Monday, May 26, 2008

Subsidi harga dan inflasi?

Tadi siang ketika dalam perjalanan dari China ke Hong Kong saya sempat berdialogh dengan teman. Teman ini mengatakan satu hal yang membuat saya terkejut “ Negara kuat apabila bank centralnya kuat. Bank central yang kuat bukan dipimpin oleh ekonom tapi oleh politisi dan negarawan. Semakin kurang paham dia tentang moneter dunia semakin baik dia memberikan judgement tentang cara terbaik untuk masa depan ekonomi bangsa. “. Saya teringat bagaimana fit and proper test calon gubernur BI oleh DPR lebih menekankan kepada penguasaan teknis moneter system daripada jiwa negarawan. Makanya jangan kaget bila system moneter kita terjebak oleh permainan politik tingkat tinggi AS untuk kepentingan ekonominya.

Di bulan September 2006, BI mengadobsi system moneter inflation targeting, System ini adalah kebijakan moneter yang bersifat forward looking. Artinya kebijakan moneter yang berkaitan dengan suku bunga BI-Rate dipengaruhi oleh future economic global. Dengan demikian maka Indonesia masuk dalam small open economy. Maka faktor global ekonomi sudah terintegrasi. Bila harga minyak dunia melambunng, suku bunga naik tentu akan mempengaruhi kebijakan moneter indonesia.

Hal ini disebabkan oleh global imbalance yang dipicu oleh melemahnya kekuatan ekonomi AS, dengan indikator semakin besarnya difisit neraca transaksi berjalan AS. Difisit ini disebabkan oleh adanya kesenjangan antara tabungan dan investasi. Investasi tersebut lebih disebabkan oleh faktor pembelian surat hutang AS ( T-bill ) oleh pihak asing (utamanya negara Asia ) untuk memupuk cadangan devisa. Sementara minat menabung AS sangat rendah karena suku bunga yang rendah. Akibatnya masyarakat mengalihkan dananya kepada konsumsi (interest rate effects). Pertumbuhan konsumsi mendorong kenaikan harga rumah dan property ( juga saham ) dan komodity utama. Harga rumah dan saham , commodity dibursa melambung, terlebih lagi dorongan sektor perbankan yang memberikan facilitas mortgage re-financing, pada orang yang menanamkan modalnya di bursa saham maupun komodity. Tapi ini bukanlah kenaikan yang wajar sebagai indikator sektor riel yang menguat. Justru mengakibatkan inflasi yang parah

Tahun 2007 bulan agustus awan mendung meliputi sektor financial AS karena harga semakin melambung dan terjadi koreksi pasar. Tak sedikit lembaga keuangan mengalami kerugian karena kasus subpreme mortgage. Fed langsung bereaksi menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi tapi tidak significant. Maklum , investment yield sektor keuangan di AS tidak lagi menggiurkan. Pasar keuangan dapat diatasi namun para investor tidak bergeming untuk meningkatkan tabungannya. Mereka justru memilih sektor perdagangan berjangka untuk komoditi sebagai wahana baru untuk meningkatkan yield. Makanya minyak dan produk komoditi lain seperti baja, food terus dikerek keatas. Sampai pada tahap ini kebijakan moneter kehilangan wibawa untuk mengatur uang beredar karena semakin ter diversifikasinya wahana investasi.

Namun, otoritas moneter akan terus menggunakan suku bunga sebagai cara untuk mengatasi inflasi sampai pada tingkat yang bisa meredam harga. Sampai kapan ? teori mengatakan , kenaikan suku bunga akan mendorong orang kaya untuk menabung sehingga sektor perbankan mempunyai fuel untuk memompa dana bagi dunia usaha. Benarkah ? Yang pasti terjadi adalah mata uang AS akan semakin melemah dan akhirnya membuat harga import akan menjadi mahal. Bila ini terjadi maka malapetaka bagi negara negara asia seperti china, India, AS dan Jepan, Korea, Indonesia yang menjadikan AS sebagai pasar utama. Mungkinkah ini bagian dari skenario global AS untuk membuktikan keampuhannya mengontrol economic balance? Atau ektrimnya adalah " Anda boleh makmur asal kami tetap lebih makmur. "

