Sunday, April 12, 2009

Ketidakpastian

Amrozi, hanyalah sebuah nama. Tapi menjadi berita politik menjelang pemilu karna namanya terdaftar sebagai pemilih tetap. Orang tersentak dan juga tertawa. Melihat dan mencermati sebuah dagelan dibalik panggung birokrasi yang brengsek. Kemuudian ada banyak sekali nama lain yang bermunculan. Semuanya hanyalah nama tanpa phisik sebagai orang yang berhak memilik dalam pemilu. Disisi lain juga ada yang sesungguhnya penduduk tapi tanpa nama dihadapan negera. Merekapun tak berhaak menunaikan hak politiknya dalam Pemilu. Akhirnya sebuah tontonan berakhir ketika ada yang menang. Lantas apa arti kemenangan dibalik perampasan hak politik penduduk. Adakah kehormatan sama dengan kemenangan ?

Kemenangan bukanlah rangkaian makna yang datang dari langit dan selesai sebelum subuh. Kemenangan repliksi tentang sebuah kemapanan organisasi / individu mengurus dirinya sendiri, apalagi dalam sebuah demokrasi. Ajang demokrasi , pada hari ini memberikan bukti terbaik bahwa sebuah kemenangan yang diterima oleh sebuah komunitas adalah sesuatu yang ditolerir, dan bukan sebuah kemenangan yang disetujui oleh semua orang. Tak jauh bedanya dengan kemenangan dalam system demokrasi terkendali atau apalah , yang bertujuan untuk mengekalkan tiran.

Masalahnya kemudian bagaimana proses penerimaan itu terjadi? Dunia akan merupakan tempat yang menentramkan hati seandainya kita yakin bahwa akal sehat menjadi pemenang. Namun apa yang dapat diperbuat oleh kita semua. Ketika sebuah kemenangan ditentukan, dengan kekuasaan media massa atau system birokrasi lembaga demokrasi, maka soal keadilan pun muncul. Jika yang kuat akhirnya yang menang, yang lemah akan menjadi penonton dalam bisu. Pertanyaan besar dalam kehidupan politik dewasa ini adalah bagaimana negara mengakui bahwa yang lemah bukanlah sisa manusia yang telah kehilangan hak politiknya karena kesalahan administrasi.

Dalam hal itu, kebebasan memang tak sepatut dilihat sebagai soal konflik. Bahwa demokrasi ditentukan dengan kejernihan rasio yang siap. Harapan Plato toh terbukti : sebuah negeri ternyata tak juga bersih dari keburukan ketika seorang filsuf menjadi president. Artinya dalam mencari kemenangan sejati dalam proses demokrasi sebetulnya adalah keberanian untuk menerima orang yang berbeda. Tapi sayang sekali, perbedaan itu hilang ditelan oleh keangkuhan lembaga yang dilahirkan oleh system demokrasi.

Jadi tak ada sesungguhnya nilai nilai demokrasi tentang kebebasan. Kehormatan adalah pemaksaan. Itulah proses dimana manusia sudah men Tuhan kan dirinya. Bersiasat dengan culas alias munafik menjadi keharusan. Itulah sebabnya beragam kekecewaan akan melahirkan beribu kembang dan beribu pemikiran untuk lahirnya konplik. Apalagi jika konplik itu melahirkan revolusi. Militer yang tak berhak bersuara dipangggung politik , kini melihat gejala itu akan terjadi. Masalahnya kemenangan tak lagi memberikan rasa hormat. Kemenangan tak lagi memberikan ruang akan akal sehat. Maka kekuatan yang tak bersuara kelak akan tampil “ berbicara” dengan laras senjata mengarah tak beraturan.

Hari ini dan kedepan kita melihat ketidak pastian menyelimuti awan gelap republic. Apalagi ditengah krisis global dan seretnya likuiditas berhutang. Akan banyak pengangguran karena pertumbuhan ekonomi yang rendah. Siapapun yang menang akan berhadapan dengan darah revolusi yang menggelegak. Ya, hidup memang pertandingan rusia rolet. Siapapun yang berani mengambil keputusan maka dialah pelaku perubahan . Tahun ini , pemilu kali ini adalah ruang terbuka, kita melihatnya nanti dalam kecemasan, dan apapun hasilnya kita semualah yang menanggung luka itu. Termasuk yang tak ikut pemilu karena golput suka rela atau dipaksa.

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...