Saturday, March 1, 2008

AS VS CHINA

Teman saya yang juga bankir di china berkata “ Sebetulnya kami lelah dan prihatin melihat begitu besarnya pengorbanan rakyat china untuk memuaskan bangsa Amerika yang boros berkonsumsi. Rakyat kami yang gemar bekerja dan menabung menikmati yield yang sangat rendah untuk memuaskan kebijakan pemerintah membeli surat hutang AS agar kurs mata uang kami tetap dan mesin produksi kami terus berputar. “ Disisi lain teman saya yang merupakan analis keuangan diperusahan AS mengatakan “ China telah merampas lapangan kerja bagi jutaan rakyat Amerika. Pemerintah AS tidak berdaya menghentikan arus modal yang terus bergerak memasuki daratan china. Hampir sebagian besar key player business di AS telah memindahkan businessnya ke China. Dan kemudian mereka akan menghasilkan produk produk berkualitas dengan memanfaatkan tenaga kerja teranpil dichina untuk memasuki pasar AS yang sangat konsumtive dan boros. “

Apa yang menjadi keprihatinan teman saya diatas adalah suatu fakta tentang kebijakan system ekonomi kapitalis yang memang mempunyai kelemahan. System kapitalis adalah mengejar laba setinggi tingginya dengan pengorbanan serendah rendahnya. Tujuan akhir ekonomi kapitalis adalah memuaskan pemilik modal dengan mengabaikan hak pekerja dan lingkungan. Kelemahan inilah yang dintisipasi oleh china ketika mereka masuk dalam ekonomi pasar, China tidak bisa menghindari kapitalis untuk mengejar produktifitas yang tinggi namun tetap didasarkan pada keterlibatan komunitas yang seluas luasnya. Makanya China mampu meningkatkan surplus perdagangannya dengan AS dengan harga barang yang murah.

Kelemahan system kapitalis ini dicermati dengan piawai oleh china agar dapat terus mereka gunakan untuk meningkatkan kemampuan berpoduksinya secara luas bagi kemakmuran rakyatnya. Dengan kelebihana devisa yang raksasa, China mengontrol ketat rakyatnya berspekulasi dalam perdagangan mata uang dan menekan bunga tabungan serendah mungkin kemudian mengarahkannya untuk menjaga kestabilan nilai tukar mata uangnya melalui membeli surat hutang AS. Disini nampak rumit bagi AS, karena china membeli begitu banyak surat utang AS dipasar, sesungguhnya china menaikkan bukan hanya mata uang AS, melainkan juga utang amerika secara keseluruhan. Dan, karena setiap perubahan dalam laba dari suatu instrument utang biasanya bergerak kearah yang berlawanan dengan setiap perubahan terhadap nilainya, pembelian china secara besar besaran terhadap obligasi pemerntah AS dan bentuk bentuk utang pemerintah dan swasta lainnya berperan untuk mendorong jatuh suku bunga AS ke bawah. Hebatnya, pembelian surat berharga AS dilakukan China melalui mekanisme pasar AS.

Melalui Private Investment Company (PIC) mereka yang ribuan jumlahnya serta jalur yang rumit , telah berhasil memanfaatkan lembaga lembaga perantara seperti Freddie Mac, Fannie Mae untuk membeli surat hutang AS. Hingga transaksi ini dapat berlangsung secara significant tanpa ada yang mengetahui secara pasti nilai , komposisi , dan perdagangan portofollionya, tetapi Wall street biasanya menganggap bahwa china juga memiliki obligasi perusahaan AS yang bermutu tinggi dalam jumlah besar, yang semakin meningkatkan kekayaan nasionalnya dengan saham saham terbaik AS- yang banyak diantaranya adalah perusahaan yang sama dengan yang meraup kekayaan di china sendiri. Demikianlah china secara tidak langsung memperoleh keuntungan dari perusahaan AS yang mencari keuntungan di china.

Total surat hutang AS yang berhasil dibeli oleh china telah mencapai hampir USD 1 triliun Dalam jangka panjang AS tidak bisa memikul beban hutang yang begitu besarnya dengan difisit perdagangan yang tinggi. Apa sebab ? karena kapitalisme dibangun dengan monetary based economy bukan real based economy. Artinya , banyak ( dominan) bermain di level moneter dibanding sector riel. Rente ekonomi diperoleh bukan melakukan kegiatan investasi produktif tetapi dalam investasi spekulatif. Bahaya potensial berikutnya yang akan di hadapi AS adalah runtuhnya sistem keuangan. Tanda-tanda ini sudah mulai nyata sebagaimana diketahui dari angka-angka tentang efek negatif monetery based economy yang berkembang saat ini.

