Sunday, January 20, 2019

Golput ?



Waktu aksi 411 saya hadir ditengah lautan massa. Sebetulnya saya tadinya hanya nonton dari fountain Cafe grand Hyatt. Sambil menikmati secangkir kopi bersama tamu saya dari luar negeri. Namun ketika mendengar kabar ada kerusuhan di Pluit dan Tanjung Priok. Saya teringat 15 menit lalu direksi saya etnis china pulang. Kebetulan dia tinggal di pluit. Saya segera telp dia. Teleponnya off. Saya sedikit kawatir. Bayangan saya dengan peristiwa Mey 1998. Apalagi barusan baca posting ada keributan di depan istana. Saya mengkawatirkan direksi saya. Cepat saya melangkah ke luar Cafe. Saya berjalan kaki dari grand Hyatt ke kawasan Pancuran patung kuda. Telp panggilan masuk. Saya lega. Ternyata direksi saya sedang di spa Center di kawasan Gajah Mada.

Memang saat itu suasana mencekam. Terdengar suara tembakan bomb asap. Orang berhamburan menjauhi arena demo. Kebanyakan ke arah jalan Budi kemuliaan, Tanah abang. Di masjid BI banyak massa berada di tangga. Wajah meraka nampak takut. Salah satu dari mereka yang berbaju gamis saya tanya mengapa dia ikut aksi ? Menurutnya dia dari pondok pesantren yang ada di Bogor. Dia engga tahu soal Ahok atau Anies. Yang dia tahu ada orang Kristen hina Al Quran. Dia ingin membela agamanya. Saya membayangkan betapa hebatnya provokasi agama. Orang menjadi militan tanpa peduli akal sehat. Tak ubahnya dengan paham totaliter seperti fasis dan komunis. Mengapa? Karena saya paham betul gerakan semacam ini. Saya bergaul dengan banyak aktifis.

Teman saya aktifis HTI dan PKS pernah berkata kepada saya bahwa lawan tersulit itu adalah PDIP. Mengapa sulit ? Karena PDIP adalah partai idiologi. Tidak akan pernah bisa digeser haluannya. Beda dengan partai lainnya yang cenderung pragmatis. Yang sangat pragmatis adalah PD dan Gerindra. Kedua partai itu orientasinya adalah kekuasaan. Hanya saja di PD kelompok Islam moderat lebih banyak. Itu engga nyaman bagi HTI namun bagi PKS itu Ok saja. Cara menghadapi PDIP adalah dengan mengurangi kepercayaan orang kepada demokrasi khususnya Pemilu. Caranya gunakan emosi militan kelompok minoritas yang kecewa akan kekalahan Ahok di Pilkada DKI. Yakinkan kepada mereka bahwa Jokowi dan PDIP lemah kepada mayoritas. Tidak mau membela kelompok minoritas. Kalau tidak mau pilih Prabowo lebih baik golput. Demikian strateginya.

Lewat sosmed emosi itu dibangun. Lewat aksi kolosal dibenturkan antara mayoritas dan minoritas. Kalau Jokowi keras. Dia akan dianggap memusuhi Islam. Kalau Jokowi lemah, dianggap tidak membela kelompok minoritas. Apapun sikap Jokowi keuntungan bagi HTI. Makanya keputusan kebebasan ABB itu sebetulnya yang menggoreng adalah HTI sendiri. Saya kenal teman DDB yang HTI. Dia komen dengan keras menuduh Jokowi tidak konsisten memerangi teror dan cenderung kepada Islam.

HTI sangat tahu bahwa Indonesia di tangan PS akan hancur. Makanya mereka berjuang menjadikan PS sebagai presiden. Kalau PS jadi presiden hanya masalah waktu ekonomi akan chaos. Saat itulah mayoritas umat Islam di giring tidak mempercayai demokrasi. Tidak mempercayai pemilu. Ganti system dengan khilafah. Khalifah berdiri yang pertama kali mereka habisi adalah para golputer yang terpapar kebencian kepada umat Islam. Cerdaslah saudaraku. Mari tetap focus membela orang baik agar Indonesia lebih baik.

Thursday, January 17, 2019

Defisit perdagangan.



