Friday, August 1, 2008

Rizal Malarangeng

Peter J. Coleman General Manager ExxonMobil Oil Indonesia merasa lelah dengan perundingan alot soal hak pengelolaan Cepu. Widya Permana , Dirut Pertamina tetap tidak bergeming untuk menuntut hak Pertamina sebagai pengelola. Namun, dia tetap berkeyakinan pahwa putaran perundingan akan memuaskan petinggi perusahaannya di Texas AS. Karena dia punya teman teman di jajaran Kabinet dibidang perekomian yang tahu betul visi bossnya tentang natural resource di Indonesia. Benarlah, kebuntuan itu berakhir sudah. Widyia Permana diberhentikan oleh Pemerintah dan digantikan oleh Ari Sumarno. Hanya dua hari setelah pergantian itu, Ari menyetujui semua draft contract yang diajukan oleh EXXON. Entah kebetulan atau tidak, yang pasti contract ini ditanda tangani bertepatan kedatangan Condoleezza, Menlu AS. Seminggu kemudian Rizal Malarangeng menulis di harian kota “ The mission accomplished “. Maklum saja dialah ketua team negosiator yang ditunjuk pemerintah menyelesaikan contract Cepu ini. Itulah gambaran di bulan maret 2006.

Dua bulan setelah team negasiator Cepu berhasil menyerahkan bulat bulat konsesi minya kepada EXXON, kita dikejutkan oleh peristiwa heroic dari Bolivia. Tanggal 1 Mei 2006 tentara Bolivia menduduki 56 ladang gas dan minyak serta instalasi penyulingan di sekluruh negeri. Dekrit Presiden Nomor 28701 tentang nasionalisasi industri migas diterbitkan. President terpilih Morales tampil meyakinkan untuk membuktikan bahwa hak rakyat atas sumber daya alam haruslah berpihak kepada rakyat bukan capitalism. Rakyat mengatakan kepada Morales “ The mission accomplished “ Dua peristiwa ditahun yang sama, telah terjadi , yang satu The mission accomplished “ sebagai agent asing dan satunya “the mission accomplished “ sebagai agent rakyat jelata.

Itulah sekilas yang saya tahu tentang Rizal Malarangeng. Orang muda yang cerdas, berpendidikan luar negeri. Bertahun tahun duduk sebagai staf peneliti CSIS , yang juga sebagai team suksesnya SBY.Memang dia tidak sepopuler kakaknya Andi Malarangeng. Tapi kepiawaiannya dalam menyampaikan gagasan tentang liberalisasi ekonomi , social , budaya di setiap forum seminar dan tulisan di media massa, sudah cukup menentukan bahwa dia punya class tersendiri. Tak sulit untuk melihat sosok seorang Rizal Malarangeng. Karena dia memang type orang yang terbuka. Gagasannya tentang globalisasi, liberalisasi pasar, investasi, disampaikan dengan argument akademik. Maka diapun menjadi petarung sejati terhadap paham nasionalisme sosialis seperti
Kwik , dan lain lainnya. Juga , diapun berhadapan dengan kelompok Islam ( MUI) dengan menjadi pendukung Jaringan Islam Liberal Singkatnya, dia sosok yang berani dengan sikapnya. Juga berani tampil kepada public untuk memilihnya sebagai president.

Bangsa ini harus bangga dengan hadirnya orang muda yang cerdas dan berwawasan international ,serta punya kepedulian tentang nasip bangsa ini kedepan. Namun kita juga berharap mereka tidak lari dari geopolitisnya. Namun apa yang dapat dikatakan?. Bangsa ini gagal menciptakan nation character. Seperti halnya sikap hidup Rizal tidaklah datang dengan sendirinya. Dia hadir sebagai satu process dari system pencerahan yang dilakukan oleh kelompok terkuat diplanet bumi ini. Process yang terjadi melalui buku bacaan diperpustakaan , lingkungan pergaulan, kampus , seminar dan lainnya adalah system ,yang akhirnya menjadikannya sebagai agent of capitalism. Yang seperti Rizal ini bukan hanya dia seorang tapi hampir sebagian elite politik negeri ini telah masuk dalam lingkaran agent of capitalism. Walaupun mereka selalu berkelit dengan berbagai alasan—tidak seperti rizal yang berani terus terang—tentang capitalism namun buktinya hampir sebagian besar UU yag dihasilkan oleh rezim reformasi memang sarat dengan pesan pesan kepentingan capitalism.

Bagaimanapun sikap yang percaya dengan asing dan capitalism tidak lebih adalah sikap imperior complex anak bangasa sebagai warisan kolonialisme asing. Walau mereka berdasi, berjas mahal, terbiasa duduk dihotel berbintang lima, hadir ditengah seminar international, namun tetap saja bangga kalau setiap ungkapan filosofinya menggunakan "English language”. Tak banyak diharapkan dari anak muda seperti ini, karena pengekor ( follower )selalu hidup dalam ruang “lose man “ , tak lebih. Percayalah…

2 comments:

Akhyari said...

Bangsa ini nggak kekurangan orang cerdas, bangsa ini nggak kekurangan lulusan amrik. Tapi bangsa ini kekurangan manusia manusia patriotik, yang melindungi kepentingan bangsa dibanding memaksakan diri "diterima" oleh bangsa2 kapitalis. Nggak perlu dipungkiri, Russia maju karena nasionalisasi ladang2 gas dan minyak, Venezuela mampu membayar gaji PNS-nya 6 kali lipat, bolivia siap siap merangsek. Indonesia, sudah agak lama bangsa ini di"berikan" pada kapitalis, dan lihatlah jadinya/

Anonymous said...

mau dong seperti venezuela yang mampu membayar 6 kali lipat bagi PNS nya....
gimana caranya ya?
klo masih seperti ini brarti kita harus nunggu brapa taon lagi?

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...