Friday, April 3, 2009

Catatan dari London

China mulai tak lagi melihat Dollar AS sebagai mata uang yang dapat diandalkan untuk menjaga stabilitas keuangan global. Rusian bersama Francis juga menganggap hal yang sama. Tiga negara ini termasuk pemain kunci dalam keuangan global dan juga politik. Inilah yang mengemuka menjadikan pertemuan tingkat tinggi pejabat G20 di London. Sejarah mencatat bahwa peristiwa krisis seperti ini hanya berlangsung paling lama 17 bulan tapi , keadaan ini suidah berlangsung lebih 17 bulan. Bahkan keadaan ekonomi dunia sekamin tidak menentu kearah perbaikan.

Resep ekonomi yang ditawarkan oleh AS , ternyata gagal memperbaiki system pasar modal maupun pasar uang. Terbukti transaksi Tbill melemah , juga Wall streen jatuh. Kekeringan likuiditas terjadi dimana mana. Bukan hanya sector pasar uang tapi juga sector riel sudah kehilangan resource untuk bergerak. Kalaupun ada maka costly. Keadaan ini sudah menjadi krisis structural dan memangkas jumlah pekerja efektif disemua sector. Ini semua karena US dollar sebagai mata uang utama dunia untuk melancarkan arus uang kehilangan kepercayaan.

Uang adalah kepercayaan. Didalamnya ada system yang mengatur lalulintas. AS memang mempunyai apa yang disebut dengan the fed system. Yang terdiri dari FED, Clearstream, DTCC , Wallstreet, dan lain sebagai. Semua itu bergerak sebagai lembaga kapitalis yang menjadi outsourcing dari US treasury untuk menjaga stabilitas pasar uang global. Keberadaan US dollar sebagai mata uang dunia bukanlah atas kemauan negara negara didunia tapi disebabkan oleh keterpaksaan sejarah karena perang dan kekuasaan AS yang begitu luas. Berjalannya waktu, kini AS sendiri dimakan oleh kekuasaan itu sendiri. AS begitu yakin dengan ambisinya untuk menguasai dunia dalam program “ New Worlds “ dengan berbagai aplikasi Neoliberal disegala sector, telah membuat systemnya bergerak liar dan akhirnya membunuh wargannya sendiri, dan tentu juga warga dunia.

Kenyataan yang ada tesebut diatas, yang menjadi keprihatinan negara negara didunia khususnya G20. Sebuah kenyataan terbentang didepan mata. Tentu solusinyapun harus melihat kenyataan tersebut diatas. Kehendak AS yang membutakan diri terhadap realitas dengan memaksa negara G20 memotori stimulus ekonomi dengan tujuan menggerakan konsumsi negara terhadap barang modal agar produksi dunia terserap , ternyata bertolak belakang dengan kebijakan dalam negeri AS yang melakukan proteksi terhadap barang modal dalam negeri. Kehendak AS untuk menjaga kepercayaan perbankan dunia melalui bail out surat hutang yang gagal bayar , juga bertolak belakang dengan kebijakan dalam negeri AS yang justru menimbulkan ketidak percayaan pasar. Semua yang ditawarkan oleh AS dalam G20 adalah sebuah paradox.

Tak akan ada penyelesaian menyeluruh untuk memperbaiki keuangan global selagi AS tetap memaksakan system keuangan global yang ada. Krisis yang terjadi sekarang karena gagalnya Authoritas AS menjagai stabilitas pasar , dan ini semua dikarenakan system yang sudah terlanjur salah. Penyelesaiannya hanya dengan reformasi total terhadap system. IMF dan Worldbank harus direformasi. AS harus bersedia menghilangkan hegemonynya di IMF dan Worldbank , kalau ingin beban krisis global menjadi tanggungan negara didunia berdasarkan jumlah cadangan devisa dollar yang ada. Adalah tidak adil bila memaksa beban crisis global dialihkan kepada negara yang memiliki cadangan dollar sementara AS tetap ingin mengontrol system.

Disisi lain , program recovery perbankan melalui IMF yang memakan anggaran sebesar USD 2 trilion dollar sangat menyinggung perasaan negara negara miskin yang terlilit hutang akibat system kapitalisme AS. Mengapa kepada mereka juga tidak dilakukan recovery. Apakah menyelamatkan nasabah kaya yang hanya segelintir lebih penting daripada menyelamatkan nasip miliaran rakyat dinegara miskin ?

Dari pertemuan G20, kita menyaksikan sekali lagi arogansi kekuasaan AS. Tak ada jalan lain kecuali negara negara didunia mulai berpikir untuk berjalan sendiri meninggalkan AS dengan kepongahannya. Itulah sebabnya usulan China untuk membentuk ASIA currency seperti Euro adalah solusi yang tepat. Begitupula dengan Rusia yang ingin meniru langkah Eropa Barat untuk membentuk mata uang tunggal Eropa timur. Hanya dalam pertemuan G20 , kita tidak mendengar suara dari negara Islam mengusulkan hal yang sama, Keliatannya negara islam sebagian bersar masih begitu percaya dengan AS walau AS tidak pernah percaya dengan Islam…

No comments:

Aksi Demo Penolakan UU Omnibus Law.

Hari ini demo menentang UU Omnibus Law berlangsung tidak tertip. Bahkan terkesan anarkis. Namun dalam kondisi terkendali oleh aparat keaman...