Saturday, June 24, 2017

QATAR?

Awalnya Suriah dan kini merembet ke Qatar. Andaikan bukan sifat paranoid Arab Saudi terhadap Iran, mungkin tidak akan pernah ada konflik regional. Andaikan tidak ada kepentingan bisnis untuk menguasai jalur distribusi gas ke Eropa tentu tidak akan pernah ada konflik. Jadi unsur paranoid dan rakus lah yang menjadi penyebab konflik ini. Tidak ada agama dan idiologi yang di pertaruhkan, Ini berhubungan dengan bisnis dan rasa aman sebagai raja yang berkuasa secara absolute. Lantas siapa yang ambil bagian dalam pertarungan ini ? Amerika Serikat, Rusia, Iran, Arab Saudi, Qatar, Turki, Uni Eropa, dan bahkan Hizbullah di Lebanon.
Issue Syiah..
Bagi AS dan Uni Eropa, mereka tidak ada urusan dengan sekte sunni -syiah. Namun issue Sekte ingin sengaja di tiupkan kepada negara Arab yang sunni akan bahaya Iran. Tujuannya mengasingkan Iran. Namun rezim Bashar al-Assad yang berasal dari minoritas Syiah Alawiyah dan menjadi sekutu utama Iran di Timur Tengah tidak juga kunjung jatuh. Kalau Bashar jatuh tentu akan menjadi pukulan hebat bagi kampanye Iran dalam menentang Barat, AS dan Israel. Sebaliknya, aliansi strategis Iran-Suriah membuat Iran bisa membentuk "Poros Syiah" (Iran-Irak-Suriah-Hizbullah di Lebanon) yang mengancam kekuatan Sunni Arab seperti Saudi dan juga Israel. Poros ini juga menjadi alat untuk melancarkan perang terselubung di Suriah demi menaikkan posisi tawar dalam masalah nuklir dan menangkal ancaman militer Israel.
Jalur Pipa Gas..
Eropa dan AS berkeyakinan apabila Bashar jatuh maka kelompok Sunni akan mengambil alih kekuasaan. Tentu rezim Sunni di Suriah akan bisa memuluskan rencana jalur pipa gas Qatar-Saudi-Yordania-Suriah-Turki sehingga Eropa mendapatkan gas untuk mengurangi ketergantungan kepada Rusia. Skenario rezim Sunni di Suriah juga akan membuat Eropa semakin bisa mengisolasi Iran. Apakah Rusia menerima begitu saja ? Tidak. Rusia melakukan intervensi langsung di Suriah, karena jika Eropa mendapatkan pilihan gas yang lebih murah niscaya memukul ekonomi Rusia.
Sementara itu Iran dan Qatar sedang mengusahakan ladang gas bercadangan terbesar di dunia, persis di tengah Teluk Persia, di Parsi Selatan (Iran) dan Kubah Utara (Qatar). Tentu Iran ingin membangun jalur pipa dari Qatar ke Iran. Karena tanpa jalur pipa tersebut iran tidak bisa bisa mengekstrak gas secepat dilakukan Qatar. Untuk melancarkan pemasaran Gas, pada tahun 2015, Iran, Irak dan Suriah menyepakati perjanjian pembangunan jalur pipa gas dari Teluk Persia ke Laut Tengah untuk mencapai Eropa. Padahal sebelumnya Qatar telah menawarkan proposal yang sama ke Suriah namun Bashar lebih tertarik kerjasama dengan Iran. Kembali Iran dan Rusia yang memenangkan sementara pertarungan regional.
Arab Saudi terkepung
Poros Syiah Iran-Irak-Suriah, ditambah Hizbullah di Lebanon dan Yaman, jelas mengepung Saudi dari berbagai sudut. Saudi hanya bebas dari ancaman aliansi Syiah di sebelah barat di perbatasan Yordania dan Laut Merah. Sementara Iran sudah mencatat sukses menyanggga rezim-rezim Syiah di Irak dan Yaman yang keduanya berbatasan langsung dengan Saudi yang sekitar 15 persen penduduknya Syiah.
Arab atas usulan dari AS menggunakan senjata minyak untuk menjatuhkan Iran dan Rusia. Dengan membanjiri minyak di pasar, harga minyak akan jatuh dan ini tentu akan memukul ekonomi Rusia dan Iran. Tapi apa yang terjadi ? Yang lebih dulu senen kemis ekonominya justru Arab saudi sendiri. Sementara AS yang mengusulkan perang harga minyak justru di untungkan dengan bangkitnya business shale gas nya. Dan yang lebih mendapatkan keuntungan adalah China karena dapat pasokan minyak murah. Difisit APBN Arab telah mencapai lebih dari 30% dan terus digerogoti biaya perang di yaman.
Bagaimana dengan Turki ? 
Turki tidak melihat ISIS sebagai ancaman. Justru yang paling di kawatirkan itu adalah front Nusra dan pejuang Kurdi, yang merupakan lawan paling tangguh bagi ISIS maupun rezim Bashar. Maklum kebijakan luar negeri Turki di Suriah lebih kepada melindungi perbatasan dan kedaulatan Turki. Satu satunya cara untuk mengamankannya adalah berbaikkan dengan Assad dan Rusia yang sama-sama melihat Kurdi ancaman. Mengapa Saudi dibelakangi? Karena terbukti Arab ikut mendukung dan mendanai perjuangan suku Kurdi. Dan dukungan militer Turki kepada Qatar atas konplik dengan Arab adalah lebih bertujuan mengamankan kepentingan dalam negeri Turki sendiri baik dari sisi ekonomi maupun Keamanan regional.
Sikap Indonesia…
Jokowi telah menelphone langsung Emir Qatar dan juga Raja Salman. Jokowi menanyakan akar masalahnya. Agar indonesia bisa ambil peran menyelesaikan masalah. JK juga sudah memanggil Duta besar Arab dan Qatar untuk mendiskusikan dimana peran Indonesia akan terlibat. Mengapa indonesia begitu penting ? Karena lobi indonesia terhadap Rusia, China dan Amerika, Eropa cukup baik, apalagi indonesia masuk anggota G20 dan anggota aktif OKI. Selagi AS, China, Rusia bisa duduk bersama membicarkan masalah Timur Tengah, konplik timur tengah itu tidak perlu terjadi. Dan Arab memang butuh penengah yang tak membuat dia kehilangan muka, itu hanya ada pada Indonesia

2 comments:

Unknown said...

Kenapa indondsia harus jadi penengah,apa untungnya...mbok biarin aja mereka berantem

Unknown said...

itulah bedanya islam dengan umat yg lain.Kerukunan rekan seiman sangat di usahakan di iman kita

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...