Saturday, July 6, 2013

Bangsa Konsumen


Menurut riset The Boston Consulting Group tahun lalu tingkat optimisme konsumen di Indonesia tertinggi di dunia, di antara negara-negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat saat ini, yakni Brazil, Rusia, India, dan China. Tingkat optimisme tersebut diukur dari keyakinan akan keadaan finansial konsumen kelas menengah ke atas (middle and affluent consumers). Tahun ini hasil  survey Nielsen menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara dengan Indeks Kepercayaan Konsumen tertinggi di dunia, mengalahkan India. Apa artinya ini ? Daya beli orang Indonesia sangat tinggi. Inilah berkat dari pertumbuhan ekonomi selama era SBY. Semua merek asing ada di Indonesia. Kendaraan mewah diatas Rp. 5 miliar ada dijalanan Jakarta. Apartement mewah diatas Rp. 10 miliar juga ada. Life style dari luar negeri masuk bebas ke Indonesia dan diadobsi dengan rakus oleh orang Indonesia. Setiap konser musik dari luar negeri diadakan di Indonesia , tidak penting berapa harga ticket akan selalu habis terjual. Setiap model baru hp di louncing , selalu ramai antrian orang membeli. Memang tidak banyak orang Indonesia yang mempunyai kebebasan financial untuk membeli apa saja. Mereka hanya segelintir tapi kekuatan konsumsinya mengalahkan seluruh warga dari negara maju.

Yang membedakan antara orang Indonesia dan asing  adalah ketika dia berbelanja. Orang Indonesia kalau suda pegang duit dia lupa indentitasnya sebagai orang Indonesia yang harus mengutamakan buatan Indonesia seperti Jepang yang lebih percaya dengan merek made in Japan. Semua produk asing dianggap produk terbaik dengan reputasi terbaik pula. Buatan indonesia dianggapnya berkualitas rendah dan selera rendah. Ini bukan hanya dimonopoli oleh rakyat yang doyan belanja. Para elite politik  juga lebih percaya draft RUU bila mengcopy dari luar negeri untuk diterapkan di Indonesia.Singkatnya segala sesuatu yang bersumber dari asing adalah terbaik.Nasionalisme yang dulu pernah membuat orang rela mati bela negara ,kini telah digantikan maju tak gentar  membela yang bayar. Bila globalisasi bertujuan menciptakan negara dunia tanpa dihambat oleh indentitas negara dan bangsa maka Indonesia telah lebih dulu menjadi bagian itu.Kebanggaan sebagai orang indonesia tidak ada lagi sejak para wanita miskin Indonesia menjadi jongos dinegeri orang, menjadi PSK dinegeri orang.Hal inilah yang membuat pemerintah begitu yakin pragmatisme politik sesuatu yang baik. Jangan ada lagi idiologi membuat Indonesia hanya dimiliki oleh orang Indonesia saja. Semua penduduk dunia punya hak memanfaatkan potensi Indonesia, dan menikmati laba dari itu.

Itu sebabnya design pembangunan tidak pernah diarahkan untuk lahirnya kemandirian bangsa akan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri. Cobalah bayangkan, kata teman periset di Hong Kong, Indonesia merupakan negara yang menjadi target arus dana dari negara maju akibat kebijakan suku bunga rendah paska krisis global. Mengapa? Ya karena tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipicu oleh kekuatan konsumsi dalam negeri. Tapi peluang hebat ini, tidak dimanfaatkan maksimal oleh Indonesia untuk tumbuhnya sektor riil. Pemerintah membiarkan kesempatan itu pergi begitu saja. Sementara banjirnya likuditas itu hanya berputar putar pada produk financial market seperti obligasi dan saham. Mengapa investasi di sektor riel tidak begitu antusias seperti maney market? penyebabnya adalah walau upah buruh di Indonesia tergolong murah namun untuk menghasilkan produk yang efisien sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh minimnya infrastruktur ekonomi untuk distribusi barang dan jasa , amburadulnya system logistik karena aparat yang korup. Suku bunga yang tinggi. Dan akibatnya bagi pengusaha, lebih baik impor untuk memenuhi peluang konsumsi dalam negeri daripada buat sendiri. Apalagi Menteri Perdagangan punya visi lebih baik impor dengan harga murah daripada mahal buatan lokal.

Indikasi tingginya daya beli masyarakat Indonesia yang tidak menimbulkan gairah investasi untuk terbangunnya sektor rill memang sangat membingungkan logika ekonomi. Namun itu dapat dijelaskan oleh teman saya periset di Shanghai. Dia mengatakan bahwa tingginya konsumsi di Indonesia berasal dari  kelompok menengah yang jumlahnya tidak lebih 2% dari penduduk Indonesia. Mereka bukan konsumen solid. Tingkat ketergantungan mereka kepada pemerintah sangat tinggi. Karena sebagian besar pendapatan mereka didukung oleh kebijakan korup negara, bukan oleh kreatifitas value yang memungkinkan mereka sebagai agent pembangunan.Bukan!. Kelompok konsumen seperti ini sangat renta.  Bila rezim ini roboh karena supply dana ke APBN lewat berhutang semakin sulit seperti Amerika, maka mereka bukan lagi sebagai konsumen. Karena tidak ada lagi uang untuk belanja. Ya, pasar Indonesia hanyalah pasar temporari yang tidak bisa dijadikan acuan untuk investasi pabrik jangka panjang. Impor adalah lebih layak. Makanya jangan kaget bila tingginya pertumbuhan ekonomi tidak diringi geliat industri dan manufaktur tumbuh seperti tumbuhnya mall di Jakarta dan kota kota besar di Indonesia. Sayang kesempatan emas telah lewat. Inilah nasip, bila negara diurus oleh mereka yang bermental jongos dan korup. Kedepan Indonesia akan menghadapi kelangkaan likuiditas dan semakin tingginya defisit neraca perdagangan karena tingginya konsumsi namun rendah produksi. Memang sudah sepatutnya Indonesia punya pemimpin visioner untuk kemandirian bangsa dan bermartabat secara international. Mungkinkah?

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...