Monday, June 2, 2008

Indonesia bangkit ?

Ketika ketemu dengan Tom di George Café , Park Lane Hotel Hong Kong. Saya sempat bilang “ god Bless America “ Dia menatap saya sambil terkejut. Saya heran. Teman ini American dan bangga sekali dengan bangsanya. ‘ saya pikir tidak ada lagi god bless bagi Amarican sejak Citigroup , Bank Of America , IBM sudah diambil oleh China. Bahkan sekarang setiap bulan , satu Industri kaos kaki AS diambil alih oleh china. “ Katanya lirih. Lebih bertambah nampak geram lagi dia ,” setelah industri kapitalis AS rontok karena dimakan pengusaha china, sekarang konglomerasi minyak AS mendapat giliran merampok kami dengan harga yang terus meroket. God far from us “ Katanya.

Selama ini sebagian besar kita , terutama yang dididik oleh universitas AS beranggapan bahwa semuan tentang amerika adalah baik. Sehingga baik pula untuk diterapkan di Indonesia, baik itu kapitalisme, system pemilihan distrik, maupun kentang goring. Pierr Bourd Bourdieau, pemikir Francis yang cemerlang itu, pernah menulis dengan meradang apa yang dianggapnya sebagai “ La ruses de la raison imperialiste, Menurut dia satu satunya buah kecerdikan akal imperialis itu adalah “ McDonaldisasi pemikiran”. Dengan kata lain, sebuah bentuk cara berpikir yang terjadi langtaran dominasi AS diberbagai bidang dalam dana riset , penguasaan media massa, penerbitan buku dan kekayaan dunia akademik.

Perjalanan waktu, AS yang gemar bicara dan sesumbar bahwa bertekad mengkampanyekan system demokrasi terbaik untuk semua negara, dan China yang diam.. Silent of gold , terus bekerja keras dengan cara dan system yang diyakininya. Tidak pernah ada access media massa AS masuk ke China. Bahkan Blog saja tidak boleh tampil di China. Kampus hanya dijejali oleh buku buah pemikiran bangasa china sendiri. China sadar bahwa kapitalisme perlu tapi dengan cara cara china sendiri. China berhasil memanfaatkan kapitalisme namun tetap untuk tujuan sosialime. Sementara AS memanfaatkan kapitalisme untuk kebebasan , yang akhirnya menghilangkan kekuasaan negara untuk menciptakan keadilan sosial .Kini , sejarah membuktikan itu sebagai mana kegeraman teman saya itu. God far from us “. Mengapa ? Mungkin Ini bukanlah system yang di create sedari awalnya untuk rakyat AS tapi untuk segelitir orang. Atau system untuk tumbuh suburnya kekuasaan pemodal dan semua hal yang tersedia didalam negara seperti Media TV, Universitas, lembaga riset dll di provide untuk melancarkan kepentingan pemodal..

Satu setengah abad yang lalu, Max sudah membayangkan ini akan terjadi. Bahwa yang menjadi sumber dari transformasi globalisasi itu bukanlah sebuah negari AS atau lainnya, melainkan sebuah dinamisme yang datang demi kepentingan modal. Demokrasi hanya pembenaran untuk lahirnya kebebasan demi tumbuh suburnya free capital meng untilize market. Kita terpesona dengan semua jargon tentang itu. Hingga ditengah kegamangan ditengah kehidupan dunia yang tak lagi nyaman bagi negara miskin, kita sebagai bangsa berdaulat dengan falsafah pancasila , meragukan semua hal tentang indentitas kita. Kesaktian Pancasila tidak lagi sebagai ceremonial yang perlu. President tidak perlu lagi tampil dalam acara itu. Karena kita , menganggap idiologi dan kesaktian idiologi tidak relevan lagi ketika kita mempercayai DEMOKRASI ala Amerika sebagai sesuatu yang final. Arah idiologi sudah jelas dan terus bergerak melesat meninggalkan mereka yang kalah bersaing melawan kekuatan modal.

Padahal system demokrasi telah membuat kapitalisme menampakan sosok yang sebenarnya. Pangan dan Minyak sebagai komoditi dunia bagi setiap negara , dipermainkan untuk meraih laba setinggi tingginya. Kapitalisme telah menjadi terorisme dunia , merusak system perdagangan dan sosial yang berkeadilan. Sehingga kemakmuran menjadi ilusi belaka. Kini rakyat AS ( juga kita ) merasakannya , manangis , geram diatas tarian kemenangan bangsa China. Kita belum akan menyadari ini semua sebagaimana kata Tom “ god far from us “ . Kita masih percaya dengan kalimat “ Indonesia bisa “ dengan alasan “ Allah akan meridhoi kita “. naïf sekali ditengah ketidak berdayaan melawan system yang membuat ‘bangkit “ adalah mimpi kosong. Itulah kadang penguasa itu naïf, bahkan lucu bila kata katanya terutama ketika ia tak tahu lagi bahwa tidak semua orang dapat dikuasai dan dibuat percaya kepadanya.

1 comment:

Edy Djuwito said...

Indonesia Bangkit bila pemikir orisinal Indonesia bermunculan, dan membuat karya tidak sekedar wacana, Indonesia dikategorikan soft state, konon ada pemikiran karena alam memanjakan manusia yang tinggal di Indonesia, ada juga pemikiran Indonesia akan bangkit bila mayoritas rakyat ynag miskin sudah bisa marah dengan keadaan yang mendera mereka, sejarah membuktikan dijajah 350 tahun, dijajah jepang yang kejam 3,5 tahun, dan lebih 60 tahun dijajah Bangsa sendiri, dan sekarang dipimpin oleh orang2 bingung, kalau manusia Indonesia masih bisa menikmati situasi ini kapan ya bangkitnya??????

Aksi Demo Penolakan UU Omnibus Law.

Hari ini demo menentang UU Omnibus Law berlangsung tidak tertip. Bahkan terkesan anarkis. Namun dalam kondisi terkendali oleh aparat keaman...