Beberapa nitizen bertanya kepada saya, “ Babo tolong bahas mengenai defisit neraca perdagangan. Banyak rumor negatif atas defisit perdagangan ini. Bahkan ada yang bilang defisit neraca perdagangan ini terparah. “ Saya sebetulnya malas membahas ini. Mengapa ? karena defisit neraca perdagangan yang ada sekarang bukan di picu oleh meningkatnya impor barang barang kebutuhan umum. Pasar retail untuk kebutuhan barang sekunder sejak beberapa tahun lalu turun. Kecuali barang kubutahan primer yang sebagain besar merupakan produksi dalam negeri. Ekspor non migas tetap surplus. Itu artinya produktifitas tetap terjadi. Kalau dibilang defisit kita sangat besar dan sangat mengkawatirkan, itu juga salah. Defisit Kisarannya sampai dengan kwartal ke empat hanya sebesar 3% terhadap PDB. Itu masih sehat banget. Bandingkan dengan tahun 2014 diatas 3%.

Lantas mengapa defisit? karena di dominasi oleh meningkatnya impor migas. Sebagai akibat tingginya permintaan domestik. Anda bisa liat tinggi penjualan kendaraan mencapi 10,8 % sampai dengan september 2018. Kalau ekonomi turun engga mungkin orang punya uang beli kendaraan. Belum lagi tingginya produksi perikanan yang membutuhkan BBM tidak sedikit. Disamping itu arus modal investasi yang meningkat drastis sejak tahun 2015, tahun 2018 baru terasa pengaruhnya terhadap kebutuhan barang modal dan bahan baku penolong. Maklum investasi itu baru bisa terealisir paling cepat 3 tahun. Ini juga berperan besar akan meningkatkan kebutuhan baja, plastik, kimia dan lain lain. Terjadinya gap import dan ekspor itu hal yang lumrah dalam negara berkembang seperti Indonesia. Karena kita masih tergantung tekhnologi dan linked product dari luar negeri.

Disamping itu penyebab defisit nerace pardagangan itu adalah faktor ekternal. Yaitu adanya perang dagang antara China dan AS. Menurut catatan BPS, diketahui China dan Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara utama tujuan ekspor RI dengan porsi ekspor paling besar. Pangsa pasar masih tetap ke Tiongkok (China) pertama 15,49%. Kedua AS 10,78%, dan Jepang 10,21%. Lalu Asean 21,52%, dan Uni Eropa 10,81%. Nah anda bayangkanm kalau dua negara tujuan utama ekspor kita perang, ya pasti kita kena imbas. Itu diluar kontrol pemerintah. Apalagi Indonesia dicurigai Trumps termasuk negara yang menjadi transhipment barang produksi CHina untuk masuk ke AS. AS sudah mengeluarkan ancaman akan dihapusnya GSP atas produk indonesia.

Pertanyaan berikutnya, apakah defisit ini menandakan indonesia sedang krisis parah? tidak ada krisis. Perhatikan duet hebat antara Ibu SMI dan Pak Fery yang begitu indah silatnya mensiasati fenomena perdagangan dunia sekarang. SMI mengeluarkan kebijakan fiskal dalam jangka panjang dapat memperbaiki necara perdagangan kita. Dalam jangka pendek, BI menjaga depresiasi rupiah dengan bagus sekali sehingga terjadi arus modal asing masuk ke Indonesia. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa pada akhir Desember 2018 mencapai US$120,7 miliar, tertinggi sejak Juni 2018. Ini rebound kembali setelah sebelumnya sempat merosot akibat depresiasi rupiah yang begitu tajam. Atinya dalam jangka pendek ekonomi kita secara fundamental tetap aman.


Kebijakan bulan sebtember SMI 2018 soal penyesuaian tarif impor dan insentip ekport akan baru di rasakan tahun 2019. Maklum umumnya kontrak dagang international itu rata rata tennornya 3 bulan sampai 6 bulan. Diperkirakan tahun 2019 kita akan kembali mencatat surplus perdagangan. Itulah yang dibaca oleh pemain di pasar uang sehingga mengkerek rupiah. Kalaulah kebijakan pemerintah tidak tepat, ya engga mungkin rupiah menguat, bursa bergairah dan pasar SBN laku keras seperti kacang goreng. Pengamat kubu PS engga paham ini. Karena mereka bukan pemain. Hanya pengamat pinggir lapangan. Kadang memang keliatan pinter daripada pemain. Orang bokek kadang memang begitu loh. Maklumi aja.

