Sunday, July 20, 2008

LNG Tangguh


Sebetulnya proyek LNG Tangguh sudah ada ketika era Soeharto. Feasibility Study sudah rampung. Hanya masalahnya pemerintah Soeharto tidak punya cukup uang untuk membiayai proyek ini. Sementara untuk berhutang kondisi debt to ratio negara sudah dalam posisi merah sehingga tidak layak berhutang.  Proyek ini kembali mengemuka ketika SBY menjadi Mentaben era Gus Dur. Teman saya pernah akan dilibatkan dalam team fundraising  project ini namun belakangan dia  mundur karena tidak sesuai dengan hati nuraninya. Menurutnya , dari awal memang project ini mengalami kendala serius soal pendanaan karena negara dalam posisi downgrade yang puncaknya krisis 1998. Beberapa financial resource international tidak tertarik untuk membiayai proyek ini karena syarat suku bunga yang ditetapkan pemerintah Gus Dur dan kemudian Megawati LIBOR +0,5 %. Disamping itu pemerintah tidak boleh memberikan jaminan resiko atas hutang itu. Keadaan inilah yang membuat pembiayaan mega proyek ini menjadi terkendala. Akhirnya diajukan proposal dengan menarik pembiayaan melalui skema loan against offtake. Artinya dana didapat dengan menjaminkan kontrak penjualan sebagai sumber repayment. Masalahnya adalah bagaimana mendapatkan pembeli yang berani menjamin kontrak pembelian selama 25tahun dengan harga tetap? Ini beresiko. Semuanya ingin harga floating. Kalau harga floating maka tidak bisa dijadikan collateral pinjaman. Namun SBY berhasil meyakinkan investor seperti BP,CNOOC, MI Berau BV, Nippon Oil Exploration Berau, KG Companies, dan LNG Japan Corporation, untuk terlibat dalam konsorsium pembiayaan. Konsorsium LNG Tangguh itu berkat prakarsa SBY. 

Ketika Gus Dur jatuh dan digantikan oleh Megawati, kebijakan  Gus Dur tidak dirubah. Bahkan Megawati  menolak keras merubah skema itu walau ada upaya untuk menetapkan harga secara floating. Namun Mega setuju setiap  5 tahun harga akan ditinjau ( bukan dirubah). Mungkin karena Mantaben Purnomo Yusgiantoro yang dikenal ahli dibidang Migas bisa meyakinkan Megawati dan setelah melalui proses di DPR dan Kabinet akhirnya Megawati setuju untuk melanjutkan proyek LNG Tangguh.  Semua investor bertindak sebagai buyer dan menempatkan offtake sebagai collateral pinjaman kepada bank. Semua pembeli itu adalah perusahaan strategis di negaranya masing masing.  Sumber dana berasal dari Perbankan negara anggota konsorsium proyek, yang terdiri dari Bank of China USD 950 juta, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) USD1,2 miliar, Asian Development Bank (ADB) USD350 juta, dan komersial bank lainnya 1 miliar dolar. Sementara bank dalam negeri belum barani masuk. Alasannya harga jual di pasar Gas masih terlalu rendah. Harap dicatat bahwa konsorsium ini bukan sebagai pemilik proyek tapi hanya sebagai penjamin hutang. Pemiliknya tetap Pemerintah Indonesia.Apabila hutang lunas maka konsorsium harus keluar dari proyek dan pemerintah bebas menjual kepasar bebas.

Tahun 2004 Megawati jatuh dan digantikan oleh SBY.Entah bagaimana posisi project tidak lagi dalam skema awal tapi berubah menjadi JV, dimana BP Indonesia sebagai operator project dengan menguasai saham 37,16%. Sementara sisanya dikuasai oleh mitranya yang terdiri dari China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) Ltd, MI Berau BV, Nippon Oil Exploration Berau, KG Companies, dan LNG Japan Corporation. Pengembangan gas Tangguh yang diperkirakan mampu memproduksi gas 10-11 triliun kaM kubik (tcf), direncanakan dibangun tiga train (kilang). Cadangan gas terbukti mencapai 14,4 tcf. Proyek kilang I dan II LNG Tangguh di Papua akan memproduksi LNG pertama dan komersial akhir 2008.  Investor melihat laba raksasa dibalik long term contract tersebut, dan mereka ingin menjadi penguasa konsesi, bukan hanya sebagai pembeli. Lihatlah keuntungannya, contohnya Tiongkok melalui Pemprov Fujian telah sepakat membeli 2,6 juta ton LNG Tangguh senilai US$ 8,5 miliar, dalam jangka waktu 25 tahun. Harga tersebut setara US$ 3»35"3>38 per juta british thermal unit (BTU), lebih rendah dibandingkan harga LNG di pasar spot US$ 7-8 per juta BTU. SK Korea membeli US$ 3,7 per juta BTU dan West Coast US$ 5,94 per juta BTU. Keinginan pemerintah untuk merevisi harga LNG sesuai harga international dinilai langkah positive sebagai ujud membela kepentingan nasional. Utamanya untuk lebih menekankan harga export LNG harus lebih mahal dibandingkan harga dalam negeri. Teman saya mengatakan bahwa itu hanyalah lipstick dari pemerintah. Pemerintah sengaja membuat LNG Tangguh menjadi trapped.

Mengapa trapped? Upaya untuk merubah harga hampir tidak mungkin. Karena ketika projek ini dibiayai , long term purchase agreement ( offtake) sebagai underlying mendapatkan pinjaman dari bank. Kalau harga berubah maka kondisinya tidak lagi secure sebagai collateral dan pihak bank pasti akan meminta proyek untuk melunasi hutang tersebut. Apabila ini terjadi , menurut teman saya akan menimbulkan kasus international dan menyulitkan project LNG Tangguh. Mengapa? karena masing masing pembeli juga adalah penjamin hutang dan kini mereka juga pemegang saham. Mereka menempatkan saham mereka sebagai jaminan hutang. Jadi hampir tidak mungkin harga bisa diperbaiki sehingga menguntungkan pemerintah. Teman saya menduga ada konpirasi antara pejabat pemerintah, buyer dan Lead Consortium loan yang berperan melobi project multi billion dollar ini terbangun dengan skema yang menguntungkan asing. Apalagi kontrak ini dibuat oleh pemerintah sebelumnya dengan Menteri yang kini jadi President dan koleganya yang sama dengan kabinet sekarang, Purnomo Yusgiantoro.  Revisi contract akan menurunkan rating indonesia dimata financial community dan upaya untuk meningkatkan kapasitas LNG Tangguh akan mengalami kendala serius dimasa masa mendatang. Sehingga pada akirnya pemerintah harus menerima kenyataan untuk meneruskan kontrak, selagi commitment pendanaan tidak terganggu. Apalagi ditengah tekanan anggaran yang menyesakkan, prospek pendapatan sebesar US$ 6,2 miliar /tahun dari beroperasinya proyek ini untuk RI , bukanlah jumlah sedikit untuk ditunda..,memang dibuat trapped.!

1 comment:

Akhyari said...

sedih dan marah. sangat sangat sedih dan marah...meski nggak sama, kesedihan ini mengingatkan saya pada penjualan murah Indosat ke Temasek....masyaa allah

Aksi Demo Penolakan UU Omnibus Law.

Hari ini demo menentang UU Omnibus Law berlangsung tidak tertip. Bahkan terkesan anarkis. Namun dalam kondisi terkendali oleh aparat keaman...