Tuesday, July 12, 2022

Perang karena alasan ekonomi

 




Perang di Timur Tengah sekian dekade antara Israel dan negara Arab, Perang Mesir-Israel. Invasi Irak ke Kuwait dan kemudian diikuti denga serangan koalisi AS menjatuhkan Sadam Husein setelah menganeksasi Irak. Perang Iran dan Israel ( AS ) yang berujung embargo ekonomi terhadap Iran. Perang saudara di Suriah. Semua itu tidak terjadi tanpa ada kepentingan bisnis TNC di kawasan itu. Kalau ada politik tentang  Suni -Syiah atau apalah. Itu hanya pemanis nerasi agar orang bodoh mau meramaikan konflik. Padahal semua karena soal mengamankan penguasaan bisnis oil and Gas dan logistik. Maklum tampa energi, mesin kapitalis tidak bisa begerak.


Energi satu hal tetapi ada yang lebih dahyat menarik sumber daya modal dan pasar. Apa itu? berkembangnya era 4 G dan kemudian 5 G dan seterusnya. Yang jadi masalah adalah kemajuan tekhnologi IT ini lahir dari laboratorium AS dan Eropa. Tapi itu hanya design saja. Nah, design itu membutuhkan material semikonduktor. Tapi tanpa manufaktur, design dan material hanya jadi catatan saja. Apa jadinya kalau Sumber daya itu tidak ada disemua tempat? Material hanya ada di Rusia saja. Manufaktur hanya ada di Taiwan. 


Padahal industri IT telah berinvestasi sangat besar sekian dekade. Jutaan kilometer fiberoptik digelar mengelilingi bumi. Ribuan satelit di tempatkan di orbit. Ribuan  Pusat data Center dibangun. Berbagai aplikasi bidang apapun tidak bisa beroperasi tanpa komputer dan internet. Sementara Rusia tak ingin AS membangun smelter neon gas di Ukraina. Apalagi ada wacana Ukraina akan bergabung dengan NATO. Tanpa neon gas pabrik semikonduktor yang ada di Taiwan berhenti produksi.


Sementara China tidak ingin AS mengendalikan Taiwan. Bagi China, Taiwan itu bagian dari negaranya. Bagi AS, Taiwan itu geostrategisnya.  China tentu tidak inginkan hegemoni AS di bidang design dan manufaktur tekhnologi. Apalagi 40% pasar elektronik dan microprosesor ada di China. Belum lagi sifat TNC AS selalu rakus. Minta nilai tambah setinggi tingginya kalau mereka kuasai tekhnologi dan sumber daya. Ini jelas akan merugikan China dalam jangka panjang. Makanya tanpa dukungan dari China, engga mungkin Rusia tahun 2014 mau serang Ukania. Ini bukan politik soal teritorial tetapi soal bisnis yang bisa mengubah tatanan ekonomi dunia. 


Dampaknya terasa. 90% industri hitech AS dan Eropa kekurangan rantai pasokan semikounduktor. Karena perang itu, Rusia menghentikan produksi Gas Neon. Smelter Gas Neon di ukrania terancam berhenti beroperasi. Untunglah Eropa cepat bertindak sehingga perang bisa dihentikan melalui perdamaian. Namun tahun 2022 bulan Maret, Rusia kembali menyerang Ukrania. Smelter Gas Neon, bernama Cryoin , yang ada di Odesa direbut Putin. Sejak itu supply chain industri semikonduktor di Jepang, Korea, China, AS, Eropa, Taiwan kekurangan pasokan. 


Apa yang terjadi kemudian?  Tahun 2022 ini, semua saham teknologi jatuh.  Indeks Sektor Teknologi NASDAQ 100 turun 33,0 persen sejak awal tahun. Indeks Teknologi Dow Jones AS turun 29,6 persen, dan sektor Teknologi Informasi S&P 500 turun 25,7 persen pada periode yang sama.  Hitunglah berapa triliun dollar Marcap saham tekhnologi yang susut di bursa. Itu tidak terbilang. Sangat gigantik. 


Misal Apple turun 24,1 persen. Kalau Marcap Apple 2,4 Triliun USD. Maka aset menguap sebesar USD 600 miliar. Belum lagi Google turun 28,1 persen, Amazon turun 39,4 persen dan Meta, perusahaan induk Facebook, turun 47,2 persen. Netflix, turun 69,9 persen. Kalau perang tidak segera berhenti. Kelas menengah yang ada di Eropa dan AS, Jepang dan Korea akan bankrut, Karena umumnya mereka menjadikan saham tekhnologi sebagia saving life. Belum lagi dampak turunannya adalah inflasi menggila menuju jurang resesi.


Semua negara maju berusaha mencari material altenatif dari gas Neon namun tidak mudah.  Solusinya ? Para pemimpin G-7 dan China termasuk Rusia, harus berdamai dengan kenyataan hidup dalam semangat   kolaborasi dan sinergi. Hanya itu solusi kalau inginkan dunia lebih baik dan proses recovery ekonomi dapat berlangsung lancar. Kalau  mindset ala kolonial tidak dikikis, ya  perang tidak bisa dihindari dan bisa meluas. Yang sedihnya, bukan perang idiologi atau agama tapi perang proxy dari TNC bidang technology.  Saling serang ala kolonial untuk merebut sumber daya. Maka yang terjadi bukan hanya perang Rusia-Ukrania tapi juga perang China merebut Taiwan, yang pasti dibela oleh AS dan NATO, termasuk Jepang. Rame dah.  


Kalau perang terjadi maka serambi rumah kita akan jadi ajang perang. Karena AS butuh jalur pelayaran mengangkut logistik dan pasti dihadang china. Yang jelas sejarah membuktikan bahwa pada akhirnya perang hanya karena alasan ekonomi dan bisnis. Engga ada akhlak. Rakus!




No comments:

Saling sandera kasus

  Direktorat Jenderal Imigrasi mencegah mantan Direktur Utama Karen Agustiawan bepergian ke luar negeri. Pencegahan ini merupakan permintaan...