Thursday, March 23, 2023

Ekonomi besar tapi lamban

 



Produk domestik bruto atau dalam bahasa Inggris gross domestic product adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. Tentu barang dan jasa itu diproduksi karena adanya investasi. Nah ukuran PDB kita terbesar di ASEAN. Nomor 16 dunia. Bahkan TOtal Aset BUMN kita mengalahkan aset BUMN Singapore atau  Malaysia. Begitu sizing ekonomi kita. 


Kalau anda awam secara ekonomi, memang melihat angka PDB itu bisa langsung berbangga hati.” Wah negara gua keren. Masuk G20. Siapa yang engga bangga.”  Tapi kalau anda paham sedikit aja soal ekonomi, justru besarnya PDB itu membuat anda malu. Malu, betapa kita sangat terbelakang mengelola ekonomi dan betapa bodohhnya kita sebagai bangsa. Mengapa ?


Di abad modern ini, aset itu tidak boleh nganggur.  Apalagi tidur. Nah di Indonesia ini orang lebih suka numpuk aset daripada mengembangkan value nya. Misal punya uang Rp. 1 miliar. Dia beli rumah dan tanah. Setiap bulan dia bayar listrik, air, dan pajak. Itu ongkos semua. Karena aset itu tidak dileverage. Manfaatnya hany ilusi saja.


Di luar negeri di negara modern seperti katakanlah Singapore. Mereka tidak perlu rumah besar dan tanah luas. Mereka cukup tinggal di apartement. Tapi asset mereka terus berkembang, walau mereka tidur sekalipun. Mengapa? karena aset mereka berupa surat berharga pasar uang dan modal. Dari akumulasi pasar uang dan modal itu, melahirkan likuiditas untuk menggerakan sektor produksi. Bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Mari kita lihat data 2021


Dengan mindset seperti negara singapore itu, jangan kaget bila Rasio kredit bank terhadap PDB singapore sebesar 136%. Artinya kalau PDB Singapore USD 397 miliar, maka likuiditas kredit bank mencapai USD540 miliar. Bandingkan dengan Indonesia, rasio kredit Indonesia hanya 35,47 persen dari PDB. Artinya kalau PDB kita USD 1,186 triliun, maka kredit bank hanya USD 415 miliar.  Jadi, walau sumber daya ( PDB ) kita besar, tapi energinya kalah jauh dibandingkan Singapore.


Mengapa ? Karena walau jumlah nasabah bank di Indonesia lebih besar dari Singapore. Namun dana nasabah yang nongkrong di bank itu kecil. Rasio dana pihak ketiga ( DPK) bank di Indonesia hanya 38 persen dari PDB. Apa artinya?, 68% PDB memang berupa aset nganggur yang tidak produktif, bahkan buang ongkos. Sedangkan Singapura sebesar 135 persen dari PDB. Bahkan rasio aset bank  di Indonesia sebesar 54,08 persen dari PDB. Itu artinya pejabat bank kita engga kerja, tapi ngerjain. Bandingkan dengan Singapura sebesar  272 persen. 


Oh  itu bukan hanya terhadap singapore. Dengan Thailan saja kita kalah. Rasio kredit terhadap PDB Thailand sebesar 118 %. dan Rasio DPK terhadap PDB , Thailand 121%. Jadi dalam hal ekonomi kita udah jauh banget ketinggal dari Singapore, thailand. Apalagi negara maju seperti Korea, jepang, Amerika, dan Eropa. Kita kelihatan hebat karena bacot pemerintah doang dan rakyatnya kebanyakan orang bigot. Apa solusinya? Law enforcement dan good governance.


No comments:

Pendidikan dan Kapitalisme

  Prinsip kapitalis adalah kebebasan pasar.   Tetapi kalau anda baca buku The Theory of Moral Sentiments, Adam Smith, kebebasan pasar itu bu...