Sunday, January 12, 2014

Anas...

Ketika Anas menolak untuk datang dipanggil KPK, saya sedang di singapore meeting dengan relasi bisnis saya. Setelah meeting ,teman saya mengundang saya makan siang. Dia bekerja Perusahaan consultant Strategic di Singapore. Dia  mengatakan kepada saya bahwa sudah ada mapping  yang menyeluruh tentang perjuangan islam di Indonesia. Dari mana informasi itu? Tanya saya. Itu didapatnya dari the National Endowment for Democracy (NED). Apa itu NED? NED merupakan sebuah lembaga yang diinisiasi oleh pemerintah AS untuk memperkuat kelembagaan demokrasi di seluruh dunia melalui lembaga-lembaga swasta, dan LSM. Organisasi ini diberi mandat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur demokrasi di seluruh dunia. Sebagaimana tertuang dalam dokumen publik NED pada 1998 dengan judul Strengthening Democracy Abroad: The Role of the National Endowment for Democracy. Idiologi Islam sama dengan idiologi komunis  yang tidak menerima sistem demokrasi liberal. NED mengingatkan kepada seluruh kaki tangannya diseluru dunia bawa  Islam dan komunis merupakan musuh laten yang harus mereka singkirkan secara sistematis. Menurutnya Anas masuk dalam mapping perjuangan islam. Mengapa ? karena dia tokoh muda yang dibesarkan dari lingkungan agama yang taat sedari  usia dini. Dia fasih berbahasa Arab. Dia aktifis Islam yang beskala nasional dan disegani. Walau Anas masuk ke Partai Demokrat , bukan ke Partai berbendara Islam namun dia tetap dicurigai dan diawasi ketat oleh NED. Ketika dia terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dengan dukungan seluruh DPD dan DPC yang sebagian besar adalah aftifis HMI maka saat itu juga NED melalui kekuatannya memaksa agent nya untuk meng eliminate ANAS apapun ongkosnya.

Mengapa Anas harus di eliminate? Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama.Sedari SD sampai SMP dia sekolah di Madrasah.  Bakat kepemimpinannya nampak sejak SMP. Saat sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kunir, Blitar dia tercatat sebagai Sekretaris OSIS. Lalu menjadi Pengurus OSIS SMA Negeri Srengat, Blitar. Dari OSIS, Anas melangkah lebih jauh, memimpin organisasi kemahasiswaan berskala nasional, HMI. Posisinya di HMI bukan didapat dengan mudah. Semua tahu bahwa HMI adalah organisasi mahasiswa yang banyak melahirkan tokoh politik nasional. Sistem pendidikan politik dan kaderisasi yang berkompetisi dalam nafas perjuangan Islam interlektual, telah menempatkan HMI diperhitungkan sebagai pencipta elite nasional yang bergengsi. Kader HMI ada disemua Partai Politik, dan selalu bersinar dimanapun mereka berada. Dia adalah tokoh muda yang tampil bersinar ketika diawal reformasi. Dengan posisinya sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI) periode 1997-1998, dia aktif memberikan dorongan kepada mahasiwa untuk tampil digaris depan menjatuhkan rezim Orba. Soal kepribadian ,dia duplikat Nurcholish Madjid, santun penuh tolerant dan selalu bersikaf tenang dalam situasi kondisi apapun. Soal gaya politik, dia duplikat Akbar Tanjung. Diplomatis dan rendah hati serta olah kata yang sempurna. Kongres Bahasa Indonesia ke-9 yang digelar dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2008, ia terpilih sebagai satu satunya tokoh politik yang yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Intelektualitasnya  tak perlu diragukan. Beberapa buku berhasil ditulisnya Menuju Masyarakat Madani : Pilar dan Agenda Pembaruan(1997), Ranjau-Ranjau Reformasi: Potret Konflik Politik Pasca Jatuhnya Soeharto (1999), Jangan Mati Reformasi (1999).Melamar Demokrasi ( 2004), Islamo-demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid (2004), Pemilu Orang Biasa (2004) serta Menjemput Pemilu 2009. Kemarin ketika Anas keluar dari gedung KPK dengan seragam Jaket  Orange , teman saya seorang aktifis sempat berkata kepada saya bahwa dulu Anas berada digaris depan menjatuhkan Soeharto tapi kini dia dijatuhkan oleh penguasa yang dulu adalah perwira militer yang dididik dibawah dokrin Soeharto. Kesalahan terbesar Anas dalam berjuang adalah tidak memanfaatkan moment chaos politik 98 untuk tampilnya gerakan islam sebagai pemimpin perubahan. Berbeda dengan Mahmud Ahmadinejad yang ketika terjadi chaos politik menjatuhkan  Syah Reza Pahlavi, dia sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Iran tampil militan melahirkan revolusi dibawah bendera Islam dan menggusur semua mereka yang berhubungan dengan rezim penguasa syah Reza Pahlavi yang boneka AS. Ahmadinejad tidak percaya dengan tokoh ulama yang hidup nyaman dibawah rezim penguasa Syah. Dia percaya dengan Khomeini yang berada dipengasingan. Tapi Anas lebih percaya kepada tokoh islam yang dulu juga hidup senang dibawah rezim Soeharto. Mereka adalah seniornya yang menjadikannya sebagai follower politik konpromi yang bernama reformasi. Inilah awal dan akhir yang gagal. Benarlah, bukan hanya Anas, tapi semua tokoh Islam yang dulu tampil anyar diawal reformasi satu demi satu tenggelam dan dilupakan massa. Mereka memang pantas kalah karena sebuah kompromi menerima idiologi pragamatisme dengan demokrasi liberal sebagai sebuah sistem untuk jalan tegakknya nilai nilai Islam. Mereka lupa bahwa jalan yang salah akan sampai kepada tempat yang salah. Jalan yang benar akan sampai pada tujuan yang sebenarnya.

Anas akan bernasip sama dengan LHI. Walau keduanya berbeda wadah namun keduanya punya chemistry islam dan semangat untuk tegaknya nilai nilai islam. Mereka menjadi pesakitan karena proses peradilan dari lembaga yang lahir dari sistem demokrasi, yang mereka percaya. Berbeda dengan Abu Bakar Baashir yang memilih kalah tanpa pernah berkompromi. Dia dipenjara namun dia tetaplah penakluk, setidaknya penakluk dirinya sendiri untuk tidak menerima kompromi bila sudah menyangkut aqidah. Bagaimanapun Anas,LHI, ABB adalah korban dari sistem sekular yang punya platform ideology bahwa islam adalah enemy.Jangan kita larut terjebak opini media massa sehingga membenci mereka. Tugas kita mendoakan agar mereka tabah dan berharap setelah itu mereka menjadi petarung yang kokoh membawa bendera Islam. Ini pelajaran mahal bagi aktifis islam. Ingat kaum sekular tidak pernah percaya dengan anda dan tidak pernah setia kepada anda , dan tidak pernah akan memberikan kesempatan anda tampil dengan visi agama anda walau anda terpilih secara demokratis. Tapi selagi anda tetap dengan visi dan misi sekular,mereka juga tidak peduli bila kemana pergi anda pakai jubah dan berjidat hitam serta berjanggut panjang. Sekali anda berkompromi,pada saat itulah anda menjadi pecundang.

No comments:

Aksi Demo Penolakan UU Omnibus Law.

Hari ini demo menentang UU Omnibus Law berlangsung tidak tertip. Bahkan terkesan anarkis. Namun dalam kondisi terkendali oleh aparat keaman...