Wednesday, April 7, 2021

Bapak modernisasi Turki..

 


Di pagi hari, ibuku mendandaniku dengan pakaian putih dan kalung leher bersulam emas; sorban melingkar di kepala. Aku dijemput seorang hoja beserta ulama lain. Mereka melangkah ke jalan dalam semacam prosesi ke sekolah. Di sekolah yang bertaut dengan sebuah masjid itu, doa bersama pun dibacakan. Lalu sang guru membimbingku masuk ke sebuah ruang. Di sana sebuah Quran sudah siap terbuka.” Demikian kira kira suasana hati Mustafa yangd diungkapkan dalam buku Atatürk: The Rebirth of a Nation, Patrick Kinross.


Mustafa produk pertentangan tradisional dan modern. Ayahnya , Ali Riza ingin dia tidak sekolah agama. Tetapi sekolah modern. Ibunya,  Zubaidah merasa punya anak tunggal, inginkan Mustafa tumbuh dalam tuntunan narasi islam. Harus hafal Quran, kelak bisa jadi ulama penerus Nabi. Mustafa disekolahkan di Fatimah Mullah Kadin, pendidikan Islam yang terkemuka di Kota Salonika itu. Menjadi murid disekolah itu agaknya sesuatu yang istimewa. IBunya bangga. Ayahnya malah kawatir. Benarlah. Mustafa dikeluarkan dari sekolah. Hanya karena dia membangkang disuruh duduk bersila di lantai. Ia benci dipaksa membaca dan menulis huruf Arab. 


Ayahnya menang. Mustafa dipindahkan ke sekolah umum yang diasuh Shemsi Effendi di Salonika. Salonika memang kota kosmpolitan. Tempat semua etnis dan agama berbaur. Maklum Salonika adalah kota pelabuhan dan perdagangan di Macedonia. Di kota itu ada konsulat Inggris, Prancis, Jerman, Austria, Italia, Portugal. Banyak orang berjalan ditempat umum dengan pakain barat. 


Pada abad 19 revolusi industri mulai masuk ke Turki. Kereta Api tenaga uap dibangun. Mustafa sebagaimana rakyat Turki lainnya menganggap itu sebagai sebuah keajaiban. Tanpa terasa, tanpa dengung Fatwa ulama, tekhnologi gerak menyihir rakyat. Saat itu perubahan mindset dimulai. Tidak disadari oleh khalifah. Yang masih percaya Agama tak tertandingi oleh apapun. Usia kanak dan remaja Mustafa telah mengubah mindsetnya tentang agama. Dia ingin memberontak. Seperti dulu waktu dia sekolah Dasar. Walau resiko ditendang. Kedewasaan membuatnya bijak. Melawan, harus cerdas. Diapun masuk akademi militer.





Terbukti dia memang berbakat menjadi perwira. Pertempuran tentara Turki yang dipimpinnya melawan pasukan Inggris dan sekutunya di jazirah Gallipoli di tahun 1915 adalah sejarah kemenangan Turki yang tak terlupakan. Karena itu dia semakin dipercaya oleh Khalifah. Dia gelisah. Tafsir tentang Islam masa itu dikaitkan dengan Islam para sultan yang hidup antara seraglio yang penuh perempuan simpanan dan medan perang yang penuh dengan bangkai. Kemajuan sains dan perubahan zaman membuat dinasti Turki seperti wanita tua, gendut dan lambat, namun tetap ingin dianggap cantik dan menarik hanya karena gaun mahal.


Apa yang salah dari Khilafah Turki Usmani? Kekuasan itu menjadi pakaian kesombongan dan keangkuhan dihadapan sang waktu. Pada satu kesempatan saya bertemu dengan Azra. Sahabat saya di Turki. “ Berkat sain, perubahan terus terjadi. Membuat agama dimaknai dengan rendah hati. Sistem demokrasi, menjamin tidak ada satupun penguasa bisa bebas semaunya. Tidak ada orang yang bisa berkata dia mewakili Nabi, bahkan Tuhan sekalipun.  Ukuran orang bukan lagi karena statusnya ulama atau ustad atau profesor, tetapi sejauh mana dia bisa berbuat banyak bagi orang lain. 


Agama adalah perbuatan. Ukurannya kinerja, bukan retorika. Dan pasti tidak menumpang makan dari narasi agama dan donasi umat. “ kata Azra. Saya tersenyum. Azra adalah buah dari karya seorang Mustafa Kamal Ataturk, bapak Turki modern. Azra lulusan Cambridge University. Walau dia muslimah, dia tidak merasa sungkan tanpa jilbab dan burka dihadapan saya. Rambutnya yang hitam dan kulit wajahnya yang halus, matanya yang indah, bibir yang exciting, memang indah dipandang. Saya merasa jadi pria itu memang berkah. Walau tampa selir.

No comments:

Aswaja dan Radikalisme

  Banyak orang memahami bahwa teroris itu adalah islam sebagai sebuah agama, yang tentu termasuk ajarannya.  Sebetulnya pemahaman ini bagi o...