Monday, November 12, 2012

Guangzie


Sambil menunggu jadwal pertemuan dengan pejabat di Beijing , teman mengajak saya untuk melakukan kunjungan bisnis ke Guangxie. Pertama kali menginjakan kaki di  Nanning WUXU International Airport, saya sempat terkejut. Karena sangat jauh berbeda suasananya 8 tahun lalu ketika kali pertama saya mengunjungi Nanning. Teman yang menjemput saya di bandara, mengatakan bahwa pusat kota sudah berpindah 100 KM dari Airport. Perjalanan dari Bandara ke Nanning City terasa nyaman diatas  jalan bebas hambatan yang di rancang dengan kualitas terbaik. Sebetulnya tersedia juga jalur kereta api yang modern untuk public. Memasuki gerbang kota, saya tidak lagi melhat Nanning seperti delapan tahun lalu. Gedung pencakar langit bertebaran dimana mana. Nampak disana sini pembangunan gedung jangkung terus berlangsung. Teman saya yang mendampingi saya selama dalam kunjungan itu mengatakan bahwa Guangzie  dipersiapkan oleh pemerintah Pusat ( Beijing ) sebagai gerbang menjangkau ASEAN dalam kuridor CHINA –ASEAN cooperation. Artinya persiapan China untuk kerjasama ASEAN bukan hanya diatas kertas tapi memang by design.

Pilihan menjadikan Guangzie sebagai gerbang ASEAN didasarkan kepada letak geographisnya yang dekat dengan Negara ASEAN, khususnya kota Qinzhou yang berada diselatan Guangzie. Qinzhou sendiri adalah kota khusus yang merupakan bagian dari kota Nanning. Jadi seperti kota satelit. Dikota QInzhou inilah sedang dibangun project ambisisius yaitu FREE TRADE ZONE. Kawasan itu telah dilengkapi dengan infrastruktur ekonomi kelas 1, yang meliputi Jalan Toll, kereta, pelabuhan laut berstandard International, Bandara International, Pusat Riset berkelas dunia, IT Network, water supply yang didukung oleh 395 resevoar  dengan kapasitas 790 juta meter kubik , Listrik yang berkapasitas 1200 MW. Dari ketersediaan insfrastruktur ini diharapkan akan mengundang partisipasi Negara negara ASEAN untuk membangun kawasan Industri dalam kuridor kerjasama CHINA- ASEAN. Namun yang pertama kali memanfaatkan kawasan ini untuk wahana investasi jangka panjang adalah pihak pengusaha China. Hampir semua industry dan manufacture yang mempunya target pasar Negara ASEAN telah mendirikan pabrik di kawasan ini.

Pada saat sekarang yang sedang dibangun dan akan terus dikembangkan adalah Qinzhou Port Economi and Technological Development Zone ( luas 50 KM2), Guangzie Qinzhou Free Trade Port Area ( luas 10 KM2) ,Hedong Industrial Zone of Qinzhou ( luas 40 KM2), Qinzhou High and New Technology Industrial Development Zone (44 KM2) , Qinzhou Imported Resources Processing District (luas  10 KM2). Ini belum termasuk kawasan yang dipesiapkan untuk ditempati oleh seluruh Negara ASEAN termasuk Indonesia. Komposisi lahan itu berorientasi kepada lingkungan hidup. Hanya 42% lahan digunakan untuk industry dan komersial, 22 % untuk perumahan dan sisanya adalah kawasan hijau. Kalau masing masing kawasan itu diperkirakan populasi sebesar 500,000 maka seluruh kawasan di Qinzhou itu akan menampung sebanyak lebih kurang 8 juta orang. Derivative dari pengembangan wilayah  Qinzhou berorientasi kepada pengembangan potensi UKM yang merupakan mayoritas pengusaha china. Makanya setiap kawasan harus menerapkan konsep keharmonian dan pengembangan potensi SME ( small medium enterprises )

Keunggulan China dibidang ekonomi bukanlah untuk  menjadi donator atau lender yang mendikte ASEAN seperti kerjasama dengan Jepang dan AS tapi lebih kepada kemitraan dibidang produksi ( sector riel). Saat sekarang telah dibangun Industrial Park China –Malaysia di Qinzhou dengan luas 55 KM2. Pada waktu bersamaan China juga membangun Kawasan Industri China-Malaysia di Kuantan-Malaysia. Atas dasar kuridor CHINA- ASEAN cooperation tersebut masing masing Negara tunduk terhadap butir butir kesepakatan yang meliputi bidang perpajakan, perdagangan, investasi, pariwisata dan telekomunkasi. Sekat antar Negara telah diminimize agar terjadi kemitraan yang luas untuk saling menguntungkan. Di masing masing Kawasan baik di China maupun di Malaysia akan terjadi hubungan kemitraan antar pengusaha, baik dibidang tekhnologi,  produksi, pemasaran , logistic dan lain lain. Ini belum lagi dampak dari terlibatnya mitra international masing masing pengusaha yang berasal dari manca Negara, yang tentu akan memperluas keunggulan kawasan ini dan sekaligus memberikan dampak berganda bagi rakyat masing masing Negara.

China –ASEAN berlaku efektif tahun 2010 dan kita masih berwacana tapi China dan Negara ASEAN lainnya telah mempersiapkannya by design sejak 2004 kesepakatan itu ditandatangani. Menurut pejabat di Qinzhou yang saya temui bahwa saat sekarang sedang ada perundingan intensip dengan pemerintah Thailand yang juga berminat membangun kawasan industry di Qinzhou dan tentu China akan membangun juga kawasan industry di Thailand. Bagaimana dengan Indonesia ? tanya saya. Pejabat itu berkata bahwa satu satunya Negara ASEAN yang sangat ditunggu oleh China untuk ambil bagian dalam kerjasama konkrit dibidang manufactur dan industry adalah Indonesia. Mengapa? Karena nilai perdagangan Indonesia –China termasuk yang terbesar dibandingkan Negara ASEAN lainnya. Tapi, memang sangat sulit mendapatkan komitment dari pemerintah Indonesia. Karena system yang ada di Indonesia memang tidak mudah merealisasikan visi besar yang berspektrum jauh kedepan. Kami selalu menunggu..kata pejabat itu.

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...