Monday, June 13, 2022

Visi membangun.

 





Amerika itu katanya cerdas. Benarkah? mari kita lihat skenario ekonominya. Tahukah  anda, bahwa anda tidak akan menemukan pabrik Apple di AS. iPhone memang dirancang di Cupertino, California, namun smartphone itu diproduksi di Foxconn di Taiwan, Vietnam dan India namun yang terbesar di Shenzhen, China, memperkerjakan lebih 3 juta orang. Pasar terbesar Apple ada di Amerika serikat. Tahukah anda?, Apple menghabiskan dana ratusan juta dollar untuk riset namun yang menikmati nilai tambah real dalam bentuk angkatan kerja dan  tekhnologi adalah China, India, Vietnam.


Ribuan supply chain apple lahir dan tekhnologi hape berkembang secara mandiri di CHina, India dan Vietnam. Lantas AS dapat apa? high value. Bukan real dalam bentuk bertambahnya angkatan kerja tetapi meningkatnya saham Apple  di bursa. Marcap Apple di bursa USD 2,2 Trilion. Itu dua kali dari PDB Indonesia. 5 kali dari PDB Singapore. Tiap hari orang AS onani kepit saham Apple. Tapi bingung karena harga kebutuhan hari hari meningkat. Sementara saham semakin tidak likuid. Yang berkembang adalah skema kredit dengan jaminan saham. AKhirnya saham habis karena utang dan barang terus melambung.


Mengapa AS begitu bodohnya? itulah buah reformasi sistem pendidikan di AS sejak tahun 1980an. Create value, create money dan lets money working for you. Kedengarannya keren. Tetapi itulah kutukan pengetahuan tanpa kebijakan. Apa itu? rakus. Pengetahuan dikembangkan untuk memuaskan rakus. Dan karena rakus itu berhubungan dengan rasa, maka hasilnya hanya ilusi saja. Itulah yang terjadi pada fenomena Apple.


Nah sebagian besar kaum terpelajar yang jadi boss BUMN, pejabat tinggi negara, Menteri dan penasehat presiden adalah mereka alumni dari AS. Makanya, lihatlah outputnya kini ? 


Kita hanya Sibuk onani lewat bursa, lewat rente bank digital dan unicorn, konsumen. Sementara server data clound buatan China atau Korea, Gateway dan satelit punya softbank ( sprint) dan banwidth satelit punya Tesla ( starlink), Fiberoptic lintas benua pakai Hong Kong Wire Cable. Barang modal semua impor dan linked product masih juga impor. Kita bangga aja sebagai penikmat penyedia barang, jasa dan tekhnologi. Sejak tahun 1980an sampai kini, zaman berganti tetapi tidak terjadi perubahan paradigma ekonomi. Tidak ada transformasi ekonomi. Masih bergantung kepada komoditi utama (SDA).


Dari empat capres, Anies, Ganjar, Prabowo, Sandi, Eric, yang tidak alumni AS hanya Ganjar. Apakah dia punya visi besar mengubah mindset bangsa pencundang ini? Yang jelas sekarang creator value for nothing beberapa orang ada di jajaran kabinet dan Jokowi percaya mereka, Itulah visi Jokowi, visi kita juga tentunya


No comments:

Fake growth

  Kemarin saya diskusi dengan teman “ Indonesia hebat ya. Banyak negara sedang menuju resesi. Tapi Indonesia selamat dan aman. Karena inflas...