globe Asia tahun 2017 kekayaan Sandi naik jadi USD 500 juta atau Rp.7 triliun. Tahun 2018 turun. Ditaksir kekayaannya mencapai USD 300 juta atau sekitar Rp Rp 4,3 triliun. Kenapa hartanya turun naik. Karena sebagian besar hartanya berupa portfolio saham yang trendnya tergantung pasar. Bagaimana dengan utangnya ? semua likuid. Makanya dia kemarin melaporkan ke Pengadilan bahwa dia bebas dari pailit atas tagihan utang.

Bisnis Sandiaga dimulai pada 1997. Saat itu, ia bersama Rosan Perkasa Roeslani mendirikan perusahaan penasihat keuangan bernama PT Recapital Advisors. Rosan kini menjadi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin).  Setelah mengenal Oom Willem, kedekatan Sandiaga dengan klan Soeryadjaya berlanjut. Pada 1998, Sandiaga dan Edwin Soeryadjaya, putra kedua Oom Willem, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. Perusahaan itu berkecimpung di bisnis pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan. Sebagai perusahaan investasi, kinerja Saratoga terbilang moncer. Perusahaan mampu menyedot modal investor untuk mencaplok perusahaan-perusahaan bermasalah, kemudian melegonya setelah dibenahi. PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menjadi salah satu perusahaan yang mampu dibenahi Saratoga.

Sejak Saratoga didirikan, Sandiaga menjadi pucuk pimpinan yang langsung mengarahkan bisnis perusahaan. Tak hanya itu, ia juga mengaku memiliki 16 jabatan di seluruh perusahaan dan anak usahanya. Namun, setelah memilih berfokus di dunia politik bersama Partai Gerindra, Sandiaga pun rela melepas semua jabatan di bisnisnya. Saat ini, tahta bos Saratoga ia serahkan kepada cucu William Soeryadjaya, Michael Soeryadjaya. Kini, Saratoga mengempit saham beberapa perusahaan besar. Di sektor energi dan pertambangan, terdapat PT Adaro Energy Tbk (ADRO), sektor Infrastruktur menara telekomunikasi ada PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG), dan di lini konsumer otomotif terdapat PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX). Perjalanan bisnis Sandi memang penuh dengan masalah. Namun secara hukum dia bisa buktikan bahwa dia tidak bersalah dan selalu ada solusi bila ada gugatan perdata.

***

PAM DKI.
Suatu hari di tahun 2015, tim advokat dari Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ) mendatangi Ahok. Mereka protes karena swastanisasi Air dimana PT PAM Lyonnaise dan PT Aetra Air Jakarta sebagai pengeloa. Bukan hanya protes tapi mereka juga menggugat nya diera Gubernur Foke. Dan di Era Ahok mereka inginkan sikap dari Ahok. Dengan tegas Ahok berkata “ Saya sudah pakai meterai. Surat saya sudah 'lebih hidup' itu. Saya mau pecat semua orang PAM. Mereka main politik. Saya itu bencinya setengah mati kepada PAM. Menurut saya, orang bajingan semua," kata Ahok dengan nada suara tinggi.

Lebih jauh lagi Ahok bertekad untuk mengambil alih PAM dari PT PAM Lyonnaise dan PT Aetra Air Jakarta melalui buy back saham. Tapi kandas di DPRD karena DPRD tidak setuju alokasi anggaran untuk buy back. Solusi dari pengadilan adalah penyelesaian damai di luar pengadilan. Tapi Ahok menolak. Karena menurutnya Swastanisasi air minum itu sudah gugur sejak UU Air di patahkan oleh MK. Sesuai UU, hak dirisribusi air tetap dikuasai negara namun swastanisasi boleh pada air baku. Pihak swasta tidak mau tahu soal itu. Karena masalah PAM sudah masuk ranah politik, Ahok terpaksa mendiamkan namun tetap menolak setiap rencana ekspansi yang diajukan oleh Swasta.

Saya hanya tersenyum saja ketika mengetahui sikap Ahok itu. Mengapa ? Pengusaha dibalik PAM itu terhubung dengan Group Bakrie bersama Sandiuga Uno. Tentu akses politiknya sangat hebat. Apalagi ini merupakan tambang uang tunai yang Triliunan rupiah. Ketika itu Sandi sangat marah dengan sikap Ahok. Karena Ahok menolak damai dan tetap keras. INi berdampak saham holding company , Acuatico Pte Ltd yang memegang Porfolio 95% saham PT Aetra Air Jakarta yang tadinya dibeli dari PT Thames PAM Jaya (TPJ) pada 2007, anjlok di bursa Singapore. Pemegang saham utama dari Acuatico Pte Ltd adalah Roesan Roeslani dan Sandiaga Uno melalui PT Recapital Advisors.

Dengan jatuhnya saham Acuatico Pte Ltd membuat akses menarik hutang untuk ekspansi juga berhenti. Dampaknya kinerja dari PT Aetra Air Jakarta semakin buruk pelayanannya. Dengan demikian Ahok punya alasan hukum untuk mengambil alih swastanisasi Air itu menjadi milik PEMDA DKI. Tapi belum sempat mendepak , Ahok dapat dikalahkan oleh Sandi lewat pilkada. Bulan juni 2017 bulan yang sama Ahok dinyatakan kalah oleh KPUD atau 4 bulan sebelum pelantikan Gubernur DKI, Sandi melepas saham Acuatico Pte Ltd kepada Grup Salim melalui anak usahanya, Moya Indonesia Holdings Pte Ltd.

