Monday, July 25, 2022

BUMN China?

 




Pada tahun 2008 jumlah BUMN china ada 150. Lewat proses Merger dan konsolidasi, kini tinggal 97 BUMN. BUMN ini tidak dibawah menteri tetapi di bawah kendali dari The State-owned Assets Supervision and Administration Commission of the State Council (SASAC) bagian dari Dewan Negara. SASAC menentukan direksi dan komisaris dan arah kebijakan korporat. Pada tahun 2021,  BUMN  China memiliki total aset gabungan sebesar CN¥194 triliun (US$30 triliun). Inilah  entitas ekonomi terbesar di dunia. Bandingkan PDB kita yang hanya USD 1 triliun.


Yang membuat kita tercengang adalah walau China negara sosialis komunis namun kontribusi BUMN terhadap PDB hanya 40% saja. Walau mereka menguasai pasar domestik 60% namun 60% PDB China disumbang oleh Swasta dan asing. Itu membuktikan BUMN china jauh lebih efisien daripada Swasta dan Asing. Pendapatan BUMN lebih dari CN¥30 triliun (US$4,6 triliun). Itu sama saja dengan 18 kali dari penerimaan APBN  kita. Sembilan puluh satu (91) BUMN tersebut masuk dalam perusahaan Fortune Global 500. Bandingkan kita hanya Pertamina doang.


Pertumbuhan BUMN China sejak dilakukan reformasi 40 tahun lalu memang sangat luar biasa. Proses reformasi  terus berlangsung sampai sekarang. Yang ditekankan adalah efisiensi total. Dan berkembang kepada kemampuan innovasi dan kreatifitas yang lahir dari SDM yang bertalenta dengan etos kerja diatas rata rata. Yang hebatnya mereka lakukan efisiensi untuk bertransformasi menjadi BUMN berkelas dunia. Bukan hanya jago kandang. Tetapi go international denngan tujuan mengamankan sumber daya untuk kepentingan domestik.


BUMN China juga smart. Mereka tidak perlu menguasai kepemilikan saham pada setiap perusahaan di luar negeri. Mereka focus kepada penguasaan sumber daya untuk kepentingan domestik. Caranya. Mereka memilih beberapa Holding Investment berkelas dunia yang dikelola secara tertutup dan beroperasi di banyak negara. Mereka dekati dengan menawarkan cross asset lewat Asset under Management seperti fasilitas trade financing, couter trade, Participant Interest, off taker market,   SWAP sumber daya, Debt to equity SWAP, dan Debt back to asset. Tujuanya  agar Holding itu terikat melaksanakan grand strategi China. 


Dengan strategi itu, China mendapatkan akses bahan baku dan tekhnologi dan juga sumber daya keuangan. Maklum China itu pasarnya sangat besar sekali. Tentu tidak sulit bagi investment holding melakukan leverage lewat pasar uang international. Apa yang terjadi kemudian? arus investasi asing mengalir deras masuk China, itu berasal dari investment holding yang jadi afiliate dan mitranya itu. Jadi sebenarnya pertumbuhan BUMN China, dananya tidak semua berasal dari kas negara China. Tetapi berasal dari Investment Holding berkelas dunia yang jadi mitranya, terstruktur secara rumit.


Contoh, Investment holding, yang terafiliasi  dengan BUMN China. Beinvestasi di smelter Nikel. BUMN China hanya memberikan offtake market saja. Dengan offtaker market ini, Investment holding tarik uang dari pasar uang global lewat 144A. China dapatkan sumber daya bahan baku tanpa keluar dana investasi dan tidak sibuk mikirin dampak lingkungan.  Dari bahan baku itu mereka hasilkan beragam downstream dengan nilai tambah  berlipat.


Contoh lain misal Kereta Cepat. China memberikan kredit ekspor untuk BUMN nya agar produk tekhnologi mereka laku di pasar global. Kemudian lewat skema AUM, dana pinjaman dari bank itu diberikan kepada Investment holding affiliate BUMN China. Afiliate inilah yang nego dan bermitra dengan perusahaan lokal yang dapat lisensi dari pemerintah bangun kereta cepat. Sebelum proyek jadi,  Bank di China tidak berikan uang kecuali ada jaminan. Biasanya jaminan disediakan oleh Afiliate. Jadi kalau terjadi dispute, ya bank di China tinggal sita jaminan itu. Engga ada urusan dengan proyek yang belum kelar.  Kalau tidak ada penyimpangan , ya investment holding dapat margin dari harga barang modal yang dibiayai oleh kredit ekport


Secara politik, China tidak pernah menggunakan politik hutang kepada negara lain. Semua dilakukan atas dasar business to business. Kalau ada penyimpangan investasi sehingga default, mereka selesaikan secara hukum. Biasanya, hutang ditukar dengan transfer management aset (BOT) kepada BUMN China secara langsung.. Jadi negara yang berhutang tidak lagi dibebani hutang.

No comments:

Saling sandera kasus

  Direktorat Jenderal Imigrasi mencegah mantan Direktur Utama Karen Agustiawan bepergian ke luar negeri. Pencegahan ini merupakan permintaan...