Bagi Negara lainnya kenaikan harga konsumsi minyak dalam negeri sebagai akibat penghapusan subsidi , tentu dipastikan akan mendorong inflasi dan secara system moneter bank central akan menaikkan suku bunga. Bila suku bunga naik maka cost of fund kredit dunia usaha akan juga naik. Harga konsumsi yang terlanjur naik tidak akan turun karena kenaikan suku bunga kecuali bertahan. Efeknya tetap akan memperlemah kekuatan rakyat untuk berkonsumsi. Kedua hal ini sekaligus akan mematikan kemampuan produksi dalam negeri. Yang lebih parah lagi , adalah pasar eksport semakin kehilangan daya saing karena kurs dollar yang melemah. Sementara industri dalam negeri AS dapat bergerak bebas dari akibat krisis kenaikan harga minyak dunia ini. Atau secara tidak langsung , melalui system global moneter , AS telah mendorong dunia membantunya untuk melindungi dan membangkitkan industri dalam negeri mereka yang sudah kehilangan nafas melawan kekuatan ekonomi Asia, seperti china, India, dll.

Bagi Indonesia , bila gubernur bank centralnya adalah negarawan maka dialah orang pertama yang menolak kenaikan harga BBM demi menjaga inflasi dan menggunakan kesempatan kenaikan harga minyak dunia ini untuk memacu produksi dalam negeri ( sektor riel ) dengan menurunkan suku bunga . Agar dunia usaha dapat bangkit untuk memasuki pasar AS dan mengalahkan pesaing negara negara seperti jepang, korea , Vietnam, Thailand dll. Atau setidaknya akan mendorong relokasi industri dari negara yang lemah bersaing karena kenaikan harga minyak ke Indonesia. Tapi, kita memang lemah dibawah tekanan AS karena kita terjajah oleh jeratan hutang... Akibatnya peluang justru dilihat sebagai ancaman.

AS memang culas dan smart memperdaya dunia untuk kejayaan negerinya. Kenaikan harga minyak memang alasan AS untuk memperlemah mata uangnya hingga secara tidak langsung melindungi industri dalam negerinya dari serangan produk import yang murah. Itulah sebabnya satu satunya negara Asia yang tidak bersedia menaikkan harga minyak dalam negeri adalah China. Karena China melihat arah permainan ini. Mereka menahan kekuatan AS dalam permainan harga minyak ini dengan lebih memilih subsidi harga minyak dalam negeri dan menjaga kurs mata uang RMB , sehingga industrinya tetap mampu membanjiri pasar AS dengan harga murah. Siapa yang paling kuat bertahan maka dialah yang menang. Ini perang!.

Yang pasti AS tidak bisa terus dengan caranya yang culas kecuali mendorong indusri dalam negerinya untuk bekerja efisien dan merubah gaya hidup bangsanya untuk hidup sederhana dan tidak individualis. Hanya dengan itulah masa depan dapat diharapkan lebih baik bagi peradaban umat manusia diplanet bumi ini.

4 comments:

Saham said...

Apakah kita salah dalam memilih gubernur BI ? waktu akan menjawabnya.

Bagus Brahmantyo said...

apakah negarawan2 muda kita akan sabar menunggu sebelum frustasi? apa frustasi adalah karakter negarawan?...I don't think so

Erizeli Bandaro said...

Semoga saya salah...

Edy Djuwito said...

Amerika memakai hukum keseimbangan lokal, bukan keseimbangan universal, sehingga menimbulkan ketidak seimbangan, dan peristiwa ini adalah bukti tambahan yang aktual bahwa sistem kapitalisme gagal menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia..... tantangannya adalah masih adakah jenius2 yang mampu menawarkan sistem baru yang merupakan solusi, dan saya punya keyakinan bahwa jenius itu dan sistem itu pasti ada, dan akan lahir... semoga

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...