Wednesday, January 18, 2023

PDIP dan Islam

 




Setelah kalah dalam Pilpres 2004, dan tetap unggul dalam Pileg, proses menggembosi PDIP oleh lawan terus berlanjut. Terutama kelompok islam aliran yang punya dendam sejarah dengan Soekarno. Semua tahu bahwa Soekarno lah yang membubarkan Partai Masyumi dan memenjarakan tokohnya seperti Hamka, Natsir dll. Makanya pada kongres PDIP tahun 2005, agenda utama PDIP adalah restrukturisasi partai.  Ini sebagai cara untuk konsolidasi, fungsionalisasi struktur dan membangun network dengan simpatisan di semua lapisan masyarakat.  Setelah itu dibentuk Baitul Muslimin Indonesia ( BMI/Bamusi).  Hebatnya tahun 2007 Syafii ma’arif dan Said Agil. Dua tokoh Islam, yaitu mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil Siraj, secara resmi menyatakan kesediaannya menjadi Dewan Pembina Baitul Muslimin.


Sejak itu warna PDIP semakin banyak. Aktifis HMI dan aktifis ex Partai Muslimin Indonesia bergabung ke PDIP. Sementara golongan Kristen ( parkindo) makin terdesak oleh pendatang baru. Beberapa dari mereka tersingkir dan lainnya tetap bergabung bersama mereka dari gelompok islam. Elite PDIP dari islam cukup banyak, namun umumnya mereka dari NU dan Muhammadiah, seperti Hamzah Haq ketua MUI pernah jadi Wakil ketua MPR mewakili PDIP.  Nah yang jadi masalah bagi islam aliran bukanlah NU dan Muhammadiah. Tetapi BAMUSI yang sayap PDIP. Mengapa ? karena islam yang diusung oleh PDIP bukan islam aliran  ( yang dogmatis atau radikalisme ) tetapi islam rahmatan lilamin. Mengapa ? Mari saya jelaskan sedikit. 


Ideologi politik PDI Perjuangan berbasis Marhaenisme yang dikembangkan Soekarno. Sebagai pemimpin bangsa, Soekarno adalah sosok yang sangat anti kolonialisme, borjuisme, dan elitisme. Pergaulan pemikiran dan interaksi personal Soekarno dengan tokoh Sosialis membuatnya dekat dengan kaum marhaen, kaum proletar, rakyat jelata, serta wong cilik.  Nah Bamusi merupakan reinterpretasi dan ajaran Islam yang kontekstual dan secara sistematis merumuskannya dalam “teologi kiti” atau “ideologi kerakyatan” yang berpihak pada kaum dhuafa. “ Itulah alasan orang mendukung PDIP. Karena memperjuangkan kaum dhuafa secara politik lewat semangat islam rahmat bagi semua.


Suara PDIP tahun 2009 14,03% dan pemenang pemilu nomor 3. Memang jatuh dibandingkan tahun 2004 yang 18,53 %. Menurut saya itu wajar. Karena berhadapan dengan Petanaha , dan posisi sebagai partai oposisi masih bisa bertahan dengan suara dua digit. Itu udah hebat banget. Kalau tahun tahun 2014 ( 18,95%) menang karena saat itu semua partai back to zero. Engga ada petanahan. Dan PDIP bisa buktikan mereka memang solid dan pantas juara menjadikan Jokowi sebagai presiden. Walau menang sangat tipis (selisih suara 6,3%).


***

Berkaca pada hasil pemilu tahun 2014 dan 2019. Mari kita bicara data dan fakta. Kemudian kita baca angka itu dengan objektif berkaitan dengan Jokowi effect ( coat tail ). Yang dapat coat tail effect itu adalah Nasdem, PKB dan PKS. Nasdem, tahun 2014 6,72% dan tahun 2019 jadi 9,05 persen. PKB , tahun 2014 9,04% dan tahun 2019 jadi 9,69%. Sementara PKS anti Jokowi, tahun 6,79% dan tahun 2019 jadi 8,21%.


Sementara PDIP yang pada Pemilu 2014 meraih suara 18,95% dan tahun 2019 naik sedikit jadi 19,33%. Naik hanya 0,38%. Artinya selama satu periode Jokowi berkuasa, tidak berdampak signifcant terhadap suara PDIP, bahkan kalah jauh dari suara PDIP tahun 1999. Apa artinya ? Jokowi itu hanya menguntungkan suara PKB , Nasdem dan PKS.


Bagaimana dengan teman koalisi Jokowi ? tahun 2019 yang dukung Jokowi seperti Golkar, PAN, PPP Hanura, semua turun perolehan suaranya. Termasuk PD juga hancur karena tidak jelas kemana berlabuh. Justru Gerindra lawan PDIP naik dari 11,81% ( 2014) jadi 12,57% (2019). Sehingga menempatkan Gerindra sebagai Parpol pemenang nomor dua pada pemilu 2019. Menggeser Golkar ke peringkat 3.


Berkaca dari data diatas. Kalau PDIP calonkan Ganjar, maka antara “ Kanan dan Kiri” ( islam dan nasionalis) akan dibenturkan.  Ini akan jadi medan neraka bagi PDIP. Pengalaman PIlgub DKI tahun 2017, PDIP kalah padahal PDIP di back up koalisi gemuk. Makanya saya tidak yakin kalau PDIP dukung Ganjar, Koalisi PDIP akan tetap. Mereka akan pindah ke Nasdem untuk mendukung Anies. Mereka udah pengalaman dan tahu menikmati Coat tail effect. Yang pasti diuntungkan PKS.


Kalau Puan dicalonkan. Maka kampanye sentimen feminisme akan digaungkan. Tidak boleh memiih pemimpin wanita. Sama seperti kekalahan Megawati pada Pilpres 2004 dan 2009. Lagi lagi antara “ kiri dan kanan “ dibenturkan. Tapi ini lebih kepada nilai nilai apokalips. Sulit untuk orang berbalik arah. Orang awam beragama akan patuh kepada apa kata ulama. Jangan pilih pemimpin wanita. Tidak ada partai yang mau koalisi. Siapa yang mau gabung dengan calon yang pasti kalah. PKS pasti diuntungkan.


Disamping itu, PDIP tahu bahwa sedang ada upaya menggembosi suara PDIP dengan membenturkan Puan dan Ganjar. Menempatkan PDIP jadi sulit dihadapan pemilih perkotaan. Apalagi kalau Ganjar pindah partai untuk didukung koalisi partai bukan PDIP. Itu akan membuat suara PDIP diperkotaan akan terbelah. Suara Pileg PDIP akan tergerus dan PKS pasti bertambah suaranya. Makanya wajar saja PDIP sangat hati hati menentukan capres dan focus memperbaiki kinerja Jokowi. Karena hanya dengan kinerja itulah PDIP bisa dijual ke rakyat nanti saat pemilu 2024.


No comments:

Anies tak terbendung.

  Setelah pulang dari London, SP santai aja. Orang banyak berspekulasi soal makna pertemuannya dengan Jokowi. Maklum sudah lama  mereka tida...