Friday, February 25, 2011

Tujuan....

Uang adalah uang. Pada sosialisme uang adalah alat kekuasan mengendalikan kerumunan orang banyak untuk berkiblat pada satu bendera Partai. Pada kapitalisme , uang adalah alat untuk orang banyak berbaris tertip didepan mandor menerima upah. Sosialisme memaknai uang sebagai cara menipu rakyat lewat subsidi. Kapitalisme memaknai uang sebagai cara menipu konsumen lewat marketing mix. Walau caranya berbeda memaknai uang namun tetaplah uang sebagai alat kekuasaan. Lantas apa jadinya bila sosialisme dan kapitalisme berkonspirasi. Disebelah sana sosialime diusung untuk memastikan orang ramai datang kepada bendera Partai dan disisi lain kapitalisme di usung untuk membujuk investor datang membawa uang. Teman saya di China pernah mengatakan bahwa kesalahan terbesar china paska Mao adalah membuat sosialisme bersenggema dengan kapitalisme.

Sosialisme dan kapitalisme, dua duanya sudah jelas predator dan bayangkanlah bila sang predator berkumpul ? sendiri saja sudah mimpi buruk apalagi kalau temenan. Demikian teman saya menyimpulkan. Betapa tidak?. China yang sosialis komunis sangat takut inflasi namun kini mulai meradang karena inflasi yang sulit dikendalikan. Inflasi bagaikan kudis ditubuh. Sekali digaruk memang enak namun lama kelamaan ia tetaplah penyakit ditubuh. Tak sedap dipandang dan juga tak sedap aromanya. Namun inflasi tak bisa dihindarkan sebagai ” cara” hebat menipu rakyat untuk berproduksi dan sekaligus cara hebat merampok. Ini teori akhir zaman yang dihalalkan. Buah kapitalisme. Itulah sebabnya Amerika marah besar ketika china menolak kurs bebas ( floating rate ), karena kemajuan China tak lain karena penipuan smart untuk menggiring ratusan juta rakyat berproduksi.

China memang smart, menurut teman tapi bagi saya tepatnya adalah culas. Mereka menggunakan sosialisme untuk propaganda kekuasaan agar tetap kekal dan dalam waktu bersamaan menjadikan kapitalisme untuk menipu rakyat dan juga dunia luar. Ketika orang luar marah soal management mata uang yang brengsek , china berkelit soal perlunya sosialisme komunisme menjaga stabilitas harga dan kurs. Teman saya sempat berkata soal ini ” Ibarat wanita yang lemah yang mudah ditaklukan dan dilupakan namun sekali dirangkul justru lebih banyak pria yang lupa akal sehat.” Begitulah perumpamaan ketika pria mencoba merangkul wanita, ketika kapitalisme mencoba merangkul sosialisme. Mungkin yang cocok untuk idiologi china adalah bukan sosialis komunis , bukan kapitalsi tapi pragmatis. Tidak ada sesungguhnya kapitalis dan juga tak sesungguhnya sosialis.

Sukses china dalam pragmatisme , menimbulkan inspirasi hebat bagi Obama untuk menerapkan konsep ekonomi pragmatis. Kini kebijakan Amerika , tentu juga Indonesia dibidang Ekonomi tak ubahnya dengan China. Sebagaimana legenda perkawinan yang didasarkan kepada kepentingan pribadi , maka perkawinan sosialis dan kapitalis bukanlah cara untuk lahirnya kebahagiaan. Tapi cara yang sangat melelahkan dalam kompromi yang tiada akhir dan pasti akan berujung kepada perceraian. Hanya soal waktu. Bila perpisahan terjadi pasti menimbulkan luka. Yanga korban adalah anak. Sang ibu menyalahkan ayah yang brengsek. Dan si bapak juga menyalahkan si Ibu yang binal dan boros. Namun yang pasti perpisahan terjadi, prahara datang, penderitaanpun tak terelakan bagi anak anak. Itulah yang kini dirasakan oleh Mesir, Tunisia, Libia, dan lainnya Yang berharap perpisahan membuahkan kebahagiaan tapi apa yang bisa diharapkan oleh sang anak? Bila ayah dan ibunya dua duanya adalah predator ? Ikut ibu atau atau ayah sama saja

Islam tidak menawarkan konsep ekonomi sebagai solusi tapi akhlak sebagia solusi membangun peradaban. Pada Islam, harta bukanlah milik manusia tapi milik Allah. Dari sini islam mengatakan dengan tegas bahwa uang adalah alat bukan tujuan. Uang adalah alat untuk beribadah kepada Allah. Tujuannya adalah mencintai Allah. Dari prinsip inilah konsep Ekonomi dan Sosial islam dibangun berdasarkan syariat yang ditetapkan oleh Allah dan diajarkan oleh Rasul. Princip inilah yang ditentang habis oleh sosialis mapun kapitalis yang percaya bahwa uang dan harta adalah alat untuk mempertahankan kekuasaan pribadi , kelompok., bukan mencari keridhoan Allah. Kasihan anak ( rakyat ) yang menderita karena salah bunda mengandung atau bukan salah bunda mengandung ?

No comments:

Aksi Demo Penolakan UU Omnibus Law.

Hari ini demo menentang UU Omnibus Law berlangsung tidak tertip. Bahkan terkesan anarkis. Namun dalam kondisi terkendali oleh aparat keaman...