Thursday, July 14, 2022

Bukan hasil tapi proses

 



Apa beda pemimpin demokrasi dengan tiran? Tanya teman. Pertanyaan ini sulit menjawabnya secara teori. Karena dua hal ini punya sisi buruk dan baiknya.Tidak semua demokrasi itu bagus. Ia menjadi sangat buruk bila menjelma menjadi gerombolan orang yang sepakat menjadi tiran. Tidak semua tiran itu buruk. Ia bisa menjadi sistem yang kuat untuk mempersatukan bangsa yang besar seperti China dan melahirkan sistem meritokrasi. Saya lebih suka menilai dari sisi phiilosofi kepemimpinan daripada menilai dari sisi model kekuasaan.


Pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang tidak menjanjikan hasil. Tetapi mengajak orang berproses berdasarkan realita. Seperti hukum ketatapan Tuhan. Alam dibentangkan menjadi ayat ayat Tuhan yang bersabda tetang hukum sebab akibat. Tidak ada yang too good to be true. Hukum gravitasi adalah hulu dari semua proses penciptaan yang ada di hilir. Siapapun yang melanggar hukum gravitasi akan tumbang dan walau harus berbenturan antar bintang namun karenanya semesta tercipta begitu sempurnanya.


Ketika China masuk ke sistem ekonomi terbuka, yang pertama mereka sadari bahwa mereka harus patuh kepada hukum pasar. Rakyat harus mau menerima hukum pasar. Namun negara harus hadir menentukan skema bagaimana hukum pasar itu tercipta, yang memungkinkan semua orang punya peluang dan akses yang sama membeli dan menjual. Pemerintah China tidak menjanjikan harga murah tapi mengajak semua orang berproses untuk mampu mengakses pasar, berapapun harganya.


Cara konkritnya? China mensubsidi produk hulu. Subsidi tidak dalam bentuk penyangga stok agar harga bisa ditentukan negara. Tetapi proses produksinya yang disubsidi. Misal, kilang minyak itu dibangun oleh BUMN China seperti China National Petroleum Corporation, China Petroleum & Chemical Corporation, dan China National Offshore Oil Corporation. Yang disubsidi IRR nya sesuai bunga komersial dan pasarnya dijamin negara. Sehingga kilang minyak bisa ekspansi ke downstream petrokimia.


Nah kalau harga BBM di China sekarang misal, Bensin Rp. 26.000/liter dan Solar Rp. 22.000/liter. Itu harga trade off dari adanya kebijakan subsidi di hulu. Kok mahal dari harga BBM di Indonesia? Kok rakyat CHina tidak protes? Ya walau mahal rakyat mampu beli. Kenapa? trade off nya dalam bentuk downstream petrokimia yang murah. Dari downstream itu lahirlah beragam peluang industri UKM di hilir , yang memberikan kesempatan berproduksi dan tentu menyerap angkatan kerja luas. Aktifitas ekonomi bergairah dan punya vitalitas untuk rakyat mampu membeli dan menjual berdasarkan hukum demand and supply.


Jadi kesimpulannya. Berapapun harga bukan masalah, asalkan rakyat engga bokek. Mereka punya bisnis atau pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan sehingga mereka mampu membeli. DIsitulah peran negara harus hadir, yaitu menciptakan hukum permintaan dan penawaran yang berkeadilan bagi semua. Percuma subsidi digelontorkan di hilir kalau rakyat bokek, tetap aja mahal. Itu kepemimpinan populis ala demokrasi yang hanya menjanjikan hasil tanpa mengajak rakyat berproses.


No comments:

Saling sandera kasus

  Direktorat Jenderal Imigrasi mencegah mantan Direktur Utama Karen Agustiawan bepergian ke luar negeri. Pencegahan ini merupakan permintaan...