Wednesday, July 21, 2021

Sadar diri dan tahan diri.


 


Ada teman telp saya. Dia cerita sudah menggalang beberapa tokoh untuk menjatuhkan Jokowi. Timingnya tepat. Saya katakan kepada dia. Janganlah kamu manfaatkan keluguan tokoh yang sebagian besar orang tua itu untuk tujuan politik pragmatis. Pak Amin Rais, Bang Egi. Dia berjasa di era reformasi. itu sudah cukup. Mereka sudah tua. Biarkan istirahat sebagai mentor bangsa.  Kak Din juga orang  baik. Dia udah tua. Biarkan dia istirahat sebagai tokoh Muhammadiyah.  Uda Rizal Ramli sudah tua. Dia sudah pernah ada kesempatan membenahi negeri ini. Itu sudah selesai. Biarkan dia hidup tenang. Pak SBY sudah selesai dengan tugasnya. Biarkan dia pensiun sebagai bapak bangsa . Bang Ridwan Saidi sudah sepuh. Engga usah diseret seret terus. Kasihan dia. Biarkan dia istirahat. 


Memang mereka sangat peduli kepada nasip bangsa ini. Mungkin menyesal ketika muda dan jadi pejabat, engga berbuat maksimal. Rasa sesal itu ingin dibayar lewat kepedulian nasip rakyat. itu wajar. Tetapi mengajak mereka turun gunung itu keterlaluan. Mengapa tidak sarankan mereka berdoa saja. Itu lebih baik daripada ikut melawan arus bisa nambah dosa. 


Ingat engga. Dulu HRS pernah terprovokasi oleh kalian untuk menjatuhkan Ahok dan mendukung Anies dalam PIlgub DKI.  "Dibikin susah hidupnya, seretkan rezekinya, jangan berkahi nafkahnya, jangan sembuhkan penyakitnya, biar dapat penyakit yang belum ada obatnya," kata Habib Rizieq dalam video berdurasi 45 detik, Doa itu diaminkan oleh pengikutnya.  Tetapi apa yang terjadi? doa itu kembali ke kalian sendiri. HRS masuk bui. Tentu rezekinya jadi seret. Pandemi COVID-19 terjadi. Pengikutnya yang  justru  banyak korban.  Ahok malah dapat bini baru. Dapat posisi sebagai preskom Pertamina. Jabatan lebih bergensi daripada Gubernur. Karena COVID-19 yang belum ada obatnya, ke Mekkah engga bisa. Umroh engga bisa. Bahkan dengan PPKM masjid pun ditutup. Mengapa ini tidak jadi pelajaran atau hikmah.


Tapi bagaimanapun Jokowi gagal mengatasi pandemi sehingga ekonomi terpuruk. Kata teman lagi. Saya katakan bahwa keadaan ekonomi terpuruk bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Tidak ada pemimpin yang hebat di tengah Pandemi. Tidak sepatutnya mengadili pemimpin di tengah dia sedang berjuang mengatasi pendemi sesuai amanah UU.  Mengapa tidak patuh saja dengan aturan dan kalau tdak bisa membantu, ya berdoa. Bukankah doa itu senjata orang beriman. Mari berdoa yang baik agar kebaikan bagi semua. 


Tetapi tokoh tokoh itu mendukung kami. Kenapa bapak engga dukung juga." Katanya lagi. Kalian yang muda harus punya sikap sendiri. Jangan terus tergantung kepada kami orang tua. Jadilah diri sendiri. Seperti Jokowi bisa jadi presiden berkat kaum muda. “ Jangan terlalu tinggi menilai diri sendiri sehingga merendahkan orang lain. Perbaiki diri saja dengan  baik agar tahun 2024 bisa menang. Kalau engga, ya bersabar. Tunggu lagi tahun 2029. Kata saya mengakiri telp. Entah dia paham atau tida


***

Kalau ada pihak yang memanfaatkan pandemi ini untuk jatuhkan Presiden, itu jelas saya bisa katakan dia masuk Kelompok Orang Doyan Onani ( KODO). Engga usah kita bahas soal bukti pelanggaran konstitusi dan amoral Jokowi yang memang tidak ada. Mari kita bahas dari sisi logika politik yang pasti berujung kepada logika uang. Mana ada orang mau berkuasa kalau tidak ada endorsed dari pemilik sumber daya modal. Selagi negara itu menggunakan sistem mata uang fiat, dia harus tunduk kepada sistem keuangan Global. Nah sistem keuangan global ini dikuasai oleh segelintir orang saja. Mungkin jumlahnya tidak lebih 2000 orang saja.