Kalau dilihat laporan keterbukaan Moya Holdings Asia Limited di Singapore Stock Exchange, nilai akusisi seluruh saham Acuatico senilai US$92,87 juta atau setara dengan Rp1,24 triliun. Sandi untung besar. Padahal kalau Sandi kalah , nasip sahamnya akan jatuh dan diambil alih PEMDA DKI dengan harga sampah. Dan kini PEMDA DKI tak bisa berbuat banyak karena sudah melegitimasi perpanjangan izin PT Aetra Air Jakarta. Tentu dengan akusisi ini akan membuat saham Moya Indonesia Holdings Pte Ltd semakin naik yang membuat kaya raya Salim Group.

Tapi tahukah anda bahwa pelanggan Aetra hingga desember 2016 adalah 435.777 dengan cakupan pelayanan hingga Desember 2016 adalah 60,77%. Artinya peuang tumbuh dimasa depan masih sangat besar. Hitunglah berapa uang tunai mengalir ke kas perusahaan setiap bulan. Hebat. Cari uang di negeri ini menggunakan politik untuk kaya memang sangat mudah.

Pembangunan Wisma Atlet
Tahun lalu SU menjalani pemeriksaan sebagai saksi KPK untuk mantan Direktur Utama PT DGI, Dudung Purwadi, tersangka kasus pembangunan Wisma Atlet dan gedung serba guna pemerintah provinsi Sumatera Selatan sekaligus tersangka kasus proyek pembangunan Rumah Sakit (RS) Khusus Pendidikan Penyakit Infeksi dan Pariwisata Universitas Udayana, Bali tahun 2009-2011. Dudung sendiri sudah mendekam di Rumah Tahanan Pomdam Jaya, Guntur, Setiabudi, Jaksel. Dia ditahan sejak 6 Maret 2017. Dalam kesaksian Sandi ini ada dua hal yang saya pertanyakan dan sekaligus saya kritisi ( semoga saya salah ).

Pertama, SU dengan tegas mengatakan bahwa sebagai komisaris DGI , dia tidak pernah ada laporan spesifik mengenai kinerja proyek. Tapi hanya dilaporkan sesuai dengan mekanisme corps sebagai perusahaan yang sudah go public. Ia pun mengaku tidak pernah menerima laporan soal keuntungan sebesar Rp49,010 miliar dari proyek tersebut. Tidak pernah dilaporkan dan tidak pernah mendapat persetujuan dari dia sebagai komisaris. Menurut saya agak aneh, bagaimana mungkin seorang pengusaha terpelajar seperti SU sampai tidak tahu jalannya perusahaan. Apalagi perusahaan yang sudah go publik. Kan ada SOP antara Direksi dan Komisari, yang berkaitan laporan secara berkala tiga bulanan.

Menurut kesaksian dari Nazaruddin, negosiasi soal fee atas proyek tersebut dia bicarakan langsung kepada SU. Tapi kesaksian dari SU dihadapan KPK dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak pernah mengenal Muhammad Nazaruddin bendahara Partai Demokrat. Padahal hubungan SU dengan PD sangat dekat. Kan engga logik alasannya. Apalagi logikanya Hampir semua negoasiasi soal fee dalam jumlah besar, tidak pernah direksi berani jalan sendiri tanpa sepengetahuan Komisari, apalagi perusahaan sudah go publik. Dan lagi Muhammad El Idris, Manajer Pemasaran PT DGI memberikan uang suap Rp 4,67 miliar agar menjadi pemenangan dalam proyek Wisma Atlet, pada saat persidangan waktu itu, tersiar hubungan SU dengan El Idris merupakan hubungan keponakan dan paman. Masak iya sih ponakan berani melawan paman?

Di lingkungan saya juga teman teman pengusaha,punya standar yang sama bahwa semua komitmen fee kepada rekanan konsultan harus sepengetahuan komisaris. Apalagi berkaitan dengan suap. Harus komisaris tahu. Mengapa ? karena tanggung jawab komisaris itu memastikan direksi menjalankan perusahaan dengan baik dan taat hukum. Kalau saya, jelas saya tolak. Pelanggaran soal suap adalah berhenti. Tidak ada istilah komisari bisa mengelak tanggung jawab hukum. Mungkin hukum pidana bisa terhindar tapi hukum moral , habis itu. Artinya secara moral komisaris gagal mengelola direksi bekerja dengan baik.

Kedua, SU mengatakan bahwa “Saya menjelaskan secara rinci dan memberikan keyakinan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut melanggar hukum dan tidak pernah dilaporkan atau mendapatkan persetujuan dari komisaris,” Pertanyaan nya mengapa SU tidak ajukan gugatan perdata terhadap Direksi tersebut kalau benar mereka melakukan perbuatan tanpa sepengetahuan dia. Mengapa tidak melaporkan kepolisi atas kasus perbuatan melanggar hukum yang dilakukan direksi ? Mengapa justru mengundurkan diri ? Jadi engga perlu orang hebat secara hukum untuk mengetahui kebenaran atas kesaksian dia.

Kalau melihat kasus ini, keliatannya akan terus bergulir...Ini yang kedua kali Sandi jadi saksi..dulu ,petama tahun 2013, dan sekarang kedua tahun 2017. KIta lihat nanti.