Tuesday, January 15, 2019

SJSN membuat APBN jebol.



Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang sudah berjalan selama 14 tahun dinilai tidak efektif. Ada dua penyebabnya, yakni adanya dinamika yang membutuhkan adanya penyesuaian dan adanya beberapa kelemahan dalam UU SJSN dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). "Beberapa Pasal UU SJSN dan UU BPJS dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 oleh Mahkamah Konstitusi," kata Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Sigit Priohutomo di sela Workshop '14 Tahun Implementasi SJSN, Dinamika Implementasi Program Jaminan Bidang Ketenagakerjaan dan Urgensi Penguatan Melalui Revisi', di Jakarta, Selasa (31/7/2018). Menurut Sigit, antusiasme masyarakat mengakses layanan cenderung meningkat. Sebagai contoh total dana yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan pada 2016 mencapai Rp79 triliun dan pada 2017 meningkat menjadi Rp96,7 triliun.

***
Waktu draft UU SJSN di susun oleh pemerintah, teman saya anggota DPD memberikan draft itu kepada saya. Dia minta tolong agar saya memberikan masukan terhadap RUU SJSN itu. Saya bukan pakar hukum. “ Saya hanya ingin masukan dari kamu dari sisi financial dan bisnis “ katanya. Waktu itu saya dapat draft berserta kajian akademis dari RUU SJSN itu. Pada waktu penerbangan dari Jakarta Hong Kong ,saya sempatkan membaca semua draft itu dengan teliti. Juga kajian akademisnya. Saya terperangah. Mengapa ? saya melihat draft ini sepertinya di susun bukan untuk sebuah sistem yang berkelanjutan. Tetapi sebuah sistem yang lahir dari konspirasi antara pengusaha industri Pharmasi dan Pemerintah termasuk elite politik. Saya tergerak untuk segera menulis tanggapan saya dapat laporang singkat.

Saya mengatakan bahwa ada tiga hal yang tidak dipersiakan dengan baik dari adanya UU SJSN ini. Yaitu pertama, perbaikan sistem kesehatan nasional. Seharusnya sebelum RUU SJSN ini dibuat harus ada dulu RUU Sistem kesehatan nasional. Agar apa? pemerintah harus membuat infrastruktur kesehatan secara terpadu yang sesuai dengan standar kesehatan international yang ditetapkan oleh WHO. Revitalisasi rumah sakit harus dilakukan secara menyeluruh. Peningkatan mutu dan kesejahteraan dokter dan paramedis harus ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan optimal. Lingkungan yang sehat harus dibangun khususnya di daerah kumuh. Sosialisasi hidup sehat harus menjadi agenda nasional seperti presiden Park di Korea yang mengkampanyekan sungai bersih. Artinya bukan berarti ada BPJS orang silahkan sakit. SJSN Itu jaminan hakiki agar orang sehat.

Kedua, harus ada UU Kependudukan dengan sistem egoverment yang terpusat lewat E-KTP. Mengapa ? agar data kependudukan terjamin valid dan orang miskin yang dijamin oleh SJSN bisa tepat sasaran. Kalau ini tidak ada maka Data peserta yang dicover subsidi akan menjadi sumber korupsi yang sistematis. Ketiga, harus ada aturan industrialisasi pharmasi dalam negeri dengan melarang produk impor masuk secara langsung. Mengapa? agar harga obat terjangkau dan transfarance sehingga tidak menjadi bisnis rente yang menguntungkan kartel pharmasi.

Apabila ketiga hal itu sudah dilaksanakan maka barulah di RUU SJSN disusun. Itupun dalam SJSN harus ada pasal berkaitan dengan fund provider yang menjadi sumber pendanaan subsidi bagi peserta masuk yang katagori tidak mampu. Fund provider sebagai sumber dana SJSN. Darimana sumbernya ? bisa dengan melakukan cross subsidi secara terukur. Ini tidak akan memberatkan bagi yang mampu membayar lebih. Mengapa ? karena pelayanan rumah sakit sudah bagus. Bisa juga meningkatkan cukai rokok sebagai sinking fund untuk pembiayaan subsidi bagi yang tidak mampu. Atau bisa juga memberikan sebagian keuntungan pengelolaan portfolio dana BPJS Tenaga kerja. Masih kurang? bisa juga PEMDA mengeluarkan PERDA tarif tambahan untuk pelanggan listrik bagi indusri dan keluarga kaya diatas 2200 watt. Cara ini sudah diterapkan di Singapore dan China. Pemda Bali tahun 2008 pernah terapkan ini.

