Monday, October 4, 2021

Gemar membaca.

 




Di luar negeri, lounge executive bandara, saya duduk santai sambil nunggu panggilan boarding pesawat. Apa yang saya lakukan? sebagian besar baca buku dan lihat gadget membaca news, browser konten IPTEK. Di dalam kereta, bus, di ruang tunggu, saya baca buku atau buka gadget baca news. Kalau tidak ada aktifitas membaca, ya saya tidur. Nasehat ibu saya tidak pernah saya lupa. “ Dengan membaca, kamu sedang berproses menjadi lebih baik. Tapi ketika kamu berhenti membaca, kamu berhenti juga berubah, dan mudah disesatkan. Rusaklah hidup kamu.”


Awalnya saya berbisnis, lebih mengandalkan kepada kerja keras. Jam 7 pagi saya ke kantor. Setiap proses bisnis saya awasi langsung. Kadang saya tidur di pabrik dan di kantor. Tetapi karena waktu, proses belajar terus berlangsung. Usia 40 saya bisa mengelola bisnis secara modern, lewat sistem pendelegasian wewenang secara berjenjang. Proses bisnis berjalan dengan cepat. Lebih mudah bagi saya melakukan ekpansi. Kalaulah pengetahuan saya rendah, karena males baca, tentu saya akan paranoid,. Tidak akan berani melakukan pendelegasian dalam organisasi.


Tahun 2013 saya menjadikan saham tambang batubara di Mongolia sebagai jaminan hutang lewat jaminan saham. Selama 5 tahun saya terus topup karena harga saham terus jatuh seiring jatuhnya harga batubara di pasar. Ketika tahun 2018 direstruktur, semua tergadaikan. Tapi kini nilai saham naik, harga batu bara naik 5 kali dari harga tahun 2013. Value saham sudah diatas hutang. 


Apa jadinya kalau harga batubara terus turun?. Tentu saya kehilangan bisnis. Apakah itu spekulasi? tidak, Itu karena pengetahuan. Memahami proses bisnis energi secara detail. Saya punya data pertumbuhan kebutuhan listrik akibat pesatnya kemajuan IT, sementara sumber energi alternatif non fosil sangat rendah. Hitungan saya tepat. Saya bisa lolos dari hostile take over. Itulah manfaat pengetahuan.


Kemajuan peradaban negara itu diukur dari tingkat literasi. Berdasarkan survei PISA yang dirilis OECD pada tahun 2019, tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 10 terbawah dari 70 negara. Menyedihkan. 


Benarkah? 


saya coba riset secara personal. Group sosial media, akan ramai like dan komen kalau ada konten yang memancing emosi personal. Hal hal yang remeh, seperti provokasi kebencian karena politik, budaya, agama. Itu pasti cepat sekali diresponse dan pasti ramai komen. Puluhan ribu like berdatangan. Bahkan kehidupan glamour, konten Youtube sangat tinggi like and subscriber nya. Artinya tingkat ngayal dan kebencian  dengan rendahnya literasi bertaut erat.  Gemar membaca dan menambah pengetahuan adalah mindset kaya. Sebaliknya, malas membaca adalah mindset miskin. Makanya jangan kaget bila hanya 1% populasi menguasai sumber daya negara diatas 25%. Karena membuat orang cerdas itu lebih sulit daripada menciptakan kebodohan. Mari berubah,..paham ya sayang


No comments:

Rente di proyek kereta cepat.

  Mengacu pada roadmap jangka panjang proyek yang dikerjakan oleh Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), maka program...