Monday, June 10, 2013

Riba...

Kamu tahu ucapan  Keynes yang terkenal itu, kata teman saya kemarin waktu makan malam, bahwa yang pasti dimasa depan kita semua akan mati. Hidup dan sejarah, menurut Keynes, terdiri dari proses jangka pendek, short runs. Jadi yang bicara tentang jangka panjang adalah orang yang tidak pernah baca sejarah. Manusia tidak ada yang hidup layak lebih dari 60 tahun kecuali menjadi beban orang lain.  Karenanya adalah lucu bagi generasi kapitalis bila harus berakit rakit kehulu berenang ketepian, bersakit sakit dahulu, senang kemudian. Kalau bisa ke hulu atau ketepian naik speed boat kenapa harus pakai rakit atau berenang. Walau karena itu ongkos naik speed boat harus berhutang.  Bagaimana membayarnya setelah sampai dihulu atau ditepian? Tanya saya. Jangan kamu pikirkan soal nanti, pikirkan saja hari ini. Besok itu semua orang akan mati. Yang harus kamu lakukan hari ini bahwa kamu tidak harus berlelah menaik rakit menuju kehulu dan tak berlelah berenang sampai ketepian. Pahamkan! Kalau kamu tetap berpikir  lebih baik bercermin bangkai daripada hidup berhutang, lebih baik berkalang tanah daripada kaya berhutang, maka sebetulnya kamu tidak lagi hidup dalam realitas. Mengapa ? Hutang RI sekarang sebesar Rp1.903,21 triliun. Itu artinya setiap penduduk Indonesia berhutang sebesar Rp. 7,600.000, temasuk bayi yang ada dalam perut ibu.

Saya hanya diam saja. Karena saya tahu bahwa teman ini sedang larut dengan emosi lewat analogi. Kamu bisa saja berkata bahwa kamu tidak pernah teken akad hutang sehingga kamu tidak bisa dimasukin dalam katagori berhutang. Tapi tanpa kamu sadari bahwa kamu telah meneken akad hutang itu ketika kamu masuk kedalam system demokrasi. Ini bukan system tiran yang mengancam dengan pedang atau pestol bagi penentang. Kamu bebas. Free entry free out.  Kamu mengendorsed system yang diajukan oleh segelintir orang  dan kemudian dengan suka rela kamu memilih orang orang untuk duduk di Legislative dan executive. Bagaimana kamu bisa berkelit bahwa kamu tidak mengakui berhutang? Memang setelah itu kamu tidak merasa membayar hutang itu dari kantong sendiri. Negara punya cara hebat memastikan hutang terbayar dari kantong kamu. Caranya ? barang barang akan naik secara lambat tapi pasti. Kenaikan harga itu bukanlah karena factor demand and supply dimana barang sedikit namun permintaan banyak. Bukan !. Kenaikan itu terjadi by design lewat system. Negara terus berhutang untuk hari ini dan karenanya nilai uang tergerus. Para industriawan berhitung harga pokok produksi dengan menghitung nilai uang yang tergerus. Para pedagang berhitung harga pokok penjualan dengan menghitung nilai uang yang tergerus. Para buruh menuntut gaji naik  dengan menghitung nilai uang yang tergerus.

Disamping itu , by system tidak ada satupun kegiatan yang bisa tumbuh dan berkembang tanpa hutang.  Socialis maupun kapitalis , sama saja. Industriawan butuh hutang untuk memicu produksi. Pedagang perlu hutang untuk menjaga stok barang dan menjamin supply.  Karyawan butuh hutang untuk kebebasan berkonsumsi mendapatkan rumah dan kendaraan. Kalau sudah begitu bagaimana kamu bisa berkelit lagi bahwa kamu tidak berhutang. Duniamu, lingkunganmu semua terjerat dalam system berhutang itu. Setiap kamu beli barang atau jasa, itu tandanya kamu sedang mengansur hutan Negara, hutang industriawan, hutang pedagang. Ingat itu!. Apakah kehidupan seperti ini sehat? Tanya saya. Dia hanya terdiam namun wajahnya terkesan mencibir sikap saya. Firman Allah “Maka jika kamu tidak meninggalkan riba maka ketahuilah bahawa Allah dan rasulNya menyatakan perang terhadap kalian. (Surah al-Baqarah: Ayat 279). Mohon kamu pahami apa kata Allah itu, kata saya. Hutang dan berhutang lewat system rente itu adalah Riba, dan Allah menyatakan perang kepada kita.  Apakah kita sanggup berperang dengan Allah, sang Maha Pencipta , Berkuasa diatas Segala galanya itu? Amerika dan Eropa kurang hebat apa? Nyatanya jatuh tersungkur karena Riba.

Ada sebuah kritik yang datang dari Friedrich von Hayek, guru besar asal Austria yang mengajar di London School of Economics. Hayek menyaksikan bagaimana Negara yang gagal mengatur  dana Riba itu, dari inflasi terkendali menjadi tak terkendali. Kekayaan menciut habis. Pabrik kehilangan permintaan. Buruh kehilangan pekerjaan. Pedagang dililit hutang karena stok tak terjual. Orang kebingungan seperti orang gila (QS. Al-Baqarah 275 ). Biasanya tidak tahu lagi siapa yang harus disalahkan. Ini kehendak pasar,kata mereka. Tapi itulah buah  dari berperang dengan Allah. Semua yang terlibat adalah musuh Allah. Rasulullah S.A.W. telah melaknat pemakan riba, orang yang memberikan riba, orang yang menjadi penulisnya dan saksi-saksinya. Kemudian Rasulullah S.A.W. mengatakan: Mereka semua adalah sama. (Riwayat Muslim, Nasai, Abu Daud, Tarmizi dan Ibnu Hibban). Usai makan malam kami berpisah. Saya puas dengan keyakinan saya walau saya tidak berdaya merubahnya, namun setidaknya seumur hidup saya tidak pernah berhutang lewat system Riba , juga tidak punya deposito di bank. Kepada Allah saya berserah diri atas kelemahan dan kebodohan saya berada didalam system “orang gila”.

2 comments:

minister of sale said...

Gan, tulisannya bagus banget, izin share boleh?

Unknown said...

Dalam tulisan2 Babo (terakhir/di 2017)belum lama ini saya membaca atau menyimpulkan nya bahwa (riba)berhutang itu tak apa, asal bukan untuk konsumtip tp lebih ke hal2 produktif .
sangat bertolak belakang dg tulisan babo yg ini agst thn 2014 (n hampir semua tulisan ini tentang apa pendapat teman babo di adopsi sepenuhnya ke tulisan2 terbaru babo

Mohon penjelasan dr babo?
Krn saya mengagumi sosok babo n ini mjdkn belive di dlm diri tentang apa2 yg babo sampaikan lewat tulisan2ny yg menginspirasi.

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...