Pembangunan depo minyak Pertamina
Tahun 1996 , PT Pandan Wangi Sekartaji (PWS) kerjasama dengan Pertaminan untuk pembangunan depo minyak Pertamina di Balaraja. Karena terjadi Krisis moneter tahun 1997, usaha ini gagal. Batal dilaksanakan. Berhubung PWS telah mengerjakan beberapa pekerjaan, maka Pertamina harus membayar ganti rugi USD12,8 juta. PWS menuntut Partamina untuk membayar. Dengan dilandasi putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), Pertamina akhirnya mau membayar ganti rugi pembatalan proyek, asalkan kelengkapan proyek termasuk surat-surat sesuai putusan BANI tersebut dan sertifikat HGB tanah diserahkan ke Pertamina.

PWS memberikan bukti tanah yang dimaksud. Karena itu PWS dapat ganti rugi sebesar USD 6,4 juta. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Belakangan ketika Pertamina akan bayar sisanya sebesar USD 6,4 juta, diketahui bahwa sertifikat tanah itu bodong alias falsu. Lantas siapa pemilik tanah sesungguhnya? adalah atas nama Van Der Horst Teguh Sakti, dengan sertifikat HGB asli bernomor 031. Bukan PWS. Tetapi salah satu direktur Van Der Horst Teguh Sakti adalah SU. Edward tentu tidak bisa menerima tanahnya dijadikan alasan menarik uang dari Pertamina. Apalagi sertifikat tanah itu disimpan di custody di Singapore.

Karena Pertamina dirugikan sebesar Rp. 600 miliar maka Jaksa agung terlibat mengusut kasus ini. Yang jadi saksi kunci adalah Ari Sumarno. Karena ketika kerjasama ini dilakukan ia menjabat sebagai Dirut Pertamina. Kasus ini melanggar Pasal 372 KUHP dan Pasal 378, dengan terlapor Stevanus Ginting dan Made Suryadana. Ari Sumarno diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas perkara (P19) sesuai petunjuk jaksa penuntut umum (JPU). SU diperiksa di Mabes Polri.

Nah bagaimana sampai SU memberikan sertifikat falsu itu? Apalagi yang tanah yang dipalsukan itu adalah milik Edward Seky Soeryadjaya yang juga sudah jadi bapak angkat SU. Semua ini bermula dari lelang sebuah perusahaan bernama Van Der Horst Limited di Singapura, pada sekitar tahun 2000. Edward memenangkan lelang itu, melalui perusahaannya L&M Group Investments Limited. Setelah menang lelang, Edward mendapat budel asset Van Der Horst Limited. Nah, dalam budel itu, termasuk ada sertifikat tanah HGB nomor 031 yang berlokasi di Balaraja, Tangerang. Tanah itu adalah lokasi proyek Depot BBM Pertamina yang belum jadi dibangun.

Bagaimana sertifikat 031 ada pada budel Van Der Horst Limited ? karena PT PWS , yang menjadi mitra Pertamina dalam pembangunan depot itu, meminjam uang pembiayaan proyek ke Van Der Horst Limited. Dengan kata lain sertifikat itu sudah digadaikan oleh PWS. Belakangan, PWS meminta ganti rugi ke Pertamina karena proyek depot tadi batal. Seharusnya sederhana saja masalahnya. PWS tinggal minta kepada Van Der Horst Limited sertifikat yang digadaikan itu untuk syarat pencairan ganti rugi. Tetapi PWS malah memberikan sertifikat No. 32 sebagai pengganti Sertifikat no. 31 yang dilaporkan hilang. Belakangan Edward tahu soal ini. Tentu dia marah. Edwar lapor ke Pertamina soal ini. Maka jadilah kasus penggelapan.

Yang disedihkan oleh Edward adalah mengapa sampai kasus ini terjadi. Karena SU sudah dianggapnya sebagi anak sendiri. Ketika SU menikah, Edwar terlibat membantunya. Pertama kali SU kerja ya diperusahaan Edwar. Bahkan sekolah ke Amerika pun yang biayai adalah Edward. Yang lebih menyedikan bagi Edwar adalah dia memberi kepercayaan yang begitu besar kepada SU. Termasuk diberi kepercayaan mengelola Asset dari Van Der Horst Limited. Jadi SU tahu percis keberadaan tanah itu. Kenapa disalah gunakan hanya karena uang? Edward engga habis pikir.

Bagaimana dengan PWS sendiri? perusahaan itu sebenarnya milik dari Johnnie Hermanto. Kemudian belakangan, tepatnya ditahun 2006, Sandi melalui perusahaannya sendiri membeli PWS dari pemilik lamanya, Johnnie Hermanto. SU akuisisi dengan hasil ganti rugi dari Pertamina. Tapi tidak juga dilunasi pembayarannya. Hanya dibayar 40%. Padahal SU sudah terima uang dari Pertamina. Yang jelas SU memang cerdas dan mampu keluar dari jeratan hukum. Itulah ciri khas pemain hedge fund.

