Wednesday, April 7, 2021

Perjalanan waktu.

 





Suatu saat Albert Einstein mampir di sebuah bengkel untuk perbaiki kendaraannya. Monternya anak muda.


“ Nak, kalau kamu bisa berangkat ke masa depan. Katakanlah 100 tahun. Sampai dimasa depan,  kamu masih muda seperti sekarang. Apakah kamu tertarik? Tanya Albert Einstein menguji kercerdasan anak muda itu.


“ Bodoh kalau saya mau “ Kata anak muda itu sambil terus kerja memperbaiki mobil.


“ Kenapa ?


“ Yang paling berharga dari kehidupan adalah waktu. Dari waktu itu, saya bisa merasakan susah senang. Sakit dan sehat. Tertawa dan menangis. Bisa menua bersama dengan istri saya. Mengapa saya harus buang 100 tahun yang berharga itu. Tidak perlu jadi orang pintar untuk tahu tawaran itu adalah kebodohan.”


Albert Einstein tersenyum. “ Kamu lebih pintar dari saya. Karena kepintaran spiritual tidak bisa dikalahkan dengan akal. Bahkan oleh seorang profesor sekalipun. “ 


Satu saat seorang Sufi sedang berjalan di tengah pasar. Dia duduk di pojok pasar. “ Sufi, apakah ada jalan cepat ke sorga? Kata anak muda.


“ Jangan mudah marah. “ Kata sufi.


“ Apalagi ?


“ Jangan berharap dengan janji manusia. “


“ Apalagi”


“ Jangan berguru dan berteman dengan mereka yang menjanjikan sorga kepadamu. Karena dia sedang mengubah dirinya menjadi Tuhanmu. Sorga itu hak prerogatif Allah. Tidak ada manusia yang bisa menjamin dia masuk sorga apalagi menjamin orang lain. Jangan kau ganti Tuhanmu karena apapun. Di dunia ini apapun ada gantinya.Tetapi Tuhan tidak tergantikan.”


“ Bagaimana cara menjaga agama dari orang kafir? apakah dengan berjihad?


“ Yang paling kafir itu adalah nafsumu. Perangilah itu sepanjang usiamu. Soal agama itu urusan Tuhanmu. Dia lah yang akan menjaganya sampai hari kiamat. Jangan kamu berjihad membela agama pada waktu bersamaan kamu kudeta kekuasaan Allah. Itu artinya kamu berTuhankan Nafsumu. Sirik.”  Kata Sufi.


Anak muda itu berlalu dan dia pulang ke rumah. Sekeras apapun sikap istrinya. Dia tidak pernah terpancing marah. Dia ingat nasehat sufi. Lambat laun perubahan sikapnya membuat istrinya melunak. Kehidupan rumah tangga jadi seperti sorga. Benar kata sufi. Di dunia saja dia sudah rasakan Sorga. Agamapun lebih  kepada mendekatkan diri kepada Tuhan. Memperkaya spiritual. Diapun lupa akan janji sorga Tuhan. “ Dimanapun aku ditempatkan tak penting. Cukuplah antara aku dan Tuhan saja. “ Perjalanan waktu itu indah asalkan kita tidak mudah marah. Bersabar dan ikhlas. Apapun yang terjadi, tetap baik bagi kitaa.


No comments:

Kita mendukung orang baik.

  Saya punya visi membangun kawasan industri ASEAN  di China. Visi itu saya sampaikan kepada Direktur business development Holding. Ada tiga...