Mengapa harus ada fund provider? bukankah sudah ada APBN yang dananya dari pajak? Harus diingat bahwa SJSN itu bukan tanggung jawab negara sebagai fund provider. Tetapi tanggung jawan rakyat secara nasional. Karena prinsip SJSN dimanapun berada adalah dari masyarakat untuk masyarakat. Tugas negara hanya sebagai fasilitor dengan menyediakan dana lewat APBN untuk pengadaan RS, tenaga kesehatan yang bermutu, serta linkungan hidup yang sehat. Inilah yang disebut dengan demokratisasi jaminan sosial nasional. Yang mampu berbagi kepada yang tidak mampu.


Nah bagaimana mekanismenya ? BPJS beperan sebagai lembaga bisnis as usual. Bisnis insurance provider. Mereka menerapkan tarif sesuai dengan prinsip bisnis asuransi yang ada. Semua tarif premium sama. Sesuai dengan kelasnya. Gimana dengan rakyat yang tidak mampu? mereka akan ditalangi oleh Fund provider. Siapa fund provider itu? Bisa dibentuk BUMN semacam Asset Manager. Hubungan antara Insurance provider ( BPJS) dengan fund Provider ( asset manager ) adalah Busines to business. Artinya kalau BPJS engga becus dalam pelayanan , fund provider bisa minta refund. Di singapore dan China , Fund provder SJSN ini menjadi perusahaan raksasa. Karena dana masyarakat terkumpul berlebih untuk subsidi bagi yang tidak mampu. Kelebihan itu dikembalikan lagi ke rakyat dalam bentuk bantun permodaalan UKM Keluarga pra sejahtera.

Demikian kira kira inti tulisan singkat yang saya sampaikan kepada teman anggota DPD. Beberapa bulan kemudian saya bertemu lagi di Jakarta dengannya. “ Saya sudah sampaikan kepada Pak Boediono usulan kamu itu. Pak Boed sependapat. Menurutnya kalau dipaksakan SJSN ini disyahkan, APBN akan terkuras. Sementara tujuan SJSN tidak tercapai.” Katanya. Tetapi mengapa tetap diajukan juga ke DPR? Teman saya sempat tersenyum seraya berkata “ RUU ini ada sponsornya. Ini berhubungan dengan business triliunan. Apalagi RUU ini semacam uang bonus bagi DPR dan Penguasa yang sebentar lagi akan habis masa jabatannya. Soal dampak buruk dari SJSN ini, itu resiko presiden berikutnya lah…” dan itulah yang kini dihadapi Jokowi. Saya dengar kabar ada niat pemerintah Jokowi mau revisi UU itu tetapi dihadang oleh DPR.

Terbukti kini defisit BPJS terjadi karena BPJS kejar target UU agar seluruh rakyat dapat jaminan kesehatan. Pesertanya lebih banyak yang PBI atau tidak mampu. Engga ada urusaan darimana duitnya. Engga ada urusan kalau datanya amburadul. Siapa yang korban? ya APBN, dan itu pasti ada yang di korupsi. Saran saya kepada pemerintah berikutnya adalah UU SJSN itu harus revisi dengan menempatkan pasal fund provider. Sehingga ada pemisahan yang jelas mana tanggung jawab negara dan mana tanggung jawab masyarakat. RUU kesehatan nasional harus segera disusun agar semua aspek kesehatan nasional dari sarana RS sampai SDM tenaga kesehatan, lingkungan sehat dapat ditata menjadi tanggung jawab APBN.

Sunday, January 13, 2019

berhutang untuk berkembang



Dahulu kala harta adalah sebidang tanah dan kumpulan ternak. Dari harta itu orang hidup dan menghidupi dirinya untuk berkembang dari generasi kegenerasi. Namun belakangan karena manusia semakin bertambah dan kebutuhan semakin meningkat maka kompetisi terbentuk. Harta tidak lagi diartikan ujud phisiknya. Tapi harta telah berubah menjadi selembar document sebagai bukti legitimasi dari penguasa. Selembar dokumen itu berkembang menjadi derivative asset bila dilampirkan dengan seperangkat izin ini dan itu. Kemudian digabungkan dengan yang namanya project feasibility maka jadilah sebuah akses meraih utang. Bukan dijual tapi digadaikan. Uang itu berputar untuk kegiatan ekonomi dan menghasilkan laba untuk kemudian digunakan membeli harta lagi. Ini disebut dengan nilai reproduksi capital atau project derivative value.