PT. Japirex.
Untuk diketahui, Sandiaga Uno dan Andreas Tjahyadi dilaporkan oleh Fransiska Kumalawati Susilo ke Mapolda Metro Jaya dengan dua perkara yakni kasus penggelapan atau Pasal 372 KUHP terkait sertifikat tanah di Curug, Tangerang Selatan sesuai Laporan Polisi Nomor: LP/1151/III/2017/PMJ/Ditreskrimum. Kemudian, Fransiska juga melaporkan Sandi dan Andreas terkait kasus pemalsuan/Pasal 263 KUHP sebagaimana Laporan Polisi Nomor: LP/1427/III/2017/PMJ/Ditreskrimum tanggal 21 Maret 2017. Selain itu, Sandi dan Andreas kembali dilaporkan oleh Arnol Sinaga terkait pemalsuan dan/atau menempatkan keterangan palsu kedalam akta otentik atau Pasal 263 KUHP dan/atau Pasal 266 KUHP sesuai Laporan Polisi Nomor: LP/2231/V/2017/PMJ/Ditreskrimum pada 9 Mei 2017. Sandi diperiksa terkait perkara penipuan dan penggelapan dan tindak pidana pencucian uang, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 dan atau Pasal 372 KUHP dan Pasal 3, 4, 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Bagaimana ceritanya ? Semua bermula pada 2001, Sandi dipercayai oleh Edward untuk mengurus perusahan yang didirikan oleh istrinya yang bergerak di bidang kerajinan tangan. Edward melalui beberapa orang melepaskan 1.000 lembar saham atas PT Japirex. Kemudian Sandi membeli saham tersebut dengan komposisi 40% atas perseroan sehingga masuk dalam kepengurusan perseroan. Pada 11 Februari 2009, PT Japirex dibubarkan dan dibentuk tim likuidasi. Pada 2012 lahan itu dijual. Namun, Djoni yang mengklaim sebagai pemilik lahan mengatakan, penjualan lahan dilakukan tanpa persetujuan dirinya. Sandi memerintahkan uang hasil penjualan tanah dimasukkan ke dalam akun milik Andreas. Walau Sandi membantah namun  Andreas Tjahjadi telah resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di rutan Polda Metro Jaya. Menurut polisi, Andreas mengaku sudah menikmati uang hasil penjualan sebesar puluhan miliar rupiah. Belakangan Pihak pelapor atas Sandi mencabut laporannya karena adanya perdamaian.

Asuransi Jiwa.
Relife dimiliki oleh Recapital Group. Di unit bisnis asuransi itu, ada 4 perusahaan asuransi yang memiliki risk based capital (RBC) di bawah 120%: 2 perusahaan asuransi jiwa & 2 asuransi umum. Satu dari 4 perusahaan asuransi yang sekarat adalah Asuransi Jiwa Recapital Life (Relife). Siapa manajemen Recapital? Ada Sandiaga Uno dan Rosan Roeslani (Ketua Kadin). 1 Februari 2017  OJK mengirim surat kepada Relife untuk segera menambah modal dan menutupi tunggakan klaim asuransi ke ratusan rumah sakit yang totalnya Rp. 194.860.720.972,54. Relife punya waktu 3 bulan menyelesaikan itu.  Selain masalah tagihan asuransi ke ratusan rumah sakit, Relife juga bermasalah dengan MAGI (Mandiri Axa General Insurance). Relife nunggak bayar klaim asuransi Rp 14 Miliar ke MAGI. Uang segitu saja tidak sanggup bayar. Ada lagi kasus lain Asuransi Recapital digugat wanprestasi US$ 4,6 Juta oleh KZI Singapore.

Akibat banyak tunggakan kantor Relife sudah bangkrut. Pembayaran iuran Jamsostek karyawan tertunggak tidak dibayarkan ke Jamsostek, padahal karyawan telah dipotong gajinya untuk pembayaran Jamsostek namun tidak dibayarkan oleh manajemen Relife. Beberapa karyawan yang telah mengundurkan diri hanya diberikan surat hutang, namun masih belum dibayarkan haknya. Iuran koperasi tidak dibayarkan oleh perusahaan padahal sudah dilakukan pemotongan gaji karyawan. AC ruangan telah dimatikan oleh pihak gedung karena Relife tidak mampu membayarkan biaya sewa dan service.

Awalnya karyawan yang masih bekerja hanya digaji 50%, kerjanya juga 50% kan. Capek juga karyawan tiap hari dimaki-maki orang yang nagih. Karyawan Relife sudah mau dirumahkan bulan maret. Bulan februari malah sudah tidak gajian. Dalam kondisi Relife yang kolaps ini, manajemen terus berusaha mencari investor untuk membeli perusahaan. Salah satu investor itu adalah China Life Insurance. Namun setelah proses due diligence China Life Insurance mengundurkan diri. Karena harga yang diminta terlalu tinggi atau 2,5 kali  nilai buku. Tahun 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberi restu bagi PT Transpacific Mutualcapita untuk mengakuisisi Relife. Transpacific Mutualcapita merupakan perusahaan keuangan yang menawarkan layanan asuransi dan pembiayaan.

***
Dari mana Sandi dapat uang untuk menanggung biaya capres PS? Diperkirakan dana diperlukan sebesar Rp. 10 triliun. Sandi adalah pemain hedge fund. Tentu dia punya jaringan yang luas dengan sumber pembiayaan. Setidaknya dia kenal dengan investor yang punya style risk taker untuk mendapatkan high yield. Apa ada business yang high yield kalau bukan yang berkaitan dengan politik. Karena Politik berkaitan dengan resource negara yang akan mempengaruhi peningkatan harta pengusaha lewat kebijakan pemerintah. Semua pemain hedge fund tahu betul itu.

