Saturday, June 11, 2016

Ahok dan Jokowi..


Ketika terjadi pertentangan keras antara keluarga Bani Abbas yang berkuasa dengan Bani Al bin Abi Thalip, semua orang harus membenci keluarga Ali Bin Abi Thalip demi memuaskan sang penguasa. Tapi Imam Syafii yang sedang berada di Yaman sebagai guru agama, dengan tegas mengatakan beliau mencintai keluarga Ali Bin Abi Thalip sebagimana beliau mencintai Rasul. Karena sikapnya itu beliau difitnah sebagai musuh negara. Beliau ditangkap. Dari Yaman beliau dibawa ke Baghdad dalam keadaan kaki dan tangannya dirantai. Murid pengikutinya sebanyak 9 orang dihukum pancung. Namun Imam Safii pada akhirnya dibebaskan dari hukuman karena tidak terbukti beliau berencana untuk makar kecuali memegang teguh prinsipnya mencintai keluarga Rasul.

Ketika  Khalifah Al Ma’mun mengadakan dokrinisasi kepada para ulama dengan mengatakan bahwa AL Quran itu adalah makhluk  dan harus diterima ini sebagai paham. Sama seperti sekarang penguasa yang memaksakan paham secular untuk menggantikan paham agama. Tapi Imam Hambali tidak mau tunduk kepada dokrin itu. Bagi beliau AL Quran adalah kalamullah , dengan tidak membawa manusia membicarakan apakah dia makhluk atau qadim. Filsafat jangan dicampur adukan dengan aqidah agama. Akibatnya beliau dimasukan kedalam penjara dengan tuduhan tidak taat  pada dokrin khalifah. Didalam penjara beliu dipaksa untuk tunduk. Disiksa dengan cemeti hingga mengalir darah disetiap tubuhnya. Namun beliau tidak pernah di kalahkan walau dalam keadaan kalah dihadapan penguasa.

Ketika Abu Bakar Bashir di tuduh di balik aksi teror, di pengadilan tidak satupun bukti dia terlibat kecuali di kait kaitkan oleh jaksa penuntut. Andaikan ABB mau merubah sikapnya terhadap keyakinannya beragama bahwa tegaknya syariah Islam adalah harga mati , tentu dia bisa bebas. Tapi dalam pembelaan pribadinya di hadapan majelis hakim dengan tegas dia mengatakan tak  akan merubah keyakinannya. Diapun di penjara seumur hidup. Nyoto yang tadinya di kenal sebagai tokoh PKI dan tersingkir dari elite PKI karena berbeda paham dengan Aidit, namun ketika di Mahmilub Militer walau dia bukan lagi elite PKI namun dia tetap membela sahabatnya. Dia gigih membela teman temannya dan akhirnya dia harus menerima hukuman mati. " Daun daun kering berguguran, untuk menumbuhkan daun daun muda yang segar. “ Sepenggal syair yang dibacakan oleh Nyoto  ketika menjemput hukuman mati dihadapan Mahmilub. Dia tersenyum menerima maut.

Para iman dan ulama , juga tokoh Politik yang berjuang untuk nilai agama dan idiologi sangat sadar pilihan hidupnya. Mereka tidak pragmatis. Mereka istiqamah tanpa ada rasa takut. Hidup mereka di wakafkan untuk nilai-nilai yang di perjuangkanya tanpa sedikitpun mereka menjual dirinya untuk kesenangan dunia, apalagi berkompromi demi keselamatan hidupnya. Setiap orang dimanapun posisinya haruslah punya pilihan hidup yang harus dia perjuangkan. Niat baik dari sikap hidup akan menuntunnya melihat dari tabir kegelapan. Sehingga menuntunnya untuk tetap konsisten tanpa rasa takut dan tidak terpancing menjual jiwanya untuk yang bukan di yakininya. Mungkin Ahok dan Jokowi bernasip lebih baik di bandingkan mereka yang berjuang dengan idealismenya di luar kekuasaan yang dengan mudah di kalahkan. Dengan kekuasaan di tangan, Ahok dan Jokowi menjadi corong kebenaran dari dalam kekuasaan, dan mereka konsisten memperjuangkan agendanya. Walau kita lihat para elite sibuk mengejar uang, jual-beli pengaruh, lewat lobi dan media, untuk menentukan siapa yang pantas duduk sebagai gubernur dan presiden. Apa yang salah dan patut disalahkan. Namun mereka berdua tetap dengan sikapnya tanpa ada rasa sangsi atau mungkin karena itu kekuasaan lepas.

Mengapa ? Politik, seperti halnya di ketahui adalah tragedi, tak akan punya arti tanpa kesangsian. Sebab kita membaca sejarah bagaimana kekuasaan meringkus semuanya. Apa yang istimewa dalam kekuasaan? Mengapa segala cara dikorbankan untuk mendapatkannya mempertahankannya? Akhirnya ada yang lebih destruktif ketimbang pembunuhan—yakni sejenis nihilisme, yang menegaskan bahwa kita tak perlu sangsi karena kita tak perlu nilai-nilai. Tak ada dorongan yang gigih untuk mempertahankan apa yang baik. Memang sulit mencapai keadilan dan sekaligus kebenaran yang di yakini. Bagi Ahok dan Jokowi berada di dalam kekuasaan maupun di luar adalah tidak mudah. Dihadapan system akan selalu keadilan itu subjectif sebagaimana kebenaran itu sendiri. Tidak akan pernah ada system yang sempurna, walau dengan tegas bahwa kebijakan penguasa tidak bisa di adili kecuali dia memperkaya diri karena kekuasaannya. ini semua scenario Allah untuk menguji manusia yang beriman agar tetap istiqamah dengan piliihan hidup yang di yakininya. Soal salah atau benar maka nanti di yaumul hisab setiap orang harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Tuhan. Tuhan lah sebaik baiknya hakim.

Karenanya kita tidak bisa dengan mudah mengadili sejarah mengapa sultan dari Bani Abbas harus menghukum iman safie dengan begitu keras padahal hanya soal beda keyakinan. Begitupula halnya dengan Khalifah Al Ma’mun yang tak bisa menerima dokrinnya di tolak oleh seorang ulama sekelas imam Hambali sekalipun. Begitu juga rezim reformasi tidak bisa menerima sikap dan keyakinan Abu Bakar Baasir terhadap system yang ada di Negara ini. Mungkin demokrasi adalah mengakui perbedaan namun perbedaan selalu yang menang adalah persepsi dari penguasa. Itulah sebabnya Nyoto sadar ketika PKI kalah maka persepsi dirinya terhadap PKI tidak perlu lagi dia perjuangkan tapi dia sendiri tidak mau di kalahkan dengan keadaan. Tapi kita bisa maklum bahwa kekuasaan memang punya cara sendiri untuk memaksa siapapun harus kalah. Namun kita di cerahkan oleh sebuah harapan dari sikap Jokowi dan Ahok bahwa perbedaan itu adalah keniscayaan, dan kekuasaan tidak selalu buruk dan tidak perlu ada tragedi selagi di jalankan dengan niat baik dan konsisten karena Tuhan.

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...