Tuesday, January 21, 2020

Tahun 2020 tahun berat.




Sebagian orang kita tidak suka dengan komunis bahkan membenci. Tetapi tidak ada yang tidak suka dengan kebijakan subsidi dan kontrol harga. Padahal inti komunis adalah sosialis dimana negara mengendalikan segala hal termasuk harga. Kan lucu. Yang paling kencang teriak kenaikan harga adalah mereka yang membenci komunis. Di china paham sosialis ekonomi sudah lama ditinggalkan sejak wafatnya Mao dan digantikan oleh Deng. Sejak itu China tumbuh berdasarkan ekonomi pasar. Sejak UniSoviet bubar, Rusia tidak lagi menerapkan ekonomi sosialis.Yang masih bertahan adalah Venezuela dan Korea utara , yang keduanya bangkrut dan menjadi pengemis.

Jadi bagaimana sebetulnya peradaban kapitalis itu ? Rakus ? Jangan buru buru paranoid. Tetapi coba ambil esensi dari idealisme kapitalisme itu. Apa ? Kebebasan pasar dan bersaing secara fair. Siapapun boleh berproduksi dan kaya karena itu. Tentu siapapun menyadari bisa bangkrut kapan saja. karena itu. Artinya hukum tertinggi adalah pasar. Kalau anda merasa tidak suka dengan harga yang kemahalan, gampang saja. Ya jangan beli. Harga bensin kemahalan, jual kendaraan dan naik angkutan umum yang disubsidi. Ingat kendaraan itu produk kapitalis. Artinya anda juga seorang kapitalis. Siap masuk dan siap juga keluar. Engga ada paksaan kok. Bebas aja.

Lantas dimana peran negara ? Dalam dunia kapitalis negara tidak memilik semua tetapi mengendalikan semua hal. Pengendalian itu lewat aturan dan UU yang memungkin semua orang punya hak yang sama untuk mengkases barang dan jasa juga berproduksi. Disamping itu bila ada hambatan maka pemerintah membuat kebijakan agar arus barang dan jasa lancar : melalui deregulasi dibidang perdagangan dan investasi. Juga menyediakan system logistik yang efisien agar harga jual tidak dimakan distribusi. Sehingga orang bisa untung. Tugas pemerintah sebatas itu. Dari tersedianya barang dan jasa maka ekonomi berputar dan mendatangkan pajak untuk mengongkosi fungsi sosial negara. Sederhanakan

Daripada mengharapkan harga barang turun drastis yang tidak mungkin terjadi. Daripada berpikir utopis ala sosialis yang pasti menderita. Mengapa anda tidak berusaha meningkatkan penghasilan lewat kerja keras dan peningkatan skill agar berpapapun harga barang anda bisa beli ? itu lebih bijak. Atau engga sanggup hidup di dunia kapitalis ?, silahkan pindah ke venezuela atau Korea Utara. Bebas kok. Ini era globalisasi , semua orang bebas menentukan dimana dia mau tinggal. Anda tidak punya banyak pilihan kecuali ya tingkatkan penghasilan. Mengeluh mengumpat pemerintah hanya membuang waktu dan makin keliatan lemah dan bego. Mengapa ? siapapun presiden tidak bisa menghindari hukum pasar. Semua negara G20 sekarang sedang suffering akibat krisis ekonomi global dan perang dagang China-AS. Tetapi kita harus bersyukur karena dampak negatif terhadap Indonesia tidak significant dibandingkan negara lain.  Setidaknya ekonomi kita masih tumbuh diatas angka inflasi.  Tetap semangat!

Pagi tadi Oma tanya ke saya” Kenapa tagihan listik kita naik.? Saya tidak menjawab. Saya hanya senyum. Dia engga tahu Pemerintah telah menyetujui pemangkasan subsidi listrik untuk pelanggan 900 VA rumah tangga mampu (RTM). Pencabutan subsidi ini dilakukan mulai tahun 2020 ini. Ya, tahun ini harga harga akan naik bertahap. Mulai dari kenaikan harga rokok, tarif listrik, parkir, harga plastik, toll, iuran BPJS, pajak belanja online, hingga kenaikan tarif ojek online. 