Bila laba semakin banyak , tentu harta semakin meningkat. Kumpulan dokumen harta ini dan itu , menjadi saham ( stock ) dalam lembaran dokumen bernama “perseroan”. Akses terbuka lebar untuk meningkatkan nilai harta itu. Penguasa semakin memberikan akses kepada harta itu untuk berkembang tak ternilai melalui pasar modal. Dengan harta itu memperoleh akses legitimasi dari agent pemerintah seperti underwriting, notaris, akuntan , lembaga pemeringkat efek, maka harta menjadi lembaran kertas yang bertebaran dilantai bursa dan menjadi alat spekulasi. Hartapun semakin tidak jelas nilainya. Kadang naik , kadang jatuh. Tapi tanah dan bangunan tetap tidak pindah dari tempatnya.

Akses harta untuk terus berkembang tidak hanya dilantai bursa. Tapi juga dipasar obligasi, Dokument Saham dijual sebagian dan sebagian lagi digadaikan dalam bentuk REPO. Ada juga melalui surat uang/ obligasi. Disamping itu akses permodalan conventional lewat bank terus digali agar harta terus berlipat lewat penguasaan kegiatan ekonomi. Dari pengertian ini, maka capital seperti yang disampaikan oleh Hernado de soto dalam bukunya “The Mystery of Capital” mendapatkan pembenaran. Kapital dapat mereproduksi dirinya sendiri. Bahwa harta bukanlah ujudnya tapi apa yang tertulis. Dan lebih dalam lagi adalah harta merupakan gabungan phisiknya dan manfaat nilai tambahnya. Nilai tambah itu hanya mungkin dapat dicapai apabila dalam bentuk dokumen dan separangkat ide hebat.

Siapa yang berhak mendapatkan akses utang itu? Ya mereka yang punya persepsi bahwa akses berhutang itu bukan akses mendapatkan uang gratis tetapi tanggung jawab lebih besar untuk berbuat lebih besar. Andaikan anda menutup akses berhutang itu sama saja anda menutup diri untuk berkembang. Menutup diri untuk bermanfaat sebanyak banyak bagi orang lain. Lantas untuk apa anda hidup? untuk diri sendiri? Tuhan ingin kita hidup menjadi berkah bagi orang lain. Semakin banyak berkah kita tebar semakin besar nilainya dihadapan Tuhan.

Uraian diatas keliatan mudah namun tidak semudah yang dibayangkan. Karena membutuh proses sampai pada tahap anda qualified menjangkau semua sumber modal. Kuncinya gimana ? Kalau ingin sukses meraihnya maka hormati pemerintah agar kita dapat legitimasi mengakses sumber pembiayaan tanpa batas. Hormati orang lebih tua, karena dari orang lebih tua kita belajar arti sukes dan gagal untuk berkembang lebih baik. Hormati orang kaya, karena dari mereka kita bisa mendapatkan business network untuk mengakses permodalan tanpa batas.. Jadilah pribadi yang hebat dengan bijak kepada penguasa, orang lebih tua dan sikaya agar hidup mudah diatas banyak solusi. Karenanya jadilah manusia yang rendah hati, mudah senyum , berpikir positip dan hindari konplik yang tidak perlu.

Dan setelah mendapatkannya maka berbagilah, karena Tuhan ingin anda bersyukur tidak hanya memujiNYA tapi juga memberi kepada mereka yang gagal bersaing..Mengapa ? Agar terjadi keseimbangan dan kehidupan terus tumbuh bersinambungan...SO change your attitude then financial resource will follow you..

