Wednesday, May 16, 2012

Lady Gaga

Pada usia empat tahun Lady Gaga sudah belajar Piano. Dia memang menyukai music dari sejak usia dini. Namun jalan untuk meraih sukses tidak semudah membalikan telapak tangan. Madonna tampil hebat dan memukau panggung dunia selebritis karena memang diawali sebagai penari professiona dan termasuk unggulan dalam American Idol. Lady Gaga bukanlah tandingan Madonna soal itu. Itu sebabnya ketika dia tampil di Bar dikota NY yang banyak dipenuhi oleh Mahasiswa mabuk, penampilan panggungnnya malah diejek. Dia sampai muak dengan mengandalkan oleh vocal dan piano. Namun ketika dia melepas pakaian luarnya dan hanya menggunakan pakaian dalam, seketika semua orang terpesona dan melihatnya. Pada saat itulah dia sadar tentang cara terbaik untuk dihargai diatas panggung “'Whoa!' Yeah, you're looking at me now, huh?' " Selanjutnya dari satu Bar ke Bar berikutnya Lady Gaga mempertahankan cara penampilannya dipanggung dan penonton dengan antusias melihatnya. 

Mungkin gaya penampilan Lady Gaga itu mengundang Industri music di AS untuk melakukan study riset terhadap minat public terhadap music. Apakah fenomena Madonna dan lebih lagi Lady Gaga yang mengkombinasikan penampilan dan syair yang amoral pantas dijual secara massal untuk mendatangkan laba ? Ternyata hasil riset membuktikan kebenaran itu. Bahwa public memang sedang menyukai tampilan moral rendah itu. Dalam dunia kapitalis apapun selagi mendatangkan uang maka layak untuk dijual. Karena itu Industry hiburan AS menjadikan Lady Gaga sebagai icon untuk memasarkan selera rendah itu keseluruh dunia. Tidak butuh lama, tidak butuh karir berjenjang untuk menjadi selebritis kelas dunia, Lady Gaga langsung menjadi terkenal setelah berada dalam system pengelolaan business hiburan AS. Tahun 2010 saja, nilai konser Lady Gaga sudah mencapai USD 233 juta. Ini tidak termasuk keping CD yang terjual serta penjualan media promosi lainnya. Dan tahun berikutnya terus meningkat berlipat. Jadi ini business multi billion dollar. 

BIla sudah menjadi sebuah business maka Lady Gaga adalah industry yang terorganisir dengan baik dan didukung oleh resource yang kuat. Lady Gaga group sadar bahwa business mereka akan mendapatkan restriction dari banyak Negara dan tentu mereka telah melengkapinya dengan kekuatan loby politik agar berperan efektif untuk meloloskan setiap acara konser nya. Para ahli dibidang moral dan agama , tentu didekati. Para elite politik , juga tentu didekati. Para pengamat dan aktifis tak lepas dari upaya loby mereka. Sudah bisa ditebak setiap upaya loby itu tidak ada yang gratis. Semua ada harganya dan uang ditebar kemana mana. Semua sudah diperhitungkan untung ruginya. Para segelintir orang yang dibayar itulah yang tampil menjadi pembela dengan menggunakan jargon demokratisasi, hak kebebasan berekspresi, HAM dan lain sebagainya. Lihatlah mereka bicara dalam membela Lady Gaga, dan yakinlah mereka tidak sedang berbicara atas nilai nilai demokrasi tapi bicara soal uang disekitar selangkangan Lady Gaga. 

Bagi Lady Gaga group, agama dicemoohkan, ketulusan cinta adalah free sex. Tatanan moral dijungkir balikan begitu saja. Ini business. Titik. Tidak ada yang berhak melarang modal bekerja untuk mendatangkan laba berlipat. Samahalnya tidak ada yang boleh melarang kebebasan pasar ala wall street walau kebebasan itu penuh dengan keculasan menjungkir balikan idealism ekonomi tentang pertumbuhan dan keseimbangan. BIla Wallstreet akhirnya tumbang dan meninggalkan luka dalam bagi follower maka Lady Gaga Group hanya soal waktu akan menjadi ledakan krisis bagi umat. Bukan krisis moneter tapi ledakan krisis moral. Bila ledakan krisis moral ini terjadi maka tak ada satupun kepintaran manusia mampu memperbaikinya. Pada momen ini, manusia sudah menjadi hewan dan bahkan lebih rendah dari hewan. Kerjaannya hanya akan merusak dimuka bumi,seperti yang dikawatirkan oleh Malaikat ketika Adam diciptakan oleh Allah. 

Itulah sebabnya ormas Islam yang masih sadar akan tanggung jawab pembangunan umat dalam sebuah Negara dan bangsa , berusaha untuk membendung sahwat Lady Gaga dan groupnya di Indonesia untuk tampil. Upaya ormas islam berusaha melindungi umat dari segala pengaruh buruk tak lain merupakan semangat untuk meninggikan kalimat Allah untuk kebaikan, kebenaran dan keadilan. Kelihatannya pemerintah ( polisi ) menyadari akan hal ini bahwa pembangunan moral adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah dan melarang Lady Gaga, adalah kebijakan yang dibenarkan oleh hukum. Bagi pembela Lady Gaga maka mereka tak ubahnya dengan komunis yang anti tuhan hanya saja mereka tak mau disebut komunis.

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...