Data yang dirilis Kemnaker pada Januari 2025, mencatat jumlah PHK sepanjang 2024 hanya mencapai 77.965 orang. Pemerintah keliatan agak panik, terutama saat harus menyaksikan buruh Sritex di PHK. Padahal saat Pilpres mereka pendukung Pragib. Mungkin sudah tidak tahu harus bagaimana lagi bohongnya. Data factual dari BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pada tahun lalu, ada 250.594 pekerja mencairkan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Artinya 250.594 data valid PHK. Kan maluin data pemerintah.
Mengapa sampai terjadi PHK? Ya karena perusahaan berhenti beroperasi. Bisa karena relokasi ke luar negeri atau dipailitkan lewat PKPU. Penyebabnya macem macem, tetapi benar karena kebijakan ekonomi yang membuat easy doing of business memburuk. Sampai awal Maret 2025, menurut data APINDO ada 40 perusahaan tutup dengan korban PHK sementara sebanyak 40.000. Sepanjang tahun 2024 ada 1200 pabrik tutup. Trend PHK ini sudah berlangsung sejak sebelum COVID.
Pemerintah berdalih, sekian banyak yang bankrut, yang bangun baru masih lebih banyak, Tentu kesempatan kerja masih luas. Dasarnya pada indikator IPM yang masih ekspansif dan data realisasi investasi baru dari kantor BKPM. Nyatanya penerimaan pajak PPN dan PPh tidak mencapai target APBN tahun 2024 dan tahun 2025 juga sama. Artinya jumlah PPH berkurang karena dunia usaha kontraksi dan PPN juga berkurang karena daya beli drop. Mau gimana lagi? Faktanya begitu.
Trend PHK dari tahun ketahun sejak tahun 2018 terus meningkat. Akibat PHK itu berdampak pada menurunnya purchasing power masyarakat. Walau IKK masih optimis. Namun bukan berarti yang kena PHK itu punya tabungan miliaran yang bisa bertahan sampai tahun 2029. Mereka umumnya pekerja dengan standar UMR. Uang pesangon terbatas sekali untuk bertahan. Tetapi karena kerjaan belum dapat juga. Mereka terpaksa hidup dari utang. Entah sampai kapan..
Mari lihat data pinjol aja. Data januari 2025 mencapai Rp 78,50 triliun atau naik 29,94% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Peningkatannya significant sekali. Belum lagi data pegadaian. Ambil data pinjaman melalui pegadain selama Ramadhan yang meningkat 12 kali. Makanya wajar bila angka mudik drop 24-30% dari tahun sebelumnya. Kalau engga ada pegadaian dan pinjol, mungkin 75% lebih engga bisa mudik. Karena bokek. Ini data factual yang sulit mengatakan Indonesia baik baik saja.
Bagaimana dengan kelas menengah yang bukan status UMR. Sama saja suffering nya. Engga percaya ? Lihat aja data Januari 2025, DPK perbankan untuk personal menyusut 2,6%. Index tabungan personal pada februari 2025 mencapai 100,7, teredah sejak maret 2024. Padahal sekarang era bunga tinggi. Tidak seharusnya orang makan tabungan. Tetapi karena engga ada income ya terpaksa matab.
Artinya trend jatuhnya kelas menengah menjadi miskin itu fakta. Ini sedang berproses sampai pada titik mengerikan secara social. Walau data resmi BPS pada 15 Januari 2025, jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2024 adalah 24,06 juta orang, atau 8,57% dari total penduduk, yang merupakan tingkat kemiskinan terendah sejak 1960. Namun data itu dengan garis kemiskinan sebesar Rp550.458,-/kapita/bulan, dengan GKM sebesar Rp408.522,- dan GKNM sebesar Rp141.936.
Jika menggunakan standar dari world bank, kemiskinan upper-middle income country (US$6,85 PPP per orang per hari atau Rp. 3.300.000/bulan) persentase penduduk miskin Indonesia diperkirakan sekitar 60% atau 150 juta orang pada tahun 2024. Namun data ini dibantah oleh pemerintah. Maklum begitu besar dana pengetasan kemiskina selama 10 tahun kekuasaan Jokowi mencapai sekitar Rp.4000 triliun atau rata rata diatas Rp. 400 triliun pertahun. Apa kawatir ditanya, kemana saja uang itu?
Mengapa saya paparkan data diatas. Tak lain agar berhentilah pemerintah bermain main dengan data. Semakin pemerintah bicara data semakin rakyat sadar betapa jauhnya jarak pemerintah dengan rakyat. Atau Bahasa vulgar Gap empati semakin jauh dan jauh. Dan lagi ngapain bangun citra yang bias. Toh Presiden sudah terpilih. Bukan lagi masa Pemilu. Engga perlu dibantah. Focus aja kepada perbaikan kinerja.
“ Benar daya beli menurun. Pengangguran meningkat. Kemiskinan bertambah. Pemerintah kini sedang kerja keras melakukan apa saja untuk memperbaiki situasi. Mari dukung pemerintah. Setidaknya kita ciptakan kondisi politik yang stabil agar Indonesia gelap menjadi terang. Mari bergandengan tangan menuju Indonesia emas. ” Gitu ngomongnya. Kan selesai masalahnya.
Tidak perlu ada polemic. Bukankah setelah pemilu tidak ada istilah oposisi. Semua mencintai negeri ini, tentu dengan caranya masing masing termasuk kritis..Yang penting bagaimana upaya pemerintah menggalang kesetiakawanan sosial lewat program jaring pengaman sosial secara gotong royong. Jadikan itu sebagai gerakan nasional.