Ketika Trump mencalonkan sebagai Capres. Orang banyak mentertawakan kenekatan Trump. Karena kondisi bisnis Trump ketika mencalonkan sebagai capres dia sedang dalam kondisi bankrupt. Selama perjalanan business nya berkali kali dia berlindung dibalik UU kebangrutan ( Bab 11 undang undang kebangkrutan Amerika). Perhatikanlah, pada tahun 1991, dia menyatakan pailit akibat gagal bayar hutang atas proyek Trump Taj Mahal yang terletak di Atlantic City. Pada tahun 1992, Trump mengajukan Bab 11 kebangkrutan akibat gagal bayar hutang atas Trump Plaza Hotel di Atlantic City. Trump Hotel dan Casino Resorts juga mengajukan kebangkrutan pada tahun 2004. karena gagal bayar hutang mencapa $ 1,8 miliar. Pada tahun 2009, Trump Entertainment Resorts mengajukan kebangkrutan setelah gagal melakukan pembayaran bunga obligasi.

Tetapi harap di catat bahwa Trump itu jenius menciptakan peluang bisnis. Hanya kurang bagus dalam management. Kehebatan rekayasa peluang bisnis oleh seorang pengusaha yang terbiasa high yield pada puncak kehilangan trust dilingkungan bisnis biasanya masuk ke ranah Politik. Itu terjadi di negara manapun. Udah biasa. Kalau ada pengusaha besar akhirnya masuk ke Politik itu artinya dia sedang menjalankan agenda hedge fund, high yield program. Make money. Apabila dia bisa membangun skema bisnis dan mendapat dukungan stakeholder maka biasanya mesin uang akan bekerja efektif menggilas mesin politik. Terbukti Trump bisa mengalahkan Hilary yang sudah kawakan politik.

Keberanian Sandi maju cawapres PS , itu kalkulasi antara Sandi dengan Hashim yang memang keduanya pemain hedge fund. PS hanya ikut saja. Meyakikan PKS dan PAN untuk bergabung walau keluar dari komiment itjima Ulama bukan masalah besar bagi Sandi. Itu kecil. Meyakinkan ormas islam juga tidak sulit. Karena uang yang bicara. Yang jelas Sandi tidak terlalu bodoh untuk melakukan aksi. Dia engga main main. Bahka jabatan Wagub dia tinggalkan. Tanpa ada kepastian dukungan dana , tanpa dukungan stakeholder hedge fund , tidak tidak mungkin Sandi maju. Saya tahu betul pemain hedge fund tidak pernah masuk dalam ruang meeting tanpa peluru cukup dan strategi , protection, swinger , exit strategy. LIhatlah faktanya tidak sulit dia mengalahkan Ahok yang elektabilitasnya tinggi. Dan hanya 7 bulan setelah memenangkan PIlkada DKI , exit nya selesai dengan proyek reklamasi kembali dilanjutkan tanpa harus menanggung biaya pengendalian banjir. Itu puluhan triliun uang pengusaha hemat. MIsinya selesai. Kini next second round RI-1. What else ?

Friday, August 10, 2018

JKW VS PS



Mungkin sebagian kita tahu bahwa Ma’ruf Amin ( MA ) adalah ketua MUI yang kemana pergi pakai sarung dan terkesan sederhana. Hanya paham agama saja. Tetapi tahukah anda bahwa beliau pernah jadi komisaris Bank Muammalat, Bank BNI Syariah, dan Bank Mega Syariah. Untuk jadi pengawas bank harus lolos seleksi BI dan dewan ekonomi Syariah. Kalau ilmu tanggung pasti engga lolos. beliau termasuk salah satu ahli ekonomi syariah. Makanya dia bisa berdebat dan mengendorse kebijakan ekonomi yang dilaksanakan Jokowi bukan aliran neoliberal tetapi sudah sama dengan syariah Islam.

Bagaimana tentang kemampuan politiknya? Karir beliau di politik juga hebat. Beliau pernah jadi Ketua Fraksi Golongan Islam DPRD DKI Jakarta, anggota MPR-RI dari PKB, ketua komisi VI DPR-RI. Beliau pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 2007 hingga 2010. Di PBNU beliau sebagai Rais 'Aam. Beliau juga duduk sebagai anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

KH. Ma'ruf Amin jika dilihat dari garis keturunan keluarganya, memang beliau termasuk salah satu keturunan, atau tepatnya adalah cicit dari ulama besar Syaikh Nawawi Banten. Syaikh Nawawi Banten ini adalah ulama asli Indonesia yang begitu disegani kelimuannya di dunia internasional, terutama di Mekkah.

Jadi pilihan Jokowi terhadap MA sebagai cawapres adalah tepat. Karana MA disamping seorang ulama tulen, juga intelektual Islam dan sekaligus politisi Islam. Jokowi- Ma’ruf amin adalah perpaduan nasionalis dan Islam. Jadilah nasionalis religius. Kalau ada yang bilang Jokowi tidak didukung ulama maka jelas mereka bukan ulama. Petualang yang ngaku ulama! Kalau pasangan ini maju ke pemilu, teman saya dari kubu sebelah bilang “ confirmed Jokowi melaju dua periode. Bila ulama mendukung maka jelas Allah merudhoi nya.”

