Wednesday, July 15, 2020

Perak antimikroba dan COVID-19?


Dahulu kala perak dijadikan mata uang untuk alat tukar.  Bahkan bangsa Fenisia, Makedonia, dan Persia memperkenalkan alat makan dari perak, seperti piring, cangkir minum, sendok, untuk kaum bangsawan. Waktu masih kecil saya punya penyakit kudis atau korengan. Nenek saya gunakan serbuk perak ditempel di tempat kudis. Keesokannya kering dan sembuh. Memang para orang tua dulu percaya khasiat perak sebagai antimikroba. Pada dinasti Han di China pada 1500 SM, perak sudah digunakan sebagai alat terapi kesehatan. Pada era modern perak juga digunakan sebagai terapi kesehatan dalam bentuk perak nitrat, perak sulfadiazin, dan koloid perak. Namun sejak ditemukan antibiotik awal abad 20, perak tidak lagi populer untuk antimikroba. Belakangan antibiotik tidak lagi efektif memerangi mikroba, bahkan banyak bakteri yang sudah kebal dengan antibiotik. Makanya kembali orang menengok cara kuno melawan  mikroba yang berbahaya. Studi kembali dikembangkan untuk memanfaatkan koloid perak sebagai pengganti antibiotik. Perak sedang diuji di Lab untuk mengetahui secara ilmiah sebagai terapi antibakteri dan sifat-sifat pembunuh virus. Bahkan riset melalui nanoteknologi  sudah diterapkan untuk memastikan perak layak sebagai alat terapi kesehatan khususnya memerangi pandemi akibat bakteri dan virus.

Perak dikenal aktif secara biologis ketika didispersikan ke dalam keadaan ion monoatomik (Ag +) terutama ketika larut dalam lingkungan berair. Ini adalah bentuk yang sama yang muncul dalam senyawa perak ionik seperti perak nitrat dan perak sulfadiazin, yang telah sering digunakan untuk mengobati luka. Bentuk perak lainnya adalah bentuk nanokristalin asli (Ag0). Bentuk logam (Ag0) dan ionik juga dapat muncul secara longgar terkait dengan unsur-unsur lain seperti oksigen atau logam lain dan dapat membentuk ikatan kovalen atau kompleks koordinasi.  Sampai saat ini, ada tiga mekanisme yang diketahui dimana perak bekerja pada mikroba. Pertama, kation perak dapat membentuk pori-pori dan menusuk dinding sel bakteri dengan bereaksi pada komponen peptidoglikan. Kedua, ion perak dapat memasuki sel bakteri, baik yang menghambat respirasi seluler dan mengganggu jalur metabolisme sehingga menghasilkan spesies oksigen reaktif. Ketiga, di dalam sel, perak juga dapat mengganggu DNA dan siklus replikasinya 

Pada tahun 1960, perak pertama kali digunakan untuk mengobati luka bakar dalam bentuk larutan perak nitrat 0,5% dan krim perak sulfadiazine. Namun, ini tidak praktis karena balutan membutuhkan rehidrasi setiap beberapa jam. Untuk mengatasi keterbatasan ini, gel berbasis nanopartikel perak dan gel berbasis garam perak telah dikembangkan, dengan semua pendekatan yang masih dianggap baru. Alat bedah invasif seperti jarum suntik dilapisi dengan nanopartikel perak. Perangkat medis yang secara langsung dimasukkan ke dalam tubuh manusia yang mengandung perak termasuk kateter pembuluh darah, implan tulang, dan kurung saluran empedu.  Bahkan Interior rumah sakit khususnya pada ruang ICU juga dilapisi oleh perak sebagai antimikroba.  

Pembalut luka berbasis perak telah meningkat penggunannya. Karena lebih manjur dibandingkan dengan pembalut standar. Pembalut luka yang baru-baru ini dikomersilkan memungkinkan penggunaan pembalut bisa digunakan selama 7 hari tanpa harus diganti setiap hari. Hal ini dimungkinkan melalui desainnya, yang secara perlahan melepaskan ion perak pada saat kontak dengan eksudat luka. Paddingnya yang memiliki daya serap tinggi juga dilapisi dengan lapisan silikon yang bertujuan untuk mengurangi rasa sakit selama pelepasan dan pengaplikasian dressing. Penggunaan perak untuk pembalut luka sangat bermanfaat mengurangi bekas parut. Pembalut luka berbasis perak tersedia dengan nama merek dengan komposisi yang berbeda, seperti Mepilex® Ag, Acticoat ™, Aquacel®, Flaminal®, Allevyn® Ag, dan Biatain® Ag, SILVERCEL ™. Produk-produk lain yang mengandung komponen perak, yang tidak secara khusus dikembangkan untuk penyembuhan luka, telah digunakan untuk pengobatan infeksi bakteri.

Perak juga telah diaplikasikan pada perawatan gigi. Perak untuk penambalan amalgam gigi sudah digunakan selama lebih dari seratus tahun. Namun, sifat antimikroba tidak dipatenkan. Perak digunakan untuk pencegahan infeksi selama dan setelah operasi gigi. Gigitiruan juga terbuat dari perak dan benda restorasi tubuh lainnya, memiliki nanopartikel perak sebagai zat tambahan, itu dapat mengurangi infeksi bakteri, terutama selama beberapa bulan pertama pemasangan

Perak secara luas dimasukkan ke dalam pelapis permukaan barang-barang listrik seperti bathtub otomatis, mesin cuci, AC, kulkas yang  merupakan produk 'bebas bakteri’. Alat rumah tangga seperti keyboard, alat bantu keselamatan mandi, dan pegangan keselamatan kamar mandi, wadah untuk penyimpanan daging / air / anggur / susu. Itu semua sudah menggunakan penerapan nanopartikel perak agar terhindar dari kontaminasi terhadap bakteri dan aman untuk kesehatan. Tentu penggunaan perak untuk alat sekali pakai seperti sarung tangan, tisu desinfektan, dan deterjen pembersih dapat memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. Pelepasan sejumlah besar produk perak ke lingkungan dapat menyebabkan gangguan ekosistem mikrobiologis dan berpotensi menyebabkan resistensi bakteri terhadap perak. 

Perak juga telah digunakan untuk berbagai produk pertanian dan industri. Dalam industri, pemurnian air skala besar sangat efisien dengan menggunakan koloid perak untuk pemurnian. Karena hanya diperlukan perak dalam jumlah kecil namun dapat memurnikan air dalam jumlah besar, meskipun potensi risiko lingkungan perlu dipertimbangkan. Untuk penggunaan pertanian, perak ada pada tali nilon yang digunakan untuk mengikat tanaman, menutupinya dengan jaring, dan untuk berbagai aplikasi lainnya. Tali-tali ini biasanya membusuk setelah beberapa waktu karena pembentukan biofilm bakteri, sehingga perak mencegah dekomposisi ini.  Dengan menggunakan Ag (I) dan Ag (II), dapat mengobati infeksi tanaman. Mesin agro industri juga dilapisi dengan perak agar terhindar dari bakteri dan steril. Sistem penyaringan air biasanya mengandung nanopartikel perak amobil untuk tujuan pemurnian air. 

Perak memiliki aplikasi yang luas dan terus berkembang dalam bidang kedokteran, perawatan kesehatan, dan aktivitas kehidupan sehari-hari lainnya. Analisis pertumbuhan paten yang menggambarkan aplikasi perak antimikroba terus meningkat. Di penghujung tahun 2019, Penggunaan perak dalam nanoteknologi sedang diuji untuk coronavirus, dengan hasil yang segera keluar.
 *** sumber 

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...