***
Ada anak muda yang saya temui 12 tahun lalu di Hong Kong. Usianya sekitar 30an. Anak muda ini bergerak dibidang private equity yang mengelola beberapa business portfolio. Kami bertemu di Hong Kong Financial club. Dia sengaja menyediakan table untuk makan malam dengan saya. Jam tangan chopard black seharga USD 400,000 nampak serasi dengan setelan jas warna hitamnya. Ayahnya orang Amerika dan ibunya dari Korea. Dia lahir di Guam. Bisnisnya bermarkas di New York. Dia cerita bahwa dia sedang ikut tender untuk pembangunan proyek Hotel dan Apartement super mewah di Makkah, Arab Saudi.
“ Proyek ini tanahnya milik keluarga kerajaan. Mereka tawarkan kerjasama investasi membangun proyek ini. Pasar terjamin. Karena pemerintah Saudi akan beri Visa multiple entry bagi orang asing yang membeli Apartement ini. Saya yakin banyak orang muslim yang tertarik untuk membeli apartement ini. Apalagi ada skema investasi bagi pembeli apartement dengan return menarik. Sumber income dari pengelolaan penyewaan apartement dan hotel kepada jemaah haji dan umroh. Dan yang lebih menarik ….” Katanya
“ Apa ?
“ Saya punya akses ke fund manager di New York yang mengelola asset keluarga kerajaan Arab. Mereka bisa memberikan credit enhancement melalui penerbitan payment guarantee bagi EPC yang membangun proyek itu. 
“ Jadi skemanya turn key proyek.
“ Ya.
“ Nah, kalau ada EPC yang punya fasilitas credit di bank, tentu tidak sulit untuk membiayai proyek ini. Tetapi memang nilai proyek nya besar sekali. Diatas USD 1 miliar. “ Katanya.
“ Itukan hanya credit enhancement. Agak sulit untuk menarik pinjaman bank. Semua tahu kok, itukan ilegible collateral. “ Kata saya.
“ Saya paham. Saya punya exit yang bagus. Kita bisa terbitkan revenue bond melalui pasar terbatas setelah proyek selesai. Pembeli revenue bond itu adalah keluarga kerajaan sendiri. Saya sudah bertemu dengan beberapa fund manager mereka di London. Mereka siap menyerap revenue bond itu dengan value diatas 30% dari project cost. Dan ini cara refinancing yang menarik sekali. “
“ Mengapa begitu tingginya nilai revenue bond itu?
“ Karena market apartement dan holel itu sudah di offtake oleh Asset Manager dari Dubai yang punya akses ke jaringan travel agent umroh dan haji. Jadi proyek ini punya fixed income.
“ Wah hebat. Lantas apa yang bisa saya bantu ?
“ Gandeng EPC dari China yang mau membiayai proyek ini. Entah bagaimana anda bisa meyakinkan mereka. Yang jelas ini deal bagus.” katanya tersenyum. Kami kembali menikmati makan malam sambil mendengar suara merdu penyanyi yang diiringi oleh piano.

Proyek ada di Arab, dari keluarga kerjaan Arab. Yang mengandalkan pasar dari jemaah haji dan umroh. Arab tidak berhutang tetapi mengajak investor asing sebagai venture business. Skema pembiayaannya: Investor menarik dana melalui skema utang. Collateral dari asset milik keluarga Arab sendiri. Collateral tambahan melalui exit plan penerbitan surat utang yang berbasis revenue atau bagi hasil. Pre-financing proyek di lakukan oleh EPC dari China yang menarik utang dari bank di China. Setelah proyek selesai, utang lunas. Laba berbagi.

Proyek itu dibangun memang tidak dari utang pemilik proyek tetapi melalui kerjasama dengan investor. Sementara investor hanya punya skema dan ide berhutang. Arab tidak salah karena bagi mereka utang swasta itu haram atau riba. Ini soal persepsi. Sementara persepsi investor, utang bukan riba tetapi seni berbagi. Nah siapa yang smart?..

***
Ada teman pengusaha yang sebelum krisis moneter usahanya berkembang pesat. Hartanya terus tumbuh seiring bertambahnya perusahaan dibawah kendalinya. Namun ketika krisis moneter 1998, hanya hitungan bulan, usahanya bangkrut dan assetnya masuk program BPPN. Bukankah dia kaya dan perusahaannya banyak? Mengapa sampai bangkrut begitu cepat ? Apakah benar karena kurs rupiah yang terjun bebas? Kalau saya telaah keadaan ketika krismon, baik dunia usaha maupun pemerintah sudah bangkrut jauh sebelum krismon. Krismon hanya terompet kematian saja. Mengapa ? Secara intelektual dan spiritual memang fondasi rapuh. Apa penyebab sesungguhnya ?