Sikap kita terhadap Cawapres Jokowi.
Kita tidak perlu tahu orang itu agamanya apa, berapa kekayaannya, dan siapa orang tuanya. Selagi dia tidak merugikan kita, bahkan berusaha berbuat baik untuk orang lain, maka sebaiknya kita ambil bagian mendukungnya. Nah apa ciri orang baik? orang yang Nilai kemanusiaannya kuat. Karenanya dia berusaha rasional. Kalau sampai dia membeci, maka yang dibenci itu adalah sifat orang, bukan person. Karenanya dia tidak sampai menjauhi orang itu tetapi berusaha untuk berbuat agar orang itu bersifat baik. Itulah Jokowi.

Ketika orang ramai demo untuk menjatuhkan Ahok atas nama GNPF MUI, Jokowi sadar bahwa yang jadi target adalah dirinya. Ahok hanyalah sasaran antara. Jokowi sadar bahwa kebencian orang terhadapnya karena dia berteman baik dengan Ahok dan sangat percaya dengan Ahok. Namun Jokowi menyikapi masalah Ahok dan GNPF MUI itu secara jernih. Tidak emosional. Mengapa ? karena ini masalah politik. Ahok dan juga Jokowi bahkan siapapun pemain politik sadar bahwa mereka bisa kapan saja mengalami benturan dengan kelompok lawan. Itulah politik, dimana hanya mengenal pemenang atau kalah dalam kontestan Pemilu. Kalau Jokowi berjarak dengan lawannya maka otomatis dia menciptakan musuh abadi. Dalam dunia politik ini adalah sikap konyol.

Jokowi tahu betul bahwa MUI itu adalah lembaga yang menjadi rujukan bagi semua umat islam di Indonesia. Didalam MUI bergabung berbagai ormas islam dan tokoh islam. Kepemimpinan MUI adalah kepemimpinan Kolektif. Keputusan soal Ahok bukan datang dari personal pengurus MUI. Tetapi melalui sidang fatwa yang dihadiri oleh semua unsur pimpinan MUI dan ormas yang tergabung dalam MUI. Kalau sampai sidang Fatwa MUI itu terkontaminasi unsur politik maka itu resiko politik bagi sebuah lembaga semacam MUI dimana perannya sangat strategis secara politik. Masalah ini sudah dijawab dengan clear oleh Ma’ruf Amin di sidang Ahok bahwa keputusan yang diambil MUI soal Ahok berdasarkan kajian dari team Fatwa. Dia hanya mengesyahkan saja.

Jokowi paham sekali soal MUI itu. Karena dia umat islam. Bagaimana mengatasi agar MUI tidak terkontaminasi Politik ? Ya pemerintah harus mau membuka komunikasi politik dengan MUI. Hubungan antara umarah dan ulama harus dibangun harmonis. Dengan demikian pemerintah bisa menjaga marwah MUI tetap netral dalam politik dan berperan dalam menjaga persatuan dan kesatuan berdasarkan Pancasila. Ini tugas kepala negara. Karenanya tidak mungkin Jokowi berjarak dengan MUI, apalagi sampai mendendam karena telah menjatuhkan Ahok dan akhirnya mengirim Ahok ke penjara. Sifat pendendam bukanlah sifat orang baik. Kalau Jokowi pendendam tentu Tuhan yang akan menghukumnya.

Nah mari kita lihat apalagi yang dipikirkan Jokowi setelah bisa menanamkan keyakinan kepada MUI. Dia sadar bahwa masih ada kelompok islam garis keras yang tidak patuh kepada MUI dan punya standar sendiri dalam mengeluarkan Fatwa. Walau secara hukum kaum radikal sudah diantisipasi sejak dikeluarkannya UU mengenai Ormas dan UU teroris. Tetapi secara non yuridis kan tidak bisa orang dilarang meyakini agamanya dengan cara berbeda. Apalagi dalam islam ada banyak aliran. Contoh,walau HTI sudah dibubarkan namun orang orang HTI tetap ada dimana mana khususnya di ormas lain dan partai lain. Cara menghadapi mereka tentu dengan cara politik. Tidak bisa dengan kekerasan apalagi dengan menciptakan stigma bahwa mereka yang berbeda itu adalah musuh. Dan lagi itu bukan sifat Jokowi.

Dengan memilih Ma’Ruf Amin sebagai cawapres maka itu adalah cara smart Jokowi untuk menghadapi pemaham islam garis keras atau istilah kerennya islam indentitas atau islam transnasional. Dengan pengalaman Ma’ruf Amin sebagai ulama, intelektual dan politisi, serta pengaruhnya yang besar dikalangan ormas Islam lintas mahzab, tentu tidak sulit bagi Ma’ruf Amin untuk mengajak mereka duduk bersama secara ukhuah islamiah membahas masalah bangsa ini pada umumnya dan sikap Politik Jokowi pada khususnya. Kalaupun masih ada yang ngeyel , juga tidak sulit bagi Ma’ruf Amin untuk menghadapinya dengan cara bijak. Karena umat islam itu sesungguhnya sangat patuh kepada Ulama dan mudah diajak bicara oleh ulama.

