Thursday, July 3, 2008

Media Massa

Philosopy Yahudi " Kuasai media massa maka kita akan menentukan arah suatu bangsa...Itu yang dikatakan oleh sahabat saya dari Beijing yang berkunjung ke Jakarta. Dia mengatakan itu ,bertepatan ketika menonton tayangan telivisi di Kamar Hotelnya. Itulah sebabnya China tidak mengizinkan asing menguasai saham Media Massa. Itupula sebabnya Bolivia dan Venezuela menasionalisasi Media massa. Itu semua demi menghindari infiltrasi budaya asing yang akan merusak indentitas bangsa. Negara berperan untuk mendidik rakyat dan mengharuskan tetap digaris idiologi dan budaya. "Apa arti kebebasan pers bila pada akhirnya media massa dikuasai oleh tiran kapitalis. Kebebasan suatu kebohongan. Tidak lebih." Itu katanya kepada saya. " Negara tidak boleh dikalahkan oleh kekuatan asing yang sehingga seenaknya membuat berita dan acara yang merusak kehidupan budaya dan spiritual bangsa. " sambungnya.

Hal tersebut mengingatkan saya pada tahun 2005, Raja Media dunia Rupert Murdoch langsung beraksi cepat ketika pemerintah mengizinkan asing menguasai saham media massa 20%. Maka TV 7, Star TV, ANTV, Lativi , sahamnya dikuasai 20% secara langsung dan 30 % lebih secara tidak langsung. Selain TV umum juga, bisnis Pay TV (televisi kabel, terresterial, satelit) juga tak ketinggalan dicaplok asing.. Astro TV yang menjadi Raja TV Kabel di dunia – juga bermitra dengan Grup Lippo ( yang sudah dikuasai asing ) untuk mengembangkan Kabelvision. Semetara Indosiar dan SCTV merger. . Begitupula dengan Media Nusantara Citra (MNC) yang memiliki 3 stasiun televisi (RCTI, TPI, dan Global TV). . Hebatnya mereka sudah listing di bursa yang artinya asing dapat menguasai saham secara tidak langsung lewat bursa sampai 100%.

Yang mengejutkan adalah dibulan juni 2008, Republika yang merupakan Harian Umum , didirikan oleh Ikatan Cenderkiawan Muslim Indonesia (ICMI) akhirnya melepaskan sahamnya sebesar 20% kepada
The Independent News Media Group (INM). Perusahaan ini dimiliki oleh konglomerat Yahudi , Sir Anthony O'Reilly, dan termasuk pendukung utama dari program Jewish Studies. Suatu program yang menebarkan paham dan semangat yahudi bagi para intelektual dimanapun berada. Setelah pengambil alihan saham itu , Gavin O’Reilly , salah satu putra dari Anthony O'Reilly masuk dalam jajaran Komisaris dan bergabung dengan KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym dan lainnya, Keberadaan Gavin O Reilly akan bertindak sebagai watchdog, untuk memastikan republika tumbuh sebagai lembaga business yang mencetak laba bukan moral.

Di negeri dimana demokrasi menjadi dogma maka siapapun menikmati kebebasan untuk melakukan apa saja asalkan ada uang dan bayar pajak. Negara memberikan akses seluas mungkin untuk berkreasi dan berprestasi walau pada akhirnya spirit moral dan budaya menjadi absurd bila sudah menyangkut kepentingan modal. Ini sebuah realita dan juga sebuah pilihan bagi negeri kita sekarang. Tidak ada yang aneh bila akhirnya , pemodal berpikir tidak hanya sebatas meningkatkan akumulasi modal tapi juga menguasai emosi public dan mengarahkan emosi public sesuai tuntutan mereka agar public menjadi mesin pencetak uang dan sekaligus menjadi loyalis. Itulah yang dapat dicermati ketika tuntutan kebebasan Pers diundangkan dan akhirnya pemerintah memberikan konsesi bagi asing untuk menguasai business media massa. Walau jumlah saham dibatasi sebesar 20% dari total saham namun jelas sekali keberadaan 20% dengan power cash ditangan , mereka bukan hanya bertindak sebagai share holder tapi juga stakeholder untuk menjadi lending resource mengembangkan perusahaan yang berbasis LABA tentunya.

Ketika kekuatan modal masuk kemedia massa , maka fungsi Pers sebagai alat perjuangan rakyat menegakkan kebenaran akan menjadi ilusi. Media massa akan bergerak secara lambat namun pasti bermetamorfosa menjadi alat menciptakan laba. Fungsi social tentu akan terkubur atau termanifulasi dalam kreatifitas informasi tanpa ada unsur edukasi tentang moral dan akhlak mulia. Media Massa akan bergerak semakin liar ;menciptakan program acara atau berita yang mendulation moral kebangsaan , kesetiaan, kehormatan indentitas bangsa. Seorang Wimar Witular yang juga sebagai pejuang pro demokrasi harus mengelus dada ketika “Perspektif Wimar " di ANTV harus dikurangi jam tayangnnya hanya karena masalah rating. Maklum saja, rating berkaitan dengan iklan dan iklan berkaitan dengen cash in. Banyak program bermutu edukasi bangsa diberbagai media massa pada akhirnya tentu akan tersingkir dengan sendirinya bila rating nya jatuh. Apalagi bila media massa itu sudah berada dalam cengkraman asing.

Wimar tentu kecewa karena demokrasi yang dulu diperjuangkannya akhirnya memakan dirinya sendiri. Wimar lupa tentang demokrasi beranak kapitalis yang merupakan anak haram ibu pertiwi. Mungkin kelak itupula yang disesali oleh para pengelola Republika ketika “space “ islami harus dikurangi atau dihapus dari republika demi membela rating…

1 comment:

Akhyari said...

media massa indonesia, mungkin yang paling kumuh, paling edan sedunia ! screw them ! saya tambahkan blog anda di link saya

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...