Monday, August 26, 2013

Nilai Rupiah...?

Di Hong Kong dan Singapore ada business yang tanpa riak namun dilakukan dalam jumlah miliaran dollar dengan keuntungan yang luar biasa dan tanpa resiko. Business ini dilalakukan secara diam diam , dan biasanya dibicarakan di financial club oleh segelintir pemain namun pelaksanaan tekhnisnya oleh fund manager berkelas dunia,seperti JP Morgant, Goldman Sachs , dll.  Apa business itu ? Business itu adalah investasi pada pasar uang dan modal di Negara emerging market seperti Indonesia,dimana tingkat yieldnya lebih tinggi dibandingkan di AS. Dana investasi berasal dari AS yang bersuku bunga sangat rendah akibat kebijakan stimulus ekonomi melalui QE.  Tentu dana ini tidak langsung masuk ke SBI dan SUN. Tapi berbelok dulu ke Bursa Saham. Maklum transaksi bursa tidak membutuhkan underlying transaction. Antar dealer dibelahan dunia manapun bisa melakukan interaksi dana masuk dan keluar secara bebas. Setelah dana masuk ke bursa maka kemudian secara terprogram akan pula masuk ke Pasar Uang Indonesia. Dana ini akan bolak balik , Bursa Efek dan Pasar uang.  Karenanya membuat bursa ( Pasar modal dan Pasar uang ) di Indonesia semakin bergairah. Dari kegiatan inilah para pemain dana QE yang membanjir wilayah emerging market seperti Indonesia menikmati laba tanpa kerja keras. Dampaknya Index Bursa naik dan rupiah semakin menguat karena semakin diburu oleh investor.

Pada tahun tahun itu  acap terdengar ungkapan bangga para elite politik tentang kehebatan Ekonomi Indonesia yang mampu perkasa ditengah badai krisis global. Negara lain mencatat pertumbuhan ekonomi rendah bahkan ada yang minus, Indonesia bersama China masih positip , bahkan masih diatas 4 % Anggota DPR . Bahkan Pak Hatta Rajasa dan Chairul Tanjung bermimpi bahwa dimasa datang Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi  nomor 5 didunia. Sebetulnya pejabat itu sedang bekerja untuk dan atas nama pemain dana QE. Mereka sedang menggoreng situasi dan membangun opini agar Pemerintah terus menerapkan kebijakan suku bunga tinggi agar hot money terus masuk kedalam negeri untuk menguntungkan para pemain itu. Walau belum ada pengumuman resmi dari the FED namun sinyal akan berakhir program stimulus itu sudah dibaca oleh pasar. Makanya sejak akhir kwartal pertama tahun 2013 , dana asing mulai mengalir keluar walau tidak besar namun terjadi capital outflow secara terprogram dan pasti. Pasar terus bergerak menekan dan mata uangpun semakin tertekan terhadap US Dollar.Keadaan ini dihadapi oleh pemerindah melalui bank central dengan melakukan intervensi pasar. Mengapa? Karena memang tidak ada kepastian kapan program stimulus ekonomi AS akan berakhir. TIdak ada yang tahu. 

Waktu bertemu dengan teman Dealer Emas di Hong Kong, dia mengatakan bahwa sejak bulan May, Juni, July, bank central Negara emerging market telah kehilangan dana cadang ( cadangan devisa ) sebesar USD 80 billion untuk menahan kejatuhan mata uangnya melalui intervensi pasar. Indonesia kehilangan  ( rugi ) 13,6 % , Turki kehilangan 12,7%, Ukraina kehilangan  10%, India dan Negara lainnya kehilangan devisa sebesar 5%. Hanya china yang sangat kecil yaitu 2% namun Rusia tidak terpengaruh sama sekali karena kebijakan yang ketat serta surplus perdagangan yang besar membuat mata uang dan bursa Rusia tetap aman. Kalau pasar terus dilawan , dipastikan devisa akan habis. Itulah ongkos menutupi borok walau sudah berusaha keras namun aroma busuk tidak bisa lagi ditutupi. Dan ini sudah dibaca oleh otoritas moneter bahwa Pasar sudah mengetahui keadaan ekonomi sebenarnya. Bahwa fundamental Negara emerging market seperti India, Turki dan Indonesia tidaklah sekuat yang dibayangkan. Selama ini mata uang tersebut perkasa karena dukungan likuiditas program stilmulus ekonomi AS lewat QE. Dan ketika bulan Juni the FED mengumumkan akan berakhirnya stimulus ekonomi desember 2013 maka pemerintah memilih surrender dari pasar. Membiarkan pasar berbuat sesukanya karena hanya soal waktu kekuatan pasar AS akan mampu menarik kembali dana yang parkir diwilayah emerging market termasuk Indonesia.

Menguatnya rupiah dan melemahnya rupiah karena pasar. Dulu ketika rupiah perkasa, tidak ada satupun otoritas berkata bahwa rupiah stabil  karena spekulan. Tapi ketika rupiah jatuh Elite politik menuduh ini ulah spekulan seperti ungkapan Harry Azhar Azis Wakil ketua Fraksi Golkar.  Sebetulnya apa yang terjadi saat ini adalah bekerjanya hokum pasar.  Tidak peduli siapapun termasuk AS , Eropa harus mengakui bahwa mereka tidak bisa mendikte pasar. Pasar bekerja dengan caranya sendiri. Kejatuhan mata uang rupiah karena tingkat  depresiasi rupiah yang relatif rendah selama ini yang berada di bawah nilai tukar nyatanya, menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. Disamping itu kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah, dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor akibat kebijakan proteksi industri yang negatif. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal, sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik, maka defisit perdagangan dan pembayaran terjadilah.

Memang selagi capital inflow  dalam valuta asing ( khususnya dollar AS) terus berlansung , overvalued  mata uang tidak berpengaruh negative karena negara punya cadangan devisa besar untuk mengintervensi pasar tapi ketika terjadi capital outflow yang deras seperti sekarang ini maka lambat namun pasti proses itu membuka borok yang selama ini disembunyikan rapat oleh pemerintah Apa itu ? inflasi yang samakin sulit dikendalikan. Inflasi inilah yang membuat pasar bertindak cepat melakukan auto corrected terhadap mata uang yang memang sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan, tapi itu akan berhenti dengan sendirinya pada titik keseimbangan demand and supply (Equilibrium ).  Berapakah nilai rupiah setelah sampai pada titik Equilibrium? kita akan lihat nanti. Siap siaplah untuk bekerja keras dan hidup hemat karena pesta sudah usai.

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...