Ketika penerimaan tinggi, pertumbuhan usaha juga tinggi namun hutang terus di gali. Peningkatan utang memang lebih rendah dibandingkan peningkatan harta karena adanya laba. Tapi harta itu sebagian besar berupa harta tidak produktif. Para pengusaha ketika itu berlomba lomba menumpuk harta pribadi didalam maupun luar negeri. Gaya hidup mereka benar benar seperti orang miskin mendadak kaya. Tak ubahnya dengan boss First Travel. Dan ketika penerimaan jatuh, kemampuan berhutang juga turun maka sudah dipastikan perusahaan tumbang begitu cepat. Mengapa harta yang ada tidak bisa menyelamatkan? Harta itu sebagian besar berupa tanah, bangun dan kendaraan juga segala aksesoris hidup mewah. Itu harta ketika dibeli adalah asset tidur dan ketika hendak di jual juga tidak mudah. Ada harta , ada harga tapi pasar tidak tersedia meresponse cepat.

Begitu juga halnya dengan negara. Peningkatan penerimaan dari SDA dengan diikuti menigkatnya GNP sangat luar biasa. Hutangpun terus digali. Tapi peningkatan GNP itu tidak punya value dan sebagian besar kntribusi PMA akibat penguasan SDA. Dan ketika krismon terjadi, seluruh asset yang ada nilainya hanya 30 %. Seketika GNP drop maka perbandingan GNP terhadap hutang mencapai lebih 100%. Pertumbuhan ekonomi langsung drop. Stuck terjadi dimana mana. Indonesia butuh 6 tahun untuk keluar dari krisis. 

Di Era SBY, ternyata sistem Orba kembali diterapkan. Penerimaan negara dari SDA akibat harga komoditas utama naik dipasar dunia , bukannya di pakai untuk peningkatan asset produktif ( pembangunan trans Papua, Kalimantan, Sumatera dll ) malah sebagian besar masuk asset non produtif yang berongkos mahal dan subsidi Rp. 3000 triliun dibakar untuk BMM selama 10 tahun berkuasa. Memang hutang tumbuh relatif kecil persentasenya dibandingkan peningkatan GNP, tapi itu GNP tidak punya value. Bernarlah dampaknya, tahun 2011 sampai 2013 terjadi neraca perdagangan mengarah ke defisit dan hutang mulai di kerek untuk menutupi defisit. Menjalng akhir masa jabatan SBY , Current acount kita sudah merah mendekati insolvent.

Untunglah Jokowi terpilih sebagai presiden. Dia tanpa banyak menanti dalam wacana, langsung melakukan restruktur APBN dengan lebih besar pos belanja fiskal daripada konsumsi dan subsidi. Ketika itu seluruh elite politik tidak berani karena takut resiko politik akan menimbulkan Chaos. Tapi Jokowi sebagai risktaker tetap dengan agendanya. Go Go ! Penghematan atas belanja pegawai dilakukan di ratusan pos anggaran. Hasilnya bisa dilihat pertumbuhan hutang meningkat namun Pemupukan Modal Tetap Bruto negara juga meningkat. Makanya pertumbuhan ekonomi ditengah krisis global tetap terjadi, dan hutang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa ada goncangan makro ekonomi. Terbukti rasio Debt to GNP tetap dibawah 30%. Artinya hutang yang ada semua masuk ke sektor produksi dan investasi dan ini menambah value GNP. Tidak ada hutang untuk subsidi dan asset tak produktif. Dan ini dimasa depan akan jadi mesin pertumbuhan yang efektif untuk membuat indonesia semakin mandiri..

Jadi indonesia tidak krisis utang tapi justru utang meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemupukan modal brurto dalam bentuk infrastruktur ekonomi. Model ini menjadikan indonesia punya unlimited financial resource di money market..engga perlu lagi ngemis dengan negara lain atau ngemis dengan Worldbank untuk berhutang, Cara Jokowi sederhana, dia tidak memaknai uang dan utang seperti tukang jual sprei online tapi uang seperti cara berpikir warren buffet : Create value and then financial resource will follow you.


Memahami Politik kejatuhan Gus Dur

Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sida...