Apa yang dilakukan Jokowi dalam menghadapi bangsa ini tak lain cara pandang bahwa perbedaan itu adalah rahmat, bukan kutukan apalagi permusuhan. Orang berbeda karena adanya gab pemahaman intelektual dan spiritual terhadap suatu masalah. Ini PR besar bagi siapa saja yang memimpin bangsa ini agar Gab ini semakin lama semakin kecil sehingga yang ada adalah nilai nilai bangsa sesuai dengan Pancasila. Tetapi butuh proses panjang. Memahami Jokowi secara objectif haruslah berangkat dari hati yang bersih. Kalau anda masih punya mental membenci dan dendam, maka anda akan gagal memahami Jokowi dan tentu mudah emosional kalau sikap Jokowi tidak seperti anda mau. Jokowi adalah kado terindah Tuhan kepada bangsa kita setelah sekian puluh tahun terhina dan kalah oleh hegemoni asing dan koruptor. 

Sandi Cawapres PS.
Sandi Uno adalah lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude. Sandi mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00. Karirnya sebagai professional di bidang keuangan memungkinkan dia punya jaringan perbankan dan akses sumber pembiayaan yang luas. Itu sebabnya berkat dukungan dari Edwin Soeryadjaya ( putra taipan William Suryadjaya) dia mendirikan perusahaan Penasehat investasi dan mendulang sukses mengambil alih beberapa asset yang di kuasai BPPN.

Sandi memang jago financial engineering. Ketika PT. ADARO yang dimiliki oleh Hashim sedang masuk credit recovery karena kredit macet. Sandiaga menawarkan diri sebagai konsultant untuk melakukan recovery. Hashim setuju. Namun apa yang terjadi kemudian? Dengan data tentang keadaan Hashim, Sandi bekerja sama dengan Bank Mandiri untuk ambil bagian dari proses akuisisi ADARO melalui skema arbitrase. Karenanya Deutsche Bank sebagai kreditur ADARO memaksa Hashim melepas saham kepada Sandi. Ini proses hostile take over yang cerdas. Karena Sandi engga keluar uang sama sekali. Semua dana dari Bank Mandiri yang ketika itu dipimpin Agus Martoyo. Hashim meradang marah. Merasa dikianti oleh Sandi. Tetapi mau gimana lagi?. Ini bisnis.

Kemudian Hashim bergabung dengan Nat Rothchild untuk mengambil alih Bumi PLC. Terjadilah perseteruan antara Nat Rothchild dengan Group Bakrie atas kepemilikan BUMI PLC. Sandi melalui Recapital Advisors mendukung Bakrie untuk mendepak Nat Rothschild dari Bumi PLC dan sukses. Menempatkan Sandi sebagai komisaris. Padahal kalau seandainya Nat menang lawan Bakrie, Hashim akan menjadi direktur eksekutif Bumi dan Chairman Berau Coal. Untuk kedua kalinya Sandi berhasil mengalahkan Hashim.

Ketika harga batubara mulai jatuh tahun 2013, Sandi langsung exit dari business dan ini aksi profit taking. Dia mulai mendekat ke Prabowo yang juga kakak Hashim Djoyohadikusumo. Tentu ini hanyalah transaksional. Sandi mundur dari eksekutif di semua perusahaan setelah ditetapkan sebagai cagub dari Partai Gerindra. Namun harap diketahui juga bahwa pada tanggal 28 november 2016 melalui pengadilan niaga, 99,84 persen kreditur separatis setuju proposal perdamaian yang ditawarkan oleh Bumi berkaitan utang sebesar Rp. 135,78 triliiun yang jatuh tempo tidak bisa di bayar. Nampaknya keperkasaan Bakrie cs di tahun 2013 mendepak Nat dari Bumi , justru lubang hutang menggunung di kemudian hari. Tapi Sandi hanya tersenyum saja. Karena dia udah exit jauh sebelumnya..

Hary Tanoe yang dulu membantu pembiayaan Recapital Advisory (Sandi CS) melalui transaksi REPO untuk memenangkan voting RUPS mendepak Nat di Bumi PLC, kini menjadi koalisi Jokowi dan Sandi mejadi kader Gerindra. Sandi memang jenius dalam hal loby dan hitungan bisnis sangat kuat. Dengan baby face nya dan bergaya plamboyan aktor hebat memang mampu memukau lawannya untuk mengikuti proposalnya. Apapun dia lakukan untuk jadi pemenang. Kalau kini dia berani menjadi cawapres, itu tentu sudah diperhitungkan dengan matang sebagaimana pemain hedge fund yang orientasinya sebagai hedger. To him all just because of money.

Koalisi pendukung PS-Sandi
Kalau sampai PKS dan PAN mendukung PS-Sandi maka itu tidak ada hubungannya dengan agama atau islam. Mengapa ? Secara syariah PS dan Saandi tidak qualified dia sebagai pemimpin Islam. Itu faktanya. Kalau masih juga ngotot karena qualified maka lhatlah, dalam masa kampanye nanti,  keislaman PS dan Sandi akan ditelanjangi oleh Nitizen. Tidak sulit mendapatkand data tentang sikap mereka terhadap islam. Termasuk akhlak dan moralnya. Sehingga publik jadi tahu bahkan jargon mereka pemimpin yang direkomendasi ulama hanyalah omong kosong. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa sampai PAN dan PKS tetang ngotot mendukung PS? Disamping karena uang tetapi juga ada mutual simbiosis. Apa itu?