Bukan itu saja. Rokok misalnya, rata-rata kenaikan pada tahun ini bisa mencapai 23% untuk tarif cukai. Otomatis, kenaikan tarif cukai rokok ini berimbas pada naiknya harga jual rokok yang diperkirakan sebesar 35%. Jadi lambat laun hanya orang berduit aja yang mampu merokok.  Cukup? belum. Ada lagi. Harga selembar plastik juga bakalan naik. Karena cukai plastik diusulkan sebesar Rp 30.000 per kilogram, di mana untuk per lembar tarif cukai akan dikenakan Rp 200. Kalau plastik naik maka semua produk bahan baku platik juga naik. Termasuk minuman kemasan dan lain lain.

Cukup. Belum. Ada lagi. BPJS non PBI juga naik. Untuk Kelas 3: naik dari Rp25.500 menjadi Rp42.000 per jiwa; Kelas 2: naik dari Rp51.000 menjadi Rp110.000 per jiwa; Kelas 1: naik dari Rp80.000 menjadi Rp160.000 per jiwa.

Pertanyannya mengapa harga naik? Itu karena pendapatan negra drop akibat krisis global. Pendapatan negara setelah dikurangi pengeluaran, tidak termasuk bayar bunga dan cicilan, minus. Artinya negara harus berhutang untuk bayar hutang dan bunga.  Kalau engga, utang bisa gagal bayar. Lihat data ini. Hingga November 2019 penerimaan perpajakan mencapai Rp 1.312,4 triliun. Angka itu hanya mencapai 73,5% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2019 sebesar Rp 1.786,4 triliun. Dampak yang sedikit mengkawatirkan adalah membengkaknya keseimbangan primer mencapai 503% dari target APBN 2019 sebesar Rp. 20,11 Triliun. November tahun ini keseimbangan primer mencapai Rp 101,31 triliun. 

Makanya tahun ini pemerintah harus menambah utang lagi. Sampai akhir November tahun 2019 jumlahnya tembus Rp 4.814,31 triliun atau lebih tinggi dari posisi bulan sebelumnya yang mencapai Rp 4.756,13 triliun. Itu artinya tembus diatas 30% rasio utang terhadap PDB. Ini kali pertama selama Jokowi jadi Presiden. Bagi pasar uang yang selalu memantau performance APBN, melebarnya defisit primer ini akan memberikan sentimen negatif terhadap SBN. Karena utang tidak hanya dipakai untuk meningkatkan kemampuan fiskal saja tetapi juga dipakai untuk bayar utang. Pasar ingin tahu apa langkah yang akan dilakukan pemerintah menjaga keseimbangan primer. Kebijakan kenaikan harga adalah kebijakan pro pasar.  Artinya Jokowi sudah on tract. Rakyat yang harus bayar lewat kebijakan tarif dan pengurangan subsidi.

Nah, agar kebijakan kenaikan tarif dan pengurangan subsidi itu terasa adil, tolong juga jangan lagi ada kebijakan yang memboroskan uang rakyat seperti talangan atas kerugian Jiwasraya atau Asabri. Itu direksi BPJS janganlah minta tunjangan lebih dari Rp. 300 juta sebulan. Kasihan rakyat yang harus bayar iuran BPJS naik. Tolong juga jangan terlalu vulgar DPRD DKI bancakin uang APBD. Jagalah perasaan rakyat. Bagi rakyat, tolong juga jaga iklim politik tetap stabil. Agar Investasi China di proyek OBOR dapat terealisir segera sehingga bisa mendorong investasi dan mengamankan pertumbuhan ekonomi diatas inflasi. Investasi UEA dan IDFC juga sangat diharapkan agar ekonomi menggeliat.

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...