Saturday, September 21, 2019

Krisis Ekonomi ?

Tadi malam saya ketemu dengan relasi bisnis dari Luar negeri. Menurut teman saya bahwa saat sekarang semakin rendahnya kemampuan leverage atas surat utang yang dipegang investor. Karena hampir semua surat utang sekarang dalam keadaaan beresiko. Itu sebagai dampak semakin melemahnya perekenomian dunia. Pelemahan itu awalnya karena jatuhya wallstreet di tahun 2008. Namun lima tahun proses recovery ekonomi, atau tahun 2013 ekonomi dunia bukan semakin membaik tetapi semakin buruk.
Bila periode tahun 2008- 2013 ekonomi dunia masih menderita karena krisis moneter dan financial namun sekarang sudah masuk ke krisis spiral. Apa itu spiral ? adalah krisis yang berkaitan dengan struktur ekonomi ( Structural ). Ini berhubungan dengan produksi. Produktifitas barang dan jasa. Kalau sudah menyangkut struktur , itu sangat berbahaya. Ancamannya adalah semakin rendahnya kemampuan produksi dan daya serap ekonomi untuk mengatasi pengangguran dan ketidak seimbangan ekonomi. Tidak ada sistem politik dan ekonomi yang bisa tahan menghadapi badai krisis spiral ini.
Benarkah?
Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan ( OECD) pada hari Kamis menarin menurunkan penilaian ekonomi global ke tingkat pertumbuhan terburuk sejak krisis keuangan. Dalam prospek ekonomi interimnya, OECD memangkas ramalan PDB global menjadi 2,9% tahun ini, penurunan peringkat 0,3 poin persentase, dan ramalan pertumbuhan untuk tahun 2020 dikurangi 0,4 poin persentase menjadi 3%. OECD memangkas ramalan tentang pertumbuhan A.S. sebesar 0,4 poin pada 2019 menjadi 2,4% dan 0,3 poin pada 2020 menjadi 2%. Perkiraan PDB Tiongkok dipotong sepersepuluh pada tahun 2019 menjadi 6,1% dan 0,3 poin pada tahun 2020 menjadi 5,7%.
OECD mengatakan dampak 2019 perang dagang AS-Cina akan mengurangi PDB Tiongkok dengan persentase poin penuh, PDB AS sebesar 0,7 poin, dan PDB dunia 0,6 poin. Brexit tanpa kesepakatan dapat memangkas PDB AS hampir 3 poin persentase pada 2022, dan PDB zona euro sebesar 0,6 poin.
Solusinya adalah pemerintah harus menggunakan kekuatan APBN dalam melakukan ekspansi lewat pembangunan infrastruktur ekonomi. Namun inipun tidak mudah. Defisit akan melebar. Ruang fiskal akan melebar yang memaksa negara harus berhutang lebih besar. Sementara untuk berhutang, investor sudah suffering lebih dulu. Mengapa ? tingkat Yield surat utang sudah sangat rendah. Bahkan untuk bond 10 tahun, yield sudah negatif. Financial resource berhutang sudah semakin kering. Investor akan berkiblat kepada emas dan surat utang dengan rating AAA dan no risk.
Walau Nomura Holdings Inc dalam analisisnya menunjukkan ada delapan negara berkembang yang dipandang memiliki risiko paling kecil terpapar krisis. Negara-negara tersebut antara lain Indonesia, Brasil, Bulgaria, Kazakhstan, Peru, Filipina, Rusia, dan Thailand. Namun Jokowi mengingatkan bahwa 1 atau 1,5 tahu lagi akan terjadi krisis, itu ada benarnya. Tujuannya agar kita bersiap siap menghadapinya. Kalau kita tidak siap maka ini akan lebih buruk dari tahun 1998. Kepada elite politik, cobalah focus kerja. Jaga stabilitas politik agar proses recovery ekonomi dapat terlaksana dengan tanpa hambatan serius.
Udahan bikin gaduh. Kalau krisis terjadi, Anda yang sudah kaya bisa langsung angkat koper tiinggal di Ausi atau Singapore. Tapi rakyat kecil akan jadi korban. Belum lagi dampak krisis ekonomi akan dimanfaatkan oleh penmpang gelap menciptakan chaos politik, konplik horisontal karena SARA tidak bisa dihindari. Kita akan jadi negara gagal seperti Libia.