Bukti mengenai ini sudah nampak dimana setiap tahun dividen yang dibayar kepada china terus meningkat dan bahkan lebih besar dari yang diterima oleh warga amerika sendiri. Dalam scenario terburuk, kesediaan AS membuang kekayaan nasionalnya untuk mendanai konsumsi swasta dan pengeluaran pemerintah yang tidak productive akan memaksakan harga yang permanent pada perekonomian , yang akan mengakibatkan AS mengalami kemerosotan terus menerus sehingga sulit untuk melepaskan diri dari jebakan ini. Yang ditakutkan adalah apabila China mencairkan surat hutang tersebut dan mundur dari pasar surat hutang amerika maka tentu akan menimbulkan kepanikan bagi bank central Amerka yang terpaksa harus menaikan suku bunganya. Bila ini terjadi , AS akan mengalami krisis yang serius dan tentu akan berpengaruh terhadap kekuatan politik AS dan Negara lainnya yang berkiblat pada system yang sama. Disinilah hegemoni AS sebagai Negara super power akan melemah , baik secara politik maupun ekonomi. Apa yang terjadi kini antara AS dan China adalah suatu pertarungan untuk mencapai kemakmuran dengan system yang berbeda.

Lambat atau cepat bila AS tidak bisa merubah system dan attitude rakyatnya maka bukan tidak mungkin AS akan ditelan oleh China. Karena china akan terus tumbuh dan berkembang sementara AS akan teru berhutang kepada China. Suatu saat nanti tiba saatnya dimana AS tidak lagi mempunyai kemampuan apapun karena beban hutang yang melambung (seperti Indonesia ) dan saat itulah mungkin terjadi penyesuain mata uang china agar AS belajar hidup hemat dan menghayati makna hidup yang sesungguhnya; kebersamaan bukan individualistic. Apakah para pakar ekonomi Indonesia masih berkiblat dengan AS , yang gemar berkonsumsi, berhutang dan lemah berproduksi ? Padahal Keyneys pernah mengatakan, kita terkungkung dan kehabisan energi dalam perangkap teori dan implementasi ilmu ekonomi kapitalis yang ternyata tetap saja mandul untuk melakukan terobosan mendasar guna mencapai kesejahteraan dan kualitas hidup umat manusia di muka bumi ini.

1 comment:

Edy Djuwito said...

ass. Belajarlah ilmu sampai negeri China, demikian hadist Rasulullah, terlepas hadist ini banyak didiskusikan apakah tergolong hadist Sahih atau bukan. Untuk menyikapi pertempuran As Vs China ini saya usul untuk menengok lebih dalam tentang ekonomi syariah, karena pada prinsipnya pada ekonomi syariah adalah bertuhan pada Allah (bukan Uang seperti ekonomi Kapitalis), kemudian fungsi uang adalah alat tukar (bukan komoditi) dan hubungan antar manusia adalah silaturahim (bukan menang kalah), Indonesia yang mayoritas islam ini ini sangat relevan menjalankan sistem ekonomi itu.
Sukses story telah terbukti tentang praktek sistem syariah ini di BMT salah satu pesantren di Jawa Timur ; berangkat dari keprihatinan Kyai dan para ustad bahwa masyarakat sekitar pondok terjerat hutang pada para rentenir, maka didirikanlah BMT, modal awal dari kantong para ustad dan terkumpul 13,5 juta saja , setelah berjalan 4 tahun asset menjadi 4 milyar, setelah 6 tahun menjadi 9 milyar, sekarang berjalan 9 tahun asset BMT itu menjadi sekitar 70 milyar dengan 60 lokasi BMT; saya bermimpi seandainya saya punya uang cukup akan saya dirikan BMT di seluruh desa di Indonesia agar kekayaan desa itu tidak tersedot ke Bank Central dan setelah itu pergi entah kemana. Bila sistem syariah ini dikembangkan terus saya kira akan menjadi alternatif sistem ekonomi pada masa mendatang, dan bila diterapkan secara murni, maka keadilan dan kesejahteraan akan terwujud, ..... hayo kita kembali ke "maunya" Allah bukan Mau kita sendiri, biar tidak tambah bingung, wass

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...