Semua tahu bahwa PKS dengan akar rumputnya punya agenda syariah islam ditegakan di Indonesia. Mereka sadar bahwa peperangan melalui jalur demokrasi sulit untuk menang. Terbukti pada setiap Pemilu suara mereka tidak pernah diatas 10%. Mereka yakin bahwa kekalahan itu bukan karena mereka tidak didukung oleh umat islam tetapi karena kurangnya sumber daya dana untuk menggalang kekuatan secara luas. Makanya mereka berusaha mendekat dengan siapa saja yang punya uang. Andaikan setan pun ada uang dan mau bantu, merekapun bisa bersinegeri. Yang penting mereka bisa berada dalam ring 1 kekuasaan agar lebih mudah melaksanakan agendanya.

Mengapa mereka hanya mau merapatkan ke partai selain PDIP ? karena di Indonessia hanya ada dua partai yang berbasis idiologi, Yaitu PDIP dengan idiologi marhaen dan Partai Islam yang diwakili PKS dan PAN yang beridioligi Islam identitas. Walau keduanya punya orientasi sama yaitu sosialis. Namun keduanya punya cara berbeda terhadap bagaimana negeri ini dibangun. PDIP lebih kepada kearifan lokal dengan dasar budaya dan agama. Sementara mereka atas Quran dan Hadith menurut tafsir mereka sendiri.  Kalau PDIP sudah selesai dengan Pancasila. Namun mereka menganggap belum selesai.

Tetapi satu hal yang mereka lupa. Bahwa TNI itu punya chemistry Pancasila. Walau dia sudah pensiun tetapi darahnya ya Pancasila. Pengalaman PKS dan PAN bermitra dengan PD ( SBY) selama 10 tahun memang berhasil membuat basis ormas islam menguat sampai diakar rumput. Tetapi agenda nasional tetap tidak berubah sesuai pancasila. Nah sekaran kembali mereka bermitra dengan PS yang juga pensiunan TNI. Dari awal PS tidak mau bermitra sejajar dengan mereka. Makanya jatah wapres tidak untuk mereka. Tetapi bagi mereka tidak ada masalah selagi mereka dapat uang. Dengan uang ditangan mereka bisa memperkuat basis partai didaerah untuk kelak bangkit menguasai politik secara nasional. Apalagi kalau sampai menang , mereka semakin punya akses ke sumber daya negara untuk menggalang dana. Dan yang lebih membuat mereka yakin dengan PS -Sandi , karena orientasi PS memang uang, bukan idiologi.  Beda tipis dengan SBY. Jadi PS-Sandi akan lebih mudah dipengaruhi untuk melaksanakan agenda mereka. Itu aja.

Peluang PS
Kunci kemenangan Pilpres itu ada di Jawa. Kuasai Jawa maka kemenangan ditangan. Mengapa ? Populasi Jawa merupakan mayoritas penduduk di Indonesia. Hasil survey elektabilitas Jokowi unggul disemua wilayah di Jawa. Hasil survey SMRC, di Jawa Barat, Jokowi mendapatkan dukungan 48,3 persen. Sedangkan Prabowo hanya 37,8 persen. Sementara di Jawa Tengah, Jokowi 73,5 persen, di atas Prabowo yang mendapat dukungan 16,7 persen. Di Jawa Timur, Jokowi mendapat dukungan 58,8 persen dan Prabowo 29,6 persen. Memang keunggulan Jokowi di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak begitu mengejutkan. Sebab, sejak pilpres 2014 lalu, Jokowi memang unggul di dua daerah tersebut.

Menurut teman saya, keputusan Team PS menendang cawapres dari PKS dan PAN atas dasar pertimbangan kedua partai itu memang tidak menolong elektabilitas kepada PS khususnya di Jawa . PKS dan PAN hanya kuat di luar Jawa tetapi nilainya tak lebih 27%. Tidak significant menentukan kemenangan PS. Justru dengan adanya cawapres dari PKS akan menjebak PS dalam issue SARA yang bisa kena diskualifikasi oleh bawaslu. Jadi resiko sudah pasti dan manfaat belum jelas. Apalagi sponsor logistik tidak merekomendasikan PKS atau PAN berpasangan dengan PS.

Namun keberadaan PKS dan PAN adalah bargain PS untuk mendapatkan dana lebih besar kepada sponsor logistik. Karena untuk memenangkan Jawa tidak bisa dengan kampanye konvensional. Perlu gerakan gerilya dengan dukungan Logistik raksasa. Hanya itu yang bisa menjamin PS bisa menang. Simulasi program kampanye dari konsultan itu bisa meyakinkan sponsor atas strategi PS. Yang jadi masalah adalah karena Pilres dan pileg itu serentak maka kekuatan koalisi Jokowi seperti Golkar dan Nasdem, Parindo punya mesin politik besar dengan dukungan logistik juga tidak bisa dianggap remeh. Kerika mereka kampanye partai nya tentu akan menyertakan kampanye tentang Jokowi. Karana satu paket.


Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana PS begitu yakin maju capres dengan dukungan Sandi yang bukan asli Jawa ? Apakah hanya mengadalkan kekuatan logistik saja? Kalau itu, maka kekalahan Pemilu tahun 2014 akan terulang lagi. Semua karena diyakinkan oleh teman dekat seperti PKS. Sepertinya PS tidak belajar dari kegagalan sebelumnya. Atau apa karena motif nyapres memang bukan untuk menang tetapi karana how to get money easy.. Pemilu hanyalah skema how to make money. kita lihat nanti..

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...