***
Resesi Ekonomi
( Ekonomi).

Tahun ini krisis ekonomi sudah melanda 5 negara. Yaitu, Amerika Serikat, Italia, Jerman, Singapore dan Hong Kong. Tanda tanya adalah jatuhnya pertumbuhan ekonomi dan menurunnya GNP. Tahun depan, krisis itu akan berlanjut menjadi resesi. Nah Indonesia dan negara emerging market lainnya akan merasakan dampak resesi itu tahun 2020. Mengapa? likuiditas pasar uang akan mengering. Gejala ini sudah nampak dari tahun ini. Tingkat imbal hasil ( yield ) surat utang negara semakin turun. Dampaknya investor akan berusaha mencari bunker yang aman dari kerugian gigantik atas uang yang mereka  tanam. Likuiditas kering inilah menjaji momok menakutkan negara emerging market yang masih bergantung hutang untuk memicu pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana dengan Indonesia ? Realisasi investasi untuk PMA atau FDI (Foreign Direct Investment) pada triwulan II-2018 lalu mencapai US$ 7,14 miliar sementara pada triwulan II-2019 hanya US$ 6,99 miliar. Terjadi penurunan 2% secara year on year. Penurunan 2% itu sangat significant. Trend penurunan akan terus terjadi di tahun tahun depan. Neraca Perdagangan Indonesia sepanjang 6 bulan (Januari-Juni 2019) mencatatkan defisit sebesar US$1,93 miliar. Ini bagian dari rangkaian jatuhnya harga komoditas utama di pasar akibat krisis global, seperti batu bara, kelapa sawit, minyak kernel, seng dan tembaga. Defisit ini trend nya akan terus meningkat, yang tentu akan mengancam cadangan devisa negara.

Bagaimana solusi indonesia mengatasi krisis yang berujung resesi ini? Pertama , perkuat pasar domestik. Caranya? Ekspansi pemerintah diperbesar untuk mendorong daya beli masyarakat. Seperti meningkatkan upah buruh. Meningkatkan anggara dana desa. Menurunkan suku bunga kredit konsumsi. Memperbesar subsdi sektor produksi untuk UKM. Kedua, pemerintah harus menerapkan kebijakan stimulus melalui pembangunan infrastruktur agar rakyat dapat kerjaan. Ketiga, perluas pasar uang domestik dengan melonggarkan aturan pengelolaan dana pensiun dan asuransi. OJK harus mengadvokasi masyarakat agar produk pasar uang semakin beragam dan pasar uang domestik jadi likuid.

Apakah mungkin pasar domestik memang kuat ? Untuk periode semester I-2019, realisasi PMDN tercatat senilai Rp 182,8 triliun, naik 16,4% dari capaian semester I-2018. Ini menandakan bahwa pasar domestik masih sangat kuat. Kalau engga, mana mungkin investor mau tanan uang begitu besar. Sumber daya keuangan kita juga sangat besar. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah dana kelolaan industri reksa dana naik menjadi Rp 512,9 triliun dengan unit penyertaan 381,68 miliar unit. Itu baru reksadana. Belum lagi pasar modal, ORI dan lain lain, atau M2 mencapai Rp 5.645,8 triliun ( data januari 2019).

Tentu dampak dari kebijakan tersebut diatas akan mendorong terjadinya inflasi. Tidak ada masalah. Karena semua mata uang yang menjadi patokan dunia seperti Euro da USD , juga mengalami penurunan nilai.  Jadi tidak akan menimbulkan dampak significant terhadap rupiah. Apalagi Beijing tahun depan akan melakukan devaluasi Yuan. Mata uang Yuan juga akan melemah. Kalau semua turun, tentu penurunan bukan mimpi buruk. Yang penting, kebijakan tersebut harus benar benar terkoodinir dan tersupervisi dengan baik agar tidak dikorupsi. 

Mengapa ? program stimulus itu sama saja dengan create uang dari langit. Sifatnya inflatoir. Sama dengan tahun 1998 dalam program recovery perbankan lewat instrument Obligasi Rekap. Kalau negara berhutang kepada asing, tentu jelas ukurannya. Tetapi dengan stimulus, itu sama saja dengan cetak uang. Kalau penggunaannya tidak tepat sasaran maka dampaknya lebih buruk dari terburuk. Rakyat harus membayar langsung lewat krisis struktural yang dalam. Rupiah akan jadi sampah! 

Saya yakin dengan pribadi Jokowi, kebijakan ekonomi, akan melahirkan solusi bagi bangsa dan negara keluar dari jurang resesi dunia.

No comments:

Essay ekonomi Babo

Dalam teori ekonomi ada prinsip sederhana. Bahwa pertumbuhan ekonomi itu terjadi karena investasi. Dari investasi, mesin ekonomi bergerak m...