Wednesday, December 18, 2019

Kita terlalu lama memunggungi laut

Kita itu katanya negeri bahari tetapi berpuluh tahun kita memunggungi laut. Mungkin anda tahu rumput laut. Tapi tahukah anda, apa itu karegenan? karegenan adalah turunan dari alga yang dihasilkan dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Ini untuk bahan baku dan bahan penolong untuk industri makanan, manufaktur keramik, farmasi ( kapsul ), dan pupuk. Tahukah anda? sekilo karegenan powder harganya USD 14 atau sekitar Rp. 180.000 atau satu ton harganya Rp. 180 juta atau sekitar USD 14.000. Setiap tahun harganya terus naik.

Tapi pabrik karegenan hanya ada tiga di Indonesia. Dua status PMA dan satu pemilik Lokal. Bandingkan China yang punya 600 pabrik karegenan, dan tidak termasuk ratusan industri turunannya. Tapi tahukah anda? bahwa Industri pharmasi dan makanan sampai sekarang impor karegenan sekitar 1200 ton setahun. Padahal rumput laut banyak sekali di Indonesia. Hampir semua wilayah pesisir pantai menghasilkan rumput laut, terutama sulawesi dan NTB.

Bagaimana pasar karegenan ? pasar ekspor sangat besar karena karegenan di perlukan sebagai bahan pembentuk gel, pengemulsi, bahan pengental, penstabil, dan bahan pengikat. Pangsa pasar carragenan mencapai 15.000 - 20 000 ton per tahun. Pasar terbesar di Eropa (35 %), Asia Pasiflk (25 %), Amerika Utara (25%), dan Amerika Selatan (15 %). Andai, pabrik mini karegenan dengan kepasitas 1000 ton/tahun atau 6000 ton rumput laut maka penjualan mencapai USD 140 juta atau Rp. 1,8 triliun. Untuk bahan baku sebanyak itu tidak ada artinya dibandingkan dengan kepasitas produksi rumput laut indonesia.

Apa yang saya sampaikan diatas, hanya contoh kecil dari komoditas hasil laut. Pada 2024 mendatang, Food Agriculture Organization (FAO) menyebut potensi pasar produk perikanan global mencapai 240 juta ton per tahun dan Indonesia berpotensi menguasai 25 persen dari potensi global. Dengan asumsi produksi 60 juta ton per tahun, Indonesia berpotensi mendapatkan USD240 miliar per tahun dan membuka 30 juta lapangan pekerjaan dari sektor perikanan. Akan tetapi, potensi tersebut seakan masih jauh panggang dari api.

Walau wilayah laut kita yang sangat luas, sepertinya belum bisa secara maksimal dimanfaatkan. Buktinya, hasil laut Indonesia baru memberikan kontribusi sebesar 30% terhadap Gross Domestic Product (GDP). Angka tersebut masih dikatagorikan rendah jika dibandingkan negara lain yang memiliki laut lebih kecil dibandingkan Indonesia seperti, Jepang, Korea Selatan maupun Vietnam yang memiliki kontribuasi sektor kelautan antara 48% sd 57% terhadap GDP. Bahkan ekspor ikan kita kalah jauh dengan Vietnam. Apalagi kalau dibandingkan dengan Jepang, Korea dan China. Thailand. Benar benar kita tertinggal. Kalau kita focus kemari, kita sudah lama makmur. Nilai laut kita mengalahkan SDA yang ada di darat. Sampai berapa lama lagi kita harus terus memunggungi laut? dan kufur nikmat?

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...