Era sekarang. Jatuhnya kekuasaan karena mata uang jatuh dan inflasi terjun bebas sehingga suku bunga terkerek diatas rasional. Indonesia tidak akan terjadi. Mengapa ? kita salah satu negara yang dapat fasilitas REPO Line. Jumlahnya engga tanggung tanggung yaitu USD 60 miliar. Kalau di-leverage lewat sekuritisasi, jumlah ini bisa jadi underlying terbitkan bond ( atau cetak uang ) 20 kali atau USD 1,2 trilion atau Rp 20.000 triliun.  Gimana bisa ekonomi Chaos seperti tahun 1998. Turun naik kurs pemerintah dan BI yang pegang kendali.


Kalau jatuhnya negara karena kehilangan sumber daya keuangan seperti Venezuela, itu tidak akan terjadi. Kita salah satu negara yang dapat akses ke pasar uang global 144A yang sangat likuid. Ingat gimana Pt. Inalum dapatkan uang untuk divestasi saham Freeport. USD 5 miliar gampang aja. Seminggu terkumpul uang. Engga ada collateral atau jaminan negara. Keseimbangan valas dan rupiah setiap waktu bisa dilakukan pemerintah lewat penerbitan Global Bond 144A. Jadi selalu terjaga keseimbangan moneter dan fiskal kita. 


Tidak ada negara yang bisa dijatuhkan kalau negara itu full control mata uang dan moneter. Sehebat apapun oposisi tidak akan bisa kudeta kekuasaan. Disamping ada TNI sebagai pengawal konsitusi, ada pihak elite financial global yang menjaga. Mengapa? kekuatan financial resource itu karena trust atas dasar konstitusi. Engga mungkin international akan izinkan ada sekelompok orang mau  mengangkangi konstitusi, apalagi konstitusi berbasis demokrasi yang kekuasaan ada pada rakyat. Apalagi   hanya karena kalah terus di pemilu dan bosan jadi pengangguran politik.


Kalaupun mau dipaksakan juga kudeta, mereka harus dapat lampu hijau dari elite financial global. Saya tahu sudah ada mantan pejabat tinggi negara yang berambisi berkuasa. Dia sowan ke Amrik setelah pensiun. Tetapi dicuekin aja sama Amrik. Emang elo siapa?  Ada juga politisi yang coba lobi Amrik. Dia katanya mampu yakinkan massa islam untuk berkuasa.  Dicuekin juga. Amrik bukan penentu. Penentu adalah elite financia global. 


Siapa elite financial global itu ? bukan AS , bukan China tapi elite global yang mengontrol 90% perputaran asset global.  Indonesia menjadi bagian dari kekuatan elite financial global, karena Indonesia bisa menerapkan demokrasi dengan  baik, yang berbasis kepada ekonomi dalam sistem negara kesejahteraan. Indonesia bukan Suriah atau Arab atau Afganistan yang mudah diobok obok. Indonesia disamping punya SDA besar juga posisi strategis yang merupakan lalulintas 2/3 pelayaran komersial dunia dan menjadi penyeimbang dua kekuatan besar yaitu Barat dan Timur.


Mengapa saya katakan Onani? karena terlalu tinggi ngayalnya sementara kemampuan cuma retorika doang dan kantong juga bokek. Ngomong gede rai juga gede. Engga ada malunya. Tapi sekedar lucu lucuan sih boleh aja. Engga usah ditanggapi serius amat. Demokrasi biasa itu.


No comments:

Sistem Kesehatan Nasional

Sedara saya terpaksa tutup dagangannya di Mall. “ Sepi dagangan sejak ada COVID-19. Pendapatan bulanan engga nutup biaya. Ya terpaksa tutup ...