Thursday, November 26, 2020

Memahami Politik kejatuhan Gus Dur


Kalau kita ingin memahami Politik di Indonesia paska kejatuhan Soeharto maka belajarlah dari kejatuhan Gus Dur.  Gus Dur terpilih lewat Sidang MPR. Dia mengalahkan Megawati. Itu berkat poros tengah ( koalisi partai Islam) di bawah koordinasi Amin Rais. Apa yang terjadi di balik layar sampai terbentuk Poros Tengah yang memastikan Gus menang?. Itu karena ada pertemuan antara Wiranto, Amin Rais, Gus Dur. Posisi Amin Rais sebagai ketua Umum Muhammadiyah dan Gus Dur Ketua Umum NU. Saat itu sebetulnya Wiranto mengusulkan Amin Rais sebagai Presiden. Tetapi Amin Rais menolak.   Pak Wiranto berdiri dan memegang kedua bahu Gus Dur. “ Kalau begitu, Gus Dur aja yang jadi presiden.” Kata pak Wiranto.


Dari episode terpilihnya Gus Dur sebagai presiden, kita tahu pasti bahwa TNI ada di balik proses suksesi dari Orde Baru ke reformasi. Dari teman, saya dapat informasi bahwa Gus Dur tidak ada deal apapun dengan TNI. Tidak ada deal apapun dengan poros tengah. Deal itu dilakukan oleh Amin Rais yang kemudian terpilih sebagai Ketua MPR. Artinya kalau Gus Dur engga bisa laksanakan komitmen Amin Rais, on/off Gus Dur ada pada Amin Rais. Setelah Gus Dur jadi presiden. Kompromi politik yang dirancang oleh Amin Rais dibatalkan begitu saja oleh Gus Dur. Dalam kurun waktu 20 bulan sebagai presiden. Gus Dur mereformasi TNI. Singkatnya TNI masuk barak.Engga boleh ikutan Politik. Jelas, TNI berang.


Gus Dur juga memaksa semua kotrak karya (KK) tambang seperti Freeport ditinjau ulang. Freeport dihentikan operasinya. Caltex juga diberhentikan operasinya. Amerika jelas marah besar. Apalagi waktu itu Amerika sedang getolnya membangun kekuatan APEC.  Pihak di kabinet yang menentangnya. Dia pecat, diantaranya, Jusuf Kalla (Golkar), Laksamana Sukardi (PDIP), Susilo Bambang Yudhoyono (TNI, Yusril Ihza Mahendra (PBB), Nurmahmudi Ismail (PK), dan Wiranto. Wajarkan Partai dan termasuk  TNI kecewa. Kelak kemudian hari mereka  yang dia pecat seperti SBY dan Jusuf Kalla, jadi presiden dan wapres tahun 2004, yang lainnya jadi elite politik berpengaruh.


Kebayangkan betapa panjangnya barisan musuh Gus Dur. Namun mereka tetap menawarkan jalan tengah, yaitu kompromi. Gus Dur tetap sebagai presiden sampai akhir masa jabatannya. Tetapi Gus Dur harus mau mengikuti apa  kata Partai. Kembali Gus Dur menolak keras. Alasanya itu melanggar konstitusi. Hak prerogatif presiden menentukan menteri.Partai engga boleh ikut campur. Akibatnya genderang perang ditabuh. Yang tadi mendukung dia, baik TNI maupun poros tengah, kini berbalik melawannya.


Di saat genting itu, Gus Dur dapat tawaran dari sekelompok orang yang siap mendatangkan massa besar guna melindungi Gus Dur dari upaya kudeta. Syaratnya adalah Gus Dur harus mau mengganti Pancasila jadi Syariat Islam. Gus Dur tolak dengan tegas. Akhirnya ,bisa ditebak. Kalau elite politik sudah kompak, maka apapun bisa diatur untuk menjatuhkan presiden. Gus Dur pun jatuh. Kejamnya, jatuhnya Gus Dur karena skandal bulog gate. Setelah Gus Dur lengser, memang terbukti tak bersalah. Penyelidikan Kejaksaa Agung memutuskan bahwa Gus Dur bersih dari segala tuduhan korupsi.


Apakah sudah? tidak. PKB yang dia dirikan pun dikudeta oleh ponakannya. Sampai proses ke pengadilan. Kalah juga. Gus Dur dikenal luas  sebelum jadi presiden adalah pejuang pro demokrasi. Gus Dur pejuang pluralisme. Seorang kiyai yang menguasai kitab klasik islam ( kitab kuning). Jago berdebat secara terpelajar tanpa kehilangan sense of humor. Seorang yang humanis. Tetapi ketika dia berkuasa. Caci maki datang justru dari kelompok islam sendiri. Fitnah kepada Gus Dur ketika itu sangat massive dan sistematis.


Apa kesimpulan dari cerita diatas ? Dalam sebuah wawancara dengan Tempo (26/12/2003), Gus Dur mengatakan, “Kalau pergantian saya sih, itu ya menunjukkan betapa rendahnya nilai para politisi kita, tokoh-tokoh partai-partai kita itu. Mereka kerja sama dengan kekuatan-kekuatan anti-demokrasi. Itulah yang tidak saya duga sama sekali.” Siapa yang dimaksud Gus Dur anti demokrasi itu ? kalangan tentara, kelompok Islam fundamentalis dan para konglomerat yang sebelumnya dipelihara Soeharto. 
Dia naik karena koalisi partai islam (Poros Tengah ) dan jatuh karena konpsirasi partai yang tadinya mendukung. Itu hanya karena dia malaksanakan konstitusi.  Di saat partai bersatu menjatuhkanya, TNI buang badan. Kalau sekelas Gus Dur saja dikhianati, apalagi pihak lain. Memang kalau islam sudah masuk ranah politik mereka menghalalkan segala cara termasuk fitnah. Old story selalu berulang. Sejarah kekuasan di Turki, Arab, Persia, sama saja. Fitnah jadi halal demi kekuasaan

Menurut saya pribadi, kelemahan Gus Dur adalah karena dia ingin melakukan perubahan cepat tetapi lewat jalur demokrasi. Itu jelas impossible. Di saat dia lakukan perubahan itu, ekonomi Indonesia sedang terpuruk. Ini membuat perubahan melahirkan irasionalitas dan tentu menimbulkan perlawanan dari kelompok status quo.  Era Jokowi keliatannya hampir sama. Hanya saja, Jokowi lakukan itu secara proposional. Dia perbaiki dulu ekonomi, setelah itu politik dia benahi secara hati hati dengan tetap menjaga keseimbangan kekuatan real yaitu Parpol, TNI dan Umat islam. Jadi semua orang harus sabar sebagaimana Jokowi sangat sabar menghadapi proses itu.

No comments:

Aswaja dan Radikalisme

  Banyak orang memahami bahwa teroris itu adalah islam sebagai sebuah agama, yang tentu termasuk ajarannya.  Sebetulnya pemahaman ini bagi o...